Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kanker serviks di rumah sakit Sardjito Yogyakarta

    Get PDF
    Tujuan:  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian kanker serviks di RSUP Dr. Sardjito Daerah Istimewa Yogyakarta.Metode: Studi  case control dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2016. Sebanyak  105 kasus dan 105 kontrol dilibatkan dalam penelitian ini. Kasus adalah pasien yang menderita kanker serviks berdasarkan diagnosis dokter , dan kontrol adalah pasien yang tidak menderita kanker serviks. Pengambilan sampel dengan teknik consecutive sampling. Data dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik.  Hasil:  Faktor yang berhubungan dengan kejadian kanker serviks di RSUP Dr. Sardjito adalah variabel usia pertama kali berhubungan seksual ≤ 20 tahun dengan aOR sebesar 2,41 (95% CI = 1,35-4,29; p=0,003) dan penggunaan kontrasepsi jenis oral/pil dengan aOR sebesar 3,40 (95% CI = 1,46-7,92; p=0,004), sedangkan jumlah pasangan,paritas, pembalut, sirkumsisi dan merokok tidak berhubungan dengan kejadian kanker serviks.Implikasi praktis: Wanita yang belum aktif seksual dapat melakukan vaksinasi HPV. Perlu menggunakan kondom ketika berhubungan seksual. Bagi wanita usia 30-49 tahun (aktif seksual) diharapkan untuk dapat mengikuti program deteksi dini kanker serviks dengan metode inspeksi visual asam asetat (IVA) yang sekarang bisa dilakukan di Puskesmas dan menjalankan pemeriksaan papsmear minimal 1 kali dalam setahun.Related factors for cervical cancer incidence in Dr. Sardjito Hospital in YogyakartaPurposeThis study aimed to determine the factors associated with the incidence of cervical cancer in Dr. Sardjito Hospital.MethodsA case control study was conducted from July to October 2016. A total of 105 cases and 105 controls were included in the study. Cases were patients suffering from cervical cancer based on doctor's diagnosis, and controls were patients who do not have cervical cancer. Sampling was done by consecutive sampling technique. Data were analyzed by chi-square and logistic regression tests.ResultsFactors associated with incidence of cervical cancer in Sardjito hospital were the first age variable for sexual intercourse ≤ 20 years with aOR of 2.41 (95% CI: 1.35-4,29; p=0.003) and use of oral contraceptive/pill with aOR of 3.40 (95% CI: 1.46-7.92; p=0.004), while the number of pairs, parities, pads, circumcision and smoking were not associated with the incidence of cervical cancer.ConclusionWomen who have not been sexually active can vaccinate for HPV. Also, they need to use condoms when having sex. Women aged 30-49 years (sexually active) are expected to be able to follow the early detection program of cervical cancer with visual inspection method of acetic acid which can now be done in health centers and have a pap smear examination at least once a year

    Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian air susu ibu eksklusif di Kabupaten Sleman

