Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Tuberculosis research in ASEAN countries: a bibliometric analysis
Introduction. Research on TB is a fundamental key in the process to eliminate this bacterial infection as a threat to global health and the analysis of the scientific output provides valuable information related to trends in time and the epidemiology of the disease.Objective. Describing scientific output of TB research in ASEAN countries.Method. Searches were completed on August 11, 2017, using the Pubmed database, filtered by ASEAN countries. Terms related to TB were used to perform a title keyword search. The number of publications by year, research trends, top productive countries, citation analysis, and most dominant journals were analyzed by Scopus platform.Results. ASEAN countries produced 2,630 TB publications. Majority of the publications in ASEAN (63,78%) appeared in the last decade. The average annual growth rate was 9.11%. Thailand was the most productive country that contributes about 28.52% (751), followed by Singapore (432; 16.42%), Malaysia (281; 10.68%) Vietnam (231; 8.78) and Indonesia (177; 6.73%). The top two most highly cited articles were published in the Journal of Clinical Biology and The Lancet. The top three productive journals were International Journal of TB and Lung Disease (231 papers; 8.78%), Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health (148 papers; 5.62%) and Journal of The Medical Association Thailand (112 papers; 4.25%). Top ten journal of TB contained 33.53% papers. Emerging research topics in the last years include co-infection, latent tuberculosis, interferon-gamma release tests, emigrants and immigrants, thoracic radiography, and tuberculin test.Conclusion. There was increasing research activity of TB in ASEAN region over the last decade. Thailand, Singapore, and Malaysia are the leading countries that contribute around 55.66% of total TB research in ASEAN countries
Efektifitas Pelatihan Pembina UKS dalam Mencegah Anemia Remaja Putri di Purwokerto
Tujuan:Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia yang menonjol pada remaja. Remaja pada umumnya merupakan anak usia sekolah. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan anak usia sekolah pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan yaitu dari Sekolah Dasar sederajat, Sekolah Menengah Pertama sederajat dan Sekolah Menengah Atas sederajat. Kegiatan UKS dikenal sebagai trias UKS yaitu pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan lingkungan sekolah sehat. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu upaya pencegahan anemia gizi besi pada remaja. Guru khususnya pembina UKS merupakan sasaran sekunder dalam upaya pencegahan anemia gizi besi pada remaja. Pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan guru. Oleh karena itu perlu dilakukan pelatihan dalam upaya pencegahan anemia gizi besi remaja terhadap pembina UKS. Metode:Penelitian ini merupakan jenis quasi experimental design dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 34 responden. Hasil:Hasil analisis univariat menunjukan bahwa terdapat peningkatan rata-rata skor pada pengetahuan yaitu 8,95%, pada sikap 14,54% dan pada keterampilan 1,62%. Hasil analisis bivariat menujukan ada perbedaan pengetahuan setelah pelatihan (p=0,001), ada perbedaan sikap setelah pelatihan (p=0,000) dan tidak ada perbedaan keterampilan setelah pelatihan (p=0,603). Kesimpulan:Ada perbedaan pengetahuan responden dalam upaya pencegahan anemia gizi besi remaja putri. Ada perbedaan sikap responden dalam upaya pencegahan anemia gizi besi remaja putri. Tidak ada perbedaan ketermpilan responden dalam upaya pencegahan anemia gizi besi remaja putri.
