Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Keragaman makanan dan kejadian BBLR: analisis IFLS 5
Permasalahan gizi dapat terjadi sepanjang siklus kehidupan manusia. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Neonatal (AKN). Penyebab paling banyak kematian pada kelompok neonatal adalah bayi dengan berat badan Lahir Rendah (BBLR). BBLR menjadi masalah kesehatan masyarakat secara global dan memberikan efek kerugian dalam kesehatan baik jangka panjang maupun jangka pendek. Berdasarkan data lebih dari 20 juta bayi di seluruh dunia mewakili 15% sampai dengan 20% dari jumlah total seluruh kelahiran merupakan bayi BBLR. Prevalensi BBLR di Indonesia berdasarkan RISKEDAS tahun 2013 sebesar 10,2 persen, berdasarkan data SDKI tahun 2012 sebesar 7,3 persen. Penelitian ini mengkaji hubungan antara pola makan dan anemia dengan kejadian BBLR di Indonesia dengan memanfaatkan data sekunder Indonesia Family Life Survey (IFLS 5) tahun 2014-2015 yang tersebar. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain penelitian Cross Sectional. Memanfaatkan data sekunder IFLS 5 kemudian dianalisis secara restrospective. Populasi penelitian ini adalah seluruh wanita usia subur (WUS) 15-49 tahun sudah menikah, pernah melahirkan, anak terakhir dan lahir hidup serta memenuhi kriteria inklusi yaitu memiliki berat badan bayi ditimbang. Variabel bebas yaitu pola makan dan anemia sedangkan variabel terikatnya adalah BBLR. Variabel luar pada penelitian ini yaitu usia, paritas ibu, pendidikan, pekerjaan, komplikasi kehamilan, konsumsi TTD dan lokasi tempat tinggal. Total responden yang masuk dalam sampel penelitian adalah 2.368 dengan kejadian BBLR 8,66 persen. Persentase pola makan tidak beragam ada 72,25 persen lebih banyak daripada pola makan beragam. Ada hubungan yang signifikan antara pola makan beragam dengan BBLR. Tetapi tidak ada hubungan antara anemia dengan BBLR. Temuan pada analisis lanjutan untuk kelompok makanan ada dua kelompok makanan yang berhubungan signifikan dengan BBLR (p<0,05) yaitu kelompok kacang-kacangan serta kelompok daging dan ikan. Variabel lain pendidikan dan pekerjaan ibu berhubungan signifikan dengan BBLR dalam penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola makan beragam memberikan resiko yang rendah dengan kejadian BBLR tetapi tidak dengan anemia. Perlu upaya perbaikan gizi masyarakat melalui pola makan beragam dan seimbang. Faktor sosial yang berhubungan signifikan dengan BBLR adalah pendidikan dan pekerjaan ibu
Penggunaan SMS sebagai metode customer relationship management dalam menanggapi keluhan pasien di puskesmas Kowilut kota Kediri
Customer Relationship Management System merupakan suatu cara untuk menjaga hubungan yang baik antara penyedia layanan kesehatan dengan pasien, yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pasien, menjalin komunikasi yang efektif, dan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Metode paling efektif yang digunakan oleh Puskesmas Kowilut Kota Kediri untuk menjalankan sistem CRM adalah menggunakan SMS keluhan, oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengobservasi operasional penggunaan SMS sebagai metode CRM dalam menanggapi keluhan pasien di Puskesmas Kowilut Kota Kediri. Penelitian ini bersifat deskriptif. Subyek penelitian adalah metode yang digunakan oleh Puskesmas Kowilut Kota Kediri untuk menjalankan sistem CRM yaitu penggunaan SMS keluhan. Koordinator dan anggota tim Surveyor Kepuasan Pelanggan adalah responden. Mengumpulkan informasi melalui wawancara dan observasi. Ada tiga tahapan dalam hal penanganan keluhan pasien melalui SMS keluhan. Yang pertama, Tim SKP menerima keluhan pasien melalui SMS, dicatat, dilaporkan, serta menawarkan solusi terhadap keluhan pasien tersebut. Koordinator Tim SKP yang kemudian meneruskan laporan kepada wakil manajemen mutu. Tahap kedua adalah wakil manajemen mutu mendokumentasikan keluhan dan solusi kedua yang ditawarkan kepada pasien sebelum menyerahkan laporan tertulis kepada penanggung jawab mutu