Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Kejadian luar biasa makan siang di PT X Indonesia kecamatan Kalasan kabupaten Sleman Yogyakarta tahun 2017

    No full text
    Tujuan: Tanggal 17 Mei 2017 Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menerima laporan dari Rumah Sakit Islam Yogyakarta adanya pasien yang mengalami gejala mual, muntah, diare, lemas, nyeri perut dari PT. X Indonesia sebanyak 36 orang. Penyelidikan dilakukan untuk mengkonfirmasi KLB, menentukan faktor risiko dan upaya pengendalian. Metode: Penyelidikan ini menggunakan cohort retrospektif. Kasus adalah karyawan PT. X Indonesia yang mengkonsumsi makan siang tanggal 16 Mei 2017 pukul 12:00 WIB dan mengalami dua atau lebih gejala; diare atau mual atau keringat dingin atu pusing disertai gejala lainnya mulai tanggal 16-18 Mei 2017 setelah mengkonsumsi makan siang. Penemuan kasus secara active case finding dan pengumpulan data melalui wawancara di PT X Indonesia dan observasi. Sampel makanan dan fases dilakukan pemeriksaan mikrobiologi. Hasil: Penyelidikan menemukan 218 kasus keracunan makanan. Kasus terbanyak pada laki-laki (73,36%) dengan dominasi umur <20 tahun (80%). Gejala yang dirasakan diare (80,73%), mual (59,17%),  dan keringat dingin(50,45%). Keracunan makan terjadi 16-18 Mei 2017 dan puncaknya 17 Mei 2017 pukul 04.01-08.00 WIB. Penularan keracunanan makanan terjadi secara common soure. Analisis menunjukkan bahwa makanan penyebab KLB yaitu ayam bumbu bali (RR=4,02; p= 0,000; CI= 1,0-3,1). Hasil observasi diketahui suplayer ayam merupakan suplayer baru. Dan hasil pemeriksaan laboratorium ayam bumbu bali positif Stapyloccocus aureus. Simpulan: Terjadi KLB keracunaan makanan di PT X Indonesia 16-18 Mei 2017 disebabkan oleh ayam bumbu bali yang terkontaminasi oleh bakteri Stapyloccocus aureus. Proses memasak, kebersihan dan penyimpanan makanan pada suhu ruangan menjadi penyetus keracuanan makanan. Rekomdasi yang dapat dilakukan dengan monitoring berkala dalam proses pembuatan makanan

    Evaluasi kualitas data sistem surveilans hipertensi di dinas kesehatan kabupaten Blora provinsi Jawa Tengah tahun 2017

    No full text
    Latar belakang: Hipertensi merupakan penyakit yang mempunyai prevalensi tinggi baik di negara maju maupun negara berkembang. Kasus hipertensi di Blora mengalami peningkatan dari tahun 2015 sampai tahun 2017. Menurut informasi petugas pengelola program Penyakit Tidak Menular (PTM) Dinas Kesehatan, masih diperlukan informasi tentang kualitas data yang dikirimkan oleh pengelola PTM puskesmas melalui sistem informasi surveilans PTM Berbasis Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. Metode: Evaluasi dilakukan secara observasional deskriptif, di dua puskesmas dengan jumlah kasus hipertensi tertinggi dan terendah yaitu Puskesmas Blora dan Rowobungkul. Variabel kualitas yang dievaluasi yaitu kebenaran pencatatan data, kebenaran pengukuran tekanan darah dan pengetahuan petugas. Cara pengambilan data dengan membandingkan hasil pengukuran dari beberapa tensimeter yang digunakan di puskesmas. Kebenaran pencatatan dan pelaporan dilakukan dengan membandingkan data pada register puskesmas dengan data yang dilaporkan ke dinkes. Pengetahuan diukur dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan menghitung distribusi frekuensi dan proporsi masing-masing variabel. Hasil: Terdapat perbedaan hasil jumlah kasus yang terlapor ke dinas kesehatan dengan jumlah kasus yang ada di Puskesmas Blora dan Puskesmas Rowobungkul. Di Puskesmas Rowobungkul, Sistem Informasi Managemen (SIMPUS) di Puskesmas ini belum ada, sehingga data yang tersimpan di buku register pasien tidak lengkap yaitu data 5 bulan hilang. Sedangkan di Puskesmas Blora, walaupun mempunyai SIMPUS untuk menyimpan data, namun data 2 bulan terakhir yaitu bulan november dan desember mempunyai data yang sama seperti pada bulan oktober. Terdapat rentang pengukuran tekanan darah yang dilakukan oleh petugas puskesmas dengan beberapa alat tensimeter yang digunakan di puskesmas. Masih terdapat pengetahuan yang kurang baik dari petugas pengukur tekanan darah di kedua puskesmas. Simpulan: Kualitas data sistem surveilans hipertensi masih perlu diperhatikan dan dibenahi, terutama kebenaran pencatatan data, kebenaran pengukuran tekanan darah dan pengetahuan petugas pengukur tekanan darah. Perlu dilakukan pelatihan petugas, kalibrasi alat secara reguler, dan validasi data dinkes dengan puskesmas setiap 3 bulan sekali

