Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
    324 research outputs found

    Prevalensi Newcastle Disease dan Perkiraan Kerugian Ekonomi pada Unggas yang Dinekropsi di Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala

    Get PDF
    Newcastle disease (ND) salah satu penyakit dengan laporan kerugian ekonomi yang tinggi karena penyebarannya sangat cepat, tingkat morbiditas dan mortalitasnya mencapai 100%. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan data ilmiah tentang prevalensi dan analisis kerugian ekonomi akibat kematian unggas disebabkan oleh penyakit ND. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional study dengan purposive sampling yaitu dilakukan dengan mengumpulkan sampel berupa kadaver ayam broiler, layer dan buras yang masuk ke Laboratorium Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) yang berasal dari empat pasar tradisional Aceh Besar dan Kota Banda Aceh yaitu Lambaro, Almahira, Setui dan Ulee Kareng selama 6 bulan penelitian. Sampel cadaver unggas dengan suspek ND yang dipilih adalah sampel yang diamati secara patologi anatomi ditandai dengan petechiae/hemorrhage pada trakea, duodenum, proventrikulus, seka tonsil dan otak dengan konfirmasi positif ND menggunakan organ otak, paru dan proventrikulus. Organ-organ tersebut dibuat sediaan imunohistokimia. Perkiraan kerugian ekonomi akibat penyakit ND dengan menjumlahkan kerugian langsung dan tidak langsung ditambah dengan biaya pengendalian. Hasil konfirmasi dengan pewarnaan imunohistokimia menunjukkan virus ND terekspresi positif sebanyak 120 ekor dari total 326 ekor kadaver. Hasil perhitungan prevalensi ND sebesar 36,80% signifikan dibandingkan hipotesis sebesar 15%. Hasil analisis kerugian ekonomi kejadian positif ND di pasar didapatkan Rp. 9.600.000,00 dan Rp.474.500.000,00 dalam suatu farm periode Juli 2022 sampai dengan Desember 2022Newcastle disease (ND) salah satu penyakit dengan laporan kerugian ekonomi yang tinggi karena penyebarannya sangat cepat, tingkat morbiditas dan mortalitasnya mencapai 100%. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan data ilmiah tentang prevalensi dan analisis kerugian ekonomi akibat kematian unggas disebabkan oleh penyakit ND. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional study dengan purposive sampling yaitu dilakukan dengan mengumpulkan sampel berupa kadaver ayam broiler, layer dan buras yang masuk ke Laboratorium Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) yang berasal dari empat pasar tradisional Aceh Besar dan Kota Banda Aceh yaitu Lambaro, Almahira, Setui dan Ulee Kareng selama 6 bulan penelitian. Sampel cadaver unggas dengan suspek ND yang dipilih adalah sampel yang diamati secara patologi anatomi ditandai dengan petechiae/hemorrhage pada trakea, duodenum, proventrikulus, seka tonsil dan otak dengan konfirmasi positif ND menggunakan organ otak, paru dan proventrikulus. Organ-organ tersebut dibuat sediaan imunohistokimia. Perkiraan kerugian ekonomi akibat penyakit ND dengan menjumlahkan kerugian langsung dan tidak langsung ditambah dengan biaya pengendalian. Hasil konfirmasi dengan pewarnaan imunohistokimia menunjukkan virus ND terekspresi positif sebanyak 120 ekor dari total 326 ekor kadaver. Hasil perhitungan prevalensi ND sebesar 36,80% signifikan dibandingkan hipotesis sebesar 15%. Hasil analisis kerugian ekonomi kejadian positif ND di pasar didapatkan Rp. 9.600.000,00 dan Rp.474.500.000,00 dalam suatu farm periode Juli 2022 sampai dengan Desember 202

    Ejection Fraction and Fractional Shortening Echocardiographic Value of Belgian Malinois Dogs in National Anti Narcotics Agency

