Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Gambaran Sikap Atlet Mengenai Gizi Seimbang dan Pemenuhan Kebutuhan Cairan
Tujuan: Edukasi mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan cairan atlet diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan atlet mengenai jumlah, jenis, dan waktu penting pemenuhan kebutuhan cairan. Selain itu, edukasi diharapkan dapat meningkatkan kesadaran atlet akan pentingnya mengganti cairan yang hilang selama proses latihan dan atau bertanding sehingga berperan sebagai langkah awal perubahan perilaku konsumsi cairan pada atlet. Isi: Atlet merupakan olahragawan yang terlatih kekuatan, ketangkasan dan kecepatan untuk diikursertakan dalam pertandingan. Oleh karenanya diperlukan pengetahuan yang baik mengenai gizi seimbang untuk atlet. Untuk menghasilkan pemain sepak bola yang handal, tidak hanya dibutuhkan strategi dan taktik namun juga stamina dan status gizi yang baik. Penerapan gizi seimbang disertai dengan pemenuhan kebutuhan cairan pada atlet berperan dalam mendukung pencapaian performa atlet. Akan tetapi, tidak semua atlet memahami pentingnya gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan dalam peningkatan performa atlet. Edukasi gizi merupakan upaya yang dapat meningkatkan pengetahuan atlet mengenai pentingnya gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan. Dengan pengetahuan yang baik mengenai gizi seimbang dan pemenuhan cairan, sikap atlet terhadap pemilihan menu makanan menjadi baik. Pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah edukasi gizi mengenai gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan atlet. Pengabdian masyarakat dilakukan kepada 21 atlet sepak bola di Sekolah Sepak Bola (SSB) Real Madrid pada tanggal 08 Mei 2018 di Stadion Universitas Negeri Yogyakarta. Secara keseluruhan, atlet sepakbola SSB Real Madrid mempunyai sikap yang baik terhadap pemilihan menu sehari berdasarkan gizi seimbang. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini dikarenakan kemungkinan siswa yang berbeda di setiap tahunnya. Selain edukasi kepada siswa, kegiatan pengabdian ini diharapkan dilakukan tidak hanya kepada siswa SSB Real Madrid, melainkan kepada orang tua siswa dan juga pelatih atlet sepak bola di SSB tersebut.Tujuan : Edukasi mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan cairan atlet diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan atlet mengenai jumlah, jenis, dan waktu penting pemenuhan kebutuhan cairan. Selain itu, edukasi diharapkan dapat meningkatkan kesadaran atlet akan pentingnya mengganti cairan yang hilang selama proses latihan dan atau bertanding sehingga berperan sebagai langkah awal perubahan perilaku konsumsi cairan pada atlet.Isi : Atlet merupakan olahragawan yang terlatih kekuatan, ketangkasan dan kecepatan untuk diikursertakan dalam pertandingan. Oleh karenanya diperlukan pengetahuan yang baik mengenai gizi seimbang untuk atlet. Untuk menghasilkan pemain sepak bola yang handal, tidak hanya dibutuhkan strategi dan taktik namun juga stamina dan status gizi yang baik. Penerapan gizi seimbang disertai dengan pemenuhan kebutuhan cairan pada atlet berperan dalam mendukung pencapaian performa atlet. Akan tetapi, tidak semua atlet memahami pentingnya gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan dalam peningkatan performa atlet. Edukasi gizi merupakan upaya yang dapat meningkatkan pengetahuan atlet mengenai pentingnya gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan. Dengan pengetahuan yang baik mengenai gizi seimbang dan pemenuhan cairan, sikap atlet terhadap pemilihan menu makanan menjadi baik. Pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah edukasi gizi mengenai gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan atlet. Pengabdian masyarakat dilakukan kepada 21 atlet sepak bola di Sekolah Sepak Bola (SSB) Real Madrid pada tanggal 08 Mei 2018 di Stadion Universitas Negeri Yogyakarta. Secara keseluruhan, atlet sepakbola SSB Real Madrid mempunyai sikap yang baik terhadap pemilihan menu sehari berdasarkan gizi seimbang. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini dikarenakan kemungkinan siswa yang berbeda di setiap tahunnya. Selain edukasi kepada siswa, kegiatan pengabdian ini diharapkan dilakukan tidak hanya kepada siswa SSB Real Madrid, melainkan kepada orang tua siswa dan juga pelatih atlet sepak bola di SSB tersebut