    Bagaimana mengurangi mortalitas dan morbiditas jamaah haji selama menunaikan ibadah: mengubah mindset persyaratan kesehatan haji

    Get PDF
    Tujuan: Setiap tahun kurang lebih 2-3 juta umat muslim dari 180 negara berkunjung ke Tanah Suci di Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah haji, perayaan ibadah tersebut merupakan salah satu pertemuan massal terbesar di dunia. Proses ibadah haji menimbulkan tantangan kesehatan global dan keselamatan umat dengan terekposnya  risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh variabilitas musiman ketika haji terjadi selama bulan-bulan musim panas. Secara khusus jamaah haji yang berkunjung ke Arab Saudi mempunyai resiko tinggi terhadap penyakit akibat panas, cedera dan kelelahan akibat panas dan berdesak desakan yang saat itu suhunya bisa mencapai 48,7 0C. Pada musim haji 2015 dilakukan 2.200 prosedur dialisis ginjal, 27 operasi jantung terbuka, 688 op erasi kateterisasi jantung dan tujuh Persalinan. Penyakit menular sangat berpotensi mudah menyebar pada situasi pertemuan massal yang sangat padat, terutama dari Negara endemik ke seluruh dunia. Studi ini untuk menemukan solusi problem kesehatan selama menunaikan ibadah haji. Metode: Literature review untuk menentukan faktor resiko, morbiditas, mortalitas dan solusinya selama menunaikan ibadah haji. Explore journal dengan google scholar dengan kata kunci Hajj, mass gathering, travel health. Hasil: ecara umum faktor resiko yang dihadapi jamaah haji yaitu Comunicable Diseases meliputi Meningitis, Infekasi saluran Nafas, Diare, infeksi kulit, penyakit tular darah dan penyakit infeksi emerging. Non Communicable Diseases : penyakit kardiovaskuler, trauma, luka bakar, sengatan panas dan luka tajam. NCDs  menjadi beban berat 64 % yang dirawat ICU adalah penyakit kardiovaskuler dan 46-66 % penyebab kematian jamaah. Diperlukan perubahan mindset bahwa persyaratan kemampuan kesehatan harus terapakan. Diperlukan skrining , treatment dan penilaian kelayakan sebelum keberangkatan. Simpulan: Kesepakatan penetapan persyaratan kesehatan jamaah haji perlu komitmen serius dari  stakeholders baik nasional maupun internasional untuk mengurangi morbiditas, mortalitas, dan beban terkait. Dari sudut pandang agama, haji hanya diwajibkan bagi mereka yang secara fisik dan finansial mampu melakukannya

