Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Paparan benzena di udara ambien dan kadar transtrans muconic acid urin pada pekerja industri percetakan di Kota Medan
Purpose: Printing industry use chemicals containing benzene in the process of production. Accumulation of benzene concentration in human body can cause health problem. Low-level exposure can cause dizzy, nausea, and central nervous system disorders and high level of benzene can lead to death. The purpose of this research is to analyze benzene exposure in the acid trans-trans muconic in worker urine.Method: The design of this research was quantitative with cross-sectional design. A sample of 50 printing workers were selected for this was based on technique consecutive.Results: The result showed that, there is a correlation between benzene and time of exposure and trans-trans muconic acid level with p 500/ μg/g creatinine). There are 38 man (76%) and 12 person woman (24%), workers exposed to benzene > 8 hours 35 person (70%) workers with years of service ≥ 2 years 36 person (72%), workers not smoking 33 person (66%) and workers not using (respiratory mask N95) Personal Protective Equipment 43 person (86%).Conclusion: There are correlation benzene levels with trans-trans Muconic Acid urine. It is suggested to the owner of printing industry may provide personal protective equipment (respiratory mask N95 and gloves). Department of Labor should make policies and monitoring related printing industry problems.
Pemberian ASI eksklusif dengan perkembangan bayi usia 6-9 bulan di kabupaten Labuhanbatu
Exclusive breastfeeding with the development of 6 to 9 month - old babies in the Labuhanbatu RegencyPurpose: This study aims to analyze the relationship between the pattern of breastfeeding and exclusive breastfeeding with the development of infants aged 6-9 months in the work area of the Suka Makmur Health Center in Labuhanbatu Regency in 2018.Method: This type of research is analytical research with a cross-sectional study design. The population in this study were infants aged 6-9 months with a total sampling technique of 84 infants. The data analysis method used in this study was Chi-square analysis with a significance level of 95% (α = 0.05).Results: The results showed that 49 mothers (58.3%) gave exclusive breastfeeding. Chi-square analysis showed that there was a significant relationship between exclusive breastfeeding and the development of infants aged 6-9 months (p = 0,0001).Conclusion: There is a significant relationship between exclusive breastfeeding and infant development. Suggestions in this study were to increase motivation and encouragement from health workers to mothers to give breast milk exclusion to their babies for optimal infant development.Exclusive breastfeeding with the development of 6 to 9 month old babies in the Labuhanbatu regencyPurpose: The success of child development is influenced by the growth and development of the brain. Child development is influenced by several factors, one of which is the most important, namely nutritional factors. Growth of children, especially at the beginning of life until the age of 12 months is strongly influenced by the element of nutrition and breast milk is the main choice of the best food for babies. This study aims to analyze the relationship between the pattern of breastfeeding and exclusive breastfeeding with the development of infants aged 6-9 months in the work area of the Suka Makmur Health Center in Labuhanbatu Regency in 2018. Method: This type of research is analytical research with a cross-sectional study design. The population in this study were infants aged 6-9 months with a total sampling technique of 84 infants. The data analysis method used in this study was chi square analysis with a significance level of 95% (α = 0.05). Results: The results showed that 49 mothers (58.3%) gave exclusive breastfeeding. Chi square analysis showed that there was a significant relationship between exclusive breastfeeding and the development of infants aged 6-9 months (p = 0,0001). Conclusion: There is a significant relationship between exclusive breastfeeding and infant development. Suggestions in this study were to increase motivation and encouragement from health workers to mothers to give breast milk exclusion to their babies for optimal infant development.EXCLUSIVE BREASTFEEDING WITH THE DEVELOPMENT OF 6 TO 9 MONTH - OLD BABIES IN THE LABUHANBATU REGENC
Rancang bangun sistem pengajuan ethical clearance pada komisi etik penelitian
