Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
    324 research outputs found

    Dinamika Bakteri Vibrio spp. pada Air Laut di Seputar Sentra Pembenihan Udang Vanamei (Litopenaeus vannamei) di Indonesia: Dinamika Bakteri Vibrio spp. pada Air Laut

    No full text
    Bakteri Vibrio spp. adalah salah satu patogen yang umum menginfeksi pembenihan dan pembesaran udang, yang dapat menyebabkan kematian masal benur di panti benih udang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika bakteri Vibrio spp. pada air laut di seputar tujuh area sentra pembenihan udang vanamei di Indonesia. Pengamatan dilakukan setiap bulan sejak Januari hingga Desember 2020, dengan menginokulasikan 100 µL sampel air laut ke media agar thiosulfate-citrate-bile-salt sucrose (TCBS), diinkubasikan pada suhu 30°C selama 18–24 jam, setelah itu dilakukan penghitungan koloni Green Vibrio Colony (GVC), Total Vibrio Count (TVC), dan persentase kejadian bakteri berpendar pada sampel air laut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa angka GVC dan TVC tertinggi terjadi di perairan Takalar pada bulan Mei 2020, sedangkan persentase sampel air laut dengan bakteri yang berpendar paling tinggi terjadi pada sampel dari perairan Pantai Cermin-Serdang Bedagai. Nilai GVC berkisar antara 0,01–130,00 × 102 CFU/mL dengan angka tertinggi terjadi pada bulan Januari, Oktober, November, dan Desember 2020, sedangkan nilai TVC berkisar antara 0.20–520.00 × 102 CFU/mL sepanjang tahun 2020. Tidak ditemukan adanya bakteri berpendar pada sampel air laut dari daerah Anyer dan Pangandaran. Para operator panti benih udang vanamei perlu senantiasa waspada terhadap dinamika populasi bakteri Vibrio spp. pada air laut yang akan dipakai dalam kegiatan pembenihan udang vanamei.Vibrio spp. is one of the common pathogens that infects shrimp hatchery and rear, which can cause mass mortality of fry in shrimp hatchery. This study aimed to determine the dynamics of Vibrio spp. in sea water around seven areas of vannamei shrimp hatchery centers in Indonesia. Observations were conducted every month from January to December 2020, by inoculating 100 µL of sea water samples onto thiosulfate-citrate-bile-salt sucrose (TCBS) agar media, incubating at 30°C for 18–24 hours, after which Green Vibrio Colony (GVC), Total Vibrio Count (TVC), and the percentage of luminescence bacterial were counted in sea water samples. Observation results showed that the highest GVC and TVC occurred in Takalar sea water in May 2020, while the highest percentage of luminescence bacterial obtained in samples from Pantai Cermin-Serdang Bedagai sea water. The GVC value ranges between 0,01–130,00 × 102 CFU/mL with the highest numbers occurring in January, October, November, and Desember 2020, while the TVC value ranges between 0,20–520,00 × 102 CFU/mL throughout 2020. No luminescence bacterial was found in sea water samples from the Anyer and Pangandaran areas. Vannamei shrimp hatchery operators need to always be aware of the population dynamics of Vibrio spp. bacteria in sea water that will be used in vannamei shrimp hatchery activities

    The Detection of Resistant Escherichia coli Isolated From Cats In Dukuh Kupang Sub-District, Surabaya

