Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
    324 research outputs found

    Efek Pemberian Ekstrak Oregano (Origanum Vulgare) Terhadap Histomorfometri Ileum Pada Mencit Kolibasilosis

    Get PDF
    Escherichia coli termasuk ke dalam bakteri koliform dengan famili enterobacteriaceae, bakteri tersebut mampu bertahan hidup di dalam salurann pencernaan. E. Coli berbentuk batang atau basil yang bersifat gram-negatif, fakultatif anaerob dan tidak mempunyai spora. Pemberian antibiotik streptomisin golongan aminoglikosida dapat bekerja dengan menghambat sintesis protein. Oregano (Origanum vulgare) kandungan yang dimiliki yaitu flavanoid, fenol cravaracol, glikosida fenolik, tanin, timol dan terpenoid. Fenol cravaracol dapat merusak membran sel dan dapat merusak DNA sel bakteri, serta mengurangi kerusakan sel ileum fenol sebagai antioksidan. Timol berfungsi akan meningkatkan permeabilitas membran sel. Penelitian bersifat eksperimental menggunakan mencit Balb/C (Mus musculus) jantan dengan berat badan 20-25 gr berumur 8-10 minggu. Penelitian ini menggunakan rangkaian acak yang terdiri dari K- (Sehat), K+ (induksi antibiotik streptomisin dan diinduksikan Escherichia coli), P1, P2, P3 diberikan antibiotik streptomisin dan induksi E. coli serta pemberian ekstrak origanum vulgare dengan konsentrasi 5 mg/ekor pada P1, 10 mg/ekor pada P2 dan 20 mg/ekor pada P3. Variabel yang diamati histopatologi ileum secara deskriptif dan histomorfometri dengan pengukuran panjang dan lebar vili menggunakan image J, dan dianalisa menggunakan uji One Way ANOVA dengan homogenitas dan normalitas p>0,05. Hasil peneilitian dan kesimpulan pada histopatologi dan histomorfometri menunjukan bahwa kelompok P1 (5 mg/ekor) tidak mengalami penurunan kerusakan pada epitel vili ileum serta tidak berbeda nyata jika dibandingkan dengan kontrol positif (K+). Sedangkan kelompok P1 (5 mg/ekor) berbeda nyata (p<0,05) jika dibandingkan dengan kelompok P2 (10mg/ekor) dan P3 (20 mg/ekor).Escherichia coli is a coliform bacterium with the family Enterobacteriaceae, the bacteria are able to survive in the digestive tract. E. Coli are rod-shaped or gram-negative bacilli, facultative anaerobes and do not have spores. Administration of aminoglycoside streptomycin class of antibiotics can work by inhibiting protein synthesis. Oregano (Origanum vulgare) contains flavonoids, phenol cravaracol, phenolic glycosides, tannins, thymol and terpenoids. Cravaracol phenol can damage cell membranes and can damage bacterial cell DNA, and reduce ileal cell damage phenol as an antioxidant. Thymol function will increase the permeability of cell membranes. This research is an experimental study using male Balb/C (Mus musculus) mice with a body weight of 20-25 g, aged 8-10 weeks. This study used a randomized series consisting of K- (Healthy), K+ (streptomycin antibiotic induction and Escherichia coli induced), P1, P2, P3 given the antibiotic streptomycin and E.coli induction and Origanum vulgare extract with a concentration of 5 mg/head in P1, 10 mg/head on P2 and 20 mg/head on P3. Variables observed were ileal histopathology descriptively and histomorphometrically by measuring the length and width of the villi using image J, and analyzed using the One Way ANOVA test with homogeneity and normality p>0.05. The results of the study and conclusions on histopathology and histomorphometry showed that the P1 group (5 mg/head) did not experience a decrease in damage to the ileal villi epithelium and was not significantly different, this was compared to the positive control (K+). While the P1 group (5 mg/head) was significantly different (p<0.05) when compared to the P2 group (10mg/head) and P3 (20 mg/head)

    Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Cacing Saluran Pencernaan pada Kuda Delman di Kota Bogor