Mengatasi krisis air bersih dengan pembentukan kampung iklim dan model desa konservasi: sebuah studi di Provinsi Jawa Barat
Keberadaan air berperan penting bagi makhluk hidup termasuk manusia. Mengkonsumsi air tidak layak minum mengakibatkan pertumbuhan fisik 37,2% penduduk Indonesia tidak maksimal. Sebab, konsumsi air tak layak minum menjadi salah satu penyebab diare. Cakupan layanan air bersih Provinsi Jawa Barat tahun 2013 baru mencapai 60,68%. Sedangkan target tahun 2018 sebesar 92,5%. Jadi, ada deviasi pengelolaan air bersih. Bila dibiarkan akan berdampak pada water borne disease. Studi ini bertujuan memberikan berbagai alternatif dalam memecahkan masalah terkait krisis air bersih di Provinsi Jawa Barat. Data diperoleh dari studi literatur, wawancara dan laporan ahli. Metode analisis adalah deskriptif. Perubahan iklim berdampak pada adanya cuaca ektrem. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak ganda perubahan iklim. Ini tantangan baru untuk disinergikan dalam pembangunan nasional. Faktor terkait perubahan iklim pada ketahanan pangan, yaitu: curah hujan, temperatur, produksi beras, serta aspek akses terhadap pangan. Perubahan iklim berpengaruh pada kenaikan temperatur, curah hujan, dan permukaan air laut; ketahanan pangan; kekurangan air bersih; dan meningkatnya penyakit tular vektor. Sebagai solusi mengatasi krisis air di Jawa Barat dapat melalui dua pendekatan, yaitu: (1) Pendekatan kampung iklim, berupa: pengendalian kekeringan, banjir dan longsor; peningkatan ketahanan pangan; penanganan atau antisipasi kenaikan muka air laut; pengendalian penyakit terkait iklim (pengendalian vektor, sistem kewaspadaan dini, sanitasi dan air bersih). (2) Penciptaan desa konservasi, berupa kegiatan: rehabilitasi hutan & lahan partisipatif; pengembangan ekonomi; menyelamatkan lahan untuk mata air; pembentukan desa wisata untuk pengembangan ekonomi; dan penanaman pohon endemik.Kata kunci: krisis air bersih, kampung iklim, desa konservasi, perubahan iklim
Determinan konsumsi mie instan pada mahasiswa universitas Sriwijaya
Latar belakang: Penyakit tidak menular cenderung dijumpai pada orang tua, namun sekarang justru diderita oleh orang berusia di bawah 40 tahun. Semua kalangan usia rentan terhadap faktor risiko penyakit tidak menular, yakni pola makan yang tidak sehat. Mie instan menjadi salah satu makanan tidak sehat yang paling sering dikonsumsi masyarakat karena kandungan natrium dan lemak yang tinggi, namun rendah serat, vitamin dan mineral. Peningkatan aktifitas, kehidupan sosial dan kesibukan mengakibatkan mahasiswa mengonsumsi makanan tidak sehat seperti mie instan. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian untuk menggali gambaran faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi mie instan pada mahasiswa. Tujuan penelitian ini untuk menggali gambaran faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi mie instan pada mahasiswa.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam pada 20 informan. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni-September 2015.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor individu merupakan faktor yang paling berpengaruh meliputi kendala waktu, rasa, aroma, harga didukung dengan faktor lingkungan sosial meliputi pola hubungan keluarga dan pola pertemanan. Faktor lingkungan fisik meliputi akses yang mudah dan ketersediaan mie instan yang mencukupi serta faktor lingkungan makro meliputi tidak adanya kebijakan kampus, norma sosial di masyarakat serta iklan berpengaruh terhadap konsumsi mie instan varian rasa baru. Mahasiswa memberikan saran upaya promosi melalui seminar dan media sosial.Kesimpulan: Konsumsi mie instan meningkat pada saat awal masuk kuliah karena perubahan suasana, padatnya aktivtas jadwal kuliah yang juga tuga kuliah yang banyak menyebabkan mahasiswa lebih memilih mengonsumsi mie instan. Jumlah porsi mie instan pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Adapun faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi mie instan pada mahasiswa meliputi faktor individu, lingkungan sosial, fisik dan makro. Determinants of instant noodles consumption among students in Sriwijaya universityPurposeThis study aimed to explore the factors that influence the instant noodle consumption among students in Sriwijaya university. MethodsThis research was a qualitative study with phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews with 20 informants. The sampling technique was purposive sampling. The