Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Evaluasi penerapan kebijakan peraturan daerah kawasan tanpa rokok di kota Padang Panjang
Latar belakang: 25,3% penduduk Kota Padang Panjang merokok setiap hari dan diperkirakan 91,9% diantaranya merokok di dalam rumah. Kawasan tanpa rokok menjadi cara alternatif untuk menurunkan prevalensi perokok dan mengurangi dampak merokok terhadap kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan peraturan daerah kawasan tanpa rokok di Kota Padang Panjang.Metode: Penelitian ini menggunakan desain mixed methods dengan rancangan sequential explanatory design. Data kuantitatif berasal dari masyarakat Kota Padang Panjang yang berusia 15-50 tahun dan tinggal sebelum/sejak tahun 2009 Sedangkan data kualitatif diperoleh dari pejabat pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan tokoh masyarakat. Hasil: Prevalensi perokok tidak menurun di Kota Padang Panjang. Komitmen terhadap peraturan daerah kawasan tanpa rokok mengalami penurunan akibat pergantian Walikota. Mayoritas responden (94%) mendukung peraturan, 90% perokok tidak merokok di kawasan tanpa rokok dan lebih dari 50% perokok tidak merokok di smoking room, seperti di pasar (82%) dan terminal (78%).Kesimpulan: Pemerintah dan masyarakat harus kerja sama agar penerapan peraturan daerah kawasan tanpa rokok menjadi lebih efektif. Pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi peraturan, bahaya merokok di tempat-tempat umum lainnya. Evaluation of the implementation of the regional regulation of smoke free areas in Padang Panjang cityPurposeThis study aimed to evaluate the implementation of the regional regulation of smoke free areas (SFAs) in Padang Panjang city.MethodsThis research was a mixed method study with a sequential explanatory design. Accidental sampling was used to select the respondents. Respondents were smokers and non-smokers between 15-50 years of age living in Padang Panjang city since 2009. Informants for the qualitative data were district government authorities, community leaders and non-governmental organizations selected by purposive random sampling. Quantitative data were analyzed descriptively, while qualitative data were analyzed by content analysis. The study was conducted in April-June 2015.ResultsCompared to previous surveys in 2007, 2011 and 2013, smoking prevalence did not decrease in Padang Panjang city. Key informants suggested commitment to SFAs regulation decreased when the mayor changed, since the new mayor is a smoker. The majority of respondents (94%) supported the SFAs regulation, about 90% had not smoked in SFAs and more than 50% of smokers had not smoked in the smoking rooms such as in market (82%) and bus station (78%).ConclusionIt is suggested for the government improve promotion of SFAs regulation, raise awareness of dangers of smoking in markets, public transportation and other public spaces and improve the regulation so its qualification is everyone who wants to be a leader has to be a non smoker
Peran kader posyandu dalam pemberdayaan masyarakat Bintan
Latar belakang: Perkembangan dan peningkatan mutu pelayanan posyandu sangat dipengaruhi oleh peran serta masyarakat diantaranya adalah kader. Fungsi kader terhadap posyandu sangat besar yaitu sebagai perencana pelaksana dan sebagai pembina penyuluh untuk memotivasi masyarakat yang berperan serta dalam kegiatan posyandu. Pada tahun 2014, jumlah posyandu yang tersebar di 33 Provinsi di Indonesia sekitar 330.000 posyandu, 50% balita diantaranya tidak melakukan penimbangan teratur di posyandu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kader posyandu dalam memberdayakan masyarakat di Kelurahan Kawal Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten BintanMetode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan studi kasus dan teknik sampling purposive sampling, terhadap kader posyandu, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD). Peneliti juga melakukan triangulasi sumber dan metode.Hasil: Peran kader sebagai motivator kesehatan, penyuluh kesehatan dan pelayanan kesehatan serta Kader mampu mengidentifikasi kebutuhan, hambatan serta berkoordinasi dalam memberikan pelayanan kesehatan.Kesimpulan: Kader posyandu memiliki semangat sosial tinggi yang dibentuk oleh kombinasi motivasi internal dan eksternal, sumber daya dan potensi serta pengalaman mengembangkan kemampuan, dengan semangat sosial tersebut mampu menginspirasi, mengantusiasi, mengaktivasi, menstimulasi, menggerakkan dan memotivasi masyarakat.Role of posyandu cadres in empowering the community of BintanPurposeThis study aimed to determine the role of posyandu cadres in empowering the community in Kawal village, Gunung Kijang district, Bintan regency.MethodsThis study used a qualitative method with a case study design and purposive sampling technique, with the cadres of posyandu. Data collection was done by in-depth interviews and focus group discussion (FGD), with triangulation of sources and methods.ResultsThe role of cadres are as a health motivator, with the extension officers of the health and medical services as well as cadres being able to identify the needs, barriers and help to coordinate in providing health services.ConclusionPosyandu cadres have high social spirit created by the combination of internal and external motivation, resources and potential as well as experience developing ability, with the social spirit capable of inspiring, activating, stimulating, mobilizing and motivating people.