Analisis capaian keberhasilan pengobatan TB paru dengan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) di Kota Medan
Tujuan : Untuk mengetahui capain keberhasilan pengobatan TB paru dengan strategi DOTS di Kota Medan apakah sudah mencapai target dari RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional). Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif atau disebut juga analisis deskriptif yaitu menggambarkan pencapain dari keberhasilan pengobatan TB paru di Kota Medan dengan strategi DOTS merujuk pada capaian yang ditargetkan Strategi Nasional Pengendalian TB Paru dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Hasil : Pengendalian TB dengan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) adalah program pengendalian TB yang ditawarkan oleh WHO dan merupakan solusi yang efektif untuk menurunkan angka kasus TB. Di Indonesia strategi DOTS telah dijalankan dan disusun dalam rancangan penanggulangan secara nasional dalam RPJMN (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional) yang ditetapkan pemerintah setiap 5 tahun. Pada RPJMN 2015-2019 diharapkan persentase kasus baru TB paru BTA (+) yang disembuhkan dari 85% menjadi 88%. Pencapaian target RPJMN terkait penanggulangan TB Paru di Kota Medan pada tahun 2016 adalah 83,62%. Simpulan : Angka keberhasilan pengobatan TB paru di Kota Medan yang dicapai belum mencapai target artinya strategi DOTS belum terlaksana secara maksimal.Saran : Semua tingkat pelayanan kesehatan harus bekerja sama dalam memaksimalkan pelaksanaan strategi DOTS untuk meningkatkan angka keberhasilan pengobatan TB paru di Kota MedanTujuan : Untuk mengetahui capain keberhasilan pengobatan TB paru dengan strategi DOTS di Kota Medan apakah sudah mencapai target dari RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional).Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif atau disebut juga analisis deskriptif yaitu menggambarkan pencapain dari keberhasilan pengobatan TB paru di Kota Medan dengan strategi DOTS merujuk pada capaian yang ditargetkan Strategi Nasional Pengendalian TB Paru dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).Hasil : Pengendalian TB dengan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) adalah program pengendalian TB yang ditawarkan oleh WHO dan merupakan solusi yang efektif untuk menurunkan angka kasus TB. Di Indonesia strategi DOTS telah dijalankan dan disusun dalam rancangan penanggulangan secara nasional dalam RPJMN (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional) yang ditetapkan pemerintah setiap 5 tahun. Pada RPJMN 2015-2019 diharapkan persentase kasus baru TB paru BTA (+) yang disembuhkan dari 85% menjadi 88%. Pencapaian target RPJMN terkait penanggulangan TB Paru di Kota Medan pada tahun 2016 adalah 83,62%.Simpulan : Angka keberhasilan pengobatan TB paru di Kota Medan yang dicapai belum mencapai target artinya strategi DOTS belum terlaksana secara maksimal.Saran : Semua tingkat pelayanan kesehatan harus bekerja sama dalam memaksimalkan pelaksanaan strategi DOTS untuk meningkatkan angka keberhasilan pengobatan TB paru di Kota Medan
Insiden gizi lebih dan obesitas anak di tingkat sekolah dasar di MIS Dalaailul Khairat desa Sambirejo kecamatan Binjai kabupaten Langkat
Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingginya insidensi status gizi obesitas dan gizi lebih pada anak di tingkat Sekolah Dasar MIS Dalaailul Khairat Binjai. Metode: Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yaitu untuk mengetahui besarnya frekuensi anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi lebih dan obesitas. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Cross-Sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah anak di tingkat Sekolah Dasar MIS Dalaailil Khairat Binjai dengan total sampel sebanyak 120 anak. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 120 anak yang diukur status gizinya diperoleh persentase anak dengan status gizi yang berada dalam kategori normal sebesar 52,5% dan dengan frekuensi sebesar 63 anak (CI 95% = sebesar 44,2% - 61,7%). Anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi lebih memiliki persentase sebesar 19,2% dan dengan frekuensi sebesar 23 anak (CI 95% = 11,7% - 26,7%). Anak dengan status gizi yang berada dalam kategori obesitas memiliki persentase sebesar 15,8% dan dengan frekuensi sebesar 19 anak (CI 95% = 9,2% - 22,5%). Anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi kurang memiliki persentase sebesar 9,2% dan dengan frekuensi sebesar 11 anak (CI 95% = 4,2% - 15,0%). Dan anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi buruk memiliki persentase sebesar 3,3% dan dengan frekuensi sebesar 4 anak (CI 95% = 0,8% - 7,5%). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa anak yang berada pada kategori obesitas dan gizi lebih memiliki persentase lebih tinggi dibandingkan gizi kurang dan gizi buruk. Objektif : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingginya insidensi status gizi obesitas dan gizi lebih pada anak di tingkat Sekolah Dasar MIS Dalaailul Khairat Binjai.Metode : Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yaitu untuk mengetahui besarnya frekuensi anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi lebih dan obesitas. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Cross-Sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah anak di tingkat Sekolah Dasar MIS Dalaailil Khairat Binjai dengan total sampel sebanyak 120 anak.Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 120 anak yang diukur status gizinya diperoleh persentase anak dengan status gizi yang berada dalam kategori normal sebesar 52,5% dan dengan frekuensi sebesar 63 anak (CI 95% = sebesar 44,2% - 61,7%). Anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi lebih memiliki persentase sebesar 19,2% dan dengan frekuensi sebesar 23 anak (CI 95% = 11,7% - 26,7%). Anak dengan status gizi yang berada dalam kategori obesitas memiliki persentase sebesar 15,8% dan dengan frekuensi sebesar 19 anak (CI 95% = 9,2% - 22,5%). Anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi kurang memiliki persentase sebesar 9,2% dan dengan frekuensi sebesar 11 anak (CI 95% = 4,2% - 15,0%). Dan anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi buruk memiliki persentase sebesar 3,3% dan dengan frekuensi sebesar 4 anak (CI 95% = 0,8% - 7,5%). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa anak yang berada pada kategori obesitas dan gizi lebih memiliki persentase lebih tinggi dibandingkan gizi kurang dan gizi buruk
Home visiting dan layanan antar jemput ke rumah sakit lapangan untuk korban gempa: usulan dalam pengembangan rumah sakit lapangan
Tujuan penggasan program RUSALINA ini merupakan salah satu solusi tepat bagi pemerintah dalam mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak pada daerah bencana, karena Indonesia merupakan salah satu negara rawan bencana, dan dampak bencana menimbulkan kerusakan fasilitas umum, korban jiwa, luka-luka hingga permasalahan gizi dan kesehatan. Lombok merupakan salah satu daerah yang tertimpa becana gempa dan mengalami kerusakan fasilitas kesehatan 1 unit rumah sakit umum, 8 unit puskesmas inti dan 30 unit pustu, dan ada sekitar 4000 jiwa ibu hamil dan 929 orang ibu menyusui yang menjadi korban dampak gempa Lombok. Lumpuhnya fasilitas kesehatan dan susahnya akses pelayanan menyebabkan ibu hamil tidak bisa mendapatkan ANC lengkap. Dalam mengatasi masalah ini maka program RUSALINA berbasis home care, dan layanan antar jemput adalah bentuk program solusi utama, dalam pelaksanaannya yang memberikan layanan RUSALINA adalah Dokter Spesialis Obgin dan Ginekologi, Bidan, Perawat yang ditugaskan secara sift dan voluntary dari daerah sekitar, dan pemilihan Gubernur sebagai Kepala rumah sakit, Kepala