Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
Studi Histokimia Sebaran Karbohidrat Usus Biawak Air (Varanus salvator)
Penelitian ini bertujuan mengetahui sebaran karbohidrat pada usus biawak air dengan metode histokimia. Organ usus dari satu ekor biawak jantan dewasa dikoleksi melalui prosedur perfusi dan selanjutnya difiksasi dengan larutan paraformaldehid 4%. Usus biawak dibagi menjadi enam bagian, yaitu bagian I sampai VI dan selanjutnya diproses menjadi preparat histologi. Deteksi sebaran karbohidrat pada lapisan mukosa usus dilakukan dengan pewarnaan alcian blue (AB) pH 2,5 untuk karbohidrat asam dan periodic acid schiff (PAS) untuk karbohidrat netral. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebaran karbohidrat asam ditemukan pada sel goblet pada keenam bagian usus dengan intensitas reaksi sedang (++) sampai kuat (+++), dan tidak ditemukan pada struktur usus lainnya. Sebaran karbohidrat netral ditemukan di seluruh permukaan jaringan usus dengan intensitas reaksi lemah (+) sedangkan intensitas reaksi sedang (++) sampai kuat (+++) ditemukan pada sel goblet. Jumlah sel goblet penghasil karbohidrat asam dan netral pada usus bagian I-IV lebih sedikit (+~++) dibandingkan usus bagian V-VI (+++). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebaran karbohidrat asam dan netral ditemukan diseluruh bagian usus dengan intensitas pewarnaan yang bervariasi. Jumlah sel goblet yang terdeteksi menghasilkan kedua jenis karbohidrat tersebut lebih banyak ditemukan pada usus bagian kaudal.Kata kunci: jaringan usus, sel goblet, karbohidrat asam dan netral, Varanus salvator. (Histochemical Study of Intestinal Carbohydrates Distribution in the Water Monitor (Varanus salvator))The objective of this study was to elaborate the distribution of carbohydrate in intestine tissue of water monitor using histochemical method. Intestinal organ from an adult male water monitor was collected after perfused and subsequently fixed in paraformaldehyde 4%. Intestinal organ was divided to six regions e.g. I to VI and then processed to histological slides. The carbohydrate distribution on the mucosal surface of intestinal tissue was stained with alcian blue (AB) pH 2.5 for detect the acid carbohydrates and periodic acid Schiff (PAS) for the neutral carbohydrates. The results showed that the distribution of acid carbohydrates found in the goblet cells at the I to VI regions with vary intensity of staining reaction with good staining (++) to intense staining (+++), whereas other intestinal structures did not contain the acid carbohydrates. Furthermore, the distribution of neutral carbohydrates was found in the whole intestinal tissue with weak reaction (+), while good staining (++) to intense staining (+++) was appeared in the goblet cells. Additionally, the number of goblet cells containing acid and neutral carbohydrates at the I-IV region was fewer (+~++) than at V-VI region (+++). Conclusion of this study is the distribution of acid and neutral carbohydrates appeared in all regions of the intestinal tissue. The large number of goblet cells that secreting both of carbohydrate type was found at the caudal of intestinal tissue.Keywords: intestinal tissue, goblet cells, acid and neutral carbohydrates, Varanus salvator
Identifikasi Kecacingan pada Satwa Liar dan Ternak Domestik di Taman Nasional Way Kambas, Lampung