    Get PDF
    Anjing yang bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN) memiliki program pelatihan rutin yang memerlukan aktifitas fisik tingg sehingga dapat memengaruhi morfologi jantung anjing. Pengukuran nilai ejection fraction (EF) dan fractional shortening (FS) digunakan untuk menentukan ketebalan dan kekuatan kontraksi otot jantung serta menilai fungsi sistolik jantung. Penelitian ini bertujuan untuk menilai parameter ekokardiografi EF dan FS pada anjing ras Belgian Malinois di BNN. Parameter EF dan FS diperlukan dalam mengevaluasi pengaruh aktivitas fisik terhadap perubahan morfologi jantung. Sampel yang digunakan adalah 21 ekor anjing ras Belgian Malinois berumur 3 sampai 4 tahun, 13 ekor anjing merupakan anjing yang aktif dilatih, dan 8 ekor merupakan anjing yang tidak aktif dilatih. Pemeriksaan ekokardiografi dilakukan pada posisi right parasternal short axis view, menggunakan USG Acclarix AX3 dengan microconvex probe frekuensi 2,5-6 MHz. Tipe pencitraan ekokardiografi yang digunakan untuk mendapatkan EF dan FS adalah Motion (M-) mode dengan metode interpretasi Cube method. Hasil interpretasi menunjukkan rataan nilai EF dan FS pada kedua kelompok anjing, berada pada rentang normal (55-85% untuk EF, dan 25-45% untuk FS). Berdasarkan penelitian ini anjing ras Belgian Malinois tidak memiliki kecenderungan mengalami kardiomiopati.Working dogs at the National Anti Narcotics Agency (BNN) undergo routine training programs that require high levels of physical activity. The physical activities performed can affect the cardiac morphology of the dogs. Assessment of cardiac parameters such as ejection fraction (EF) and fractional shortening (FS), could determine myocardial thickness and systolic function. This study aims to assess the echocardiographic parameters of EF and FS in Belgian Malinois dogs at the BNN. The EF and FS parameters are needed to evaluate the influence of physical activity in cardiac morphology. The study sample consisted of 21 Belgian Malinois dogs aged 3 to 4 years, 13 dogs were actively trained, while 8 dogs were not actively trained. Echocardiographic examinations were performed in the right parasternal short axis view using the Acclarix AX3 ultrasound system with a microconvex probe at frequency 2.5-6 MHz. The type of echocardiography imaging used to obtain EF and FS is Motion (M-) mode with the Cube method interpretation method. The results showed that the average EF and FS values in both groups of dogs were within the normal range (55-85% for EF and 25-45% for FS). Based on this study Belgian Malinois dogs at BNN do not have a predisposition to develop cardiomyopathy

    Acute Toxicity Test and Development of Lacticaseibacillus rhamnosus MG5511 from Bima Horse Milk in the Intestine and Its Effects on Intestinal Mucosa from Probiotic Test Products

    Get PDF
    Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan efek kesehatan dengan menyeimbangkan mikroba positif usus, serta mengendalikan mikroba patogen pada saluran pencernaan. Probiotik genus Lactobacillus merupakan jenis probiotik yang paling banyak digunakan. Selain uji efektivitas, pengembangan dan penelitian mengenai probiotik perlu dilengkapi dengan bukti dari data klinis dan nonklinis. Penelitian ini bertujuan mengoleksi data nonklinis dengan menguji efektivitas dan toksisitas kandidat probiotik Lacticaseibacillus rhamnosus MG 5511 dari susu kuda BIma yang selanjutnya disingkat KRG dalam usus, serta efeknya terhadap mukosa usus. Penelitian di hewan dilakukan dengan memasukkan galur spesifik tersebut dalam kaldu MRS dengan konsentrasi 107 sampai 1010 CFU/mL ke mencit. Parameter yang diamati berupa pengamatan tanda toksik dan klinis, pengamatan berat badan secara harian, gross patologi organ, dan koleksi sampel isi usus untuk mengamati jumlah populasi bakteri yang tumbuh. Berdasarkan hasil penelitian, galur murni Lacticaseibacillus rhamnosus MG5511 mampu sintas sampai ke saluran pencernaan sampai 14 hari dan termasuk dalam kategori relatif tidak membahayakan berdasarkan hasil uji toksisitas.Probiotics are viable microorganisms that promote health benefits by balancing positive microbes in the gut, and controlling pathogenic microbes in the digestive tract. Probiotic from genus Lactobacillus is the most widely used.  In addition to effectiveness testing, development and research on probiotics need to be supplemented with evidence from clinical and non-clinical data. This study was aimed to collect non-clinical data by examining the effectivity and toxicity of a probiotic candidate Lacticaseibacillus rhamnosus MG5511 from BIma horse milk (KRG) in the intestine and their effect on the intestinal mucosa. Animal study was conducted  with administration of the specific strain in MRS broth in 107 to 1010 CFU/mL concentrations to mice. Parameters observed were clinical signs, daily body weight measurement, gross organ pathology, and growth of bacterial populations. Based on the results, the strain Lacticaseibacillus rhamnosus MG5511 was able to survive the gastrointestinal tract for 14 days and can be classified as relatively harmless based on the results of toxicity test

