Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Optimalisasi pemantauan pertumbuhan sebagai salah satu upaya pencegahan stunting pada anak balita
Latar belakang: Anak balita (0-2 tahun) merupakan periode yang rawan terhadap kegagalan pertumbuhan, baik yang berkaitan dengan berat badan atau panjang badan. Untuk mengetahui pertumbuhannya perlu dilakukan pemantauan secara rutin dan terus menerus oleh petugas. Pemantauan pertumbuhan meliputi pengukuran berat badan dan panjang badan, pencatatan, interpretasi, dan tindak lanjutnya. Jika pemantauan pertumbuhan dilakukan sesuai prosedur maka permasalahan akan lebih awal diketahui dan lebih mudah ditanggulangi. Tujuan: Penelitian ini mengeksplorasi upaya pencegahan stunting terkait persoalan pemantauan pertumbuhan pada anak balita di posyandu dan puskesmas. Eksplorasi dilakukan dengan pengamatan pada pelaksanaan pemantauan pertumbuhan di posyandu dan Puskesmas Temon I. Hasil: Pertama sumber daya manusia terkait pemantauan pertumbuhan masih rendah. Kedua, sumber daya sarana terutama alat pengukur panjang badan sebagian besar tidak memenuhi syarat. Ketiga, Kepatuhan terhadap prosedur pemantauan pertumbuhan pada langkah rujukan sebagain besar tidak dilakukan. Kempat, petugas tidak mentaati penggunaan 3 indikator status gizi (BB/U, BB/PB, PB/U) untuk memantau pertumbuhan. Simpulan: Hasil diatas menunjukkan pentingnya pemerintah memikirkan peningkatan sumber daya manusia, sarana prasarana dan kepatuhan prosedur pemantauan pertumbuhan pada anak balita. Pemantauan pertumbuhan pada nak balita akan berperan penting dalam pencegahan stunting. Posyandu dan puskesmas perlu memiliki sumber daya manusia dan sarana prasarana yang cukup serta optimalisasi rujukan jika ditemukan masalah pertumbuhan
Gambaran program kesehatan jiwa: penanganan ODGJ pasung di kabupaten Cilacap
Objektif: Kajian ini bermaksud memberikan gambaran tentang pelaksanaan program kesehatan jiwa terutama penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pasung di Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah. Metode: Review data sekunder yang berasal dari Data Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap Tahun 2018, jurnal-jurnal terkait serta wawancara tidak mendalam dengan keluarga dan masyarakat. Hasil: Menurut Badan Pusat Statistik (2018) jumlah Penduduk Kabupaten Cilacap sebanyak 1.785.971 jiwa dengan jumlah orang dengan angka gangguan jiwa mencapai 1.643 penderita, merupakan angka yang banyak tetapi sedikit perhatian karena tidak menyebabkan outbreak, ataupun kematian langsung tapi berdampak ekonomi jangka panjang (kurang produktif). Program kesehatan jiwa terutama penanganan ODGJ pasung dilaksanakan tahun 2011, sesuai himbauan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Penanggulangan Pasung di Provinsi Jawa Tengah. Pemerintah Kabupaten Cilacap melalui Dinas Kesehatan mulai melakukan pendataan untuk menemukan ODGJ pasung, ditemukan 88 penderita dari 2010-2011. Beberapa kajian menarik kenapa pasien yang ditangani sangat fluktuatif, karena memang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berdasarkan wawancara sederhana dengan keluarga dan masyarakat ada beberapa alasan kenapa mereka melakukan pemasungan 1) Ketidaktahuan keluarga tentang perawatan ODGJ 2) Keterbatasan ekonomi keluarga penderita ODGJ 3) Dorongan mayarakat sekitar penderita ODGJ 4) Keputusasaan keluarga 5) Ketidaktahuan mencari pertolongan (Health Literacy). Saat itu rujukan ke RSJ menjadi pilihan tercepat menyeleaikan masalah tetapi ternyata tidak karena penderita kambuhan, kurangnya follow up dari puskesmas, ketidakteraturan minum obat, dan belum optimalnya dukungan lingkungan. Sehingga dilakukan alternatif implementasi lainnya seperti penyuluhan ODGJ ke masyarakat, kemudahan keluarga ODGJ mengakses pelayanan kesehatan di puskesmas, penyampaian kepada keluarga dan masyarakat untuk mencegah pemasungan, menghubungi petugas kesehatan/puskesmas terdekat apabila menemukan kasus pasung, , kunjungan rumah penderita ODGJ untuk mencegah pemasungan, sistem rujukan berjenjang, penanganan sederhana pasien gaduh gelisah, dan pembentukan Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ). Simpulan: Masalah kesehatan jiwa seperti halnya masalah kesehatan lainnya tidak akan selesai, sehingga dalam pelaksanaan dibutuhkan