Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
    324 research outputs found

    Sampul luar, sampul dalam, dan daftar isi Vol 5 No 2 (Juli 2017)

    No full text
    Pengantar Redaks

    Daya Fertilisasi Spermatozoa Kauda Epididimis Domba dengan atau tanpa Swim Up sebelum Fertilisasi

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penggunaan metode swim up untuk persiapan spermatozoa sebelum fertilisasi terhadap tingkat fertilisasi in vitro spermatozoa kauda epididimis pasca penyimpanan selama 48 jam. Kauda epididimis domba disimpan pada suhu 4 oC selama 0 hari (H-0), 1 hari (H-1) dan 2 hari (H-2), kemudian spermatozoa dikoleksi dan dibekukan. Spermatozoa ejakulat beku digunakan sebagai kontrol. Oosit yang telah matang difertilisasi secara in vitro dengan spermatozoa asal kauda epididimis pasca penyimpanan dan ejakulat menggunakan metode persiapan spermatozoa dengan dan tanpa swim up. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spermatozoa asal kauda epididimis yang dikoleksi segera setelah kematian hewan (H-0) memiliki kemampuan yang sama dengan spermatozoa ejakulat (P>0,05). Tingkat fertilisasi spermatozoa kauda epididimis pasca penyimpanan selama 2 hari mengalami penurunan seiring bertambahnya waktu simpan. Penggunaan metode swim up dan tanpa swim up menunjukkan kemampuan fertilisasi yang sama pada spermatozoa ejakulat dan spermatozoa kauda epididimis yang disimpan. Dapat disimpulkan bahwa metode swim up tidak berpengaruh terhadap tingkat fertilisasi in vitro spermatozoa asal kauda epididimis yang disimpan pada suhu 4 °C selama 2 hari. Kemampuan fertilisasi spermatozoa asal kauda epididimis domba yang disimpan pada suhu 4 °C mengalami penurunan sampai hari kedua, namun spermatozoa tersebut masih mampu membuahi oosit secara in vitro

    Kadar Kalsium pada Sapi Perah Penderita Mastitis Subklinis di Pasir Jambu, Ciwidey

    Get PDF
    Kalsium merupakan makro mineral yang berperan sangat penting dalam metabolisme ternak sapi perah dan kekurangan kalsium dapat menjadi salah satu penyebab penyakit radang ambing. Penelitian bertujuan mengukur kadar kalsium darah sapi perah penderita mastitis subklinis. Sampel susu dan darah diambil dari 20 ekor sapi perah yang berasal dari peternakan rakyat Pasir Jambu, Ciwidey, Kabupaten Bandung Barat. Kadar kalsium darah diperiksa menggunakan metode Atomic Absorption Spectrofotometer (AAS), sedangkan sampel susu diperiksa untuk menentukan status mastitis subklinis berdasarkan jumlah sel somatik (JSS) dan uji mastitis IPB-1. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 11 dari 20 ekor sapi (55%) menderita mastitis subklinis dan 6 dari 11 ekor tersebut (54,5%) disertai hipokalsemia subklinis. Sapi penderita mastitis subklinis secara nyata memiliki jumlah sel somatik yang tinggi dan kadar kalsium cenderung rendah. Kadar kalsium dan jumlah sel somatik memengaruhi produksi susu sebesar 99% (R2= 0,99). Simpulan penelitian ini adalah sebagian besar sapi perah penderita mastitis subklinis disebabkan kondisi hipokalsemia subklinis serta mengalami penurunan produksi susu

    Efek Antimitogenik Fraksi Alkaloid Achyranthes aspera Linn. terhadap Induksi Apoptosis pada Mencit yang Terinfeksi Mycobacterium tuberculosis

