Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Tingkat pendidikan ibu dengan kepatuhan antenatal care pada perdesaan dan perkotaan di Indonesia
Penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kepatuhan ibu dalam melakukan Antenatal Care (ANC) pada perdesaan dan perkotaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan desain studi cross sectional, menggunakan data Indonesian Family Life Survey 5. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang melakukan Antenatal Care dan melahirkan anak terakhir pada tahun 2013 sampai dengan survei dilakukan. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 1.869 responden. Responden yang tinggal di desa sebanyak 746 dan di kota sebanyak 1.123. Kepatuhan ibu dalam melakukan ANC dibagi menjadi patuh dan tidak patuh sesuai standar pelayanan minimal tahun 2016. Pendidikan ibu dibagi menjadi 4 yaitu tidak sekolah, SD, SMP-SMA, dan Universitas. Analisis menggunakan uji Chi-square dan logistic regression dengan tingkat kemaknaan p-value 0,05). Di perkotaan, kemungkinan untuk patuh ANC pada ibu yang menempuh pendidikan hingga universitas 2,9 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu yang tidak sekolah. Paritas memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan ANC pada ibu yang tinggal di perkotaan (p<0,05). Di perkotaan, kemungkinan untuk patuh ANC pada ibu primipara 1,8 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu multipara. Pendidikan dan paritas ibu merupakan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan ANC di perkotaan, namun tidak pada ibu yang tinggal di perdesaan karena adanya faktor lain yang bisa berhubungan dengan kepatuhan ANC di pedesaan seperti faktor budaya dan status ekonomi keluarga. Untuk meningkatkan kepatuhan ANC diperlukan program perbaikan akses ke pelayanan kesehatan dan pemerataan tenaga kesehatan. Selain itu bagi ibu yang tinggal di perkotaan dan berpendidikan rendah diperlukan pemberian edukasi/informasi
Hubungan rasio lingkar pinggang-pinggul (RLPP), IMT dan kontribusi asupan garam dari makanan jajanan dengan tekanan darah pada remaja
Salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi adalah obesitas. Obesitas dapat ditentukan melalui pengukuran antropometri seperti indeks massa tubuh (IMT), dan Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul (RLPP). Di Indonesia, penelitian yang mempelajari indikator obesitas dan hubungannya dengan hipertensi masih terbatas. Hipertensi tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi juga pada kelompok remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan (RLPP), (IMT) dengan tekanan darah. Sampel adalah siswa/siswi SMU N 6 Jakarta Selatan yang diambil secara random berjumlah 129 orang. Tekanan darah diukur dengan alat “Sphygmomanometer”. Data antropometri meliputi (IMT),(RLPP), Lingkar Lengan Atas (LLA). Asupan garam diukur dengan metode “Food Frequency Questionnaire” (FFQ) dan Food Recall 1 x 24 jam. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Korelasi atau Rank Spearman. Prevalensi hipertensi sebesar 19 %. Nilai rata-rata RLPP pada sampel pria 0,88 dan pada wanita 0,80. Nilai rata-rata IMT 21,5 . Nilai rata-rata tekanan darah sistolik 106,83 mmHg dan tekanan darah diastolik 73,18 mmHg. Hasil uji statistiK menunjukan ada hubungan antara IMT dengan tekanan darah p=0.00. Untuk asupan natrium yang berhubungan dengan tekanan darah Diastolik p=0.022. Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan kemudian hari maka perlu dilakukan penyuluhan tentang pentingnya mencapai berat badan normal
Hubungan pola konsumsi natrium dan kalium dengan kejadian hipertensi di puskesmas Paccerakkang Makassar
