Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Peternak dalam Penggunaan Antibiotik pada Ayam Broiler di Kabupaten Subang
Masalah global yang dihadapi saat ini adalah tingginya penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada manusia dan hewan mendorong pada kejadian resistansi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan, sikap, serta hubungannya dengan praktik penggunaan antibiotik pada peternak broiler. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 74 peternak dari 126 peternak di Kabupaten Subang. Kriteria sampel peternak yang diambil memiliki broiler 5000-10000 ekor. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara stratified random sampling berdasarkan pola manajemen peternakan, rincian besar sampel peternakan ayam broiler adalah 71 peternak dengan pola manajemen inti kemitraan dan pola menajemen mandiri sebanyak 3 peternak. Pengambilan dari dua kelompok tersebut dilakukan secara acak. Data diambil menggunakan kuesioner dengan cara wawancara, kemudian dianalisis dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan α ≤ 0.05. Hasil penelitian menemukan sebagian besar peternak memiliki pengetahuan yang sedang tentang penggunaan antibiotik pada broiler. Peternak yang memiliki sikap baik dalam penggunaan antibiotik berjumlah berjumlah 7%, paling sedikit bila dibandingkan dengan yang sikapnya sedang sebanyak 76% dan kurang sebanyak 17%. Praktik peternak dalam menggunakan antibiotik pada broiler sebagian besar termasuk dalam kategori sedang. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan sikap peternak dalam penggunaan antibiotik pada broiler. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan praktik peternak dalam menggunakan antibiotik pada broiler dengan nilai p=0.028 ≤ 0.05. Sikap tidak dengan praktik penggunaan antibiotik pada broiler. Kesimpulannya adalah pengetahuan berhubungan dengan praktik peternak dalam penggunaan antibiotik pada broiler
Deteksi Kebuntingan Dini pada Sapi Perah dengan Pemeriksaan Ultrasnography (USG) dan Analisis Hormon Steroid
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode deteksi kebuntingan dini menggunakan ultrasonography (USG) dan pemeriksaan steroid (progesteron dan estrogen) pada sapi. Sebanyak sepuluh ekor sapi diperiksa di peternakan sapi perah Kawasan Usaha Peternakan Cibungbulang, Bogor. Lima ekor dideteksi bunting dini dan lima ekor tidak bunting. Pengambilan plasma darah dilakukan empat hari sekali dimulai dari 40 hari sebelum pelaksaan IB sampai 30 hari untuk sapi tidak bunting hingga hari ke-60 bila sapi bunting. Pemeriksaan dengan USG dilakukan menggunakan probe 5 MHz dimulai sejak hari ke-9 pasca IB bersamaan dengan pengambilan sampel darah. Hasil USG menunjukkan keberadaan konseptual vesikel pada hari ke-15 setelah IB dengan diameter 0,44 cm. Embrio dapat dideteksi mulai hari ke-26 dengan ukuran 2,6 cm. Konsentrasi progesteron pada saat IB (baseline) adalah 6-8 ng/ml dan meningkat menjadi 30-50 ng/ml pada hari ke-15 pasca IB. Konsentrasi progesteron terus bertahan tinggi sejak hari ke-15 sampai hari ke-60 pasca IB. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan USG dapat mendeteksi kebuntingan lebih dini dibandingkan dengan pemeriksaan hormonal
Hemogram dan Respon Jaringan Hernia Insisional Babi Pascaterapi Mesh Bedah Polipropilen dengan atau tanpa Asam Hyaluronat
Penggunaan mesh menjadi metode yang penting untuk terapi perbaikan hernia abdominalis karena dapat menurunkan angka kejadian hernia berulang dibandingkan dengan penggunaan metode penjahitan. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari gambaran darah dan respon jaringan hernia insisional babi yang diterapi dengan mesh komposit dan polipropilen dengan atau tanpa asam hyaluronat secara histopatologi. Penelitian menggunakan babi sebanyak 11 ekor berumur 3-4 bulan yang dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama mendapatkan mesh komposit (Physiomesh®), kelompok kedua mendapatkan mesh polipropilen (Ultrapro®) yang diberikan asam hyaluronat (Guardic®), dan kelompok ketiga mendapatkan mesh polipropilen (Ultrapro®). Penelitian dimulai dengan menginduksi hernia setelah itu dilakukan pemasangan mesh, permanenan jaringan dan mesh, dan pembuatan preparat histopatologi. Hasil penelitian menunjukan tidak adanya perbedaan yang nyata pada gambaran darah complete blood count antar kelompok. Hasil penelitian gambaran sel radang di jaringan juga tidak menunjukan perbedaan yang nyata kecuali hasil pengujian paired T-Test untuk makrofag pada kelompok mesh polipropilen. Sedangkan pada pengujian One-Way Annova tidak memberikan hasil yang berbeda nyata. Hasil penelitian ketebalan jaringan juga tidak menunjukan adanya perbedaan yang nyata antar kelompok. Dengan demikian pemberian asam hyaluronat tidak memberikan dampak negatif terhadap jaringan
Lesio Aterosklerosis pada Arteri Iliak Monyet Ekor Panjang sebagai Hewan Model Peripheral Arterial Disease (PAD)
Aterosklerosis pada arteri iliak berkaitan dengan kejadian peripheral arterial disease (PAD) pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lesio aterosklerosis pada arteri iliak sebagai salah satu faktor penyebab PAD. Penelitian ini menggunakan sembilan monyet ekor panjang jantan dewasa dari 3 kelompok respons yang diberi pakan aterogenik IPB-1 selama 2 tahun. Arteri common iliak diambil pada saat nekropsi, diproses menjadi slaid histologi dan diwarnai dengan Verhoeff van Giesson (VVG). Keparahan lesio dikategorikan sebagai grade I sampai VI dan dianalisis secara deskriptif. Area lesio ditentukan melalui panjang lamina elastik interna (PLEI), area intima (AI), serta ketebalan maksimum intima (KIM) dan dianalisis dengan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan 55,56% monyet membentuk lesio plak aterosklerosis (grade IV sampai VI) yang mana mereka berasal dari kelompok intermediet dan hiper-responsif. Kelompok hiper-responsif menunjukkan AI dan KMI paling tinggi (0,979 mm2; 0,352 mm) diikuti kelompok intermediet (0,372 mm2; 0,237 mm) dan kelompok hipo-responsif (0,049 mm2; 0,052 mm) (P<0,05). Hasil ini menunjukkan semakin tinggi kolesterol plasma, semakin luas area lesio yang terbentuk. Keseluruhan hasil mendukung bahwa monyet yang diberi pakan aterogenik IPB-1 selama 2 tahun mampu membentuk lesio plak aterosklerosis pada arteri common iliak, dan berpotensi sebagai hewan model PAD, kecuali kelompok hipo-responsif
Reaksi Transfusi pada Kucing Hipoalbuminemia yang Diinfus dengan Human Serum Albumin 20%
Hipoalbuminemia umum terjadi pada hewan sakit yang dapat memperburuk kesembuhan beberapa penyakit karena berkorelasi dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Infus human serum albumin 20% digunakan sebagai terapi suportif pada kasus hipoalbuminemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui reaksi transfusi yang dihasilkan pada kucing hipoalbuminemia yang diinfus human serum albumin 20% berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan pengamatan tanda klinis. Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kucing berbagai ras, dewasa umur 1-3 tahun, jantan maupun betina dengan kondisi hipoalbuminemia. Dilakukan pengambilan darah sebelum terapi dan penghitungan defisit kadar albumin. Larutan human serum albumin 20% diberikan melalui infus intravena dengan dosis tunggal selama 4-5 jam. Volume albumin yang diberikan dihitung menggunakan modifikasi rumus dan metode Hackner. Data hasil pengamatan reaksi transfusi yang dihasilkan pada kucing hipoalbuminemia dianalisis secara deskriptif. Pada kucing terjadi reaksi transfusi segera yang meliputi terjadinya peningkatan suhu rektal, aritmia jantung, ritme napas ireguler, tremor, dan kelemahan, yang umumnya teramati pada 1 jam pertama selama infus. Sementara itu, reaksi transfusi tertunda meliputi penurunan nafsu makan, kelemahan, edema perifer, erithema, kepincangan, ultikaria, lesi kulit, diare, dan inflamasi perivaskuler. Penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi infus human serum albumin 20% menghasilkan reaksi transfusi segera maupun tertunda yang teramati pada 8 ekor kucing. Tidak ditemui adanya reaksi merugikan yang parah selama aplikasi infus human serum albumin 20%
