Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    PENGARUH KARAKTERISTIK ORGANISASI TERHADAP PEMANFAATAN POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DI WILAYAH PUSKESMAS HELVETIA MEDAN

    Get PDF
    Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) menjadi salah satu strategi penting dalam mengendalikan trend penyakit tidak menular yang terus meningkat. Puskesmas Helvetia merupakan salah satu puskesmas di Kota Medan dengan persentase kelurahan yang menjalankan Posbindu PTM terendah yaitu sebesar 28,57%. Pada tahun 2016, cakupan kegiatan Posbindu PTM di wilayah Puskesmas Helvetia sangat rendah yaitu dibawah 1%. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh karakteristik organisasi (perilaku petugas kesehatan, perilaku kader, fasilitas pelayanan, kegiatan Posbindu PTM) terhadap pemanfaatan POSBINDU PTM di wilayah Puskesmas Helvetia.Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Helvetia Tengah dan Helvetia Timur Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan. Jenis penelitian adalah penelitian survai dengan tipe explanatory research. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat berusia 15 tahun keatas. Sampel berjumlah 100 orang yang diambil dengan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku petugas kesehatan (p value= 0,000), perilaku kader (p value= 0,000), fasilitas pelayanan (p value= 0,000) berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM, sedangkan kegiatan Posbindu PTM (p value= 0,413) tidak berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM. Diperkirakan perilaku petugas kesehatan mempunyai kontribusi yang paling besar (B= 0,636) terhadap pemanfaatan POSBINDU PTM. Kemampuan variabel perilaku petugas kesehatan, perilaku kader dan fasilitas pelayanan untuk menjelaskan pemanfaatan POSBINDU PTM sebesar 91%. Secara umum pemanfaatan POSBINDU PTM akan semakin meningkat apabila perilaku petugas kesehatan, perilaku kader dan fasilitas pelayanan ditingkatkan.Disarankan dalam upaya peningkatan pemanfaatan pelayanan Posbindu PTM agar meningkatkan advokasi dan sosialisasi Posbindu PTM, meningkatkan kerjasama dengan lintas sektor terkait, mengganti kader yang tidak aktif, melatih kader Posbindu PTM, melengkapi sarana dan prasarana Posbindu PTM sesuai standard, membentuk Posbindu PTM disetiap kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Helvetia, melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan Posbindu PTM secara berkala serta pemerintah daerah diharapkan memberikan dukungan dana untuk menunjang keberlangsungan Posbindu PTM.Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) menjadi salah satu strategi penting dalam mengendalikan trend penyakit tidak menular yang terus meningkat. Puskesmas Helvetia merupakan salah satu puskesmas di Kota Medan dengan persentase kelurahan yang menjalankan Posbindu PTM terendah yaitu sebesar 28,57%. Pada tahun 2016, cakupan kegiatan Posbindu PTM di wilayah Puskesmas Helvetia sangat rendah yaitu dibawah 1%. Tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan pengaruh karakteristik organisasi (perilaku petugas kesehatan, perilaku kader, fasilitas pelayanan, kegiatan Posbindu PTM) terhadap pemanfaatan POSBINDU PTM di wilayah Puskesmas Helvetia.Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Helvetia Tengah dan Helvetia Timur Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan. Jenis penelitian adalah penelitian survai dengan tipe explanatory research. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat berusia 15 tahun keatas. Sampel berjumlah 100 orang yang diambil dengan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku petugas kesehatan (p value= 0,000), perilaku kader (p value= 0,000), fasilitas pelayanan (p value= 0,000) berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM, sedangkan kegiatan Posbindu PTM (p value= 0,413) tidak berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM. Diperkirakan perilaku petugas kesehatan mempunyai kontribusi yang paling besar (0,636) terhadap pemanfaatan POSBINDU PTM. Kemampuan variabel perilaku petugas kesehatan, perilaku kader dan fasilitas pelayanan untuk menjelaskan pemanfaatan POSBINDU PTM sebesar 91%. Secara umum pemanfaatan POSBINDU PTM akan semakin meningkat apabila perilaku petugas kesehatan, perilaku kader dan fasilitas pelayanan ditingkatkan. Disarankan dalam peningkatan upaya pencegahan dan penanggulangan PTM agar membentuk Posbindu PTM di setiap kelurahan di wilayah puskesmas Helvetia, petugas kesehatan diharapkan lebih ramah, sigap, perhatian dalam melayani masyarakat di Posbindu PTM, memberikan pelatihan terhadap kader Posbindu PTM, melengkapi sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan Posbindu PTM dan menerapkan sistem lima meja agar kegiatan Posbindu PTM dapat berjalan lebih teratur dan efisien

