Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Evaluasi kesesuaian hasil manual assessment chart tool dan niosh lifting equation dalam mengidentifikasi keluhan muskuloskeletal dari aktifitas angkat beban manual pada pekerja di industri

    No full text
    The agreement of manual assessment chart tool and NIOSH lifting equation in the identification of musculoskeletal complaints of industrial workersPurposeThis research aimed to compare the assessment results of two methods in assessing the risk of manual lifting activity and evaluating the conformity of the results in some industries.MethodsA cross-sectional study was conducted involving direct observation by image and video taking of 30 workers who performed manual lifting activities in three industrial sites. The data obtained were used to fill out the MAC tool sheets and NLE.  ResultsThe results showed that the complaints in the back became the most common complaints felt by workers (56.7%). From the results of the assessment of manual lifting activity, we found 70% risk workers with MAC tool method and 76.7% with the NLE method. The suitability of the results of these two methods with the Kappa test was 0.83 which indicated the existence of a strong result match. ConclusionBoth MAC tools and NLEs had a strongly measured benchmark against the risk assessment of manual lifting activities, so that in their use they can replace each other.Latar Belakang: Keluhan muskuloskeletal yang dialami pekerja merupakan salah satu masalah besar yang dihadapi oleh beberapa perusahaan, salah satu penyebabnya ialah aktifitas manual handling seperti mengangkat beban secara manual yang berlebihan. Oleh sebab itu diperlukan suatu metode untuk mengontrol aktifitas tersebut diantaranya yaitu MAC tool dan NIOSH lifting equation. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil penilaian dari kedua metode tersebut dalam mengkaji risiko aktifitas angkat beban manual dan mengevaluasi kesesuaian hasil ukurnya pada beberapa tempat industri.Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan di tiga tempat industri dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang pekerja yang diambil dengan teknik consecutive. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi langsung, mengambil gambar dan video dari aktifitas angkat beban manual yang sedang dilakukan oleh responden lalu kemudian data yang diperoleh digunakan untuk mengisi lembar MAC tool dan NLE. Hasil dari kedua metode observasi tersebut akan dianalisis dengan uji Kappa untuk melihat tingkat kesesuaian hasilnya.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluhan pada punggung menjadi keluhan yang paling sering dirasakan oleh pekerja (56,7%). Dari hasil penilaian terhadap aktifitas angkat beban manual, ditemukan pekerja yang berisiko sebanyak 70% dengan metode MAC tool dan 76, 7% dengan metode NLE. Kesesuaian hasil ukur dari kedua metode tersebut dengan uji Kappa yaitu sebesar 0,83 yang  menginsikasikan adanya kesesuaian hasil yang kuat.Kesimpulan: MAC tool maupun NLE  memiliki kesesuaian hasil ukur yang tergolong kuat terhadap penilaian risiko dari aktifitas angkat beban manual, sehingga dalam penggunaanya dapat saling menggantikan satu sama lain. 

    Promosi kesehatan menggunakan gambar dan teks dalam aplikasi WhatsApp pada kader posbindu