Latar belakang: Setiap penelitian yang melibatkan manusia diwajibkan telah memperoleh ethical clearance. Ethical clearance ini diperlukan untuk memastikan bahwa penelitian telah memenuhi prinsip menghormati harkat dan martabat manusia (respect for person), prinsip berbuat baik yang bermanfaat (benefience) dan tidak merugikan (nonmalbenefience) serta prinsip keadilan (justice). UU Kesehatan No 36 Tahun 2009 Bab V Pasal 44 menyebutkan bahwa uji coba harus bersifat tidak merugikan dan seizin yang diuji coba. Pasal ini juga menggarisbawahi pentingnya menjaga kelestarian bila penelitian melibatkan hewan. Penelitian juga bukan hanya menyangkut metodologi, namun juga harus mempertimbangkan aspek norma. Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) FIKES UNRIYO telah berkembang pesat. Untuk itu perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Untuk meningkatkan pelayanan, maka perlu direncanakan sebuah sistem yang terintegrasi dan mudah diakses. Tujuan: merancang bangun sistem informasi pengajuan ethical clearance dengan pemanfaatan teknologi informasi khususnya teknologi internet dalam proses pengusulan sampai dengan rekomendasi ethical clearance oleh peneliti mahasiswa dan dosen yang dapat dilakukan secara online. Metode: rancang bangun sistem informasi usulan ethical clearance menggunakan metode pengembangan perangkat lunak yaitu metode waterfall dalam proses pengembangan sistem dengan tahapan identifikasi awal (mengidentifikasi permasalahan pada proses bisnis), analisa (melakukan analisa kebutuhan dan kelayakan sistem yang akan dikembangkan), perancangan (melakukan rancangan arsitektur sistem, model proses, model data dan antarmuka sistem), coding (melakukan pembuatan aplikasi ) dan implementasi (menerapkan aplikasi dan melakukan uji coba fungsional sistem). Hasil: Hasil penelitian berupa sistem informasi berbasis web yang dapat diakses secara online oleh peneliti (dosen dan mahasiswa) untuk melakukan proses layanan pengusulan sampai dengan rekomendasi ethical clearance dengan media online (paperless). Simpulan: Hasil dari rancang bangun sistem dapat memudahkan para peneliti dalam proses usulan sampai mendapatkan rekomendasi dapat dilakukan dan dilayani secara online dan bagi reviewer dapat melakukan waktu penilaian penelitian tanpa kedala dalam keterbatasan waktu kerja
The involvement of TB counselors increased the case finding figures of child TB in Fanayama and Maniamolo Sub-districts in South Nias Regency
Purpose: The number of TB case detection rate in 2017 in South Nias Regency is 18%. This figure is still far from the national target of TB case detection rate. In addition, the absence of data for child TB cases is another worrying problem considering that only 9% of TB patients in South Nias are treated properly according to standards.Method: Since 2015, Wahana Visi Indonesia (WVI) in collaboration with the South Nias Health Office has trained TB counselors in 8 villages in the work area of 2 health centers covering 2 sub-districts in South Nias. As many as 55 TB counselors have been trained and actively involved in conducting case discoveries in their respective villages. One of the material that should mastered by TB counselors is to use a scoring system in determining suspected child TB cases and then refer the patients to the health center for further treatment. Results: The involvement of TB counselors in the discovery of suspected child TB cases in their respective areas is expected to contribute to increase the number of case detection rate of child TB at the health center.Conclusion: There were no cases of child TB recorded at those 2 health centers before. Then, 3 cases reported in 2016. In 2017 there were 6 cases of child TB recorded in 2 health centers. This number increased to 12 in 2018. The cause of this increase is due to the involvement of TB counselors using a scoring system and applied referral mechanisms
Penundaan waktu berkunjung masyarakat dan pembatasan penggunaan gadget pada ibu postpartum dapatkah mengurangi kejadian postpartum blues?
Latar belakang: Perasaan sedih, cemas, dan depresi setelah melahirkan pada periode 2 minggu pertama disebut dengan postpartum blues. Faktor risiko terjadinya postpartum blues diantaranya adalah pengalaman yang buruk pada masa kehamilan, persalinan dan nifas. Masalah sering timbul pada masa nifas terkait pemberian ASI ekslusif. Ibu dengan latar belakang pendidikan kesehatan menganggap kegagalan dalam memberikan ASI ekslusif adalah masalah besar. Keluhan ini diperberat dengan adanya orang yang datang berkunjung dan membahas tentang pemberian ASI, lebih berat lagi jika yang datang adalah teman sejawat kesehatan dan memberikan dukungan serta pengalaman tentang keberhasilan mereka memberikan ASI Ekslusif, kelompok ini cenderung mencari solusi awal melihat postingan media sosial tentang pemberian ASI, namun informasi yang kontradiktif dan argumentasi tajam antara kelompok ibu pendukung ASI dan yang memberikan susu formula semakin membuat ibu merasa tertekan, sehingga ibu menyalahkan dirinya sendiri, berpikir keras mencari solusi, minum suplemen ASI, makan lebih banyak dan membeli susu formula yang mahal, keluhan tidur terbalik sering dirasakan (disaat anak tidur ibu tidak mengantuk, disaat anak terjaga ibu malah ngantuk). Tujuan: Mendapatkan gagasan mengenai solusi aternatif dalam mencegah terjadinya postpartum blues pada ibu-ibu yang gagal memberikan ASI ekslusif pada bayinya. Metode: Studi kasus pada komunitas ibu-ibu yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan dengan masalah pemberian ASI ekslusif. Pengumpulan data melalui wawancara langsung dan melihat komentar informan pada grup facebook. Rekomendasi: Perlu penelitian lebih lanjut tentang alternatif solusi kebijakan penundaan waktu kunjungan pada ibu melahirkan dan pembatasan penggunaan gadget dalam interaksinya menggunakan media sosial