    Degradasi polystyrene dengan mikrobia

    Get PDF
    Polystyrene (PS) atau biasa dikenal dengan styrofoam merupakan polimer aromatik sintetis dengan rumus molekul (C8H8)n) yang dibuat dari serangkaian monomer styrene. PS banyak digunakan sebagai pembungkus makanan di Indonesia, padahal bahan tersebut dapat membahayakan kesehatan dan bersifat karsinogenik. PS termasuk dalam klasifikasi termoplastik, mempunyai berat molekul tinggi serta bersifat tahan air. PS merupakan jenis plastik persisten yang sulit didegradasi di alam sehingga terus terakumulasi mencemari tanah, sungai, danau dan laut. Masalah kesehatan manusia dan perubahan besar pada ekosistem akan muncul sebagai akibat toksisitas polimer plastik. Meski demikian, PS tetap dapat didegradasi meski membutuhkan upaya yang lebih besar. Proses degradasi PS dapat dilakukan dengan metode thermal, fotoreaktif, maupun dengan menggunakan mikrobia (biodegradasi). Terdapat beberapa jenis mikrobia yang dapat dimanfaatkan untuk proses degradasi PS, seperti  Pseudomonas sp, Streptococcus sp, Staphylococcus sp, Micrococcus sp, Maoraxella sp (bakteri) dan  Aspergillus niger sp, Aspergillus galucus sp, Actinomycetes sp, dan Saccharomonospora sp (jamur). Mekanisme biodegradasi PS terjadi secara langsung (mikrobia melakukan deteriorasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya) maupun secara tidak langsung (produk metabolik mikrobia karena stres atau kondisi lingkungan yang tidak sesuai). Secara umum, mekanisme biodegradasi dimulai saat mikrobia mengeluarkan enzim ekstraseluler atau intraseluler sebagai substrat untuk pertumbuhan di permukaan PS, enzim tersebut akan memutus rantai polimer menjadi fragmen molekul kecil dari oligomer, dimer hingga monomer yang saling terpisah. Meski banyak penelitian mengenai mikrobia untuk degradasi PS namun biodegradabilitas masih belum optimal. Salah satu cara meningkatkan biodegradabilitas yaitu dengan mencampurkan styrofoam dengan cornstarch, sehingga laju pertumbuhan mikrobia semakin cepat. Mikroorganisme yang disebutkan diatas merupakan solusi global biodegradasi limbah styrofoam agar tidak terakumulasi di lingkungan. Namun, manusia bukan satu-satunya penghuni maka perlu kebijaksanaan manusia dalam penggunaan plastik demi melestarikan alam, seperti menerapkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di kehidupan sehari-hari

    Strategi kepala puskesmas mengoptimalkan work engagement bidan desa di wilayah pedesaan Kabupaten Pati (pengalaman di Puskesmas Gabus I)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan strategi kebijakan dan langkah konkreat yang diambil kepala puskesmas untuk mengoptimalkan work engagement bidan desa dalam program kesehatan ibu dan anak, yang dalam hal ini berfokus pada program post natal care. Penelitian kualitatif ini menggunakan teknik pengambilan data observasi partisipasi bidan desa Puskesmas Gabus I dan wawancara mendalam dengan kapus serta pihak-pihak terkait. Kepala puskesmas memberikan keleluasaan dan kewenangan penuh namun bersyarat kepada bidan desa dalam mengelola ANC, PNC dan program lain terkait kesehatan ibu. Hasil strategi tersebut melahirkan inisiatif bidan desa seperti memiliki peralatan tambahan di poskesdes/polindes selain standar yang ditentukan, membentuk whatsapp group bagi bumil dan bufas, dan terjalin kerjasama yang kuat dengan pemerintahan desa dan warga setempat. Kapus memposisikan semua bidan desa sebagai partner kerja dengan perlakuan sama namun tetap berdasar asas keadilan. Sesama bidan desa bekerjasama dan bahu membahu melayani masyarakat tanpa adanya persaingan dan perselisihan, nilai tertinggi work engagement bidan desa terletak pada kenyamanan bekerja dan dukungan dari pimpinan meskipun masing-masing personal finansial tidak tercukupi. Bentuk monitoring dan evaluasi yang dilakukan kapus terhadap bidan desa selain dari laporan juga dilakukan sidak pada masyarakat tanpa atau dengan diketahui bidan desa, pemantauan kegiatan menggunakan chat maupun video call secara pribadi dan apabila bidan desa mendapat masalah, kapus tidak hanya menjadi juri namun juga memposisikan diri sebagai tim untuk menemukan solusi. Berdasarkan data yang dihimpun, dalam sepuluh tahun terakhir kejadian kematian ibu baik pada masa hamil, melahirkan maupun nifas hanya terdapat satu atau dua kasus saja dan lebih sering nol kasus kematian ibu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan, kerjasama dan strategi kebijakan kepala puskesmas yang tepat menjadi salah satu faktor utama mendorong work engagement bidan desa dalam menyelesaikan tanggungjawab dan mengoptimalkan kinerja. Implikasi praktis dari work engagement tersebut adalah pelayanan PNC yang optimal sehingga kesehatan ibu dan bayi terpantau sejak dini dan berkelanjutan