    Get PDF
    Resistansi antimikrob merupakan isu global yang menjadi pusat perhatian dunia. Penularan pada manusia melalui hewan peliharaan penting untuk diwaspadai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya resistansi antimikrob bakteri Escherichia coli pada kucing. Sebanyak 60 sampel swab diambil, yang terdiri atas 30 sampel kucing liar dan 30 sampel kucing peliharaan. Sampel diuji di Laboratorium Kesmavet Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Sampel kemudian di isolasi dan identifikasi dengan media selektif diferensial Eosin Methylene Blue Agar. Isolat Escherichia coli kemudian dilakukan uji sensitivitas untuk mengetahui adanya resistensi pada antibiotik ampicillin, tetracycline, dan streptomycin. Hasil penelitian menunjukkan 83% sampel terdapat bakteri Escherichia coli pada kucing, dengan resistansi antibiotik sebesar 16% terhadap antibiotika ampisilin, pada kucing liar 19%, dan kucing peliharaan 12%. Resistansi pada antibiotik tetrasiklin menunjukkan 12%, dimana kucing liar 15%, dan kucing peliharaan 8%. Sedangkan resistensi pada antibiotik streptomisin menunjukkan 4% (2/50), dengan resistensi pada kucing liar 8% dan pada kucing peliharaan tidak ditemukan adanya resistensi (0%). Kucing sebagai hewan yang memilliki kedekatan dengan kehidupan manusia, mampu menjadi faktor penular resistensi antimikroba, hal ini menjadi kewaspadaan dini sebagai tindakan pencegahan penularan resistensi antimikrobial pada manusia.Antimicrobial resistance is a global issue that has become the center of world attention. Transmission to humans through pets is important to be aware of. This research was conducted to determine the presence of antimicrobial resistance in Escherichia coli bacteria in cats. A total of 60 swab samples were taken, consisting of 30 stray cats samples and 30 domestic cats samples. Samples were tested at the Veterinary Health Laboratory, Faculty of Veterinary Medicine, Wijaya Kusuma University, Surabaya. The samples were then isolated and identified using differential selective media Eosin Methylene Blue Agar. Escherichia coli isolates were then subjected to a sensitivity test to determine resistance to the antibiotics ampicillin, tetracycline and streptomycin. The results showed that 83% of the samples contained Escherichia coli bacteria in cats, with 16% antibiotic resistance to the antibiotic ampicillin, 19% in stray cats, and 12% in domestic cats. Resistance to tetracycline antibiotics shows 12%, where stray cats are 15%, and domestic cats are 8%. Meanwhile resistance to the antibiotic streptomycin showed 4% (2/50), with resistance in stray cats 8% and in domestic cats no resistance was found (0%). Cats, as animals that have a close relationship with human life, can be a factor in transmitting antimicrobial resistance, this is an early precaution as a measure to prevent the transmission of antimicrobial resistance to humans

    Escherichia coli Penghasil Extended-spectrum Β-Lactamases yang Diisolasi pada Peternakan Broiler-Ikan Terintegrasi

    Get PDF
    Extended-spectrum β-lactamases (ESBL) adalah sekelompok enzim yang diproduksi oleh bakteri untuk dapat resisten terhadap antibiotika termasuk sefalosporin generasi ketiga yang menjadi masalah kesehatan baik pada hewan dan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan bakteri Escherichia coli penghasil ESBL serta profil resistensinya pada komponen lingkungan di sekitar peternakan broiler-ikan terintegrasi. Deteksi E. coli penghasil ESBL dan uji sensitivitas dilakukan dengan uji double disc synergy dan disc diffusion, dan hasil interpretasi mengacu pada The European Committee on Antimicrobial Susceptibility Testing. Sebanyak 19 isolat E. coli penghasil ESBL diisolasi dari sampel swab kloaka, ikan, dan lingkungan pada suatu peternakan broiler-ikan terintegrasi. Secara rinci, E. coli penghasil ESBL terdeteksi pada seluruh sampel sampel air (3/3), sampel ikan (2/2), sampel tanah (1/1), dan 86,7% sampel swab kloaka (13/15). Hasil pengujian kepekaan terhadap antibiotika menunjukkan resistensi terhadap ampisilin (100%), seftriakson (100%), siprofloksasin (68,4%), dan tetrasiklin (42,1%). Selain itu, 8 isolat yang terdiri dari sampel swab (6/13; 46,1%), air (1/3; 33,3%), dan ikan (1/2; 50,0%) teridentifikasi sebagai bakteri multi-drug resistant. Studi ini dapat menggambarkan terjadinya cemaran E. coli penghasil ESBL di lingkungan peternakan broiler-ikan terintegrasi.Extended-spectrum β-lactamases (ESBL) adalah sekelompok enzim yang diproduksi oleh bakteri untuk dapat resisten terhadap antibiotika termasuk sefalosporin generasi ketiga yang menjadi masalah kesehatan baik pada hewan dan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan bakteri Escherichia coli penghasil ESBL serta profil resistensinya pada komponen lingkungan di sekitar peternakan broiler-ikan terintegrasi. Deteksi E. coli penghasil ESBL dan uji sensitivitas dilakukan dengan uji double disc synergy dan disc diffusion, dan hasil interpretasi mengacu pada The European Committee on Antimicrobial Susceptibility Testing. Sebanyak 19 isolat E. coli penghasil ESBL diisolasi dari sampel swab kloaka, ikan, dan lingkungan pada suatu peternakan broiler-ikan terintegrasi. Secara rinci, E. coli penghasil ESBL terdeteksi pada seluruh sampel sampel air (3/3), sampel ikan (2/2), sampel tanah (1/1), dan 86,7% sampel swab kloaka (13/15). Hasil pengujian kepekaan terhadap antibiotika menunjukkan resistensi terhadap ampisilin (100%), seftriakson (100%), siprofloksasin (68,4%), dan tetrasiklin (42,1%). Selain itu, 8 isolat yang terdiri dari sampel swab (6/13; 46,1%), air (1/3; 33,3%), dan ikan (1/2; 50,0%) teridentifikasi sebagai bakteri multi-drug resistant. Studi ini dapat menggambarkan terjadinya cemaran E. coli penghasil ESBL di lingkungan peternakan broiler-ikan terintegrasi

