Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Analisis kualitas air sungai dan ikan lele sebagai bioindikator industri rambut di Purbalingga

    No full text
    Purpose:  The purpose of this study was to analyze the quality of river water around the industry in terms of BOD, COD, TSS, Cr (VI) parameters and Cr (VI) accumulation on catfish.Method: This was an observational study, with a cross-sectional design. The study population was river water and catfish which is around the industry. The sample is determined based on the location point of the retrieval divided into 5 stations. Findings: The association of BOD, COD and TSS levels showed a positive linear relationship. Cr (VI) concentration affects the accumulation of Cr (VI) on gill catfish.Practical implications: This study demonstrates the need for river water surveillance, to be free from contamination of organic substances and heavy metals. The quality of river water is related to the quality of catfish.Originality: The concentration of BOD, COD, and Cr (VI) exceeds the standard grade river quality. There are different levels of BOD and COD. The association of BOD, COD and TSS levels showed a positive linear relationship. Cr (VI) concentration affects the accumulation of Cr (VI) on gill catfish.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air sungai di sekitar industri ditinjau dari parameter BOD, COD, TSS, Cr(VI) dan akumulasi Cr(VI) pada ikan lele.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan disain cross sectional.  Populasi penelitian adalah air sungai dan ikan lele yang di sekitar industri. Sampel ditentukan berdasarkan titik lokasi pengambilan yang dibagi menjadi 5 stasiun. One way-anova untuk uji perbedaan parameter setiap stasiun. Uji korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan antar parameter. Regresi linear untuk mengetahui pengaruh akumulasi Cr(VI) pada ikan lele. Semua uji menggunakan α = 0,05.Implikasi praktis: Penelitian ini  menunjukkan perlu pengawasan air sungai, agar bebas dari cemaran zat organik dan logam berat. Kualitas air sungai berkaitan dengan kualitas ikan lele.Keaslian: Konsentrasi BOD, COD dan Cr(VI) melebihi baku mutu sungai kelas III. Ada perbedaan kadar BOD dan COD. Hubungan kadar BOD, COD dan TSS menunjukkan hubungan linier positif. Konsentrasi Cr(VI) mempengaruhi akumulasi Cr(VI) pada insang ikan lele

    Perilaku Minum Sopi pada Remaja di Kecamatan Maulafa Kota Kupang

    No full text
    Latar belakang: Alkohol, seperti obat-obat terlarang lainnya menimbulkan banyak dampak negatif pada tubuh, mental dan kehidupan sosial manusia. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat sejenis minuman fermentasi lokal beralkohol bernama sopi. Karakteristik psikologis khas pada remaja merupakan faktor yang memudahkan terjadi penyalahgunaan alkohol. Namun, untuk terjadinya hal tersebut masih ada faktor lain yang memainkan peranan penting yaitu faktor lingkungan.Metode: Penelitian ini merupakan kualitatif dengan rancangan eksplorasi dan pendekatan fenomenologi.Informan utama adalah remaja yang minum sopi dan informan pendukung adalah tokoh agama atau tokoh masyarakat, orangtua remaja yang minum sopi, penjual sopi, petugas kesehatan dan remaja yang tidak minum sopi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah. Cara pengambilan informan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan strategi convenience sampling. Untuk keabsahan data dilakukan triangulasi sumber, triangulasi metode dan member checking.Hasil: Penelitian ini menemukan remaja mulai minum sopi sejak SMP dan SMA. Umur mereka mengenal sopi dari umur 13-17 tahun. Jumlah sopi yang diminum berkisar antara 2-6 botol. Biasanya minum sopi dilakukan bersama-sama teman mereka. Faktor yang mendorong remaja mengonsumsi sopi diantaranya adalah: 1).  agar dapat bergaul dan memiliki banyak teman; 2) untuk mengakrabkan satu dengan yang lain; 3) memperlancar komunikasi diantara mereka; dan 4) faktor gengsi di mana agar mereka dapat diakui, dianggap dan diterima dalam kelompok. Faktor sosial memiliki peranan yang penting dalam membentuk perilaku minum sopi pada remaja. Selain itu tradisi dan kemudahan mendapatkan sopi juga berkontribusi secara nyata dalam meningkatkan perilaku minum sopi pada remaja.Kesimpulan: Remaja menggangap perilaku minum sopi mudah dilakukan karena penjualannya yang banyak dengan harga murah. Sampai saat ini belum ada PERDA yang mengatur tentang pembatasan penjualan sopi kepada anak remaja. Perlu adanya kerja sama lintas sektor serta pembuatan PERDA untuk menekan perilaku minum sopi pada remaja