    Dukungan keluarga dalam pemeriksaan inspeksi visual asam asetat (IVA) di wilayah kerja puskesmas Sukorame Kediri

    Get PDF
    Kanker serviks sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan wanita di seluruh dunia baik di negara maju maupun berkembang. Pada tahun 2010 Kasus kanker serviks di Jawa Timur sebesar 1844. Salah satu deteksi dini dari kanker serviks yaitu terdapatnya pemeriksaan IVA di Puskesmas. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan deteksi dini kanker serviks salah satunya dengan meningkatkan dukungan keluarga. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di wilayah kerja Puskesmas Sukorame Kediri. Desain penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah wanita berusia 30-50 tahun berjumlah 18.245, sedangkan sampel dalam penelitian sejumlah 100 responden dengan teknik Accidental Sampling. Hasil penelitian diperoleh dukungan keluarga mendukung sebesar 60%, serta pemeriksaan IVA sebesar 79%. Kesimpulan penelitian ini ada hubungan dukungan keluarga dengan pemeriksaan IVA di wilayah kerja Puskesmas Sukorame Kota Kediri dengan p=0,000.Saran bagi fasilitas kesehatan untuk lebih meningkatkan keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan IVA dan meningkatkan frekuensi penyuluhan kesehatan kepada masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan IVA sehingga dapat meningkatkan kunjungan pemeriksaan IVA di Puskesmas Sukorame Kediri

    Potential social media campaign challenge towards physical activity in modern era

    No full text
    Physical inactivity is one of the leading risk factor for non-communicable diseases in the world. Globally, the insufficient of physical activity is experienced by 25% of adults and 80% of adolescents. The lifestyle of adolescents and adults are increasingly tied to social media. More than 87% of netizens in Indonesia access social media. Social media is used to communicate and it can form social support including healthy behavior awareness. The aim of this study is to explore netizens response on Promkes.net social media campaign “#7HariMelawanMager” challenge (Seven-days challenge beat physical inactivity). This study was a literature review, using supported document and challenge mini-survey on Instagram story and Facebook polling in a day and interview with challenge’s founder. As the result in three weeks, after the #7HariMelawanMager challenge launched, there were 41 posts in Instagram with 9 netizens completed and 33 posts in Facebook with 13 netizens completed the challenge. The social media challenge raising physical activity awareness from the community. Yet there were 17 netizens who fulfill the @promkes_net Instagram story survey and 5 of 15 netizens did not know the campaign through Facebook’s author polling. At the end of the review, there are 98 netizens joining “Melawan Mager” Pacer group. Health campaigns through social media #7HariMelawanMager have the potential to increase awareness of physical activity. However, this campaign needs to consider the sustainability. Furthermore, netizens will better understand the benefits of physical activity to improve their quality of life