puskesmas yaitu Kepala Puskesmas Kowilut Kota Kediri. Tahap ketiga adalah keluhan pasien yang terdokumentasi akan dibahas pada rapat internal dan dicari jalan keluarnya agar tidak ada kejadian serupa yg terulang kembali, serta melakukan perbaikan dan hasil perbaikannya akan ditampilkan pada majalah dinding puskesmas agar dapat dibaca oleh para pasien yang berobat. Penggunaan SMS keluhan merupakan metode CRM yang paling efektif, karena keluhan pasien terdokumentasi dengan baik dan perbaikan dapat dilakukan dengan cepat. SOP untuk pelaksanaan metode tersebut perlu untuk segera dibuat oleh Tim SKP dan penanggung jawab mutu. Ke depannya, perlu dilakukan pengembangan program untuk metode ini, salah satu caranya adalah dengan menggunakan beberapa media lain untuk menyampaikan keluhan secara langsung kepada tim SKP, misalnya dengan email dan media sosial lainnya
The correlation between hypertension and low fetal weight in Palembang city, Indonesia
Hypertension as one of health problem that often occurs during pregnancy is epidemiological evidence that can affect the incidence of small for gestational age. The purpose of this study is to determine the effect of hypertension on the incidence of low fetal weight. This study is using a cross-sectional design with a total of 752 samples in 25 selected health services taken by accidental sampling method. The results showed a significant association between hypertension with incidence of low fetal weight. The prevalence of hypertensive women experienced a low of fetal weight is at 7,272 times (95% CI 3,415-15,482) greater than those who are not hypertensive. The odds of low fetal weight in hypertensive women were 24.1%. Early intervention by carrying out activities in the form of female chronic hypertension screening before the pregnancy phase may reduce the risk of low fetal weight due to hypertensio
PHS4 Kualitas Hidup Pedagang Kaki Lima: Perspektif Fisik
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kualitas hidup pedagang kaki lima pada indikator fisik. Metode: Metode pada penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Pengambilan data menggunakan kuesioner The Bref Version of World Health Organization's Quality of Life Questionnaire dengan indikator fisik. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 98 responden pedagang kaki lima di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia tahun 2018. Hasil: Tingkat kualitas hidup berdasarkan kepuasan terhadap kesehatan diri paling banyak pada kategori memuaskan dengan persentase sebesar 55,1% (CI 95% = 44,9 - 64,3%), sakit menghambat pekerjaan paling banyak pada kategori sedikit dengan persentase sebesar 55,1% (CI 95% = 45,9 - 64,3%), kebutuhan obat dan terapi medis paling banyak pada indikator sedikit dengan persentase sebesar 34,7% (CI 95% = 25,5 - 43,9%), tingkat konsentrasi responden paling banyak pada kategori baik dengan persentase sebesar 40,8% (CI 95% = 30,6 - 50,0%), semangat melakukan aktivitas paling banyak pada kategori sangat memuaskan dengan persentase sebesar 33,7% (CI 95% = 24,5 - 43,9%), kecukupan tidur paling banyak pada kategori cukup dengan persentase sebesar 48% (CI 95% = 38,8 - 57,1%) dan kepuasan seksual paling banyak pada kategori buruk dengan persentase sebesar 34,7% (CI 95% = 25,5 - 44,9%). Simpulan: Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan terhadap kesehatan diri paling banyak pada kategori baik, sakit menghambat pekerjaan paling banyak pada kategori sedikit, kebutuhan obat dan terapi medis paling banyak pada indikator sedikit, tingkat konsentrasi responden paling banyak pada kategori baik, semangat melakukan aktivitas paling banyak pada kategori sangat memuaskan, kecukupan tidur pada kategori cukup dan kepuasan seksual paling banyak pada kategori buruk.Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kualitas hidup pedagang kaki lima pada indikator fisik. Metode: Metode pada penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Pengambilan data menggunakan kuesioner The Bref Version of World Health Organization's Quality of Life Questionnaire dengan indikator fisik. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 98 responden pedagang kaki lima di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia tahun 2018. Hasil: Tingkat kualitas hidup berdasarkan kepuasan terhadap kesehatan diri paling banyak pada kategori memuaskan dengan persentase sebesar 55,1% (CI 95% = 44,9 - 64,3%), sakit menghambat pekerjaan paling banyak pada kategori sedikit dengan persentase sebesar 55,1% (CI 95% = 45,9 - 64,3%), kebutuhan obat dan terapi medis paling banyak pada indikator sedikit dengan persentase sebesar 34,7% (CI 95% = 25,5 - 43,9%), tingkat konsentrasi responden paling banyak pada kategori baik dengan persentase sebesar 40,8% (CI 95% = 30,6 - 50,0%), semangat melakukan aktivitas paling banyak pada kategori sangat memuaskan dengan persentase sebesar 33,7% (CI 95% = 24,5 - 43,9%), kecukupan tidur paling banyak pada kategori cukup dengan persentase sebesar 48% (CI 95% = 38,8 - 57,1%) dan kepuasan seksual paling banyak pada kategori buruk dengan persentase sebesar 34,7% (CI 95% = 25,5 - 44,9%). Kesimpulan: Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan terhadap kesehatan diri paling banyak pada kategori baik, sakit menghambat pekerjaan paling banyak pada kategori sedikit, kebutuhan obat dan terapi medis paling banyak pada indikator sedikit, tingkat konsentrasi responden paling banyak pada kategori baik, semangat melakukan aktivitas paling banyak pada kategori sangat memuaskan, kecukupan tidur pada kategori cukup dan kepuasan seksual paling banyak pada kategori buruk
Sanitation facility analysis in coastal area
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis fasilitas sanitasi yang ada di kawasan pesisir Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang tahun 2018. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober tahun 2018. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif desain cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah masyarakat Kawasan Pesisir Pantai Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang dengan jumlah populasi sebanyak 105 kepala keluarga. Sampel penelitian ini merupakan masyarakat Kawasan Pesisir Pantai Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan pengumpulan data secara primer, dimana data didapatkan sendiri oleh peneliti dengan mendata langsung kemasyarakat. Metode pengukuran sampel dilakukan terlebih dahulu peneliti meminta izin kepada responden untuk ketersediannya sebagai responden dengan cara mewawancarai tentang ketersediaannya menjadi responden. Pengelolaahan data dilakukan melalui program komputerisasi yaitu SPSS. Berdasarkan hasil penelitian terdapat responden yang menggunakan sungai sebagai air bersih 21 orang (20%; CI 95% 11%-28,3%), tidak memiliki jamban sebanyak 45 orang (42,9%; CI 95% 34%-52,3%), tidak memiliki SPAL sebanyak 49 orang (46,7%; CI 95% 37,1%-56,9%), membuang sampah di sungai sebanyak 53 orang (50,5%; CI 95% 41,4%-60,9%). Kesimpulan dari penelitian adalah banyak sanitasi masyarakat pesisir yang belum memenuhi syarat sanitasi yang sehat seperti masih adanya masyarakat yang menggunakan air sungai sebagai sumber air bersih, tidak memiliki jamban, tidak memiliki saluran pembuangan air limbah serta membuang sampah di sungai. Saran yang dapat diberikan adalah diharapkan agar masyarakat menyadari bahwa sanitasi merupakan gambaran diri sendiri yang dapat meningkatkan kualitas pada kesehatan maupun produktivitas.Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis fasilitas sanitasi yang ada di kawasan pesisir Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang tahun 2018. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober tahun 2018. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif desain cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah masyarakat Kawasan Pesisir Pantai Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang dengan jumlah populasi sebanyak 105 kepala keluarga. Sampel penelitian ini merupakan masyarakat Kawasan Pesisir Pantai Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan pengumpulan data secara primer, dimana data didapatkan sendiri oleh peneliti dengan mendata langsung kemasyarakat. Metode pengukuran sampel dilakukan terlebih dahulu peneliti meminta izin kepada responden untuk ketersediannya sebagai responden dengan cara mewawancarai tentang ketersediaannya menjadi responden. Pengelolaahan data dilakukan melalui program komputerisasi yaitu SPSS. Berdasarkan hasil penelitian terdapat responden yang menggunakan sungai sebagai air bersih 21 orang (20%; CI 95% 11%-28,3%), tidak memiliki jamban sebanyak 45 orang (42,9%; CI 95% 34%-52,3%), tidak memiliki SPAL sebanyak 49 orang (46,7%; CI 95% 37,1%-56,9%), membuang sampah di sungai sebanyak 53 orang (50,5%; CI 95% 41,4%-60,9%). Kesimpulan dari penelitian adalah banyak sanitasi masyarakat pesisir yang belum memenuhi syarat sanitasi yang sehat seperti masih adanya masyarakat yang menggunakan air sungai sebagai sumber air bersih, tidak memiliki jamban, tidak memiliki saluran pembuangan air limbah serta membuang sampah di sungai. Saran yang dapat diberikan adalah diharapkan agar masyarakat menyadari bahwa sanitasi merupakan gambaran diri sendiri yang dapat meningkatkan kualitas pada kesehatan maupun produktivitas
Kesempatan Belajar Dan Melakukan Penelitian Ikut Menentukan Pilihan Lokasi Kerja Lulusan Dokter di Daerah Tertinggal
Objective: Memahami alasan lulusan dokter memilih daerah tertinggal sebagai lokasi kerja. Methods: Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Focused group discussion (FGD) dilakukan di Kota Kupang dan 2 pulau tertinggal lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan karakteristik yang berbeda. Penelitian diikuti oleh 24 orang lulusan dokter yang direkrut secara purposive dan bekerja di enam kabupaten yang berbeda. Transkripsi hasil wawancara dianalisis secara tematik oleh dua orang peneliti dengan dibantu program OpenCode 4.03. Results: Upaya intervensi yang telah dilakukan oleh pemerintah selama ini melalui berbagai program seperti beasiswa dengan ikatan kerja, insentif dan perhitungan beban kerja, peningkatan keamanan, fasilitas, dan aksesibilitas daerah tertinggal, serta promosi daerah tertinggal sebagai lokasi wisata merupakan hal yang terbukti sangat mendukung pemilihan daerah tertinggal sebagai lokasi kerja lulusan dokter. Beberapa hal yang telah dipertimbangkan dalam perekrutan dan penempatan tenaga medis di daerah tertinggal (internship, PTT, maupun Nusantara Sehat) pun terbukti berperan besar, misalnya: rural origin (asal daerah dan adanya keluarga di daerah), adanya rekomendasi otoritas setempat yang menunjukkan adanya teman atau kolega di daerah yang dituju. Hal baru yang ditambahkan oleh penelitian ini adalah lokasi yang menyediakan kesempatan dan pendamping untuk belajar lebih lanjut, termasuk melakukan penelitian, dengan disertai adanya otonomi dan kemandirian dalam bertindak mendapatkan prioritas. Manajemen institusi yang mendukung dan mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, serta budaya dan politik setempat pun ikut memberikan warna dalam pengambilan keputusan pilihan lokasi kerja. Conclusion: Banyak faktor yang berperan dalam pilihan lokasi kerja telah diintervensi dan berhasil menarik minat lulusan dokter untuk masuk dan bekerja di daerah tertinggal. Keputusan lulusan dalam memberikan prioritas pilihan terhadap daerah yang mampu menyediakan pendamping dokter spesialis dan memberikan kesempatan dan otonomi untuk belajar serta melakukan penelitian perlu mendapatkan perhatian dan memberikan arah bagi pengembangan program intervensi pemerataan tenaga medis ke daerah tertinggal selanjutnya.Objective: Memahami alasan lulusan dokter memilih daerah tertinggal sebagai lokasi kerja.Methods: Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Focused group discussion (FGD) dilakukan di Kota Kupang dan 2 pulau tertinggal lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan karakteristik yang berbeda. Penelitian diikuti oleh 24 orang lulusan dokter yang direkrut secara purposive dan bekerja di enam kabupaten yang berbeda. Transkripsi hasil wawancara dianalisis secara tematik oleh dua orang peneliti dengan dibantu program OpenCode 4.03.Results: Upaya intervensi yang telah dilakukan oleh pemerintah selama ini melalui berbagai program seperti beasiswa dengan ikatan kerja, insentif dan perhitungan beban kerja, peningkatan keamanan, fasilitas, dan aksesibilitas daerah tertinggal, serta promosi daerah tertinggal sebagai lokasi wisata merupakan hal yang terbukti sangat mendukung pemilihan daerah tertinggal sebagai lokasi kerja lulusan dokter. Beberapa hal yang telah dipertimbangkan dalam perekrutan dan penempatan tenaga medis di daerah tertinggal (internship, PTT, maupun Nusantara Sehat) pun terbukti berperan besar, misalnya: rural origin (asal daerah dan adanya keluarga di daerah), adanya rekomendasi otoritas setempat yang menunjukkan adanya teman atau kolega di daerah yang dituju. Hal baru yang ditambahkan oleh penelitian ini adalah lokasi yang menyediakan kesempatan dan pendamping untuk belajar lebih lanjut, termasuk melakukan penelitian, dengan disertai adanya otonomi dan kemandirian dalam bertindak mendapatkan prioritas. Manajemen institusi yang mendukung dan mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, serta budaya dan politik setempat pun ikut memberikan warna dalam pengambilan keputusan pilihan lokasi kerja.Conclusion: Banyak faktor yang berperan dalam pilihan lokasi kerja telah diintervensi dan berhasil menarik minat lulusan dokter untuk masuk dan bekerja di daerah tertinggal. Keputusan lulusan dalam memberikan prioritas pilihan terhadap daerah yang mampu menyediakan pendamping dokter spesialis dan memberikan kesempatan dan otonomi untuk belajar serta melakukan penelitian perlu mendapatkan perhatian dan memberikan arah bagi pengembangan program intervensi pemerataan tenaga medis ke daerah tertinggal selanjutnya
Status gizi pada balita komunitas adat terpencil di suatu wilayah kecamatan di Jambi
Determinants of nutrition in toddlers of Remote Indigenous Communities (KAT) in Batang Hari RegencyPriority program of RPJMN 2014-2019 are empowerment programs, basic needs, accessibility and social service for citizens of indigenous people. Basic needs are food, clothing, housing, health, education, employment, and/or social service. The health problems of KAT are helminthiasis disease, skin disease, ISPA, diarrhea and low nutritional status in the group of children. This research is quantitative research with observational design through Cross Sectional approach to measure all variables at the same time. The population of all infant ages 24 – 59 months at the location of KAT village Sungai Terap subdistrict Batin XXIV District Batang hari. amples are total populations with inclusion criteria and exclusion criteria. Independent variables are family head income (KK), food availability, consumption patterns and public nutritional services. While the dependent variable is the nutritional status (TB/U). Primary data is obtained through interviews and observations using questionnaires and check-lists, secondary data is derived from the study of documents and interviews. Analysis of Univariate, bivariate and multivariate data using Chi Square test. The results found a significant between the KK income with stunting ρ = 0,000 OR = 22.7 and consumption patterns with stunting ρ = 0,002. The consumption of family rice is still very small, averaging 500 grams/hr. Highest consumption rate occurs when getting big game results, once in three weeks. There is no link between food availability and nutritional services with stunting. Multivariate test found the most significant determinant of stunting in toddlers aged 24 – 59 months at KAT Sungai Terap is KK income with OR = 14,0 value, income obtained only from the rubber plantation area of 0.8 Ha/KK and animal sales Category.Beberapa prioritas RPJMN 2014-2019 adalah