    Analisis Beban Ekonomi Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2015

    No full text
    Latarbelakang: Jumlah kasus campak di DIY  tahun 2014 mencapai 1.222 kasus (Kemenkes 2014). Jumlah ini menempatkan DIY menjadi provinsi dengan jumlah kasus campak terbanyak ketiga setelah DKI Jakarta dan Aceh. Kejadian luar biasa campak di 2014 sebanyak 10 kali dengan 262 kasus, 2014 1 kali dengan 14 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban ekonomi akibat KLB campak pada sektor rumah tangga.Metode: Penelitian deskriptif dengan desain survei, data yang dikumpulkan  berupa biaya langsung dan tidak langsung yang terjadi selama pasien terkena campak, dilakukan wawancara menggunakan kuesioner. Data sekunder berupa kejadian luar biasa campak tahun 2014 dan 2015. Penelitian pada Februari -  Maret 2016.Hasil: Jumlah responden sebanyak 177, yang merupakan pasien  KLB campak di DIY, 163 pasien (92,09%) mengunjungi fasilitas kesehatan. Total biaya medis adalah Rp 17.982.000,- biaya langsung non medis Rp 7.804.900,- sehingga total biaya langsung Rp 25.786.900,-  (Rp 145.700,- per kasus). Sedangkan total biaya tidak langsung Rp 11.720.000,-(Rp 160.500,-). Estimasi beban ekonomi KLB campak Rp 37.506.900,- (Rp. 211.900,- perkasus). Setara dengan  9,20% dari  pendapatan rumah tangga. Secara umum biaya yang di keluarkan tunai (Out Of Pocket) sebesar 6,32% dari pendapatan rumah tangga, belum sampai  katastropik. Komponen yang  dominan  adalah biaya langsung. Estimasi beban ekonomi KLB campak Rp 211.900,- perkasus, beban ini secara umum masih bisa di atasi oleh rumah tangga. Namun ada 6 pasien (35,29%) dari total pasien rawat inap yang melakukan strategi copyng (meminjam uang, menjual aset dan menggadai barang).Kesimpulan: Perlu advokasi kepada masyarkat terkait pencegahan campak yaitu dengan cara imunisasi campak.

    Interaksi interpersonal dan stres kerja dosen di STIKES X Bengkulu

    No full text
    Interpersonal interaction and lecturer work stress in private universityPurposeThis paper discussed how and why the weakness of interpersonal interaction can lead to lecturer work stress.MethodThis analytic survey research was conducted with a cross-sectional approach involving 36 permanent lecturers of a private university. The independent variables were the working period and interpersonal interaction, the dependent variable was the work stress.ResultsThis paper found 50% of lecturers still lack interpersonal interaction. The problem was in communication among lecturers and university leaders, and awareness to build interpersonal interaction in the work environment. Lecturers with good interpersonal interactions have lower stress levels. Social support is very useful to strengthen the psychological aspects of lecturers in their activities.ConclusionThis paper concluded the relationship between interpersonal interaction with work stress. University need to regularly facilitate joint agenda for all staff to encourage close interpersonal interaction.TujuanPenelitian ini mendiskusikan apakah kelemahan interaksi interpersonal dapat memicu terjadinya stres kerja pada dosen.MetodeSurvei ini menginterview 36 dosen dengan kuesioner.HasilPenelitian ini menemukan 50% dosen masih mempunyai interaksi interpersonal lemah. Problem terletak di pola komunikasi dengan rekan kerja maupun pimpinan universitas, kesadaran untuk membangun interaksi interpersonal di lingkungan kerja. Dosen dengan interaksi interpersonal yang baik cenderung mempunyai tingkat stres lebih rendah. Dukungan sosial memang sangat bermanfaat untuk memperkuat aspek psikologis dosen di tengah padatnya aktivitas perkuliahan.  KesimpulanPenelitian ini menyimpulkan adanya keterkaitan antara interaksi interpersonal dengan stres kerja. Universitas perlu memfasilitasi kegiatan bersama secara rutin agar hubungan diantara rekan kerja menjadi semakin akrab.