    Pengujian Toksisitas Akut Lethal Dose 50 (LD50) Infusa Ikan Nomei (Harpodon nehereus) dengan Menggunakan Mencit (Mus musculus) sebagai Hewan Uji

    Get PDF
    Ikan Nomei (Harpodon nehereus) merupakan jenis ikan yang lembek dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi untuk dapat dimanfaatkan secara luas. Penelitian bertujuan menguji toksisitas akut ekstrak infusa daging ikan nomei Harpodon nehereus pada mencit betina dengan menentukan nilai lethal dose 50 (LD50), mengamati pengaruhnya pada organ tubuh mencit, dan menghitung konsentrasi ekstrak yang paling efektif. Hewan uji yang digunakan adalah mencit galur DDY sebanyak 25 ekor dibagi secara acak ke dalam 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol (pemberian akuades) dan kelompok perlakuan pemberian infusa nomei masing-masing dengan dosis 5, 10, 15, dan 20 g/kg BB secara per oral. Parameter yang diamati meliputi mortalitas, respons fisiologis, gejala klinis, bobot badan, bobot absolut organ, dan bobot relatif organ. Nilai LD50 menunjukkan pemberian infusa ikan nomei pada mencit betina bersifat tidak toksik. Pemberian infusa nomei sampai dengan dosis 20 g/kg BB tidak menimbulkan gejala klinis yang bersifat patologis, perubahan makroanatomi organ, atau kematian. Pemberian infusa tidak menunjukkan efek yang signifikan pada peningkatan atau penurunan bobot badan. Berdasarkan penelitian, pemberian infusa ikan nomei sampai dengan dosis 20 g/kg BB bersifat tidak menimbulkan kelainan baik secara klinis atau kelainan pada organ mencit. Kesimpulan dari penelitian ini adalah infusa ikan nomei termasuk dalam golongan bahan yang diklasifikasikan dalam sediaan praktis tidak toksik (aman).Ikan Nomei (Harpodon nehereus) merupakan jenis ikan yang lembek dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi untuk dapat dimanfaatkan secara luas. Penelitian bertujuan menguji toksisitas akut ekstrak infusa daging ikan nomei Harpodon nehereus pada mencit betina dengan menentukan nilai lethal dose 50 (LD50), mengamati pengaruhnya pada organ tubuh mencit, dan menghitung konsentrasi ekstrak yang paling efektif. Hewan uji yang digunakan adalah mencit galur DDY sebanyak 25 ekor dibagi secara acak ke dalam 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol (pemberian akuades) dan kelompok perlakuan pemberian infusa nomei masing-masing dengan dosis 5, 10, 15, dan 20 g/kg BB secara per oral. Parameter yang diamati meliputi mortalitas, respons fisiologis, gejala klinis, bobot badan, bobot absolut organ, dan bobot relatif organ. Nilai LD50 menunjukkan pemberian infusa ikan nomei pada mencit betina bersifat tidak toksik. Pemberian infusa nomei sampai dengan dosis 20 g/kg BB tidak menimbulkan gejala klinis yang bersifat patologis, perubahan makroanatomi organ, atau kematian. Pemberian infusa tidak menunjukkan efek yang signifikan pada peningkatan atau penurunan bobot badan. Berdasarkan penelitian, pemberian infusa ikan nomei sampai dengan dosis 20 g/kg BB bersifat tidak menimbulkan kelainan baik secara klinis atau kelainan pada organ mencit. Kesimpulan dari penelitian ini adalah infusa ikan nomei termasuk dalam golongan bahan yang diklasifikasikan dalam sediaan praktis tidak toksik (aman)