Pemanfaatan bantuan tunai bersyarat untuk antenatal care dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu hamil: systematic review
Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui pemanfaatan Cash Conditional Transfer (CCT) untuk Antenatal Care (ANC) dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu hamil. Metode: Penelitian ini merupakan Tinjauan Sistematik (Systematic Review). Penelitian ini dikumpulkan melalui pencarian dengan menggunakan strategi dan studi yang dikompilasi dari sumber basis data yang meliputi google schoolar, Proquest dan PubMed dalam rentang waktu 5 (lima) tahun yaitu dari tahun 2014 hingga tahun 2018. Menggunakan kata kunci dasar dan kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan Teknik PICO-S (Population Intervention Comparison Outcome), menghasilkan beberapa kata kunci (1) “Cash Conditional Transfer (CCT)”, (2) “kesehatan ibu hamil” (3) Antenatal Care (ANC). Dari pencarian ditemukan 384 (tiga ratus delapan puluh empat) studi dan 5 (lima) studi masuk dalam penelitian ini. Hasil: Cash Conditional Transfer (CCT) secara significant memiliki dampak terhadap pemanfaatan ANC dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil dengan perawatan bagi ibu hamil dan ibu hamil dengan komplikasi, perawatan ibu post partum, dan melahirkan di fasilitas kesehatan dengan tenaga kesehatan terampil. Program Conditional Cash Transfer (CCT) di Malawi memberikan manfaat bagi ibu hamil untuk mencari perawatan bagi ibu hamil yang komplikasi menurun 27,3%. Program CCT di India yang dikenal dengan nama program Janani Suraksha Yojana (JSY) memberikan peluang kepada ibu hamil dengan sosial ekonomi rendah untuk dapat meningkatkan kunjungan ke pelayanan di fasilitas kesehatan dari 39% menjadi 74% dan berdampak terhadap penurunan kematian neonatal. Selain itu CCT di India juga dengan program JSY dapat meningkatkan kunjungan post partum di fasilitas kesehatan sehingga dapat meningkatkan pemberian asi eksklusif. Di Nepal menunjukan bahwa untuk meningkatkan persalinan ibu hamil oleh tenaga kesehatan terampil tidak hanya melalui program CCT saja tapi harus disertai dengan investasi infrastruktur untuk daerah-daerah dengan akses kondisi geografis yang tidak memadai. Simpulan: Dari hasil penelitian di beberapa negara, menunjukkan bahwa program CCT berdampak positif pada pemanfaatan untuk ibu hamil dalam upaya meningkatan kesehatan ibu hamil
Impact of conditional cash transfer on children's health: a systematic review
Introduction: Complex Multi-dimensional relationships between social, economic and cultural and biological factors determine the nutritional status and health of children. Poverty and vulnerability lead to limited access to food and basic services including basic health services. Poverty makes families have limitations in providing care and attention to children, thus contributing to morbidity and mortality. To reduce the burden of morbidity and nutritional deficits produced by poverty, many countries have adopted strategies that include conditional cash transfer (CCT), combined with health and education actions. Methods: Using a systematic review, search using strategies and studies compiled from database sources include: PubMed, Proquest and Google Schoolar from January to February 2019, using basic keywords and inclusion and exclusion criteria with PICO-S techniques (Population Intervention Compare Outcome-Study design), resulting in some keywords: (1) "conditional cash transfer", (2) "child health", (3) "impact OR Effect", (4) "Quasi Experimental". 2,933 studies were found and 4 studies were included in this study. Results: The CCT program has a significant effect on reduced odds of thinness and higher BMI-for-age z-scores, increase in immunization rates of fully vaccinated children, increase in body weight and height and to cut malnutrition. Conclusion: from the results of studies in several countries, all the results of the study showed that the CCT program had a positive impact on children's health including improving nutritional status and fulfilling basic immunizatio
Determinan sosial perilaku merokok usia dewasa di kota Kediri