    Adolescents' reproductive health in north coastal line West Java: perceptions of adults

    Get PDF
    PurposeThe aims of this study were to explore adults’ perceptions of issues related to adolescents reproductive health in North Coastal line of West Java, difficulty experiences of adults to help adolescents in dealing with their reproductive health problems and also perceptions of adults about solutions for adolescents reproductive health problems.MethodThis qualitative study was be done in Pusakajaya, Subang District, West Java Province. Number of informants were 45 adults people. They were teachers, parents and community leaders. Focus Group Discussion and Indepth Interview provided data for the content analysis. ResultsThis study showed that the mayor problems of adolescents reproductive health in this community were unintended pregnancy for the girls and smoking and substance misuse for the boys. The adults had some difficulties in interaction with adolescents. The teens preferred to make peers as their role models was an impediment. Troubles in adult-adolescent communication also accured. Teachers had diversity providing information on reproductive health due to the limitations of reference in the curriculum, materials and teaching aids. Poverty, residential environment of the adolescents, less attention from the local government were some barriers and challenges impacting adolescent reproductive health. Strengthening the family, increasing the schools capacity to give reproductive health information, continuous sensitization that supported by government regulation were identified by the informants as solutions in facing adolescent reproductive health problems. ConclusionInvolving adults to find the issues of adolescent reproductive health provide an overview of adolescent reproductive health, difficulty in dealing with adolescents and solutions that can be done to solve the problem of adolescent reproductive healt

    Hubungan antara tingkat konsumsi energi, tingkat konsumsi protein, dan status gizi dengan tingkat morbiditas lansia buruh gendong di pasar induk tradisional Yogyakarta

    Get PDF
    Persentase penduduk lansia tertinggi terdapat di Provinsi DI Yogyakarta (13,04%). Perubahan struktur dan fungsi tubuh mengakibatkan penyerapan zat gizi tergangggu dan berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh seingga mudah terserang infeksi. Morbiditas penduduk lansia akibat infeksi cenderung meningkat. Berdasarkan prasurvei pada lansia buruh gendong, 96,8%  memiliki morbiditas tinggi. Sehingga tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara konsumsi energi, konsumsi protein, dan status gizi dengan morbiditas lansia buruh gendong Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan Januari hingga april 2014, menggunakan jenis  penelitian observasional analitik dengan desain Cross-sectional. Besar sampel dalam penelitian ini sejumlah  60 responden lansia yang berprofesi sebagai buruh gendong dan termasuk dalam paguyuban Yasanti. Pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel dalam penelitian ini meliputi tingkat konsumsi energi, protein, dan status gizi. Kemudian menganalisis distribusi dari masing-masing variabel, dan hubungan antar variabel menggunakan uji statistik Chisquare dan melihat besarnya risiko dengan Ratio Prevalens (RP). Dari 60 responden, 45 responden (75%) tingkat morbiditas tinggi  dan 15 responden (25%) tingkat morbiditasnya rendah. Secara statistik, seluruh variabel memiliki p> α,tingkat konsumsi energi (p = 0,668 RP 0,854 (95% CI : 0,609-1,209) tingkat konsumsi protein (p = 1,000 RP 1,000 95% CI: 0,557-1,796), status gizi (p = 0,881 RP=1,069 95% CI:0,800-1,430). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara tingkat konsumsi energi, tingkat konsumsi protein, dan status gizi dengan tingkat morbiditas lansia buruh gendong

    PPM-TKP Karang Taruna Desa Sambibulu Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur

    Get PDF
    Tujuan: Desa Sambibulu terletak di kecamatan Taman, kabupaten Sidoarjo, terdiri dari 7 RW dengan 38 RT dan terbagi menjadi 3 dusun yaitu Dusun Sambisari, Dusun Sambiroto dan Dusun Sambibulu. Desa Sambibulu mempunyai karang taruna yang memiliki visi dan misi dan pengurus serta anggota yang aktif mengadakan kegiatan setiap minggu dan rapat rutin wajib setiap satu bulan sekali. Karang taruna tersebut dipilih karena sebagian besar pengurus dan anggota merupakan usia remaja yang sangat terbatas pengetahuan dan pemeliharaan kesehatannya, hanya sedikit yang mendapatkan pengetahuan kesehatan reproduksi dari sekolah dalam mata pelajaran Biologi. Permasalahan yang terkait dengan karang taruna yang sedang dihadapi tidak tersedianya wadah untuk para remaja mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja dan pemeliharaan kesehatan reproduksinya, terlihat dari tingginya ketidaktahuan dan ketidakmampuan remaja dalam pemeliharaan kesehatan reproduksinya, antara 727 remaja dari 799 remaja (81%). Permasalahan lain terkait dengan kesehatan reproduksinya yang dihadapi kedua mitra adalah kegiatan remaja yang selama ini dilakukan jarang memperhatikan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi sehingga banyak remaja yang percaya pada mitos-mitos reproduksi dan belum pernah mendapatkan informasi secara formal tentang kesehatan reproduksi, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang mereka peroleh dari teman sebaya dan dari sumber media informasi internet. Konten : Solusi untuk mengatasi permasalahan supaya remaja mendapatkan pemahaman yang benar tentang kesehatan reproduksinya dan wadah untuk remaja mendapatkan informasi serta pemeliharaan kesehatan reproduksinya maka dibentuklah Pos Pelayanan Terpadu ( Posyandu) Remaja. Target yang dicapai yaitu terbentuknya posyandu remaja di karang taruna desa Sambibulu dengan cara membentuk 10 kader kesehatan remaja di posyandu remaja.  Pelaksanaan PKM melibatkan mahasiswa dari jurusan D3 Kebidanan sebanyak 4 orang. Setelah itu, akan dilakukan pendampingan ke mitra agar hasil PKM dapat terimplementasikan dengan baik di posyandu.Kata kunci : Karang Taruna; Kader Kesehatan Reproduksi Remaja; Posyandu Remaj

    Analisis permasalahan penggunaan dana alokasi khusus (DAK) non fisik bidang kesehatan program jampersal di kota Depok tahun 2016

    Get PDF
    Angka kematian dan kesakitan ibu hamil, bersalin dan nifas merupakan masalah yang kompleks. Akses masyarakat terhadap persalinan merupakan salah satu faktor penting untuk menurunkan AKI dan AKB. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah melalui program Jaminan Persalinan (Jampersal). Jampersal merupakan perluasan program jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) yang bertujuan meningkatkan akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB (Kemenkes RI, 2012). Berdasarkan data Laporan e-Renggar yang dikumpulkan oleh Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2017), diketahui bahwa beberapa kabupaten/ kota tidak dapat melakukan penyerapan anggaran DAK nonfisik program jampersal, salah satunya adalah kota Depok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam potret penggunaan DAK non fisik bidang kesehatan program Jampersal di Kota Depok tahun 2016. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam. Informan yang diwawancarai adalah pembuat kebijakan di Pusat, penanggung jawab program di Dinas Kesehatan serta pelaksana program di Puskesmas. Instrumen yang digunakan adalah panduan wawancara mendalam dan dilengkapi dengan alat perekam suara. Hasil dan kesimpulan yang didapat  adalah informasi kendala/masalah dalam pemanfaatan dana DAK Non Fisik program Jampersal di Kota Depok pada tahun 2016 yaitu proses penerbitan juknis cukup terlambat, kurang fleksibel dan kurang disosialisasikan, perencanaan dan penganggaran dilakukan secara Top Down tanpa melibatkan daerah, SDM pelaksana program Jampersal di kota Depok sudah cukup berkualitas namun jumlahnya masih kurang memadai, dan implementasi Juknis belum mampu mengakomodir kebutuhan di daerah akibatnya penyerapan dana DAK Non Fisik program Jampersal tidak dapat terserap dengan maksimal