data collection was conducted from June-September 2015.ResultsThis study showed that individual factors are the most influential factors, including time constraints, taste, aroma, and prices which were supported by the social environmental factors, including the pattern of family relationships and patterns of friendship. Physical environmental factors included easy access and sufficient availability of instant noodles and macro environmental factors including the lack of campus policies, social norms in the society as well as the advertising effect on the consumption of instant noodles with new flavors. ConclusionStudents receive advice about diet from educational promotional efforts through seminars and social media
Kepatuhan perawat dalam cuci tangan dan angka kuman di satu rumah sakit swasta Yogyakarta
Differences in the number of germs in the palms of nurses according to the level of knowledge and compliance of handwashing in private hospitalsPurposeThis study aimed to measure the difference of germs on the hands of nurses according to level of knowledge and compliance of handwashing in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta.MethodsThis study used observational analytic method with a cross sectional study design. The population in this research was nurses who work in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta totalling 68 people. Measurements used questionnaires and direct observation of handwashing, as well as direct sampling for examination of the number of germs in the palms of nurses.ResultsThere was no difference in the number of germs in the palms of the nurses with knowledge level (p = 0.541), and individual characteristics (p > 0.05). There was a difference in the number of germs in the nurse's hands (p = 0.000) with adherence. The result of observation showed that the lack of compliance of hand washing was due to the lack of awareness of nurses about handwashing.ConclusionThere are differences of germs in the hands of nurses with compliance with handwashing. Therefore, it is necessary to check and supervise handwashing routinely in order to increase awareness of the importance of handwashing by health personnel especially nurses.Latar Belakang: Infeksi nosokomial atau Health-Care Associated Infection (HCAI) merupakan masalah yang besar bagi pasien sehingga diperlukan pengawasan dan pencegahan agar pasien lebih terlindungi. Cuci tangan merupakan salah satu tindakan yang penting untuk mencegah penyebaran mikroba patogen pada pasien, oleh karena itu pelaksanaan cuci tangan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) sangat efektif dan sederhana untuk menurunkan kejadian infeksi nosokomial. Hasil pemantauan oleh tim Pencegahan Penyakit Infeksi (PPI) di sebuah rumah sakit swasta ditemukan bahwa angka kepatuhan dalam pelaksanaan hand hygiene oleh tenaga kesehatan masih kurang dari standar minimal. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian perbedaan angka kuman di telapak tangan perawat menurut tingkat pengetahuan dan kepatuhan pelaksanaan cuci tangan di sebuah rumah sakit swasta.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan rancangan studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di sebuah rumah sakit swasta yang berjumlah 68 orang. Pengukuran dengan menggunakan kuesioner dan observasi langsung terhadap pelaksanaan cuci tangan, serta pengambilan sampel untuk pemeriksaan angka kuman di telapak tangan perawat.Hasil dan Pembahasan: Tidak ada perbedaan angka kuman di telapak tangan perawat dengan tingkat pengetahuan (p=0,541), dan karateristik individu (p>0.05). Ada perbedaan angka kuman di telapak tangan perawat (p=0,000) dengan kepatuhan. Hasil observasi menunjukkan kurangnya kepatuhan pelaksanaan mencuci tangan dikarenakan masih kurangnya kesadaran perawat dalam pelaksanaan cuci tangan.Kesimpulan dan Saran: Terdapat perbedaan angka kuman di telapak tangan perawat dengan kepatuhan pelaksanaan cuci tangan. Perlu dilakukan pemeriksaan dan pengawasan pelaksanaan cuci tangan secara rutin agar meningkatnya kesadaran pelaksanaan cuci tangan oleh petugas kesehatan khususnya adalah perawat
The needs and care of children with cerebral palsy who are drooling: an exploratory study
