Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Social support group berbasis SMS, door to door, dan counseling inspection sebagai service delivery yang dilakukan kader dalam sahabt ibu sejati di Boyolali
Ibu hamil dengan resiko tinggi adalah kondisi yang memerlukan pengawasan dan perhatian khusus. Untuk mewujudkan diperlukan adanya terobosan yang langsung melakukan pengawasan. Pengawasan dan perhatian diperlukan untuk mecegah terjadinya komplikasi kehamilan yang berakibat kematian. Kematian Ibu saat kehamilan, persalinan dan masa nifas masih menjadi ancaman yang serius. Bahkan menjadi sangat penting karena menjadi indikator keberhasilan suatu daerah dalam hal mensejahterakan masyarakat, adanya kasus kematian ibu menjadi tolak ukur kesehatan suatu bangsa, sehingga dunia pun perlu membuat dokumen yang tertuang di dalam Sustainable Development Goal (SDGs) di antaranya adalah menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi penduduk pada tahun 2030 dengan salah satu strateginya melakukan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), targetnya dengan mengurangi AKI hingga di bawah 70 per 100.000 KH [1]. Kematian ibu sebagian disebabkan karena minimnya informasi kesehatan, jauh dari akses pelayanan kesehatan dan penanganan persalinan yang terlambat. Owolabi (2014) menyatakan proses kelahiran di rumah paling umum di daerah pedesaan dan terjadi pada keluarga miskin, serta banyak dari kelahiran ini ditolong oleh Petugas Kelahiran Tradisional (dukun) [2].Kegiatan pelayanan ibu hamil terutama yang mengalami resiko tinggi selama ini masih fokus berada di dalam gedung (puskesmas), sementara pengawasan di luar gedung masih belum begitu maksimal, masih bergantung kepada keluarga. Peranan kader yang terampil di masyarakat diharapkan mampu melakukan pengawasan terhadap ibu hamil, di Nigeria ketersediaan tenaga terampil ditambah dengan lingkungan yang memungkinkan untuk menyediakan pelayanan obstetrik merupakan tindakan yang sangat penting serta pelayanan dan perawatan neonatal dibutuhkan untuk mencapai penurunan yang signifikan dalam kematian ibu dan bayi [3].Peranan kader masyarakat di Kabupaten Boyolali melalui program sahabat ibu sejati sangat di butuhkan untuk membantu memberikan motivasi ibu hamil di pedesaan yang jarang hadir di posyandu, maupun pemeriksaan kondisi kesehatan janin serta berperan untuk memotivasi ibu di pedesaan untuk melakukan persalinan di pelayanan kesehatan, upaya-upaya tersebut dilakukan untuk mencegah kasus kematian yang tidak diinginkan, Andrews et.al (2004) mengungkapakan keuntungan menggunakan kader atau petugas kesehatan masyarakat adalah memberikan dukungan sosial dan perawatan yang kompeten secara budaya, serta hemat biaya [4]. Kader masyarakat yang direkrut merupakan ibu yang berada di sekitar ibu hamil dan pernah merasakan kondisi hamil sehingga secara ikatan emosional memiliki kesamaan rasa, budaya, dan setara. Kader masyarakat ini telah mendapatkan pelatihan dan pendidikan dari puskesmas setempat.Ada 3 modus layanan kader yang terintegrasi untuk mewujudkan satiti. pertama adalah melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk menemukan ibu hamil baru, bila menjumpai ibu hamil baru, kader akan menyampaikan informasi melalui aplikasi Lapor Bumil melalui SMS ke nomor 08156758888 sehingga data ibu hamil akan tersimpan di bank data di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali dan akan di filter sesuai wilayah kerja puskesmas , kedua kader akan melakukan kegiatan konseling melalui data ibu hamil yang sudah tercatat di SMS maupun aplikasi Satiti berbasis android, konseling yang dilakukan adalah mengingatkan ibu hamil untuk memeriksakan usia kehamilan serta memotivasi sesuai informasi kesehatan yang diterima ibu hamil melalui SMSBunda. Aplikasi SMS Bunda merupakan layanan berbasis SMS yang memberikan informasi kesehatan pada masa kehamilan, masa nifas, dan sampai anak berusia 2 tahun atau selama 1000 hari pertama kehidupan. Selama 1 periode tersebut Ibu Hamil akan menerima 152 SMS, Jareethum et.al [5] mengatakan Kepuasan Wanita Hamil Menerima Layanan Pesan Pendek melalui Ponsel untuk Dukungan Prenatal, ketiga kader akan melaporkan kondisi ibu hamil kepada bidan koordinator di puskesmas.Ibu hamil dengan resiko tinggi adalah kondisi yang memerlukan pengawasan dan perhatian khusus. Untuk mewujudkan diperlukan adanya terobosan yang langsung melakukan pengawasan. Pengawasan dan perhatian diperlukan untuk mecegah terjadinya komplikasi kehamilan yang berakibat kematian. Kematian Ibu saat kehamilan, persalinan dan masa nifas masih menjadi ancaman yang serius. Bahkan menjadi sangat penting karena menjadi indikator keberhasilan suatu daerah dalam hal mensejahterakan masyarakat, adanya kasus kematian ibu menjadi tolak ukur kesehatan suatu bangsa, sehingga dunia pun perlu membuat dokumen yang tertuang di dalam Sustainable Development Goal (SDGs) di antaranya adalah menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi penduduk pada tahun 2030 dengan salah satu strateginya melakukan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), targetnya dengan mengurangi AKI hingga di bawah 70 per 100.000 KH [1]. Kematian ibu sebagian disebabkan karena minimnya informasi kesehatan, jauh dari akses pelayanan kesehatan dan penanganan persalinan yang terlambat. Owolabi (2014) menyatakan proses kelahiran di rumah paling umum di daerah pedesaan dan terjadi pada keluarga