    Studi Kasus Potensi WhatsApp Group dalam Edukasi Gizi Seimbang Melalui Penyusunan Menu Keluarga

    No full text
    Latar Belakang : Perkembangan teknologi memberikan kemudahan berinteraksi dan berbagi  informasi satu sama lain. Era sosial media dapat digunakan oleh tenaga kesehatan untuk mengedukasi masyarakat secara online, salah satunya dengan optimasi layanan WhatsApp group. Kesehatan keluarga merupakan inti dari kesehatan masyarakat. Sajian menu dalam keluarga menjadi dasar pemenuhan gizi terutama pada anak dan keluarga inti lainnya.  Tujuan : Untuk mengetahui potensi WhatsApp group dalam pemberian edukasi gizi seimbang melalui penyusunan menu keluarga.Metode : In-depth interview terhadap 2 ahli gizi pengelola WhatsApp Group yang memberikan edukasi gizi online dan survey sebagai data pendukung.Hasil : Berdasarkan hasil survey diketahui bahwa para ibu ingin menyajikan menu yang bergizi, lezat dan tidak membosankan. Sedangkan In-depth interview yang dilakukan mengenai edukasi gizi seimbang melalui WhatsApp Group diperoleh bahwa durasi edukasi yang paling kondusif sekitar 2 jam dengan waktu yang sudah dijadwalkan. Aktivitas edukasi ini memperoleh respon positif dalam penerimaan pesan edukasi gizi seimbang melalui penyusunan menu keluarga. Jumlah anggota WhatsApp Group ini bervariasi mulai dari  30 hingga 90 orang. Metode pemberian materi awal sebelum berjalannya sesi tanya jawab seminggu sebelumnya terlihat lebih efektif dibandingkan pemberian materi pada saat diskusi online yang bersamaan dengan sesi tanya jawab. Sistem mendaftar mandiri dengan adanya investasi sebagai syarat bergabung dalam WhatsApp Group membuat peserta lebih antusias saat mengikuti edukasi dibandingkan WhatsApp Group tanpa berbayar. Pemberian tugas untuk menyusun menu keluarga selama 1 minggu dengan pendampingan konsultasi jika ada kesulitan terbukti lebih mudah dipahami dan dipraktekkan oleh peserta WhatsApp Group.Kesimpulan : WhatsApp group berpotensi digunakan untuk edukasi gizi seimbang pada tataran keluarga.

    Dukungan sosial dan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS

    No full text
    Quality of life among people living with HIV/AIDS based on criteria diagnosis and other factors in Surakarta PurposeThis study aimed to determine the quality of life among people living with HIV/AIDS based on the criteria for diagnosis and other factors.MethodsThis study was conducted in the VCT clinic hospital of Dr. Moewardi. The population was HIV-positive patients with antiretroviral therapy. Data collection conducted through medical records and interview to patients. ResultsOut of a total of 89 respondents, 66.29% were males and 71.91% were aged between 26-45 years. We found significant correlations for diagnosis of HIV/AIDS, opportunistic infections, time since HIV diagnosis, duration of ARV therapy, social support, modes of transport, sex, age, and marital status with the quality of life. Multivariate analysis obtained by each variable showed the strongest association with the quality of life was time since diagnosis, social support and duration of ARV therapy. ConclusionThe quality of life was better for those who have been diagnosed with HIV/AIDS ≥ 32 months, with social support, and who have been undergoing antiretroviral therapy ≥ 29 months. Improved counseling in the early days of ARV therapy is necessary to always maintain the treatment and provide support for their social life.Latar belakang: Indonesia termasuk negara Asia dengan perkembangan epidemi HIV tercepat. Surakarta menjadi salah satu kota yang memiliki peningkatan kasus setiap tahunnya. Terapi ARV berperan penting untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup ODHA berdasarkan kriteria diagnosis HIV dan faktor lainnya.Metode: Penelitian observasional dilakukan di klinik VCT RSUD Dr. Moewardi pada pasien yang menjalani terapi ARV. Pengambilan sampel melalui consecutive sampling. Penelitian menggunakan kuesioner terstruktur, WHOQOL-BREF dan rekam medis.Hasil: Sebanyak 89 responden berpartisipasi. Kriteria diagnosis, infeksi oportunistik, lama diagnosis, lama terapi, dukungan sosial, moda transportasi, jenis kelamin, umur dan status pernikahan berhubungan dengan kualitas hidup. Variabel yang paling berhubungan dengan kualitas hidup meliputi lama diagnosis, dukungan sosial dan lama terapi. Pasien yang telah terdiagnosis ≥ 32 bulan mempunyai kualitas hidup lebih baik, mendapatkan dukungan sosial dan telah menjalani terapi ≥ 29 bulan.Kesimpulan: Peningkatan konseling pada masa awal terapi perlu dilakukan untuk mempertahankan pengobatan dan memperoleh dukungan dari lingkungan sosial. 

