Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
    324 research outputs found

    Prevalensi Kecacingan pada Usus Ayam Kampung di Pasar Tradisional Jakarta dan Kota Bogor

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengukur prevalensi kecacingan di usus ayam kampung yang ada di pasar tradisional Jakarta dan Kota Bogor. Usus ayam kampung diambil dari 5 pasar yang ada di Jakarta (Bendungan Hilir, Palmerah, Pasar Minggu, Pluit, dan Jatinegara) dan di 4 pasar yang ada di Kota Bogor (Anyar, Bogor, Jambu Dua, Gunung Batu). Sampel yang diambil sebanyak 5 sampel di setiap pasar dengan total 45 sampel. Hasil penelitian menunjukkan 28 dari 45 sampel usus ayam kampung (Gallus domesticus) yang diperiksa di pasar tradisional Jakarta dan Bogor positif mengalami kecacingan. Hasil prevalensi menunjukkan pasar Jakarta sebesar 56% dan pasar Bogor sebesar 70%. Prevalensi berdasarkan jenis-jenis cacing di Pasar Jakarta adalah; Railletina echinobothrida (52%), Heterakis gallinnarum (32%), Railletina tetragona (24%), Hymenolepis carioca (16%), Ascaridia galli (16%), dan Hymenolepis cantaniana (4%). Prevalensi berdasarkan jenis-jenis cacing yang ditemukan di Pasar Bogor adalah Railletina echinobothrida (70%), Railletina tetragona (55%), Heterakis gallinarum (10%), Hymenolepis carioca (30%), Hymenolepis cantaniana (20%), dan Railletina cesticillus (20%)

    Efektivitas Herbal Cair Kombinasi Daun Pepaya dan Kelopak Bunga Rosella Sebagai Antihipertensi

    Get PDF
    Hipertensi terjadi apabila tekanan darah sistol lebih dari 129 mmHg dan tekanan darah diastol lebih dari 90 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian herbal cair kombinasi tersebut terhadap penurunan tekanan darah pada tikus putih jantan Sprague-Dawley yang diinduksi larutan NaCl 5%. Hewan uji yang digunakan terdiri dari 20 ekor tikus dengan bobot 200-300 gram dan dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan terdiri dari dosis I (0,27 mL/200 gBB), dosis II (0,54 mL/200 gBB), kontrol positif I (obat herbal merk X 6,48 mg/200 gBB), kontrol positif II (kaptopril 1,35 mg/200 gBB) dan kelompok kontrol negatif yang hanya diberikan akuades. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat dinyatakan bahwa pemberian herbal cair dapat menurunkan tekanan darah pada tikus setelah 18 hari penggunaan. Dosis II (0,54 mL/200 gBB) merupakan dosis paling baik untuk menurunkan tekanan darah pada tikus putih jantan Sprague-Dawley dengan lama waktu pemberian paling baik untuk sistol pada hari ke-10 dan diastol hari ke-15

    Resistensi Enterobacteriaceae Terhadap Antibiotik Asal Sisa Makanan dari Sampah Pesawat di Bandara Internasional Soekarno Hatta

    Get PDF
    Sampah yang berasal dari pesawat internasional yang datang di Indonesia harus dimusnahkan tanpa kecuali dan berlaku untuk penerbangan dari negara manapun. Pemusnahan dilakukan untuk menghindari risiko penyebaran penyakit dari sampah yang dapat menyerang hewan, tumbuhan dan manusia. Aktivitas penumpang dari mancanegara, migrasi orang dan hewan dari satu negara ke negeri lain serta importasi makanan membuat bakteri yang terbawa masuk, termasuk bakteri yang resisten terhadap antibiotik dapat menyebar. Penelitian mengenai risiko masuknya bakteri resisten terhadap antibiotik melalui sampah pesawat belum pernah dilakukan. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan bakteri resisten terhadap antibiotik pada sisa makanan dari sampel sampah internasional yang diambil dari Terminal 2D BISH. Hasil penelitian yaitu dari 78 sampel yang berasal dari 24 pesawat dan 2 perusahaan penyedia makanan pesawat (in-flight catering), didapatkan 53 sampel (67,95%) positif Enterobacteriaceae. Hasil pengujian isolat resistensi Enterobacteriaceae terhadap antibiotik dalam sisa makanan penerbangan internasional menunjukkan tingkat resistensi yang cukup tinggi, yaitu: Nalidixic Acid (57%), Cefoxitin (32%), Ampicillin (26%), Amoxicillin (15%), Tetracycline (9%), Cefotaxime (5%), Kanamycin (3%), dan terendah adalah Sulfatrimethoprim (1%). Selain itu, bakteri Enterobactriaceae ini juga menunjukkan tingkat intermediate terhadap antibiotik Cefotaxime (37%), Cefoxitin (13%), Tetracycline (6%), Kanamycin (6%), Amoxicillin (4%), Nalidixic Acid (4%), Sulfatrimethoprim (2%), dan Ampicillin (0%)