miskin, serta banyak dari kelahiran ini ditolong oleh Petugas Kelahiran Tradisional (dukun) [2].Kegiatan pelayanan ibu hamil terutama yang mengalami resiko tinggi selama ini masih fokus berada di dalam gedung (puskesmas), sementara pengawasan di luar gedung masih belum begitu maksimal, masih bergantung kepada keluarga. Peranan kader yang terampil di masyarakat diharapkan mampu melakukan pengawasan terhadap ibu hamil, di Nigeria ketersediaan tenaga terampil ditambah dengan lingkungan yang memungkinkan untuk menyediakan pelayanan obstetrik merupakan tindakan yang sangat penting serta pelayanan dan perawatan neonatal dibutuhkan untuk mencapai penurunan yang signifikan dalam kematian ibu dan bayi [3].Peranan kader masyarakat di Kabupaten Boyolali melalui program sahabat ibu sejati sangat di butuhkan untuk membantu memberikan motivasi ibu hamil di pedesaan yang jarang hadir di posyandu, maupun pemeriksaan kondisi kesehatan janin serta berperan untuk memotivasi ibu di pedesaan untuk melakukan persalinan di pelayanan kesehatan, upaya-upaya tersebut dilakukan untuk mencegah kasus kematian yang tidak diinginkan, Andrews et.al (2004) mengungkapakan keuntungan menggunakan kader atau petugas kesehatan masyarakat adalah memberikan dukungan sosial dan perawatan yang kompeten secara budaya, serta hemat biaya [4]. Kader masyarakat yang direkrut merupakan ibu yang berada di sekitar ibu hamil dan pernah merasakan kondisi hamil sehingga secara ikatan emosional memiliki kesamaan rasa, budaya, dan setara. Kader masyarakat ini telah mendapatkan pelatihan dan pendidikan dari puskesmas setempat.Ada 3 modus layanan kader yang terintegrasi untuk mewujudkan satiti. pertama adalah melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk menemukan ibu hamil baru, bila menjumpai ibu hamil baru, kader akan menyampaikan informasi melalui aplikasi Lapor Bumil melalui SMS ke nomor 08156758888 sehingga data ibu hamil akan tersimpan di bank data di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali dan akan di filter sesuai wilayah kerja puskesmas , kedua kader akan melakukan kegiatan konseling melalui data ibu hamil yang sudah tercatat di SMS maupun aplikasi Satiti berbasis android, konseling yang dilakukan adalah mengingatkan ibu hamil untuk memeriksakan usia kehamilan serta memotivasi sesuai informasi kesehatan yang diterima ibu hamil melalui SMSBunda. Aplikasi SMS Bunda merupakan layanan berbasis SMS yang memberikan informasi kesehatan pada masa kehamilan, masa nifas, dan sampai anak berusia 2 tahun atau selama 1000 hari pertama kehidupan. Selama 1 periode tersebut Ibu Hamil akan menerima 152 SMS, Jareethum et.al [5] mengatakan Kepuasan Wanita Hamil Menerima Layanan Pesan Pendek melalui Ponsel untuk Dukungan Prenatal, ketiga kader akan melaporkan kondisi ibu hamil kepada bidan koordinator di puskesmas
Pemberian home made healthy food atau ready to eat sebagai alternatif strategi pemberian makanan tambahan
Pemberian Home Made Healthy Food (Ready to Eat) Sebagai Alternatif Strategi PMT(Arisanti, Yunita1, KMPK 2017 Pascasarjana IKM FKKMK UGM)Latar Belakang : Di Indonesia, saat ini tercatat 4,5% dari 22 juta balita atau 900 ribu balita di Indonesia mengalami gizi kurang atau gizi buruk dan mengakibatkan lebih dari 80% kematian anak (Kemenkes, 2012). Stunting dan under nutrition juga lebih tinggi di daerah pedesaan, daerah yang sering mengalami kekeringan panjang, kabupaten rawan pangan dan daerah yang sulit akses. Populasi rentan yang ingin ditanggulangi dalam program ini adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang mengalami malnutrisi pada masyarakat dengan penghasilan dibawah satu juta rupiah.Tujuan : Dapat memberikan inovasi dalam rangka strategi pemberian makanan tambahan di posyandu bagi populasi rentan dengan memanfaatkan sumber daya lokal, baik dari bahan pangannya, pelaksana kegiatan dan pendanaan dari desa (dana desa dan subsidi bank sampah).Hasil : Bentuk kegiatan dalam program ini adalah Ibu Dukuh ditunjuk menjadi koordinator dan pengawas kegiatan karena dianggap mampu menggerakkan anggota PKK mengatasi malnutrisi di wilayah padukuhannya. Pendistribusian dilakukan oleh kader di tiap dusun dan sasaran program cukup membalas dengan memberikan sampah yang masih bisa dijual. Kelebihan dari program ini adalah pemberian makanan tambahan langsung diberikan dalam bentuk jadi, ibu tidak perlu repot memasak, standar gizi terpenuhi, dan waktu pemberian teratur dua kali sehari.Kesimpulan : Tim dapur umum padukuhan dapat dikembangkan di pedesaan yang masih kental nuansa gotong royong dan jiwa sosialnya dengan layanan pemberian makanan ready to eat (home made healthy food) sebagai alternatif model pemberian PMT dalam rangka penanggulangan gizi buruk dan ketahanan pangan terhadap populasi rentan yang mengalami malnutrisi, yang keberlangsungan program ini menjadi tanggung jawab masyarakat desa tersebut. Puskesmas berfungsi sebagai supporting staff yang mendampingi dan turut mengawasi program ini
Penerapan collaborative learning bagi pendidik sebaya di sekolah tentang pendidikan seksual dengan metode evalusi Kirkpatrick