    No full text
    Determinants of exclusive breastfeeding in SlemanPurposeThe purpose of this paper was to determine the factors associated with the exclusive provision of breast milk in Sleman.MethodsA cross-sectional study was conducted using secondary data derived from HDSS Sleman Cycles I and II. The sample in this study were 218 mothers with children aged 7 to <24 months.ResultsThe ownership of health insurance and the use of bottles and pacifiers were significantly associated with exclusive breastfeeding. Maternal age, maternal education, and maternal occupation were not significantly associated with exclusive breastfeeding. Mothers with health insurance are 2.14 times more likely to exclusively breastfeed than those without health insurance. Infants who never use bottles, and pacifiers before the age of 6 months are 5.14 times more likely to receive exclusive breastfeeding than those who used bottles / dots before the age of 6 months.ConclusionThe use of bottles, and pacifiers is the most dominant factor associated with exclusive breastfeeding. Coverage of health insurance, especially in pregnant and lactating mothers and effective health promotion programs related to exclusive breastfeeding needs to be improved. HDSS Sleman needs to analyze the data more in-depth on exclusive breast-feeding.Latar Belakang: Air susu ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi yang ideal dan makanan bayi yang paling aman selama 4-6 bulan pertama kehidupan. ASI mengandung bahan-bahan anti infeksi yang melindungi bayi terhadap diare bawaan makanan dan paparan dari patogen bawaan makanan. Cakupan bayi umur 0-6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif pada tahun 2012 di Kabupaten Sleman masih di bawah target yang harus dicapai sebesar 80%. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan  pemberian air susu ibu eksklusif di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, perlu diadakan penelitian ini.  Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan studi cross-sectional. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang berasal dari HDSS Sleman Siklus I dan II. Sampel pada penelitian ini adalah 218 ibu. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Subjek penelitian adalah ibu-ibu yang mempunyai anak usia 7 sampai < 24 bulan.  Analisis data menggunakan uji chi square (p value < 0,05) dan regresi logistik.Hasil: Kepemilikan asuransi kesehatan dan penggunaan botol/dot/kempengan berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif. Usia ibu, pendidikan ibu, dan pekerjaan ibu tidak berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif. Ibu  yang memiliki asuransi kesehatan memiliki kemungkinan 2,14 kali lebih besar untuk memberikan ASI eksklusif daripada yang tidak memiliki asuransi kesehatan. Bayi yang tidak pernah menggunakan botol/dot/kempengan sebelum usia 6 bulan memiliki kemungkinan 5,14 kali lebih besar untuk memperoleh ASI eksklusif daripada yang pernah menggunakan botol/dot/kempengan sebelum usia 6 bulan  (p = 0,000; PR = 5,14; 95%CI = 2,81-9,38).Kesimpulan: Anak yang mendapat asi ekslusif berkaitan dengan kebiasaan tidak menggunakan botol sebelum usia 6 bulan.

    Determinan perilaku buang air besar pada masyarakat pesisir di kabupaten Buton Selatan

    Get PDF
    Latar Belakang : Desa Bandar Batauga adalah desa yang melaksanakan program STBM pilar 1 terkait stop buang air besar sembarangan namun dalam pelaksanaannya belum berjalan sesuai dengan harapan. Kasus kejadian diare yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Batauga juga sangat tinggi yakni sebanyak 304 kasus.Tujuan : Mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Masyarakat dalam Buang Air Besar di Desa Bandar Batauga Kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan.Metode : Jenis penelitian ini adalah metode kombinasi (mix method) dengan pendekatan convergent/ concurrent yakni menggabungkan kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Kontribusi keduanya untuk melihat masalah dari berbagai sudut dan berbagai perspektif. Jumlah sampel/ responden untuk penelitian ini adalah sebanyak 110 yang terbagi atas 100 orang responden dan 10 orang informan.Hasil : Analisis menggunakan Chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Pengetahuan p-value = 0,0117; PR = 0,635 dan Ketersediaan Sarana p-value = 0,0002; PR = 1,876 dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS).Kesimpulan : Perlu dilakukannya peningkatan kerjasama lintas sektoral antara petugas kesehatan, kepala lingkungan, serta masyarakat Bandar Batauga khususnya terkait penyuluhan kesehatan dan dilakukannya program pengadaan jamban untuk menunjang sarana sanitasi dasar.Kata Kunci: Faktor Predisposisi, faktor pemungkin, Faktor penguat,  perilaku BAB.Determinants of defecation behavior among coastal community in district of South ButonPurposeThe purpose of this study was to identify the factors associated with community attitudes toward defecation in Bandar Batauga village Batauga district South Buton Regency.MethodsThis study used mixed methods, with convergent/concurrent design to merge the results of the quantitative and qualitative data analysis, their combination and contributions to the problem from multiple angles and multiple perspectives. The total number of respondents for this study were 110, divided into 100 respondents and 10 informants.ResultsChi-square analysis showed associated knowledge p-value = 0.0117; PR = 0.635 and facility availability p-value = 0.0002; PR = 1.876 with open defecation behavior.ConclusionTo improve the cooperation between health workers, heads of the environment, and communities need to provide more health education in order to increase the knowledge of the community and support the program of toilet procurement to support basic sanitation facilities