Penyakit kecacingan dan interaksi antara satwa liar dengan ternak domestik di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan permasalahan yang harus mendapat perhatian serius dalam pengelolaan konservasi di TNWK dan pemeliharaan ternak di desa penyangga TNWK. Penelitian ini bertujuan untuk identifi kasi keberadaan cacing pada sampel tinja (feses) satwa liar (harimau, badak, dan gajah) dan ternak domestik (sapi, kerbau, dan kambing) di sekitar TNWK. Pengambilan sampel dilakukan pada musim hujan yaitu pada periode Januari-Juli 2014 dan Oktober 2014 - Februari 2015; dengan lokasi pengambilan mencakup 36 lokasi (11 lokasi di TNWK dan 25 lokasi di desa-desa penyangga). Identifikasi cacing dari feses dilakukan dengan metode natif, pengendapan dan pengapungan, penghitungan telur dengan metode Mc Master, dan telaah potensi cacing zoonosis dengan studi literatur. Tidak ditemukan cacing pada harimau, sementara itu pada badak dan gajah Sumatera ditemukan Paramphistomum spp dan Strongyloides spp. Cacing yang ditemukan pada kerbau, sapi dan kambing ialah Paramphistomum spp, Fasciola spp, Trichuris spp, Mecistocirrus spp, Strongylus spp, Bunostomum spp, Haemonchus spp, Strongyloides spp, Oesophagostomum spp, Nematodirrus spp, dan Trichostrongylus spp. Inang ternak domestik (kerbau dan sapi) berpotensi menjadi vektor penularan Paramphistomum spp ke satwa liar. Kemungkinan cacing gastrointestinal yang berpotensi sebagai zoonosis ialah Fasciola spp, Strongyloides spp, Oesophagostomum spp, Haemonchus spp, Trichostrongylus spp dan Trichuris spp
Anatomi Organ Reproduksi Jantan Trenggiling (Manis javanica)
Organ reproduksi trenggiling merupakan hal yang penting dalam menunjang upaya konservasi, karena trenggiling termasuk dalam kategori endangered species oleh IUCN dan dilindungi pemerintah berdasarkan UU No. 5/1990 serta PP No. 7/1999, meskipun menurut CITES termasuk appendix II. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari makroanatomi organ reproduksi jantan trenggiling (M. javanica). Organ reproduksi jantan dari lima ekor trenggiling digunakan pada penelitian ini. Pengamatan dilakukan terhadap posisi in situ, morfologi dan morfometri, yang meliputi pengukuran panjang, lebar atau diameter, tebal, dan dari masing-masing bagian organ reproduksi jantan trenggiling dengan menggunakan kaliper dalam satuan cm, serta bobot dalam satuan gr. Analisis dilakukan secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa trenggiling memiliki sepasang organ reproduksi yang terdiri atas testes, epididymis dan ductus deferens yang selanjutnya bermuara ke urethra.Testes terletak di subcutanea daerah inguinales, serta tidak terbungkus oleh scrotum. Testis dexter dan sinister memiliki bentuk dan ukuran yang relatif sama. Ukuran rata-rata testis adalah panjang 3,78 ± 0,12 cm, lebar 1,24 ± 0,02 cm, tebal 0,90 ± 0,03 cm, dan bobot 5,64 ± 0,04 g. Epididymis membentuk caput, corpus dan cauda dengan panjang rata-rata 4,78 ± 0,02 cm, sedangkan panjang rata-rata ductus deferens adalah 8,98 ± 0,31 cm. Penis berukuran kecil dan pendek, bertipe muscolocavernosus dengan rata-rata panjang dan diameter adalah 5,39 ± 1,63 cm, dan 0,64 ± 0,03 cm. Ditemukannya testes ascrotalis di subcutanea daerah inguinales merupakan hasil yang menarik dari penelitian ini yang diduga terkait dengan perilaku trenggiling menggulung tubuh.Kata kunci: trenggiling (M. javanica), organ reproduksi jantan, testes ascrotali
Anatomi Organ Reproduksi Jantan Biawak Air Asia, Varanus salvator (Reptil: Varanidae)
Indonesia merupakan negara dengan tingkat eksploitasi biawak V. salvator terbesar di dunia yang sebagian besar untuk melayani permintaan perdagangan kulit. Tingginya permintaan kulit biawak di Indonesia mengkhawatirkan menyebabkan turunnya populasi satwa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari anatomi organ reproduksi jantan biawak air asia (Varanus salvator) (Reptil: Varanidae). Dua ekor biawak jantan dewasa digunakan dalam penelitian ini. Hewan dianestesi, dilakukan exanguinasi, dan difiksasi dengan larutan paraformaldehida 4% secara perfusi. Pengamatan dilakukan terhadap situs viscerum, morfologi, dan morfometri organ reproduksi mulai testis sampai hemipenis. Secara makroskopis, organ reproduksi jantan V. salvator terdiri atas testis, ductus epididymidis, ductus deferens dan hemipenis yang masing-masing berjumlah sepasang. Posisi testis menggantung di dinding dorsal coelom melalui mesorchium. Dari bagian