kerjasama dengan pengambil keputusan, organisasi profesi, institusi pendidikan kesehatan, LSM, tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan swasta melalui proses advokasi, pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.Objektif: Kajian ini bermaksud memberikan gambaran tentang pelaksanaan program kesehatan jiwa terutama penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pasung di Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah. Metode: Review data sekunder yang berasal dari Data Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap Tahun 2018, jurnal-jurnal terkait serta wawancara tidak mendalam dengan keluarga dan masyarakat. Hasil: Penduduk Kabupaten Cilacap sebanyak 1.785.971 jiwa, ODGJ mencapai 1.643 penderita, merupakan angka yang banyak tetapi sedikit perhatian karena tidak menyebabkan outbreak, ataupun kematian langsung tapi berdampak ekonomi jangka panjang (kurang produktif). Pemerintah Kabupaten Cilacap melalui Dinas Kesehatan mulai melakukan pendataan untuk menemukan ODGJ pasung, ditemukan 88 penderita dari 2010-2011. Berdasarkan wawancara sederhana dengan keluarga dan masyarakat ada beberapa alasan kenapa mereka melakukan pemasungan : 1) Ketidaktahuan keluarga tentang perawatan ODGJ, 2) Keterbatasan dana, 3) Dorongan mayarakat sekitar, 4) Keputusasaan keluarga, 5) Ketidaktahuan mencari pertolongan (Health Literacy). Saat itu rujukan ke RSJ menjadi pilihan tercepat menyelesaikan masalah tetapi ternyata tidak menyelesaikan masalah karena penderita cenderung kambuhan, kurangnya follow up dari puskesmas, ketidakteraturan minum obat, dan belum optimalnya dukungan lingkungan. Simpulan: Penanganan masalah kesehatan jiwa dibutuhkan kerjasama dengan pengambil keputusan, organisasi profesi, institusi pendidikan kesehatan, LSM, tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan swasta melalui proses advokasi, pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
Is health condition affect the online health information seeking behavior? a report from Indonesia
Background: Google Trends has increasingly received attention as the potential data source for diseases surveillance in the last two decades. In Indonesia, Google Trends was detected as a novel predictor for dengue outbreak in national and sub-national level. Although the accuracy depended on online information seeking behavior, no study was performed at the state level. This approach is necessary to be assessed in order to measure the representativeness of the online health information seeking pattern captured by Google Trends. Objective: This study aimed to examine the online health information seeking behavior according to the history of health condition among Indonesian aged 15-60 years old. Methods: Online health information seeking behavior’ survey was conducted in 2017, involved 385 respondents. Questions were asked in three different parts including the online health information seeking in general, the use of social media, and the use of search engines. Statistical analysis was conducted using Prevalence odds ratio (POR) in Stata version 13. Results: Prevalence odds ratio analysis shows that person who ever experiences ill in the last three months is 1.63 (CI 95% 1.06-2.50) more likely to have access to the online health information on the Internet. Online health information seeking behavior seem to be in-line both using social media and search engines. The person who ever experiences ill in last three months is more likely to have access to the online health information on social media (POR 1.60; CI 95% 0.95-2.74) and search engines (POR 2.89; CI 95% 1.63-5.28). Moreover, looking for disease information on social media (POR 1.61; CI 95% 1.04-2.49) and search engines (POR 2.23; CI 95% 1.43-3.51) also influenced by health condition. Conclusions: History of health condition affects online health information seeking behavior. Further research needs to assess the Indonesian online health information seeking behavior related to a certain disease
Penggunaan Buntelan Kain Sebagai Aksi Nyata Pengguangan Sampah Plastik Ditinjau Dari Segi Ekonomi Dan Kesehatan Lingkungan