    Prevalensi kasus green tobacco sickness pada pekerja petani tembakau di Bantul

    Get PDF
    Background: Tobacco farmers are at risk to develop certain illness due to their work which is related to the absorption of nicotine from wet tobacco leaves through their skin. This illness is called Green Tobacco Sickness (GTS). Some factors that can increase the risk of GTS in tobacco farmers include the level of rainfall and high humidity, working hours (hour/ day), working period and lacking of using personal protective equipment. The purpose of this reserach is to find out the prevalence and the occurrence of GTS on tobacco farmers and the risk factors related to the occurrence of Green Tobacco Sickness between the tobacco farm workers.Method: This research is an analytical research by using cross sectional approach. The respondents in this research were as many as 10 tobacco farm workers in Selopamioro Sub-District, Imogiri District, Bantul. In order to find out the risk factors influencing the GTS occurrence on the tobacco farm workers, fisher exact test and mann whitney test was done in order to do the analysis.Results: This research found that the prevalence of Green Tobacco Sickness case in Selopamioro Sub-District was seven from ten tobacco farmers and percent of GTS was 70%. The factors of working hours (hour/day), working period (year), level of rainfall and the use of personal protective equipment had significant relation (p0.05).Conclusion: The results of the study found various risk factors that contribute to the occurrence of green tobacco sickness that is the level of education, the duration of work, the working period, and the use of personal protective equipment, therefore the use of personal protective equipment is important because it can protect farmers from symptoms of GTS, and the need for education Health concerns about health risks from cultivation to tobacco harvesting and ways to prevent GTS.Prevalence of green tobacco sickness among tobacco farmers in BantulPurposeThe purpose of this research was to determine the prevalence and the occurrence of Green Tobacco Sickness (GTS) in tobacco farmers and the risk factors related to the occurrence of GTS between the tobacco farm workers.MethodsThis research was an analytical study using a cross-sectional approach. The respondents in this research were 10 tobacco farmers in Imogiri District, Bantul. Fisher exact and Mann-Whitney tests were conducted to determine the risk factors that affect the incidence of GTS in tobacco farmers.ResultsThe study found seven out of ten tobacco farmers experienced green tobacco sickness. The factors of working hours (hour/day), working period (year), level of rainfall and the use of personal protective equipment had significant correlations (p<0.05), while the variables of gender, educational level, and level of humidity did not have a significant relation to the occurrence of GTS in the tobacco farmers.ConclusionThe results of the study found various risk factors that contribute to the occurrence of green tobacco sickness including the level of education, the duration of work, the working period, and the use of personal protective equipment, therefore the use of personal protective equipment is especially important because it can protect farmers from symptoms of GTS, and the need for education about health risks from cultivation to tobacco harvesting and ways to prevent GTS.Prevalensi kasus green tobacco sickness pada pekerja petani tembakau di Bantu

