Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
Observasi Kesembuhan Distant Skin Flap yang dirawat dengan Dry Dressing dan Moist Dressing
Distant flap adalah teknik bedah untuk merekonstruksi luka yang jauh dari sumber flaps berasal. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kesembuhan luka distant skin flap dengan perawatan dry dressing dan moist dressing secara subjektif dan objektif. Penelitian ini menggunakan 6 ekor kucing lokal jantan berumur 1-2 tahun dengan berat badan 2-3 kg, dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Semua kucing dibuat luka dengan ukuran 2x2 cm pada kulit metacarpus, luka ditangani dengan teknik distant skin flap yang berasal dari lateral thoraks sebagai sumber flaps. Distant skin flap dirawat dengan dry dressing menggunakan kasa steril (K-I) dan moist dressing menggunakan sofratulle® (K-II). Pengamatan subjektif kesembuhan distant skin flap pada hari ke-3, 6, 9 dan 12 pasca bedah, sedangkan uji pendarahan dan pengamatan objektif pada hari ke-18 pasca bedah. Data kuantitatif pengamatan subjektif dan objektif dianalisis menggunakan analisis varian multivariate dan post hoc test Duncan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. Hasil pengamatan subjektif menunjukkan kesembuhan luka distant skin flap yang dirawat dengan moist dressing lebih baik dari pada dry dressing. Hari ke-12 warna kulit flaps kembali sama dengan kulit sekitar, respon nyeri berkurang, dan pertumbuhan rambut lebih cepat. Pengamatan objektif menunjukkan waktu absorbsi NaCl 0,9% dan efek obat lebih cepat pada kelompok moist dressing. Kesembuhan distant skin flap yang dirawat dengan moist dressing lebih cepat dibandingkan dengan dry dressing
Karakteristik Sitologi Vagina Selama Siklus Estrus dan Gejala Klinis Estrus pada Banteng (Bos javanicus d’Alton 1823)
Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari karakteristik gambaran sel-sel ephitelial vagina dan gejala klinis estrus pada banteng. Sebanyak 2 ekor banteng betina yang sehat, sudah dewasa kelamin dan pernah beranak diobservasi secara klinis selama siklus estrus normal dan dilakukan pengambilan sampel ulas vagina. Observasi gejala klinis estrus dan ulas vagina dilakukan tiga kali dalam seminggu dan 5 hari berturut-turut menjelang sampai sesudah estrus. Pemeriksaan fisik ini terdiri atas pemeriksaan simptomatis dengan melihat gejala-gejala yang timbul dari luar seperti gelisah, adanya kebengkakkan, kemerahan, kebasahan pada vulva, naik menaiki, melenguh (meskipun pakan cukup tersedia), keluar lendir jernih transparan. Tingkah laku ketika banteng sedang estrus memperlihatkan perilaku saling naik menaiki sesama banteng dan diam ketika dinaiki, sedangkan tanda klinis lainnya seperti kemerahan, kebengkakan, dan lendir serviks tidak terlihat dengan jelas. Sel-sel ephitel yang diperoleh adalah parabasal, intermediet, superfisial dan kornifikasi. Sel superfisial mendominasi (50,20%) pada saat estrus diikuti sel kornifikasi (38,51%), sel intermediet (26,82%) dan sel parabasal 13,44% selama 3 siklus estrus. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa naik-menaiki sesama banteng pada saat estrus merupakan tanda klinis yang paling jelas terlihat dan teknik sitologi vagina dapat digunakan dalam penentuan siklus estrus banteng
Sampul luar, sampul dalam, dan daftar isi Vol. 8 No. 3 (November 2020): Pengantar Redaksi
Pengantar Redaks
Penilaian Fungsi dan Dinamika Kerja Jantung melalui Ekokardiografi terhadap Pengaruh Kombinasi Anestesia Umum pada Babi Domestik (Sus domesticus)
Protokol perawatan kardiovaskular yang baru diusulkan harus diuji pada hewan laboratorium, sebelum diterapkan oleh obat manusia. Untuk tujuan ini, hewan laboratorium yang banyak digunakan adalah babi. Menggunakan babi dalam penelitian ini seringkali memerlukan prosedur anestesi. Alat diagnostik yang paling banyak digunakan untuk kardiovaskular adalah ultrasonografi jantung atau ekokardiografi. Ekokardiografi dapat digunakan untuk mengevaluasi aliran volume darah dan kemampuan kontraksi jantung dengan perhitungan ekokardiografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian kombinasi injeksi anestesi umum untuk fungsi dan dinamika jantung babi dengan menggunakan ekokardiografi. Pengamatan meliputi detak jantung (kali / menit), curah jantung (L / mnt), volume stroke (ml / mnt), fraksi ejeksi (%), dan pemendekan fraksional (%). Dalam penelitian ini, digunakan 9 babi jantan dan betina, usia 3-4 bulan dengan berat 25-30 kg, dibagi menjadi 3 kelompok kombinasi anestesi (ketamin dan acepromazine (KA); ketamin dan medetomidine (KM); tiletamine-zolazepam dan xylazine (ZX)). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak satu pun dari tiga kelompok anestesi menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kinerja jantung. Kombinasi anestesi ZX paling baik diterapkan untuk operasi jantung babi karena kombinasi anestesi ini menghasilkan frekuensi denyut jantung yang stabil dan rendah dibandingkan dengan kelompok KA dan KM tetapi masih menunjukkan volume stroke yang tinggi, curah jantung, fraksi ejeksi dan nilai sortasi fraksional
Sampul luar, sampul dalam, dan daftar isi Vol. 8 No. 2 (Juli 2020): Pengantar Redaksi