    Perilaku Sepasang Cephalopachus bancanus di Kandang Konservasi Pusat Studi Satwa Primata, Bogor

    Get PDF
    Cephalopachus bancanus saat ini dikategorikan sebagai hewan rentan (vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Penurunan populasi ini terjadi karena hilangnya habitat dan tingkat eksploitasi yang tinggi. Pemahaman perilaku Cephalopachus bancanus dalam konservasi dapat digunakan untuk menunjang perkembangbiakan satwa dalam kaitan mendukung upaya konservasi agar satwa endemik ini tidak menurun populasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur frekuensi perilaku sepasang Cephalopachus bancanus guna mendapatkan data dan informasi mengenai perilaku sepasang dalam kandang konservasi Pusat Studi Satwa Primata, Bogor. Penelitian perilaku pasangan yang teramati diantara lain: perilaku berkelompok, perilaku saling membersihkan diri, perilaku bertengkar, berselisih dan menghindar, perilaku bermain, perilaku seksual. Metode pengamatan yang digunakan adalah focal animal sampling dan instantaneous sampling dengan penilaian one-zerotime sampling. Hasil pengamatan selama 5 periode pengulangan waktu menunjukkan bahwa perilaku berkelompok mempunyai frekuensi paling tinggi yaitu 40% dengan durasi 134 menit, perilaku saling membersihkan diri menunjukkan frekuensi 37% dengan durasi 121 menit, perilaku bertengkar, berselisih dan menghindar menunjukkan frekuensi 18% dengan durasi 61 menit, perilaku bermain menunjukkan frekuensi 4% dengan durasi 12 menit, dan perilaku seksual menunjukkan hasil frekuensi paling rendah, yaitu 1% dengan durasi 4 menit. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu perilaku sosial sepasang Cephalopachus bancanus paling banyak dilakukan yaitu perilaku berkelompok dan paling sedikit dilakukan yaitu perilaku seksual.Cephalopachus bancanus saat ini dikategorikan sebagai hewan rentan (vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Penurunan populasi ini terjadi karena hilangnya habitat dan tingkat eksploitasi yang tinggi. Pemahaman perilaku Cephalopachus bancanus dalam konservasi dapat digunakan untuk menunjang perkembangbiakan satwa dalam kaitan mendukung upaya konservasi agar satwa endemik ini tidak menurun populasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur frekuensi perilaku sepasang Cephalopachus bancanus guna mendapatkan data dan informasi mengenai perilaku sepasang dalam kandang konservasi Pusat Studi Satwa Primata, Bogor. Penelitian perilaku pasangan yang teramati diantara lain: perilaku berkelompok, perilaku saling membersihkan diri, perilaku bertengkar, berselisih dan menghindar, perilaku bermain, perilaku seksual. Metode pengamatan yang digunakan adalah focal animal sampling dan instantaneous sampling dengan penilaian one-zerotime sampling. Hasil pengamatan selama 5 periode pengulangan waktu menunjukkan bahwa perilaku berkelompok mempunyai frekuensi paling tinggi yaitu 40% dengan durasi 134 menit, perilaku saling membersihkan diri menunjukkan frekuensi 37% dengan durasi 121 menit, perilaku bertengkar, berselisih dan menghindar menunjukkan frekuensi 18% dengan durasi 61 menit, perilaku bermain menunjukkan frekuensi 4% dengan durasi 12 menit, dan perilaku seksual menunjukkan hasil frekuensi paling rendah, yaitu 1% dengan durasi 4 menit. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu perilaku sosial sepasang Cephalopachus bancanus paling banyak dilakukan yaitu perilaku berkelompok dan paling sedikit dilakukan yaitu perilaku seksual