Hipertensi menjadi masalah kesehatan yang risikonya linear dengan pertambahan usia. Kenaikan tekanan pada dinding arteri hingga nilai ekstrim berpotensi memicu berbagai komplikasi kardiovaskular. Tingkat konsumsi natrium dan kalium menunjukkan asosiasi yang cukup berarti dengan kejadian hipertensi. Keduanya menunjukkan efek antagonis dalam menentukan kekuatan dinding arteri menahan laju aliran darah. Penelitian ini dikembangkan untuk mengobservasi korelasi antara konsumsi natrium dan kalium dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Paccerakkang Kota Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini merupakan individu berusia ≥ 30 tahun yang melakukan kunjungan ke Puskesmas Paccerakkang. Sebanyak 78 responden diikutsertakan dalam penelitian ini dengan teknik penarikan secara accidental sampling. Tingkat konsumsi diobservasi menggunakan instrumen penelitian berupa food recall untuk menggambarkan asupan natrium dan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk menggambarkan asupan kalium. Analisis bivariat dilakukan untuk memahami hubungan konsumsi garam mineral dengan kejadian hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan beban hipertensi pada populasi target mencapai 51,3%. Konversi hasil survei konsumsi mengindikasikan masih adanya responden sebanyak 39,7% yang mengonsumsi natrium melebihi batas aman yang direkomendasikan. Namun, tingkat konsumsi natrium yang tinggi masih dapat diimbangi dengan konsumsi kalium yang cukup dengan persentase mencapai 65,4%. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya korelasi yang berarti antara pola konsumsi natrium dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Paccerakkang Makassar (p-value=0,018), berbeda dengan konsumsi kalium yang tidak mencapai level signifikansi dengan kejadian hipertensi (p-value=0,133). Hanya konsumsi natrium yang berhubungan dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Paccerakkang Makassar. Sementara konsumsi kalium meskipun menunjukkan adanya perbedaan, namun tidak menemui kemaknaan yang berarti
Penyelidikan KLB keracunan makanan acara ruwahan di desa Mulo, Gunung Kidul provinsi DIY
Tujuan: Studi ini untuk mengetahui gambaran KLB keracunan pangan yang terjadi di desa Mulo menurut deskripsi epidemiologi, faktor risiko dan penyebab KLB keracunan makanan. Metode: Studi ini menggunakan studi analitik case control, dimana kasus adalah orang yang mengalami sakit pada tanggal 7 - 8 Mei 2017, tinggal di desa Mulo dan mengkonsumsi makanan olahan dari bapak S dan K. Instrument menggunakan kuesioner. Hasil: KLB terjadi di Desa Mulo RT 5 dan 6 dengan jumlah kasus sebanyak 18 orang dari total population at risk 112 orang dengan gejala utama diare (100%), mual (72,2%), demam (66,6%), pusing (66,6%) dan muntah (50%). Dari diagnosa banding menurut gejala, masa inkubasi dan agent penyebab keracunan, kecurigaan kontaminasi bakteri mengarah pada E. Coli (ETEC). Masa inkubasi 1-16 jam (rata-rata 9 jam) dan common source curve. Penyaji makanan ada dua (pak K dan pak S). Dari perhitungan AR, berdasarkan sumber makanan mengarah pada makanan dari pak S (AR=42,8%). Bedasarkan menu, perhitungan OR dan CI 95 % jenis makanan yang dicurigai sebagai penyebab KLB adalah urap/gudangan (OR=4,33; p value0,0071) dan sayur lombok (OR=6,31; p value 0,0071). Sampel yang didapatkan adalah sampel air bersih, feses, dan muntahan penderita, sampel makanan tidak didapatkan karena keterlambatan informasi dari masyarakat. Hasil laboratorium, Total Coliform sampel air bersih melebihi ambang batas, sampel feses dan muntahan mengandung bakteri Klebsiella pneumonia.Simpulan: Terdapat 3 (tiga) faktor yang diduga sebagai penyebab keracunan pada warga Desa Mulo yaitu air bersih untuk mengolah makanan tercemar bakteri patogen, pengolahan makanan tidak hygienis dan penyajian makanan pada suhu ruang lebih dari 1 jam
Pengaruh karakteristik organisasi terhadap pemanfaatan pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (POSBINDU PTM) di wilayah Puskesmas Helvetia Meda
