Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Demographic characteristics and the severity of injuries resulting from traffic accidents: a HDDS secondary data analysis 2015 and 2016

    No full text
    Purpose: Kejadian cedera akibat kecelakaan sepeda motor lebih tinggi pada responden dengan karakteristik demografi umur < 45 tahun (69,7), berjenis kelamin laki-laki (54,3%), status kawin (51,9%), tingkat pendidikan tinggi (59,3%), bekerja (57,3%), lokasi tinggal di perkotaan (80%) dan dengan status ekonomi menengah ke atas (26,4%).  Umur memiliki hubungan yang signifikan dengan p-value 0,04, sedangkan jenis kelamin (p-value 0,27), status perkawinan (p-value 0,27), tingkat pendidikan (p-value 0,35), jenis pekerjaan (p-value 0,52), lokasi tinggal (p-value 0,64 dan status sosial ekonomi (p-value 0,19 – 1,98) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status cedera. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara umur dan status cedera dimana kelompok umur ≥ 45 tahun lebih berisiko 1,7 kali dibanding kelompok umur < 45 tahun.Method:Results:Conclusion

    Kepatuhan dan Asertivitas Pegawai Negeri sipil (PNS) Pada Penerapan Peraturan Daerah Kawasan Tanap Rokok (KTR) " Studi Komparasi di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017"

    No full text
    Purpose: The aim of this research is to determine the difference of compliance and assertiveness of civil servants on the application of no-smoking areas in Sleman and Kulon Progo districts. Method: This research is an analytic survey research with cross sectional approach. The subjects of the research are civil servants in the regional government unit of work (satuan kerja perangkat daerah) of Kulon Progo District as many as 1,072 employees and Sleman as many as 2,300 employees from 26 regional government unit of work in Sleman and 25 regional government unit of work in Kulon Progo. The sampling technique is multistage random sampling technique. The research instrument is measured by questionnaires, and also observations and interviews to support the research. The analysis used is independent t-test and Mann-Whitney, which are to test whether there is a relationship between independent and dependent variables. Results: Independent t-test and Mann-Whitney test results showed that there is a difference of knowledge on the implementation of regional regulation of no-smoking areas with (p=0,000), attitude with (p=0,003)  and difference of socialization on the implementation of regional regulation of no-smoking area with (p=0,000) Logistic regression test results shows that the dominant factor influencing the implementation of the regional regulation of no-smoking area is knowledge with p value=0,000. Conclusion: There is a difference of knowledge, attitude and socialization of civil servants in Kulon progo and Sleman districts. There is no difference in attitude, smoking status, compliance, assertiveness, accessibility and coworkers who smoke of civil servants in Kulon progo and Sleman districts. The dominant factor affecting the compliance and assertiveness of civil servants is knowledge.Latar Belakang :  Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten yang sudah memiliki peraturan daerah (Perda) kawasan tanpa rokok (KTR) , yaitu Perda Nomor 5 Tahun 2014, sedangkan sampai saat ini Kabupaten Sleman belum memiliki peraturan daerah kawasan tanpa rokok (KTR). Instansi pemerintahan merupakan tatanan yang ditetapkan dalam kawasan tanpa rokok (KTR). Pegawai negeri sipil merupakan panutan di masyarakat untuk memberikan contoh yang baik dalam berperilaku yang merupakan garda terdepan yang memiliki kewajiban untuk menaati peraturan atau kebijakan yang di buat oleh pemerintah termasuk peraturan kawasan tanpa rokok (KTR). Selain itu di perlukan adanya kepatuhan dan asertivitas dari pegawai dalam penerapan kawasan tanpa rokok (KTR) di tempat kerja agar penerapan kawasan tanpa rokok di tempat kerja dapat berjalan dengan optimal.Tujuan :  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kepatuhan dan asertivitas  pegawai negeri sipil (PNS) pada penerapan kawasan tanpa rokok (KTR) di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kulon ProgoMetode : Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pegawai negeri sipil (PNS) di satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Kabupaten Kulon Progo sebanyak 1.072 dan Sleman sebanyak 2.300 pegawai  pada 26 SKPD di Sleman dan 25 SKPD di Kulon Progo. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling. Instrumen penelitian  diukur menggunakan kuesioner, selain itu juga di lakukan observasi dan wawancara untuk menunjang penelitian. Analisis yang digunakan adalah independent ttest dan Mann-Whitney, yaitu untuk menguji ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dan terikat.Hasil penelitian : Hasil uji independent ttest dan Mann-Whitney menunjukkan ada perbedaan pengetahuan terhadap penerapan perda KTR dengan (p=0,000), Sikap dengan (p=0,003)  dan ada perbedaan sosialisasi terhadap penerapan perda KTR dengan (p=0,000) Hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa faktor yang dominan mempengaruhi penerapan perda KTR adalah pengetahuan dengan nilai P=0,000.Kesimpulan : Ada perbedaan pengetahuan, sikap dan sosialisasi pada pegawai negeri sipil di Kabupaten Kulon progo dan Kabupaten sleman. Tidak ada perbedaan sikap, status merokok, kepatuhan, asertivitas, aksesibilitas dan lingkungan sosial pada pegawai negeri sipil di Kabupaten Kulon progo dan Kabupaten Sleman. Faktor dominan yang mempengaruhi kepatuhan dan asertivitas PNS adalah pengetahuanKata kunci : rokok, kawasan tanpa rokok (KTR), pegawai negeri sipil,kepatuhan ,asertivitas

