Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Pengaruh konseling laktasi terhadap pengetahuan, kemampuan dan keberhasilan ibu dalam pemberian ASI
Latar belakang: Modal dasar pembangunan manusia berkualitas dimulai sejak bayi masih dalam kandungan yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak usia dini, terutama pemberian ASI eksklusif yaitu pemberian hanya ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia enam bulan. Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) (2002-2003) menunjukkan hanya 4% bayi disusui dalam 1 jam pertama setelah dilahirkan, sedangkan 27% mulai disusui dalam hari pertama kehidupan. Proporsi pemberian ASI eksklusif pada anak usia di bawah 4 bulan 55% dan anak usia 6 bulan 40%, dengan median lama pemberian ASI eksklusif selama 1,6 bulan. Target pelaksanaan pemberian ASI eksklkusif sebesar 80%, namun dalam pelaksanaannya ASI eksklusif masih memprihatinkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling laktasi terhadap pengetahuan, kemampuan dan keberhasilan ibu dalam pemberian ASI di RSUD Panembahan Senopati Bantul.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah ”quasi experiment with post test-only non equivalent control group design”. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 32 responden pada masing-masing kelompok (kelompok kontrol dan kelompok intervensi). Analisis bivariat menggunakan chi square dengan tingkat kemaknaan p<0.05.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan yang signifikan setelah dilakukan konseling laktasi pada kelompok intervensi (p value 0.000<0.05), terdapat perbedaan kemampuan menyusui yang signifikan antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol setelah diberikan konseling laktasi (p value 0.012<0.05; RR 1.917) dan terdapat perbedaan keberhasilan dalam pemberian ASI yang signifikan antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol setelah diberikan konseling (p value 0.006<0.05; RR 2.500).Kesimpulan: Konseling laktasi berpengaruh terhadap pengetahuan, kemampuan dan keberhasilan ibu dalam pemberian ASI.The effect of lactation counseling towards mother’s knowledge, ability and success rate in breastfeedingPurposeThis study aimed to identify the effect of lactation counseling towards mother’s knowledge, ability, and success in breastfeeding in Panembahan Senopati General Hospital, Bantul.MethodsThis research was a quasi-experimental study with a post test-only non-equivalent control group design. Sample collection technique used consecutive sampling with 32 respondents as total samples in each group (intervention group and control group). ResultsBivariate analysis used chi square tests with significance level p<0.05. The intervention group was given lactation counseling (p = 0.000 [<0.05]). There was a significant difference in mother’s ability to breastfeed between the intervention group and control group after they were given lactation counseling (p=0.012 [<0.05]; RR=1.917). There was also a significant difference in the success rate of breastfeeding between the intervention and control group after counseling (p= 0.006 [<0.05]; RR=2.500).ConclusionLactation counseling can positively affect the mother’s knowledge, ability, and success rate in breastfeeding
Paparan informasi kesehatan reproduksi melalui media pada perilaku seksual pranikah: analisis data survei demografi kesehatan Indonesia 2012
Latar belakang: Remaja mempelajari seksualitas melalui observasi media maupun pengaruh lingkungan sosialnya. Pesan yang disampaikan media menjadi faktor yang mempengaruhi pengetahuan, perilaku dan sikap remaja dan dewasa muda. Secara umum, pengaruh paparan media dengan bebasnya memuat konten seksual, menjadi sarana terbesar dalam mempengaruhi perilaku seksual remaja. Di Indonesia sebagian besar remaja mulai berpacaran pada usia 15-17 tahun dengan aktivitas utama berpegangan tangan. Laporan SDKI tahun 2012 sub survei Kesehatan Reproduksi Remaja (KKR) menyebutkan bahwa hubungan seksual pranikah pada remaja wanita sebesar 1% dan remaja pria 8,3% (BPS, 2013). Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan jenis dan intensitas paparan informasi kesehatan reproduksi melalui media terhadap perilaku seksual remaja dan dewasa muda di Indonesia.Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan cross sectional study. Data yang digunakan adalah data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 sub survey Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja dan dewasa muda usia 15-24 tahun di Indonesia dengan kriteria inklusi remaja berusia 15-24 tahun yang mendapat akses informasi kesehatan reproduksi dari media baik surat kabar/majalah, radio maupun televisi dan menjawab iya pada pertanyaan seputar kesehatan reproduksi (penundaan usia kawin, HIV/AIDS, IMS, kondom, KB dan kespro).