Tujuan: Penyakit tidak menular (PTM) menjadi penyebab utama kematian secara global. Berdasarkan 10 penyakit terbesar di Puskesmas Helvetia tahun 2016, tercatat rematik berada di urutan ketiga (11416 kasus), hipertensi di urutan keempat (10502 kasus) dan diabetes mellitus di urutan kelima (8160 kasus). Posbindu PTM menjadi salah satu strategi penting dalam mengendalikan trend penyakit tidak menular yang terus meningkat. Cakupan kegiatan Posbindu PTM di wilayah Puskesmas Helvetia tahun 2016 sangat rendah yaitu dibawah 1%. Tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan pengaruh karakteristik organisasi (perilaku petugas kesehatan, perilaku kader, fasilitas pelayanan, kegiatan Posbindu PTM) terhadap pemanfaatan POSBINDU PTM di wilayah Puskesmas Helvetia. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian survai dengan tipe explanatory research. Sampel berjumlah 100 orang yang diambil dengan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji regresi linear berganda pada taraf uji nyata α=5%. Hasil: Perilaku petugas kesehatan (p value= 0,000), perilaku kader (p value= 0,000), fasilitas pelayanan (p value= 0,000) berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM, sedangkan kegiatan Posbindu PTM (p value= 0,413) tidak berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM. Diperkirakan perilaku petugas kesehatan mempunyai kontribusi yang paling besar (0,636) terhadap pemanfaatan POSBINDU PTM. Kemampuan variabel perilaku petugas kesehatan, perilaku kader dan fasilitas pelayanan untuk menjelaskan pemanfaatan POSBINDU PTM sebesar 91%. Secara umum pemanfaatan POSBINDU PTM akan semakin meningkat apabila perilaku petugas kesehatan, perilaku kader dan fasilitas pelayanan ditingkatkan. Simpulan: Disarankan dalam peningkatan upaya pencegahan dan penanggulangan PTM agar membentuk Posbindu PTM di setiap kelurahan di wilayah puskesmas Helvetia, petugas kesehatan diharapkan lebih ramah, sigap, perhatian dalam melayani masyarakat di Posbindu PTM, memberikan pelatihan terhadap kader Posbindu PTM, melengkapi sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan Posbindu PTM dan menerapkan sistem lima meja agar kegiatan Posbindu PTM dapat berjalan lebih teratur dan efisien
Pendayagunaan SDM kesehatan untuk penanganan kasus Asmat
Latar belakang: Masalah malnutrisi yang terjadi di Asmat, Papua sudah tergolong ke dalam kejadian luar biasa (KLB). Malnutrisi adalah keadaan undernutrition yang disebabkan karena pemberian asupan makan yang tidak mencukupi dan dapat terjadinya kelaparan1,2,3. Malnutrisi yang terjadi di Asmat disebabkan oleh akses dan ketersedian pangan yang minim, sanitasi dan ketersediaan air bersih yang tidak memadai, pola hidup dan pola asuh yang tidak sehat. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, warga Asmat harus menempuh jarak yang jauh dengan biaya yang tidak murah, belum lagi keberadaan tenaga kesehatan yang sangat kurang di sana4,5. Dalam UU No. 36 tahun 2004 tentang kesehatan pasal 5 dan 6 disebutkan bahwa setiap orang berhak mendapat akses yang mudah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan dapat dijangkau, serta berhak mendapatkan lingkungan yang sehat demi tercapainya derajat kesehatan yang lebih baik6. Tapi hal ini tidak dirasakan oleh masyakarat daerah Asmat. Mereka masih jauh dari akses pelayanan kesehatan yang baik serta SDM kesehatan yang memadai4. Paper ini bertujuan mencari pemecahan masalah KLB di Asmat dari sudut pandang akademisi. Kasus Asmat bukan masalah kesehatan yang bisa cepat di atas dalam waktu singkat, tetapi perlu dukungan semua sektor serta perencanaan jangka panjang. Lesson learned: Penanganan kasus malnutrisi di Asmat perlu kerja sama lintas sektor. Kasus Asmat bukan masalah kesehatan saja, tetapi melibatkan aspek lain seperti akses dan demografi4,5. Selain itu kasus malnutrisi tidak bisa diatasi dalam kurun waktu yang singkat, hanya