dorsal testis terdapat ductus epididymidis yang panjangsampai di ujung kaudal ginjal. Ductus deferens, berupa saluran kecil, lurus dan berakhir di ujung hemipenis yang terletak di dalam pangkal ekor. Pada bagian kranial hemipenis ditutupi oleh papillae berbentuk konikal. Di kaudal dari hemipenis ditemukan otot retraktor yang memanjang ke arah ekor, dan diduga berperan menarik hemipenis ke dalam setelah kopulasi. Organ reproduksi jantan biawak secara umum mirip dengan reptilia lain khususnya ular dan kadal, dengan karakteristik adanya sepasang hemipenis.Kata kunci: Varanidae, Varanus salvator, organ reproduksi jantan, hemipenis, otot retraktor. (Anatomy of The Male Reproductive Organ of Water Monitor, Varanus salvator (Reptil: Varanidae))Indonesia is a country with high levels of exploitation of Varanus salvator that mainly serve the demand of leather trade. The high demand of lizard leather in Indonesian was alarming, cause a decline population of these animals. To improve our understanding on reproduction organs of the animal, we conduct this anatomical study. The study was used two adult male lizards. The animals were anesthetized, exanguinated and fixated in 4% paraformaldehyde by tissue perfusion method. Observations were performed to the visceral site, morphological and morphometrical of the male reproductive organs, from testes to hemipenes. Macroscopically, male reproductive organs of V. salvator were a pair of testes, epididymidis ducts, deferens ducts and hemipenes. The testis attached to dorsal wall of the coelom and fixed by the mesorchium. The epididymidis duct was long tubes that located in the dorsal of testes, winding up at the caudal end of the kidney. The deferens duct was a small duct, running straight and last at the end of each hemipenis, located at the base of the tail. The cranial part of each hemipenis was covered by conical shaped papillae. Furthermore, at the caudal of each hemipenis was found the retractor muscle that extends toward the tail, and is thought to contribute to the retracting hemipenis after copulation. The male reproductive organs of V. salvator are generally similar to the other reptiles, especially snakes and lizards, with peculiar a pair of hemipenes.Keywords: Varanidae, Varanus salvator, male reproductive organs, hemipenes, retractor muscles
Gangguan Reproduksi Sapi Bali pada Pola Pemeliharaan Semi Intensif di Daerah Sistem Integrasi Sapi - Kelapa Sawit
Pemeliharaan sapi Bali di Kotamadya Bengkulu dengan sistem Sistem Integrasi Sapi - Kelapa Sawit (SISKA) sudah berjalan beberapa tahun. Salah satu parameter keberhasilan program ini adalah performa reproduksi sapi Bali. Performa reproduksi sapi Bali menggambarkan kualitas dari sistem manajemen pemeliharaan yang telah dilakukan. Kajian performa reproduksi sapi Bali tersebut sudah dilakukan dengan pemeriksaan reproduksi secara per rektal dan analisa data recording peternak dan petugas. Tujuan utama dari program manajemen reproduksi adalah mendapatkan produksi yang optimal dan keuntungan yang maksimal. Efisiensi reproduksi menentukan produktivitas, profitabilitas dan keberlanjutan dari setiap usaha peternakan. Adanya gangguan reproduksi menyebabkan inefisiensi reproduksi. Kondisi ini akan menyebabkan kerugian ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi gangguan reproduksi dan respon kesembuhannya. Sebanyak 333 ekor sapi Bali betina dengan umur minimal 2 tahun dilakukan pemeriksaan reproduksi. Metode penelitian dilakukan melalui beberapa tahap yaitu anamnesa, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan reproduksi secara per rektal. Penanganan gangguan reproduksi dinyatakan sembuh apabila timbulnya respon klinis berupa estrus. Data yang diperoleh kemudian dicatat dan dianalisa secara deskriptif. Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bahwa 193 (57,95 %) sapi betina mengalami gangguan reproduksi yang meliputi delayed pubertas, hipofungsi ovarium, metritis, endometritis dan anestrus postpartum. Sedangkan sebanyak 80 (41,45 %) sapi sudah menunjukan gejala estrus. Adanya interaksi yang kompleks antara faktor lingkungan atau manajemen (nutrisi), respon individual, jenis gangguan reproduksi dan derajat keparahan gangguan reproduksi akan menimbulkan respon kesembuhan yang bervariasi dari setiap penanganan gangguan reproduksi.Kata kunci: gangguan reproduksi, sapi Bali, estrus, Bengkulu. (Bali Cattle Reproductive Disorders with Semi Intensive Management in The Area of Cattle - Oil Palm Integration System)The maintenance of Bali cattles in Bengkulu regency with cattle - oil palm integration system (SISKA) has been running several years. The one parameters of the success this program is the reproductive performance of Bali cattle. Bali cattle reproductive performance describe the quality of the maintenance management system that has been done. Bali cattle reproductive performance study has been conducted with reproductive rectal examination and analysis of the data recording breeders and farmer. The main purpose of the reproductive management program was getting the optimal production and maximum benefit. Reproductive efficiency determines the productivity, profitability and sustainability of each farm. The inefficiency reproductive was caused by existence of reproductive disorders. These conditions cause economic losses. The purpose of this study was to determine the condition of reproductive disorders and recovery response. A total of 333 cows Bali females with at least 2 years of age has been reproductive examination. The research methods were done through classification for several stages, anamnesis, clinical examination and reproductive examination by rectally palpation. Treatment of reproductive disorders declared cured if the onset of clinical response in the form of estrus. The data obtained then were recorded and analyzed descriptively. Based on the results of the examination reported that 193 (57.95%) of female Bali cattles experiencing reproductive disorders which include delayed puberty, ovarian hypofunction, metritis, endometritis and postpartum anestrus. While as many as 80 (41.45%) of female Bali cattles were showing signs of estrus. The existence of complex interactions between environmental factors or management (nutrition), individual responses, the type and severity of reproductive disorders were affected of varies healing response from each treatment of reproductive disorders.Keywords: reproductive disorders, bali cattle, oestrus, Bengkulu
Deteksi Salmonella spp. pada Telur Ayam Konsumsi yang Dilalulintaskan melalui Pelabuhan Tenau Kupang
Salmonelosis adalah salah satu penyakit food-borne bakterial zoonotik yang paling penting di seluruh dunia. Salmonella spp. adalah penyebab salmonelosis akibat konsumsi makanan berbahan dasar unggas dan produk unggas yang terkontaminasi. Unggas dan telur ayam dianggap merupakan salah satu reservoir Salmonella spp. yang paling penting. Salmonella spp. ditularkan melalui rantai makanan dan akhirnya menular ke manusia. Meningkatkan keamanan produk unggas dengan cara deteksi dini terhadap food-borne patogen merupakan komponen penting untuk membatasi kontaminasi Salmonella spp.. Metode deteksi dan identifikasi Salmonella spp. merupakan strategi yang dirancang untuk mencegah kontaminasi unggas dan produk unggas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi Salmonella spp. dari telur ayam yang berasal dari 4 pengirim telur menggunakan metode konvensional. Jumlah sampel dihitung dengan menggunakan rumus menduga prevalensi dan diambil menggunakan metode acak berlapis. Analisis data hasil positif Salmonella spp. dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil pengujian dari 270 sampel, 5 pengujian dengan metode konvensional positif Salmonella spp.. Berdasarkan hasil pengujian positif kontaminasi