    Get PDF
    Kecacingan pada kuda merupakan penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan dan performa kuda termasuk pada kuda delman. Penelitian ini bertujuan menduga prevalensi dan mengidentifikasi faktor-faktor risiko kejadian infeksi cacing saluran pencernaan pada kuda delman di Kota Bogor. Metode penelitian ini yaitu studi cross-sectional, menggunakan dua jenis data berupa hasil pemeriksaan laboratorium sampel feses dan hasil wawancara terhadap kusir delman menggunakan kuesioner terstruktur. Data dianalisis untuk menentukan  rataan derajat infeksi cacing dan proporsi kuda yang terinfeksi serta pendugaan nilai risiko relatif (RR). Hasil penelitian 20 sampel feses menunjukkan prevalensi Strongyle sebesar 60%. Berdasarkan hasil identifikasi larva, jenis Strongyle terdiri atas Cyathostominae 73% (Cyathostominae tipe A 61%, tipe G 6%, tipe C 4%, tipe F 1%, dan tipe H 1%), Strongylus vulgaris 22%, S. equinus 3%, serta S. edentatus 2%. Derajat infeksi Strongyle termasuk kategori infeksi ringan dengan jumlah 282.5 telur tiap gram tinja (TTGT). Faktor risiko yang mempunyai hubungan terhadap kejadian infeksi Strongyle yaitu umur kuda, kepadatan populasi, jenis kandang dan pakan kuda, lokasi dan cara pemotongan rumput, higiene kuda, serta sanitasi. Perbaikan manajemen pemeliharaan kuda perlu dilakukan oleh para pemilik kuda untuk menurunkan kejadian infeksi cacing saluran pencernaan

    Ingredients of Active Compounds and Anti-Diabetic Test of Water Extract of Lannea coromandelica (Houtt) Merr. On Wistar Rats

    Get PDF
    Leaves of Lannea coromandelica (Houtt.) Merr. is one of the plants found in Aceh. This study aims to determine the effect of giving water extract of Lannea coromandellica (Houtt.) Merr. against STZ-induced blood sugar levels of wistar rats. The experimental study used a sample of 25 male and 15 female Wistar rats. This research is experimental with a sample of 25 male and 15 female of Wistar rats. The treatments were given, namely negative control (aquades), positive control (metformin), 50 mg EALC, 100 mg EALC, and 150 mg EALC. The data obtained will be analyzed by using the Kruskal Wallis test to obtain the effectiveness of the treatment and also a descriptive analysis for the average reduction in blood glucose levels. Macro and histological observations were also carried out on the liver and pancreas. The results obtained from the Kruskal Wallis test results showed that there was no effect of EALC on changes in the decrease in blood glucose levels of wistar rats for 14 days of treatment. Observation of the macro organs showed pancreas had a changes. While the histological observations pancreas and liver showed changes. The results of this study indicate that the effectiveness of EALC is not proven to have an effect, this is presumably because the extract concentration is too small so it is not enough to work optimally. Phytochemical test shows that EALC contains flavonoids, steroids, phenolics, tannins, saponins and alkaloids

    Blood Biochemistry Reference Values of Javan Slow Loris (Nycticebus javanicus) in Rehabilitation Center

    Get PDF
    The Javan slow loris (Nycticebus javanicus) is an endemic primate species to Java Island, Indonesia. Currently, their conservation status is critically endangered due to habitat loss and the illegal wildlife trade. As a consequence of the pet trade, wild-caught slow lorises are confiscated or handed over to centers like IAR Indonesia Rescue Center. Rescued lorises present multiple health issues following stress, trauma, and miss-treatment after being kept as pets. During the medical evaluation, besides physical examination, blood biochemistry provides valuable diagnostic information. However, data on physiological values are unavailable and therefore interpretation of results is difficult. The objective of this study was to establish blood biochemistry reference values for wild, rehabilitant healthy adult Javan slow lorises in captivity. We anesthetized 20 individuals of Javan slow loris (10 males and 10 females) for pre-release check-up procedures. Blood samples were collected for blood biochemistry analysis on an in-house Vetscan VS2 (Zoetis), after which the results were statistically analyzed for mean and standard deviation. Results showed different values between the male and female group, however, they were not significant (p>0,05). Comparison with available biochemistry data (ZIMS) for other loris species in captivity: Nycticebus pygmaeus and Nycticebus coucang, did not show significant differences. Although the sample size of this study was limited, this study provides the first preliminary reference ranges for healthy adult wild, rehabilitant Javan slow loris in captivity. Further data collection is necessary for more accurate ranges and will be done during the future pre-release health check

    ULASAN SARANG BURUNG WALET SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL

    Get PDF
    Sarang burung walet (SBW) merupakan sarang yang berasal dari saliva beberapa spesies burung walet keluarga Apodidae, terutama spesies Aerodramus fuciphagus dan A. maximus. Indonesia merupakan negara penghasil SBW terbesar dengan menyumbang 85% dari pasar dunia. Sarang burung walet sejak lama telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Komponen utama dari SBW adalah glikoprotein, yang diyakini terlibat dalam jalur biologis yang beragam untuk meningkatkan kesehatan. Berbagai metode penelitian telah dilakukan untuk mengkarakterisasi peptida dan glikoprotein SBW sebagai bahan bioaktif makanan fungsional. Ulasan ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai potensi SBW sebagai produk makanan fungsional berdasarkan kandungan bahan bioaktif dan sifat fisikokimia yang dimilikinya. Sarang burung walet digunakan sebagai bahan makanan, baik dengan menyajikan dalam bentuk utama atau menggabungkan dengan bahan lain yang meningkatkan nilai tambah produk pangan seperti minuman siap saji, yoghurt, roti daging, es krim, mie dan cokelat. Potensi komponen bioaktif SBW sebagai pangan fungsional meliputi klaim penurunan risiko penyakit dan klaim fungsi lain. Klaim penurunan risiko penyakit antara lain anti inflamasi, aktifitas antivirus, meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah, meningkatkan imunitas, efek neuroprotektif, dan mencegah penyakit diabetes. Klaim fungsi lain meliputi ploriferasi sel, aktifitas epidermal growth factor (EGF) dan anti penuaan, memperbaiki fungsi saluran pencernaan, peningkatan kekuatan tulang, meningkatkan fungsi saluran reproduksi, dan antioksidan

    Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) sebagai jaminan keamanan produk Sarang Burung Walet Tujuan Ekspor ke Tiongkok

    Get PDF
    ABSTRACT   Edible Bird Nest (EBN) is a food product of animal origin that obtains many benefits for Indonesia\u27s export commodities. EBN contains many nutrients in which it is widely utilized in the health sector. EBN products have been exported to various countries and one of them is China. EBN products exported to China have potential harms such as physical, biological, and chemical hazards that pose risks to human health. Therefore, every product of animal origin needs food safety assurance. Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) is a food safety system developed to identify, evaluate, and control food safety hazards. HACCP is a system developed to prevent or reduce hazards to an acceptable extent during the globally adopted production. Through the implementation of a food safety assurance system in the EBN, it is expected to lower the risk of food hazards. This paper discussed HACCP in ensuring food safety of animal origin, especially Edible Bird Nest to fulfill the export requirements of Edible Bird Nest to China. Keywords: Animal-origin Food Safety, HACCP, Edible Bird Nes

    Deteksi Antibodi terhadap Virus Newcastle Disease pada Burung Trucukan (Pycnonotus goiavier)

    Get PDF
    Burung trucukan (Pycnonotus goiavier) merupakan salah satu burung liar yang sering dipelihara karena kicauannyayang merdu. Infeksi ND dapat berupa infeksi yang akut atau kronis yang menyerang burung trucukan dan jenis burunglainnya. Burung liar merupakan salah satu sumber virus ND yang dapat menyebarkan virus ke unggas peliharaan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi terhadap penyakit tetelo pada burung trucukan liar. Sampel yangdigunakan adalah serum darah dari 50 ekor burung trucukan liar. Parameter yang diamati adalah titer antibodi dalamserum berdasarkan metode Hirst menggunakan uji Haemagglutination Inhibition (HI) untuk melihat titer antibodi. Untukmenghitung titer virus maka uji Haemaglutination (HA) dilakukan sebelumnya. Untuk memastikan titer antigen yangdigunakan adalah 4HAU dilkukan juga back titrasi sehingga didapatkan nilai virus optimal yang akan dipakai pada uji HI.Hasil penelitian menunjukkan 45 dari 50 sampel (90%) mempunyai antibodi positif terhadap ND, dengan titer berkisar 21-29. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa 90% burung trucukan di Kabupaten Aceh Besar sudahpernah terpapar ND, tetapi hanya 80% yang memiliki titer antibodi yang dapat melingdungi terhadap serangan virus ND.Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa burung trucukan liar dengan titer antibodi yang protektif berarti sudah pernahterpapar virus ND sebelumnya akan berpotensi sebagai pembawa virus yang dapat ditularkan ke unggas peliharaanmasyarakat di sekitarnya

    Potensi Infusa Kemiri (Aleurites moluccana) sebagai Analgesik dan Stimulator Stamina

