Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Peranan kader dalam meningkatkan kemandirian pada orang dengan gangguan Jiwa
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar dan hidup layak di masyarakat. Semua pihak seharusnya menghilangkan pandangan negatif terhadap ODGJ. Untuk meningkatkan kemandirian ODGJ dilakukan kerjasama antara kader, keluarga, masyarakat dan petugas. Penelitian ini untuk menggambarkan hasil kegiatan penanganan ODGJ oleh kader, pengetahuan kader tentang ODGJ dan mengetahui peranan kader dalam meningkatkan kemandirian ODGJ di Desa Kaligintung wilayah kerja UPTD Puskesmas Temon I. Dilakukan wawancara mendalam kepada 2 kader kesehatan jiwa sebagai pendamping ODGJ di wilayah Puskesmas Temon I Desa Kaligintung mengenai pengetahuan, kegiatan dan hasil kegiatan dalam menangani ODGJ di masyarakat. Pengetahuan kader tentang ODGJ sudah cukup. Kegiatan dan ketugasan kader kesehatan jiwa adalah melakukan deteksi dini, rujukan, penggerakan keluarga, kunjungan rumah dan pelaporan. Kader, ODGJ , keluarga dan petugas mengadakan pertemuan untuk terapi aktifitas kelompok secara rutin. Hasil dari penanganan ODGJ ini ada 11 ( 61,1 %) rutin mengikuti kegiatan dari 18 penderita yang ada. Penderita yang rutin minum obat ada 8 ( 44,4 %), yang rajin ibadah ada 5 (27,8%), yang berusaha ekonomi produktif ada 3 (16,7), bahkan sudah ada yang berkerja di dealer motor. Peran kader sudah baik dalam meningkatkan kemandirian ODGJ. Untuk keberlanjutan kegiatan perlu adanya dukungan dan peran dari petugas/pemerintah/LSM, kader, masyarakat dan keluarga ODGJ tersebut
Efektivitas menggunakan pajak minuman manis untuk mengurangi obesitas: tinjauan sistematis
The effectiveness of taxes on sugar-sweetened beverages to reduce obesity: a systematic reviewPurpose: Use of taxes on Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) can contribute to reducing the prevalence of obesity. However, how much effectiveness needs to be proven. Method: A systematic review was carried out on articles published between 2013-2018, which examined the effectiveness of the SSBs tax to prevent obesity. Results. Five relevant studies were included in this review. One study discussed the effectiveness of SSBs tax to provide benefits for saving health care costs. Two studies concluded that the tax for consumption and the purchase of SSBs decreases and had an impact on weight loss. Finally, two other studies reported the effectiveness of SSBs tax in more detail to decreasing DALYs and increasing QALYs, which can save health care costs. Conclusion: The application of a 20% SSBs tax is effective for reducing excess weight, increasing QALYs, and decreasing DALYs. SSBs tax should consider different countries consumer behavior in substituting and complementing other beverage products containing sweeteners.Tujuan: Penerapan pajak atas minuman manis dapat memberikan kontribusi dalam menurunkan prevalensi obesitas. Namun, seberapa besar efektivitasnya perlu dibuktikan. Metode: Tinjauan sistematik dilakukan pada artikel yang terbit antara Tahun 2013-2018 yang meneliti efektivitas penerapan pajak minuman manis terhadap penurunan obesitas. Hasil: Diperoleh lima studi yang relevan, satu studi membahas efektivitas penerapan pajak minuman manis dalam memberikan manfaat penghematan biaya perawatan kesehatan, dua studi lain membahas dengan adanya pajak minuman manis tingkat konsumsi dan pembelian minuman manis berkurang serta berdampak pada penurunan berat badan. Terakhir, dua studi lainnya membahas efektivitas penerapan pajak minuman manis lebih detil hingga penurunan DALYs dan peningkatan QALYs meningkat yang dapat menghemat biaya perawatan kesehatan. Simpulan: Penerapan pajak minuman manis sebesar 20% efektif untuk mengurangi obesitas dan menurunkan kelebihan berat badan serta meningkatkan QALYs dan menurunkan DALYs. dalam menerapkan pajak minuman perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara dan mempertimbangkan perilaku