    Posbindu Disabilitas

    Get PDF
    Posbindu disabilitas merupakan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat yang dilaksanakan dari dan oleh masyarakat disabilitas dan pendampingnya, baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Peserta Posbindu Disabilitas dimulai pada usia anak-anak sampai usia lansia, dilaksanakan setiap bulan pada saat pertemuan bulanan organisasi disabilitas. Posbindu Disabilitas di DIY berbeda dengan pelaksanaan Posbindu di daerah lain dikarenakan adanya pembiayaan tenaga medis (dokter) yang datang tiga bulan sekali dan rehabilitasi oleh Bapel Jamkesos DIY . Pobindu disabilitas mulai dilaksanakan di DIY pada bulan Agustus 2017. Sampai dengan sekarang ada 12 kelompok Posbindu disabilitas, dengan jumlah anggota sebanyak 559 disabilitas dan 723 pendamping disabilitas. Permasalahan dalam program Posbindu Disabilitas adalah 1) Keterbatasan fisik/mental sasaran/penyandang disabilitas menghambat mobilitas; 2) Organisasi penyandang disabilitas sangat banyak, bermacam-macam dan terfragmentasi; 3) Upaya promotif dan preventif belum menjadi sesuatu hal yang “ main setting “ apalagi mengenai disabilitas yang merupakan upaya kesehatan masyarakat (UKM) pengembangan di Puskesmas; 4) Kepercayaan stakeholder lintas sektor terhadap program Posbindu disabilitas masih rendah; 5) Isu pemberdayaan masyarakat kalah dengan isu bantuan jaminan kesehatan maupun sosial. Strategi yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah 1) Menyatukan kebutuhan pelayanan disabilitas antar organisasi disabilitas yang berbeda-beda, sehingga Isu pemberdayaan masyarakat tidak kalah dengan isu bantuan jaminan kesehatan maupun sosial; 2) Melakukan koordinasi antara organisasi disabilitas, Puskesmas Dinas Kesehatan, Balai Jamkesos dan lintas sektor program terkait disabilitas bahwa upaya promotif dan preventif  merupakan sesuatu hal yang “ main setting “ walaupun disabilitas merupakan upaya kesehatan masyarakat (UKM) pengembangan di Puskesmas; 3) Perlunya dukungan, pembinaan dan pengawasan dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan, pada pelaksanaan Posbindu Disabilitas, pemberian pelayanan di Puskesmas sebagai rujukan kegiatan Posbindu Disabilitas dan home care sebagai tindak lanjut dari kegiatan Posbindu disabilitas; 5) Perlu dibuat road map dan pedoman evaluasi dari kegiatan Posbindu disabilitas yang melibatkan semua stakeholder terkait

    Kajian program happy being me dan healthy me untuk pencegahan ketidakpuasan tubuh remaja yang dilakukan pada anak sekolah dasar

    Get PDF
    Masalah citra tubuh tubuh sangat rentan terjadi pada usia remaja baik di Negara Barat, maupun Asia termasuk Indonesia. Semakin kuatnya arus globalisasi mengakibatkan ketidakpuasan terhadap tubuh tidak hanya dijumpai pada remaja perempuan, namun juga pada remaja laki-laki. Penelitian di salah satu SMA ternama Kota Semarang menunjukkan 46% siswa perempuan (20% diantaranya mengalami gangguan makan) dan bahkan lebih dari 50% siswa laki-laki (7% ketidakpuasan berat) mengalami ketidakpuasan terhadap tubuhnya. Hal tersebut dapat menyebabkan perilaku pengontrolan berat badan yang tidak tepat maupun kebiasaan makan yang buruk sehingga membahayakan perkembangan fisik dan kognitif pada masa remaja, bahkan berdampak pada kesehatan mental. Tujuan paper ini adalah menunjukkan proses diseminasi informasi terkait cara pencegahan ketidakpuasan tubuh remaja yang dapat dilakukan lebih dini melalui program di Sekolah Dasar. Metode mencakup kajian dua jurnal  dengan tema pencegahan masalah citra tubuh sejak dini yang menggunakan desain studi kuasi experimen dan RCT. Adopsi program pencegahan ketidakpuasan tubuh bernama Happy Being Me berupa edukasi, diskusi, dan role play yang dilakukan selama 3 minggu pada anak SD usia 10-11 tahun hanya berdampak signifikan pada anak perempuan. Sedangkan program Healthy Medilakukan selama 1 bulan pada anak SD usia 8-11 tahun dengan metode serupa namun fokus pendekatannya berdasarkan jenis kelamin menunjukkan hasil yang lebih baik, yaitu anak perempuan maupun laki-laki mengalami peningkatan signifikan pada beberapa aspek citra tubuh. Selain itu, beberapa cara menarik yang digunakan dalam program Healthy Me adalah mempromosikan makanan sehat dan kebiasaan olahraga. Paper ini menunjukkan bahwa program pencegahan ketidakpuasan tubuh akan efektif untuk diadopsi dengan menerapkan metode yang berbeda untuk siswa SD laki-laki dan perempuan. Program ini harus dilakukan berkelanjutan dalam jangka waktu tahunan dengan evaluasi berkala setiap 3 bulan sekali oleh Guru BK atau Wali kelas. Dibutuhkan pula peran dari orang tua siswa untuk mendukung penerapan program

