Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
Sampul Luar, Sampul Dalam & Daftar Isi Vol 4 No 2
Acta Vet Indones Vol 4 No 2 Sampul Luar, Sampul Dalam, Kata Pengantar, Guideline for Author, dan Daftar Is
Prevalensi Mastitis Subklinis dan Evaluasi Mikrobiologis Susu Peternakan Rakyat di Boyolali
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur prevalensi mastitis subklinis dan mengevaluasi kualitas mikrobiologis susu di peternakan rakyat Kabupaten Boyolali. Metode pengukuran prevalensi dilakukan dengan memilih sebanyak 130 ekor sapi sebagai sampel individu menggunakan penarikan contoh acak sederhana, sementara evaluasi mikrobiologis susu dilakukan pada 22 peternakan model yang telah diberikan penyuluhan dan pendampingan terkait praktik higiene dan sanitasi pemerahan. Uji diagnostik mastitis subklinis dilakukan dengan reagen IPB-1 mastitis test dan perhitungan jumlah kuman dengan total plate count (TPC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi mastitis subklinis di peternakan rakyat kabupaten Boyolali masih tinggi yaitu 65% (57-74%). Dari hasil tersebut, 72 sampel (55%) positif satu (+) dan 13 sampel (10%) positif dua (++) uji mastitis subklinis. Disamping itu dari hasil evaluasi mikrobiologis setelah dilakukan penyuluhan, 95,5% sampel susu memiliki jumlah total kuman di bawah standar SNI yaitu 1,0 x 106 cfu/ml dan hanya terdapat satu peternak (4,5%) yang memiliki TPC sebesar 4,4 x 106 cfu/ml. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa prevalensi mastitis subklinis masih sangat tinggi dan perlu dilakukan penyuluhan kepada peternak sehingga dapat meningkatkan kesadaran untuk menerapkan praktik higiene dan sanitasi
Potensi Ekstrak Air Daun Sirsak sebagai Penurun Kolesterol dan Pengendali Bobot Badan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak air daun sirsak terhadap bobot badan dan kadar kolesterol darah. Penelitian ini menggunakanrancangan acak lengkap dengan 5 kelompok perlakuan masing-masing sebanyak 3 ulangan. Hewan coba berupa tikus galur Wistar sebanyak 15 ekor dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok yang diberikan ekstrak air daun sirsak dengan dosis 200 mg/kgBB, 400mg/kgBB, kontrol positif, kontrol negatif, dan kontrol normal. Rerata bobot badan dan kadar kolesterol kemudian dianalisis menggunakan Sapphiro Wilk test, ANOVA dan Kruskall Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kelompok yang diberikan ekstrak daun sirsak memiliki efek menghambat peningkatan bobot badan jika dibandingkan dengan kontrol normal, sedangkan untuk kadar kolesterol darah didapatkan bahwa seluruh kelompok perlakuan menunjukkan kadar kolesterol darah yang sama dengan kelompok yang diberikan simvastatin. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa ekstrak air daun sirsak memiliki efek mengendalikan bobot badan dan kolesterol darah. Efek terhadap kolesterol darah serupa dengan simvastatin, karena ekstrak air daun sirsak mengandung fl avonoid yang mempunyai efek menghambat enzim HMG CoA reduktase, serupa dengan mekanisme kerja simvastatin dalam menurunkan kadar kolesterol darah
Amputasi prolapsus kantung pipi pada hamster mini Campbell (Phodopus campbelli)
Pada studi kasus ini kami mendokumentasikan sebuah kasus prolapsus kantung pipi pada seekor hamster mini Campbell (Phodopus campbelli). Hamster mini Campbell datang dengan anamneses adanya sebuah massa di kiri mulut bagian dalam yang tampak menyembul keluar. Berdasarkan pemeriksaan klinis, hamster mengalami prolapsus kantung pipi dengan prognosa yang buruk. Terapi awal yang dilakukan berupa reposisi, akan tetapi terjadi prolaps kembali sehingga dilakukan amputasi pada kantung pipi yang mengalami prolap