    Studi Kasus Perbaikan Traumatic Diaphragmatic Hernia pada Kucing di Pet First Veterinary Centre, Kuala Lumpur, Malaysia

    Get PDF
    Hernia diafragma traumatis adalah cedera pada toraks akibat adanya gaya pada diafragma yang melebihi kekuatan diafragma untuk menahan tekanan. Penelitian bertujuan mengetahui cara pengobatan dan teknik pembedahan kasus hernia diafragma traumatis pada kucing. Pasien adalah kucing domestic short hair (DSH) betina berumur 1 tahun berbulu hitam putih dengan berat badan 2,8 kg di Pet First Veterinary Center. Studi kasus dimulai dengan pemeriksaan fisik untuk melihat gejala klinik dan melihat data diagnostik sebelum operasi. Hilangnya batas ventral diafragma dan bergesernya organ abdomen ke rongga toraks menjadi gambaran radiologis yang terlihat pada pasien penderita hernia diafragmatika. Pembedahan dilakukan di Pet First Veterinary Center untuk memulihkan tekanan negatif di rongga toraks dengan thoracocentesis. Diaphragmatic hernia repair merupakan teknik pembedahan untuk mengembalikan fungsi diafragma. Intermittent positive pressure ventilation (IPPV) merupakan teknik ventilasi yang membantu pasien agar dapat bernapas optimal selama proses bedah berlangsung. Perawatan post-operasi berlangsung dicatat dalam sistem rekam medik digital dan pemulihan pasien terjadi dalam waktu satu bulan. Penelitian menunjukkan bahwa diaphragmatic hernia repair adalah metode pengobatan yang efektif untuk kasus hernia diafragma traumatis sehingga dapat mempertahankan fungsi paru-paru.Traumatic diaphragmatic hernia is an injury to the thorax in which the forces applied to the diaphragm exceed the diaphragmatic holding strength, resulting in a defect that allows abdominal contents to protrude into the thoracic cavity. This case research aimed to investigate diaphragmatic hernia treatment and surgical repair. The patient is a 1-year old, female domestic short hair (DSH) cat, black-white hair with a body weight of 2.8 kg. Pet First Veterinary Center monitored clinic symptoms and diagnostic data before surgery. Patient state was closely checked. The loss of the ventral border of the diaphragm and the displacement of abdominal viscera within the thorax are the most prominent radiological features in patient with diaphragmatic hernias. Surgery was performed at Pet First Veterinary Centre to restore negative pressure in the thoracic cavity by thoracocentesis. Diaphragmatic hernia repair involved reconstructing the diaphragm to restore its original function. Intermittent positive pressure ventilation (IPPV) was performed in this surgery. The treatment with corrective surgery was recorded, followed by the recovery of the patient within one month of the surgery. This research demonstrated that diaphragmatic hernia repair was an effective method of treatment for diaphragmatic hernia to preserve pulmonary function

    Physiological Response of Holstein Friesian Supplemented with UMMB Containing Natural Adhesive