    Effect of Fenbendazole Treatment Against Oxyuris spp. on Green Iguana (Iguana iguana)

    Get PDF
    Infection of Oxyuris spp., a gastrointestinal nematode, has been reported in reptiles around the world, including in the green iguana (Iguana iguana). In most cases, parasite control in reptiles relies on anthelmintics administration. Fenbendazole has been used as the drug of choice for parasite control in reptiles. However, the data of fenbendazole administration for Oxyuris spp. infection on green iguana (Iguana iguana) in Indonesia was absent. We evaluated the effect of fenbendazole administration (dose: 25 mg/kg body weight [BW] for five consecutive days per oral) for natural infection of Oxyuris spp. among thirty-three green iguanas in Malang Raya (Malang District, Malang City, and Batu City). The fecal examination was made through a modified Mc Master technique on the day-0, 7, 14, 21, and 31 post-treatment. The data on management (such as caging, feeding, and health program) conducted by the owners were recorded as well. The result showed that reduction of a hundred percent (100%) of egg per gram (epg) on day-31 post-treatment in all sampled animals. Iguanas were placed in individual and communal cages with daily cleaning and feeding. However, none of the owners arranged health programs such as anthelmintic treatment for their companion reptiles. This study can be used as a recommendation for future control of Oxyuris spp. in green iguanas in Indonesia.Infection of Oxyuris spp., a gastrointestinal nematode, has been reported in reptiles around the world, including in the green iguana (Iguana iguana). In most cases, parasite control in reptiles relies on anthelmintics administration. Fenbendazole has been used as the drug of choice for parasite control in reptiles. However, the data of fenbendazole administration for Oxyuris spp. infection on green iguana (Iguana iguana) in Indonesia was absent. We evaluated the effect of fenbendazole administration (dose: 25 mg/kg body weight [BW] for five consecutive days per oral) for natural infection of Oxyuris spp. among thirty-three green iguanas in Malang Raya (Malang District, Malang City, and Batu City). The fecal examination was made through a modified Mc Master technique on the day-0, 7, 14, 21, and 31 post-treatment. The data on management (such as caging, feeding, and health program) conducted by the owners were recorded as well. The result showed that reduction of a hundred percent (100%) of egg per gram (epg) on day-31 post-treatment in all sampled animals. Iguanas were placed in individual and communal cages with daily cleaning and feeding. However, none of the owners arranged health programs such as anthelmintic treatment for their companion reptiles. This study can be used as a recommendation for future control of Oxyuris spp. in green iguanas in Indonesia

    Penambatan Molekuler Senyawa Bioaktif Tanaman Metang terhadap Reseptor Estrogen Alfa sebagai Antikanker