konsumen dalam melakukan substitusi dan komplementar terhadap produk minuman yang mengandung pemanis lainnya.The effectiveness of using taxes on sugar-sweetened beverages to reduce obesity: a systematic reviewPurpose: Using of taxes on Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) can contribute to reducing the prevalence of obesity. However, how much effectiveness needs to be proven. Method: A systematic review was carried out on articles published between 2013-2018 which examined the effectiveness using of the tax on Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) to reduce obesity. Results: Obtained five relevant studies, one study discusses the effectiveness using of the tax on Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) to provide benefits for saving health care costs, two other studies discuss the existence of a Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) tax rate of consumption and the purchase of Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) decreases and has an impact on weight loss. Finally, two other studies discuss the effectiveness using of Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) tax in more detail to decreasing DALYs and increasing QALYs which can save health care costs. Conclusion: The application of a 20% Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) tax is effective for reducing obesity and reducing excess weight and increasing QALYs and decreasing DALYs. Using of Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) tax, it needs to be adjusted to the needs of each country and consider consumer behavior in substituting and complementing other beverage products containing sweeteners
Beberapa faktor yang mempengaruhi praktik pencegahan penularan TB paru pada penderita TB paru positif di Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang
Tujuan Penelitian : Menganalisis beberapa faktor yang mempengaruhi Praktik Pencegahan Penularan TB Paru pada penderita TB Paru positif di Balkesmas Magelang. Metode : Penelitian ini termasuk studi eksplanatori (explanatory research), pendekatan yang digunakan secara kuantitatif dengan metode survey. Sampel penelitian Penderita TB Paru Positif yang berobat ke Poli DOTS Balkesmas Magelang, jumlah sampel 100 responden. Alat penelitian menggunakan kuesioner. Hasil penelitian : Praktik pencegahan penularan TB paru pada penderita TB Paru positif di Balkesmas Magelang dengan kategori tinggi (66%), lebih banyak dibandingkan dengan kategori rendah (34%). Analisis statistik variabel menunjukkan pengaruh yang dominan adalah Pendidikan: Sig. 0,027 (ρ<0,05) nilai Exp(B) 0,115, Pekerjaan: Sig. 0,037 (ρ<0,05) nilai Exp(B) 230,173, Pengetahuan: Sig. 0,005 (ρ<0,05) nilai Exp (B) 0,027, Sikap: Sig. 0,004 (ρ<0,05) nilai Exp(B) 0,010, Persepsi terhadap Dukungan Keluarga: Sig. 0,016 (ρ<0,05) nilai Exp(B) 0,067. Kesimpulan : 1.Praktik pencegahan penularan TB Paru pada penderita TB Paru positif di Balkesmas Magelang dengan kategori tinggi (66%), lebih banyak dibandingkan kategori rendah (34%). 2.Variabel penelitian yang berpengaruh terhadap praktik pencegahan penularan : pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap dan persepsi terhadap dukungan keluarga. Saran : Petugas Kesehatan supaya lebih aktif lagi dalam kegiatan penyuluhan kesehatan, menyediakan bahan edukasi dalam bentuk leaflet, Poster/Banner dan pemutaran Film tentang perawatan pasien TB Paru terutama pencegahan penularan TB Paru, penderita TB Paru positif selalu menerapkan etika batuk dimanapun berada, menyediakan sarana prasarana untuk mencegah penularan TB paru
Pentingnya kolaboratif seorang hygiene gigi dikesehatan gigi dan mulut di Indonesia