    Faktor risiko kejadian kusta

    Get PDF
    Risk factors of leprosy in district of LamonganPurposeThis study aimed to know the risk factors of leprosy incidence in Lamongan district including economic status or family income, BCG vaccination, residential density, floor conditions, source of water, contact history, bathing habit using soap and using footwear. MethodsThe research was a case-control study. The subjects were the people who had clinical or laboratory symptoms, leprosy diagnosed and recorded in the health center register. The samples were 170 people, consisting of 85 cases and 85 controls. The data were analysed using chi-square and logistic regression tests, and the amount of the risk was calculated using odds ratio. ResultsThe risk-factors associated with the incidence of leprosy in Lamongan were the economic status or family income (OR=4.3 and p=0.001), BCG vaccination (OR=4.3 and p=0.050), residential density (OR=3.2 and p=0.001), floor conditions (OR=2.8 and p=0.051), source of water (OR=2.1 and p=0.033), contact history (OR=7.8 and p=0.001), bathing habit using soap (OR=3.1 and p=0.022) and using footwear (OR=3.1 and p=0.004). The dominant risk factor was BCG vaccination (OR = 8.1 and p=0.025). ConclusionThere were correlations between leprosy incidence and the economic status or family income, BCG vaccination, residential density, floor conditions, source of water, contact history, bathing habit using soap and using footwear. The dominant risk factor was BCG vaccination.Latar Belakang : Kabupaten Lamongan merupakan daerah endemis kusta di Provinsi Jawa Timur dengan angka prevalensi tahun 2007 – 2011 lebih dari 1/10.000 penduduk. Sebagian besar penderita kusta tipe Multibasiler (MB) (71%). Tujuan : Untuk mengetahui faktor risiko kejadian kusta di Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur antara lain ; status ekonomi, vaksinasi BCG, kondisi rumah (kondisi lantai rumah, kepadatan hunian dan air bersih) dan perilaku individu (kontak penderita, menggunakan alas kaki dan mandi menggunakan sabun mandi). Metode : Metode  penelitian kasus kontrol.  Subjek dalam penelitian ini adalah penderita kusta yang tercatat di register puskesmas, sedangkan kontrol adalah penderita bukan kusta. Sampel berjumlah 170 terdiri dari 85 kasus dan 85 kontrol. Analisis data bivariat menggunakan uji Kai-kwadrat dan analisis multivariat menggunakan uji Regresi Logistik, besar risiko menggunakan Odds Ratio (OR). Hasil : Faktor-kator risiko yang berhubungan dengan kejadian kusta di Kabupaten  Lamongan antara lain ; status ekonomi atau pendapatan keluarga (OR=4,3 dan P=0,001), vaksinasi BCG (OR=4,3 dan P=0,050), kepadatan hunian (OR=3,2 dan P=0,001), kondisi lantai rumah (OR=2,8 dan P=0,051) dan sumber air bersih (OR=2,1 dan P=0,033), riwayat kontak (OR=7,8 dan P=0,001), kebiasaan mandi menggunakan sabun mandi (OR=3,1 dan P=0,022) dan penggunaan alas kaki (OR=3,1 dan P=0,004). Sedangkan faktor risiko yang dominan vaksinasi BCG (OR = 8,1 dan P=0,025). Kesimpulan : Terdapat hubungan antara status ekonomi atau pendapatan keluarga,vaksinasi BCG, kondisi rumah (kondisi lantai rumah, kepadatan hunian dan air bersih) dan perilaku individu (kontak penderita, menggunakan alas kaki dan mandi menggunakan sabun mandi) dengan kejadian kusta di Kabupaten Lamongan. Faktor risiko yang paling dominan adalah vaksinasi BCG

    Perancangan Prototipe Case Based Reasoning Untuk Mendukung Keputusan Rujukan Kehamilan di Puskesmas Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur

    No full text
    Latar belakangAngka komplikasi kebidanan di kabupaten Timor Tengah Utara tercatat 1024 kasus dari 1236 perkiraan ibu hamil dengan komplikasi kebidanan atau sebesar 82,9% pada tahun 2015. Belum semua puskesmas dan petugas kesehatan menerapkan pedoman manual rujukan kehamilan. Diperlukan pemanfaatan perkembangan teknologi berbasis komputer yang memiliki kemampuan untuk mendukung suatu keputusan rujukan kehamilan, serta memperkuat pedoman manual rujukan kehamilan.TujuanTujuan dalam penelitian ini adalah merancang  prototipe case based reasoning untuk mendukung keputusan rujukan kehamilan di puskesmas Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara TimurMetodeJenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan action research menggunakan tahap pengembangan prototipe meliputi identifikasi kebutuhan, rancangan prototipe, ujicoba dan evaluasi penilaian. HasilPerancangan sistem prototipe dibangun melalui beberapa proses diantaranya menggambarkan  diagram konteks, membuat diagram alir data, merancang diagram relasi entitas, menyusun representasi pengetahuan dan membuat menu sistem. Menu konsultasi merupakan menu interaksi antara pengguna dengan sistem inferensi penalaran berbasis kasus. Di dalam menu konsultasi terjadi proses aliran data analisa, perhitungan dan output kasus terpilih. Proses ini terjadi saat pengguna melakukan konsultasi dengan cara memilih gejala yang cocok sesuai hasil pemeriksaan pasien. Mesin inferensi akan melakukan retrieval atau penelusuran kelompok gejala kasus lama untuk mencocokkan dengan gejala kasus baru. Hasil output perhitungan kemiripan berupa kasus terpilih yang memungkinkan penggunaan ulang solusi kasus lama untuk menangani kasus baru. Pada tahap ini pengguna dapat mengambil keputusan suatu kasus dari hasil kasus terpilih. KesimpulanPengguna di puskesmas merasa terbantu dengan sistem penalaran berbasis kasus yang dapat digunakan sebagai petunjuk diagnosa dan solusi penanganan kasus. Hasil ujicoba prototipe memberikan penilaian yang positif dan pengguna mempunyai minat untuk menggunakan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan rujukan kehamilan di puskesmas. Kata kunci : Prototipe, Penalaran berbasis kasus, Gejala, Rujukan kehamilan.  The design of a prototyped case based reasoning (CBR) to support pregranancy referral decision in Puskesmas Timor Tengah Utara of Nusa Tenggara Timur Province Background            The number of midwifery complications in Timor Tengah Utara Regency is noted 1024 of 1236 pregnant mother estimation cases with midwifery complication or 82.9% in 2015. Not all Puskesmas (Society Health Centres) apply pregnancy refferal manual orientation. It requires the use of computer-based technological development that provides competence to support a pregnancy refferal decision and strenghtens pregnancy refferal manual orientation. Objective            The objective of this research is to design case based reasoning prototype to support the decision of pregnancy refferal decision at Puskesmas of Timor Tengah Utara Regency, Nusa Tenggara Timur Province. MethodThe research type which is utilized is qualitative research using action research approach. It uses prototype development steps which involves need identification, prototype design, trial and assessment evaluation. ResultThe design of prototype system is built through some processes, among them are to draw context diagram, make data flow diagram, design entity relationship diagram, organize knowledge representation and make system menu. Consultation menu is an interaction menu between the user and case-based reasoning inference system. In the consultation menu, the processes of analysis data flow, case calculation and output are selected.  These processes occurs when the user performs consultation by selecting the symptom which is appropriate with patients’ monitoring result. Inference machine will perform retrieval or old case symptom group investigation to adjust it with the new case symptom. The output result of similarity calculation in form of selected case which enables the resuse of old case solution to handle new case. On this stage, the user is able to take decision of a case from the selected case result. Conclusion            The users at Puskesmas perceive that they are assisted with case-based reasoning system that can be used as a diagnosis direction and case handling solution. The result of prototype trial provides positive assessment and the user has an interest to use it as an instrument to take a decision on pregnancy refferal at Puskesmas. Keywords: Prototype, Case-based reasoning, Sympton, Pregnancy reffera