Background: Drooling is an accidental occurrence of saliva loss along with other oral content from the mouth. The family is the main character who always accompany and face the child's cerebral palsy. Knowing directly about family perception that can explain the picture of the need and care of children with CP who experienced drooling at YPAC Semarang, so a thorough exploratory study of maternal participants. The study aims to explore the needs and care and expectations of parents of children with CP who experience drooling.Method: Qualitative research with phenomenology approach conducted at YPAC Semarang in September 2016. Data collection was done by in-depth interview method to 6 maternal participants selected through purposive sampling and 1 doctor medical rehabilitation and 1 teacher as triangulation participant. Data analysis is done according to Collaizi steps.Result: This research produces ten themes: need to overcome drooling; Overcome feelings of sadness, embarrassment, brokenness, low self-esteem, hurt, sensitivity, offended when children are humbled, do not bear, feelings of refusal, acceptance, fear and self-blame; Overcome child shame; Financing for child therapy; Strength, sense of spirit, gratitude, patience and endeavor; Accepted by society and concern by the government; Environmental modification; Coping with drooling; Poor understanding of mothers; Mother's expectation of foundation and government about health service, education, and child's independence.Conclusion: Optimizing the fulfillment and care needs of CP children with grade IV and V drooling is to overcome drooling using drooling absorbent and long-term care.Purpose: The purpose of this study was to explore the needs and care and expectations of parents of children with CP who are drooling.Methods: This qualitative research with phenomenology approach was conducted at YPAC Semarang in September 2016. Data collection was done by in-depth interviews with 6 maternal participants selected through purposive sampling and 1 rehabilitation medical doctor and 1 teacher as a triangulation participant. Data analysis was done according to Collaizi steps.Results: This research produced ten themes: need to overcome drooling; Overcome feelings of sadness, embarrassment, brokenness, low self-esteem, hurt, sensitivity, offended when children are bullied, can not bear, feelings of refusal, acceptance, fear and self-blame; Overcome child shame; Financing for child therapy; Strength, sense of spirit, gratitude, patience and endeavor; Accepted by society and concern by the government; Environmental modification; Coping with drooling; Poor understanding of mothers; and Mother's expectation of foundation and government supported health services, education, and child's independence.Conclusion: Optimizing the fulfillment and care needs of CP children with grade IV and V drooling involves strategies to overcome drooling using drooling absorbents and long-term care
Dukungan sosial untuk orang dengan gangguan jiwa di daerah miskin: studi kasus di Gunungkidul
Social support for people with mental disorders in poor areas: a case study in GunungkidulPurposeThe purpose of this study was to describe the role of mental health cadres in the effort of community based mental health service at Wonosari II Health Center Gunungkidul.MethodsQualitative research was done by case study approach. The cadres were chosen purposively with the criteria of: having attended training or socialization of mental health, having at least 2 years work experience related to community mental health service, and still active. Data collection was done through in-depth interviews and document utilization.ResultsCadres play an important role in providing social support. First, the cadre can show empathy to the family of people with mental disorders by building close relationships and facilitating the social acceptance of the community. Secondly, the cadres provide socialization related to mental disorders and mental health services. Third, approaches through home visits, referral assistance to health services, and health insurance and social assistance suggest that cadres facilitate access to care for people with mental disorders.ConclusionThere was a high social awareness of cadres to families with mental disorders in poor neighborhoods. We found that poverty does not limit people to share with others, and social support helps prevent mental illness from getting worse.Latar belakang: Gangguan jiwa memiliki pengaruh besar terhadap status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat. Jika mereka miskin, maka kehadiran gangguan jiwa berdampak pada makin buruknya situasi kesehatan dan sosial mereka. Penelitian ini ingin mengeksplorasi