Depresi dan kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2
Depression and the quality of life among patients with type 2 diabetes mellitus in Sardjito hospitalPurposeThe purpose of this study was to assess the association between depression and quality of life among patients with type 2 diabetes mellitus in Dr. Sardjito Hospital.MethodsTwo questionnaires were distributed among 152 patients between May and June 2016 using the Beck depression inventory and diabetes quality of life clinical trial. Univariable, bivariable, and multivariable linear regression analyses were used to explore associations.ResultsThis study found quality of life was 67.37. There was association between depression and quality of life, while sex, complications, age and education level were not significantly correlated. The simultaneous influence of the variable of depression, work and duration of illness to mean of quality of life equaled to 28%.ConclusionComprehensive services are needed to reduce depression and improve the quality of life among patients with type 2 diabetes mellitus. People suffering from type 2 diabetes who do not experience depression have a better quality of life than people with type 2 diabetes who experience stress.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat depresi dengan kualitas hidup penderita DM tipe 2 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.Metode: Penelitian observasional ini menggunakan cross-sectional Study. Subyek penelitian adalah penderita DM tipe 2 yang berobat di poliklinik penyakit dalam RSUP DR. Sardjito Yogyakarta. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 152 orang dan diambil secara consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner BDI (Beck Depression Inventory) dan kuesioner DQLCTQ-R (Diabetes Quality of Life Clinical Trial Questionare-Revised). Analisis data univariabel menggunakan distribusi frekuensi, bivariabel menggunakan one way anova dan uji T tidak berpasangan, multivariabel dengan uji regresi linier.Hasil: Penelitian ini menmukan rerata nilai kualitas hidup adalah 67,37. Hasil analisa uji T menunjukkan adanya hubungan antara tingkat depresi dengan kualitas hidup penderita DM tipe 2. Jenis kelamin, komplikasi, umur dan tingkat pendidikan tidak berhubungan dengan kualitas hidup pada penderita DM tipe 2. Hasil analisis multivariat menunjukkan ada hubungan tingkat depresi dengan kualitas hidup penderita DM tipe 2. Secara bersamaan pengaruh variabel tingkat depresi, pekerjaan dan lama sakit terhadap rata-rata kualitas hidup sebesar 28% (R2:0,28).Implikasi praktis: Pelayanan komprehensif dibutuhkan dalam menurunkan tingkat depresi dan meningkatkan kualitas hidup penderita DM tipe 2.Keaslian: Orang yang menderita DM tipe 2 yang tidak mengalami depresi rata-rata kualitas hidupnya lebih baik daripada penderita DM yang mengalami stres
Kebiasaan merokok keluarga serumah dan pneumonia pada balita
The correlation of family smoking habits at home with the incidence of pneumonia among children in Bantul district in 2015PurposeThis study aimed to analyze the association between family smoking habits at home with the incidence of pneumonia in children.MethodsThis research was a case control study involving 160 children in the district of Bantul (80 with pneumonia and 80 without pneumonia).ResultsThere was an association between family smoking habits at home with the incidence of pneumonia in children at Bantul. Furthermore, it was found the other variables that had a association with the incidence of pneumonia in children at Bantul District included the use of mosquito coils, nutritional status of children and crowded household. The variables of maternal education, immunization status, income parents, history of exclusive breastfeeding, history of vitamin A, the type of household fuel, the location of the kitchen, the type of house walls and the activity of burning trash were not associated with the incidence of child pneumonia in the district of Bantul.ConclusionIt is necessary to conduct health promotion in all households about the impact of family smoking habits on children, especially in a crowded household. Also, there is need to supervise the family members who have the habit of smoking so the are not smoking inside the house, especially in families with children. It is equally important to repair any lowered nutrition status in children.Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kebiasaan merokok keluarga serumah dengan kejadian pneumonia pada balita.Metode: Penelitian observasional analitik dengan menggunakan pendekatan case control study ini melibatkan sampel 80 orang balita pada kelompok kasus dan 80 orang balita pada kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara non probability sampling.Hasil: Penelitian ini menemukan hubungan kebiasaan merokok keluarga serumah dengan kejadian pneumonia pada balita di Kabupaten Bantul (OR= 2,31; 95% CI: 1,13-4,69; p=0,03). Obat nyamuk bakar, status gizi, dan kepadatan hunian adalah faktor lain yang berhubungan dengan kejadian pneumonia balita.Implikasi praktis: Promosi kesehatan perlu dilakukan pada keluarga tentang dampak kebiasaan merokok di rumah terhadap balita, terutama pada rumah tangga yang padat penghuni. Pemerintah harus komitmen untuk menciptakan peraturan rumah bebas asap rokok.Keaslian: Penelitian ini memberikan kontribusi pengetahuan bahwa kebiasaan merokok orang serumah dan faktor lingkungan merupakan faktor risiko pneumonia balita
Kadar timbal pada petugas stasiun pengisian bahan bakar umum
Blood lead level among workers in gas stationPurposeThis study aimed to determine the effect of lead levels with oxidative stress in gas station officers in the Sleman region through measurement of malondialdehyde levels (MDA).MethodsThis research was an observational analytic study involving 43 gas station workers. Blood lead levels were measured by atomic absorption spectrophotometer (SSA) methods. Serum MDA levels were measured by the TBRs methods.ResultsThis study found the average lead concentration in blood of SPBU officers was 62.174 μg/L while the serum MDA level obtained mean 5.86 μmol/L. The result of statistical tests using Pearson correlation showed that there was a significant influence between blood lead level and MDA level (p = 0.000) with very strong correlation strength (r = 0.8432).ConclusionGas station officers are susceptible to exposure to lead, so it is necessary to prevent the deterioration of health conditions by the use of personal protective equipment (PPE), healthy lifestyle, and routine medical check-upsLatar belakang: Polusi udara akibat timbal dari gas emisi kendaraan bermotor telah menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di dunia, terutama di negara-negara berkembang, seperti di Asia, Afrika dan Amerika Latin yang masih menggunakan timbal dalam bahan bakar kendaraannya. Paparan timbal dapat menyebabkan terbentuknya Reactive Oxygen Species (ROS) seperti peroksidasi lipid, oksidasi protein, dan oksidasi DNA yang dapat menyebabkan terjadinya stres oksidatif dan meningkatkan risiko kematian sel. Malondialdehid (MDA) merupakan peroksidasi lipid yang sering digunakan sebagai penanda terjadinya stres oksidatif.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh paparan timbal terhadap kadar MDA sebagai indikator risiko stres oksidatif. Subjek penelitian adalah petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sebanyak 43 orang. Kadar timbal dalam darah diukur dengan metode Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Kadar MDA serum diukur dengan metode TBRs.Hasil: Rerata kadar timbal dalam darah petugas SPBU yakni 62,174 μg/L. Kadar MDA serum diperoleh rerata 5,86 μmol/L. Hasil uji statistik dengan menggunakan person correlation, terdapat pengaruh yang signifikan antara kadar timbal dalam darah dengan kadar MDA ( p = 0,000) dengan kekuatan hubungan sangat kuat (r = 0,8432).Kesimpulan: Petugas operator SPBU perlu melakukan tindakan medis dan pencegahan yang diperlukan untuk mencegah memburuknya kondisi kesehatan dengan cara penggunaan APD yang benar, pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan yang bergizi serta melakukan medical chek-up rutin
Pengalaman hidup ibu dengan riwayat kehamilan preeklamsia di Yogyakarta
Preeklamsia merupakan penyebab terbesar penyebab Angka Kematian Ibu (AKI) yang berakhir dengan perdarahan pada saat persalinan. Pada tahun 2013, AKI mencapai 359/100.000 kelahiran hidup. Stressor pasti terjadi pada ibu hamil baik secara fisik, psikologis, internal maupun eksternal. Stressor akan lebih besar pada ibu dengan kehamilan preeklamsia-eklamsia, dengan gejala yang dirasakan, dan ancaman terhadap kondisi kehamilan. Literatur tentang pengalaman preeklamsia yang dapat dijadikan sumber rujukan dasar tentang kebutuhan ibu dengan riwayat kehamilan dan persalinan preeklamsia masih sangat terbatas, sehingga peneliti tertarik untuk melihat pengalaman dari sisi ibu