Plastik adalah bahan yang sering ditemui di kehidupan kita. Penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Sampah plastik dapat bertahan hingga bertahun-tahun sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Sampah yang ada di sungai sudah banyak yang memenuhi bahu sungai, setiap hujan sampah yang mengalir tersangkut di jembatan mengakibatkan banjir. Banyaknya jumlah sampah dan minimnya upaya pengurangan sampah membuat masalah ini tidak akan pernah selsai. Penggunaan kantong plastik sebagai kantong belanja semakin menambah volume sampah plastik. Warga yang tinggal di lingkungan timbunan sampah dan bantaran sungai mempunyai masalah kesehatan yang lebih berat. Komunitas Srikandi Sungai Indonesia (SSI) bersama pemerintah menggalakkan kebijakan stop kantong plastik. Penyetopan kantong plastik sebagai tas belanja dipasar harus diganti dengan barang yang mempunyai fungsi yang sama. Penggunaan buntelan kain yang ramah lingkungan dan reusable dapat digunakan oleh ibu-ibu saat berbelanja di warung dan dipasar. Tidak hanya penggunaan buntelan akan tetapi penggunaaan sedotan stainles, membawa tempat makan dan tumbler saat bekerja dan sekolah dapat membantu mengurangi jumlah sampah. Kerjasama antara SSI, Pemerintah BLH dan masyarakat dalam rangka pengelolaan sampah secara mandiri menjadi kegiatan yang harus segera dilakukan. SSI dalam pelaksanaannya akan dibantu kader yang telah dipilih sebagai pengawas lingkungan di masing-masing daerah, dan setiap warga yang masih menggunakan kantong plastik akan mendapat teguran dan sanksi. Kegiatan diawali dengan penyuluhan tentang lingkungan dan bahaya plastik serta pelatihan pembuatan buntelan kepada ibu rumah tangga, dilanjutkan dengan subsidi dari pemerintah dengan memberikan dua contoh buntelan kepada warga untuk membiasakan penggunaan buntelan sebagai tas belanja. Pelatihan pembuatan buntelan dengan memanfaatkan kain perca yang tidak digunakan sebagai kain buntelan dan diperjual belikan dapat menambah pemasukan ekomomi keluarga
Pola pencarian informasi perilaku penurunan berat tubuh di indonesia menggunakan google trends
Tujuan: Mengetahui potensi penggunaan Google Trends sebagai sumber data yang dapat mencerminkan perilaku terkait penurunan berat tubuh di Indonesia.Metode: Peneliti menganalisis data Google Trends tahun 2014 hingga 2018 di Indonesia. Kata kunci utama yang digunakan untuk memperoleh data time series adalah “berat badan”. Selanjutnya 5 kata kunci yang terkait penurunan berat tubuh dengan RSV(Relative Search Volume) tertinggi dianalisis menggunakan line chart, moving average dan uji korelasi Pearson. Satu kata kunci dengan RSV tertinggi dilihat tingkat pencarian informasinya pada level provinsi.Hasil: Kata kunci terkait penurunan berat tubuh dengan RSV tertinggi secara berurutan adalah “berat ideal”, “berat badan”, “diet”, “cara kurus” dan “fitnes”. Terdapat kemiripan pola time series diantara kata kunci tersebut serta menunjukkan adanya hubungan. Hubungan yang kuat ditemukan pada kata kunci “berat badan” dan “diet” (r=0,8012). Pencarian informasi tertinggi menggunakan kata kunci “berat ideal” berada pada Provinsi Kalimantan Utara, sedangkan terendah pada Provinsi Sulawesi Barat.Kesimpulan: Google Trends berpotensi dalam membantu tenaga kesehatan khususnya ahli gizi dalam update pengetahuan terkait minat masyarakat Indonesia pada penurunan berat tubuh, bahkan pada tingkat daerah. Penyebaran informasi terkait penurunan berat tubuh yang benar dengan media online sangat dibutuhkan agar lebih efektif dan efisien untuk meluruskan kesimpangsiuran informasi
Analisis temporal efek cuaca terhadap leptospirosis di kabupaten Bantul, Yogyakarta tahun 2010-2018
Tujuan: Menganalisis efek suhu udara, kelembapan udara dan curah hujan terhadap kejadian leptospirosis secara temporal di Kabupaten Bantul tahun 2010-2018. Metode: Desain penelitian menggunakan studi ekologi berbasis time-series, antara faktor cuaca (suhu udara, kelembapan udara dan curah hujan) dari stasiun cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY dan kejadian bulanan leptospirosis di Kabupaten Bantul selama periode 9 tahun, 2010-2018. Pearson’s correlation dan time-lag correlation dilakukan dengan STATA 13 guna mengamati asosiasi secara temporal, selanjutnya disajikan dalam grafik time-series dengan Microsoft Excel. Hasil: Karakteristik cuaca di Kabupaten Bantul untuk suhu udara, kelembapan udara, dan curah hujan masing-masing sebesar 27.2°C, 84%, dan 