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor determinan sosial perilaku merokok di Kota Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional, dilakukan pada jenis kelamin laki-laki usia dewasa 25-64 tahun yang ada di Kota Kediri. Variabel-variabel determinan sosial yang diteliti adalah umur, tingkat pendidikan, lama pendidikan, penghasilan rumah tangga, pekerjaan dan lokasi tempat tinggal. Analisis statistik dilakukan univariat dan bivariat. Analisis univariat untuk mengetahui prevalensi perokok dan determinan sosial. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui odds ratio (OR) dan p-value variabel determinan sosial dengan merokok. Software statistik yang digunakan adalah SPSS. Hasil: Penelitian dilakukan pada 425 responden, didapatkan prevalensi perokok pada laki-laki dewasa di Kota Kediri adalah 79.53%. Variabel determinan sosial yang paling berpengaruh terhadap perilaku merokok adalah tingkat pendidikan rendah (OR: 3.63; p-value: 0.001) dan sedang (OR: 3.48; p-value: 0.000) dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Variabel lain tidak ada yang berpengaruh secara signifikan. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor pengetahuan merupakan determinan sosial yang paling berpengaruh terhadap perilaku merokok. Meningkatkan pengetahuan dapat merubah perilaku merokok pada orang dewasa di daerah penghasil rokok seperti Kota Kediri. Puskesmas dan dinas kesehatan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui penyuluhan rutin
Pola asuh dan pola makan sebagai faktor risiko stunting balita usia 6-24 bulan suku Papua dan non Papua di wilayah kerja Puskesmas Arso III kabupaten Keerom
Parenting and feeding paterns as risk factors for stunting toddlers aged 6-24 months Papuans and Non-PapuansPurpose: Stunting or short is one indicator of chronic nutritional status that has long-term effects. The stunting prevalence in Indonesia in 2013 was 37.2% and in Papua in 2016 amounted to 51.72%. In 2017 there were 527 stunting toddlers in Keerom Regency and 214 toddlers found in Skanto District. This study aims to determine the risk of parenting and feeding patterns to the incidence of stunting of children aged 6-24 months in the Papuan and Non-Papuan tribes in the Arso III Health Center, Keerom. Method: This type of research is observational with a case-control design. A total of 160 toddlers were divided into 40 cases and 40 controls in each tribe. Data collection uses parenting questionnaires and SQ-FFQ. Data analysis used the Independent T-Test, Mann-Whitney, Chi-Square and Multiple Logistic Regression. Results: The results of the bivariate analysis showed that there were differences in energy and protein intake and there were no differences in parenting and types of food in Papua and non-Papuan stunting children. In the Papuan tribe there is a relationship between parenting (OR=5.57), energy intake (OR=16.71), protein intake (OR=13.77), type of food (OR=4.63), and incidence of diarrhea (OR= 3.14) with the incidence of stunting. In the Non-Papuan tribe, there is a relationship between parenting (OR=8.03), energy intake (OR=11.76) and protein intake (OR=26.71) with the incidence of stunting. The results of multivariate analysis showed that the factors that contributed to the incidence of stunting in the Papuan tribe were parenting, energy intake, protein intake, and diarrhea, while in the Non-Papuan tribes were parenting, energy intake and protein intake. Conclusion: Parenting, energy intake and protein intake are risk factors for stunting in Papuans and non-Papuans. Energy intake is the most dominant factor in Papuans, while in Non-Papuans is protein intake. It is hoped that the local government can create special family assistance programs or activities to overcome stunting and use land that can prevent or overcome stunting.Latar belakang: Stunting atau pendek merupakan salah satu indikator status gizi kronis yang berpengaruh jangka panjang. Sebanyak 151 juta anak-anak di dunia menderita stunting pada 2017. Prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 37,2% dan di Papua tahun 2016 sebesar 51,72%. Tahun 2017 terdapat 527 balita stunting di Kabupaten Keerom dan 214 balita terdapat di Distrik Skanto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko pola asuh dan pola makan terhadap kejadian stunting balita usia 6-24 bulan suku Papua dan Non Papua di wilayah kerja Puskesmas Arso III Kabupaten Keerom. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan Case Control. Total sampel 160 balita yang terbagi dalam 40 kasus dan 40 kontrol pada masing-masing suku. Analisis data menggunakan uji Independent T-Test, Mann-Whitney, Chi-Square dan Regresi Logistik Berganda. Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada perbedaan asupan energi dan protein balita stunting Papua dan Non Papua. Pada suku Papua terdapat hubungan antara pola asuh (OR=5,57), asupan energi (OR=16,71), asupan protein (OR=13,77), jenis makanan (OR=4,63), dan kejadian diare (OR=3,14) dengan kejadian stunting. Pada suku Non Papua terdapat hubungan antara pola asuh (OR=8,03), asupan energi (OR=11,76) dan asupan protein (OR=26,71) dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stunting pada suku Papua adalah pola asuh, asupan energi, asupan protein dan diare, sedangkan pada suku Non Papua adalah pola asuh, asupan energi dan asupan protein. Simpulan: Pola asuh, asupan energi dan asupan protein merupakan faktor risiko kejadian stunting pada suku Papua maupun Non Papua. Asupan energi merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi stunting pada suku Papua, sedangkan pada suku Non Papua adalah asupan protein. Diharapkan pemerintah setempat dapat membuat program atau kegiatan pendampingan keluarga khusus untuk mengatasi stunting dan memanfaatkan lahan yang dapat mencegah maupun mengatasi kejadian stunting
KARAKTERISTIK PILIHAN MAKANAN DAN INFORMASI KANDUNGAN ZAT GIZI MAKANAN; STUDI MELALUI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM
Characterizing food choices and nutritional information: study through social media instagramPurpose: Instagram is one of the popular social media platform that provide users to capture and share photos and videos. Instagram serves as an attractive choices to individuals intending to share photos of food they are consuming. Due to the popularity of Instagram, the availability of rich data can be analyzed and produce information. Using Instagram as a food photos database, researcher wants to identify characteristics dietary choices and nutritional information of food based on Instagram.Method: this study presents both qualitative and quantitative data. Qualitative data collection was conducted by semi structured interviews with 11 participants and qualitative data collection was taken from food photos database on Instagram with 400 samples.Results: Food items more extensively mentioned (n=291) 72,75% in Instagram post is high calorie food (554 calories). Instagram manifest consumption is characterized by high carbohydrate (154 grams) 54,25% (n=217), high fat (31 grams) 45,5% (n=182), high sodium (810 mg) 82% (n=328), low protein (16 grams) 65,75% (n=263), and low fiber (7 grams) 70% (n=280) food. There were no differences in food characteristics posts between male and female users (p=7,61).Conclusion: Characteristics of food posts on Instagram are classified as high calorie foods. The nutritional information of food posts on Instagram contains high carbohydrate, high fat, high sodium, low protein, and low fiber. Our participants choose to use Instagram because it provided an easier and more fun for food tracking and journaling. Participants can receive emotional support by finding others similar interested and social interaction between users and also gave them a way to self express through food photos.Latar belakang: Instagram merupakan sebuah aplikasi untuk berbagi gambar dan video, salah satu jenis gambar yang banyak diunggah adalah gambar makanan. Banyaknya pengguna yang mengunggah gambar makanan di media sosial Instagram membuat data unggahan mengenai makanan jumlahnya tidak terbatas. Data tersebut dapat diolah dan digunakan untuk menghasilkan suatu informasi. Tersedianya data mengenai makanan di media sosial Instagram membuat peneliti ingin mengetahui bagaimana karakteristik pilihan makanan dan informasi kandungan gizi makanan berdasarkan media sosial Instagram.Metode: merupakan penelitian yang melibatkan pengumpulan data kualitatif dan data kuantitatif. Pengumpulan data kualitatif melalui wawancara pada 11 subjek sedangkan pengumpulan data kuantitatif berasal dari data unggahan gambar makanan di Instagram sebanyak 400 sampel.Hasil : Gambar makanan yang diunggah (n=291) 72,75% tergolong kategori tinggi kalori (554 kalori). Informasi kandungan gizi makanan, sebagian unggahan (n=217) 54,25% mengandung tinggi karbohidrat (154 gram), (n=182) 45,5% mengandung tinggi lemak (31 gram), (n=328) 82% mengandung tinggi sodium (810 mg), (n=263) 65,75% mengandung rendah protein (16 gram), dan (n=280) 70% mengandung rendah serat (7 gram). Tidak ada perbedaan karakteristik unggahan makanan antara pengguna berjenis kelamin laki-laki dan perempuan (p=0,761).Kesimpulan : Karakteristik unggahan gambar makanan di Instagram merupakan makanan yang mengandung tinggi kalori. Kandungan gizi unggahan gambar makanan di media sosial Instagram mengandung tinggi karbohidrat, tinggi lemak, tinggi sodium, rendah protein dan rendah serat. Media sosial Instagram dapat digunakan sebagai media pencatatan makanan. Instagram dipilih sebagai media untuk mengunggah gambar makanan karena menyediakan interaksi sosial antar pengguna dan pengguna bebas mengekspresikan diri melalui unggahan.Kata Kunci : karakteristik makanan, kandungan gizi, Instagram