Dinas dan Dirjen KIA sebagai manager dan pengawas program, sehingga program ini terstruktur dan efektiv juga efisien dalam pelaksanaannya dan mampu mengatasi masalah kesehatan korban gempa khususnya masalah kesehatan ibu dan anak.Tujuan penggagasan program home visiting dan layanan antar jemput ini merupakan salah satu solusi tepat bagi pemerintah dalam mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak pada daerah bencana, karena Indonesia merupakan salah satu negara rawan bencana. Dampak dari bencana menimbulkan kerusakan fasilitas umum, korban jiwa, luka-luka hingga permasalahan gizi dan kesehatan. Lombok merupakan salah satu daerah yang tertimpa becana gempa dan mengalami kerusakan fasilitas kesehatan 1 unit rumah sakit umum, 8 unit puskesmas inti dan 30 unit pustu, dan ada sekitar 4000 jiwa ibu hamil dan 929 orang ibu menyusui yang menjadi korban dampak gempa Lombok. Lumpuhnya fasilitas kesehatan dan susahnya akses pelayanan menyebabkan ibu hamil tidak bisa mendapatkan ANC lengkap, yang dampaknya terhadap resiko komplikasi bersalin dan pasca salin. Dalam mengatasi masalah ini maka program home visiting layana antar dan jemput pasien ke Rumah Sakit Lapangan adalah bentuk program solusi utama, karena mempermudah akses korban mendapatkan pelayanan Obstertik, dan yang memberikan layanan adalah Dokter Spesialis Obgin dan Ginekologi, Bidan, Perawat yang ditugaskan secara sift dan voluntary dari daerah sekitar, dan pemilihan Gubernur sebagai Kepala rumah sakit, Kepala Dinas dan Dirjen KIA sebagai manager dan pengawas program, sehingga program ini terstruktur dan efektiv juga efisien dalam pelaksanaannya dan mampu mengatasi masalah kesehatan korban gempa khususnya masalah kesehatan ibu dan anak
[PHS4] Intervensi Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi dalam Mencegah Niat dan Perilaku Seksual pada Remaja
Pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi remaja di Indonesia masih menjadi perdebatan sampai saat ini. Adanya stigma dikalangan masyarakat, yang menganggap bahwa pendidikan tersebut dapat mendorong remaja untuk melakukan aktivitas seksual. Padahal bukti ilmiah menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi justru dapat mengurangi perilaku seksual beresiko pada mereka. Stigma menjadi penghambat dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi pada remaja. Beberapa penelitian membuktikan efek dari pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi dalam membantu remaja untuk mengurangi timbulnya aktivitas seksual, mengurangi frekuensi seks yang tidak aman, meningkatkan penggunaan kondom untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan infeksi menular seksual. Tinjauan literatur ini mengintegrasikan temuan dari beberapa penelitian untuk melihat pengaruh intervensi kesehatan seksual dan reproduksi dalam mencegah niat dan perilaku seksual pada remaja. Meskipun terdapat variabilitas dalam metodologi di seluruh studi yang ditinjau, temuan menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi terbukti dapat mencegah timbulnya niat dan perilaku seksual pada remaja.AbstrakPendidikan kesehatan seksual dan reproduksi remaja di Indonesia masih menjadi perdebatan sampai saat ini. Adanya stigma dikalangan masyarakat, yang menganggap bahwa pendidikan tersebut dapat mendorong remaja untuk melakukan aktivitas seksual. Padahal bukti ilmiah menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi justru dapat mengurangi perilaku seksual beresiko pada mereka. Stigma menjadi penghambat dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi pada remaja. Beberapa penelitian membuktikan efek dari pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi dalam membantu remaja untuk mengurangi timbulnya aktivitas seksual, mengurangi frekuensi seks yang tidak aman, meningkatkan penggunaan kondom untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan infeksi menular seksual. Tinjauan literatur ini mengintegrasikan temuan dari beberapa penelitian untuk melihat pengaruh intervensi kesehatan seksual dan reproduksi dalam mencegah niat dan perilaku seksual pada remaja. Meskipun terdapat variabilitas dalam metodologi di seluruh studi yang ditinjau, temuan menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi terbukti dapat mencegah timbulnya niat dan perilaku seksual pada remaja