    Get PDF
    PurposeThis study aimed to determine the effectiveness of educational programs through WhatsApp media on the level of knowledge and satisfaction of learning of Posbindu health workers.Methods This study was an experimental research on 1 group that consisted of 33 respondents. Two stages of intervention were done with sending an educational text message about diabetes in the first week and picture messages in the second week. The instruments of this study consisted of a knowledge questionnaire and a learning satisfaction questionnaire. The study was conducted on Posbindu health workers with message delivery interventions through WhatsApp.ResultsThere was a significant change between the mean pre-test and post intervention of text messaging and educational images on knowledge of type 2 diabetes variables, while the delivery of picture messages had the highest mean value of learning satisfaction.Conclusions Promotion and health education programs through message delivery on WhatsApp effectively can improve the knowledge and satisfaction of learning about type 2 diabetes mellitus.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas program edukasi tentang diabetes tipe 2 melalui media WhatsApp pada tingkat pengetahuan dan kepuasan belajar kader Posbindu.Metode: Penelitian eksperimental ini dilakukan pada 1 grup dengan 33 responden. Intervensi terdiri dari 2 tahap, yakni: pengiriman pesan teks edukasi tentang diabetes pada minggu pertama dan pesan bergambar pada minggu kedua. Instrumen penelitian ini terdiri dari kuesioner pengetahuan dan kuesioner kepuasan belajar. Penelitian dilakukan pada kader Posbindu dengan intervensi pengiriman pesan melalui WhatsApp.Hasil: Terdapat perubahan signifikan antara rerata nilai pre test , post intervensi pengriman pesan teks dan post intervensi pengiriman gambar edukasi pada variabel tentang pengetahuan diabetes tipe 2. Sedangkan pengiriman pesan bergambar memiliki rerata nilai kepuasan belajar paling tinggi.Implikasi Praktis: Penelitian ini menyarankan program promosi dan edukasi kesehatan melalui pengiriman pesan bergambar pada aplikasi WhatsApp efektif meningkatkan pengetahuan dan kepuasan belajar.Keaslian: Penelitian ini menyatakan bahwa WhatsApp adalah media pendidikan potensial karena merupakan media interaktif antara pengirim dan penerima pesan

    Komunikasi Orang Tua Tentang Seksualitas Terhadap Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja

    No full text
    Parents' communication about sexuality to premarital sexual behavior in adolescentsPurposeThis research aimed to examine the relationship between parent-child communication about sexuality and adolescents premarital sexual behavior.MethodsThis research involved 205 students in Senior High School "A" Yogyakarta. Data analysis was conducted with chi-square and logistic regression tests.ResultsThis research showed that there was no significant correlation (p > 0.05) between parental communication about sexuality and premarital sexual behavior in adolescents with OR score 1.43 (95% CI; 0.78- 2.63). The results of parental communication analysis of sexuality after considering other variables: such as gender, self-efficacy, and alcohol/drug used accounted for 5.7% in at-risk premarital sexual behavior.ConclusionThere were no significant correlations between parent-child communication about sexuality and adolescents’ premarital sexual behavior.Latar Belakang: Perilaku seksual pranikah di kalangan remaja merupakan masalah utama kesehatan masyarakat yang akhir-akhir ini menjadi sorotan. Perilaku seksual pranikah menimbulkan konsekuensi negatif bila dihubungkan dengan aktivitas seksual remaja, antara lain terjadinya infeksi menular seksual (IMS) seperti HIV-AIDS dan meningkatnya kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) yang berujung pada aborsi yang tidak aman. Komunikasi orang tua dengan remaja mengenai seksualitas berfungsi sebagai faktor pelindung yang mempengaruhi perilaku seksual remaja dan sebagai sarana yang efektif untuk mendorong remaja sehingga mereka dapat mengadopsi perilaku seksual yang bertanggung jawab. Gambaran komunikasi orang tua-remaja diharapkan mampu mengatasi perilaku seksual pranikah. Tujuan: Membuktikan hubungan antara komunikasi orang tua tentang seksualitas dengan perilaku seksual pranikah pada remaja Metode: Jenis penelitian ini merupakan observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di SMK “A” di Kota Yogyakarta. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X yaitu sebanyak 205 orang. Analisis data dengan univariabel, bivariabel menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan (p0,05) antara komunikasi orang tua tentang seksualitas dengan perilaku seksual pranikah pada remaja dengan nilai OR 1,43 (95% CI; 0,78-2,63). Hasil analisis komunikasi orang tua tentang seksualitas setelah mempertimbangkan variabel jenis kelamin, efikasi diri, dan penggunaan alkohol/NAPZA berpengaruh sebesar 5,7% didalam berperilaku seksual pranikah yang berisiko. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara komunikasi orang tua tentang seksualitas dengan perilaku seksual pranikah pada remaja.Kata Kunci: Komunikasi Orang Tua tentang Seksualitas; Perilaku Seksual Pranika