tentang riwayat kehamilan pre eclampsia.metode penelitian kualitatif desain dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini mendapatkan 4 tema yaitu: tema 1. gejala yang dirasakan memengaruhi psikologis, spiritual, fisik dan perilaku ibu; tema 2. Peningkatan kewaspadaan; tema 3. Sumber kekuatan dari keluarga dan masyarakat; tema 4. Cemas dan takut berdampak pada persepsi ibu selama proses rujukan dan persalinanLife experience of mother with preeclampsy pregnancy history in YogyakartaPurposeThe purpose of this paper was to determine the life experience of women with pre-eclampsia pregnancy history.MethodsThis research was a phenomenology study involving 7 postpartum mothers with history of pregnancy and delivery of preeclampsia in Dr. Sardjito Hospital conducted from June to September 2015.ResultsBased on this research, there were 4 themes which were found: 1) the symptoms that are felt to affect the psychological, spiritual, physical and behavior of the mother; 2) Awareness raising; 3) Source of power from family and community; and 4) Anxiety and fear have an impact on the mother's perception during the process of referral and childbirth.ConclusionThis study contributes to the knowledge that maternal conditions with preeclampsia pregnancy and childbirth in Yogyakarta still require the attention of health workers, especially from the aspects of alertness to perceived symptoms and the importance of information about pregnancy preeclampsia
Hubungan penggunaan IUD (intrauterin device) dengan pola aktivitas seksual pada perempuan di Kota Kupang
The use of intra uterine device (IUD) and sexual activity patterns in women in KupangPurposeThe purpose of this study was to know the influence of intra uterine device type contraceptive use to the pattern of sexual activity.MethodsThis research was an observational study with a cross-sectional design using questionnaires to collect data. The samples were 190 women of fertile age in the city of Kupang. The correlation of intra uterine device usage and sexual activities pattern was analyzed by using chi square tests, and continued with multivariate analysis using logistic regression tests, using confidence interval (CI) of 95% and a level of significance of p<0.05.ResultsThere was no significant difference in patterns of sexual activities of women using intra uterine device with those who were not using contraception. The variables that were statistically significant were age, parity, duration of marriage and effects of intra uterine device use. Meanwhile variables that were not statistically significant were working status and duration of intra uterine device use.ConclusionThe usage of intra uterine device contraception did not affect patterns of sexual activities of women in Kupang. However, the effect of intra uterine device usage did have influence toward sexual activity, but such effect would be reduced over time up to 1 year of using. The recommendations given in this research is that it is necessary to further analyze intra uterine device usage effects toward sexual activities patterns.Latar Belakang: Intra Uterin device (IUD) adalah alat kontrasepsi yang banyak digunakan di Indonesia. Pemakaian alat kontrasepsi IUD bukanlah alat sempurna. Masih terdapat banyak komplikasi yang bisa terjadi antara lain perdarahan, keputihan, radang panggul, dismenore dan kenyamanan seksual. Kenyamanan seksual sangatlah penting untuk kehidupan berkeluarga, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas seksual pada perempuan yang menggunakan IUD. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada perbedaan pola aktivitas seksual pada perempuan yang menggunakan IUD dengan perempuan yang tidak menggunakan KB di Kota Kupang.Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan crossectional dan digunakan kuesioner untuk mengumpulkan data. Sampel sebanyak 190 perempuan usia subur di Kota Kupang di ambil secara random. Hubungan penggunaan IUD dengan pola aktivitas seksual dianalisis dengan Chi Square dan dilanjutkan dengan analisis multivariate menggunakan regresi logistik. Keseluruhan tes menggunakan confidence interval (CI) 95% dan tingkat kemaknaan sebesar p<0,05.Hasil: Analisis hubungan antara penggunaan IUD dengan pola aktivitas seksual p-value = 0,15, OR(CI 95%) = 1,52(0,85-2,71). Tidak ada beda pola aktivitas seksual pada perempuan yang menggunakan IUD dengan yang tidak menggunakan KB. Selain itu variabel yang bermakna secara statistik