    Evaluation of malaria risk factors prevention and control program in Kulon Progo Regency

    Get PDF
    Evaluation of malaria risk factors prevention and control program in Kulon Progo RegencyPurposeThe purpose of this research was to evaluate the program of prevention and control of malaria risk factors in Kulon Progo District in 2016 based on system approach.MethodThis research was evaluation program used mixed methods (sequential explanatory design). Data collected from 7 public health center of active focus malaria and district health office. Respondents were program managers and head of public health center, district program managers, head of control and eradication of communicable diseases, and head of district health offices. The instruments used structured questionnaires and in-depth interview guides. Quantitative data analysis was descriptive and qualitative data used Miles and Huberman model.Results Most of the availability of human resources, funds, facilities, materials, and methods already meet implementation needs except entomologists, allocation of funds activities other than IRS, time of the implementation of larval fish deployment. Most of the processes that started from the planning, implementation, monitoring, and evaluation have gone well except for planning other than IRS, preparation vector control without entomology database, implementation of environmental management, larviciding, and larval fish deployment. Coverage of LLINs, coverage of IRS, control of LLINs efficacy, and test of vector resistance have met the target, except coverage of larviciding and larval fish deployment was not available.ConclusionPrevention and control program of malaria risk factors has implemented but wasn’t based on entomological data. District health offices should recruit entomologist to support vector control activities.Purpose: The purpose of this research was evaluate the program of prevention and control of malaria risk factors in Kulon Progo District in 2016 based on system approach.Method: This research was evaluation program used mixed methods (sequential explanatory design). Data collected from 7 public health center of active focus malaria and district health office. Respondents were program managers and head of public health center, district program managers, head of control and eradication of communicable diseases, and head of district health offices. The instruments used structured questionnaires and in-depth interview guides. Quantitative data analysis was descriptive and qualitative data used Miles and Huberman model.Results: Most of the availability of human resources, funds, facilities, materials, and methods already meet implementation needs except entomologists, allocation of funds activities other than IRS, time of the implementation of larval fish deployment. Most of the processes that started from the planning, implementation, monitoring, and evaluation have gone well except for planning other than IRS, preparation vector control without entomology database, implementation of environmental management, larviciding, and larval fish deployment. Coverage of LLINs, coverage of IRS, control of LLINs efficacy, and test of vector resistance have met the target, except coverage of larviciding and larval fish deployment was not available.Conclusion: Prevention and control program of malaria risk factors has implemented but wasn’t based on entomological data. District health offices should recruit entomologist to support vector control activities