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi efek antimitogenik dari ekstrak fraksi alkaloid daun Achyranthes aspera Linn. terhadap induksi apoptosis, pertumbuhan dan perkembangan sel paru-paru yang diinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Efek antimitogenic dari alkaloid A. aspera diujikan pada 120 ekor mencit yang diinfeksikan dengan 100 sel/mL M. tuberculosis dan dibagi menjadi 6 kelompok sehingga masing-masing kelompok terdiri dari 20 ekor. Kelompok perlakuan terdiri dari: kontrol negatif dengan tikus sehat yang diberikan adjuvant saja, kontrol positif dengan diberikan rifampisin 600 mg/kgbb/hari, dan kelompok perlakuan P0 , P1 , P2 , dan P3 yang diinfeksi M. tuberculosis dan diberikan alkaloid dengan dosis bertingkat 0, 60, 12, dan 180 mg/kgbb/po/hari selama 30 hari. Parameter pengamatan terdiri dari: jumlah total leukosit, jumlah total jenis leukosit, jumlah karbuncel di paru-paru, dan jumlah sel paru-paru yang mengalami apoptosis. Hasil penelitian menunjukkan pada tikus yang terinfeksi M. tuberculosis mengalami penurunan jumlah total dan jenis leukosit (eosinofil, neutrofil, lmfosit dan monosit), dan jumlah karbunkel di paru-paru pada kelompok perlakuan akaloid mulai dosis 60 mg/kgbb. Jumlah sel di paru-paru yang mengalami apoptosis juga mengalami penurunan pada kelompok pemberian akaloid daun A. aspera mulai dosis 60 mg/kgBB sama dengan kelompok rifampisin. Kesimpulan dari penelitian bahwa alkaloid daun A. aspera menyebabkan penurunan jumlah total dan jenis leukosit, serta jumlah karbuncel dan sel paru yang mengalami apoptosis pada tikus yang terinfeksi oleh M. tuberculosis.Kata kunci: Achyranthes aspera Linn., antimitogenik, paru-paru tuberkulosis, apoptotis, leukosit (The Antimitogenic Effect of Alkaloid Fraction of Achyranthes aspera Linn. on Apoptotic Induction in Mice Infected by Mycobacterium tuberculosis)The aims of this research was to determine the antimitogenic effect of alkaloid Achyranthes aspera Linn. on apoptotic induction, growth and cell development in lung cell infected by Mycobacterium tuberculosis. Antimitogenic effect of alkaloid A. aspera was tested in 120 mice that infected with 100 cell/mL M. tuberculosis and divided into 6 groups so that each group consist of 20 mice. The treatment groups were: negative control that healthy mice was given adjuvans only, positive control that was given rifampisin 600 mg/kg bb/day, and treatment group of P0 , P1 , P2 and P3 infected by M. tuberculosis and given alkaloid with dose 0, 60, 12 and 180 mg/kgbw/po/day continously during 30 days. The parameter of observation were total leucocyte count, total differential leucocyte count, total carbuncel in lung, and percentage of apoptotic lung cells. The result showed that mice infected by M. tuberculosis have decreased in total leucocyte and diferentiated leucocyte total (eosinophil, neutrophil, lymphocyte, and monocyte), and total carbuncel in lungs after treated by akaloid A. aspera with dose begin 60 mg/kgbw. Apoptotic cell in lung was also decreased in the group tretaed by akaloid A. aspera with dose begin 60 mg/kgbw that the value was equal to the group of rifampisin. In conclusion, treatment of alkaloid from A. aspera caused depreciation in leucocyte total and leucocyte differentiation, and total of carbuncel and apoptotic cell in the lung in mouse that infected by M. tuberkulosis.Keywords: Achyranthes aspera Linn., antimitogenic, tuberculosis lung, apoptotic, leucocyte

    Penerapan Multivariate Adaptive Regression Spline sebagai Alat untuk Pemodelan Pertumbuhan Ayam Broiler

    Get PDF
    Model pertumbuhan mempunyai fungsi utama sebagai alat pengambilan kebijakan pada pengolahan ayam broiler. Sebanyak 9 jenis pakan dicobakan pada ayam umur satu hari tanpa membedakan jenis kelamin. Pertambahan bobot badan dan jumlah konsumsi pakan diamati setiap minggu selama tiga minggu. Data dikumpulkan dari tiga model pertumbuhan yaitu model I untuk ayam yang mendapat perlakuan pakan 9. Model II untuk ayam yang mendapat perlakuan pakan 1, 2, 4, dan 7. Model III mendapat perlakuan pakan 3, 5, 6, dan 8. Hasil analisa data dengan menggunakan MARS pada data yang dikumpulkan, memperoleh hasil yang sama yaitu terdapat perbedaan kecepatan pertumbuhan antara umur satu sampai dengan dua minggu, kemudian dua sampai tiga minggu, sedangkan pengaruh jumlah konsumsi, beragam bergantung pada jenis pakan.Kata kunci: MARS, umur, pertambahan bobot badan, ayam broiler (Application of Multivariate of Adaptive Regression Spline as A Tool for Growth Modeling on Broiler Chickens)Growth model has a primary function as a policy-making tool in the processing of broiler chickens. A total of 9 types of feed tested at one day old chickens, regardless of their sex. Body weight gain and feed intake were observed every week for three weeks. Data were collected from three models of growth, ie. the Model I are chickens treated with feed 9. Model II are chickens reated with feed 1, 2, 4, and 7. Model III are chickens treated with feed 3, 5, 6 and 8. The results of data analysis using MARS, obtained the same results that there are differences in growth rate between the ages of one to two weeks, and then between two to three weeks, whereas the effect of the amount of consumption varies depending on the type of feed.Keywords: MARS, age, weight gain, broiler chicken