    No full text
    Urea molases multi-nutrien blok (UMMB) merupakan suplemen pakan untuk sapi perah yang terdiri atas bahan pengisi dan perekat. Perekat yang umum digunakan yakni semen. Namun, semen merupakan bahan anorganik yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan ternak. Sehingga penggunaannya harus disubtitusi dengan bahan organik seperti tepung tapioka karena memiliki sifat gelatinisasi yang baik. Pemanfaatannya sebagai substitusi semen perlu diuji melalui respon fisiologi, karena respon ini merupakan indikator tingkat kesehatan ternak. Tujuan penelitian ini adalah menguji respon fisiologis sapi perah Friesian Holstein (FH) yang disuplementasi UMMB mengandung perekat alami. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan Faktor A adalah waktu pengukuran: pagi (w1); siang (w2); dan sore (w3) dan Faktor B adalah level subtitusi semen:tepung tapioca: 100:0 (P0); 75:25 (P1); 50:50 (P2); 25:75 (P3); 0:100 (P4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor A berpengaruh (P<0,05) terhadap nilai fisiologis, dengan nilai tertinggi pada siang hari. Faktor B berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap frekuensi respirasi dan denyut jantung, dimana semakin tinggi level subtitusi, nilai fisiologis sapi perah semakin tinggi. Meskipun demikian, nilai fisiologis tersebut masih berada pada kisaran normal yakni suhu rektal (38,2–39,10°C), frekuensi respirasi (24-37 kali/menit), dan denyut jantung (58–84 kali/menit). Tidak ada interaksi antara Faktor A dan B menunjukkan bahwa waktu pengukuran dan substitusi tepung tapioka tidak berkaitan dalam mempengaruhi nilai fisiologi ternak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung tapioka untuk mensubstitusi seman sebagai bahan perekat alami hingga level 100%.Urea molasses multi-nutrient block (UMMB) is a feed supplement for dairy cows, made of fillers and adhesives. The commonly used adhesive is cement; however, cement is an inorganic material that can cause health problems for dairy cows. Therefore, its use must be substituted with organic materials such as tapioca meals, which have good gelatinization properties. Tapioca meal as a cement substitute needs to be tested through physiological responses, as this response indicates animal health. The objective of the research was to examine the physiological response of Holstein Friesian dairy cows supplemented with UMMB containing natural adhesive. The study used a completely randomized design (CRD) with a factorial pattern. Factor A was the time of measurement: morning (w1), noon (w2), and afternoon (w3), and Factor B was the cement:tapioca meal substitution level: 100:0 (P0), 75:25 (P1), 50:50 (P2), 25:75 (P3), 0:100 (P4). The results revealed that Factor A affected (P<0.05) physiological values, with the highest values during the day. Factor B had a significant effect (P<0.05) on respiration frequency and heart rate, where the higher the substitution level, the higher the physiological value of dairy cows. However, these physiological values remained within the normal range, i.e., rectal temperature (38.2–39.10°C), respiratory frequency (24-37 times/minute), and heart rate (58–84 times/minute), respectively. There was no interaction between Factors A and B, indicating that measurement time and tapioca meal substitution were not related in influencing dairy cows’ physiological values. It can be concluded that the physiological values for the dairy cows remained within the normal range even with the tapioca meal substitution at 100%. This could have positive implications for the health and well-being of dairy cow

    Development of Calf Mesenchymal Stem Cells through Wharton’s Jelly Umbilical Cord Explant Primary Culture

    Get PDF
    Saat ini penggunaan sel punca mesenkimal Wharton’s jelly (SPMWJ) sapi dapat menjadi alternatif bagi terapi pet animals. Manfaat SPM antara lain meregulasi jalur persinyalan sel, rendahnya penolakan sistim imun pada pemberian alogenik, tidak adanya resiko keganasan, stabil penyimpanannya, dan mudah transportasinya. Kultur tali pusat sapi belum dilaporkan perkembangan eksplan WJ terutama proses pertumbuhan eksplan WJ mulai dari attach hingga sel konfluen. Tujuan penelitian adalah menentukan perkembangan eksplan WJ tali pusat sapi. Faktor yang dilihat diantaranya attachment eksplan, munculnya outgrowth, morfologi sel, dan konfluensi sel. Eksplan mampu attach sebanyak 42% pada hari ke-8 kultur dan 88% (hari ke-12). Outgrowth sel teramati pada 45% eksplan (hari ke-8) dan 100% (hari ke-12). Morfologi sel yang terlihat adalah fibroblastik. Konfluensi sel didapat pada hari ke-12, hari ke-16, dan hari ke-20 yaitu 3%, 83%, dan 100%.Currently, the use of calf mesenchymal stem cell Wharton\u27s jelly (MSCWJ) could be an alternative for pet animal therapy. The benefits of MSC included regulating cell signaling pathways, low immune system rejection in allogeneic administration, no risk of malignancy, stable storage, and easy transportation. Calf umbilical cord culture had not been reported on the development of WJ explants, especially the growth process of WJ explants from attach to confluent. The aim of the study was to determine the development of calf umbilical cord WJ explants. Factors examined included explant attachment, outgrowth appearance, cell morphology, and cell confluence. Explants were able to attach as much as 42% on day 8 of culture and 88% (day 12). Cell outgrowth was observed in 45% of explants (day 8) and 100% (day 12). The visible cell morphology was fibroblastic. Cell confluence was obtained on day 12, day 16, and day 20 at 3%, 83%, and 100%, respectivel