Transmisi Strain Wuchereria bancrofti Periodik Nokturnal oleh Culex quinquefasciatus di Kota Pekalongan
Wuchereria bancrofti dikenal sebagai penyebab filariasis limfatik di Kota Pekalongan. Kegiatan ini dilakukan untuk mencari upaya dalam pengendalian penularan filariasis limfatik yang lebih efektif dan efisien. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan perilaku mikrofilaria Wuchereria bancrofti yang ditularkan oleh Culex quinquefasciatus. Uji periodisitas dilakukan pada enam orang relawan yang positif mengandung mikrofilaria hasil survei darah. Pengambilan darah dilakukan setiap dua jam sekali selama 24 jam (12 kali pengamatan). Uji periodisitas cacing filaria menggunakan formula Aikat dan Das . Hasil survei darah menunjukkan dari 500 sampel darah sebanyak 17 orang positif mikrofilaria (mf rate = 3,4%). Sebagian besar mikrofilaria muncul antara pukul 22.6\u2736" sampai 03.56\u2724" yang menggambarkan periodisitas mikrofilaria Wuchereria bancrofti yang nokturnal. Kasus filariasis limfatik memiliki gelombang yang harmonik atau sirkardian dengan indeks periodisitas lebih dari 100%. Hasil penelitian ini akan sangat membantu dalam mengevaluasi dan memantau program pengobatan massal yang sedang berjalan untuk eliminasi filarisis limfatik di Kota Pekalongan
Induksi dan Purifikasi Antibodi Anti-Coxiella burnetii untuk Deteksi Post Mortem Q Fever pada Ruminansia
Q fever merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Coxiella burnetii dan terdistribusi luas di seluruh dunia. Gejala klinis pada hewan ternak bersifat tidak konsisten dan tidak spesifik. Metode imunohistokimia telah digunakan untuk mendiagnosis kasus Q fever pada hewan ternak. Antibodi yang digunakan untuk metode imunohistokimia masih tergolong mahal dan harus diimpor dari negara lain sehingga produksi antibodi menjadi peluang. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi antibodi poliklonal anti-C.burnetii dan mengkarakterisasi antibodi tersebut untuk mendeteksi antigen pada organ limpa, paru-paru, dan hati sapi dari Rumah Potong Hewan (RPH) di Medan yang sebelumnya telah dikonfirmasi positif C.burnetii. C. burnetii strain Nine Mile (NM) dan Complete Freund’s Adjuvant (CFA) digunakan untuk menginduksi antibodi pada dua ekor kelinci New Zealand White (NZW) jantan berumur 10-16 minggu. Boosting dilakukan menggunakan immunogen yang sama dengan Incomplete Freund’s Adjuvant (IFA) pada hari ke-14 pascainduksi. Pemanenan serum dilakukan pada hari ke- 24 pascainduksi. Purifikasi serum dilakukan menggunakan dua tahapan, yaitu presipitasi dengan ammonium sulfat saturasi 35% dan filtrasi gel dengan matriks Sephadex G-75. Konsentrasi akhir antibodi yang diperoleh adalah sebesar 11,3 μg μL-1. Sodium Dodecyl Sulfate Poly Acrylamide Gel Electrophoresis (SDS PAGE) dan Western Blot digunakan untuk mengkarakterisasi antibodi yang diproduksi. Selanjutnya dilakukan pewarnaan imunohistokimia menggunakan antibodi tersebut dan sebanyak 90% limpa, 100% paru, dan 100% hati bersifat imunoreaktif yang ditandai dengan warna kecokelatan pada sitoplasma makrofag. Hasil ini menunjukkan bahwa antibodi yang telah dipurifikasi tersebut mampu mendeteksi antigen C. burnetii pada ruminansia
Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Hookworm Zoonotik Pasca Pemberian Anthelmintik pada Anjing
Infeksi hookworm pada anjing menjadi masalah penting baik ditinjau dari sisi kesehatan hewan maupun sisi kesehatan masyarakat karena seluruh spesies hookworm pada anjing memiliki potensi zoonosis. Infeksi hookworm merupakan kejadian endemis di wilayah Asia Tenggara dan prevalensi kejadiannya di Provinsi Jawa Barat mencapai 92.5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur prevalensi infeksi hookworm pasca pemberian anthelmentik pada anjing dan untuk mengidentifikasi faktor risiko yang memengaruhi kejadiannya. Prevalensi diukur setelah 3 bulan dilakukannya pengobatan kecacingan massal pada anjing di wilayah Kabupaten Sukabumi. Penelitian ini merupakan kajian lintas seksional dengan mengambil 100 sampel feses anjing untuk mengamati keberadaan telur hookworm menggunakan metode flotasi sederhana dan melakukan wawancara kepada pemilik anjing untuk menhidentifikasi faktor risiko. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dan analitis menggunakan Uji Chi Square dan menghitung odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi infeksi hookworm setelah pemberian anthelmentik masih sebesar 21.0% (SK 95%: 14.2– 30.0%). Infeksi pada anjing muda (12%) lebih tinggi dari anjing dewasa (9.0%), anjing berburu (14.0%) lebih tinggi dari anjing penjaga (7.0%), area pegunungan (17.0%) lebih tinggi dari pesisir pantai (4.0%), dan kontak dengan anjing liar (20.4%) lebih tinggi dari tidak ada kontak (2.0%). Faktor yang signifikan memengaruhi kejadian infeksi hookworm adalah topografi wilayah pemeliharaan (X2=4.448, p=0.035) yang mana anjing yang dipelihara di area pegunungan memiliki kemungkinan terinfeksi 3.381 (SK 95% : 1.043–10.960) kali dibandingkan area pesisir pantai. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan anthelmentik masih belum dapat memberantas infeksi hookworm dikarenakan beberapa faktor dan faktor risiko yang paling berpengaruh adalah topografi lingkungan pemeliharaan anjing
Respons dan Karakteristik Estrus setelah Sinkronisasi Estrus dengan Cloprostenol pada Sapi Friesian Holstein
Penelitian tentang sinkronisasi estrus pada sapi perah Friesian Holstein (FH) menggunakan cloprostenol telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati respons dan karakteristik estrus serta pengukuran nilai hambatan arus listrik lendir vagina. Penelitian dilakukan pada 20 ekor sapi FH dengan dua perlakuan injeksi cloprostenol, yaitu injeksi tunggal dengan keberadaan corpus luteum dan injeksi ganda dengan selang waktu injeksi 11 hari. Pengamatan estrus dan pengukuran lendir dilakukan lima hari berturut-turut setelah injeksi cloprostenol yang terakhir. Parameter pengukuran yang diamati meliputi respons, onset, dan durasi estrus, serta nilai hambatan arus listrik lendir vagina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi ganda menghasilkan respons estrus yang lebih baik dibandingkan injeksi tunggal (90% vs 70%), dengan onset estrus lebih pendek (47,55 jam vs 53,28 jam), dan durasi estrus lebih pendek (24,85 jam vs 23,55 jam). Data hambatan arus listrik lendir vagina pada kelompok injeksi ganda lebih rendah dibandingkan dengan injeksi tunggal (187,77 vs 192,14), dengan pola tinggi sebelum estrus, rendah pada saat estrus, dan tinggi kembali setelah estrus, baik pada kelompok injeksi tunggal maupun injeksi ganda. Dapat disimpulkan bahwa respons estrus pada kelompok injeksi ganda lebih baik dibandingkan dengan kelompok injeksi tunggal
Ragam Jenis dan Aktivitas Mengisap Darah Lalat Stomoxys spp di Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Bogor
Keberadaan Stomoxys spp (lalat kandang) pada peternakan sapi perah memiliki dampak negatif seperti penurunan produktivitas susu dan bobot badan, dan sebagai vektor penularan patogen penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan aktivitas mengisap darah lalat kandang. Lalat dikoleksi dengan menggunakan vavoa trap yang ditempatkan di luar peternakan sapi perah dan juga dilakukan pengamatan aktivitas mengisap darah lalat pada tubuh sapi selama 12 jam (06.00-18.00). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada empat spesies dari genus Stomoxys, yaitu, Stomoxys calcitrans (90.5%), S. sitiens (5,05%), S. indicus (3,57%), dan S. bengalensis (0,88%). Aktivitas mengisap darah lalat Stomoxys spp sangat berfluktuasi di setiap jam pengamatan, mulai pukul 06.00-07.00 WIB, kemudian meningkat pada setiap jam, dan puncak aktivitas mengisap darah pada pukul 15.00-16.00 WIB. Hasil uji korelasi Pearson antara curah hujan dan aktivitas mengisap darah Stomoxys spp menunjukkan korelasi yang tinggi, tetapi tidak signifikan (R-0,922 dan nilai p=0,253>0,05) karena waktu penelitian tidak lama