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda yang menerima jenis informasi kesehatan kategori kesehatan reproduksi memiliki prevalensi yang lebih kecil dalam melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan informasi kategori metode kontrasepsi atau keduanya. Intensitas paparan informasi kesehatan reproduksi yang rendah atau tidak terpapar menunjukkan prevalensi perilaku seksual pranikah yang tinggi. Faktor umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat kekayaan, perilaku merokok, minum alkohol, konsumsi napza dan keintiman berpacaran berhubungan signifikan dengan perilaku seksual pranikah remaja dan dewasa muda.Kesimpulan: jenis dan intensitas paparan informasi berhubungan signifikan dengan perilaku seksual pranikah. Intensitas paparan yang tinggi dan jenis informasi kategori kesehatan reproduksi memiliki prevalensi melakukan perilaku koitus dibandingkan kategori lainnyaThe correlation of reproductive health information exposure from media on premarital sexual behaviour: an Indonesia demographic health survey 2012 analysisPurposeThis study aimed to determine the correlation of type and intensity of exposure of reproductive health information through media to the sexual behavior of adolescents and young adults in Indonesia.MethodsThis study used a cross-sectional design. The data used was the Indonesian sub-survey of adolescent reproductive health, Indonesia demographic and health survey.ResultsThe results showed that adolescents and young adults who receive the health information type of adolescent reproductive health category have a smaller prevalence in sexual intercourse before marriage than information of contraceptive methods category or both. The intensity of exposure to reproductive health information which was low or no exposure, have higher prevalence of premarital sexual behavior. Age, gender, level of education, level of wealth, smoking, drinking alcohol, drug consumption and dating intimacy are significantly associated with premarital sexual behavior of adolescents and young adults.ConclusionType and intensity of reproductive health information are significantly associated with premarital sexual behavior of adolescents and young adults. The high intensity of exposure and type of adolescent reproductive Health category have a smaller prevalence in sexual intercourse before marriage
Peringatan kemasan rokok bergambar dan intensi berhenti merokok di Sleman
Latar belakang: Rokok adalah penyebab banyak penyakit mematikan di dunia termasuk penyakit kardiovaskular, penyakit paru kronik dan kanker paru. Seiring dengan pertumbuhan populasi yang semakin meningkat, angka konsumsi rokok dunia juga meningkat secara signifikan, sehingga risiko penyakit akibat rokok juga meningkat. Upaya pengendalian rokok sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menekan prevalensi merokok. Salah satunya adalah peraturan tentang penerapan peringatan bergambar pada bungkus rokok sejak juni 2014. Hal ini karena banyaknya penelitian yang membuktikan bahwa peringatan bergambar efektif dalam meningkatkan keinginan untuk berhenti merokok dan mengurangi inisiasi merokok pada non-perokok.Metode: Penelitian menggunakan data sekunder dari Penelitian "Efektivitas gambar peringatan pada bungkus rokok terhadap perilaku merokok di Kabupaten Sleman, Yogyakarta" pada tahun 2015. Menggunakan desain cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 155 orang. Analisis data menggunakan uji chi square dengan level signifikansi 95 (p value < 0,05) dan uji multiple logistic regression.Hasil: Terdapat hubungan antara peringatan bergambar, lingkungan sosial dan persepsi akan bahaya rokok dengan intensi berhenti merokok atau intensi tidak mulai merokok.Kesimpulan: Peringatan bergambar pada bungkus rokok bersama dengan lingkungan sosial yang baik serta persepsi akan bahaya rokok dapat menimbukan intensi berhenti merokok pada perokok dan intensi tidak mulai merokok pada non perokok. Sehingga peringatan bergambar yang menunjukkan bahaya rokok dan meningkatkan persepsi bahaya rokok makin diperbanyak agar intensi berhenti merokok atau tidak mulai merokok makin besar. Warning of illustrated cigarette packaging and smoking cessation intention in SlemanPurposeThis study aimed to identify the relationship of pictorial warnings to cigarette packaging with the intention to stop smoking or not to start smoking in Sleman regency.MethodsThe study used secondary data from the study "The effectiveness of warning images on cigarette packs on smoking behavior in Sleman, Yogyakarta" from 2015 and used a cross- sectional design with 155 respondents. Data were analyzed using chi square tests with significance level 95% (p <0.05) and multiple logistic regression test.ResultsThere was a correlation between pictorial warning, social environment and perceptions of the dangers of cigarettes with the intention of quitting smoking or the intention of not starting to smoke.ConclusionPictorial warning on cigarette packs, good social environment and perception of cigarette hazard may support the intention to stop smoking on smokers and intention not to smoke on non-smokers. Therefore, pictorial warnings that show the danger of smoking should be produced more as an intervention to reduce the intention of smoker to smoke and prevent non-smoker intention from starting smoking.