dengan stock makanan yang terjaga sepanjang tahun tidak cukup efektif. Langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu mampu meningkatkan kapasitasnya dalam pembangunan daerah Asmat, utamanya pendayagunaan tenaga kesehatan. Asmat termasuk dalam daerah rural atau pedesaan di wilayah Papua dengan akses yang sulit. Faktor demografi inilah yang membuat Asmat menjadi daerah yang jarang dipilih oleh pemerintah untuk distribusi SDM5,6. Distribusi SDM di daerah ini masih sangat rendah. Jika SDM kesehatan mampu menjangkau Asmat, tentu masalah kesehatan akan terdeteksi dengan cepat sehingga tidak terjadi KLB malnutrisi. Jika tenaga kesehatan sudah mampu didayagunakan di Asmat tentu akan sangat membantu memperbaiki pelayanan kesehatan dan peningkatan kesehatan masyarakat khusus penanganan kasus malnutrisi. Pendistribusian SDM bisa dilakukan dengan penguatan regulasi oleh pemerintah. Pemerintah Asmat juga perlu melakukan pemetaan yang jelas mengenai masalah kebutuhan SDM kesehatannya, pemberian insentif yang sesuai dengan kinerja SDM juga perlu dipertimbangkan oleh pemerintah Asmat agar SDM kesehatan merasa tidak dirugikan dan betah berada di Asmat. Oleh karena itu komitmen serta ketegasan pemerintah sangat diperlukan untuk menangani kasus malnutrisi agar tidak semakin menjadi jadi dikemudian hari. Simpulan: Perlunya komitmen dan ketegasan pemerintah untuk mengatas masalah KLB malnutrisi yang terjadi di Asmat. Pemerintah dengan kerjasama lintas sektor untuk menanggulangi kasus ini, agar kedepannya ada jalan keluar yang jelas untuk mencegah dan mengatasi permasalahan malnutrisi di Asmat. Pendayagunaan SDM kesehatan serta peningkatan distribusi dan kualitas SDM kesehtan juga sangat diperlukan untuk mengatasi persoalan ini
Policy brief: penelusuran ancaman kasus TB pada petugas kesehatan di Indonesia
Pendahuluan: Jarak kontak yang cukup dekat petugas kesehatan dengan pasien memudahkan terjadi penularan penyakit TB. Resiko terkena TB pada petugas kesehatan tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum dan meningkat menjadi enam kali dengan bertambahnya akses pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan, kasus HIV AIDS dan TB MDR. Selama ini, penerapan budaya keselamatan manajemen fasilitas pelayanan kesehatan dan perilaku petugas kesehatan dalam mempersepsikan infeksi penularan TB menyebabkan keterlambatan diagnosa dan pengobatan TB. Tidak terdapat data laporan jelas tentang prevalensi kasus TB aktif dan laten pada petugas kesehatan menunjukan kecenderungan menyembunyikan tingginya insiden TB pada petugas kesehatan. Jika pemerintah gagal melindungi petugas kesehatan dari penularan penyakit TB, maka bisa dipastikan semakin berkurangnya SDM yang melayani kesehatan dan mengakibatkan meningkatnya kasus TB di Indonesia. Isi: Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) TB di fasilitas pelayanan kesehatan telah diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2012. Metode pengawasan sistematis yang memastikan dipatuhinya pedoman tersebut belum tersedia. Penelitian yang dilakukan di RSUP Adam Malik, Medan menunjukan bahwa prevalensi TB Laten pada petugas kesehatan sebesar 53%. Faktor yang mempengaruhinya yaitu usia, lama bekerja dan kontak dengan penderita TB. Tingginya prevalensi TB laten petugas kesehatan dipengaruhi oleh besarnya beban infeksi TB pada masyarakat dan difasilitas kesehatan karena banyak kasus TB yang datang berkunjung dan dirawat.Rekomendasi: Kementerian kesehatan dan Dinkes perlu memperkuat kebijakan dan pengembangan strategi komprehensif berbasis bukti untuk menjamin kesehatan petugas dalam bekerja. Kebijakan tersebut terkait laporan data prevalensi dan insiden kasus TB diantara petugas kesehatan, pengawasan pelaksanaan PPI di faskes, sangsi dalam pelanggaran serta mengatur kompensasi untuk petugas kesehatan yang terkena TB akibat kerja. Manajemen faskes dan petugas kesehatan wajib melaksanakan PPI sesuai standar pedoman, melakukan pemeriksaan skrining TB dan HIV tahunan, melaporkan hasilnya kepada instuti terkait serta mengutamakan keselamatan dalam bekerja