Tujuan: Mengenalkan peran Hygiene Gigi sebagai bagian dari profesi kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Isi: Kesadaran kebersihan gigi dan mulut di Indonesia terbilang rendah. Berdasarkan Riskesdas 2013, diketahui 25,9% penduduk mengalami permasalahan gigi dan mulut, terjadi peningkatan sebesar 2,4% dari Riskesdas 2007. Hanya sebanyak 31,1% menerima perawatan gigi dan mulut, sedangkan 68,9% lainnya tidak. Mengapa kesehatan gigi dan mulut penting? Karena kondisi gigi dan mulut berhubungan langsung dengan kesehatan masyarakat secara umum. Mencegah penyakit gigi dan mulut lebih dini berarti mencegah gangguan sistemik seperti kelainan katup jantung, infeksi ginjal dan penykit kronis lainnya. Masyarakat Indonesia cenderung untuk mencari pengobatan gigi dan mulut jika sudah terjadi penyakit dan memerluka perawatan kompleks. Hal ini memerlukan fokus tindakan dalam hal promotif dan preventif bersifat intervensi yang hanya dapat dilakukan apabila Dokter Gigi tersebut berperan dalam pelayanan primer. Perlu adanya profesi yang berfokus pada promotif dan preventif mengingat profesi Dokter Gigi umumnya berfokus pada kuratif dan rehabilitatif. Hygiene Gigi adalah profesi ahli kesehatan gigi dan mulut profesional yang melakukan perawatan primer serta berperan dalam pengembangan pendidikan kesehatan gigi dan mulut, administratif manajerial, pelayanan pencegahan dan servis therapeutic secara keseluruhan melalui promosi kesehatan gigi dan mulut yang optimal. Dalam praktiknya, Hygiene Gigi memiliki peran ganda dalam pencegahan serta peningkatan kesehatan gigi dan mulut. Lesson Learned : Hygiene Gigi dapat membantu kegiatan UKGMD yang dilakukan oleh Puskesmas serta kegiatan lainnya atau menciptakan inovasi kegiatan promotif dan preventif. Dengan demikian, angka penyakit gigi dan mulut akan menurun dan angka kesadaran masyarakat di Indonesia akan meningkat dengan bertambahnya kunjungan di pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk melakukan kegiatan preventif sebelum terjadi penyakit
Identifikasi potensi bahaya pada proses pengangkutan hasil panen pertanian dengan metode job safety analysis di kecamatan Modoinding, Sulawesi Utara
Tujuan: Identifikasi potensi bahaya dalam proses pengangkutan hasil panen pertanian dengan menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA). Isi: Kecelakaan kerja disebabkan oleh faktor manusia, material, peralatan dan lingkungan[2]. Menurut International Labour Organization terdapat 250 juta kecelakaan di tempat kerja setiap tahun, 160 juta pekerja menjadi sakit akibat bahaya di tempat kerja. Di Indonesia, jumlah kasus kecelakaan akibat kerja tahun 2014 sebanyak 24.910[3]. Untuk mengetahui potensi bahaya dari suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan metode Job Safety Analysis (JSA) sebagai upaya mencegah dan minimalisir terjadi kecelakaan kerja[4]. Kecamatan Modoinding terdiri dari 10 desa dengan masyarakat sebagian besar adalah petani dan sebagai penghasil bahan pertanian terbesar di Provinsi Sulawesi Utara khususnya tanaman hortikultura. Pengangkutan hasil panen di kebun biasanya menggunakan kendaraan yang disebut masyarakat setempat “kalero”. Kendaraan ini berupa motor yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga digunakan untuk membawa hasil panen maupun alat pertanian (pompa air, selang, alat penyemprotan, pupuk). Proses pengangkutan hasil panen menggunakan kalero berisiko merugikan pekerja dan lingkungan.Tabel 1. Identifikasi potensi bahaya dalam proses pengangkutan dengan metode JSA Potensi Bahaya Petani/pekerjaTidak menggunakan helm, maskerBobot muatan berat pada jalan yang curam dan permukaan tanah tidak rataPetani yang naik diatas muatan bahan bisa cedera karena jatuhPeralatanModifikasi motor dengan penambahan material kayu di kedua sisi dan tidak memiliki remPengaruh lingkunganPencemaran udaraKebisingan Simpulan: Potensi bahaya dalam proses pengangkutan hasil panen menggunakan kendaraan kalero; pertama terhadap pekerja, disebabkan oleh pemanfaatan kendaraan pengangkut hasil panen pertanian yang tidak sesuai peruntukkan. Kedua, potensi bahaya peralatan yang digunakan sudah tidak sesuai standar penggunaan dan ketiga terkait dengan lingkungan dapat menyebabkan polusi udara dan kebisingan.