    Hubungan Perilaku Penggunaan Insektisida dengan Status Kerentanan Nyamuk Aedes aegypti di Daerah Endemis Kabupaten Purbalingga

    No full text
    Insecticide use and Aedes aegypti susceptibility status in endemic areas of PurbalinggaPurpose: This study aimed to identify the correlation between behavior towards insecticide use and susceptibility status of Aedes aegypti mosquito and to identify the level of mosquito susceptibility from an endemic area in Purbalingga.Methods: This research used a cross-sectional design and was conducted from January 2017 until April 2017 in four endemic villages of Purbalingga. 40 respondents were involved in the research. Samples from each village were taken using purposive sampling. Ovitraps were installed and interviews were conducted using questionnaires for selected households. Mosquito susceptibility status was described based on the results of WHO’s standardized bioassay test.Results: The results of susceptibility test indicated that Aedes aegypti from three endemic villages (Purbalingga Lor, Penaruban, Sempor Lor) were resistant, while mosquitoes from Kembaran Kulon Village were tolerant to cypermethrin 0.05%. Variables correlated with susceptibility status of Aedes aegypti mosquito were respondent's negative attitude (PR = 0.55; 0.37 - 0.80) and behavior towards insecticide use (PR = 1.24; 1.05 - 1.47).Conclusions: Misuse of insecticides increased susceptibility status of Aedes aegypti mosquito and becomes the main risk factor for resistance. It is necessary to rotate the insecticide use for programs and households through different modes of action and to provide public health education about insecticide use, selection of active ingredients, dosage, mode of application and periodic replacement of insecticides.Latar Belakang: Demam berdarah dengue (DBD) merupakan prioritas pertama masalah kesehatan di Kabupaten Purbalingga. Incidence rate DBD 2013-2015 di atas target nasional (>20/100.000 penduduk), dan  case fatality rate tahun 2016 mencapai 2%. Penggunaan insektisida oleh masyarakat telah berlangsung lama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan perilaku penggunaan insektisida dengan status kerentanan nyamuk Aedes aegypti dan mengetahui gambaran kerentanan nyamuk dari daerah endemis di Kabupaten Purbalingga. Metode: Penelitian explanatory research rancangan cross sectional pada  Januari-April 2017 di empat desa/kelurahan endemis Kabupaten Purbalingga. Penentuan jumlah subjek penelitian berdasarkan pedoman survei entomologi DBD. Sampel dari tiap desa ditentukan dengan purposive sampling. Pada rumah tangga yang terpilih dilakukan pemasangan ovitrap dan wawancara menggunakan kuesioner. Gambaran status kerentanan nyamuk berdasarkan hasil uji bioassay standar WHO. Hasil: Sebanyak 240 responden dilibatkan dalam penelitian. Hasil susceptibility test menunjukkan Aedes aegypti dari tiga desa/kelurahan endemis (Purbalingga Lor, Penaruban, Sempor Lor) telah resisten, sedangkan nyamuk dari  Kelurahan Kembaran Kulon masih toleran terhadap cypermethrin 0,05%. Variabel yang berhubungan dengan status kerentanan nyamuk Aedes aegypti adalah sikap negatif responden dengan aPR 0,55 (95% CI 0,38-0,81),  p value 0,002 dan perilaku respoden menggunakan insektisida dengan aPR 1,22 (95% CI 1,04-1,43), p value 0,013. Kesimpulan: Perilaku penggunaan insektisida yang tidak tepat berhubungan dengan meningkatnya status kerentanan nyamuk Aedes aegypti dan menjadi faktor risiko terjadinya resisten. Perlu rotasi penggunaan insektisida program dan rumah tangga menggunakan insektisida dengan mode of action yang berbeda. Penyuluhan kesehatan masyarakat tentang penggunaan insektisida, pemilihan bahan aktif, dosis, cara aplikasi dan penggantian berkala insektisida