Asertivitas ibu hamil terhadap perilaku merokok suami
The assertive intention of pregnant women toward husbands’ smokingPurpose: This study aimed to identify the aspect that influencing the intentions of the assertive behavior of pregnant women related to husbands’ smoking behavior at home.Methods: This study was the part of the thesis as well as part of the Peer Health Secondhand Smoke-Low Birth Weight intervention study in North Lombok District, West Nusa Tenggara Province. Design study in this research used a cross-sectional approach. Secondary data used in this study, which was from baseline data of Peer Health SHS-LBW intervention. The population of this study was pregnant women with gestational age ≤ four months. Sample selection technique used criterion sampling. The number of research samples as many as 1291 respondents. Results: There was a relationship between knowledge (p-value = 0.036; OR= 1.286; CI 95%= 1.017-1.627), attitude (p-value= 0.000; OR = 3.120; CI 95%= 2.444-3.982) and information exposure (p-value= 0.000; OR= 2.497; CI 95%= 1.582-3.942) with the intention of assertive behavior of pregnant women related to husbands’ smoking behavior at home. The existence of the relationship was because the respondents were exposed by the information of the harmful effects of cigarettes, have good knowledge, non-smoker families who support them to behave assertively.Conclusions: Interventions such as increased knowledge and attitudes, as well as the strengthening of smoking ban rules to improve the assertive behavior intention of pregnant women toward husbands smoking behavior at homeTujuan: Mengidentifikasi aspek yang mempengaruhi intensi perilaku asertif ibu hamil terhadap perilaku merokok suami di rumah. Metode: Penelitian ini merupakan bagian dari tesis dan studi intervensi Peer Health SHS-LBW di Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat.Rancangan penelitian menggunakan pendekatan studi cross-sectional. Data yang dianalisis berupa data sekunder, yaitu baseline data dari studi intervensi Peer Health SHS-LBW. Populasi penelitian adalah ibu hamil dengan usia kehamilan ≤ 4 bulan. Teknik pemilihan sampel menggunakan criterion sampling. Sampel penelitian sebanyak 1.291 responden. Hasil: Terdapat hubungan antara pengetahuan (nilai p= 0,036; OR= 1,286; CI 95%= 1,017-1,627), sikap (nilai p= 0,000; OR= 3,120; CI 95%= 2,444-3,982) dan paparan informasi (nilai p= 0,000; OR= 2,497; CI 95%= 1,582-3,942) dengan intensi perilaku asertif. Adanya hubungan tersebut kemungkinan dikarenakan responden telah terpapar informasi bahaya rokok, memiliki pengetahuan yang baik, serta adanya dukungan dari keluarga yang bukan perokok untuk berperilaku asertif. Kesimpulan: Perlunya pemberian intervensi peningkatan pengetahuan dan sikap, disertai penguatan aturan larangan merokok untuk meningkatkan intensi perilaku asertif ibu hamil terhadap perilaku merokok suami di rumah
Aspek budaya, agama, dan medis dari praktik sunat anak perempuan di desa di Jawa Tengah
Cultural, religious, and medical practices of female circumcision in a village in Central JavaPurpose: of this study was to find out the reasons for the practice of female circumcision and medical, religious and cultural considerations in maintaining the practice of circumcision of girls in Penanggungan Village, Gabus Subdistrict, Pati, Central Java. Methods: used is a qualitative research method. The research location is located in Penanggungan Village, Gabus District, Pati, Central Java. The subjects of the research were Penanggungan Village people who circumcised their daughters as many as 20 