    Intensitas penggunaan gadget dan obesitas anak prasekolah di Kota Yogyakarta

    No full text
    Intensity of gadget use among overweighed preschool children in YogyakartaPurposeThe purpose of this paper was to determine the relationship of the gadgets uses intensity among obesity preschool children in Yogyakarta.MethodsThis cross-sectional study was conducted involving all preschool children in playgroup and kindergarten in Yogyakarta who did not attend the full day school program.ResultsPreschool children with high-intensity use of gadgets are 1.3 times more likely to be obese (p= 0.028, RP = 1.25). Preschool children with high-intensity use of gadgets, high education father, high sedentary behavior, adequate social economy, and poor diet are 2.1 times more likely to be obese.ConclusionThe incidence of obesity in preschool children is more common among children with high-intensity use of gadgets.Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan gadget terhadap obesitas anak usia prasekolah di Yogyakarta. Metode: Penelitian cross sectional dilakukan melibatkan semua anak prasekolah yang terdaftar di Playgroup/ Taman Kanak-Kanak di Yogyakarta dengan kriteria tidak mengikuti full day school. Hasil: Anak prasekolah yang intensitas penggunaan tinggi memiliki peluang 1,3 kali lebih banyak mengalami obesitas dibandingkan anak prasekolah yang intensitas penggunaan gadget rendah (p: 0,028, RP = 1,25). Anak prasekolah dengan intensitas penggunaan gadget tinggi dan pendidikan ayah tinggi, perilaku sedentari tinggi, sosial ekonomi cukup, serta pola makan tidak baik berpeluang 2,1 kali lebih besar mengalami obesitas dibandingkan dengan anak prasekolah intensitas penggunaan gadget rendah dan pendidikan ayah rendah, perilaku sedentari rendah, sosial ekonomi rendah, serta pola makan baik. Kesimpulan: Kejadian obesitas anak prasekolah lebih banyak terjadi pada anak yang intensitas penggunaan gadget tinggi dibandingkan yang intensitas penggunaan gadget renda

    Kesiapsiagaan rumah sakit umum Kabanjahe dalam menaggulangi bencana alam gempa bumi di Kabupaten Karo

    No full text
    Obstacles and opportunities in making a hospital disaster plan: the case study from North SumateraPurposeThis study assessed Kabanjahe District hospital preparedness in coping with earthquake disaster, describes obstacles and opportunities in forming hospital disaster preparedness and availability of hospital disaster plan component.MethodsThis research used qualitative research method with case study research design. This study examines the contemporary phenomenon of Kabanjahe General Hospital preparedness in anticipating the earthquake disaster.ResultsKabanjahe General Hospital is not ready to anticipate earthquake disaster and not yet completed in making hospital disaster plan.ConclusionObstacles to establishing disaster prepared hospitals to include the unavailability of budget for disaster management, lack of hospital personnel who understand K3B, have not participated in training of hospital disaster plan preparation, disaster training and hospital have never conducted disaster simulation. While the opportunity is Kabanjahe General Hospital has been working with other agencies in the fulfillment of facilities and preparation of the plan. The availability of Kabanjahe General Hospital for policy components, disaster risk analysis, communications, financing and evaluation monitoring has not been in accordance with the standards. As for organizational components and facilities already available in quantity but not yet organized to anticipate disaster.Latar Belakang: Kabupaten Karo yang wilayahnya berada di dataran tinggi bukit barisan dinyatakan sebagai daerah yang berisiko tinggi ancaman gempa vulkanik maupun gempa tektonik. Fasilitas kesehatan  terutama rumah sakit memiliki peran vital ketika bencana terjadi, Sehingga Rumah Sakit Umum Kabanjahe sebagai rumah sakit terbesar dan rujukan dari daerah sekitaran Kabupaten Karo perlu dinilai kesiapannya dalam mengantisipasi bencana alam gempa bumi.Tujuan: Penelitian ini menilai kesiapsiagaan RSUD Kabanjahe dalam menanggulangi bencana alam gempa bumi, mendeskripsikan hambatan dan peluang dalam membentuk rumah sakit siaga bencana serta ketersediaan komponen hospital disaster plan.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Penelitian ini mengkaji fenomena kontemporer tentang kesiapsiagaan Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam mengantisipasi bencana alam gempa bumi.Hasil: RSU Kabanjahe belum siap untuk mengantisipasi bencana alam gempa bumi serta belum selesai dalam membuat hospital disaster plan.Kesimpulan: Hambatan untuk membentuk rumah sakit siaga bencana antara lain masih belum tersedianya anggaran untuk penanggulangan bencana, kurangnya personalia rumah sakit yang memahami K3B, belum mengikuti pelatihan penyusunan hospital disaster plan, pelatihan kebencanaan serta rumah sakit belum pernah melaksanakan simulasi kebencanaan. Sedangkan peluangnya adalah RSU Kabanjahe sudah bekerja sama dengan instansi lain dalam pemenuhan fasilitas dan penyusunan rencana. Ketersediaan RSU Kabanjahe untuk komponen kebijakan, analisa risiko bencana, komunikasi, pembiayaan serta monitoring evaluasi belum sesuai dengan standar. Sedangkan untuk komponen organisasi dan fasilitas sudah tersedia secara kuantitas namun belum diorganisir untuk mengantisipasi bencana