peran kader kesehatan jiwa di daerah berpenduduk miskin dalam sistem kesehatan masyarakat yang berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dukungan sosial pada peran kader kesehatan jiwa dalam upaya pelayanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat di Puskesmas Wonosari II Kabupaten Gunungkidul.Metode: Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Purposive sampling digunakan untuk memilih kader yang pernah mengikuti pelatihan atau sosialisasi kesehatan jiwa, memiliki minimal 2 tahun pengalaman kerja yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat, dan masih aktif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan pemanfaatan dokumen.Hasil: Kader menunjukkan peran penting dalam dukungan sosial. Pertama, kader menunjukkan empati mereka pada keluarga orang dengan gangguan jiwa dengan membangun hubungan yang akrab dengan orang dengan gangguan jiwa dan memfasilitasi penerimaan sosial oleh masyarakat yang pada gilirannya meningkatkan rasa percaya diri mereka. Rasa percaya diri merupakan faktor penting dalam proses pemulihan dari kondisi mengalami gangguan jiwa. Kedua, kader memudahkan akses informasi dengan memberikan sosialisasi mengenai gangguan jiwa di masyarakat dan menyampaikan informasi tentang pelayanan kesehatan jiwa. Ketiga, pendekatan melalui kunjungan rumah, bantuan dalam rujukan ke pelayanan kesehatan, serta pengupayaan jaminan kesehatan dan bantuan sosial menunjukkan bahwa kader telah memudahkan akses terhadap sumber daya yang terkait dengan perawatan orang dengan gangguan jiwa.Kesimpulan: Penelitian ini mengungkapkan adanya kepedulian sosial yang tinggi dari kader terhadap keluarga dengan gangguan jiwa di lingkungan berpenduduk miskin. Kemiskinan tidak membatasi warga masyarakat untuk berbagi dengan sesama mereka. Dukungan sosial membantu mencegah kondisi mereka semakin terpuruk
Aktivitas fisik dan kejadian hipertensi pada pekerja: analisis data Riskesdas 2013
ABSTRAKLatar belakang: Hipertensi yang dibiarkan dapat menyebabkan komplikasi terhadap jantung, otak, mata dan ginjal. Prevalensi hipertensi menurut jenis pekerjaan pada pegawai 20,6%, wiraswasta 24,7%, petani, nelayan dan buruh: 25%. Aktivitas fisik pekerja berdasarkan data Riskesdas 2013 yang masih kurang yaitu pegawai 23,3%; wiraswasta 18,3%; dan petani, nelayan, dan buruh 13,4%. Variabel luar yang mempengaruhi hipertensi yaitu faktor risiko yang dapat diubah dan tidak dapat diubah. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh aktivitas fisik dan variabel luar terhadap hipertensi pada pekerja.Metode: Penelitian kuantitatif non eksperimen menggunakan data Riskesdas 2013 dengan rancangan cross sectional. Populasi sebanyak 1.027.763 dengan sampel yang memenuhi kriteria inklusi yaitu responden mempunyai pekerjaan utama, berusia ≥ 15 tahun, diukur tinggi badan, berat badan, lingkar perut, tekanan darah, dan tidak sedang hamil, sebanyak 371.713. Data dianalisis secara univariabel, bivariabel dan multivariabel.Hasil: Aktivitas fisik mempengaruhi kejadian hipertensi pada pekerja dengan OR sebesar 1,25 (CI 95%: 1,21-1,28), aktivitas fisik dengan melibatkan variabel luar menjadi 1,16 (CI 95%: 1,13-1,19). Variabel luar yang menjadi faktor risiko hipertensi meliputi umur, obesitas, obesitas abdominal, kebiasaan merokok setiap hari, jumlah rokok 10-20 batang/hari, kebiasaan konsumsi makanan berlemak, konsumsi sayur < 3 porsi/hari, stres, riwayat DM, gagal ginjal kronis dan batu ginjal.Kesimpulan: Aktivitas fisik berpengaruh terhadap kejadian hipertensi pada pekerja.Physical activity and hypertension incidence among workers: analysis of basic health survey 2013Purpose: This research aimed to know the influence of physical activity and external variables on hypertension in workers. Methods: We used secondary data for our research which is Basic Health Research (Riskesdas) 2013. The total population was 1,027,763. Our inclusion criteria were: have a main job, aged ≥15 years, measured height, measured weight, measured abdominal circumference, measured blood pressure, and not pregnant. We found 371,713 respondents matching our criteria. We analyzed our data using chi square and logistic regression with 5% level of significance. Results: Physical activity affects the incidence of hypertension in workers with OR of 1.25 (95% CI: 1.21-1.28), physical activity involving external variables to 1.16 (95% CI: 1.13-1.19). External variables that became hypertension risk factors include: age, obesity, abdominal obesity, daily smoking habits, 10-20 cigarette/day cigarettes, consumption of fatty foods, vegetables consumption <3 servings/day, stress, history of DM, chronic renal failure and kidney stones. Conclusion: Physical activity affects the incidence of hypertension in workers