informants. Data collection uses observation, in-depth interviews, and documentation. Data validity using the triangulation technique. Data analysis uses a qualitative data collection phase consisting of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion. Results: The practice of female circumcision that is still running in Penanggungan Village until now motivated by the belief that the practice of female circumcision must be obeyed. The practice of female circumcision itself becomes a tradition existing in the village of Penanggungan but is not considered a great tradition such as male circumcision, so in its implementation is celebrated in a limited or simple way. The process of the practice of female circumcision takes place in 3 stages, namely the preparation stage, the implementation stage and the stage after the implementation. The process of conducting female circumcision is performed by a midwife. The community still runs the tradition of female circumcision because it is believed that the community can eliminate the suker (daughters) of the child brought by the child since the mother's womb, besides the practice of female circumcision has been running since their parents. This is already inherited as an ancestral heritage, and if the children and grandchildren do not carry out the circumcision, the children and grandchildren are considered not dutiful and do not appreciate the previous parents, because the activities of this girl's circumcision is usually included if the promise is self-cultivating is a prayer activity together to pray for the future girls who are circumcised and pray for the past parents who have died. Whereas the community who chose the midwife to practice the circumcision of girls because the community has believed that the midwife is more skilled in the implementation of female circumcision with the health sciences that midwife took during school and midwife using modern tools as well as sterility to circumcise girls, and factors causing the survival of female circumcision is the factor of the sacredness of female circumcision, the factor of social obligation to implement female circumcision and functional factors of female circumcision (the function of submission to religious leaders, health function and social functions). Conclusions: For the government, it is better to socialize to the community about more correct female circumcision measures and conduct evaluations sustainably related to female circumcision. As for medical personnel, it is necessary to increase the empowerment of knowledge of families/parents who have daughters through Posyandu activities by providing health-related explanations about the importance of maintaining women's reproductive healthLatar belakang: sunat perempuan berjalan karena adanya keyakinan bahwa sunat perempuan adalah bagian ajaran agama islam yang harus dipatuhi. Selain itu sunat perempuan juga dilatarbelakangi oleh adanya keyakinan pada kebudayaan leluhur yang harus dilestarikan. Kebudayaan adalah suatu hasil karya yang diciptakan oleh masyarakat yang dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi selanjutnya secara turun-temurun. Kebudayaan dan masyarakat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Salah satu contoh dari kebudayaan yang ada di masyarakat adalah tradisi sunat. Pengertian sunat secara umum yaitu pemotongan sebagian dari organ kelamin. Sunat ternyata tidak hanya dilaksanakan pada laki-laki saja tetapi juga pada perempuan. Salah satu daerah di Jawa yang masih melaksanakan sunat perempuan yaitu masyarakat Desa Penanggungan Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Masyarakat Desa Penanggungan mempercayai jika sunat perempuan wajib untuk dilaksanakan seperti pada sunat laki-laki.