Faktor risiko dan manajemen stres kerja pada perawat di rumah sakit: sistematic review
Stres kerja telah menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling serius pada abad kedua puluh. Stres kerja banyak terjadi pada para pekerja di sektor kesehatan karena tanggung jawab terhadap manusia pada sektor kesehatan menyebabkan pekerja kesehatan lebih rentan terhadap stres. Stres kerja yang dialami oleh para perawat diprediksi akan cenderung terus meningkat di tahun-tahun yang akan datang. Hal tersebut merupakan sebuah tren yang tidak dapat diabaikan karena sangat erat kaitannya dengan keselamatan para perawat dan pasien. Tujuan dari review ini yaitu untuk melihat faktor resiko stress kerja pada perawat dan manajemen stres kerja yang digunakan untuk mengatasinya. Metode penelitian menggunakan sistematik review dengan melakukan pencarian data Base seperti melalui ProQuest, ScinceDirect, dan Google Scholar menggunakan kata kunci. Hasil penyaringan diperoleh 6 studi yang memenuhi kriteria. Hasil review menunjukkan bahwa faktor risiko stres di berbagai negara sangat beragam mulai dari tingginya beban kerja, tekanan manajemen rumah sakit hingga tingginya kecemasan terhadap pasien. Pengelolaan stres yang dilakukan dibeberapa negara hampir sama yaitu dengan pendekatan individual. Pengelolaan stres melalui pendekatan individual terlihat cukup efektif menurunkan stres level pada perawat, menurunkan kecemasan dan mampu membuat kesehatan umum perawat menjadi lebih baik.
HUBUNGAN PENGETAHUAN ERGONOMI DAN SIKAP KERJA PADA PERAWATAN LUKA DENGAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) PADA PERAWAT DI RSU dr. H. KOESNADI BONDOWOSO
Ergonomics knowledge and work posture of nurses on wound care with musculoskeletal disorder in dr. H. Koesnadi BondowosoPurposeThe purpose of this paper was to determine the association between knowledge of ergonomics and work attitude on wound care with complaints of musculoskeletal disorders in hospital nurses. MethodsA cross-sectional study was conducted involving questionnaires distributed to 29 nurses working in the surgical and internal departments who met the inclusion and exclusion criteria. ResultsThere was no significant correlation between sex, age, and education level with musculoskeletal disorder (p> 0.05). Knowledge of ergonomics, work attitude, and length of service were associated with musculoskeletal disorder. ConclusionsEducation and training on proper ergonomics and work posture should be introduced in the workplace to reduce the risk of musculoskeletal disorder among the nurses working in different settingsLatar Belakang: Saat ini, musculoskeletal disorders (MSDs) atau gangguan muskuloskeletal adalah salah satu masalah kesehatan yang paling sering dikaitkan langsung dengan kondisi kerja dan terjadi pada perawat yang sedikit/ tidak mendapatkan pelatihan atau pendidikan tentang prinsip ergonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ergonomi dan sikap kerja pada perawatan luka dengan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada perawat di rumah sakit. Metode: Penelitian ini membutuhkan 29 perawat sebagai responden yang berada di ruang bedah dan interna yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian cross sectional ini bersifat analitik korelasi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang sudah tervalidasi (untuk mengukur pengetahuan perawat tentang ergonomi), OWAS, dan NBM. Analisis data menggunakan chi square untuk uji bivariat dan logistic regression untuk uji multivariat. Hasil: Analisis bivariat, tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan dengan musculoskeletal disorders (p>0,05). Sedangkan hubungan antara pengetahuan tentang ergonomi, sikap kerja, dan masa kerja dengan musculoskeletal disorders menunjukkan hasil yang signifikan (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang ergonomi, sikap kerja, dan masa kerja dengan musculoskeletal disorders secara bersama-sama (p=0,000; R2 0,4107%).Kesimpulan: Pendidikan dan pelatihan mengenai ergonomi dan sikap kerja yang benar harus diperkenalkan di tempat kerja untuk bisa mengurangi risiko keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada perawat yang bekerja dalam pengaturan tempat kerja yang berbeda