    Bacterial Pneumonia sebagai Salah Satu Penyebab Kematian Lumba Lumba Hidung Botol Indo-Pasifik (Tursiop aduncus)

    Get PDF
    Lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (Tursiops aduncus) merupakan jenis lumba-lumba yang banyak ditemukan di perairan Indonesia. Kelestarian T. aduncus perlu mendapat perhatian karena populasinya yang semakin menurun. Upaya pelestarian yang telah dilakukan adalah melalui konservasi. Gangguan respirasi pada lumba-lumba sering ditemukan dan berakibat fatal, salah satu penyakit yang sering ditemukan adalah pneumonia. Pneumonia jenis bronchopneumonia merupakan salah satu gejala infeksi pada paru yang disebabkan oleh bakteri, virus ataupun jamur. Tujuan penelitian ini adalah melakukan isolasi dan identifikasi bakteri yang berperan dalam kejadian pneumonia. Sampel berasal dari seekor lumba lumba jantan yang ada di Pusat Konservasi Mamalia air. Tahapan penelitian ini antara lain isolasi dan identifikasi bakteri dari organ paru-paru yang menunjukkan gejala patologis. Hasil isolasi dan identifikasi ditemukan 2 spesies Gram positif yaitu Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus serta 4 spesies Gram negatif, yaitu Pseudomonas alcaligenes, Actinobacillus delphinicola, Klebsiella sp. dan Serratia marcesens

    Kajian Epidemiologi Infeksi Bovine Viral Diarrhea (BVD) pada Sapi Perah di Kabupaten Sleman Yogyakarta

    Get PDF
    Sapi perah merupakan hewan ruminansia yang menghasilkan susu untuk konsumsi sehari hari masyarakat Indonesia karena mengandung sumber kalsium yang baik bagi tubuh. Namun, saat ini kendala yang dihadapi oleh peternak adalah menurunnya produksi susu sapi perah sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Salah satu penyakit yang menyebabkan penurunan produksi susu pada sapi perah adalah Bovine Viral Diarrhea (BVD). Bovine Viral Diarrhea telah menyebar di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Pemerintah Indonesia belum menetapkan kebijakan vaksinasi BVD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seroprevalensi dan faktor resiko mengenai infeksi Bovine Viral Diarrhea (BVD) di tingkat peternak di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Metode penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara terhadap peternak melalui kuesioner dan metode sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik sampling tahapan ganda serta dianalisis secara univariat dan bivariat. Sampel penelitian ini adalah 96 peternak terpilih yang memiliki sapi perah dan dilakukan pengujian Bovine Viral Diarrhea (BVD) dengan metode Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) antibodi. Berdasarkan analisis univariat, diperoleh seroprevalensi penyakit BVD pada sapi perah sebesar 56,25%. Berdasarkan analisis bivariate, hasil yang diperoleh adalah tidak terdapat hubungan antara variabel yang diuji dengan adanya penyakit BVD pada sapi perah di Kabupaten Sleman, yang ditunjukkan dengan nilai p_value > 0.05

    Toksisitas Akut Ekstrak Daun Miana (Coleus Blumei Benth) pada Mencit (Mus Musculus)