Uji Efektivitas Jangka Panjang Kombinasi Ekstrak Buah Cabe Jawa dan Biji Mahoni Sebagai Penambah Stamina pada Tikus Putih Jantan
Buah cabe jawa dan biji mahoni secara tunggal telah diteliti memiliki aktivitas sebagai peningkat stamina. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas dari kombinasi ekstrak buah cabe jawa dan biji mahoni sebagai penambah stamina pada tikus putih jantan dan untuk mengetahui adanya efek samping yang ditimbulkan pada penggunaan jangka panjang. Hewan uji yang digunakan sejumlah 35 ekor tikus putih jantan yang dibagi dalam 7 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih. Kelompok tersebut terdiri dari biji mahoni, buah cabe jawa, kombinasi buah cabe jawa-biji mahoni (2:1), buah cabe jawa-biji mahoni (1:1), buah cabe jawa-Biji mahoni (1:2), kontrol (-) dan kontrol (+). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi ekstrak buah cabe jawa-biji mahoni (2:1) dan (1:2) tidak berbeda nyata dengan efektivitas pemberian ekstrak cabe jawa dan biji mahoni secara tunggal, dan kontrol positif masih memiliki nilai peningkat stamina tertinggi dengan nilai rata-rata daya tahan renang sebesar 529 detik. Penggunaan kombinasi ekstrak buah cabe jawa-biji mahoni yang paling efektif adalah pada hari ke-3.Kata kunci: stamina, buah cabe jawa, biji mahoni (Long Term Effectiveness Experiment Combination of Javanese Long Pepper Fructus and Mahogany Bean Extract as a Stimulant to Male Rat)Javanese long pepper fructus and mahogany bean have a stimulant effect on body stamina. This research purposed to test the effectiveness of the combination of extract of javanese long pepper fructus and mahogany bean in long use for increasing stamina in male rats. A number of 35 male rats were used for testing and divided into 7 groups. Each group consisted of 5 rats. The group consists of mahogany bean, javanese long pepper fructus, javanese long pepper fructus-mahogany bean (2:1), javanese long pepper fructus-mahogany bean (1:1), javanese long pepper fructus-mahogany bean (1:2), control (-) and control (+). The result showed that administration of javanese long pepper extract-mahagony bean extract (2:1) and (1:2) do not show the effectiveness with javanese long pepper extract and mahagony bean extract in single use, and the positif control still show the high stimulant activity with the average value swimming endurance time of 529 seconds. Utilizing combination Javanese long pepper extractmahagony bean extract more effective in 3rd day.Keywords: stamina, javanese long pepper fructus, mahogany bea
Gambaran Nilai Hematologi Tikus Putih Betina Dara pada Pemberian Tombong Kelapa
Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh tombong kelapa yang dicampurkan ke dalam pakan terhadap parameter kesehatan tikus putih betina dara melalui nilai hematologi lengkap. Parameter hematologi yang dianalisa meliputi hemoglobin, eritrosit, leukosit, hematokrit, dan diff erensial leukosit. Penelitian ini menggunakan 4 kelompok perlakuan dosis tombong kelapa 0 mg, 50 mg, 100 mg, dan 200 mg/ekor/hari, masing-masing terdiri dari 6 ulangan. Serbuk kasar tombong kelapa dicampurkan ke dalam pakan komersil dan dibentuk kembali menjadi pakan pelet. Dosis campuran tombong kelapa tersebut diberikan sebanyak satu kali/hari. Sampel darah diambil selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan, kadar hemoglobin tidak meningkat secara nyata (P>0,05). Jumlah Hb normal, yaitu 11.93-15.19 g%. Eritrosit dan leukosit, menunjukkan peningkatan dan penurunan secara nyata (P<0,05). Rata-rata jumlah eritrosit 6.03-8.96 juta/mm3, leukosit 7.18-15.77 ribu/mm3 terindikasi normal. Leukosit di minggu