Latar belakang: Pendidikan seksual merupakan hal yang penting dalam kehidupan remaja guna meningkatkan pengetahuan remaja dalam konteks biologis, kognitif dan sosial emosional, progresi perkembangan dan isu-isu remaja. Pendidik/tutor sebaya merupakan metode pendidikan yang terbukti dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan remaja dalam meningkatkan perilaku seksual yang aman di kalangan mahasiswa dalam perilaku seksual. Salah satu metode baru yang dapat diaplikasikan dalam pelatihan pendidik/tutor sebaya dengan tujuan tersebut di atas adalah dengan collaborative learning. Dalam pelaksanaannya, metode collaborative learning perlu dievaluasi. Peneliti akan menggunakan metode evaluasi Kirkpatrick. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil penerapan metode collaborative learning dievaluasi menurut metode Kirkpatrick bagi pendidik sebaya tentang pendidikan seksual di sekolah.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kuantitatif dengan disain quasi experimental. Pendidik/tutor sebaya dari 2 sekolah dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol.Hasil: Sebagian besar peserta kelompok intervensi puas dengan hasil pelatihan. Ada peningkatan pengetahuan dan keterampilan pada kelompok kontrol dan intervensi pada saat pretest dan posttest. Peningkatan pengetahuan dan keterampialn peserta dengan pelatihan collaborative learning lebih baik dibanding dengan kelompok kontrol' Kelompok intervensi melakukan kegiatan hasil dari pelatihan collaborative learning yang diberikan.Kesimpulan: Dengan pelatihan metode collaborative learning, peserta bertambah pengetahuan dan keterampilan secara signifikan setelah mendapatkan pelatihan collaborative learning dibandingkan dengan kelompok kontrol, peserta menerapkan hasil pelatihan tentang pendidikan seksual di sekolah seperti melakukan penyuluhan kesehatan dan pembagian brosur tentang pendidikan seksual.Evaluation of collaborative learning for peer educators of sexual education with Kirkpatrick methodPurposeThis research aimed to evaluate the collaborative learning outcomes of the application of Kirkpatrick method for peer educators on sexual education in schools. MethodThis research was a quantitative study with a quasi-experimental design. Educators/peer tutors from two schools were grouped into two groups, namely the intervention group and the control group. ResultsResults of the study describes the Kirkpatrick evaluation on collaborative learning methods in peer educators in schools, namely: 1) The majority of participants were satisfied with the results of the intervention group training; 2) there was an increase in knowledge and skills in the control group and intervention during the pretest and posttest; 3) increased knowledge and skills of collaborative learning participants with better training than in the control group; and 4) the intervention group could conduct collaborative learning as a result of the training given. ConclusionThrough the training methods of collaborative learning, the knowledge and skills of participants increased significantly compared to the control group, and participants could apply the training about sexual education in schools while doing health education and distributing brochures on sexual education
Menguras dan menutup sebagai prediktor keberadaan jentik pada kontainer air di rumah
Latar belakang: Penyakit berbasis menular vektor menjadi salah satu masalah di Kecamatan Jonggol. Kecamatan Jonggol merupakan kecamatan bersatatus endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bogor dan satu-satunya dari 10 kecamatan dengan kasus DBD terbanyak yaitu 197 orang sepanjang 3 tahun (2013 –2015) terakhir yang wilayahnya berkarakteristik pedesaan. Kasus DBD mengindikasikan adanya keberadaaan jentik Aedes Aegypti yang dipengarui oleh perilaku masyarakat serta kondisi kontainer. Angka bebas jentik Kecamatan Jonggol sebesar 68,45% masih dibawah target nasional sebesar 95%. Penelitian ini bertujuan mengetahui determinan faktor yang mempengaruhi keberadaan jentik.Metode: Penelitian menggunakan desain studi cross sectional dengan populasi adalah semua rumah tangga yang memiliki kontainer dan sampel berjumlah 180 orang dengan tehnik multistage random sampling.Hasil: Hasil uji statistic menunjukkan terdapat keberadaan jentik berhubungan dengan tindakan menutup (p= 0041) dan menguras ( p=0,032) kontainer. Adapun variabel yang tidak berhubungan adalah pengetahuan, tindakan menggunakan abate, memelihara ikan pemakan jentik, mengubur barang bekas, letak kontainer, keberadaan penutup kontainer, jumlah kontainer, dan sumber air (p>0,05).. Faktor yang paling berpengaruh terhadap keberadaan jentik adalah tindakan menguras kontainer dengan koef B=0,889 OR = 2,457 (95% CI 1,212 – 4,981).Kesimpulan: Masyarakat disarankan untuk menguras kontainer minimal seminggu sekali dan menutup rapat kontainer setelah digunakan. Pihak puskesmas beserta pemerintah kecamatan Jonggol diharapkan meningkatkan koordinasi dengan mayarakat dan kader daam pengecekan jentik nyamuk sebagai upaya dini dalam pemberanratasan vector dan pencegahan DBD.Cleaning and closing as predictors of the presence of larvae in water container at homePurpose: This study evaluated the population practices related to the prevention of dengue in particular to the presence of mosquito larvae in the home. Methods: A cross-sectional study was conducted involving 180 respondents who had containers at home. Knowledge and behavior data were obtained from interviews with questionnaires. The larva presence data was performed by larvae observation with single larvae technique and observation of container condition. Results: Larvae was found in 37 percent of the house. The behavior of the inhabitants still does not support the prevention of mosquito larvae at home, which does not cover containers (40%), does not drain the containers (25%), does not keep larvae (97%), and does not bury used goods (90%). The presence of larvae is related to the act of cleaning and closing the container. Conclusion: Cleaning and closing container are the most influential factors of the presence of larvae. People are advised to clean the container at least once a week and close the container. Primary health care and local government are expected to improve coordination with the community as a preliminary effort in vector and prevention of dengue fever. AbstrakTujuan: Penelitian ini mengevaluasi praktik penduduk terkait dengan upaya pencegahan demam berdarah khususnya terhadap keberadaan jentik nyamuk di rumah. Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan melibatkan 180 responden yang memiliki kontainer di rumah. Data pengetahuan dan perilaku diperoleh dari wawancara dengan kuesioner. Data keberadaan jentik dilakukan melalui pengamatan jentik dengan teknik single larva dan observasi kondisi kontainer. Hasil: Jentik ditemukan di 37 persen rumah. Perilaku penduduk masih belum mendukung pencegahan keberadaan jentik nyamuk di rumah, yang mencakup tidak menutup kontainer (40%), tidak menguras kontainer (25%), tidak memelihara ikan pemakan jentik (97%), dan tidak mengubur barang bekas (90%). Keberadaan larva terkait dengan tindakan menutup kontainer dan menguras kontainer. Simpulan: Menguras dan menutup kontainer adalah faktor paling berpengaruh terhadap keberadaan jentik. Masyarakat disarankan untuk menguras wadah minimal seminggu sekali dan menutup wadah setelah digunakan. Perawatan kesehatan primer dan pemerintah daerah Jonggol diharapkan dapat meningkatkan koordinasi dengan masyarakat dan kader pemeriksaan nyamuk sebagai usaha awal dalam vektor dan pencegahan demam berdarah
KEPUASAN MAHASISWA DALAM MENTORING PENYUSUNAN PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH DI PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK
“Difficult to meet supervisor” and “lack of feedbacks”: student’s perception of problems in writing final year project in undergraduate program Objective: This study explores the role of mentoring felt by the students involved in the making. Specifically, we want to disclose what students consider helpful and what is considered to be less helpful for final project preparation. Methods: Respondents were 82 third year nursing students at Poltekkes Kemenkes Pontianak who were writing thesis. The questionnaire consisted of 16 questions consisting of (a) lecturer-student communication and interaction, (b) mentoring roles and responsibilities, and (c) quality of mentorship. The questionnaire consisted of a question following the items in Beck et al.’s research, measured by a Likert scale consisting of good, moderate, and less. Six students were taken for in-depth interviews, selected based on different counselors. Results: Of the 16 themes about mentoring, “pretty good” at most for all items. Item analysis showed support of several concerns that have been predicted. Although “like the guiding figure” and “feel the support of lecturers including two things that stand out in the opinion of students about thesis supervisor figure. Students reported two main issues in their mentoring process: “advisers are difficult to see” and “lack of meaningful input from advisers”. Conclusion: Student satisfaction in mentoring is influenced by the quality of the mentors. Students feel satisfied if the characteristics, roles and responsibilites of the supervisor in accordance with student expectations. This study ensures that there are limitations in the availability and seriousness of the lecturers in thesis coaching. Further studies on mentorship and support capacity are needed. AbstrakTujuan: Penelitian ini mengeksplorasi peran mentoring yang dirasakan oleh mahasiswa terkait dalam pembuatan. Secara spesifik, kami ingin mengungkapkan hal-hal apa yang dianggap mahasiswa membantu dan hal seperti apa yang dianggap kurang membantu penyusunan tugas akhir. Metode: Responden adalah 82 mahasiswa keperawatan tahun ketiga di Poltekkes Kemenkes Pontianak yang sedang menulis skripsi. Kuesioner terdiri dari 16 pertanyaan yang terdiri dari (a) komunikasi dan interaksi dosen-mahasiswa, (b) peran dan tanggung jawab pembimbingan, dan (c) kualitas pembimbingan. Kuesioner terdiri dari pertanyaan mengikuti item dalam penelitian Beck et al., diukur dengan skala Likert terdiri dari baik, cukup, dan kurang. Enam mahasiswa diambil untuk wawancara mendalam, dipilih berdasarkan pembimbing yang berbeda. Hasil: Dari 16 tema tentang pembimbingan, “cukup baik” paling banyak untuk semua item. Analisis perbandingan antar item membuktikan kekhawatiran yang sering mengemuka. Meskipun “menyukai sosok pembimbing” dan “merasa mendapat dukungan dari dosen termasuk dua hal yang menonjol dalam pendapat mahasiswa tentang sosok pembimbing skripsi. Penelitian ini melaporkan dua hal yang paling mencolok terkait dengan proses pembimbingan: dosen tidak mudah ditemui dan mahasiswa tidak merasa mendapat masukan yang berarti dalam proses belajar. Simpulan: Studi ini mengukuhkan keterbatasan dalam kapasitas dari dosen dalam pembimbingan skripsi. Studi lebih lanjut tentang kapasitas pembimbing dan dukungan untuk mereka sangat mendesak.Latar belakang : Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional menempatkan SDM kesehatan menjadi salah satu pilar pembangunan kesehatan. Pembangunan SDM kesehatan yang berkualitas memiliki andil yang cukup besar dalam mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. WHO (2006) menyatakan ada empat masalah besar terkait kondisi SDM kesehatan yang ada di lapangan sekarang ini yaitu ketersediaan tenaga yang tidak merata, kompetensi yang dimiliki berbeda-beda, kemampuan merespon yang lemah dan produktifitas yang dihasilkan kurang. Keempat faktor tersebut menjadi tantangan besar bagi institusi pendidikan kesehatan karena mereka memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan SDM Kesehatan yang nantinya bekerja di bidang pelayanan kesehatan. Mentoring adalah salah satu layanan yang diberikan oleh perguruan tinggi kepada setiap mahasiswa selama perkuliahan, dengan tujuan untuk membantu kelancaran belajar mahasiswa selama mengikuti kegiatan akademik di kampus. Mentoring yang dilakukan kepada mahasiswa dengan strategi yang jelas dan sistematis bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan belajar mahasiswa dan pengembangan profesionalisme mahasiswa, oleh karena itu institusi pendidikan keperawatan sudah seharusnya memperkuat program mentoring kepada mahasiswanya untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.Tujuan Penelitian : Mengetahui gambaran kepuasan mahasiswa dalam mentoring penyusunan proposal karya tulis ilmiah di Program Studi Diploma III Keperawatan Poltekkes Kemenkes PontianakMetode Penelitian : Penelitian mixed method study dengan model concurrent embedded rancangan penelitian survey dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data melalui kuisioner dengan jumlah sampel sebanyak 82 orang dan melalui wawancara dengan jumlah sampel sebanyak 6 orang. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Analisis univariat dan bivariate data kuantitatif menggunakan chi square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik, dan analisa data kualitatif menggunakan content analisis.Hasil Penelitian : Mahasiswa yang puas dalam mentoring sebanyak 44 orang (53,65%) dan yang tidak puas sebanyak 38 orang (46,35%). Ada hubungan yang signifikan antara kepuasan dengan karakteristik, peran dan tanggung jawab pembimbing dalam mentoring penyusunan proposal karya tulis ilmiah dengan nilai p-value < 0,05.Kesimpulan : Kepuasan mahasiswa dalam mentoring dipengaruhi oleh kualitas dari pembimbing. Mahasiswa merasa puas jika karakteristik, peran dan tanggung jawab yang dimiliki oleh pembimbing sesuai dengan harapan mahasiswa.
Komunitas perokok di kedai kopi: tantangan untuk promosi kesehatan
The intention of behavior to come to the coffee shop in Bengkalis societyPurpose: Smoking while drinking coffee at the coffee shop every morning are the behavior of society in Bengkalis. Those habits facilitate a person to interact with one another. Tar and nicotine in cigarette and caffeine in coffee conformity impair health, especially in the cardiovascular system. A qualitative study has to be done, to explore the intention of people to come to the coffee shop.Methods: Descriptive explorative research with a qualitative approach. Subjects were 5 visitors who smoke and drink coffee, 2 visitors who don’t smoke and don’t drink coffee, 2 coffee shop owners and a coffee shop worker in Bengkalis. Samples are taken by purposive sampling, the research did until getting saturated data. Data collection by participant observation and in-depth interview. Data analysis did with content analysis.Results: This research showed the intention of people to come to the coffee shops: having breakfast (drink, eat, smoke), meeting (chat, discuss, lobby, campaign), and looking for a chance (information, relation, promotion). That intention is influenced by attitude, subjective norm, and perceived control. Attitudes: come to the coffee shop are a habit, important, and necessity, visitors support this habit; subjective norm: perception about the importance of social interaction to get information and relations; and perceived control behavior: no wife support, advice from doctor, and prohibition of civil servant at coffee shop in working time.Conclusion: The intention is influenced by attitude, perception about social encouragement, and perceived control behavior to come to the coffee shop. The intervention of health promotion is needed with emphasizing factors that influence visitors’ intention to come to the coffee shop.Tujuan: Merokok sambil minum kopi di kedai kopi setiap pagi merupakan kebiasaan masyarakat di Bengkalis. Kebiasaan tersebut merupakan media untuk berinteraksi antara pengunjung yang satu dengan yang lainnya. Tar dan nikotin yang yang ada di dalam rokok dan kafein yang terkandung di dalam kopi secara bersamaan dapat merusak kesehatan, khususnya pada sistem kardiovaskuler. Studi kualitatif perlu untuk dilakukan untuk mengeksplorasi intensi pengunjung untuk datang ke kedai kopi.Metode: jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 5 orang pengunjung kedai kopi yang merokok dan minum kopi, 2 orang pengunjung yang tidak merokok dan tidak minum kopi, 2 orang pemilik kedai kopi dan 1 orang karyawan kedai kopi. Sampel diambil dengan purposive sampling. Pengumpulan data terus dilakukan hingga mencapai titik saturasi jenuh. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipasi dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan analisis konten.Hasil Penelitian: Hasil penelitian memaparkan intensi yang melatarbelakangi pengunjung untuk datang ke kedai kopi, yaitu: untuk sarapan (minum, makan, merokok), bertemu rekan (ngobrol, diskusi, lobi, kampanye), dan mencari peluang berupa (informasi, relasi, promosi). Intensi tersebut dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku. Sikap pengunjung terhadap kedai kopi: datang ke kedai kopi merupakan kebiasaan, kegiatan yang penting, dan merupakan kebutuhan, sehingga pengunjung dengan antusias datang ke kedai kopi; norma subjektif pengunjung datang ke kedai kopi: menganggap penting interaksi sosial untuk mendapatkan informasi dan relasi di kedai kopi; dan kontrol perilaku: istri pengunjung yang tidak mendukung kebiasaan datang ke kedai kopi, nasihat dari dokter untuk tidak merokok, dan larangan PNS di kedai kopi saat jam kerja.Kesimpulan: Intensi pengunjung untuk datang ke kedai kopi dipengaruhi oleh sikap pengunjung yang antusias dan mendukung terhadap kebiasaan datang ke kedai kopi, persepsi tentang dorongan sosial dan kontrol perilaku untuk datang ke kedai kopi
Fatalitas dan analisis apasial lokasi rawan kcelakaan lalu lintas di kabupaten Gunungkidul
Fatality and spatial analysis of road traffic accident in Gunung KidulPurposeThis study is aimed to conduct further analysis of road accidents fatality and accident-potential area using geographic information system.MethodsThis was an analytic observational study using cross-sectional study design. Samples are all traffic accident recorded in police departement accident registry from January 1st to December 31st 2015. Data will be analyzed using poisson regression with robust variance and accident location will be analyzed spatially using ArcGIS 10.4 software.ResultsThe result revealed that 06.00-11.59 a.m (PR 0.31, 95% CI 0.144-0.687) or 12.00-17.59 p.m (PR 0.40; 95% CI 0.184-0.865), uphill roadway geometric (PR 2.16, 95% CI 1.144-4.094) or winding roadway (PR 1.80, 95% CI 1.013-3.213) and single accident type (PR 3.59; 95% CI 1.953-6.592) were significant factors affecting road traffic fatalities. Accident-prone locations to traffic accidents in Gunungkidul are clustered on several streets, such as Yogyakarta-Wonosari Street, Karangmojo-Semin Road, Wonosari Semanu Street and Wonosari Baron Street..ConclusionsFatal traffic accident in Gunungkidul are influenced by environmental conditions and accident types. Multisectoral coordination was needed to improve intervention to population at risk and stakeholders need to make efforts to modify the environment related to road geometric conditions to minimize the occurrence of accidents.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap fatalitas kecelakaan dan mengidentifikasi lokasi rawan terjadinya kecelakaan.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Sampel adalah seluruh kejadian kecelakaan yang tercatat dalam register kecelakaan kepolisian Gunungkidul periode 1 Januari - 31 Desember 2015. Fatalitas kecelakaan akan dianalisis menggunakan uji poisson regression untuk mengestimasi nilai Prevalence Ratio (PR). Lokasi terjadinya kecelakaan akan dianalisis secara spasial menggunakan software ArcGIS 10.4.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada pukul 06.00-11.59 (PR 0,31; 95% CI 0,144-0,687) atau 12.00-17.59 (PR 0,40; 95% CI 0,184-0,865), pada jalan menanjak/menurun (PR 2,16; 95% CI 1,144-4,094) atau jalan menikung (PR 1,80; 95% CI 1,013-3,213) serta tipe kecelakaan tunggal (PR 3,59; 95% CI 1,953-6,592) merupakan faktor yang signifikan mempengaruhi fatalitas kecelakaan lalu lintas. Ruas jalan yang memiliki tingkat kerawanan kecelakaan lalu lintas mengelompok di beberapa ruas jalan, antara lain Jalan Yogyakarta-Wonosari, Jalan Karangmojo-Semin, Jalan Wonosari Semanu dan Jalan Wonosari Baron.Kesimpulan: Fatalitas kecelakaan lalu lintas di Gunungkidul dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan tipe kecelakaan. Stakeholder terkait perlu melakukan upaya modifikasi lingkungan terkait kondisi geometrik jalan untuk meminimalisis terjadinya kecelakaan.tes
Analisis risiko kesehatan akibat pajanan timbal (Pb) dalam biota laut pada masyarakat sekitar Teluk Kendari
Analysis of health risk due to lead (Pb) exposure in marine biota on the community around Kendari BayPurpose: To understand the risk level of health problem because of the lead exposure found on fish and shellfish that was consumed by community around Kendari bay.Methods: This study was an analytical observational through a cross sectional study design by combining Environmental Health Risk Analysis (ARKL) and Environmental Health Epidemiology (EKL) approaches. Population around Kendari bay was taken using proportional sampling criteria. The marine biotas in this study were 30 fish samples of 3 kind of most consumed fish and shellfish from 6 fishponds in Kendari bay. Measurement of lead content on it was made by Atomic Absorption Spectrometry (AAS).Results: The results of the study shows the lead content on fish and shellfish were 0,0027-0,0095 mg/kg and 0,1026-0,1097 mg/kg respectively while intake rapidity of fish and shellfish 0,0051 mg/kg/day and 0,016 mg/kg/day respectively. Health risk level of consuming contaminated fish was 1.29 while the contaminated shellfish was 4.03.Conclusions: The community around Kendari Bay has a risk of health problems (RQ> 1) due to lead exposure, therefore it needs to be controlled