    Get PDF
    Breast cancer is a common health problem in women and causes a high mortality rate. Cancer cells can grow and metastasize to other organs and related to estrogen and estrogen receptor alpha (ERα). The search for plant-based bioactive compounds that are antagonistic to ERα is currently being carried out using an in silico approach. Lunasia amara blanco is a medicinal plant that contains quinolone alkaloid compounds and has been known to inhibit DNA Topoisomerase II. This study aims to predict the interaction of lunacrine, graveoline, lunine, lunacridine, and lumarine compounds on the estrogen receptor alpha (ERα) (PDB 1SJ0) by in silico method. Docking will be done with PyRex 0.8 and the result visualization will be done with the BIOVIA Discovery Studio Visualizer. Base on the results of molecular docking, graveoline and lunine compounds have bond energies of -8.4 and -8.0 kcal/mol, approaching the native ligan of tamoxifen, which is -9.7 kcal/mol. The type of interaction with amino acids affects the bond energy. The amino acid residues that formed interactions with all the test compounds were Ala350, Leu387, Met388, Phe404, and Ile424. The stability of the binding of tamoxifen and graveoline is also thought to be due to the amino acids Asp351 and Cys530. The interaction of the two amino acids is not found in other compounds and the interactions formed are in the form of hydrogen bonds or hydrophobicity. Lunamarine has the lowest bond energy and make interactions with different amino acid

    Penilaian Pendedahan Kualitatif Virus Penyakit Mulut dan Kuku melalui Pemasukan Kulit Sapi Mentah Garaman dari Malaysia ke Indonesia di Pelabuhan Tanjung Priok, Indonesia

    Get PDF
    Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit yang menjadi perhatian semua negara karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Penyakit ini sangat mudah menyebar antar negara atau wilayah sehingga dikategorikan sebagai transboundary animal disease. Salah satu penyebab penyebaran PMK adalah perdagangan hewan dan produk hewan antar negara atau wilayah. Lalu lintas kulit sapi mentah dapat membawa risiko penyebaran PMK. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian risiko pendedahan kualitatif terhadap masuk dan tersebarnya PMK dari kulit sapi mentah garaman ke Indonesia. Penilaian ini dilaksanakan dengan mengembangkan biological pathway terhadap likelihood pendedahan agen penyakit melalui kulit sapi mentah garaman dari negara asal Malaysia ke Indonesia. Tingkat likelihood (kemungkinan) kualitatif pada penilaian pendedahan (exposure assessment) didasarkan pada Biosecurity Import Risk Analysis Guidelines 2016, sedangkan tingkat ketidakpastian ditentukan berdasarkan pedoman yang diberikan oleh The European Food Safety Authority (EFSA). Penilaian akhir pendedahan virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia di Pelabuhan Tanjung Priok menunjukkan tingkat likelihood sedang, dengan tingkat ketidakpastian yang rendah. Tingkat likelihood sedang mengindikasikan bahwa peluang kemungkinan kejadian tersebarnya virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia memiliki peluang yang sama besar yaitu antara terbawa atau tidak terbawanya virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia. Penerapan biosekuriti sebagai tindakan mitigasi untuk mengurangi risiko penyebaran virus PMK perlu diterapkan pada tempat kedatangan kulit sapi mentah garaman dan di gudang penyimpanan kulit.Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit yang menjadi perhatian semua negara karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Penyakit ini sangat mudah menyebar antar negara atau wilayah sehingga dikategorikan sebagai transboundary animal disease. Salah satu penyebab penyebaran PMK adalah perdagangan hewan dan produk hewan antar negara atau wilayah. Lalu lintas kulit sapi mentah dapat membawa risiko penyebaran PMK. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian risiko pendedahan kualitatif terhadap masuk dan tersebarnya PMK dari kulit sapi mentah garaman ke Indonesia. Penilaian ini dilaksanakan dengan mengembangkan biological pathway terhadap likelihood pendedahan agen penyakit melalui kulit sapi mentah garaman dari negara asal Malaysia ke Indonesia. Tingkat likelihood (kemungkinan) kualitatif pada penilaian pendedahan (exposure assessment) didasarkan pada Biosecurity Import Risk Analysis Guidelines 2016, sedangkan tingkat ketidakpastian ditentukan berdasarkan pedoman yang diberikan oleh The European Food Safety Authority (EFSA). Penilaian akhir pendedahan virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia di Pelabuhan Tanjung Priok menunjukkan tingkat likelihood sedang, dengan tingkat ketidakpastian yang rendah. Tingkat likelihood sedang mengindikasikan bahwa peluang kemungkinan kejadian tersebarnya virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia memiliki peluang yang sama besar yaitu antara terbawa atau tidak terbawanya virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia. Penerapan biosekuriti sebagai tindakan mitigasi untuk mengurangi risiko penyebaran virus PMK perlu diterapkan pada tempat kedatangan kulit sapi mentah garaman dan di gudang penyimpanan kulit