keempat pada dosis 50 mg, 100 mg, dan 200 mg/ekor/hari menurun dari batas normal, yaitu 6-10 ribu/mm3. Hematokrit tidak meningkat secara nyata (P>0,05). Diff erensial leukosit, yaitu limfosit minggu pertama, dan monosit minggu ketiga meningkat signifi kan (P>0,05). Netrofi l di minggu pertama terjadi penurunan secara signifi kan (P<0,05) dibandingkan kelompok kontrol. Eosinofi l menunjukkan perubahan secara signifi kan di minggu ketiga (P<0,05). Rata-rata nilai eosinofi l berada dalam jumlah normal, yaitu 1-4%. Basofi l tidak ditemukan pada pemberian diet pakan tombong kelapa. Kesimpulan bahwa, tombong kelapa tidak berpengaruh pada homoestasis darah. Dosis yang terbaik yaitu 50 mg, dan 100 mg/ekor/hari
Kesempurnaan Kematian Sapi setelah Penyembelihan dengan dan tanpa Pemingsanan Berdasarkan Parameter Waktu Henti Darah Memancar
Parameter untuk mengetahui hewan sapi sempurna setelah disembelih yaitu dengan melihat refleks kelopak mata dan atau waktu henti darah memancar. Menurut EFSA (2004) kematian merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan respirasi fisiologis dan sirkulasi darah telah berhenti sebagai akibat dari pusat sistem tersebut di batang otak secara permanen kehilangan fungsi karena kekurangan oksigen dan energi. Waktu henti darah memancar merupakan indikasi bahwa jantung sudah tidak dapat memompa darah keluar dari tubuh karena tidak ada lagi asupan oksigen darah dalam jantung, sehingga hewan tersebut dapat dikatakan mati. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung waktu henti darah memancar pada penyembelihan sapi dengan metode pemingsanan dan tanpa pemingsanan yang dipotong di rumah potong hewan ruminansia besar (RPHRB), sehingga diperoleh data rataan waktu hewan mati sempurna. Tiga puluh ekor sapi Brahman Cross dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu, sebanyak 15 ekor yang disembelih dengan pemingsanan (kelompok 1) dan sebanyak 15 ekor yang disembelih tanpa pemingsanan (kelompok 2). Waktu henti darah memancar dihitung sesaat setelah hewan disembelih sampai darah berhenti memancar. Hasil dari penelitian diperoleh rataan waktu henti darah memancar pada sapi yang dipingsankan sebelum disembelih adalah sebesar 3,02 menit dan rataan waktu henti darah memancar pada sapi yang disembelih tanpa pemingsanan adalah sebesar 2,13 menit. Selang waktu henti darah memancar antara sapi yang dipingsankan dengan sapi yang tidak dipingsankan sebelum disembelih adalah 53,4 detik. Waktu henti darah memancar dipengaruhi oleh perlakuan hewan sebelum pemotongan, yaitu dengan atau tanpa pemingsanan.Kata kunci: Pemingsanan, sapi, tanpa pemingsanan, waktu henti darah (The Perfect Cow Died after Slaughtered by Stunning and Non Stunning Methods According to Gushing Blood Downtime)Palpebra reflex and gushing blood downtime can be used as parameters to see animals death after slaughtered. Stop bleeding time was an indication that the heart is unable to pump blood out of the body due to no more oxygen in the blood of the heart, so that the cattle can be said has been dead perfectly. The aims of this study was to calculate the stop bleeding time of cattle slaughtered by stunning and non stunning methods, thus obtained the avaraging data of perfectly death time of animals. Thirty catlles’s Brahman Cross divided into two treatment groups, firstly 15 cattle’s were slaughtered by stunning method (group 1) and the second one 15 cattle’s were slaughtered by non stunning method (group 2). Blood gushing downtime was calculated immediately after the animal is slaughtered until the blood stops radiating. The results showed the average blood gushing downtime in cattles that were stunning before slaughtered is 3.02 minutes and the average time to stop blood gushing in cattles of non stunning group is 2.13 minutes. The interval blood gushing downtime between the cattles slaughtered by stunning and non stunning was 53.4 seconds. Blood gushing downtime was affected by the treatment of animals before they were slaughtered.Keywords: cattle, gushing blood downtime, non stunning, stunning