program pemberdayaan, pemenuhan kebutuhan dasar, aksesibilitas dan pelayanan sosial dasar bagi warga Masyarakat Adat. Kebutuhan dasar yang dimaksud adalah kebutuhan pangan, sandang, perumahan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan/atau pelayanan sosial. Permasalahan kesehatan pada KAT adalah Penyakit kecacingan,penyakit kulit, ISPA, Diare dan rendahnya status gizi pada kelompok risiko yaitu pada anak balita.Penelitian ini penelitian kuantitatif dengan desain Observational melalui pendekatan Cross Sectional untuk mengukur semua variabel dalam waktu yang bersamaan. Populasi seluruh balita usia 24 – 59 bulan di lokasi pemukiman KAT Desa Sungai Terap Kecamatan Batin XXIV Kab. Batang Hari. Sampel adalah total populasi dengan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi. Variabel independen adalah Penghasilan Kepala Keluarga (KK), ketersediaan pangan, pola konsumsi dan pelayanan gizi masyarakat. Sedangkan variabel dependen adalah status gizi (TB/U).Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner dan lembar check list, data sekunder diperoleh dari telaah dokumen dan wawancara. Analisis data univariate, bivariate dan multivariate menggunakan uji chi square.Hasil penelitian menemukan hubungan yang signifikan antara penghasilan KK dengan stunting ρ=0,000 OR=22,7 dan pola konsumsi dengan stunting ρ=0,002. Konsumsi beras keluarga masih sangat kecil, rata-rata 500 gram/hr. Tingkat konsumsi tertinggi terjadi saat mendapatkan hasil buruan besar, sekali dalam tiga minggu. Tidak ada hubungan antara ketersediaan pangan dan pelayanan gizi dengan stunting. Uji multivariate menemukan determinan yang paling signifikan terhadap stunting pada balita usia 24 – 59 bulan di KAT Sungai Terap adalah penghasilan KK dengan nilai OR=14,0, penghasilan diperoleh hanya dari hasil kebun karet seluas 0,8 Ha/KK dan penjualan hewan buruan
Well hydrated for better life: kajian program Grab a cup! Fill it up! pada remaja di sekolah
Objective: Memberikan alternatif program minim biaya berbasis sekolah untuk meningkatkan konsumsi plain water agar status hidrasi siswa menjadi lebih baik. Status hidrasi yang baik merupakan salah satu upaya penanggulangan penyakit tidak menular di kalangan remaja.Content: Program Grab a cup! Fill it up! adalah upaya peningkatan konsumsi plain water di sekolah. Meningkatnya konsumsi plain water diharapkan dapat menurunkan konsumsi minuman manis dengan gula tambahan yang dapat memicu obesitas dan penyakit tidak menular lainnya. Manfaat lainnya adalah meningkatkan status hidrasi siswa yang berdampak positif pada performa kognitifnya. Status hidrasi yang baik merupakan satu kesatuan dengan optimalnya status kesehatan individu. Kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan tersebut adalah penyediaan sarana-prasarana seperti fasilitas water fountain dan gelas, edukasi melalui media poster yang ditempel di berbagai sudut sekolah dan dukungan kebijakan pemerintah. Program Grab a cup! Fill it up! yang dijalankan di Boston, Massachuset berhasil meningkatkan konsumsi plain water siswa selama di sekolah. Di Indonesia, masih ada sebagian remaja yang konsumsi air minumnya dibawah angka kecukupan harian yang dianjurkan. Dengan sistem pendidikan full day school yang diterapkan menjadikan sebagian besar waktu remaja dihabiskan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, upaya peningkatan status hidrasi untuk penanggulangan penyakit tidak menular berbasis sekolah sangat relevan untuk diadaptasi. Kegiatan yang dilakukan berupa penyediaan water dispenser di kantin sekolah, penerapan konsep kantin sehat di lingkungan sekolah, sosialisasi kepada orang tua saat pertemuan wali kelas, edukasi melalui media poster maupun ceramah yang disisipkan saat jam pelajaran olahraga, dan kebijakan untuk membawa botol minum. Program dapat dievaluasi dengan mengukur tingkat konsumsi plain water dan status hidrasi menggunakan metode periksa urin sendiri tiap 1-3 bulan
Perlukah pencegahan bullying masuk dalam kurikulum sekolah dasar?