    FAKTOR PREDIKTOR GANGGUAN PENGLIHATAN BERAT DAN KEBUTAAN PADA PENDERITA DIABETES DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    Get PDF
    Predictors of severe visual impairment and blindness among diabetic patients in Special Territory of YogyakartaPurposeThe purpose of this study was to identify any predictors of severe visual impairment and blindness among diabetic patients in Daerah Istimewa Yogyakarta.MethodsThis research was a cross-sectional study by analyzing registry data from (JOGED.COM). Data included sociodemographic characteristics, diabetic status, health record, and eye diseases. The analysis was done using chi-square and simple logistic regression tests follow with semi-partial correlation, stratification tests and multilevel analysis with Generalized Estimation Equation (GEE).ResultsAs much as 1093 data were included in this study. The prevalence of severe visual impairment was 12% and blindness was 6.5%. Cataract, diabetic retinopathy and diabetes duration >10 years were statistically significant with severe visual impairment and blindness while glaucoma and hypertension only significant with severe visual impairment. The contribution of cataract in severe visual impairment (4.73%) and blindness (3.11%) was highest among eye diseases. There was modification effect of cataract to severe visual impairment and blindness by diabetes duration. Based on GEE, cataract, diabetic retinopathy and diabetes duration > 10 years was the best model to predict the occurrence of severe visual impairment and blindness.ConclusionsPredictors of severe visual impairment and blindness among diabetic patients in Daerah Istimewa Yogyakarta were the cataract, diabetic retinopathy and diabetes duration >10 years. Modification effect of cataract by diabetes duration only was significant in a model to predict blindness.Pendahuluan: Peningkatan prevalensi diabetes berimplikasi pada potensi peningkatan beban penyakit akibat diabetes, seperti gangguan penglihatan dan kebutaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor prediktor terjadinya gangguan penglihatan berat dan kebutaan pada penderita diabetes di Daerah Istimewa Yogyakarta.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dan memanfaatkan data register Jogjakarta Eye Diabetic Study in the Community (JOGED.COM). Data yang dianalisis meliputi karakteristik sosial demografi, status diabetes, riwayat kesehatan dan penyakit mata. Analisis data menggunakan uji chi-square dan simple logistic regression dengan analisa tambahan estimasi korelasi semi parsial, stratifikasi dan multilevel menggunakan Generelized Estimation Equation (GEE).   Hasil : Terdapat 1093 data register penderita diabetes dalam penelitian ini. Teridentifikasi prevalensi gangguan penglihatan berat dan kebutaan adalah 12% dan 6,5%. Pada analisis, katarak, retinopati diabetik dan durasi diabetes >10 tahun signifikan berhubungan baik terhadap gangguan penglihatan berat maupun kebutaan, sementara  glaukoma (OR=3,42;95%CI=0,61-12,86) dan hipertensi (OR=1,36;95%CI=1,04-1,77) hanya berhubungan dengan gangguan penglihatan berat. Katarak adalah penyakit mata dengan kontribusi terbesar baik terhadap gangguan penglihatan berat (4,73%) maupun kebutaan (3,11%). Terdapat modifikasi efek katarak terhadap gangguan penglihatan berat (M-HOR=3,64; 95%CI=2,75-4,81) dan kebutaan (M-HOR=3,69; 95%CI=2,59-5,25) berdasarkan durasi diabetes yang signifikan secara statistik. Hasil analisis GEE menunjukkan katarak, retinopati diabetik dan durasi diabetes > 10 tahun adalah model prediktor terbaik terhadap gangguan penglihatan berat dan kebutaan.  Kesimpulan :  Faktor prediktor gangguan penglihatan berat dan kebutaan pada penderita diabetes di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah katarak, retinopati diabetik dan durasi diabetes >10 tahun. Modifikasi efek durasi diabetes > 10 tahun terhadap kontribusi katarak hanya signifikan pada outcome kebutaan.