    Mengatasi krisis air bersih dengan pembentukan kampung iklim dan model desa konservasi: sebuah studi di provinsi Jawa Barat

    No full text
    Tujuan: Studi ini bertujuan memberikan berbagai  alternatif dalam memecahkan masalah terkait krisis air bersih di Provinsi Jawa Barat. Metode: Data diperoleh dari studi literatur, wawancara dan laporan ahli. Metode analisis adalah deskriptif. Hasil: Perubahan iklim berdampak pada adanya cuaca ektrem. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak ganda perubahan iklim. Ini tantangan baru untuk disinergikan dalam pembangunan nasional. Faktor terkait perubahan iklim pada ketahanan pangan, yaitu: curah hujan, temperatur, produksi beras, serta aspek akses terhadap pangan. Perubahan iklim berpengaruh pada kenaikan temperatur, curah hujan, dan permukaan air laut; ketahanan pangan; kekurangan air bersih; dan meningkatnya penyakit tular vektor. Kesimpulan: Sebagai solusi mengatasi krisis air di Jawa Barat dapat melalui dua pendekatan, yaitu: (1) Pendekatan kampung iklim, berupa: pengendalian kekeringan, banjir dan longsor; peningkatan ketahanan pangan; penanganan atau antisipasi kenaikan muka air laut; pengendalian penyakit terkait iklim (pengendalian vektor, sistem kewaspadaan dini, sanitasi dan air bersih). (2) Penciptaan desa konservasi, berupa kegiatan: rehabilitasi hutan & lahan partisipatif; pengembangan ekonomi; menyelamatkan lahan untuk mata air; pembentukan desa wisata untuk pengembangan ekonomi; dan penanaman pohon endemik

    PERAN POLUSI SUARA TERHADAP KESEHATAN MENTAL WARGA IBUKOTA DI PROVINSI DKI JAKARTA

    No full text
    Latar belakangOrganisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization) mendefinisikan sehat sebagai keadaan yang utuh dari keadaan fisik, mental, dan sosial yang baik dari seorang individu, tidak hanya dari ada atau tidaknya penyakit. Kota sehat adalah suatu kondisi wilayah yang bersih, nyaman, aman, dan sehat bagi pekerja dan masyarakat. Masyarakat perkotaan rentan terhadap paparan polusi suara, maka perlu diperhatikan beberapa kebijakan untuk kota yang sehat.. Provinsi DKI Jakarta dengan tingkat arus lalu lintas yang padat menimbulkan dampak polusi suara berupa kebisingan. Pemukiman penduduk yang cukup padat serta bangunan yang ada di DKI Jakarta juga sangat rentan dengan paparan kebisingan.Polusi suara dapat berupa kebisingan atau suara yang tidak diinginkan merupakan suatu paparan yang dapat mencemari lingkungan. Kebisingan diberi perlakuan yang berbeda dalam penanganan polutan lainnya seperti pencemaran bahan kimia dan pencemaran udara. Suara dapat menjadi pencemaran ketika melebihi ambang batas yang dapat didengar secara normal sehingga menimbulkan gangguan pada manusia dan makhluk hidup lainnya. Nilai ambang batas kebisingan untuk bekerja secara nyaman selama 8 jam dalam satu hari yaitu 85 dB. Polusi suara disebabkan oleh suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising dan tidak menyenangkan. Polusi suara secara langsung dapat menyebabkan ketulian secara fisik dan tekanan psikologis. TujuanTujuan penelitian ini adalah mengkaji efek dari tingkat kebisingan yang disebabkan polusi suara yang dapat disebabkan oleh padatnya arus lalu lintas di DKI Jakarta. MetodePolicy analysis paper melalui studi literatur dengan penelusuran pustaka berbasis jaringan internet dengan menggunakan kata kunci pencarian “Polusi suara”, “Kesehatan Mental”, dan “Kepadatan Lalu Lintas” HasilSuara yang cenderung bising dapat mengganggu ritme kehidupan harian. Polusi suara dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang mengganggu kesehatan seperti gangguan tidur, gangguan pendengaran, penyakit kardiovaskular, gangguan hormon, dan meningkatkan insidensi diabetes. Polusi suara dapat mempengaruhi status kesehatan mental seseorang akibat paparan kebisingan dan tingkat stress yang tinggi. Anak-anak lebih mendapat resiko dari paparan kebisingan dibandingkan orang dewasa karena manajemen stres yang lebih rendah.Pihak pengambil kebijakan terkait yaitu Gubernur DKI Jakarta, Dinas Tata Kota, dan Dinas Perhubungan. Pihak yang berperan mengambil kebijakan terkadang memiliki informasi yang kurang mengenai dampak polusi suara yang berkaitan dengan status kesehatan. Kebisingan dapat diatasi dengan material tertentu yang dapat mengisolasi suara yang tidak diinginkan. Melaui sisi pengguna jalan juga harus ditegakkan peraturan mengenai penggunaan klakson seperti pada UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UULLAJ). Kebijakan pemerintah DKI Jakarta terkait  reduksi polusi suara adalah sistem 3 in 1 sehingga keributan yang terjadi akibat kemacetan, asap dan desing suara mesin tidak terlalu memadati jalan raya