    Get PDF
    Coleus blumei memiliki berbagai khasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit termasuk kecacingan. Sampai saat ini belum diketahui tingkat dosis yang menyebabkan toksisitas bagi pemakainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi toksisitas akut ekstrak etanol daun miana pada mencit. Pengujian toksisitas dilakukan pada mencit dengan pemberian per oral untuk menentukan toksisitas akut dan dosis letal 50% (LD50). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun miana memiliki toksisitas yang rendah. Hasil analisis probit menunjukkan LD50 ekstrak etanol daun miana adalah 9757.14 mg/kg berat badan. Gejala klinis yang terlihat pada mencit sebelum mati adalah tidak aktif, lemah, ritme pernapasan menurun dan bulu berdiri. Pemeriksaan patologi anatomi menunjukkan perdarahan pada rongga perut ditemukan pada dosis 10000 mg/kg bb ekstrak etanol. Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan adanya pembendungan, oedema, dilatasi tubuli pada organ ginjal. Degenerasi dan nekrosis ditemukan pada organ usus, hati dan ginjal yang meningkat seiring dengan peningkatan dosis ekstrak. Berdasarkan nilai LD50 ekstrak etanol daun miana termasuk dalam kategori toksik ringan. Walaupun termasuk dalam katagori toksik ringan, akan tetapi mulai pada dosis 4000 mg/kg bb ekstrak daun miana menyebabkan degenerasi dan nekrosa sel pada organ usus, hati, dan ginjal

    Spatio Temporal Distribution of Anthrax in Sulawesi 2015-2018

    Get PDF
    Three among five Provinces (South Sulawesi, West Sulawesi and Gorontalo) in Sulawesi island, Indonesia are endemic area of anthrax disease. The aim of this study was to describe the dynamic of anthrax during 2015-2018 and identified risk area in Sulawesi. We determined case of anthrax disease from passive-active surveillance data Disease Investigation Center Maros (DIC Maros) during 2015-2018. Spatial distribution describe by mapping using Quantum Geographic Information System (QGIS), the temporal distribution describe using epidemic curve and we calculated the proportion of animal infected of anthrax. There were thirty-three cases of anthrax spreaded into three Provinces in Sulawesi, there were twenty one cases in South Sulawesi (63.6%), nine cases in Gorontalo (27.3%) and three cases West Sulawesi (9.1%). There were eleven cases (33.3%) in 2015, fifteen cases (45.5%) in 2016, four cases (12%) in 2017 and three cases (6%) in 2018. Anthrax occured respectively in dry season in South Sulawesi and Gorontalo, different with West Sulawesi anthrax occured in rainy season. The proportion of the animal infected were 87% in cattle, 7% in horse, 3% goat and 3% in deer. Vaccination of anthrax in South Sulawesi and Gorontalo should be conducted in May; in Polewali Mandar, West Sulawesi in Februari

    Pengaruh Pemberian PGF2α terhadap Peningkatan Kualitas Spermatozoa Kambing Boerka

    Get PDF
    Usaha untuk meningkatkan produktivitas ternak kambing Boerka di antaranya dengan melakukan inseminasi buatan (IB). Untuk meningkatkan kualitas spermatozoa yang akan digunakan untuk IB maka diberikan hormon prostaglandin F2 alfa (PGF2α). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian PGF2α terhadap peningkatan motilitas spermatozoa kambing Boerka. Dalam penelitian digunakan 3 ekor kambing Boerka yang berumur ±2-3 tahun. Pelaksanaan perlakuan dirancang menggunakan pola latin square 3 x 3 sehingga hewan akan menerima suntikan P1 (1,5 ml NaCl fisiologis), P2 (37,5 μg PGF2α), dan P3 (75 μg PGF2α) dengan interval waktu perlakuan adalah 30 menit sebelum koleksi semen. Sampel semen dikoleksi dengan menggunakan vagina buatan dan diamati warna, konsistensi, volume, konsentrasi, motilitas, viabilitas, dan motilitas spermatozoa. Motilitas spermatozoa diamati setelah 4 jam di dalam refrigerator. Data warna dan konsistensi semen dilaporkan secara deskriptif, sedangkan volume, motilitas semen segar, dan motilitas spermatozoa setelah 4 jam di dalam refrigerator dianalisis dengan analisis varian pola bujur sangkar latin (RSBL) yang dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa warna dan konsistensi semen yang dikoleksi pada semua kelompok perlakuan adalah krem dengan konsistensi kental. Rataan (±SD) volume semen; konsentrasi spermatozoa (106/ml); motilitas semen segar (%); dan motilitas semen setelah penyimpanan pada P1 vs P2 vs P3 masing-masing adalah 0,90±0,4 vs 0,70±0,3 vs 0,90±0,3 ml (P>0,05); 2303,33±327,15 vs 2336,67±332,91 vs 2576,67±261,02 (P>0,05); 84,00±5,1 vs 73,33±11,54 vs 80,00±0,0% (P>0,05); 63,67±4,5 vs 53,33±4,7 vs 66,67±2,2% (P<0,05). Disimpulkan bahwa pemberian 75 μg PGF2α dapat meningkatkan motilitas spermatozoa kambing Boerka setelah penyimpanan dalam regrigerator selama 4 jam