Salmonella spp. pada telur ayam maka diperlukan evaluasi terhadap pengiriman telur ayam konsumsi antar pulau.Kata kunci: kontaminasi, Salmonella spp., metode konvensional, telur ayam. (Detection of Salmonella spp. in Commercial Hen Eggs Entering through Tenau Port Kupang)Salmonellosis is one of the most important food-borne bacterial zoonotic diseases worldwide. Salmonella spp. are causative agent of salmonellosis associated with contaminated commercial poultry and poultry product. Poultry and eggs are considered one of the most important Salmonella spp. reservoirs. Salmonella spp. were able to pass through the food chain and ultimately transmitted to humans. Improving safety of poultry products by early detection of food-borne pathogens would be considered an important component for limiting exposure to Salmonella contamination. Detection and identification method for Salmonella spp. are considered to be an important component of strategies designed to prevent poultry and poultry product. The aims of the study were to detect Salmonella spp. from hen eggs collected from 4 exporters using conventional method. Samples size were calculated using estimates prevalence formula and selected by stratified random sampling. Data regarding the proportion of Salmonella spp. positive samples were analyzed descriptively. 270 samples, 5 test by conventional method were positive Salmonella spp.. According of positive test results Salmonella spp. contamination in hen eggs was necessary to evaluate the delivery of commercial hen eggs between islands.Keywords: conventional methods, hen eggs, Salmonella spp. contamination
Deteksi Penyakit Bovine Viral Diarrhea pada Sapi Potong Impor melalui Pelabuhan Tanjung Priok
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan suatu kajian serologis tentang penyakit bovine viral diarrhea (BVD) dan mendeteksi adanya kaitan pemeliharaan kandang sebagai faktor risiko sumber penularan penyakit BVD pada sapi potong impor. Pengujian screening awal mengggunakan ELISA (enzyme linked immunosorbant assay) Antibodi BVD terhadap 100 sampel serum darah sapi, dan ditemukan 63 positif terhadap adanya antibodi anti BVD. Selanjutnya dilakukan pengujian lanjutan ELISA Antigen BVD dan hasilnya seluruh sampel negatif terhadap Antigen BVD. Hasil positif uji ELISA terhadap antibodi BVD mengindikasikan bahwa sampel mengandung antibodi anti BVD akibat pernah terinfeksi oleh virus BVD secara sementara (transient) atau melalui vaksinasi. Berdasarkan dokumen health certificate dari negara asal tidak terdapat informasi yang jelas terhadap perlakuan vaksinasi BVD pada sapi potong impor. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan screening di negara Indonesia untuk mendeteksi dan melakukan usaha preventif mencegah penyebaran di feedlot. Faktor-Faktor yang mempengaruhi kejadian hasil ELISA antibodi positif BVD, terkait dengan penyebaran penyakit BVD selama dalam masa pemeliharaan dan penggemukkan adalah program biosekuriti pada peternakan dengan nilai (OR=3,316; CI=1,380-7,967), dan pengelolaan limbah kandang dalam peternakan dengan nilai (OR=2,667; CI=1,105-6,434). Hasil ini menunjukkan ada asosiasi antara kedua faktor yang ada pada peternakan dengan kejadian penyakit BVD.Kata kunci: BVD, ELISA antibodi dan antigen, faktor risiko. (Detection and Risk Factors Study of Bovine Viral Diarrhea in Cattle Imports at Tanjung Priok Port)This research was a serological study on bovine viral diarrhea (BVD) and also to detect the relevance of maintenance farm management as a risk factor on the spreads of BVD. The initial screening test was performed using antibody capture enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) to BVD on 100 cattle blood serum samples. The screening test showed that of 63 samples were positive to BVD antibody and 37 samples were negative to BVD antibody. The next screening test was performed using antigen capture