    Analisis mutu pelayanan gizi ditinjau dari proses asuhan gizi terstandart (PAGT) di rawat inap RSUD Gambiran kota Kediri

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini menganalisis mutu layanan gizi di Rawat Inap RSUD Gambiran Kota Kediri menggunakan proses asuhan gizi terstandart. Metode: Survei dengan sampel 94. Hasil: Standar penilaian assesmen gizi 99% diberikan tepat waktu, asuhan gizi 97% tercatat dalam lembar CPPT, asuhan gizi 95% direvisi sesuai respon pasien, monitoring asuhan gizi 89% telah dilakukan, asuhan gizi 100% diberikan oleh dietisien, intervensi pasien 100% sesuai kondisi pasien dan rata-rata capaian mutu pelayanan gizi ditinjau dari PAGT di rawat inap RSUD Gambiran Kota Kediri menunjukan angka 97%. Simpulan: Mutu pelayanan gizi ditinjau dari PAGT di rawat inap RSUD Gambiran Kota Kediri dikatakan masih belum sesuai standar Kemenkes RI Tahun 2013. Perlu penambahan petugas terutama tenaga gizi untuk pemenuhan kebutuhan jumlah tenaga gizi yang disesuaikan oleh Kemenkes RI dan Kepala Instalasi Gizi melakukan audit untuk memeriksa kelengkapan dokumen asuhan gizi pasien rawat inap

    Gambaran faktor risiko kejadian Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada karyawan bagian redaksi di kantor berita X Jakarta Tahun 2018

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor risiko kejadian CTS pada karyawan bagian redaksi di Kantor Berita Nasional Antara Jakarta Tahun 2018. Faktor risiko CTS terdiri dari faktor personal (jenis kelamin, usia, dan jaringan lemak di tangan) dan faktor pekerjaan (masa kerja, lama kerja, dan posisi kerja). Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode penelitian kuantitatif dan menggunakan desain studi cross sectional. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner, lembar observasi dari Assessment of Repetitive Tasks (ART) tool, body composition monitor, microtoise, stopwatch, dan phalen’s test. Waktu pengambilan data dilakukan pada bulan Januari tahun 2018. Sebanyak 42,4% responden yang diteliti terdiagnosis positif CTS. Responden yang terdiagnosis positif CTS terdiri dari 52,9% responden perempuan, 45,5% responden yang berusia > 37,5 tahun, 51,9% responden yang memiliki persentase jaringan lemak terbesar di bagian tangan, 47,1% responden yang memiliki masa kerja > 12 tahun, 41,9% responden yang memiliki lama kerja > 8 jam/hari, dan 43,6% responden dikategorikan dalam level sedang untuk eksposur posisi kerjanya. Penilaian level eksposur posisi kerja tersebut dilihat dari 12 faktor dimana dalam penelitian ini ada tiga faktor yang sangat berpengaruh dalam kejadian CTS yaitu: 1) frekuensi gerakan lengan kanan, dimana semuanya memiliki kategori reasonable dan 42,4%  terdiagnosis positif CTS; 2) gerakan berulang pada tangan kiri dan kanan, dimana sebagian besar responden yang positif CTS  memiliki kategori good karena sebagian besar memiliki masa kerja > 12 jam dan lama kerja > 8 jam; dan 3)  postur pergelangan tangan, dimana semuanya memiliki kategori reasonable dan poor dan 63,6% terdiagnosis positif CTS. Faktor risiko yang memiliki trend tertinggi dalam kejadian CTS adalah faktor persentase jaringan lemak terbesar dibagian tangan, level eksposur posisi kerja, dan jenis kelamin perempuan