    Preparasi Strip Imunokromatografi Koloid Emas untuk Deteksi Cepat Aeromonas hydrophila

    Get PDF
    Aeromonas hydrophila merupakan agen penyebab Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang menyebabkan kerugian ekonomi pada industri akuakultur air tawar. Saat ini, metode diagnostik yang tersedia untuk determinasi A. hydrophila membutuhkan waktu lama dan tidak sesuai diaplikasikan di lapangan. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya metode lain yang dapat digunakan sebagai diagnostik yang cepat dan aplikatif di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat alat diagnostik yang mampu digunakan sebagai pendeteksi agen penyebab MAS. Secara singkat, partikel koloid emas berukuran 31,88 nm dibuat melalui reduksi kimia asam kloroaurat dengan natrium sitrat. Koloid emas sebagai detektor dikonjugasikan dengan antibodi poliklonal anti-A. hydrophila 50 μg/ml pada pH 7. Membran nitroselulosa sebagai membran reaksi, ditetesi dengan antibodi poliklonal anti-A. hydrophila 2 mg/ml di garis T dan antibodi goat anti-rabbit IgG 1 mg/ml di garis C. Hasil dari penelitian ini, strip imunokromatografi yang dikembangkan mampu mendeteksi A. hydrophila dengan deteksi minimum 1,2x105 CFU/ml. Strip bersifat spesifik terhadap A. hydrophila, tidak ada reaksi silang yang ditemukan ketika direaksikan dengan bakteri lain. Analisis sampel menggunakan strip hanya membutuhkan waktu 10 menit. Strip imunokromatografi yang dikembangkan dapat mendeteksi A. hydrophila dengan cepat dan memiliki potensi untuk digunakan di lapangan

    Postmortem Changes in pH, Color, Drip Loss, and Non-Protein Nitrogen in Beef Liver and Lungs During Storage in Refrigerator

    Get PDF
    Beef offal are consumed by people in some countries specifically in Asia.  Beef liver and lungs are favorite food which are used as meat in traditional food.  The objective of this study was to determine the postmortem changes in pH, color, drip loss, and non-protein nitrogen (NPN) content in beef liver and lungs during storage in refrigerator (3-4 ºC) until 5 d (120 h) after slaughter.  The beef liver and lungs were collected from the abattoir and transported in cool box (<7 ºC) to the laboratory within 3 hours.  The samples size of beef liver and lungs were 20 for each observation time.  In the laboratory the beef liver and lungs were measured directly for pH value, color (L*, a*, and b*), drip loss, and NPN content at 4 h postmortem (pm) and afterwards every beef liver sample was sliced into 5 pieces of 100-120 g and stored in chiller of 3-4 ºC.  The measurement of pH, color (L*, a*, and b* values), drip loss, and NPN content were conducted at 4 h, 24 h, 48 h, 72 h, 96 h, and 120 h postmortem.  Data were analyzed descriptively and by comparing the 95% confidence interval of mean of each observation.  The results showed that pH, color, drip loss, and NPN content in beef lungs were higher than the values in beef liver.  The pH of beef liver and lungs declines until 96 h pm and 48 h pm, respectively.  The L*, a*, and b* values of beef liver and lungs increased in general during storage.  Drip loss and NPN in beef liver and lungs tended to increase significantly during storage.   From this study the pH value and NPN can be used to determine the freshness of beef liver and lungs

    283

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Acta VETERINARIA Indonesiana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