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan-alasan praktik sirkumsisi anak perempuan serta pertimbangan medis, agama dan budaya dalam mempertahankan praktik sirkumsisi anak perempuan di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Lokasi penelitian berada di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Subyek penelitian adalah masyarakat Desa Penanggungan yang menyunatkan anak perempuannya, bidan setempat dan tokoh agama sebanyak 20 Informan. Pengumpulan data memakai observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.Validitas data memakai teknik triangulasi. Analisis data memakai fase pengumpulan data kualitatif yang terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian: Praktik sunat anak perempuan yang masih berjalan di Desa Penanggungan sampai sekarang dilatarbelakangi oleh adanya keyakinan bahwa praktik sunat anak perempuan masuk didalam ajaran agama yang harus dipatuhi. Praktik Sunat perempuan sendiri menjadi tradisi yang ada di Desa Penanggungan tetapi tidak dianggap tradisi yang besar seperti sunat pada laki-laki, sehingga dalam pelaksanaannya dirayakan secara terbatas atau sederhana. Proses praktik sunat perempuan berlangsung dalam 3 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap sesudah pelaksanaan. Proses pelaksanaan sunat perempuan dilakukan oleh dukun ataupun bidan. Masyarakat masih menjalankan tradisi sunat anak perempuan dikarenakan kegiatan ini dipercaya masyarakat dapat menghilangkan suker (kotoran) anak perempuan yang dibawa anak dari sejak didalam kandungan ibu, selain itu praktik sunat perempuan sudah berjalan dari sejak orangtua mereka terdahulu. Hal ini sudah melekat sebagai warisan leluhur, dan jika anak cucu tidak melaksanakan sunat maka anak cucu tersebut dianggap tidak berbakti dan tidak menghargai orangtua terdahulu, karena kegiatan sunat anak perempuan ini biasanya di sertakan acara berjanjen dimana berjanjen sendiri adalah kegiatan berdoa bersama untuk mendoakan masa depan anak perempuan yang disunat beserta mendoakan orangtua terdahulu yang sudah meninggal. Sedangkan masyarakat yang memilih bidan untuk melakukan praktik sunat anak perempuan dikarenakan masyarakat yang telah percaya bahwa bidan lebih terampil dalam pelaksanaan sunat anak perempuan dengan ilmu kesehatan yang bidan tempuh selama sekolah dan bidan menggunakan alat modern serta steril untuk menyunat anak perempuan, dan faktor penyebab bertahannya sunat perempuan yaitu faktor kesakralan sunat perempuan, faktor kewajiban sosial untuk melaksanakan sunat perempuan dan faktor fungsional dari sunat perempuan (fungsi ketundukan pada pemuka agama, fungsi kesehatan dan fungsi sosial). Saran yang dapat penulis rekomendasikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: bagi pemerintah sebaiknya perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai tindakan sunat perempuan yang lebih benar dan melakukan evaluasi terkait dengan sunat perempuan secara berkelanjutan. Sedangkan bagi tenaga medis, perlu meningkatkan pemberdayaan pengetahuan keluarga/orang tua yang mempunyai anak perempuan melalui kegiatan Posyandu dengan memberikan penjelasan terkait kesehatan mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi wanit
Kajian Kasus Difteri di Desa Walitelon Utara, Kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung, Tahun 2018
Pendahuluan: Pada hari Selasa, 03 Juli 2018 Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung mendapat laporan adanya 1 kasus dengan gejala difteri yang dirawat di RSUD Temanggung. Penyelidikan dilakukan untuk memastikan adanya KLB dan upaya penanggulangannya. Metode: Deskriptif kualitatif dengan pendekatan study kasus. Kasus adalah orang dengan gejala panas ±38°C, pseudomembran, bullneck, pilek, dan sulit menelan. Data dikumpulkan dengan kuesioner, wawancara dan obeservasi. Pengambilan spesimen dilakukan terhadap kontak langsung dengan kasus yaitu orang tua, saudara, keluarga dan petugas rumah sakit