    Cockroach Periplaneta americana Extract as Systemic Anti-inflammatory in Rat of SIRS Model

    Get PDF
    Systemic inflammatory response syndrome (SIRS) merupakan fenomena hiperinflamsi sistemik yang diperantarai oleh respon imunitas bawaan akibat paparan infeksi ataupun non infeksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektifitas antiinflamasi ekstrak kecoak P. americana melalui tampilan klinis hewan model. Induksi SIRS melalui cecal ligation and puncture (CLP). Hewan model menggunakan tikus putih galur Sprague Dawley jantan umur 10 minggu sebanyak 20 ekor yang mendapatkan bedah CLP dan diterapi menggunakan NaCl 0,9% 0,2 ml/ekor, dexamethasone 0,75 mg/kg BB, ekstrak kecoak P. americana (EKP) 50 mg/kg BB, dan  100 mg/kg BB. Pemberian terapi dilakukan secara per oral pada 24 dan 48 jam setelah CLP. Hasil penelitian variabel suhu tubuh menunjukan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok yang diberi NaCl 0,9%, dexamethasone, dan EKP 50 mg/kg BB (P > 0.05), namun berbeda signifikan (suhu lebih rendah dibawah normal) dengan kelompok EKP 100 mg/kg BB (P < 0.05). Variabel jumlah napas, detak jantung, dan total leukosit tidak menujukan perbedaan signifikan antara setiap kelompok (P > 0.05). Presentase bertahan hidup hingga akhir penelitian kelompok yang diterapi menggunakan NaCl 0,9%, dexamethasone, EKP 50 mg, dan EKP 100 mg masing-masing sebesar 60%, 80%, 100%, dan 60%. EKP 50 mg/Kg BB memiliki potensi sebagai  antiinflmasi sistemik pada tikus putih model SIRSSystemic inflammatory response syndrome (SIRS) is a phenomenon of systemic hyperinflammation mediated by innate immune response due to exposure to infection or non-infection. This study aims to analyze the effectiveness of anti-inflammatory cockroach P. americana extract through clinical animal models. Induction of SIRS through cecal ligation and puncture (CLP). The animal model was used 20 10-week-old male Sprague Dawley rats that received CLP and were treated with NaCl 0.9% 0.2 ml/day, dexamethasone 0.75 mg/kg BW, cockroach P. americana extract (EKP) 50 mg/kg BW, and 100 mg/kg BW. Therapy was administered orally at 24 and 48 hours after CLP. Body temperature variables showed no significant difference between groups given NaCl 0.9%, dexamethasone, and EKP 50 mg/kg BW (P > 0.05), but significantly different (lower temperature below normal) with the EKP 100 mg/kg BW (P < 0.05). The variables of breaths, heart rate, and total leukocytes did not show significant differences between each group (P > 0.05). The survival percentage until the end of the study in the NaCl 0,9%, dexamethasone, EKP 50 mg, and EKP 100 mg groups was respectively 60%, 80%, 100%, and 60%. EKP 50 mg/Kg BW has the potential as a systemic anti-inflammatory in rats of SIRS model

    Multidrug-Resistant (MDR) E. coli dalam Daging Babi yang Berasal dari Rumah Potong Hewan (RPH) Oeba, Kota Kupang