Analisa kebutuhan diklat sebagai salah satu sistem pendukung keputusan dalam menyusun program pelatihan di Bapelkes Yogyakarta
Latar belakang: dalam rangka meningkatkan kualitas SDM yang kompeten dan profesional perlu diselenggarakan pendidikan dan pelatihan secara terus menerus dan terprogram sesuai dengan kebutuhan kompetensi dari masing-masing organisasi kesehatan di DIY. Bapelkes Yogyakarta sebagai institusi yang mempunyai tupoksi menyelenggarakan pelatihan bidang kesehatan mempunyai peranan yang strategis dalam pengembangan SDM kesehatan melaui pelatihan. Menentukan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi bukanlah sesuatu yang mudah. Analis dan keputusan tentang jenis pelatihan yang tepat mejadi salah satu yang harus dilakukan oleh setiap lembaga kediklatan. Oleh karena itu Bapelkes Yogyakarta melaksanakan Analisa Kebutuhan Diklat sebagai langkah awal dalam sistem manajemen diklat untuk dapat menentukan jenis pelatihan yang tepat. Tujuan: kegiatan AKD ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan bagi puskesmas di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode: FGD terhadap 50 Puskesmas di wilayah DIY. Alat bantu : form isian AKD. Hasil: dengan menggunakan tenik USG (urgency, seriousness, growth) didapatkan 5 pelatihan kesehatan prioritas yang akan menjadi pertimbangan untuk pengambilan keputusan dalam pengusulan program pelatihan pada tahun 2019 yaitu 1. Manajemen Puskesmas, 2.Promkes & Pemberdayaan Masyarakat 3.Patient Safety, 4. BHD Bagi Sopir Ambulan dan 5. Manajemen Pelayanan Gizi Puskesmas. Simpulan : Analisa Kebutuhan Ddiklat sangat diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan sekaligus gap yang terjadi pada suatu oragnisasi/karyawan. AKD merupakan salah satu sistem pendukung keputusan yang membantu para penentu kebijakan Bapelkes dalam menyusun program pelatihan. Selanjutnya Bapelkes perlu mengembangkan metode AKD yang bisa menjaring responden (organisasi) lebih banyak dengan waktu dan biaya yang lebih efisien yaitu dengan mengembangkan AKD On Line
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid pada penduduk wilayah pinggiran sungai Musi di Seberang Ulu Palembang tahun 2019
Risk factors of typhoid fever in the residential population of Musi river 2019Purpose: This study aims to determine the factors related to the occurrence of typhoid fever in the residential of the Musi River in Seberang Ulu Palembang. Method: This research is a quantitative study using a case control design with a population of 106 samples using the Musi river suburb of Seberang Ulu using a proportional cluster sampling technique. Data analysis carried out in this study were univariate, bivariate, and multivariate.Results: The results of the study of the incidence of typhoid fever in the population of the Musi River region in Seberang Ulu showed a low socioeconomic (p value = 0.032), low education (p value = 0.015), individual hygiene (pvalue = 0,000), using the toilet (pvalue 0.025), clean water quality (p value = 0.034), garbage storage facility (pvalue = 0.006), fecal leasing facility (pvalue = 0.018) is related to the incidence of typhoid fever, age, gender, occupancy density is not relationship with the incidence of typhoid fever Based on the results of multivariate analysis, the variable waste disposal facility is the most influential variable with the Odds Ratio 3.557; 95% CI 0.951-13,229.Conclusion: It can be concluded that the waste disposal facilities in the Musi River suburb in Seberang Ulu are still not good and become a dominant factor influencing the incidence of typhoid fever so it is advisable to carry out outreach efforts to increase environmental awareness and provide garbage disposal infrastructure to meet the requirements of a healthy environment. and looking for trash transport officers to then be transported to temporary landfills.