Determinan Sosial dan Dampak Kesehatan Pernikahan Dini di Lombok Timur
Tujuan: Penelitian ini menganalisis determinan sosial dan dampak yang berkaitan dengan kesehatan dari kejadian pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur. Metode: Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Pengambilan data dilakukan melalui studi pustaka dari jurnal terkait dan wawancara mendalam kepada dua orang informan berdasarkan purposive sampling. Analisis data menggunakan Social Cognitive Theory untuk mengidentifikasi determinan sosial terkait pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur. Selain itu, peneliti juga melakukan analisis dampak kesehatan berdasarkan aspek fisik, mental, dan sosial. Hasil: Determinan sosial kejadian pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur berdasarkan hasil penelitian ini yaitu: (1) faktor personal meliputi pendidikan rendah dan faktor agama; (2) perilaku yaitu kehamilan di luar pernikahan, dan (3) pengaruh lingkungan meliputi lingkungan keluarga, budaya lokal, dan pola pikir masyarakat setempat. Sedangkan dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan dari pernikahan dini berdasarkan penelitian ini antara lain: (1) aspek fisik meliputi infeksi menular seksual, komplikasi dalam melahirkan, dan gangguan kesehatan anak yang dilahirkan; (2) aspek mental yaitu beban pikiran; dan (3) aspek sosial meliputi gunjingan di tengah masyarakat, permakluman terhadap hal negatif yang tidak diinginkan, dan memicu tindakan kriminal. Simpulan: Sehubungan dengan perencanaan intervensi dalam menanggulangi permasalahan pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur, pihak yang terlibat harus memperhatikan prinsip relativisme budaya setempat. Oleh karena itu, beberapa upaya yang dapat dilakukan berkaitan dengan masalah ini yaitu: (1) memahami budaya lokal pernikahan dini secara komprehensif; (2) melakukan komunikasi lintas sektor; (3) melibatkan partisipasi masyarakat setempat; dan (4) menyusun program dengan memperhatikan budaya lokal masyarakat.Tujuan: Penelitian ini menganalisis determinan sosial dan dampak yang berkaitan dengan kesehatan dari kejadian pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur. Metode: Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Pengambilan data pada Bulan Oktober 2017 dilakukan melalui studi literatur jurnal terkait dan wawancara mendalam kepada dua orang informan yang berasal dari pemangku kepentingan yang dipilih berdasarkan purposive sampling. Analisis data menggunakan Social Cognitive Theory untuk mengidentifikasi determinan sosial terkait pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur. Selain itu, peneliti juga melakukan analisis dampak kesehatan berdasarkan aspek fisik, psikologis, dan sosial.Hasil: Berdasarkan hasil penelitian ini, determinan sosial kejadian pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur meliputi faktor personal yang terdiri dari pendidikan yang rendah, faktor agama, perilaku seks pranikah, dan pengaruh lingkungan baik lingkungan keluarga, budaya lokal, maupun pola pikir masyarakat setempat. Sedangkan dampak kesehatan akibat pernikahan dini terdiri dari aspek fisik yang meliputi masalah infeksi menular seksual, komplikasi saat bersalin, hingga gangguan kesehatan pada anak, aspek psikologis berupa beban pikiran, dan aspek sosial seperti celaan masyarakat, permakluman terhadap kasus menikah dini terlebih akibat perilaku seks pra nikah, hingga memicu tindakan kriminal.Kesimpulan: Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam perencanaan intervensi untuk menanggulangi permasalahan pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur, dengan cara meningkatkan komunikasi lintas sektor, melibatkan partisipasi masyarakat setempat, dan menyusun program dengan memperhatikan prinsip relativisme budaya