    Occupational accidents relating by workers characteristics, knowledge and attitudes in informal alcohol industry

    No full text
    Purpose: This study aims to determine the relationship of worker characteristics, safety knowledge and attitude of using personal protective equipment with the incident of work accident. Methods: This study is a quantitative research with cross sectional approach. Subjects in this study were all workers of informal alcohol industry amout 42 people. Data were analyzed using Chi- square. Result this study that significant between occupational safety knowledge with occupational accidents (p 0,05).  Workers less knowledge of occupational safety affects workplace accidents not due to education level. Workers with the attitude of using personal protective equipment such as boots and gloves have not become a habit so work accidents still occur in informal alcohol industry. Conclusion There is need for training and understanding of the types of accidents ranging from mild to severe and how to control the risk of danger to the working environment independently, as well as increasing the contribution of the community to provide self-protective equipment that has good standards. Regular monitoring provides space for the informal industry to improve production quality 

    Analysis of Puskesmas Jetis Role in National Strategy TB New Case Prevention

    No full text
    Abstract Background: Control of Tuberculosis relies on Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) strategy. This control treatment setting are case management, whereas every year new cases increase signifantly. DOTS strategy is mandatory in every Primary Health Care (Puskesmas) in Indonesia.  Educational Objectives: This paper describes the role and achievement of Puskesmas Jetis in prevention and currative management of TB cases.  Method: Descriptive study with secondary data  Results: It is descriptive analysis with total, 83 cases were assessed from year 2013 to 2016 with 78 patients in TB category I and 5 patients in category II. 27 new cases in 2013, 22 new cases in 2014, 28 new cases in 2015, 25 new cases in 2016. In total 7 patients are children, 69 patients were recovered, 4 patients were in treatment failed status, 4 patients died, and 4 patients were dropped out with cure rate 85,71% in 2015 and 94,11% in 2016.  Conclusions: In DOTS strategy, Puskesmas Jetis has done an effective currative way. It shows in data that from all cases in year 2013 to 2016, more than 70% were recovered. But every year new cases were came out, means Puskesmas Jetis was not succeed in Tuberculosis prevention. Need an improvement on Tuberculosis promotion to prevent overload of new cases every year.  Keywords: Primary Health Care, DOTS strategy, Preventio

    Perubahan Iklim, Kegiatan Manusia, dan Potensi Kebakaran Hutan di Kalimantan, Indonesia