    Kasus Rabbit Haemorrhagic Disease (RHD) pada Kelinci: Sejarah, Penyebaran, serta Dampak RHDV di Beberapa Negara Asal Kelinci Impor Indonesia

    Get PDF
    Virus Rabbit Haemorrhagic Disease (RHDV) adalah virus penyebab Rabbit Haemorrhagic Disease (RHD) pada kelinci Eropa (Oryctolagus cuniculus). Penyakit ini memiliki tingkat kematian dan morbiditas hingga 100%. Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1984 dan menyebar ke seluruh dunia. Pada tahun 1996, kasus pertama infeksi RHDV pada kelinci tanpa gejala klinis menyebar di peternakan kelinci di Italia. Beberapa studi telah melapaorkan keberadaan variasi genetic RHDV termasuk varian RHDV terbaru. Penyakit ini berpotensi menimbulkan dampak ekologis dan kerugian ekonomi, terutama di peternakan kelinci. Pada studi sebelumnya diketahui bahwa terdapat serokonversi RHDV pada kelinci tanpa gejala klinis di daerah Bandung Barat, Provinsi Jawa barat, Indonesia, meskipun belum ada informasi mengenai keberadaan RHDV di Indonesia. Meskipun Indonesia diketahui berstatus bebas RHDV, namun kelinci yang diimpor berasal dari negara-negara di Eropa, Amerika, dan Australia yang terkenal sebagai negara endemik RHDV. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji penyebaran RHDV di negara asal kelinci impor Indonesia dan dampaknya. Selain itu, tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penyakit kelinci yang sedang berkembang.Virus Rabbit Haemorrhagic Disease (RHDV) adalah virus penyebab Rabbit Haemorrhagic Disease (RHD) pada kelinci Eropa (Oryctolagus cuniculus). Penyakit ini memiliki tingkat kematian dan morbiditas hingga 100%. Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1984 dan menyebar ke seluruh dunia. Pada tahun 1996, kasus pertama infeksi RHDV pada kelinci tanpa gejala klinis menyebar di peternakan kelinci di Italia. Beberapa studi telah melapaorkan keberadaan variasi genetic RHDV termasuk varian RHDV terbaru. Penyakit ini berpotensi menimbulkan dampak ekologis dan kerugian ekonomi, terutama di peternakan kelinci. Pada studi sebelumnya diketahui bahwa terdapat serokonversi RHDV pada kelinci tanpa gejala klinis di daerah Bandung Barat, Provinsi Jawa barat, Indonesia, meskipun belum ada informasi mengenai keberadaan RHDV di Indonesia. Meskipun Indonesia diketahui berstatus bebas RHDV, namun kelinci yang diimpor berasal dari negara-negara di Eropa, Amerika, dan Australia yang terkenal sebagai negara endemik RHDV. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji penyebaran RHDV di negara asal kelinci impor Indonesia dan dampaknya. Selain itu, tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penyakit kelinci yang sedang berkembang

    Superficial necrolytic dermatitis: first case report in Indonesia and a literature review