    Motilitas dan Abnormalitas Spermatozoa Ayam Kampung dengan Pengencer Ringer Laktat-Putih Telur dan Lama Simpan pada Suhu 5 C selama 48 Jam

    Get PDF
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara rasio pengencer ringer laktat-putih telur dan penyimpanan selama 48 jam pada suhu 5 C terhadap motilitas dan abnormalitas spermatozoa ayam kampung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola faktorial 6 x 5 dengan faktor R yaitu rasio pengencer ringer laktat dengan putih telur (r0=kontrol, r1=ringer laktat, r2=ringer laktat 75% + putih telur 25%, r3=ringer laktat 50% + putih telur 50%, r4=ringer laktat 25% + putih telur 75%, dan r5=putih telur) dan faktor T yaitu penyimpanan selama 48 jam pada suhu 5 C (t1=1 jam, t2=12 jam, t3=24 jam, t4=36 jam, t5=48 jam) masing-masing perlakuan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing faktor memberikan pengaruh terhadap motilitas dan abnormalitas spermatozoa ayam kampung (p<0,05). Hasil menunjukkan motilitas terbaik spermatozoa ayam kampung dihasilkan oleh perlakuan ringer laktat dengan penyimpanan selama 12 jam (82,5%). Selanjutnya, abnormalitas terbaik spermatozoa ayam kampung (8,5%) dihasilkan oleh perlakuan ringer laktat dengan penyimpanan selama satu jam. Persentase abnormalitas spermatozoa dari semua perlakuan menunjukkan kurang dari 20%. Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa spermatozoa ayam kampung yang diencerkan dengan ringer laktat dengan penyimpanan pada suhu 5 C dapat digunakan untuk inseminasi sampai 12 jam.Kata kunci: spermatozoa, ayam kampung, pengencer, ringer laktat, putih telur (Motility and Abnormality of Kampong Rooster Sperm Diluted with Different Kinds of Extenders and Stored at 5 C for 48 Hours)The purpose of this research was to determine the interaction effects between types of extender and storage time on sperm motility and abnormality of kampong rooster. This experiment was implemented following a 6x5 factorial design, in which the ratio between Ringer Lactat and egg albumen i.e. r0= control; r1=ringer lactat; r2=75% ringer lactate+25% egg albumen; r3=50% ringer lactate+50% egg albumen; r4=25% ringer lactate+75% egg albumen, and r5=egg albumen as the first factor and storage time which consisted of t1=1 hour; t2=12 hrs; t3=24 hrs; t4=36 hrs as the second factor. Each of the treatment was replicated four times. Results indicated that the types of extender and storage time had no significant interaction (p>0.05) on the percentage of motility and abnormality of kampong rooster sperm. However, each of the treatment had a significant effect (p<0.05) on the motility and the abnormality of kampong rooster sperm. The highest value of sperm motility (82.5 %) was obtained from a ringer lactat extender. This sperm motility value has a significant difference (p<0.05) from the 5 other types of extender. The lowest value of sperm abnormality (8.5%) was obtained from an hour of storage time. This value has a significant difference (p<0.05) than the 4 other treatments. However the percentage of abnormal sperm from all the treatments is less than 20 percent. It could be concluded that kampong rooster sperm which diluted with ringer lactate stored at 5 0C can still be utilized for Insemination not until 12 hours of stored.Keywords: sperm, kampong rooster, extender, ringer lactatee, egg albume

    Pencemaran Bakteri dalam Air Sumur di Sekitar Peternakan Sapi Potong di Yogyakarta