    Analisis peran pelibatan praktisi swasta (dokter praktik mandiri dan klinik pratama swasta) dalam public private mix TB di kecamatan Umbulharjo dan kecamatan Gondokusuman kota Yogyakarta

    No full text
    Tujuan: Sebuah penelitian tentang Patient Pathway Analysis (PPA) Tuberkulosis (TB) level nasional dan sub nasional mengungkapkan bahwa hanya 32% kasus ternotifikasi, sehingga diperkirakan terdapat 68% kasus yang hilang. Mayoritas dari kasus yang hilang ini diperkirakan ada pada sektor swasta dan tidak terlaporkan. Upaya penanggulangan TB telah mengembangkan prinsip pendekatan terpadu pemerintah dan swasta atau Public Private Mix (PPM) yang melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, masyarakat (sukarela),  perusahaan dan swasta. Pelibatan praktisi swasta memiliki dampak penting terhadap perbaikan program penemuan dan pengobatan TB dan pencegahan meluasnya kasus TB resisten obat. Penanggulangan TB di Kota Yogyakarta telah melibatkan Rumah Sakit swasta dalam Hospital DOTS Linkage, namun Dokter Praktik Mandiri dan Klinik Pratama swasta belum terlibat. Kecamatan Umbulharjo dan Kecamatan Gondokusuman termasuk wilayah dengani beban TB tinggi dan terdapat banyak praktisi swasta di Kota Yogyakarta. Belum terdapat penelitian yang menilai pelibatan praktisi swasta di  Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pelibatan praktisi swasta (Dokter Praktik Mandiri dan Klinik Pratama Swasta) dalam penanggulangan TB di Kecamatan Umbulharjo dan Kecamatan Gondokusuman  Kota Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif. Subjek penelitian adalah praktisi swasta (Dokter Praktik Mandiri dan Klinik Pratama Swasta) di Kecamatan Umbulharjo dan Gondokusuman, pemegang program TB Dinas Kesehatan Provinsi DIY dan Kota Yogyakarta, Kepala Puskesmas dan pemegang program TB Puskesmas, organisasi pofesi (IDI). Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah wawancara mendalam. Hasil: Praktisi swasta yang terdiri dari 9 Dokter Praktik Mandiri (4 dokter umum, 2 dokter Spesialis Paru, 2 dokter Spesialis Anak, 1 dokter Spesialis Penyakit Dalam) dan 6 dokter umum Klinik Pratama swasta mengungkapkan bahwa mereka merasa kurang dilibatkan dalam penanggulangan TB namun menyatakan siap berkontribusi sesuai porsinya dan mengusulkan penggunaan teknologi informasi yang praktis dalam keterlibatan notifikasi kasus. Dinas Kesehatan telah menerbitkan Rencana Aksi Daerah TB namun sistem teknis pelibatan praktisi swasta belum diprioritaskan. Kepala Puskesmas kurang menjalankan fungsi kepemimpinannya sebagai penanggungjawab kewilayahan termasuk dalam hal pelibatan praktisi swasta dalam sistem PPM TB di wilayahnya. Organisasi profesi (IDI) belum sepenuhnya dilibatkan dalam penanggulangan TB. Simpulan: Peran Dinas Kesehatan sebagai perancang dan penggerak sistem PPM cukup mendasar, namun peran vital kepemimpinan inovatif Kepala Puskesmas sebagai penanggungjawab kewilayahan sangat dibutuhkan untuk mampu menggerakkan sistem PPM termasuk upaya pelibatan praktisi swasta

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