Faktor yang memengaruhi kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS di Kota Kupang
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kualitas hidup Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Kupang.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional pada 100 orang responden dengan karakteristik telah menjalani terapi ARV ≥1 bulan, berusia lebih dari ≥18 tahun, mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dan bersedia menjadi responden. Analisis bivariat menggunakan uji chi square dan analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik. Hasil: Tidak ada hubungan yang yang signifikan antara tingkat pendidikan, lama terapi ARV dan stigma dengan kualitas hidup ODHA. Tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin usia, pekerjaan, pendapatan, status pernikahan dan kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup ODHA. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup ODHA secara berurutan adalah tingkat pendidikan diikuti oleh lama terapi ARV dan stigma. Implikasi praktis: Perlu adanya pengembangan sistem promosi kesehatan yang komprehensif pada level keluarga, komunitas, dan institusi.Keaslian: Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup ODHA secara berurutan adalah tingkat pendidikan diikuti oleh lama terapi ARV dan stigma. Purpose This study aimed to determine factors that affect the quality of life of people living with HIV/AIDS (PLWHA) in Kota Kupang.MethodsThe study used cross-sectional study design with 100 people who had been on ARV therapy ≥1 months, age ≥18 years, was able to communicate with Indonesian language and willing to become respondents. The bivariate analysis used chi-square test and multivariate analysis used logistic regression test.ResultsThere was no significant correlation between the level of education, duration of antiretroviral therapy and the stigma of the quality of life of PLWHA. There was no significant relationship between sex, age, occupation, income, marital status, and adherence to the quality of life of PLWHA. The factors that most affect the quality of life of PLWHA were education level and stigma of ARV therapy.Conclusion The factors that most affect the quality of life of people living with HIV were education level and stigma of ARV therapy
Evaluasi Program Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai Upaya Preventif dan Kuratif Anemia Ibu Hamil di Puskesmas Kraton Kota Yogyakarta
Pendahuluan: Anemia ibu hamil menyebabkan dampak fatal bagi ibu dan janin. Program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) ibu hamil telah terlaksana sejak lama sebagai upaya preventif dan kuratif masalah tersebut. Evaluasi program pemberian TTD di Puskesmas Kraton, kota Yogyakarta diperlukan untuk mengetahui efektivitasnya dalam menangani anemia ibu hamil.Metode: Data diperoleh dari data sekunder dan in-depth interview kepada kepala puskesmas, staf KIA, staf gizi, tenaga farmasi, kader pendamping ibu hamil, dan ibu hamil, serta wawancara dengan kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil.Hasil: Cakupan distribusi TTD di Puskesmas Kraton tahun 2016 sebesar 82% didukung dengan kuantitas dan kualitas TTD yang sesuai kebutuhan. Namun, terpusatnya distribusi oleh puskesmas menyebabkan cakupan distribusi belum mencapai target nasional. Tingkat kepatuhan konsumsi TTD baik, dengan adanya edukasi terkait TTD dari bidan, tingkat pengetahuan yang baik, motivasi diri, dukungan keluarga, dan tidak adanya efek samping dalam konsumsi TTD. Tingginya prevalensi anemia ibu hamil tahun 2016 yaitu 33% disebabkan oleh kurangnya ketercapaian distribusi TTD, konsumsi merk TTD yang beragam di pasaran dengan kandungan besi-folat yang tidak memenuhi standar, pemberian TTD tidak dimulai sejak awal kehamilan, dan pola konsumsi ibu hamil yang kurang tepat.Kesimpulan: Program pemberian TTD ibu hamil di Puskesmas Kraton didukung dengan berbagai input pelayanan yang baik. Namun peningkatan efektivitas program perlu memperhatikan optimalisasi distribusi TTD kepada ibu hamil sejak awal kehamilan, optimalisasi peran kader dalam pemantauan dan pencatatan distribusi serta konsumsi, dan penarikan TTD yang tidak sesuai standar oleh pemerintah.