Profil Tekanan Darah Sistolik dan Saturasi Oksigen Domba Garut Betina pada Suhu Lingkungan Tropis
Pengukuran tekanan darah sistolik (TDS) dan saturasi oksigen (SpO2) merupakan salah satu cara pemantauan fungsi kardiovaskular untuk mengetahui resiko gangguan jantung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati dinamika TDS dan SpO2 domba garut pada pagi dan siang hari dengan variasi suhu kandang. Penelitian ini menggunakan 4 ekor domba garut betina sehat, umur produktif dan tidak bunting. Suhu kandang dicatat sebelum memulai pengukuran TDS dan SpO2. Pengukuran TDS dan SpO2 menggunakan metode non-invasif ultrasonic Doppler flow detector dengan meletakkan flat probe pada medial distal carpus dan pediatric fingertip pulse oximetry yang dijepitkan ke telinga domba. Pengambilan data dilakukan pagi dan siang hari dengan 5 kali ulangan selama 20 menit pada menit ke 0, 5, 10, 15 dan 20. Hasil penelitian ini menunjukkan pengamatan suhu kandang pagi berkisar 28-29 oC dengan rataan nilai TDS 111,20 ± 3,95 mmHg dan SpO2 sebesar 96,5 ± 0,18%. Pada siang hari suhu kandang berkisar 32-35 oC dengan rataan nilai TDS 105,25 ± 2,24 mmHg dan SpO2 96,9 ± 0,22%. Rataan nilai TDS dan SpO2 menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0,05) antar waktu pengamatan. Berdasarkan hasil penelitian ini, variasi suhu kandang tidak mempengaruhi TDS dan SpO2 domba garut tetapi secara umum domba ini memiliki tingkat adaptasi kardiovaskular yang baik terhadap kondisi suhu lingkungan tropis.Kata kunci: tekanan darah sistolik, saturasi oksigen, domba garut, suhu kandan
Trichinellosis pada Babi di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara
Trichinellosis adalah penyakit zoonnotik yang berasal dari makanan yang disebabkan oleh cacing nematoda Trichinella spp. Penyakit ini masih kurang mendapatkan perhatian di negara maju dan negara berkembang. Parasit ini mempunyai distribusi yang sangat luas hampir di seluruh dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji keberadaan trichinellosis pada daging babi di Manado. Penelitian ini menggunakan lintas sektional dengan total sampel otot maseter babi (n=139) dan otot diafragma babi (n=139) berasal dari 4 rumah potong hewan babi di Manado. Pengujian laboratorium terhadap Trichinella spp. menggunakan uji pool digesti terdeteksi larva yang diduga Trichinella spp. dalam satu pool yang terdiri dari 9 sampel otot diafragma babi. Pool yang terdeteksi positif kemudian secara individu diuji dengan menggunakan uji kompresi dan dilakukan pembuatan preparat dengan metode pengecatan Hemaktosili Eosin. Hasil dari pengujian individual tidak terdeteksinya Trichinella spp. pada sampel yang diuji. Berdasarkan hasil pengujian tersebut diatas daging babi yang diperiksa tidak terinfeksi oleh Trichinella spp.Kata kunci: digesti, kompresi, Trichinella spp. (Trichinellosis in Pig in Manado North Sulawesi Province)Trichinellosis is a food-borne zoonotic disease caused by the nematode Trichinella spp. However it is still a neglected disease in development and developing country. This parasite has worldwide distribution in a worldwide. The aims of this study were to observe the occurance Trichinella spp. in pork in Manado. The research was conducted using cross sectional study. A total