    PEMBERIAN ASI PADA IBU PEKERJA DI KOTA: IMPLIKASI TERHADAP PENYEDIAAN RUANG LAKTASI DAN TAMAN PENITIPAN ANAK

    No full text
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara status pekerjaan ibu dan pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada ibu bekerja yang tinggal di wilayah perkotaan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional menggunakan data Indonesia Family Life Survey 5. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu berusia 15-49 yang bekerja, memiliki anak berusia 2 tahun dan tinggal di perkotaan. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 340 responden. Status pekerjaan dibagi menjadi wirausaha, pegawai pemerintah, pegawai swasta dan pekerja bebas, sedangkan pemberian ASI dibagi menjadi kurang dari 2 tahun dan selama 2 tahun. Analisis menggunakan chi-square dan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Pada ibu bekerja yang tinggal di perkotaan, persentase ibu yang memberikan ASI kurang dari 2 tahun sebesar 68,82% sedangkan ibu yang memberikan ASI selama 2 tahun sebesar 31,18%. Status pekerjaan ibu yang tinggal di perkotaan paling banyak yaitu sebagai pegawai swasta (42,06%) dan wirausaha (34,41%). Status pekerjaan yang memiliki persentase pemberian ASI kurang dari 2 tahun adalah pegawai pemerintah (77,78%) dan pegawai swasta (75,52%). Terdapat hubungan antara status pekerjaan ibu dan pemberian ASI pada ibu bekerja yang tinggal di wilayah perkotaan. Ibu yang memiliki status pekerjaan sebagai wirausaha memiliki kemungkinan lebih besar 1,85 kali untuk memberikan ASI selama 2 tahun dibandingkan dengan ibu bekerja sebagai pegawai swasta. Kesimpulan: Ibu pegawai swasta memiliki kemungkinan untuk memberikan ASI selama 2 tahun yang rendah. Hak menyusui bagi pekerja wanita harus dilindungi dengan menyediakan ruang laktasi atau tempat penitipan anak

    Tuberculosis: Case Finding in Public Health Center of Blora, Indonesia

    No full text
    Background: Tuberculosis is a disease of international concern. Control measure have been implemented in the World and Indonesia. One of the indicators of TB prevention program in Indonesia is Case Notification Rate (CNR), through case finding to screen of suspected TB, physical examination, laboratory and diagnosis Objective: Implementation of TB case finding program in Blora Distric, Indonesia, 2017 Methods: A descriptive observational study of evaluation. Subjects were 12 TB programmers at Public Health Center, 12 laboratory workers and 1 supervisor of Blora District Health Office. Data were collected by in-depth interviews and observations on input, process, output and outcome aspects. Results: Input aspect, 75% of respondents have double job, with duration of >5 years (75%) and was followed TB training >5 years (66%). Aspects of process, planning, budget requirements, targeting above 90%. Increase internal lineage (58%). Implementation already uses active search (92%) and passive (67%). Involvement of health cadres is not optimal, people are more confident to health workers in the village. PPM has not gone well (17%) so many patients are not reported in PHC. Clinics, hospitals and private practice doctors have not yet applied DOTS strategy treatment. Monitoring and evaluation has been done by wasor >2 times/year 33% and <2 times/year 67%. The CNR output aspect of 2016 128/100.000 population is below the national target of 316/100.000 population. Outcome aspect consists of 91.1% cure rate and 3.5% death. Conclusions: Overall TB case finding in Blora has gone well. But there are still shortcomings in the input aspect, needs to improve the skills of TB programmers with training and refresher.  On process aspect is still necessary increasing PPM by involving the private sector, hospitals and polyclinics, involving the village midwife actively encompassing TB cases cross program and sector network. So it can increase the CNR TB in Blora.

    Hubungan asupan tembakau kunyah dan konsumsi pangan dengan tekanan darah pada ibu hamil di Kabupaten Simalungun