    Implementasi Buku Harian Anak Terhebat (BHAT) Sebagai Upaya Meningkatkan Strata Tatanan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sekolah Dasar di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Indonesia

    No full text
    Latar Belakang:Masalah kesehatan pada anak sekolah banyak disebabkan kurangnya kebiasaan PHBS oleh anak usia sekolah. Strata tatanan PHBS sekolah dasar di Kabupaten Lumajang belum mencapai target. Permasalahan tersebut menginisiasi Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang mengimplementasikan program inovasi Buku Harian Anak Terhebat (Terbiasa Hidup Bersih dan Sehat) pada anak sekolah dasar sebagai proses pembiasaan PHBS.  Tujuan:Mendeskripsikan implementasi BHAT di beberapa sekolah dasar/sederajat sebagai upaya meningkatkan strata tatanan PHBS sekolah dasar di Kabupaten Lumajang. Metode:Penelitian ini merupakan case report dari implementasi BHAT di Kabupaten Lumajang, menggunakan data sekunder dari laporan pelaksanaan program BHAT dan PHBS sekolah dasar. Hasil: BHAT adalah modifikasi penerapan indikator PHBS di sekolah dan rumah oleh anak sekolah dasar. Penerapan tersebut harus dipantau oleh guru dan orang tua, melalui pengisian BHAT secara harian dan mingguan. Monitoring I terhadap hasil pemantauan pelaksanaan BHAT dilakukan oleh guru, sedangkan monitoring II dan evaluasi dilakukan oleh Puskesmas.Pengembangan BHAT diawali pada bulan Februari 2016, melibatkan beberapa lintas sektor di Kabupaten Lumajang, yaitu Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, Badan Perencana Pembangunan Daerah, Tim Penggerak PKK dan Dewan Pendidikan. Implementasi BHAT dimulai bulan Agustus 2016 pada 125 sekolah dasar/sederajat di Kabupaten Lumajang, dengan sasaran siswa kelas 4 dan 5. Rekapitulasi pemantauan pelaksanaan BHAT pada bulan September dan November 2016 serta Januari dan Maret 2017, menunjukkan peningkatan capaian indikator sehat pada PHBS anak di rumah (harian dan mingguan) serta di sekolah. Capaian tersebut berkontribusi pada peningkatan strata IV (sehat)  tatanan PHBS sekolah dasar, dari 25.26% pada tahun 2015 menjadi 28.24% pada tahun 2016. Kesimpulan: Implementasi BHAT pada beberapa sekolah dasar/sederajat terbukti mampu meningkatkan strata tatanan PHBS sekolah dasar, sehingga sasarannya perlu diperluas. Strategi pengembangan BHAT untuk sustainabilitas program, yaitu adanya regulasi daerah yang memperkuat implementasi BHAT di seluruh sekolah dasar di wilayah Kabupaten Lumajang.  Kata kunci: Buku Harian Anak Terhebat, Strata Tatanan PHBS sekolah dasar, indikator PHB

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