Evaluasi pelaksanaan upaya kesehatan masyarakat di wilayah kecamatan Jatinegara dan kecamatan Matraman kota administrasi Jakarta Timur tahun 2016
Human resource and organizational capacity of public health programs in two sub-districts of East JakartaIntroduction: The current health policy priorities and focus are increasingly showing that public health programs are the same or even more important than medical treatment in improving the health status of the population. Although the government has asked the community health centers and local administrators to focus on the development and implementation of public health programs, very few studies in Indonesia have focused on the ability of government organizations to actually implement public health programs. This study evaluates the relationship between public health outcomes and the relationship with availability of human resources and program implementation capacity of government organizations. Methods: The data comes from reported minimum service standards (SPM) in public health and clean and healthy living behavior (PHBS), the survey and in-depth interviews of 46 respondents from 17 community health centers and 14 urban villages in two sub-districts - Matraman and Jatinegara - in East Jakarta. Results: The study found that health outcome indicators in the two study areas were lower than national average outcomes despite adequate availability of tbs. In addition, the administrative and management capacity of the implementation process in the field is not as expected. Conclusions: This study showed the paradox of resource availability and the weakness in intersectoral collaboration and in program implementation management. Based on this, we discuss three implications. First, the cross-sectoral authority of the mayor should be the advocacy focus among public health community interest groups. Secondly, the hamlet administrators should improve their implementation management capacity to have more effective programs. Third, community health centers should have human resources equipped with program management and intersectoral advocacy competencies.AbstrakLatar belakang: Prioritas dan fokus kebijakan kesehatan yang berkembang saat ini makin menunjukkan bahwa program public health adalah sama atau bahkan jauh lebih penting daripada tekanan pengobatan dalam meningkatkan status kesehatan penduduk. Meski pemerintah telah meminta puskesmas dan kelurahan fokus pada pengembangan dan pelaksanaan program-program public health, sedikit studi melaporkan kemampuan organisasi pemerintah yang benar-benar mengerjakan fungsi ini. Penelitian ini mengevaluasi hubungan capaian program public health dan apakah capaian itu didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia dan kapasitas implementasi program dari organisasi pemerintah. Metode: Data berasal dari “standar pelayanan minimal” kesehatan masyarakat dan “perilaku hidup bersih dan sehat” (PHB), survei dan wawancara mendalam terhadap 46 responden dari 17 puskesmas dan 14 kelurahan di dua kecamatan - Matraman dan Jatinegara - di Jakarta Timur. Hasil: Penelitian ini menemukan bahwa indikator capaian kesehatan di daerah penelitian di kota besar seperti Jakarta adalah lebih rendah dari capaian rata-rata nasional meskipun memiliki ketersediaan sdm yang memadai. Selain itu, kapasitas administrasi dan manajemen proses implementasi di lapangan tidak seperti yang diharapkan. Simpulan: Studi ini menunjukkan paradoks antara ketersediaan sumber daya dan kapasitas yang lemah dalam kolaborasi lintas sektoral dan dalam manajemen implementasi program. Kami mendiskusikan 3 faktor penting yang harus menjadi perhatian dalam pengembangan dan implementasi upaya public health di Jakarta. Pertama, peran lintas sektoral yang jadi kewenangan dari walikota harus mendapat advokasi yang besar dari masyarakat public health. Kedua, administrator kelurahan memiliki kapasitas manajemen implementasi agar program-program dirasakan oleh penduduk setempat. Ketiga, puskesmas memiliki sdm dengan kemampuan manajerial dan bekerja sama dengan sektor lain yang bekerja fokus untuk upaya kesehatan masyarakat.Evaluation of community health implementation in Jatinegara district and Matraman, East Jakarta 2016Introduction. The current health policy priorities and focus are increasingly showing that public health programs are the same or even more important than medical treatment in improving the health status of the population. Although the government has asked the community health centers and local administrators to focus on the development and implementation of public health programs, very few studies in Indonesia have focused on the ability of government organizations to actually implement public health programs. This study evaluates the relationship between public health outcomes and the relationship with availability of human resources and program implementation capacity of government organizations. Methods. The data comes from reported minimum service standards (SPM) in public health and clean and healthy living behavior (PHBS), the survey and in-depth interviews of 46 respondents from 17 community health centers and 14 urban villages in two sub-districts - Matraman and Jatinegara - in East Jakarta. Results. The study found that health outcome indicators in the two study areas were lower than national average outcomes despite adequate availability