adalah variabel Usia (OR=1,07;CI95%=1,02-1,12), paritas (OR=1,64;CI95%=1,25-2,15), lama menikah (OR=1,08;CI95%=1,03-1,13) dan efek dari penggunaan IUD (OR=2,28;CI95%=0,94-1,33). Sementara itu variabel pekerjaan dan lama menggunakan IUD tidak bermakna secara statistik.Kesimpulan: Penggunaan kontrasepsi jenis IUD tidak mempengaruhi aktivitas seksual perempuan. Namun efek dari penggunaan IUD mememiliki pengaruh terhadap aktivitas seksual, tetapi efek tersebut akan berkurang bahkan hilang dalam kurun waktu lebih dari 1 tahun penggunaan IUD. Rekomendasi yang diberikan dalam penelitian ini adalah perlu dilakukan analisis tentang efek penggunaan IUD terhadap pola aktivitas seksual pada akseptor
Peran program kelas ibu hamil terhadap pelaksanaan ASI eksklusif di Gunung Kidul
The influence of antenatal class implementation toward exclusive breastfeeding in Gunung Kidul Purpose This study aimed to determine the effect of the implementation of the antenatal class toward exclusive breastfeeding.Methods The research was a case-control study with a quantitative approach. This research was also supported by a qualitative approach which aimed to complement and reinforce the results obtained from the quantitative data. Sample cases were 135 exclusive breastfeeding infants aged 6-12 months, and the control sample were 135 not exclusive breastfeeding infants aged 6-12 month. Data analysis used the McNemar and conditional logistic regression tests with significance level of p = <0.05 and 95% confidence interval.Results Bivariate analysis showed that antenatal class affected exclusive breastfeeding p = 0.026 and OR = 1.80 (95% CI: 1.03 to 3.24). In the results of multivariate analysis after controlling by including support of her husband and the ANC p = 0.03 and OR = 1.86 (95% CI: 1.05 to 3.30). Mothers who attended antenatal class have exclusive breastfeeding rate 1.86 times higher compared to mothers who did not attend the antenatal class.Conclusion The antenatal class can directly affect exclusive breastfeeding, in spite of controlling the support of her husband and the ANC.Latar Belakang: Rendahnya pemberian ASI secara eskslusif akan berdampak pada kelangsungan hidup bayi, pertumbuhan dan perkembangan yang optimal serta peningkatan kualitas generasi berikutnya. Praktek pemberian ASI suboptimal, termasuk menyusui tidak secara eksklusif, berkontribusi 11,6% pada kematian pada anak di bawah usia 5 tahun. Oleh karena itu berbagai program dan intervensi telah dikembangkan dalam upaya peningkatan pemberian ASI eksklusif. Intervensi ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu sehingga mampu menyusui bayinya secara eksklusif.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan kelas ibu hamil terhadap pemberian ASI eksklusif.Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan case-control study dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini juga didukung dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk melengkapi dan menguatkan hasil yang diperoleh dari data kuantitatif. Sampel kasus adalah ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan, sampel kontrol adalah tidak ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan. Total sampel 270 yaitu 135 kasus dan 135 kontrol. Analisis data menggunkan uji McNemar dan conditional logistic regression dengan tingkat kemaknaan p < 0,05 dan interval kepercayaan 95%.Hasil: Analisis bivariate menunjukkan bahwa kelas ibu hamil dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif p = 0,026 dan OR = 1,80 (95% CI:1,03-3,24). Pada hasil analisis multivariabel setelah dilakukan pengontrolan dengan memasukan dukungan suami dan ANC (antenatal care) didapatkan hasil menjadi p = 0,03 dan OR = 1,86 (95% CI:1,05-3,30). Ibu yang mengikuti kelas ibu hamil, tingkat pemberian ASI eksklusif lebih tinggi 1,86 kali dibandingkan dengan ibu yang tidak mengikuti kelas ibu hamil.Kesimpulan: Secara langsung kelas ibu hamil dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif, meskipun telah dilakukan pengontrolan terhadap dukungan suami dan ANC.Kata Kunci: kelas ibu hamil, ASI eksklusi
EFEKTIFITAS EKSTRAK KAKTUS PIR BERDURI (Opuntia ficus Indica) SEBAGAI HAND SANITIZER judul