171 mm. Kejadian leptospirosis selama 2010-2018 sejumlah 779 kasus, tertinggi 120 kasus di bulan Mei dan 154 kasus pada tahun 2011. Suhu udara 3 bulan sebelumya (lag 3) berhubungan positif dan lemah terhadap kejadian leptospirosis (r=0.2493). Pola fluktuasi grafik time-series suhu udara tidak diikuti kejadian leptospirosis pada 2 tahun awal dan akhir periode. Kelembapan udara 1 bulan sebelumya (lag 1) berhubungan positif dan lemah terhadap kejadian leptospirosis (r=0.2921). Pola fluktuasi grafik time-series kelembapan udara tidak diikuti kejadian leptospirosis pada 2 tahun awal periode. Curah hujan 3 bulan sebelumya (lag 3) berhubungan positif dan sedang terhadap kejadian leptospirosis (r=0.5297). Pola fluktuasi grafik time-series curah hujan diikuti kejadian leptospirosis selama periode. Simpulan: Kejadian leptospirosis berhubungan dengan efek time-lag suhu udara, kelembapan udara dan curah hujan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Diperlukan sistem kewaspadaan dini pemerintah dan masyarakat di daerah endemis menghadapi ancaman leptospirosis selama musim hujan
PERILAKU KADER KESEHATAN DALAM DIGITALISASI PENCATATAN ANTENATAL CARE DI KELURAHAN PALUMBONSARI, KAWASAN TIMUR KARAWANG
Behavior of health volunteer in digitalization of antenatal care recording in Kelurahan Palumbonsari, Timur KarawangPurpose: This study was aimed to determine the behavior of health volunteers in digitizing antenatal records in Palumbonsari Village, Karawang Timur Regency. Method: This research was quantitative research. This research was in July 2018. The technique of collecting data used a questionnaire. The population in this study was health volunteers in the East Karawang Health Center. Palumbonsari. The sampling method was purposive sampling totaling 32 health volunteers. Results: The results of the study of 32 respondents, 75% of respondents had a good level of knowledge about digitizing antenatal care records, 78.12% who had sufficient attitudes and levels of respondent behavior were 75% ready to support the implementation of digitizing antenatal care records. Conclusion: The behavior of health cadres in digitizing antenatal care records in Palumbonsari Village was quite good. It was recommended that all health services be able to carry out digitalization of antenatal care records in an effort to record and store medical records of pregnant women which were more accessible at any time and anywhere.AbstractPurpose: This study was aimed to determine the behavior of health volunteers in digitizing antenatal records in Palumbonsari Village, Karawang Timur Regency.Method: This research was quantitative research. This research was in July 2018. The technique of collecting data used a questionnaire. The population in this study was health volunteers in the East Karawang Health Center. Palumbonsari. The sampling method was purposive sampling totaling 32 health volunteers.Results: The results of the study of 32 respondents, 75% of respondents had a good level of knowledge about digitizing antenatal care records, 78.12% who had sufficient attitudes and levels of respondent behavior were 75% ready to support the implementation of digitizing antenatal care records.Conclusion: The behavior of health cadres in digitizing antenatal care records in Palumbonsari Village was quite good. It was recommended that all health services be able to carry out digitalization of antenatal care records in an effort to record and store medical records of pregnant women which were more accessible at any time and any where
Analisis Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepemilikan Jamban Pada Daerah Pesisir Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