PENGARUH KETERSEDIAAN LAYANAN INFORMASI POLA KONSUMSI DAN KOMPLIKASI GIGI DAN MULUT TERHADAP PERILAKU PENGELOLAAN PENYAKIT PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI KOTA YOGYAKARTA
Latar Belakang: Diabetes merupakan penyakit yang kompleks dan mahal yang dapat mempengaruhi hampir setiap organ dalam tubuh dan mengakibatkan konsekuensi yang tinggi. Data Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta sebanyak 2,6%. Survei Dinkes Kota Yogyakarta tahun 2015, di Kota Yogyakarta terdapat 2638 orang penderita baru yang mengidap penyakit diabetes mellitus. Pada upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Pemerintah wajib memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh akses terhadap informasi kesehatan.Metode Penelitian: Penelitian deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional, menggunakan metode penelitian kuantitatif. Populasi adalah seluruh pasien diabetes mellitus yang tercatat di Yogyakarta. Sample penelitian sebanyak 336 orang pada empat puskesmas Kota Yogyakarta yaitu, Puskesmas Tegalrejo, Kotagede I, Mantrijeron, dan Wirobrajan.Hasil: Penelitan ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara ketersediaan layanan informasi pola konsumsi dengan perilaku pengelolaan pada penderita diabetes mellitus ditunjukkan dengan p>0.25 (p=0.763). Sedangkan informasi pola konsumsi (p=0,003), informasi komplikasi gigi mulut (p=0,149), dan dukungan keluarga (p=0.148) memiliki pengaruh terhadap perilaku pengelolaan pada penderita diabetes mellitus ditunjukkan dengan nilai p<0.25.Kesimpulan: Pelayanan Puskesmas terhadap pasien penderita diabetes di kota Yogyakarta secara umum sudah baik akan tetapi masih kurangnya informasi dan kepedulian terhadap kesehatan gigi dan mulut pada penderita diabetes. Perlu adanya kepedulian oleh Puskesmas terhadap kesehatan gigi dan mulut pada penderita diabetes mellitus. Selain itu perlu inovasi pada penyampaian informasi pada pasien, terutama pasien lama.Kata Kunci: Ketersediaan Pelayanan informasi, Pola konsumsi, Gigi dan Mulut, Diabetes Melitu
Edukasi kesehatan Gggi dan mulut dengan metode game pada guru TK
Dental and oral health education of children through games among kindergarten teachersPurposeThis study aims to determine the differences of knowledge about the dental and oral health of children before and after instruction with the game method called “Rangking I” among kindergarten teachers. MethodsThis research was a quasi experimental study with quantitative data analysis using a one group experimental design. A total of 29 kindergarten teachers were educated by the game method called “Rangking 1”. Changes in knowledge before and after education were measured using a pre-test and post-test. ResultsThe Wilcoxon test showed that education with the “Rangking 1” game method and lectures can be effective in improving the knowledge of kindergarten teachers related to oral and dental health. ConclusionThe game method “Rangking 1” can increase the knowledge of dental and mouth health in kindergarten teachers significantly. Schools need to consider implementing learning methods through games for kindergarten children.Latar Belakang: Untuk melakukan promosi kesehatan gigi dan mulut dibutuhkan metode yang interaktif agar pesan dapat tersampaikan dengan baik. Guru TK dapat menjadi salah satu agen dalam promosi kesehatan gigi dan mulut pada anak. Penelitian ini menggunakan game Rangking 1 untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak pada guru TK. Penelitian bertujuan mengetahui perbedaaan pengetahuan sebelum dan setelah dilakukan edukasi kesehatan gigi dan mulut anak dengan metode game Rangking I pada guru TK.Metode: Metode penelitian yang dilakukan yaitu quasi experimental dengan rancangan penelitian kuantitatif one group experimental design. Sebanyak 29 guru TK diedukasi dengan metode game Rangking 1. Perubahan pengetahuan sebelum dan setelah edukasi diukur dengan menggunakan pre-test dan post-test.Hasil: Uji Wilcoxson menunjukkan edukasi dengan metode game Rangking 1 dan ceramah dapat efektif dalam meningkatkan pengetahuan guru TK terkait kesehatan gigi dan mulut.Kesimpulan: Metode game Rangking 1 dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada guru TK secara signifikan