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid pada penduduk wilayah pinggiran sungai musi di Seberang Ulu Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain case control dengan Sampel penduduk wilayah pinggiran sungai musi di Seberang Ulu sebanyak 106 sampel menggunakan teknik propotional cluster sampling. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian kejadian Demam Tifoid pada penduduk wilayah pinggiran Sungai Musi di Seberang Ulu menunjukkan bahwa sosial ekonomi rendah (pvalue = 0,032), pendidikan rendah (pvalue = 0,015), higiene perorangan (pvalue = 0,000), sarana toilet (pvalue = 0,025), kualitas air bersih (pvalue = 0,034), sarana pembuangan sampah (pvalue = 0,006), sarana pembuangan tinja (pvalue = 0,018) ada hubungan dengan kejadian demam tifoid, sementara umur, jenis kelamin, kepadatan hunian tidak ada hubungan dengan kejadian demam tifoid. Berdasarkan hasil analisis multivariat, variabel sarana pembuangan sampah merupakan variabel yang paling mempengaruhi dengan Odds Ratio 3,557;95% CI 0,951-13,229. Dapat disimpulkan bahwa faktor sarana pembuangan sampah wilayah pinggiran sungai musi di Seberang Ulu masih kurang baik dan menjadi faktor dominan mempengaruhi kejadian demam tifoid sehingga disarankan melakukan upaya penyuluhan terhadap penduduk untuk meningkatakan kesadaran lingkungan dan menyediakan sarana prasarana tempat pembuangan sampah agar memenuhi persyaratan lingkungan yang sehat, serta mencari petugas pengangkut sampah untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan sampah sementar
Pengendalian hipertensi melalui intervensi berbasis masyrakat
Tujuan: Peningkatan Penyakit Tidak Menular sudah menjadi masalah kesehatan dalam satu decade terakhir ini, terbukti dari hasil Riskesadas 2018 menunjukkan hipertensi meningkat dari 25,8 % menjadi 34,1 %, peningkatan prevalensi stroke dari 7 % menjadi 10,9 %. Hipertensi adalah kondisi penyakit yang dapat dicegah terkait dengan gaya hidup yang tidak sehat termasuk merokok dan kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung, infark miokard dan stroke. Sebagian besar penyebab penyakit kardiovakular tejadi pada penderita hipertensi akibat ketidakteraturan mengontrolkan tekanan darah, ketidakpatuhan minum obat antihipertensi dan kurangnya interaksi dengan petugas kesehatan, terapi yang tidak adekuat dan faktor social economi.Metode: Penelitian ini menggunakan literature review dalam paparan prevalensi hipertensi dan dari berbagai hasil penelitian.Hasil: Hipertensi merupakan beban kesehatan masyarakat, sehingga membutuhkan strategi yang menekankan pada peningkatan kesehatan masyarakat di layanan kesehatan primer. Hambatan yang muncul dalam melakukan kontrol tekanan darah secara teratur diantaranya konseling yang kurang memadai, kurangnya pemahaman tentang penyakit, kesulitan mengakses dokter dan rendahnya kepatuhan pengobatan. Strategi yang dilakukan melalui intervensi berbasis masyarakat dalam mengendalikan hipertensi dengan melibatkan petugas kesehatan masyarakat dalam pencegahan hipertensi, perawatan berbasis tim untuk meningkatkan control tekanan darah dan skrining hipertensi melibatkan komunitas telah banyak mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovascular.Simpulan: pengendalian hipertensi melalui intervensi berbasis masyarakat yang menargetkan perubahan perilaku kesehatan dan kepatuhan pengobatan efektif mengurangi biaya perawatan kesehatan jangka panjang. Rekomendasi keberhasilan intervensi melalui penguatan sistem kesehatan pada layanan kesehatan primer dan melibatkan komunitas untuk memperluas layanan promotif dan preventif lebih efektif berdampak terhadap ekonomi dan keberlanjutan program.Tujuan: Peningkatan Penyakit Tidak Menular sudah menjadi masalah kesehatan dalam satu decade terakhir ini, terbukti dari hasil Riskesadas 2018 menunjukkan hipertensi meningkat dari 25,8 % menjadi 34,1 %, peningkatan prevalensi stroke dari 7 % menjadi 10,9 %. Hipertensi adalah kondisi penyakit yang dapat dicegah terkait dengan gaya hidup yang tidak sehat termasuk merokok dan kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung, infark miokard dan stroke. Sebagian besar penyebab penyakit kardiovakular tejadi pada penderita hipertensi akibat ketidakteraturan mengontrolkan tekanan darah, ketidakpatuhan minum obat antihipertensi dan kurangnya interaksi dengan petugas kesehatan, terapi yang tidak adekuat dan faktor social economi.Metode: Penelitian ini menggunakan literature review dalam paparan prevalensi hipertensi dan dari berbagai hasil penelitian.Hasil: Hipertensi merupakan beban kesehatan masyarakat, sehingga membutuhkan strategi yang menekankan pada peningkatan kesehatan masyarakat di layanan kesehatan primer. Hambatan yang muncul dalam melakukan kontrol tekanan darah secara teratur diantaranya konseling yang kurang memadai, kurangnya pemahaman tentang penyakit, kesulitan mengakses dokter dan rendahnya kepatuhan pengobatan. Strategi yang dilakukan melalui intervensi berbasis masyarakat dalam mengendalikan hipertensi dengan melibatkan petugas kesehatan masyarakat dalam pencegahan hipertensi, perawatan berbasis tim untuk meningkatkan control tekanan darah dan skrining hipertensi melibatkan komunitas telah banyak mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovascular.Simpulan: pengendalian hipertensi melalui intervensi berbasis masyarakat yang menargetkan perubahan perilaku kesehatan dan kepatuhan pengobatan efektif mengurangi biaya perawatan kesehatan jangka panjang. Rekomendasi keberhasilan intervensi melalui penguatan sistem kesehatan pada layanan kesehatan primer dan melibatkan komunitas untuk memperluas layanan promotif dan preventif lebih efektif berdampak terhadap ekonomi dan keberlanjutan program
Dampak intervensi kesehatan seksual dan reproduksi pada niat perlindungan terhadap perilaku seksual pada remaja: nonequivalent control group design
Latar belakang: Pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi bertujuan untuk membekali anak-anak dan remaja dengan pengetahuan, nilai-nilai dan sikap, serta keterampilan dalam menyelesaikan masalah-masalah terkait kesehatan seksual dan reproduksinnya. Pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi sangat dibutuhkan oleh remaja terutama mereka yang belum aktif secara seksual. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak intervensi pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi dalam meningkatkan niat perlindungan terhadap perilaku seksual pada remaja di Kota Bima Nusa Tenggara Barat. Metode: Desain penelitian nonequivalent control group design untuk mengevaluasi dampak intervensi pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi pada remaja usia 13-18 tahun di Kota Bima Nusa Tenggara Barat. Subjek penelitian untuk kelompok eksperimen (n = 34), dan kontrol (n = 34). Intervensi disampaikan melalui metode presentasi dan diikuti dengan sesi diskusi. Dampak intervensi pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi dalam meningkatkan niat perlindungan terhadap perilaku seksual dianalisis menggunakan uji independent samples t-test. Uji pearson correlation digunakan untuk menentukan prediktor dari niat perlindungan terhadap perilaku seksual, sedangkan pada analisis multivariabel menggunakan multiple linear regression. Hasil: Perbedaan yang signifikan dalam pengetahuan kesehatan seksual dan reproduksi (KSR) (difference (diff) = 0.37; 95% CI = 0.22, 0.51), keparahan (diff = 0.37; 95% CI = 0.24, 0.49), kerentanan (diff = 0.30; 95% CI = 0.13, 0.47), efikasi respon (diff = 0.39; 95% CI = 0.25, 0.52), efikasi diri (diff = 0.28; 95% CI = 0.15, 0.42), dan protektif niat perilaku seksual (diff = 0.23; 95% CI = 0.11, 0.35) lebih tinggi pada kelompok eksperimen dibandingkan kontrol post-intervensi. Perbedaan ini dipertahankan sampai 2 bulan, kecuali variabel kerentanan dilemahkan dalam 2 bulan. Prediktor dari protektif niat perilaku seksual termasuk jenis kelamin, pengetahuan KSR, keparahan, kerentanan, efikasi respon, dan efikasi diri. Simpulan: Pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif memberikan kontribusi yang besar dalam mencegah timbulnya niat perilaku seksual pada remaja. Untuk mempertahankan dan meningkatkan niat perlindungan terhadap perilaku seksual pada remaja di masa mendatang, maka kegiatan pembelajaran dan diskusi rutin harus dilakukan tiap bulan dengan konten-konten yang sesuai dengan kebutuhan remaja di sekolah
Pengalaman mahasiswa sebagai volunteer untuk belajar program kesehatan di komunitas
Tujuan: Mahasiswa menghabiskan waktu belajar di lapangan hanya saat kuliah kerja nyata atau praktik kerja lapangan saja. Sementara untuk mampu mengelola program kesehatan penduduk, mahasiswa membutuhkan “jam terbang” lebih banyak. Paper ini berargumen bahwa partisipasi sebagai volunteer memberi kesempatan mahasiswa untuk belajar program kesehatan secara langsung. Paper ini juga menguraikan tantangan yang dihadapi mahasiswa. Poin yang ditekankan: Kesempatan menjadi volunteer bukan hal baru di kalangan mahasiswa. Contoh-contoh pengalaman mahasiswa menjadi volunteer yang sudah ada cukup beragam seperti relawan saat situasi bencana, petugas lapangan untuk program dari pemerintah dan universitas, tenaga pendamping lembaga swadaya masyarakat lokal, nasional, dan NGO internasional. Aktivitas volunteer memberi tiga pembelajaran berharga bagi mahasiswa. Pertama, praktik mengorganisasi program kesehatan sebagai refleksi dari materi perkuliahan, Kedua, latihan bekerja dalam tim untuk membangun community engagement, ketiga, dekat dengan penduduk dapat membangkitkan jiwa humanis mahasiswa untuk peduli pada komunitas. Ada dua tantangan utama yang dihadapi mahasiswa saat menjadi volunteer. Pertama, bekerja sama dengan profesi kesehatan lain karena membutuhkan strategi kolaborasi interprofesi untuk menjadi tim pelaksana program yang solid, kedua, kendala berkomunikasi dengan penduduk setempat terutama bagi mahasiswa yang belum mempunyai pengalaman sebelumnya.Simpulan: Program volunteer mahasiswa dapat digunakan sebagai praktik belajar sekaligus membantu tenaga kesehatan dalam mengelola program kesehatan penduduk. Universitas perlu membuat program volunteer saat libur semester dan bermitra dengan pemerintah dan swasta agar menerima mahasiswa untuk bergabung.