Tujuan : Perilaku masyarakat daerah pesisir pantai yang kurang terbiasa buang air besar (BAB) menggunakan jamban memiliki pengaruh terhadap kesehatan masyarakat secara keseluruhan apalagi pada penyakit yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan. Masyarakat pada pesisir pantai sebagian besar merupakan masyarakat dengan pekerjaan sebagai nelayan memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat lain di sekitarnya. Permasalahan yang sering timbul di wilayah pesisir yakni rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat dan rendahnya kualitas lingkungan serta sanitasi sehingga berdampak pada kepemilikan jamban. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara variabel independen ( faktor predisposisi, faktor enabling dan faktor penguat) dengan variabel dependen (kepemilikan jamban sehat ) pada masyarakat desa pesisir di Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah.Metode : Penelitian yang dilaksanakan merupakan jenis penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang bertempat tinggal di Desa Kurau dan Desa Kurau Barat Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah. Besar sampel dalam penelitian ini berjumlah 200 responden.Hasil : Hasil penelitian ini pada analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang terdapat hubungan adalah variabel pendidikan responden terhadap jamban sehat dengan nilai signifikansi (pvalue = 0,02), pengetahuan dengan kepemilikan jamban sehat dengan nilai signifikansi (pvalue = 0,03), ketersediaan air responden terhadap jamban sehat dengan nilai signifikansi (pvalue = 0,011), dukungan perangkat desa dengan nilai signifikansi (pvalue =0,35), Sedangkan variabel yang tidak berhubungan adalah variabel jenis kelamin (pvalue=0,93) pekerjaan (pvalue = 3,50), kebijakan (pvalue = 0,65),paparan promosi kesehatan (pvalue =1,27), sikap ( Pvalue = 0,1) dan dukungan kader kesehatan (pvalue = 0,073). Hasil analisis multivariat variabel yang paling dominan berhubungan dengan kepemilikan jamban adalah variabel dukungan kader kesehatan dengan pvalue 0,006 OR 3,542 ( 95 % CI 1,444 – 8,692 ). Responden di daerah pesisir menunjukkan bahwa ada dukungan kader kesehatan berpeluang 3,542 kali untuk meningkatkan kepemilikan jamban dibandingkan dengan tidak ada dukungan kader kesehatan.Kesimpulan : Kesimpulan dari penelitian ini adalah penguatan dan peningkatan pengetahuan responden dalam hal ini adalah masyarakat desa kurau dan desa kurau barat akan berdampak positif pada respon masyarakat memiliki jamban.Penguatan peran kader kesehatan menjadi penting dalam memaksimalkan akses penggunaan jamban serta menginisiasi masyarakat dalam kepemilikan jamban.Kata kunci : Jamban, Crossectional , Pesisi
Faktor Risiko Persalinan Tanpa Pertolongan Tenaga Kesehatan di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2018
The risk factors of medically unassisted baby delivery in Banjarnegara DistrictPurpose: This study aims to identify risk factors of medically unassisted baby delivery in Banjarnegara Regency. Method: Mix method research design (case-control completed with in-depth interview). The sample size was 112 with a ratio of 1: 1 (56 cases and 56 controls), taken by simple random sampling based on secondary data PWS-KIA Banjarnegara District Health Office in 2018 including a qualitative sample of 5 people taken purposively. Data collection was carried out by means of interviews using questionnaires and interview guides. Analysis of bivariable data with McNemar test and multivariable with multiple logistic regression using the STATA 13.1 program. Results: Thirty-four (60.7%) respondents who gave birth without the help of health workers had a low educational level. The result of multivariable analysis showed a significant relationship between maternal education (aOR = 4.06; 95% CI = 1.32-12.45), history of ANC (aOR = 4.26; 95% CI = 1.24-14.64 ) and family support (aOR = 7.16; 95% CI = 1.73-29.51). Qualitative results show that prior delivery experience was the reason why women chose to give birth at home without the help of health workers. Conclusion: Childbirth without the help of health workers in Banjarnegara District was influenced by maternal education, ANC history, and family support. It is expected that families can be involved in providing Information and Education Communication (IEC) during ANC visits of pregnant women to increase awareness and knowledge related to safe pregnancy and childbirth.Latar Belakang: Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi prioritas utama di negara berkembang termasuk Indonesia yang masih mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Banjarnegara menjadi salah satu kabupaten penyumbang kematian ibu tertinggi kelima di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 21 kasus pada tahun 2017. Salah satu strategi untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu sesuai