of pig masseter muscle (n=139) and pig diaprhagmatic muscle (n=139) came from 4 slaughter house in Manado. Laboratory examination of Trichinella larvae using pooled sample digestion method was detected one larva in a pooled batch of 9 pig diaprhagmatic muscle samples whereas the suspected positive findings were individually subjected to the compression method and Hematoxilin Eosin staining method. The result showed that the infected could not be identified. Based on these findings, the absence of Trichinella infection in pigs slaughtered pigs indicates that not infected by Trichinella spp.Keywords: compression, digestion, Trichinella spp
Imunohistokimia Patogenitas Viral Nervous Necrosis Isolat Lapang Bali yang Diinfeksikan pada Kerapu Macan Budidaya
Di Indonesia dilaporkan bahwa VNN (Viral Nervous Necrosis) telah menyerang sebagian besar budidaya ikan kerapu dengan tingkat kematian 100%. Untuk mencegah penyebaran penyakit VNN pada kerapu yang dilalulintaskan Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan kelas I Denpasar mengembangkan pemeriksaan imunohistokimia untuk mengetahui tingkat patogenitas VNN sebagai dasar penanggulangan dan pencegahan penyakit VNN di wilayah Bali. Kerapu macan berukuran 150 g - 300 g sebanyak 50 ekor diaklimatisasi, sepuluh ekor kerapu sebagai kontrol, 40 ekor diinjeksi dengan inokulum VNN (isolat Bali) konsentrasi 101,5 yang dipelihara tanpa siklus pergantian air. Pengamatan gejala klinis dan pengambilan sampel organ dilakukan 12 jam pasca infeksi dan berturut-turut setiap 12 jam. Pengambilan organ digunakan untuk pemeriksaan imunohistokimia (streptavidin-biotin) dan uji konfirmasi menggunakan pemeriksaa RT- PCR kit IQ-2000 VNN. Hasil imunohistokimia pada 24 jam pertama hanya menyerang mata dan otak, 36 jam pasca infeksi virus penyebab VNN terdapat di organ jantung, 48 jam pasca infeksi virus penyebab VNN terdapat di organ hati dan limpa yang diakhiri pada 60 jam pasca infeksi virus penyebab VNN berada di organ ginjal. Distribusi VNN yang luas pada seluruh organ tubuh menunjukkan bahwa viraemia menjadi faktor penting dalam patogenesis infeksi penyakit VNN.Kata kunci: VNN, patogenitas, kerapu macan, imunohistokimia (Imunohistochemistry of Pathogenicity Viral Nervous Necrosis Bali Field Isolate are Infected in Tiger Grouper Marine Culture)In Indonesia was reported VNN (Viral Nervous Necrosis) has invaded most of grouper culture with a mortality rate of 100%. To prevent the spread of VNN in groupers export from Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan kelas I Denpasar, it develop immunohistochemistry to determine the level of pathogenicity VNN as a basis for prevention and disease prevention VNN in Bali. Tiger grouper sized 150 - 300 g as much as 50 animals acclimatized, ten head of grouper as a control, 40 tails were injected with an inoculum concentration of 101.5 VNN are preserved without change of the water cycle. Observation of clinical symptoms and organ sampling performed 12 hours post-infection and successively every 12 hours, making the organ used for immunohistochemistry (streptavidin-biotin) and a confirmatory test using RT - PCR kit examination of the IQ -2000 VNN. Immunohistochemical results on the first 24 hours only attacks the eyes and brain, 36 hours post-infection the virus that was found in cardiac, 48 hours post-infection the virus that VNN contained in the liver and spleen were terminated at 57 hours post-infection the virus in the kidney. Spread of VNN distribution in all organs showed that viraemia is an important factor in the pathogenesis of infectious diseases VNN.Keywords: VNN, immunohistochemistry, tiger grouper, patogenita