    No full text
    Tembakau adalah produk pertanian yang diproses dari daun tanaman dari genus Nicotiana. Komponen utama rokok adalah tembakau yang berbahaya karena mengandung nikotin. Dampak negative rokok terhadap kesehatan telah banyak diketahui, namun dampak akibat tembakau kunyah belum banyak diketahui. Padahal tembakau kunyah sama-sama mengandung nikotin seperti dalam rokok. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan asupan tembakau kunyah dan konsumsi pangan dengan tekanan darah pada ibu hamil dengan disain cross sectional study. Sampel adalah 80 ibu hamil trimester II dan trimester III. Hasil penelitian menunjukkan 57,4 % ibu hamil mempunyai tekanan darah rendah, 34 % normal dan 8,5 % mempunyai tekanan darah tinggi. 30 % ibu hamil mempunyai konsumsi energi, protein, dan zat besi yang kurang. Sedangkan konsumsi tembakau kunyah diketahui 57% mempunyai kebiasaan konsumsi tembakau kunyah sebelum hamil, dan hanya 42% yang tidak mengonsumsi tembakau kunyah saat hamil. Analisa statistic menunjukkan ada hubungan kebiasaan konsumsi tembakau kunyah sebelum hamil dengan tekanan darah (p=0,014), sedangkan kebiasaan konsumsi tembakau kunyah saat hamil dengan tekanan darah tidak menunjukkan adanya hubungan (p=0,096). Hubungan konsumsi pangan dengan tekanan darah, hanya konsumsi protein yang menunjukkan adanya hubungan nyata dengan tekanan darah, sedangkan konsumsi energi dan zat besi tidak menunjukkan hubungan dengan tekanan darah ibu hamil. Efek nikotin menyebabkan perangsangan terhadap hormone kathelokamin (adrenalin) yang bersifat memacu jantung dan tekanan darah. Jantung tidak diberikan kesempatan istirahat dan tekanan darah akan semakin tinggi, yang mengakibatkan timbulnya hipertensi. Meskipun tidak ada hubungan asupan tembakau kunyah saat hamil dengan tekanan darah bukan berarti bahwa tembakau kunyah boleh dikonsumsi ibu hamil. Sosialisasi bahaya tembakau kunyah pada ibu hamil harus dilakukan oleh petugas kesehatan di puskesmas Bangun Purba dan Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun

    Tuberculosis: case finding in public health center of Blora, Indonesia

    No full text
    Tuberculosis is a disease of international concern. Control measure has been implemented in the World and Indonesia. One of the indicators of TB prevention program in Indonesia is Case Notification Rate (CNR), through case finding to screen of suspected TB, physical examination, laboratory, and diagnosis. This study was conducted to evaluate the TB case finding program in BloraDistric, Indonesia, 2017. This descriptive observational study of evaluation involving 12 TB programmers at puskesmas, 12 laboratory workers and 1 supervisor of Blora District Health Office. Data were collected by in-depth interviews and observations on input, process, output and outcome aspects. Input aspect, 75% of respondents have double job, with duration of >5 years (75%) and was followed TB training >5 years (66%). Aspects of a process, planning, budget requirements, targeting above 90%. Increase internal lineage (58%). The implementation already uses active search (92%) and passive (67%). Involvement of health cadres is not optimal, people are more confident to health workers in the village. PPM has not gone well (17%) so many patients are not reported in fasyankes. Clinics, hospital and private practice doctors have not yet applied DOTS strategy treatment. Monitoring and evaluation has been done by wasor> 2 times / year 33% and <2 times / year 67%. The CNR output aspect of 2016 128 / 100.000 population is below the national target of 316 / 100.000 population. Outcome aspect consists of 91.1% cure rate and 3.5% death. Overall TB case finding in Blora has gone well. But there are still shortcomings in the input aspect, needs to improve the skills of TB programmers with training and refresher. On process, aspect is still necessary increasing PPM by involving the private sector, hospitals, and polyclinics, involving the village midwife actively encompassing TB cases cross-program and sector network. So it can increase the CNR TB in Blora

    Dukungan keluarga dan kualitas hidup pasien diabetes mellitus di puskesmas Panjaitan II, Kulon Progo