Pengantar Redaks
Partial Budgeting of the Application of Teat-dipping to Control Mastitis in Small Farms
Subclinical mastitis has a higher prevalence than clinical mastitis in many small farmers in Bogor city, and it could reach more than 80 percent. However, the application of teat-dipping could help small farms to control subclinical mastitis prevalence. The objective of this study was to measure the cost of teat-dipping application as subclinical mastitis control in small dairy farms. The partial budget was employed based on the experimental data collected in small dairy farms in Bogor. A number of cows were the basis of simulation for the mean of milk value and the application cost. The findings show an incentive for farmers to apply teat dipping in their farms. The incentive of teat dipping application could be improved to prevent sub-clinical mastitis infection and increase milk production
Performa Sapi Simmental yang Diberi Imbuhan Selenium dan Zink dalam Pakan
Manajemen pakan pejantan sapi sangat penting di Balai Inseminasi Buatan (BIB). Beberapa mineral dilaporkan sangat penting dalam proses reproduksi pejantan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa sapi pejantan Simmental yang diberi imbuhan zink (Zn) dan Selenium (Se). Delapan belas ekor pejantan Simmental umur 7 tahun, milik BIB Lembang digunakan dalam penelitian ini. Pejantan dibagi tiga kelompok masing-masing 6 ekor. Kelompok I (R1) diberi pakan standar, kelompok II (R2) diberi pakan Standar dan imbuhan Zn dan Se minimal dan kelompok III (R3) diberi pakan Standar dan imbuhan Zn dan Se maksimal selama 60 hari. Parameter yang diukur adalah pertambahan berat badan harian (PBBH), pertumbuhan kuku dan libido. Data awal dan akhir penelitian dibandingkan dengan Student T test dan data disampaikan dalam rerata ±SEM. Hasil penelitian menunjukkan imbuhan Zn dan Se dapat mempertahankan berat badan sapi Simmental, dan tidak ada perbedaan PBBH antar pakan yang diberikan. Pertumbuhan kuku dan libido juga tidak dipengaruhi oleh mineral yang diberikan
Factors Influencing Farmers Participation in the Vaccination Program against Anthrax in Bogor District, Indonesia
Bogor District is one of the endemic areas of anthrax cases in Indonesia. The mass vaccination campaign on livestock including goats and sheep needs to be done to prevent the spread of the disease. The willingness of farmers to participate is the main key to the success of this vaccination campaign. This study aimed to identify the factors that influence the willingness of goat and sheep farmers to participate in vaccination programs against anthrax in their farms. A total of 60 goat and sheep farmers were randomly selected from 3 villages located in the region with the highest incidence of cases in Babakan Madang Subdistrict. Data was collected through direct interviews using a structured questionnaire. Analysis to determine risk factors was carried out by chi square test and continued by calculating the value of relative risk (RR) to measure the magnitude of the influence of these factors. The results showed that the factors that influenced the farmers to be willing to participate in the anthrax vaccination program were history that had been directly counseled with RR values 2,844 (95% CI = 1,547-5,288) and history of having constrained to vaccinate their livestock with RR values 1,960 (95% CI = 1,203 - 3,193). Based on these findings it is recommended to increase farmer participation in mass vaccination programs against anthrax can be done through increasing communication, information and education activities and minimizing constraints for farmers to vaccinate their livestock
Pengaruh Teat Dip dan Suplemen Temulawak terhadap Tingkat Peradangan Ambing Sapi Mastitis Subklinis
Penelitian ini betujuan untuk mengkaji pengaruh treatment teat dipping dan pemberian suplemen pakan tepung temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) terhadap tingkat peradangan kelenjar ambing dan pH susu sapi perah laktasi penderita mastitis. Materi yang digunakan adalah 12 ekor sapi perah Friesian Holstein (FH) penderita mastitis subklinis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah percobaan RAK split plot dengan 4 perlakuan dan 3 kelompok. Perlakuan yang diterapkan yaitu T0 = sebagai kontrol, T1 = suplemen temulawak 1% BK, T2 = antiseptik teat dipping temulawak 5% dan T3 = suplemen temulawak 1% BK + antiseptik teat dipping temulawak 5%. Parameter yang diamati meliputi tingkat peradangan kelenjar ambing dengan California Mastitis Test (CMT) dan pH susu menggunakan kertas pH. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis ragam/ANOVA (Analysis of Variance) dan jika hasil signifikan dilakukan uji lanjut wilayah berganda Duncan Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan dan lama perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap skor CMT dan tidak berpengaruh nyata terhadap pH (P>0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa sapi perah penderita mastitis yang mendapat treatment teat dipping, suplemen pakan tepung temulawaak maupun kombinasi keduanya mampu menurunkan tingkat peradangan