sebanyak 44 spesimen dari 33 orang untuk pemeriksaan laboratorium. Faktor risiko yang diamati adalah riwayat kontak, riwayat bepergian dan status imunisasi. Hasil: Terjadi KLB Difteri dengan total dua (2) kasus (1 confirm dan 1 probable ( berusia 4,5 dan 13 tahun. Kedua kasus tersebut tidak mempunyai riwayat imunisasi DPT. Kasus pertama terjadi 30 Juni 2018, jika dihitung dari masa inkubasi terpanjang (5 hari), maka diperkirakan paparan terjadi 25 Juni 2018, pada masa inkubasi ini kasus berada dirumah dan melakukan aktifitas dalam lingkungan rumah dan jika dilihat dalam inkubasi terpendek (2 hari) maka paparan Corynebacterium Diphtheriae diperkirakan terjadi pada tanggal 28 Juni 2018. Pada tanggal 27-28 Juni 2018 kasus pertama mempunyai riwayat bepergian ke Banjarnegara dan objek wisata Dieng. Hasil PE di wilayah tempat tinggal kasus dan di Banjarnegara tidak ditemukan kasus/suspect difteri pada keluarga yang dikunjungi ataupun masyarakat sekitar. Cara penularan pada kasus kedua adalah dengan kontak langsung dengan penderita Difteri kasus pertama (adik) dengan waktu paparan kejadian mulai tanggal 30 Juni-02 Juli 2018. Hasil laboratorium yang dilakukan pada 44 spesimen menunjukkan hasil negatif. Simpulan: Telah terjadi KLB Difteri di Desa Walitelon Utara, Kecamatan Temanggung pada 30 Juni 2018 sampai dengan 14 Juli 2018 dengan index case adik Yfa. Cara penularan melalui kontak dengan penderita di lingkungan rumah dan tidak mendapatkan imunisasi. Profilaksis dan ORI adalah upaya dilakukan untuk penguatan dan upaya pencegahan.Kajian Kasus Difteri di Desa Walitelon Utara, Kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung, Tahun 2018Gumson Josua Tampubolon1, Antonius AG1, B. Rahayujati1, Henny Indriyanti2;1 Epidemiologi Lapangan, Universitas Gadjah Mada,2 Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Jawa Tengah Pendahuluan: Pada hari Selasa, 03 Juli 2018 Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung mendapat laporan adanya 1 kasus dengan gejala difteri yang dirawat di RSUD Temanggung. Penyelidikan dilakukan untuk memastikan adanya KLB dan upaya penanggulangannya. Metode: Deskriptif kualitatif dengan pendekatan study kasus. Kasus adalah orang dengan gejala panas ≤38°C, pseudomembran, bullneck, pilek, dan sulit menelan. Data dikumpulkan dengan wawancara dengan kuesioner dan obeservasi. Pengambilan spesimen dilakukan terhadap kontak langsung sebanyak 44 spesimen dari 33 orang untuk pemeriksaan laboratorium. Faktor risiko yang diamati adalah riwayat kontak, riwayat bepergian dan status imunisasi. Hasil: Terjadi KLB Difteri dengan total dua (2) kasus (1 confirm dan 1 probable( berusia 4,5 dan 13 tahun. Kedua kasus tersebut tidak mempunyaki riwayat imunisasi DPT. Kasus pertama terjadi 30 Juni 2018, jika dihitung dari masa inkubasi terpanjang (5 hari), maka diperkirakan paparan Corynebacterium Diphtheriae terjadi 25 Juni 2018 dan jika inkubasi terpendek (2 hari) maka paparan terjadinya KLB Difteri diperkirakan terjadi pada tanggal 28 Juni 2018. Pada tanggal 27-28 Juni 2018 kasus pertama mempunyai riwayat bepergian ke Banjarnegara dan objek wisata Dieng. Akan tetapi, hasil PE di Banjarnegara tidak ditemukan kasus/suspect difteri pada keluarga yang dikunjungi ataupun masyarakat sekitar. Cara penularan pada kasus kedua adalah dengan kontak langsung dengan penderita Difteri kasus pertama (adik) dengan waktu paparan kejadian mulai tanggal 30 Juni-02 Juli 2018. Hasil laboratorium yang dilakukan pada 44 spesimen menunjukkan hasil negatif. Kesimpulan: Telah terjadi KLB Difteri di Desa Walitelon Utara, Kecamatan Temanggung pada 30 Juni 2018 sampai dengan 14 Juli 2018 dengan index case adik Yfa. Cara penularan melalui kontak dengan penderita di lingkungan rumah dan tidak mendapatkan imunisasi. Profilaksis dan ORI adalah upaya dilakukan untuk penguatan dan upaya pencegahan.