    Get PDF
    Untuk dapat menghasilkan daging babi yang siap dikonsumsi tentunya perlu melewati berbagai tahapan mulai dari peternakan hingga pengemasan. Pada berbagai tahapan ini, peluang terjadinya kontaminasi dengan mikrob patogen sangat besar. Mikrob patogen yang sering ditemui pada daging babi salah satunya E. coli yang seringkali menjadi pemicu kejadian foodborne disease pada manusia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa isolat E. coli yang diisolasi dari peternakan babi di Kota Kupang diketahui telah mengalami multidrug-resistan (MDR) yang mana apabila kejadian ini menyebar dapat berdampak buruk bagi masyarakat. RPH merupakan tempat penyembelihan hewan yang diawasi oleh dokter hewan dengan tujuan untuk dapat menghasilkan daging dengan kualitas baik bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur cemaran E. coli, mengidentifikasi serta isolasi MDR E. coli dari daging babi segar yang berasal dari RPH Oeba, Kota Kupang. Penghitungan jumlah E. coli dilakukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) ISO 16649–2:2001 tentang Metode Horizontal Enumerasi E. coli positif-b-glukuronidase - Bagian 2: Teknik penghitungan koloni pada suhu 44 °C menggunakan 5-bromo-4-chloro-3-indolyl-b-D-glucuronide. Uji resistansi E. coliterhadap antibiotik dilakukan berdasarkan metode Kirby-Bauer. Data terkait jumlah cemaran E. coli dan pengujian resistansi E. coli terhadap antibiotik dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan cemaran E. coli dalam daging babi yang digunakan memiliki rata-rata 626.440±947.937 CFU/g. Semua isolat E. coli telah resistan terhadap penisilin (100%), sebagian besar isolat E. coli resistan terhadap streptomisin (80%) dan tetrasiklin (60%), serta hampir sebagian isolat E. coli resistan terhadap oksitetrasiklin (47%), amoksisilin (40%). Isolat lapang E. coli yang diperoleh dari daging babi telah MDR terhadap 2 (7/15;46,67%) sampai dengan 3 (7/15;46,67%) golongan antibiotik. Simpulan dari penelitian ini yaitu, cemaran E. coli dalam daging babi yang berasal dari RPH Oeba melebihi ambang batas maksimum cemaran mikrob yang telah ditetapkan (>1x101 CFU/g). Isolat E. coli telah resistan terhadap penisilin, streptomisin, tetrasiklin, oksitetrasiklin, dan amoksisilin dan telah MDR terhadap 2 sampai dengan 3 golongan antibiotik.To produce pork ready for consumption, it must go through various stages, from the farm to the packaging. The chances of contamination with pathogenic microbes are very large. Pathogenic microbes are often found in pork, one of which is E. coli, which is often the trigger for foodborne disease in humans. Previous studies have shown that E. coli isolates from pig farms in Kupang City are known to have multidrug resistance (MDR), which, if this event spreads, could negatively impact the community. RPH is a place for slaughtering animals supervised by veterinarians to produce good quality meat. This study aims to measure E. coli contamination, identify and isolate MDR E. coli from fresh pork from Oeba RPH, Kupang City. The enumeration number of E. coli was carried out based on the Indonesian National Standard (SNI) ISO 16649–2:2001 concerning the Horizontal Enumeration Method for E. coli positive-b-glukuronidase - Part 2: Colony counting technique at 44 °C using 5-bromo-4-chloro-3-indolyl-b-D-glucuronide. Resistance test of E. coli to antibiotics was carried out based on the Kirby-Bauer method. Data related to the amount of E. coli contamination and testing of E.coli antibiotic resistance were analyzed descriptively. The results showed that the contamination of E. coli in the pork used had an average of 626,440 ± 947,937 CFU/g. All E. coli isolates were resistant to penicillin (100%), most E. coli isolates were resistant to streptomycin (80%) and tetracycline (60%), and half of the E. coli isolates were resistant to oxytetracycline (47%) and amoxicillin (40%). E. coli isolates obtained from pork had MDR against 2 (7/15;46.67%) to 3 (7/15;46.67%) groups of antibiotics. This study concludes that the contamination of E. coli in pork from Oeba slaughterhouse exceeds the maximum microbial contamination limit (>1x101 CFU/g).  E. coli isolates were resistant to penicillin, streptomycin, tetracycline, oxytetracycline, and amoxicillin and had MDR against 2 to 3 classes of antibiotics

    283

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Acta VETERINARIA Indonesiana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