    Evaluasi sistem pengelolaan limbah medis Puskesmas di wilayah Kabupaten Bantul

    Get PDF
    Evaluation of community health center's medical waste management system in Bantul RegencyPurposeThis study aimed to evaluate the Primary health centers medical waste management systems.MethodsThis research was a qualitative study using a case study design in five Puskesmas of Bantul Dis­trict.ResultsThe manage­ment of medical waste in Bantul Regency is a new model using private party as a user (health cooperative) to hire services to the private transporter (CV. Jogya Prima Per­kasa) to carry out the transportation and destruction of medical waste generated by health facilities of Puskesmas, Pustu, Polindes and private health facilities. Con­sideration of Health Cooperation is a private institution belonging to Dinas Kesehatan and has a legal entity con­sidered more flexible to bail out the initially issued funds to pay the financing of transport and extermination services to the transporter.ConclusionPrimary health care medical waste man­agement has followed the regulations. Health center has conducted medical waste management starting from the sorting, collection, pack­aging, storage, and transport. There should be improvements in some aspects, especially the creation of TPS for Puskesmas that do not have them yet, while Puskesmas who already have TPS need to make im­provements ac­cording to the conditions specified. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sistem pengelolaan limbah medis Puskesmas. Metode: Jenis penelitian kualitatif ini menggunakan rancangan studi kasus di lima Puskesmas Kabupaten Bantul.Hasil: Pengelolaan limbah medis di Kabupaten Bantul merupakan model baru menggunakan pihak swasta sebagai user (koperasi kesehatan) untuk menyewa jasa kepada pihak transporter swasta (CV. Jogya Prima Perkasa) melakukan pengangkutan dan pemusnahan limbah medis yang dihasilkan oleh fasilitas kesehatan Puskesmas, Pustu, Polindes dan fasilitas kesehatan swasta. Pertimbangan Koperasi Kesehatan adalah lembaga swasta yang merupakan milik Dinas Kesehatan dan memiliki badan hukum dianggap lebih fleksibel untuk menalangi dana yang dikeluarkan awal untuk membayar pembiayaan jasa pengangkutan dan pemusnahan kepada pihak transporter. Kesimpulan:  Pengelolaan limbah medis Puskesmas sudah mengikuti peraturan PP nomor 101 Tahun 2014 dan Permenlhk nomor 56 Tahun 2015. Puskesmas telah melakukan pengelolaan limbah medis yang dimulai dari pemilahan, pengumpulan, pengemasan, penyimpanan dan pengangkutan. Perlu ada peningkatan dalam beberapa aspek terutama pembuatan TPS bagi Puskesmas yang belum memiliki, sementara Puskesmas yang sudah memiliki TPS perlu meningkatkan sesuai syarat yang ditentukan.

    Method Information Index Dan Penggunaan Pil Kontrasepsi Pada Wanita Usia Di Atas 35 Tahun Di Indonesia: Analisis Data PMA2020 2015

    No full text
    Pendahuluan: Penggunaan pil kontrasepsi oleh wanita menikah menduduki urutan kedua tertinggi setelah suntik, termasuk pada mereka yang berusia 35 tahun ke atas.  Pada usia tersebut, penggunaan pil kontrasepsi yang mengandung estrogen tidak dianjurkan.  Penelitian ini mengkaji method information index pada penggunaan pil kontrasepsi oleh wanita kawin usia 35 tahun ke atas. Metode: Penelitian cross sectional menggunakan data survei PMA2020 yang dilakukan bulan Mei sampai Oktober 2015 di Indonesia. Sampel responden wanita menikah usia 35 tahun ke atas dipilih dengan cara acak bertingkat 2 tahap. Wanita infertil, menopause dan pasca histerektomi dikeluarkan dari analisis. Pengguna kontrasepsi modern dikategorikan menjadi 2 kelompok, yaitu: pil kontrasepsi dan jenis kontrasepsi lainnya dan dihubungkan dengan pemberian kelengkapan method information indeks (MII). Indikator ini mencakup informasi keragaman jenis kontrasepsi, efek samping dan rujukan jika terjadi efek samping. Analisis multilevel logistik regresi digunakan untuk mempertimbangkan variabel jenis fasilitas dan karakteristik sosio-demografis (tingkat pendidikan, kekayaan, domisili). Hasil: Prosentase pengguna kontrasepsi pil kontrasepsi  menduduki urutan kedua tertinggi (26%) setelah injeksi (39%). Probabilitas penggunaan pil kontrasepsi pada penerima MII lengkap sekitar 26% lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapat MII lengkap, sedangkan yang mendapat pelayanan di swasta lebih tinggi dari pemerintah (82%). Variabel method information index dan jenis fasilitas berhubungan secara signifikan dengan penggunaan pil kontrasepsi, namun tingkat pendidikan, kekayaan dan domisili tidak menunjukkan signifikani dengan penggunaan pil kontrasepsi. Kesimpulan: Method information index lengkap menurunkan penggunaan pil kontrasepsi pada wanita menikah usia 35 tahun ke atas dan akses pelayanan keluarga berencana di fasilitas kesehatan swasta meningkatkan peluang penggunaan pil kontrasepsi