    No full text
    Tujuan: Mengidentifikasi hubungan antara perubahan iklim, aktivitas manusia dan potensi kebakaran hutan di Kalimantan. Metode: Penelitian ini mengembangkan model empiris yang mengintegrasikan perkiraan indikator biofisik yang relevan dengan jenis tanaman dan pengaruh aktivitas manusia dari waktu ke waktu. Hasil: Secara historis, kami menemukan bahwa efek pemanasan global (climate change) di dunia meningkat sebesar 54 persen dan lebih dari 90 persen kebakaran hutan disebabkan oleh manusia, atau sengaja dibakar. Hilangnya hutan terbesar di  Indonesia yaitu di Pulau Kalimantan dari empat provinsi yang membentuknya. Kalimantan kehilangan jumlah keseluruhan 123.941 Km2 selama periode 1973-2010. Kesimpulan: Penyebab utama terjadinya kebakaran hutan di Kalimantan adalah karena aktivitas manusia dan hanya sebagian kecil yang disebabkan oleh kejadian alam. Proses kebakaran alami bisa terjadi karena sambaran petir, benturan longsuran batu, sing- kapan batu bara, dan tumpukan srasahan. Informasi ini dapat digunakan oleh Pemerintah Daerah di 5 Provinsi yang ada di Kalimantan untuk semakin fokus pada pelestarian kawasan hijau. Membatasi dan memperketat izin pembukaan lahan baru dan konsisten dalam mewujudkan Kalimantan Go Green.

    Determinan perilaku tes HIV ibu hamil di Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang

    Get PDF
    Determinants of HIV testing behavior among pregnant women in public health center Bandarharjo Semarang PurposeThis research aimed to determine factors associated with HIV testing behavior among pregnant women at the public health center Bandarharjo Semarang.MethodsThis research was a descriptive analytic observational study with a matched case control design. Samples were pregnant women at the health center in Bandarharjo Semarang who have been offered an HIV test totaling 90 samples. Samples in the control group were matched according to trimester age of pregnancy to the case group with ratio of 1:1. Samples were enlisted by consecutive sampling. The research instrument used was a questionnaire. The data analysis consisted of univariable, bivariable comparisons using the McNemar test, and multivariable using conditional logistic regression tests.ResultsNo significant correlations were found, but practical information about HIV (OR 2.35; CI95% 0.801-6.9) and stigma (OR 2.16; CI95% 0.722-6.479) were related to HIV testing behavior.ConclusionPractical information about HIV and stigma are correlated to HIV testing behavior.Tujuan:  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku tes HIV pada ibu hamil di Puskesmas Bandarharjo Semarang.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain penelitian observasional berupa rancangan matched case control. Sampel adalah ibu hamil yang ANC di Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang yang sudah ditawari tes HIV sebanyak 90 sampel. Sampel kelompok kontrol dipasangkan sesuai dengan umur trimester kehamilan pada kelompok kasus dengan perbandingan 1:1. Sampel diambil dengan consecutive sampling. Analisis data terdiri dari analisis univariabel, bivariabel menggunakan uji McNemar, multivariabel dengan conditional logistic regression.Hasil: Penelitian ini tidak menemukan hubungan signifikan, tetapi secara praktis variabel informasi HIV (OR 2,35; CI95% 0,801-6,9) dan stigma (OR 2,16; CI95% 0,722-6,479) berhubungan dengan perilaku tes HIV.Implikasi praktis: Puskesmas bersama stakeholder agar lebih meningkatkan pemahaman kepada ibu hamil untuk melakukan test HIV saat hamil. Peran tenaga kesehatan (bidan dan analis laboratorium) untuk meningkatkan dukungan terutama waktu yang ditentukan untuk tes HIV tidak hanya pada saat jadual ANC tetapi setiap hari kerja.Keaslian: Secara praktis informasi HIV dan stigma berhubungan dengan perilaku tes HIV

    Efek metode deep breathing dan afirmasi positif pada penurunan tekanan darah pasien hipertensi di Kulon Progo