    Get PDF
    Air sumur merupakan salah satu sumber air untuk keperluan rumah tangga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas mikrobiologi air sumur di sekitar kandang kelompok sapi potong di Yogyakarta. Telah dikumpulkan sebanyak 12 contoh air sumur di sekitar kandang kelompok sapi potong dari Kabupaten Sleman, Kulon Progo, dan Bantul. Contoh air sumur diperiksa terhadap Coliform dan E. coli dengan metode most probable number (MPN), sedangkan Salmonella sp. dengan isolasi dan identifikasi dengan metode Andrews & Hammack. Sebanyak 91,6% dari 12 contoh air sumur, jumlah Coliform dan E. coli melebihi ambang batas baku mutu air rumah tangga. Salmonella sp. berhasil diisolasi dari air sumur di sekitar kandang sapi potong Kabupaten Kulon Progo. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa air sumur di sekitar kandang di Yogyakarta hampir seluruhnya tercemar Coliform dan E. Coli.Kata kunci: pencemaran, air sumur, peternakan, sapi potong. (Contamination of Bacteria in Well Water Around Beef Cattle Farm in Yogyakarta)Well water is one of the sources of water to use in housewifery. The aim of this study was to determine microbiological contamination of well water around beef cattle farms in Yogyakarta. A total of 12 well water samples were collected from around beef cattle farms in Sleman, Kulon Progo, and Bantul district. These samples were analyzed for Coliform and E. coli by using most probable number (MPN), where as Salmonella sp. with isolation and identification by Andrews & Hammack methods. A total 91.6% of 12 well water samples have Coliform and E. coli that exceeds the threshold household water quality standards. Salmonella sp. was isolated from well water around beef cattle farm in Kulon Progo district. In conclusion, the well water samples around beef cattle farms in Yogyakarta contaminated Coliform and E. coli.Keywords: contamination, well water, livestock, beef cattle

    Karakteristik, Pengetahuan, Sikap dan Praktik Petugas Karantina Hewan dalam Pengendalian Bruselosis di Sulawesi Selatan

    Get PDF
    Praktik atau perilaku petugas karantina hewan dalam pengendalian bruselosis dipengaruhi oleh faktor internal berupa karakteristik individu yang bersifat khas dan dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa lingkungan, sosial dan budaya. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik individu petugas karantina hewan dan menganalisis pola hubungan karakteristik, pengetahuan, dansikap terhadap praktik petugas karantina hewan dalam pengendalian bruselosis di Sulawesi Selatan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Metode pengumpulan data melalui wawancara dan pengamatan terhadap 51 orang petugas karantina hewan di dua Unit Pelaksana Teknis Badan Karantina Pertanian di Sulawesi Selatan. Pengumpulan data menggunakan kuisioner terstruktur, dan dianalisis menggunakan path analysis. Hasil studi menunjukkan bahwa karakteristik petugas karantina hewan sebagian besar berusia antara 30-45 tahun, telah bekerja sebagai PNS maupun bekerja di tempat yang sekarang kurang dari lima tahun, pendidikannya SMA/sederajat. Tidak semua petugas karantina hewan adalah pejabat fungsional dan mayoritas belum pernah mengikuti pelatihan terkait bruselosis. Terdapat hubungan yang nyata antara pendidikan dan pengetahuan, pengetahuan dan sikap, serta sikap dan praktik. Pendidikan formal berperan penting dalam terbentuknya pengetahuan, sikap, dan praktik petugas karantina hewan dalam pengendalian bruselosis. Sehingga upaya peningkatan pendidikan formal pada petugas karantina hewan perlu dilakukan

    Kinetika Kadar Enrofloksasin dan Histopatologi Otot Broiler setelah Pemberian Enrofloksasin Dosis Tunggal secara Intravena