KEJADIAN INFEKSI HEPATITIS B PADA BAYI DAN ANAK YANG DILAHIRKAN OLEH IBU DENGAN HBSAG POSITIF DI KABUPATEN MAGELANG JAWA TENGAH TAHUN 2014-2016
PurposeThis study aimed to examine the prevalence rate of Hepatitis B Virus (HBV) infection in infants aged more than 9 months born to HbsAg-positive mothers as well as the distribution of the cases in Magelang Regency for the years 2014-2016.Method The study used a survey approach with total sampling. The sample of this research consisted of infants aged more than 9 months born to HBsAG-positive mothers diagnosed from laboratory examination (Rapid Diagnostic Test) based on the report from the Health Office of Magelang Regency for the years 2014-2016. The method of analysis used was descriptive. The HBsAg of the sample was examined using HBsAg Rapid Test Cassette and confirmed using Enzyme-Linked Fluorescence Assay (ELFA) methods at a laboratory.Results The prevalence rate of Hepatitis B virus infection in infants born to HBsAG-positive mothers in Magelang Regency was 0 percent (0/61). The history of the administration of HB0 vaccine <12 hours to respondents reached 100 percent and the history of the administration of HBIg <12 hours was 68.85 percent. The history of respondents’ caesarean delivery was 37.7 percent. The history of therapy of respondents was by giving curcuma and Java ginger (temulawak). The price of HBIg is relatively expensive Rp. 1,000,000 – Rp. 4,999,999.ConclusionThis study concludes that there was no vertical transmission with 100 percent history of the administration of HB0 vaccine.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian infeksi HBV pada bayi usia lebih dari 9 bulan yang dilahirkan oleh ibu dengan HBsAg positif serta sebaran kasusnya di Kabupaten Magelang tahun 2014-2016.Metode: Penelitian survey ini menggunakan total sampling. Sampel penelitian ini adalah bayi usia lebih dari 9 bulan yang dilahirkan oleh ibu dengan HBsAg positif dari pemeriksaan laboratorium (Rapid Diagnostic Test) berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang tahun 2014-2016. Analisis menggunakan analisis deskriptif. Sampel akan diperiksa HBsAg menggunakan HBsAg Rapid test Cassette dan dikonfirmasi menggunakan metode Enzyme-Linked Fluorescence Assay (ELFA) di laboratorium.Hasil: Angka kejadian infeksi hepatitis B pada bayi yang dilahirkan dari ibu HBsAg positif di Kabupaten Magelang yaitu 0% (0/61). Riwayat pemberian vaksin HB0 <12 jam kepada responden mencapai 100% dan riwayat pemberian HBIg <12 jam sebesar 68.85%. Riwayat persalinan ibu responden secara secar 37.7%. Riwayat terapi responden diberi curcuma dan temulawak. Harga HBIg yang relatif mahal Rp. 1.000.000 – Rp. 4.999.999. Implikasi praktis: Pemberian vaksin HBIg saat ini dianggap tidak perlu. Selain itu, HBIg juga mahal harganya.Keaslian: Tidak ada penularan secara vertikal dengan 100% riwayat pemberian vaksin HB0
Determinan Sosial dan Lingkungan pada Penderita Tuberkulosis Paru Anak di Kota Salatiga Tahun 2015 – 2016
Purpose: This study aims to analyze the social and environmental determinants associated with cases of childhood tuberculosis in the city of Salatiga 2015-2016.Method: This study was a case-control involving 130 children. Cases were children aged ≤15 years who were suffered from tuberculosis by a doctor's examination based on the Indonesian pediatric association scoring system. Controls were children aged ≤ 15 years who were not suffered from tuberculosis. Data were collected through structured interviews and direct measurement of ventilation area, room, humidity and home lighting and coordinate measurements with global positioning system to determine the position of tuberculosis case point.Results: The pattern of pulmonary tuberculosis cases in children was spread over densely populated areas. Room density was the biggest risk factor in the incidence of childhood tuberculosis in Salatiga. A social condition that affected pulmonary tuberculosis the most was family income.Conclusion: Active case finding is needed in low socioeconomic groups and densely populated areas. Health promotion of healthy house requirements needs to be given to the community.Latar Belakang : Kasus tuberkulosis (TB) paru pada anak di Kota Salatiga telah melebihi indikator nasional dalam tiga tahun terakhir.Faktor sosial dan lingkungan merupakan indikator penting dalam peningkatan kasus TB anak. Pada penelitian ini, peneliti bertujuan untuk menganalisis determinan sosial dan lingkungan pada penderita TB anak di Kota Salatiga Tahun 2015 – 2016. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan desain matched case control. Kasus adalah anak usia ≤ 15 tahun yang menderita TB oleh pemeriksaan dokter berdasarkan sistem skoring Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan tercatat dalam register rawat jalan BKPM dan RSUD Kota Salatiga mulai dari tahun 2015 – 2016. Kontrol adalah anak usia ≤ 15 tahun yang tidak menderita TB dan tercatat dalam register rawat jalan BKPM dan RSUD Kota Salatiga mulai dari tahun 2015 – 2016.Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dan pengukuran langsung luas ventilasi, luas ruangan, kelembaban dan pencahayaan rumah serta melakukan pengukuran koordinat dengan alat Global Positioning System (GPS) untuk menentukan posisi titik kasus TB anak. Hasil : Analisis Multivariat menunjukan bahwa varaibel yang paling dominan mempengaruhi kasus TB paru pada anak di Kota Salatiga adalah penghasilan keluarga yang rendah (OR : 2,49 ; 95% CI : 1,19 – 5,22 ; p-value : 0,01) dan kepadatan kamar (OR : 2,44 ; 95% CI : 1,12 - 5,35; p-value : 0,02). Adanya pola penyebaran TB paru pada anak di wilayah yang padat penduduk. Kesimpulan :Variabel yang paling berhubungan dengan TB paru pada anak di Kota Salatiga Tahun 2015 – 2016 adalah kepadatan kamar dan penghasilan keluarga.Pola penyebaran kasus TB paru pada anak di Kota Salatiga tersebar pada wilayah yang padat penduduk
Stunting dan perkembangan anak usia 12-60 bulan di Kalasan
PurposeThis study determine the relationship between stunting incidence with development in children aged 12-60 months.MethodsThe type of research used was observational with cross sectional study design. This research will be conducted in the working area of Puskesmas Kalasan Sleman regency Yogyakarta with subject children aged 12 to 60 months as many as 106 children. Data analysis with univariable, bivariable with chi-square test with significance level of p <0,05 and CI 95% and multivariable by using statistical test of logistic regression.ResultsBivariable analysis between stunting status and child development showed significant relationship (p <0,05) and OR 3,9 (95% CI; 1,8-8,9). The result of the multivariable analysis is the relationship between stunting status and the development of children aged 12-60 months who consider the energy intake.ConclusionsThere is a relationship between stunting and the development of children aged 12-60 months but between maternal education, infectious diseases, parenting, energy intake, long-term birth, and parental income, energy intake most closely related to child development when jointly considered.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kejadian stunting dengan perkembangan pada anak usia 12-60 bulan.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini akan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kalasan Kabupaten Sleman Yogyakarta dengan subjek anak usia 12 sampai 60 bulan sebanyak 106 orang. Analisis data dengan univariabel, bivariabel dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0.05 dan CI 95% dan multivariabel dengan menggunakan uji statistik regresi logistik.Hasil: Analisis bivariabel antara status stunting dengan perkembangan anak menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna (p<0,05) dan nilai OR 3,9 (95% CI; 1,67-8,90). Hasil analisis multivariabel antara status stunting yang mempertimbangkan panjang badan lahir dan asupan energi berpengaruh sebesar 8% dengan perkembangan anak usia 12-60 bulan.Implikasi praktis: Pnelitian ini menyarankan pada petugas kesehata untuk mengingatkan ibu untuk memperhatikan asupan makan anaknya.Keaslian: Penelitian ini menyimpulkan bahwa asupan energi paling berhubungan dengan perkembangan anak ketika bersama-sama dipertimbangka