    Get PDF
    Superficial necrolytic dermatitis is a rare condition that affects older dogs. It is a fatal disease in which dermatologic signs stem from an abnormality of the liver and/or the pancreas. This paper aims to report a case workup and treatment protocol of superficial necrolytic dermatitis in a patient that presented with lameness. A skin biopsy was performed, and revealed a pathognomonic “red-white-blue” pattern. Abdominal ultrasonography revealed a severe irregular hypoechoic shape nodular pattern and coarse parenchyma with variable size from round and oval. The nodules were surrounded by network of thin hyperechoic strands, forming a “honeycomb/ Swiss cheese-like” pattern. From these findings, a diagnosis of superficial necrolytic dermatitis was made. The patient was treated with a combination of amino acid infusion, liver supplement, and a high-protein diet. However, the patient only lived for four months after diagnosis was made. Clinicians need to be aware that dermatologic lesions may be a manifestation of  internal or systemic disease.Superficial necrolytic dermatitis is a rare condition that affects older dogs. It is a fatal disease in which dermatologic signs stem from an abnormality of the liver and/or the pancreas. This paper aims to report a case workup and treatment protocol of superficial necrolytic dermatitis in a patient that presented with lameness. A skin biopsy was performed, and revealed a pathognomonic “red-white-blue” pattern. Abdominal ultrasonography revealed a severe irregular hypoechoic shape nodular pattern and coarse parenchyma with variable size from round and oval. The nodules were surrounded by network of thin hyperechoic strands, forming a “honeycomb/ Swiss cheese-like” pattern. From these findings, a diagnosis of superficial necrolytic dermatitis was made. The patient was treated with a combination of amino acid infusion, liver supplement, and a high-protein diet. However, the patient only lived for four months after diagnosis was made. Clinicians need to be aware that dermatologic lesions may be a manifestation of  internal or systemic disease

    Observasi Kesembuhan Auto Skin Graft Yang Diberi Platelet-Rich Plasma (PRP) dan Dirawat dengan Bio Dressing Kulit Ikan Mujair (Tilapia mozambique)

    Get PDF
    Skin graft merupakan tindakan pengambilan kulit dari tubuh donor yang telah dipisahkan dari lokasi suplai darah lokalnya ke area lain. Penelitian ini bertujuan mengamati kesembuhan auto skin graft (ASG) setelah pemberian platelet-rich plasma (PRP) dan dirawat dengan bio dressing dari kulit Tilapia mozambique (TM) melalui pengamatan subjektif dan objektif. Penelitian ini menggunakan 6 ekor kucing lokal jantan, berumur 1-2 tahun dengan berat badan 2-3 kg yang dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Semua kucing dibuat defek berukuran 2x2 cm pada area kaki depan, 4 hari kemudian luka ditutup dengan ASG bersumber dari area abdomen. Perawatan ASG menggunakan bio dressing kulit TM (K-1) dan penambahan PRP disertai bio dressing kulit TM (K-2). Pengamatan subjektif ASG hari ke-3, 6, 9 dan 12, sedangkan uji pendarahan dan pengamatan objektif pada hari ke-18 pasca bedah. Hasil pengamatan subjektif menunjukkan kesembuhan ASG yang diberi PRP beserta bio dressing kulit TM (K2) lebih baik dibandingkan bio dressing kulit TM (K1) (P<0,05). Hari ke-12 warna kulit graft kembali sama dengan kulit sekitar, respon nyeri berkurang, disertai pertumbuhan rambut lebih cepat pada K-2. Pengamatan objektif menunjukkan waktu absorbsi NaCl 0,9% dan efek obat lebih cepat pada K-2 dibandingkan K-1 (P<0,05). Penggunaan PRP beserta bio dressing kulit TM (K2) memiliki potensi untuk digunakan dalam perawatan ASG.Skin graft merupakan tindakan pengambilan kulit dari tubuh donor yang telah dipisahkan dari lokasi suplai darah lokalnya ke area lain. Penelitian ini bertujuan mengamati kesembuhan auto skin graft (ASG) setelah pemberian platelet-rich plasma (PRP) dan dirawat dengan bio dressing dari kulit Tilapia mozambique (TM) melalui pengamatan subjektif dan objektif. Penelitian ini menggunakan 6 ekor kucing lokal jantan, berumur 1-2 tahun dengan berat badan 2-3 kg yang dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Semua kucing dibuat defek berukuran 2x2 cm pada area kaki depan, 4 hari kemudian luka ditutup dengan ASG bersumber dari area abdomen. Perawatan ASG menggunakan bio dressing kulit TM (K-1) dan penambahan PRP disertai bio dressing kulit TM (K-2). Pengamatan subjektif ASG hari ke-3, 6, 9 dan 12, sedangkan uji pendarahan dan pengamatan objektif pada hari ke-18 pasca bedah. Hasil pengamatan subjektif menunjukkan kesembuhan ASG yang diberi PRP beserta bio dressing kulit TM (K2) lebih baik dibandingkan bio dressing kulit TM (K1) (P<0,05). Hari ke-12 warna kulit graft kembali sama dengan kulit sekitar, respon nyeri berkurang, disertai pertumbuhan rambut lebih cepat pada K-2. Pengamatan objektif menunjukkan waktu absorbsi NaCl 0,9% dan efek obat lebih cepat pada K-2 dibandingkan K-1 (P<0,05). Penggunaan PRP beserta bio dressing kulit TM (K2) memiliki potensi untuk digunakan dalam perawatan ASG