    Exit strategy perempuan dari perkawinan anak : studi kualitatif di Rembang

    No full text
    Exit strategy of woman from child marriage: qualitative study in sedan district rembang regencyPurpose: Exploring strategies for women who come out of the culture of child marriage in Sedan District, Rembang Regency.Methods: Qualitative study using an exploratory case study approach. Methods of collecting data with FGDs on the concept of marriage and child marriage to 9 informants, then taking 6 informants for in-depth interviews about the reasons and strategies of the informants to get out from child marriage. The selection of informants was carried out by purposive sampling strategy, with criteria for unmarried women at the age of children, aged 18-24 years, born and growing in Sedan District and married.Results: Child marriage is an unpleasant, is the perception of women unmarried at the age of a child, because they cannot to complete school, enjoying adolescence and playing. They have cultural capital because they have the ability to be educated with the hope of making it easier to get a job, have a marriage age planning competence when they are ready and responsible, and have an attitude towards stigma as a strategy to not get married at the age of a child. Married norms prevent adultery and arranged marriage to become cultural capital that hinders taking decisions. They have an economy capital from livestock as an asset and work in the cities to support family’s economic resources. Policies and programs to prevent child marriage do not become social capital as a strategy for women in making decisions not to marry at the age of children.Conclusions: Women have a perception that child marriage is unpleasant. These perceptions are supported by planning to have higher education and planning the age of marriage to be the reasons and strategies of women to get out of the culture of child marriage. Providing sexual and reproductive health education, and information about the impact of child marriage as an evidence-based prevention strategy.Latar Belakang: Perkawinan anak merupakan masalah kesehatan reproduksi karena memperpanjang masa reproduksi terutama pada perempuan yang berisiko mengakibatkan kematian ibu dan bayi. Kemiskinan, peranan gender dalam keluarga, pemahaman keagamaan dan tradisi perkawinan merupakan faktor terjadinya perkawinan anak di Kabupaten Rembang. Dalam kondisi yang demikian, ternyata sebagian perempuan mengambil keputusan untuk keluar dari perkawinan anak.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi strategi pada perempuan yang keluar dari budaya perkawinan anak di Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang.Metode: Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang menggunakan pendekatan studi kasus eksploratoris. Metode pengumpulan data dengan FGD mengenai konsep perkawinan dan perkawinan anak kepada 9 informan, kemudian mengambil 6 informan untuk wawancara mendalam mengenai alasan dan strategi informan keluar dari perkawinan anak. Pemillihan informan dilakukan dengan purposive sampling strategy, dengan kriteria perempuan yang tidak menikah di usia anak, berusia 18-24 tahun, lahir dan tumbuh di Kecamatan Sedan dan sudah menikah.Hasil: Pernikahan anak merupakan hal yang tidak menyenangkan menjadi alasan perempuan tidak menikah di usia anak, didasari oleh dampak perkawinan anak seperti tidak dapat menyelesaikan sekolah, menikmati masa remaja dan bermain. Strategi perempuan untuk tidak menikah di usia anak adalah cita-cita memiliki pendidikan tinggi dan merencanakan usia menikah. Dengan memiliki pendidikan tinggi yang harapannya dapat mempermudah perempuan mendapatkan pekerjaan. Selain itu, perempuan merencanakan usia menikah ketika sudah siap dan dapat bertanggungjawab terhadap keluarganya. Hambatan dan tantangan yang dialami perempuan adalah menolak perjodohan dari keluarga agar segera menikah. Status ekonomi keluarga dan adanya program/kebijakan tidak menjadi pertimbangan perempuan dalam mengambil keputusan untuk menikah.Kesimpulan: Perempuan memiliki persepsi bahwa perkawinan anak tidak menyenangkan. Persepsi tersebut didukung dengan merencanakan memiliki pendidikan tinggi dan merencanakan usia pernikahan menjadi alasan dan strategi perempuan untuk dapat keluar dari budaya perkawinan anak

    Diarrhea Incidence In Coastal Area And Enviromental Determinant Factor on 0-12 Age Years