Latar Belakang: Telapak tangan merupakan bagian tubuh yang paling sering kontak dengan dunia luar dan digunakan sehari-hari untuk melakukan aktivitas. Hal ini sangat memudahkan terjadinya kontak dengan mikroorganisme dan mentransfernya ke objek lain. Ribuan jenis tanaman yang banyak tersebar di Indonesia diantaranya ada yang dapat untuk dikembangkan sebagai antibakteri, salah satunya adalah tanaman kaktus pir berduri. Tanaman ini dipilih karena diketahui bahwa memiliki kandungan bahan aktif yang berpotensi sebagai antibakteri. Saat ini pemanfaatan tanaman kaktus pir berduri di Indonesia belum terlalu luas dilakukan oleh karena itu peneliti tertarik untuk menggunakan tanaman tersebut sebagai bahan antibakteri dalam pembuatan hand sanitizerTujuan Penelitian: Mengetahui efektivitas hand sanitizer dari ekstrak kaktus pir berduri (Opuntia ficus Indica) terhadap jumlah angka kuman kulit telapak tanganMetode Penelitian: Penelitian ini bersifat eksperimental laboratories dengan rancangan penelitian the post test only control group design. Instrumen yang digunakan adalah peralatan dan bahan laboratorium, alat perekam gambar, dan program uji satistik STATA for windows .Cara analisis data yaitu data dianalisis secara laboratorium dan uji statistik One Way Anova untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan yang bermakna, bila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan uji pos hoc BonferroniHasil Penelitian : Berdasarkan uji KLT menyatakan bahwa ektrak kaktus pir berduri positif mengandung flavonoid. Perlakuan kontrol positif (alkohol 70%) terhadap jumlah angka kuman memiliki nilai mean yaitu 84.2. Perlakuan kontrol negatif (gelling agent) terhadap jumlah angka kuman memiliki nilai mean yaitu 80.4. Perlakuan eksperimen (hand sanitizer dengan ekstrak) terhadap jumlah angka kuman memiliki nilai mean yaitu 52.8. Tidak ada perbedaan antara penggunaan hand sanitizer dari ekstrak kaktus pir berduri, alkohol 70%, maupun gelling agent terhadap jumlah angka kuman telapak tangan.Kesimpulan : Secara analisis statistik tidak memiliki perbedaan yang berarti, namun pemanfaatan ekstrak kaktus pir berduri sebagai hand sanitizer secara teori dapat berpotensi sebagai antibakteri karena adanya kandungan flavonoi
Peran promosi kesehatan terhadap tingkat motivasi pasien mendapatkan pelayanan fisioterapi di wilayah kerja Puskesmas Bantimurung Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros
The role of health promotion and the level of patient motivation getting physiotherapy services in public health center of BantimurungPurposeThe purpose of this study was to evaluate the result of media meeting coverage on breastfeeding promotion in mass media. MethodsThis study used a pre-experimental quantitative research with one group pre-test and post-test design. The population samples of this research were all patients who are in the working area of Puskesmas Bantimurung, Bantimurung district of Maros during the years 2013-2014 totaling 46 people, and all patients were respondents in the study. ResultsThe results of data processing show the increase of patient motivation to get physiotherapy services in the working area of Puskesmas Bantimurung. Results show the motivation increased 20.06%. ConclusionThis finding suggests that health promotion is proven to increase patient motivation in the work area of Puskesmas Bantimurung. It is expected that patients will continue to maintain an active role in the search for physiotherapy services in accordance with the conditions and also remain always active in seeking information about their disease.Latar belakang: Penelitian ini membahas mengenai peran promosi kesehatan terhadap tingkat motivasi pasien mendapatkan pelayanan fisioterapi di wilayah kerja puskesmas bantimurung kecamatan bantimurung kabupaten Maros.Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif pra eksperimental dengan rancangan one group pre test and post tes. Populasi penelitian ini adalah semua pasien yang terdapat di wilayah kerja puskesmas bantimurung kecamatan bantimurung kabupaten maros selama tahun 2013-2014 sebanyak 46 orang dan seluruh pasien menjadi responden penelitian.Hasil: Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa terjadi peningkatan motivasi mendapatkan pelayanan fisioterapi pada pasien yang terdapat di wilayah kerja puskesmas bantimurung sebesar 20,06%. Hal ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan yang dilakukan terbukti dapat meningkatkan motivasi pasien di wilayah kerja puskesmas bantimurung.KesimpulanDiharapkan kepada pasien untuk terus mempertahankan peran aktifnya dalam mencari pelayanan fisioterapi yang sesuai dengan kondisinya dan juga tetap selalu aktif dalam mencari informasi-informasi mengenai penyakitnya