    Get PDF
    Latar Belakang: Complementary and Alternative Medicine merupakan salah satu strategi penatalaksanaan non-farmakologi. Salah satu konsepnya dikenal dengan istilah self-healing. Deep breathing dan afirmasi positif merupakan  metode self-healing yang paling sederhana, lebih mudah diaplikasikan secara mandiri, praktis untuk dilakukan setiap saat, tidak memerlukan instruktur dan tempat khusus yang kondusif sehingga relevan diterapkan pada pasien dengan status sosial ekonomi menengah ke bawah. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk membandingkan pengaruh kedua metode tersebut terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi esensial di Kabupaten Kulon Progo.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental analitik dengan rancangan eksperimen terkontrol acak. Melibatkan 96 pasien hipertensi esensial yang dibagi secara acak ke dalam dua kelompok intervensi yaitu deep breathing dan afirmasi positif. Kelompok DB diminta untuk melakukan pernafasan perut selama kurang lebih 10 menit, sedangkan kelompok AP diminta untuk mengucapkan salah satu kalimat afirmasi positif yang telah ditentukan secara berulang-ulang dan ritmis di dalam hati selama kurang lebih 10 menit. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum, segera setelah, dan 15 menit setelah intervensi. Perbedaan rerata tekanan darah diuji menggunakan paired t-test dan unpaired t-test sedangkan kekuatan efek size diuji dengan logistic regression.Hasil: Deep breathing dan afirmasi positif dapat menurunkan tekanan darah sistolik (11,9±10,9 dan 13,6±10,5) dan diastolik (8,3±8,4 dan 6,0±8,6) pada pasien hipertensi esensial (p value 0,000; std mean diff>0,7). Rerata tekanan darah pada pengukuran post1 dan post2 tidak berbeda (CI 95%:0,06-4,91). Penurunan tekanan darah pada kedua kelompok tidak berbeda (p value>0,1). Kesimpulan: Efektivitas deep breathing dan afirmasi positif dalam menurunkan tekanan darah adalah sama. Penurunan tekanan darah kedua metode tersebut stabil hingga 15 menit setelah intervensi. Oleh karena itu, perlu diagendakan kegiatan relaksasi rutin untuk pasien hipertensi minimal pada kelompok pasien yang sudah terorganisir seperti Kelompok Hipertensi Prolanis di Puskesmas.The effect of deep breathing method and positive affirmation on blood pressure decrease in patients with essential hypertension in Kulon ProgoPurposeThe purpose of this paper was to compare the influence of deep breathing method and positive affirmation on the decrease in blood pressure in essential hypertensive patients in Kulon Progo.MethodsA randomized controlled trial was conducted involving 96 patients with essential hypertension who were randomly assigned to two intervention groups, namely deep breathing and positive affirmations. The DB group was asked to perform stomach breathing for approximately 10 minutes, while the AP group was asked to give one of the repetitive and rhythmically determined positive affirmation sentences for about 10 minutes.ResultsDeep breathing and positive affirmations can lower systolic blood pressure (11.9 ± 10.9 and 13.6 ± 10.5) and diastolic (8.3 ± 8.4 and 6.0 ± 8.6) in patients with essential hypertension. The mean blood pressure results on post1 and post2 measurements were not significantly different. The decrease in blood pressure in both groups was also not different.ConclusionThis study contributes to the knowledge that the effectiveness of deep breathing and positive affirmations in lowering blood pressure is the same. The decrease in blood pressure of both methods was stable up to 15 minutes after the intervention

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KANKER SERVIKS DI RSUP DR. SARDJITO PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    No full text
    Latar Belakang: Kanker serviks menduduki urutan tertinggi di negara berkembang dan berada pada urutan ke 10 di negara maju atau urutan ke 5 secara global. Di Indonesia, kanker serviks menduduki urutan pertama dari 10 kanker terbanyak yang ditemukan di 13 laboratorium patologi anatomi di Indonesia. Data Riskesdas (2013) menunjukkan, Yogyakarta merupakan salah satu provinsi dengan prevalensi kanker serviks tertinggi yaitu 1,5‰. Faktor risiko kanker serviks umumnya  terkait dengan aktivitas seksual, sosial ekonomi rendah, hygiene serta penggunaan kontrasepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian kanker serviks di RSUP Dr. Sardjito Daerah Istimewa Yogyakarta.Metode: Studi  case control dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2016.  Kasus adalah pasien yang menderita kanker serviks berdasarkan diagnosis dokter , dan kontrol adalah pasien yang tidak menderita kanker serviks. Pengambilan sampel dengan teknik consecutive sampling. Data dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik.  Hasil: Sebanyak  105 kasus dan 105 kontrol dilibatkan dalam penelitian ini. Faktor yang berhubungan dengan kejadian kanker serviks di RSUP Dr. Sardjito Daerah Istimewa Yogyakarta adalah variabel usia pertama kali berhubungan seksual ≤ 20 tahun dengan aOR sebesar 2,41 (95% CI = 1,35-4,29; p = 0,003) dan penggunaan kontrasepsi  jenis oral/pil dengan aOR sebesar 3,40 (95% CI = 1,46-7,92; p = 0,004), sedangkan jumlah pasangan,paritas, pembalut, sirkumsisi dan merokok tidak berhubungan dengan kejadian kanker serviks di RSUP Dr. Sardjito Daerah Istimewa Yogyakarta.Kesimpulan: Bagi wanita yang belum aktif seksual dapat melakukan vaksinasi HPV. Menggunakan kondom ketika berhubungan seksual. Bagi wanita usia 30-49 tahun (aktif seksual) diharapkan untuk dapat mengikuti program deteksi dini kanker serviks dengan metode inspeksi visual asam asetat (IVA) yang sekarang bisa dilakukan di puskesmas. Menjalankan pemeriksaan papsmear minimal 1 kali dalam setahun.Kata Kunci: kanker serviks, case control, Yogyakart

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