SDGs 2030 adalah persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko persalinan tanpa pertolongan tenaga kesehatan di Kabupaten Banjarnegara Metode: Desain penelitian mix method (case-control yang dilengkapi dengan in-depth interview). Besar sampel adalah 112 dengan perbandingan 1:1 (56 kasus dan 56 kontrol), diambil secara simple random sampling berdasarkan data sekunder PWS-KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara tahun 2018 termasuk sampel Kualitatif berjumlah 5 orang yang diambil secara purposif. Pengumpuan data dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dan panduan wawancara. Analisis data bivaribel dengan uji McNemar test dan multivariabel dengan multiple logistic regression menggunakan program STATA 13.1 Hasil: Penelitian ini menghasilkan temuan sebanyak 34 (60,7%) responden yang bersalin tanpa pertolongan tenaga kesehatan memiliki tingkat pendidikan Tamat SD. Hasil analisis multivariabel menunjukan hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu (aOR=4,06; 95%CI=1,32-12,45), riwayat ANC (aOR=4,26; 95%CI=1,24-14,64) dan dukungan keluarga (aOR=7,16; 95%CI=1,73-29,51). Hasil kualitatf menunjukan faktor pengalaman bersalin sebelumnya menjadi alasan ibu bersalin dirumah tanpa pertolongan tenaga kesehatanKesimpulan: Persalinan tanpa pertolongan tenaga kesehatan di Kabupaten Banjarnegara di pengaruhi oleh pendidikan ibu, riwayat ANC dan dukungan keluarga. Diharapkan keluarga dapat dilibatkan dalam pemberian Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) saat kunjungan ANC ibu hamil untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terkait kehamilan dan persalinan yang ama
Pengalaman ibu menyusui di RSIA X kota Malang
The experience of breastfeeding mothers in RSIA X MalangPurpose: Several factors cause a low level of exclusive breastfeeding in Indonesia. One of them is breastfeeding, which is not immediately resolved by health workers in the hospital. Mothers who have just given birth in an MCH hospital expect help and assistance from health professionals to not have difficulty breastfeeding. This study is to uncover the experience of nursing mothers in an MCH hospital. Method: This phenomenology research took place in a hospital in Malang in April-May 2019 with five informants by purposive sampling. Data were from in-depth interviews and analyzed using an interpretive phenomenology analysis. Results: There were seven themes: satisfied and comfortable giving birth, health workers in hospitals did not deliver breastfeeding information and assistance, more comfortable breastfeeding because it was practical and economical, grateful to have struggled to provide breastfeeding so that children were healthy, disappointed and worried about breastfeeding, pain, and tiredness of breastfeeding, the desire to obtain breastfeeding support and information from the hospital. The mother expects to obtain breastfeeding support in the form of information and assisting breastfeeding so that the mother understands how to breastfeed and does not experience breastfeeding problems when returning home. Conclusion: Our study hospital did not consistently serve as a friendly environment for breastfeeding mothers.Tujuan: Rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah permasalahan menyusui yang tidak segera teratasi oleh petugas kesehatan di rumah sakit. Ibu baru melahirkan di RSIA X mengharapkan bantuan dan pendampingan petugas kesehatan sehingga ibu tidak mengalami kesulitan menyusui. Penelitian ini bertujuan mengungkap pengalaman ibu menyusui di RSIA X. Metode: Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi di RSIA Kota Malang pada bulan April-Mei 2019. Wawancara mendalam terhadap 5 informan dipilih secara purposive sampling. Data dianalisa menggunakan Interpretive Phenomenology Analysis. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak semua informan memiliki pengalaman yang sama dalam memperoleh dukungan menyusui dari rumah sakit. Setiap ibu memiliki keinginan untuk menyusui buah hatinya karena lebih nyaman dan praktis, namun tidak semua dapat menyusui dengan mudah. Setiap ibu pernah merasakan kecewa, khawatir dan luka saat menyusui. Simpulan: Permasalahan tersebut yang menyebabkan adanya harapan informan untuk memperoleh pendampingan menyusui dari rumah sakit