    Get PDF
    Residu obat pada broiler akibat pemberian antibiotik sebelum panen dapat menurunkan kualitas karkas. Kerugian yang diakibatkan oleh residu pada jaringan selain terdeteksinya sejumlah obat, juga adanya kelainan patologis akibat akumulasi obat pada jaringan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek residu yang timbul terhadap otot akibat pemberian enrofloksasin dosis 50 mg/kg berat badan secara intravena satu minggu sebelum panen. Sebanyak 18 ekor broiler strain New Loghman dipelihara sejak day old chick (DOC) hingga umur 30 hari dan mencapai berat badan rata-rata 1,0-1,5 kg. Sebanyak 15 ekor ayam disuntik enrofloksasin dosis 50 mg/kg berat badan melalui vena brachialis. Tiga ekor ayam disuntik NaCl fisiologis sebagai kontrol. Pada jam ke-1, hari ke-1, 3, 5, dan 7 setelah injeksi, masing-masing 3 ekor ayam perlakuan diambil darah dan dikorbankan untuk diambil otot bagian dada. Darah dimasukkan dalam tabung mengandung heparin, selanjutnya disentrifus 2500 g dan dikoleksi plasmanya. Otot dada dimasukkan ke dalam formalin 10% untuk selanjutnya dibuat preparat histologinya. Hasil analisis kadar enrofloksasin dalam plasma dilakukan secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan preparat histologi otot diwarnai dengan Hematoxilin eosin (HE). Hasil pengukuran kadar obat menunjukkan residu pada hari ke-1, 3, 5 dan 7 berturut-turut adalah 11,91 ± 1,28; 0,61 ± 0,06; 0,51 ± 0,01; 0,36 ± 0,02; 0,21 ± 0,14 μg/mL. Deskripsi preparat histologi menunjukkan adanya infiltrasi heterofil dan limfosit pada hari ke-3 dan ke-5 setelah injeksi, dan gambaran otot normal pada hari ke-7. Kadar enroflokasin pada otot mulai hari ke-1 hingga hari ke-7 setelah injeksi masih melebihi batas maksimum residu enrofloksasin yang diperbolehkan menurut Standar Nasional Indonesia (SNI).Kata kunci: kadar enrofloksasin, otot broiler, histopatologi (The Enrofloxacine Level and Histopathological Feature of Broiler Muscle after Intravenous Single Dose Injection of Enrofloxacin)Drug residue in broiler due to the antibiotic application pre harvest may impair the quality of carcas. The loss of quality of carcas would be reflected by the high level of drug substance and also by the feature of hispathological changes in the muscle. The research conducted to know the level of enrofloxacin and the histological changes in broiler muscle after intravenous single dose of enrofloxacin 50 mg/kg bw. The 18 of New Loghman day old chicks were maintained until 30 days and gained 1,5-2,0 kg of body weight. The dose of 50 mg/kg bw enrofloxacin injected intravenously to 15 chickens, while 3 chickens were injected 1 mL of NaCl 0.9% as control. The abdominal muscle and blood sampling conducted at 1 hour, day-1, 3, 5, and 7 post injection by decapitation of 3 chickens for each interval. Blood collected into heparinized tubes, then centrifuged 2500 g to find plasma. The drug residue in muscles were extracted and analyzed using high performance liquid chromatography. The muscle were collected into formalin 10% then processed to histopathology preparation using Hematoxilin-Eosin staining. The result showed the level of drugs in 1 hour, day 1,3,5 and 7 post injection were 11,91 ± 1,28; 0,61 ± 0,06; 0,51 ± 0,01; 0,36 ± 0,02; 0,21 ± 0,14 μg/mL, respectively. These levels were still above the maximum limit of residue of enrofloxacin in tissue according to Standar Nasional Indonesia (SNI). The feature of histopathology preparation showed some levels of heterophyle and lymphocyte infiltration on day 3 and 5, but no histological changes in day 7. The levels of enrofloxacin of all intervals until 7 days post injection were still above the Maximum Residue Limits according to Standar Nasional Indonesia (SNI).Keywords: enrofloxacin level, broiler muscle, histopatholog

    Prevalensi dan Karakterisasi Molekuler Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) di Sentra Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) Propinsi Banten

    Get PDF
    Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) adalah virus yang umum menyerang udang putih (Litopenaeus vannamei) dalam industri budidaya udang di dunia. Di Indonesia, penyakit myonecrosis pertama kali diketahui terjadi pada udang putih dari pertambakan di Situbondo, Jawa Timur, pada tahun 2006 dengan prevalensi 11.11% dan gejala klinis serupa dengan kejadian wabah myonecrosis di Brazil pada tahun 2002. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan karakteristik molekuler IMNV di sentra budidaya udang vaname di Propinsi Banten. Sampel udang dikumpulkan selama periode Maret hingga Juni 2015. Sebanyak 24 sampel diperoleh dari 24 area pertambakan aktif kemudian di-pool dan diuji menggunakan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil uji menunjukkan bahwa prevalensi IMNV secara keseluruhan di Propinsi Banten adalah sebesar 33,3% dengan rincian: Kota Serang 0%; Kabupaten Serang 0%; Kabupaten Tangerang 14,3% dan Kabupaten Pandeglang 100%. Analisis perbandingan genom IMNV pada ORF1parsial menunjukkan bahwa isolat lapang Banten, isolat Indonesia dan Brazil memiliki persentase kemiripan 97,4-100%. Analisis sekuens asam amino menunjukkan persentase kemiripan 97,6-100%. Analisis fi logenetik sekuens nukleotida menunjukkan bahwa telah terjadi diversifikasi genetik antara IMNV Indonesia dan Brazil dan antar isolat Indonesia sendiri

    283

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Acta VETERINARIA Indonesiana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