    Get PDF
    Latar belakang: Diabetes melitus merupakan salah satu  masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan mutu sumber daya manusia. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu hidup penderita DM tipe II melalui dukungan keluarga. Dengan adanya dukungan dari keluarga dapat memotivasi penderita untuk hidup optimis sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga ditinjau dari empat dimensi (emosional, penghargaan, instrumental, dan informasi) dengan kualitas hidup pasien DM tipe 2 di Puskesmas Panjatan II Kabupaten Kulon Progo.Metode: Desain penelitian ini adalah analitik cross sectional dengan jumlah sampel 150 pasien DM tipe 2. Analisa data menggunakan koefisien korelasi pearson, uji t-independen, dan regresi linear sederhana.Hasil: Adanya hubungan dukungan keluarga (p value:0,00) dan komplikasi (p value: 0,02)  dengan kualitas hidup pasien DM II. Adanya hubungan dukungan keluarga ditinjau dari dimensi emosional (p value:0,00), dimensi penghargaan (p value:0,00), dimensi instrumental (p value:0,00) dengan kualitas hidup pasien DM II. Kesimpulan: adanya hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM II.  Family support and quality of life of diabetes mellitus patients in Panjatan II public health center, Kulon ProgoPurposeThis study aimed to determine the relationship between family support in terms of four dimensions (emotional, appraisal, instrumental, and information) to the quality of life of patients with type 2 diabetes at the health center II Panjatan Kulon Progo regency.MethodsThis research was a cross-sectional analytical study with sample size of 150 patients with diabetes mellitus type 2. Data analysis used Pearson correlation coefficient, independent t-test and simple linear regression tests.ResultsThere were correlations between the presence of family support and complications with the quality of life of diabetes mellitus patients. There were correlations of emotional, awarding, and instrumental dimensions of family support to the quality of life of diabetes mellitus patients.ConclusionIncreased support of emotional dimensions, reward dimensions and instrumental dimensions will improve the quality of life of patients with diabetes mellitus

    Ketersediaan sumber daya kesehatan dan kebutuhan KB tidak terpenuhi (unmeet need): analisis tingkat provinsi

    Get PDF
    Latar belakang: Tingginya kebutuhan KB tidak terpenuhi (11,4%) menjadi problem dalam program keluarga berencana karena dapat menyebabkan peningkatan kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi tidak aman dan persalinan yang berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ketersediaan sumber daya kesehatan meliputi dokter, bidan, klinik KB dan PLKB dengan terjadinya kebutuhan KB tidak terpenuhi di setiap provinsi IndonesiaMetode: Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012, Riset Fasilitas Kesehatan tahun 2011, laporan pelayanan kontrasepsi 2012 dan laporan Badan Pusat Statistik tahun 2012. Sampel penelitian berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Hubungan ketersediaan sumber daya kesehatan dengan kebutuhan KB tidak terpenuhi dianalisis melalui regresi linear. Hasil: Rasio sumber daya kesehatan berdasarkan 10.000 penduduk tidak berhubungan dengan kasus kebutuhan KB tidak terpenuhi, tetapi situasi berbeda jika dilihat berdasarkan luas area. Rasio sumber daya  kesehatan berdasarkan luas area berhubungan dengan kebutuhan KB tidak terpenuhi. Semakin tinggi rasio sumber daya kesehatan per 1.000 km2, maka persentase kebutuhan KB tidak terpenuhi semakin rendah. Kesimpulan: Jumlah dan distribusi sumber daya kesehatan berdasarkan luas area lebih berperan dalam dalam pencapaian program keluarga berencana terutama pada kebutuhan KB tidak terpenuhi. Perencanaan terhadao penyediaan sumber daya kesehatan sebaiknya tidak hanya berdasarkan rasio per 100.000 penduduk tetapi harus mempertimbangkan luas area layanan.Availability of health resources and unmet needs: a provincial level analysisPurposeThis study aimed to analyze the association between the availability of health and percentage of unmet needs in every province in Indonesia.MethodsThis study used secondary data of the Indonesian demographic and health survey 2012, health facilities research report 2011, Board of Population and Family Planning contraceptive services report 2012 and reports from Indonesian Central Bureau of Statistics 2012. The sample was all provinces in Indonesia. Linear regression tests were used to examine the correlation between the availability of health resources and unmet needs.ResultsStatistically, there was no association between the ratio of health resources by 10,000 population with unmet needs for family planning. But, there was an association between the ratio of health resources based on the area with unmet needs for family planning. The higher ratio of health resources by 1000 km2, the lower unmet need percentage for family planning.ConclusionsAvailability (quantity and distribution) of health resources based on the area plays an important role in family planning programs especially unmet needs for family planning. Planning of health resources provision should not be only based on the ratio by 10,000 population, but also consider the area of services

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