Bullying terjadi dimana saja dan sebagian besar terdapat di lingkungan sekolah termasuk sekolah dasar. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan opini penerapan pencegahan bullying dalam kurikulum sekolah. Beragam jenis bullying yang banyak membuat anak-anak pada usia sekolah dasar tidak mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan termasuk kegiatan bullying khususnya jenis verbal. Sebagian besar anak-anak sekolah dasar menganggap tindakan bullying yang mereka lakukan terhadap teman sebagai bercandaan biasa. Lebih dari setengah korban bullying tidak melaporkan hal tersebut kepada orang dewasa karena merasa takut. Dampak dari bullying dapat menjadikan korban stress, tidak memiliki kepercayaan diri, tidak dapat bersosialisasi secara normal dan bahkan hingga memilih bunuh diri. Antisipasi pencegahan bullying dapat disisipkan secara langsung maupun tidak langsung melalui agenda pendidikan di sekolah. Pendidikan tentang bullying pada tahap sekolah dasar sangat penting diterapkan untuk mencegah bullying yang lebih jauh. Pendidikan ini dapat diterapkan dalam kurikulum belajar seperti pada mata pelajaran agama, muatan lokal, bimbingan konseling, atau menjadi sebuah mata pelajaran tersendiri. Praktik pencegahan bullying bisa diberikan melalui aktivitas bersama seperti olahraga atau kegiatan berlomba dengan mencampurkan murid antar kelas. Pendidikan ini membawa informasi kepada anak-anak tentang berbagai macam bullying, meningkatkan kepedulian guru terhadap bullying sekecil apapun, serta membangun hubungan sebaya yang positif. Oleh karena itu, kementerian pendidikan dan kebudayaan perlu mempertimbangkan pencegahan bullying pada penyusunan kurikulum pendidikan.Bullying terjadi dimana saja dan sebagian besar terdapat di lingkungan sekolah termasuk sekolah dasar. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan opini penerapan pencegahan bullying dalam kurikulum sekolah. Beragam jenis bullying yang banyak membuat anak-anak pada usia sekolah dasar tidak mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan termasuk kegiatan bullying khususnya jenis verbal. Sebagian besar anak-anak sekolah dasar menganggap tindakan bullying yang mereka lakukan terhadap teman sebagai bercandaan biasa. Lebih dari setengah korban bullying tidak melaporkan hal tersebut kepada orang dewasa karena merasa takut. Dampak dari bullying dapat menjadikan korban stress, tidak memiliki kepercayaan diri, tidak dapat bersosialisasi secara normal dan bahkan hingga memilih bunuh diri. Antisipasi pencegahan bullying dapat disisipkan secara langsung maupun tidak langsung melalui agenda pendidikan di sekolah. Pendidikan tentang bullying pada tahap sekolah dasar sangat penting diterapkan untuk mencegah bullying yang lebih jauh. Pendidikan ini dapat diterapkan dalam kurikulum belajar seperti pada mata pelajaran agama, muatan lokal, bimbingan konseling, atau menjadi sebuah mata pelajaran tersendiri. Praktik pencegahan bullying bisa diberikan melalui aktivitas bersama seperti olahraga atau kegiatan berlomba dengan mencampurkan murid antar kelas. Pendidikan ini membawa informasi kepada anak-anak tentang berbagai macam bullying, meningkatkan kepedulian guru terhadap bullying sekecil apapun, serta membangun hubungan sebaya yang positif. Oleh karena itu, kementerian pendidikan dan kebudayaan perlu mempertimbangkan pencegahan bullying pada penyusunan kurikulum pendidikan
Program Gentongisasi melalui Pengelolaan Sampah Mandiri oleh Aktivis Lingkungan di wilayah Urban Area