Pentingnya pemahaman moral terkait perilaku perundungan (bullying) pada anak usia sekolah
Perilaku perundungan (bullying) masih kerap terjadi pada anak usia sekolah, termasuk pada anak Sekolah Dasar (SD). Perilaku ini memberikan banyak dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak, baik perkembangan psikomotor maupun psikologis. Jika dilihat dari beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya perundungan atau lebih dikenal dengan istilah bullying salah satunya adalah kurangnya pendidikan empati terhadap oranglain. Hal ini tentu terkait pemahaman moral. Anak yang memiliki pemahaman moral yang tinggi akan menilai suatu perbuatan apakah itu bernilai baik atau buruk. Secara tidak lansung anak akan menjaga perilakunya agar tidak melukai atau menyakiti perasaan oranglain atau dengan kata lain tidak akan melakukan perilaku bullying terhadap temannya. Hal ini tentu berbeda dengan anak dengan pemahaman moral yang rendah, setiap tindakannya tidak akan dipikirkan sehingga mereka akan cenderung melakukan perilaku bullying. Tulisan ini bertujuan menilai pemahaman moral anak berdasar tayangan video pendek dengan melihat tanggapan (reaksi) anak pada saat pemutaran video. Pemutaran video pendek dilakukan ditiap kelas yang didampingi fasilitator dengan video berisi tayangan contoh perilaku bullying. Kemudian setelah itu tiap anak akan diberi kesempatan untuk memberikan komentar, mengungkapkan perasaannya yakni menilai video yang ditonton dan secara bersama-sama akan menyepakati hal-hal yang tidak boleh dilakukan terhadap sesama teman serta konsekuensi yang akan diterima apabila melakukan hal yang telah disepakati tidak boleh dilakukan tersebut. Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah, salah satu kelas pada saat menyaksikan video tersebut, mayoritas dari mereka malah tertawa terbahak-bahak melihat beberapa kejadian yang ditayangkan dalam video pendek tersebut. Bukannya merasa iba tetapi menganggap lucu. Hal ini menunjukan bahwa sekelompok anak pada kelas tersebut cenderung memiliki pemahaman moral yang rendah, yakni belum bisa membedakan perbuatan yang bernilai buruk yang harus dihindari, tidak boleh dilakukan. Sehingga pemahaman moral terhadap anak dianggap sangat penting dalam mencegah perilaku bullying.
Tantangan penerapan Peraturan Presiden nomor 82 tahun 2018 dalam mendukung sistem informasi surveillans di dinas kesehatan
Latar Belakang: Penyelenggaraan JKN oleh BPJS Kesehatan dilaksanakan secara wajib. Hingga saat ini BPJS Kesehatan telah terselenggara selama lebih dari 4 tahun, sehingga memiliki potensi data kesehatan yang dapat mendukung dalam pengambilan keputusan bidang kesehatan. Dalam penyelenggaraannya, terjadi perubahan peraturan-peraturan terutama mekanisme akses data dan informasi dari BPJS Kesehatan oleh dinas kesehatan.Tujuan: Menelaah tantangan penerapan Perpres Nomor 82/2018 terkait dukungan data dan informasi dari BPJS Kesehatan untuk pengambilan keputusan melalui sistem informasi surveilans di dinas kesehatan.Konten: Pada 18 September 2018 telah diterbitkan Perpres Nomor 82/2018 yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas, kesinambungan program jaminan kesehatan dan menyempurnakan peraturan-peraturan sebelumnya. Perbedaan dengan peraturan sebelumnya, pada Pasal 84 ayat (1) terdapat kewajiban BPJS Kesehatan untuk memberikan data dan informasi kepada Kepala Dinas Kesehatan kabupaten/kota/provinsi dalam rangka pengambilan kebijakan bidang kesehatan setiap 3 bulan. Pada ayat (2), data dan informasi yang dimaksud pada ayat (1) meliputi: Jumlah fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, Kepesertaan, Jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan, Jenis penyakit, Jumlah pembayaran dan atau klaim.Hasil: Penerapan Perpres Nomor 82/2018 khususnya pada Pasal 84 telah membuka peluang bagi dinas kesehatan baik di level kabupaten/kota maupun provinsi untuk mendapatkan data dan informasi dari BPJS Kesehatan. Namun, dari hasil telaah diketahui bahwa peraturan ini belum mampu untuk mendukung