ELISA to BVD and all samples showed negative results on BVD antigen. The results of the ELISA test positive for antibodies to BVD indicates that the samples examined anti-BVD antibodies due to BVD virus had been infected by a temporary (transient) or vaccination. Based on the document health certificate from the country of origin there is no clear information on the treatment of BVD vaccination on imports of beef cattle. So, we need a screening examination in the country of Indonesia to detect and perform preventive measures to prevent the spread in feedlots. Relevant factors that affected the occurrence of positive result on BVD antibody detection was farm biosecurity programs with odds ratio (OR) value of 3.316 and confidential interval (CI) value of 1.380-7.967. Further relevant factor was caging waste management with OR value of 2.667 and CI value of 1.105-6.434. There were statistically significant differences (p<0.05) between farm biosecurity programs and caging waste management related to BVD disease incidence.Keywords: BVD, ELISA antibodies and antigen, risk factor
Deteksi Residu Hormon Trenbolon Asetat pada Sapi Siap Potong Impor asal Australia
Trenbolon asetat (TBA) merupakan hormon penggertak pertumbuhan yang diimplankan ke sapi untuk meningkatkan berat badan dan mengefisiensi konversi pakan. Penggunaan TBA dapat meninggalkan residu dalam urin dan dapat menyebabkan efek negatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keberadaan residu TBA dalam urin sapi siap potong impor dari Australia. Ukuran sampel dihitung dengan menggunakan rumus deteksi penyakit dan sampel dipilih secara acak. Sebanyak 60 sampel dianalisis menggunakan enzim-linked immunosorbent assay (ELISA). Tes menunjukkan bahwa sebanyak 100% urin sapi siap potong dari Australia mengandung residu TBA dengan konsentrasi yang bervariasi. Konsentrasi residu TBA < 2 part per billion (ppb) terdeteksi pada 37 sampel (61,67%), konsentrasi residu TBA 2-4 ppb terdeteksi pada 7 sampel (7%), dan konsentrasi residu TBA > 4 ppb terdeteksi pada 16 sampel (26,67%). Hasil positif menunjukkan bahwa sapi potong asal Australia mengandung residu hormon trenbolon asetat (TBA).Kata kunci: ELISA, residu, sapi potong impor, trenbolon asetat, urin (Detection of Trenbolone Acetate Hormone Residues in Imported Slaughter Cattle from Australia)Trenbolone acetate (TBA) is a growth hormone promoter which is implanted into cattle to increase weight gain and feed conversion efficiency. The use of TBA can leave residue in urine and may cause negative effects. The objective of this research was to analyze the presence of the TBA residue in imported slaughter cattle urine from Australia. Cattle urine samples were collected from Animal Quarantine Installation. Sample size was calculated using the formula of detect disease and selected by random sampling. A total of 60 samples of cattle urine were analyzed for level of trenbolone acetate residues by using enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method. The test showed that positive results in all of urine samples (100%) of slaughter cattle imported from Australia with variation in TBA residues concentrations. The concentration of residual TBA < 2 ppb were detected in 37 samples (61.67%), the residual concentration of TBA 2-4 ppb were detected in 7 samples (7%), and the concentration of residual TBA > 4 ppb were detected in 16 samples (26.67%). Total of 60 urine samples contained TBA residues. The presence of TBA residues with concentration above 4 ppb was 16 samples (26.7%). Positive results in the samples was indicated the Australian cattle contains trenbolone acetate (TBA) residue.Keywords: ELISA, residue, imported slaughter cattle, trenbolone acetate, urin
Kinerja Kesehatan Sapi Neonatus yang Diberi Kolostrum dari Induk Sapi yang Divaksin Escherichia coli
Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari status kesehatan anak sapi baru lahir yang diberi kolostrum berasal dari induk yang telah divaksinasi dangan vaksin E. coli in-aktif. Sebelas ekor anak sapi baru lahir digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kolostrum (diberi kolostrum sapi) dan non-kolostrum (diberi susu sapi). Kolostrum atau susu sapi diberikan sebanyak 10% berat badan secara langsung setelah dilahirkan dan selanjutnya tiap 12 jam selama 3 hari. Uji tantang dilakukan dengan pemberian E. Coli K99 hidup peroral saat anak sapi berumur 14 jam. Pemeriksaan status kesehatan termasuk suhu tubuh, frekuensi pulsus dan napas serta kualitas defikasi pada 0,12, 24, 48, 72 dan 168 jam setelah uji tantang. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa diarrhea timbul pada 12 sampai 26 jam setelah uji tantang pada semua anak sapi kelompok non-kolostrun dan beberapa anak sapi kelompok kolostrum. Kelompok non-kolostrum memperlihatkan tanda klinis dengan diarrhe parah sebagai diarrhe profus yang berwarna pucat kekuningan. Bahkan 1 ekor mati pada 3 hari setelah uji tantang. Sebaliknya pada kelompok kolostrum hanya memperlihatkan diarrhe sedang pada 5 dari 8 ekor. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah konsumsi kolostrum yang berasal dari induk yang telah divaksinasi dengan E. Coli memperlihatkan sifat protektif terhadap infeksi E. coli K99.Kata kunci: Escherichia coli, kolostrum, anak sapi baru lahir. (The Health Performance of Neonatal Calves Received Colostrum from Cows Vaccinated by Escherichia coli)This experiment was conducted to study the health status of neonatal calves received colostrum from cows vaccinated by in-active E. coli. Eleven healthy newborn calves were used in this experiment and divided into two groups, i.e colostrum (received bovine colostrum) and non-colostrum group (received bovine milk). Colostrum or milk were given to the calves at 10% of body weight directly after birth and followed every 12 h, for three days. Challenges were done orally to all newborn calves when they were 14 hours of ages, used live E. coli K-99. Examination of health status included body temperature, pulses and respiration rates, and defecations quality at 0, 12, 24, 48, 72 and 168 hours after challenges. Results of the experiment showed that diarrhea appeared at 12-26 hours after challenges in all calves of non-colostrum group and part of calves in colostrum group. The non-colostrum group showed a severe clinical signs of diarrhea as watery profuse diarrhea with pale yellowish color. One calf even death at three days after challenges. In contrast, the colostrum group showed only a mild diarrhea in 5 out of 8 calves. In conclusion, the consumption of colostrum originated from cows vaccinated by E. coli showed protective properties against E. coli K-99 infection.Keywords: Escherichia coli, colostrum, neonatal calve
Perbandingan Aktivitas Antelmintik Albendazole dan Levamisole terhadap Ascaridia galli secara In Vitro
Penelitian ini meneliti aktivitas antelmintik albendazole dan levamisole terhadap hambatan motilitas, percepatan waktu paralisis, dan motilitas cacing Ascaridia galli dewasa secara in vitro. Sebanyak empat ekor cacing masing dibuat triplikat dalam NaCl 0,9% masing-masing dengan konsentrasi 15 mg/ml Albendazole, dan 0.6 mg/ml Levamisole. Motilitas cacing diamati pada interval 10, 20, 30, dan 40 jam. Paralisis dan kematian diamati pada tampilan tidak ada pergerakan badan pada bagian kepala dan ekor cacing. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas albendazole dan levamisole terhadap mortalitas A. galli berturut-turut terjadi pada 40 dan 30 jam pasca inkubasi. Levamisole dapat menghambat motilitas A. galli pada jam ke 10 dan juga menyebabkan lebih awal paralisis pada 6,75 ± 0,50 jam pasca inkubasi. Kajian tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas antelmintik levamisole lebih awal dibandingkan efek albendazole pada cacing A. galli