of tbs. In addition, the administrative and management capacity of the implementation process in the field is not as expected. Conclusions. This study showed the paradox of resource availability and the weakness in intersectoral collaboration and in program implementation management. Based on this, we discuss three implications. First, the cross-sectoral authority of the mayor should be the advocacy focus among public health community interest groups. Secondly, the hamlet administrators should improve their implementation management capacity to have more effective programs. Third, community health centers should have human resources equipped with program management and intersectoral advocacy competencies.Tujuan: Prioritas dan fokus kebijakan kesehatan yang berkembang saat ini makin menunjukkan bahwa program public health adalah sama atau bahkan jauh lebih penting daripada tekanan pengobatan dalam meningkatkan status kesehatan penduduk. Meski pemerintah telah meminta puskesmas dan kelurahan fokus pada pengembangan dan pelaksanaan program-program public health, sedikit studi melaporkan kemampuan organisasi pemerintah yang benar-benar mengerjakan fungsi ini. Penelitian ini mengevaluasi hubungan capaian program public health dan apakah capaian itu didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia dan kapasitas implementasi program dari organisasi pemerintah. Metode: Data berasal dari “standar pelayanan minimal” kesehatan masyarakat dan “perilaku hidup bersih dan sehat” (PHB), survei dan wawancara mendalam terhadap 46 responden dari 17 puskesmas dan 14 kelurahan di dua kecamatan - Matraman dan Jatinegara - di Jakarta Timur. Hasil: Penelitian ini menemukan bahwa indikator capaian kesehatan di daerah penelitian di kota besar seperti Jakarta adalah lebih rendah dari capaian rata-rata nasional meskipun memiliki ketersediaan sdm yang memadai. Selain itu, kapasitas administrasi dan manajemen proses implementasi di lapangan tidak seperti yang diharapkan. Simpulan: Studi ini menunjukkan paradoks antara ketersediaan sumber daya dan kapasitas yang lemah dalam kolaborasi lintas sektoral dan dalam manajemen implementasi program. Kami mendiskusikan 3 faktor penting yang harus menjadi perhatian dalam pengembangan dan implementasi upaya public health di Jakarta. Pertama, peran lintas sektoral yang jadi kewenangan dari walikota harus mendapat advokasi yang besar dari masyarakat public health. Kedua, administrator kelurahan memiliki kapasitas manajemen implementasi agar program-program dirasakan oleh penduduk setempat. Ketiga, puskesmas memiliki sdm dengan kemampuan manajerial dan bekerja sama dengan sektor lain yang bekerja fokus untuk upaya kesehatan masyarakat. Kata kunci: kesehatan masyarakat; evaluasi implementasi; organisasi pemerinta
Makna penggunaan e-cigarettes/vape bagi vapers di Daerah Istimewa Yogyakarta
MAKNA PENGGUNAAN E-CIGARETTES/VAPE BAGI VAPERS DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Wiradianto Putro1, Retna Siwi Padmawati21 Alamat email : [email protected] Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Indonesia INTISARI Latar Belakang : Penggunaan e-cigarettes/vape yang mulai banyak dikonsumsi masyarakat,yang pada umumnya banyak ditemui di wilayah perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan vape/e-ciggarettes di Kota Yogyakarta.Metode : Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan didapatkan dengan snowball sampling dan rekrutmen via aplikasi facebook & whatsapp, kemudian informan dipilih menggunakan purposive sampling sesuai kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Informan utama adalah vapers atau pengguna vape dengan jumlah 13 orang yang rutin menggunakan vape minimal selama 6 bulan terakhir. Informan tambahan dalam penelitian ini berjumlah 7 orang yang terdiri dari 2 mantan pengguna vape, serta 3 orang perokok yang mengenal vape tetapi tidak menggunakan vape, dan 2 orang significant others. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi.Hasil : Peneliti melakukan pendekatan berdasarkan Integrated Behavior Model (IBM) dalam kerangka teori penelitian. Intensi merupakan aspek penting yang mempengaruhi individu untuk menggunakan vape. Faktor yang dapat memicu intensi individu untuk menggunakan vape antara lain Informasi mengenai vape dan perilaku penggunaan vape oleh orang-orang di lingkungan sosial individu tersebut (perceived norm). Selain itu, sikap (attitude) positif dan adanya kapabilitas diri juga dapat memicu intensi terhadap penggunaan vape. Faktor pendukung yang menguatkan intensi penggunaan vape berupa rutinitas dalam menggunakan vape serta pengetahuan dan skill tentang penggunaan vape. Penggunaan vape menjadi bermakna bagi vapers sebagai sarana untuk bersosialisasi, untuk substitusi rokok konvensional, maupun sekedar selingan dalam penggunaan rokok konvensional.Kesimpulan : Semakin banyak impresi positif selama inisiasi menggunakan vape, semakin tinggi kecenderungan individu menjadikan penggunaan vape sebagai bagian dari gaya hidup. Karena sampai saat ini tidak ada rekomendasi dari BPOM maupun Kementerian Kesehatan untuk penggunaan liquid vape sebagai barang konsumsi,Bagi perokok yang berniat berhenti merokok disarankan untuk menggunakan metode yang sesuai. Misalnya pergi ke klinik berhenti merokok agar mendapat terapi yang sesuai dan tidak beresiko. Kata Kunci : rokok elektrik, vape,vapor, integrated behavior model,berhenti merokok