Tujuan: Mengidentifikasi efektifitas program gentongisasi di Kelurahan Purwokinanti, Kota Yogyakarta sebagai salah satu upaya kesehatan masyarakat. Gentongisasi menjadi program upaya kesehatan masyarakat yang dicanangkan oleh GKBRAA Paku Alam,dan bersinergi dengan Kecamatan, Kelurahan, Puskesmas, dan Forkompinca. Dalam program ini gentong, tanaman toga, dan ikan lele dalam konteks kesehatan atau kesejahteraan memang tidak berhubungan. Tapi, bagi Kelurahan Purwokinanti, ketiganya ternyata komplemen. Gentong hanya sebagai simbol masyarakat yang sehat dan lingkungan yang sehat. Kegiatan ini mulanya dilakukan bersamaan dengan program kelurahan siaga, akan tetapi akan lebih baik jika dilakukan secara tersendiri oleh komunitas masyarakat dalam lingkup kelurahan Purwokinanti. misalnya dengan melibatkan aktivis lingkungan sebagai aktor utama di lapangan, yang memang memiliki kepedulian lebih terhadap kesehatan lingkungan. kemudian program gentongisasi dapat lebih di spesifikan lebih ke arah pengelolaan sampah secara kelompok atau bank sampah. Lesson Learn: Pengelolaan sampah ini menyasar pada semua penduduk yang tinggal di kelurahan Purwokinanti. Setiap kepala keluarga tiap dua kali dalam seminggu akan menyetor sampah di tempat pengelolaan sampah sementara yang disediakan di tiap RT. sampah yang dikumpulkan memiliki kriteria yakni sampah plastik, sampah sisa makan, sampah kering dan dikelompokkan masing masing. Pengelolaan sampah ini dapat diawasi oleh penduduk setempat yang memang menjadi aktivis lingkungan atau ditunjuk secara langsung oleh Lurah. Hal tersebut sebagai role model di masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah khususnya di daerah urban. Simpulan : Aktivis lingkungan menjadi salah satu solusi penggerak pengelola sampah mandiri dan kegiatan berbasis kesehatan lingkungan lain di wilayah urban area kelurahan Purwokinanti kota Yogyakarta. Hal ini untuk mengatasi gap masalah sosial kultural pertisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah (bank sampah) di wilayah urban perkotaan khususnya Keluarahan Purwokinanti kota Yogyakarta.Objective: Mengidentifikasi efektifitas program gentongisasi di Kelurahan Purwokinanti, Kota Yogyakarta sebagai salah satu upaya kesehatan masyarakat. Gentongisasi menjadi program upaya kesehatan masyarakat yang dicanangkan oleh GKBRAA Paku Alam,dan bersinergi dengan Kecamatan, Kelurahan, Puskesmas, dan Forkompinca. Dalam program ini gentong, tanaman toga, dan ikan lele dalam konteks kesehatan atau kesejahteraan memang tidak berhubungan. Tapi, bagi Kelurahan Purwokinanti, ketiganya ternyata komplemen. Gentong hanya sebagai simbol masyarakat yang sehat dan lingkungan yang sehat. Kegiatan ini mulanya dilakukan bersamaan dengan program kelurahan siaga, akan tetapi akan lebih baik jika dilakukan secara tersendiri oleh komunitas masyarakat dalam lingkup kelurahan Purwokinanti. misalnya dengan melibatkan aktivis lingkungan sebagai aktor utama di lapangan, yang memang memiliki kepedulian lebih terhadap kesehatan lingkungan. kemudian program gentongisasi dapat lebih di spesifikan lebih ke arah pengelolaan sampah secara kelompok atau bank sampah.Lesson Learn : Pengelolaan sampah ini menyasar pada semua penduduk yang tinggal di kelurahan Purwokinanti. Setiap kepala keluarga tiap dua kali dalam seminggu akan menyetor sampah di tempat pengelolaan sampah sementara yang disediakan di tiap RT. sampah yang dikumpulkan memiliki kriteria yakni sampah plastik, sampah sisa makan, sampah kering dan dikelompokkan masing masing. Pengelolaan sampah ini dapat diawasi oleh penduduk setempat yang memang menjadi aktivis lingkungan atau ditunjuk secara langsung oleh Lurah. Hal tersebut sebagai role model di masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah khususnya di daerah urban.Kesimpulan : Aktivis lingkungan menjadi salah satu solusi penggerak pengelola sampah mandiri dan kegiatan berbasis kesehatan lingkungan lain di wilayah urban area kelurahan Purwokinanti kota Yogyakarta. Hal ini untuk mengatasi gap masalah sosial kultural pertisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah (bank sampah) di wilayah urban perkotaan khususnya Keluarahan Purwokinanti kota Yogyakarta