secara penuh sistem informasi surveilans terutama dalam pengambilan keputusan. Terkait ayat (1), waktu pemberian data dan informasi dari BPJS Kesehatan ke dinas kesehatan yang diatur adalah setiap 3 bulan sehingga belum mampu mendukung sistem informasi surveilans respon cepat. Terkait ayat (2), kebutuhan data tenaga, sarana dan prasarana kesehatan belum termasuk dalam data dan informasi yang harus diberikan. Isu lainnya adalah tantangan bagi dinas kesehatan dalam memanfaatkan data dan informasi tersebut untuk pengambilan keputusan.Kesimpulan: Perpres Nomor 82/2018 belum bisa mendukung secara penuh sistem informasi surveilans di dinas kesehatan untuk pengambilan keputusan
Community participations and health care in rural areas – the differences between Swedish and Indonesian system
The Swedish and Indonesian health care systems are both decentralised, and every day health care is based on activities performed in district hospitals and primary health care centres. The main difference between the Swedish and Indonesian health system is the existence of posyandus, not found in Sweden. Meanwhile the Swedish system only allows health professionals, the Indonesian posyandus are run voluntarily by health cadres and are more based on community participation. However, as the major health problem faced by the Swedish health care is an overloaded system and a growing number of elderlies, an approach developed in rural parts of northern Sweden are the virtual health rooms. The virtual health room, a self-serviced room for basic health monitoring, is based on community participation, and may be called the Swedish version of posyandu. Future models for increased community participation in Sweden are thought to be further developed through such virtual health rooms, and with the movement from country side to the Swedish cities. Although the differences of the health systems in the two countries are many, we also share one very important similarity: the lack of health care professionals
Ketinggian lokasi dan residu pestisida pada tomat
Altitude and pesticide residu in tomatoes: study in Batu and TulungagungPurposeThis research aimed to determine the correlation between altitude and chlorothalonil residue in tomato from Batu and Tulungagung.MethodsThis study used a cross sectional design, and was conducted in two places at different altitudes, Batu (>700 m asl) and Tulungagung (700 mdpl) dan Kabupaten Tulungagung (<500 mdpl). Sampel yaitu tomat yang memasuki masa panen yang diambil dari 3 petani di Kota Batu dan 4 petani di Kabupaten Tulungagung dengan total sampel sebanyak 12 sampel dengan berat 12 kg. Variabel bebas adalah ketinggian lokasi, dosis aplikasi, frekuensi penyemprotan, dan waktu aplikasi. Variabel terikat adalah residu klorotalonil pada tomat. Analisis statistik menggunakan uji-t independent sample, mann whitney U-test , regresi linear sederhana, dan kruskal wallis (α=0,05).Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan residu klorotalonil pada semua sampel tomat tidak melebihi BMR (5 mg/kg). Hasil uji-t independent sample (p=0,06) menunjukkan perbedaan rata-rata residu klorotalonil pada tomat di dataran tinggi dan dataran rendah tidak signifikan. Hasil mann whitney U-test (p=0,004) menunjukkan ada perbedaan rata-rata dosis aplikasi di dataran tinggi dan dataran rendah. Hasil regresi linear sederhana (p=0,002; Adjusted R2=0,5820; model Y=0,00000796X) menunjukkan ada pengaruh dosis aplikasi terhadap residu klorotalonil. Hasil regresi linear sederhana (p=0,08) menunjukkan tidak ada pengaruh frekuensi penyemprotan terhadap residu klorotalonil. Hasil uji kruskal wallis (p=0,189) menunjukkan tidak ada pengaruh waktu aplikasi terhadap residu klorotalonil.Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata residu klorotalonil pada tomat di Kabupaten Tulungagung lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan di Kota Batu, namun perbedaan tersebut secara statistik tidak signifikan. Dosis yang digunakan mempengaruhi besarnya residu klorotalonil pada tomat.