    The Palatability of Functional Foods Containing Black Cumin (Nigella sativa) Extract in Domestic Shorthair Cats (Felis catus)

    Get PDF
    Plant extract is one of the functional ingredients to support health and immune system. Black cumin (Nigella sativa) is known to have a strong effect on immunomodulatory function. Its bitter taste and characteristic smell will affect the palatability of a final product. The palatability is important for product development in the pet food industry. The palatability defines cat’s preference and acceptance of a product. This research was aimed to determine the palatability of functional foods containing black cumin’s extract in domestic shorthair cats (Felis catus). The modified two bowl test was used in this study. Domestic shorthair cats aged 1-6 years, 7 spayed females and 2 neutered males, unvaccinated, and clinically healthy were participated in the study. Three bowls of food containing 89,1 mg; 222,75 mg; and 445,5 mg concentration of black cumin extract were offered to cats simultaneously. The first choice consumed, the duration of food consumed, and the amount of food intake were evaluated. A significant difference (p<0,05) was observed in the first choice consumed. The duration of food consumed, and the amount of food consumed were not found a significant difference. Based on all observations, this study indicates the food containing 222,75 mg concentration of black cumin is more palatable compared with other foods. The result of this study will be the foundation of the next research.                Keywords: black cumin, cats, food, palatabilityEkstrak tanaman adalah salah satu bahan baku fungsional yang dapat meningkatkan kesehatan dan kekebalan tubuh. Jintan hitam (Nigella sativa) merupakan salah satu tanaman yang dikenal memiliki khasiat imunomodulator. Rasanya yang pahit dan aroma yang khas dapat mempengaruhi tingkat palatabilitas suatu produk jadi. Palatabilitas sangat penting dalam bidang pengembangan produk pada industri makanan hewan kesayangan. Palatabilitas menunjukkan tingkat kesukaan dan penerimaan suatu individu terhadap sebuah produk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat palatabilitas makanan fungsional yang mengandung ekstrak jintan hitam pada kucing domestik bulu pendek (Felis catus). Metode two bowl test dengan modifikasi digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan kucing domestik bulu pendek, 7 ekor betina steril, 2 ekor jantan steril, umur 1-6 tahun, belum divaksinasi, dan sehat secara klinis. Tiga buah mangkok berisi makanan fungsional yang mengandung ekstrak jintan hitam konsentrasi 89,1 mg, 222,75 mg, dan 445,5 mg ditawarkan secara bersamaan kepada kucing. Evaluasi dilakukan pada pilihan pertama yang dikonsumsi, durasi waktu konsumsi makanan, dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Perbedaan yang nyata (p<0,05) ditemukan pada pilihan pertama yang dikonsumsi. Durasi waktu konsumsi dan jumlah makanan yang dikonsumsi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Berdasarkan keseluruhan pengamatan pada penelitian ini menunjukkan bahwa makanan yang mengandung 222,75 mg ekstrak jintan hitam memberikan palatabilitas terbaik. Hasil penelitian ini akan dijadikan dasar penelitian selanjutnya. Kata kunci: jintan hitam, kucing, makanan, palatabilita

    283

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Acta VETERINARIA Indonesiana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