    Get PDF
    Kesehatan merupakan hal penting untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Penurunan kesehatan dan daya tahan tubuh mengakibatkan timbul rasa nyeri serta mudah terserang penyakit. Pengobatan herbal digunakan sebagai pengobatan alternatif yang lebih aman dan terjangkau dibandingkan pengobatan nonherbal dari bahan-bahan kimia. Kemiri merupakan salah satu tanaman herbal yang memiliki banyak khasiat dan sering digunakan sebagai pengobatan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan mempelajari efektivitas infusa kemiri sebagai analgesik dan stimulator stamina dalam berbagai dosis pada mencit. Uji efektivitas analgesik ditinjau menggunakan metode hot water immersion tail-flick test dan uji efektivitas stamina menggunakan metode natatory enhausen. Penelitian ini menggunakan 20 ekor mencit jantan yang dikelompokkan menjadi kelompok kontrol dan kelompok perlakuan yang diberi infusa kemiri dengan dosis 1, 2, dan 4 g/kg BB. Setiap kelompok terdiri atas 5 ekor. Data dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) kemudian dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian didapatkan dosis efektif pada uji analgesik adalah 4 g/kg BB dengan waktu respons nyeri ekor terlama yaitu 7.840±0.477 detik dan pada uji stamina adalah 1 g/kg BB yang ditunjukkan dengan durasi berenang terlama yaitu 145.00±20.65 detik. Kemiri memiliki efektivitas terhadap analgesik dan stimulator stamina

    Morfometri Ovarium setelah Pemberian Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera LAM)

    Get PDF
    Ovarium merupakan organ reproduksi utama dalam sistem reproduksi betina yang berperan dalam menghasilkan sel ovum. Kualitas folikel yang dihasilkan ovarium dipengaruhi oleh nutrisi yang dikonsumsi suatu individu. Kelor (Moringa oleifera LAM) telah lama dikenal sebagai tanaman dengan kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Nutrisi yang terdapat di dalam kelor adalah vitamin, mineral, antioksidan, asam amino esensial dan senyawa fitosterol. Kandungan nutrisi pada kelor paling banyak ditemukan di daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas ovarium setelah pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera LAM). Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimental. Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 60 ekor mencit betina (Mus musculus) umur 14-15 minggu dengan rerata bobot badan 30-35 g. Ekstrak daun kelor yang diberikan dengan dosis 0 mg kg-1 BB, 300 mg kg-1 BB, 400 mg kg-1 BB, 500 mg kg-1 BB. Pengamatan dilakukan setelah pemberian 5, 10, 15, 24, dan 34 hari. Parameter penelitian meliputi siklus estrus dan morfometri ovarium. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi dan lamanya pemberian ekstrak daun kelor memberi pengaruh terhadap panjang, lebar, dan bobot ovarium mencit. Konfirmasi siklus estrus bertujuan untuk mengetahui bahwa siklus reproduksi dalam ovarium mencit berlangsung normal. Siklus estrus pada mencit penelitian rata-rata berlangsung normal, yakni terjadi selama 4-5 hari

    The Dynamic of Insect Population Succession in Bird Poisoned by Pyrethroid Insecticides

    Get PDF
    Insecticide poisoning is one of the causes of death in wild birds. One of the insecticides that are often used is a pyrethroid. This study aims to determine the succession of insects in birds intoxicated by pyrethroid pesticide. This research was conducted in Dramaga campus, IPB University, Bogor, Indonesia. One quail (Coturnix coturnix japonica) was used as a control which was killed by manual neck dislocation, and one bird was treated orally treated with acute dose pyrethroid pesticide. Cadavers are placed in insect traps until they reach the skeletal stage of decomposition. Insects that enter the trap are collected every 6 hours for 24 hours, from the first day until the whole process of decomposition of the carrion reaches the skeletal stage. Then the insects are identified and counted. The results showed that the cadaver decomposition process in the treatment group took longer than the control group. In the control group, insects arrived for approximately 138 hours after the cadaver was placed, while the treatment group took approximately 324 hours. The types of insects in these two groups are relatively the same, namely flies (Order Diptera: Calliphoridae, Muscidae), cockroaches (Order Dictyoptera: Blattidae and Blaberidae) and Sarcophagidae), beetles (Order Coleoptera: Scarabidae), ants (Order Hymenoptera: Formicidae), earwigs (Order Dermaptera: Anisolabididae). Chrysomya megachepala was the dominant insect over the others and was always present from the early stages to post-decay in control and pyrethroid treatment

    283

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Acta VETERINARIA Indonesiana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