    The role and motivation of the mental health nurse in restraint free program at the Mataram Primary Health Center

    No full text
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peran dan motivasi perawat kesehatan jiwa dalam pelaksanaan program bebas pasung di wilayah puskesmas Kota Mataram,Provinsi NTB.Metode: Penelitian kualitatif dilakukan untuk mengetahui bagaimana peran dan motivasi perawat dalam pelaksanaan  program bebas pasung tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari 10 orang perawat pemegang program kesehatan jiwa, 3 orang keluarga penderita, 2 orang pegawai dinas kesehatan Kota Mataram, 1 orang kader kesehatan jiwa serta 1 orang mantan penderita gangguan jiwa. Pengumpulan data dilakukan FGD(Focus Group Discussion), wawancara mendalam, dan melakukan observasi.Hasil: Hasil penelitian menggambarkan bahwa peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan secara langsung adalah memberikan tindakan keperawatan pada penderita dan keluarganya  serta melanjutkan terapi untuk penderita, peran sebagai pendidik adalah memberikan pendidikan kesehatan jiwa kepada keluarga, memberikan penyuluhan kepada masyarakat serta memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang sedang praktik di puskesmas, sedangkan peran sebagai koordinator kegiatan adalah melakukan pemetaan kasus pasung serta pemberdayaan penderita. Bentuk pekerjaan merupakan motivasi perawat, sedangkan kondisi kerja merupakan faktor yang menyebabkan ketidak puasan perawat kesehatan jiwa, dalam melaksanaan program bebas pasung.Implikasi praktis: Perlu kerjasama semua pihak dalam mewujudkan daerah bebas pasung. Perlu evaluasi kondisi kerja, karena penelitian ini menemukan kondisi kerja adalah faktor ketidak puasan perawat kesehatan jiwa.Keaslian: Program bebas pasung di NTB belum berjalan maksimal, sehingga diperlukan kerjasama dari semua lapisan masyarakat, stakeholder, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lintas sektoral untuk melaksanakan program bebas pasung, terutama dalam upaya preventif, promotif, kuratif serta rehabilitatif.Purpose: This study aimed to determine the description of the role and motivation of mental health nurses in the implementation of a restraint-free program in the area of the health center of Mataram City, NTB Province.Method: Qualitative research was conducted to find out how the role and motivation of nurses in the implementation of the free program of the brackets. This research used a qualitative method of the case study. The subjects consist of 10 nurses who hold mental health program, 3 patient families, 2 employees of Mataram City health service, 1 mental health cadre and 1 person with a mental disorder. Data collection was conducted by FGD (Focus Group Discussion), in-depth interviews, and observation.Findings: The results of this study illustrate that the role of nurse as direct nursing caregiver is to provide nursing action to the patient and his family and continue therapy for the patient, the role as educator is to provide mental health education to the family, provide counseling to the community and provide guidance to students who are practice in health center, while the role as activity coordinator is to mapping the case of “pasung” and empowering the patient. The form of work is the motivation of nurses while working conditions are factors that cause dissatisfaction of mental health nurses, in the implementation of the restraint free programPractical implications: Need cooperation of all parties in realizing the restraint free program. Need to evaluate working conditions, because this study finds working conditions is a factor of dissatisfaction of mental health nurses.Originality: The restraint-free program in NTB has not been maximized, so cooperation is needed from all levels of society, stakeholders, religious leaders, community leaders and cross-sectoral to implement the restraint-free program, especially in preventive, promotive, curative and rehabilitative efforts

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