    Get PDF
    Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui presentase kejadian diare diwilayah pesisir serta hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada anak-anak  umur 0-12 Tahun Di Bagan Percut Sei Tuan Sumatera Utara tahun 2018. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional. Dalam penelitian ini dilakukan menggunakan data primer dengan pendekatan case control. Penyajian data akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan tabel analisis disertai penjelasan Analisa data yang digunakan untuk mencari hubungan antara variabel independen dan variabel dependen dengan uji chi square. Populasi adalah anak-anak umur 0-12 tahun bertempat tinggal di Bagan Percut Sei Tuan. Adapun sampel pada penelitian ini sebanyak 124 anak dengan usia 0-12 tahun dan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu simple random sampling. Penelitian ini dilakukan di  Bagan Percut Sei Tuan Sumatera Utara sebagai salah satu daerah pesisir. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2018. Hasil penelitian diketahui bahawa insiden diare di daerah Bagan Percut Sei Tuan Sumatera Utara sekitar 82 (66,12 %). Berdasarkan uji statistic didapatkan ada hubungan yang bermakna antara sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada anak-anak di Bagan Percut Sei Tuan Sumatera Utara dengan nilai p_value=0,000. Kejadian diaere di Bagan Percut sei Tuan  Sumatera Utara disebabkan karena kurangnya penyedian air bersih, ketersediaan jamban, dan sumber air minum serta pengetahuan orang tua yang minim. Saran ditujukan kepada masyarakat untuk menjaga sanitasi lingkungan dengan baik demi menekan angka kejadian diare dan perlu adanya edukasi mengenai pentingnya menjaga sanitasi baik. penyediaan air bersih di wilayah pesisir perlu ditingkatkan dengan menyediakan sumber air bersih tidak berdekatan dengan jamban masyarakat dan membersihkan secara berkala tempat penampungan air, peningkatan PHBS dan cara pengolahan makanan. Jamban keluarga dipesisir khusus yang tinggal dibagian pesisir pantai perlu dibuatkan jamban percontohan. Pengolahan sampah dipesisir perlu diperhatikan pemerintah dan dibuatkan pengolahan sampah percontohan dan ditekankan untuk memperhatikan personal hygiene di pesisir.Penelitian ini ingin mengetahui presentase kejadian diare diwilayah pesisir serta hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada anak-anak  umur 0-12 Tahun Di Bagan Percut Sei Tuan Sumatera Utara tahun 2018. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional. Dalam penelitian ini dilakukan menggunakan data primer dengan pendekatan case control. Penyajian data akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan tabel analisis disertai penjelasan Analisa data yang digunakan untuk mencari hubungan antara variabel independen dan variabel dependen dengan uji chi square. Populasi adalah anak-anak umur 0-12 tahun bertempat tinggal di Bagan Percut Sei Tuan. Adapun sampel pada penelitian ini sebanyak 124 anak dengan usia 0-12 tahun dan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu simple random sampling. Penelitian ini dilakukan di  Bagan Percut Sei Tuan Sumatera Utara sebagai salah satu daerah pesisir. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2018. Hasil penelitian diketahui bahawa insiden diare di daerah Bagan Percut Sei Tuan Sumatera Utara sekitar 82 (66,12 %). Berdasarkan uji statistic didapatkan ada hubungan yang bermakna antara sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada anak-anak di Bagan Percut Sei Tuan Sumatera Utara dengan nilai p_value=0,000. Kejadian diaere di Bagan Percut sei Tuan  Sumatera Utara disebabkan karena kurangnya penyedian air bersih, ketersediaan jamban, dan sumber air minum serta pengetahuan orang tua yang minim. Saran ditujukan kepada masyarakat untuk menjaga sanitasi lingkungan dengan baik demi menekan angka kejadian diare dan perlu adanya edukasi mengenai pentingnya menjaga sanitasi baik. penyediaan air bersih di wilayah pesisir perlu ditingkatkan dengan menyediakan sumber air bersih tidak berdekatan dengan jamban masyarakat dan membersihkan secara berkala tempat penampungan air, peningkatan PHBS dan cara pengolahan makanan. Jamban keluarga dipesisir khusus yang tinggal dibagian pesisir pantai perlu dibuatkan jamban percontohan. Pengolahan sampah dipesisir perlu diperhatikan pemerintah dan dibuatkan pengolahan sampah percontohan dan ditekankan untuk memperhatikan personal hygiene di pesisir

    Model pencegahan kejadian luar biasa keracunan pangan di desa: peran kader untuk keamanan pangan masyarakat

    No full text
    Tujuan: Menjaga higiene dan sanitasi pengolahan makanan pada penyelenggaraan makanan massal di masyarakat tentu menjadi sebuah tantangan, karena tidak ada unit jasa boga yang mengikat dan kewajiban akan sertifikasi laik jasa boga. Padahal, meningkatkan keamanan pangan di tingkat masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan akibat kegiatan makan bersama yang dilakukan di masyarakat. Tulisan ini disusun untuk menjelaskan potensi upaya menjaga keamanan pangan dan mencegah KLB keracunan makanan pada penyelenggaraan makanan massal sukarela di daerah pedesaan. Konten: Upaya yang paling umum dilakukan untuk meningkatkan keamanan pangan di tingkat masyarakat adalah edukasi keamanan pangan kepada masyarakat. Tetapi masih terdapat banyak kesulitan untuk edukasi kepada seluruh masyarakat, mengingat akan selalu ada keterbatasan sumber daya. Melibatkan puskesmas dan kader menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan efektivitas upaya menjaga keamanan pangan di tingkat masyarakat pedesaan. Tenaga kesehatan di puskesmas dapat memberikan edukasi kepada kader mengenai keamanan pangan. Kader yang telah diedukasi akan berperan sebagai agen keamanan pangan setempat. Sebuah kebijakan dapat dibentuk mengenai perizinan untuk setiap kegiatan masyarakat yang memerlukan pengolahan makanan massal oleh masyarakat setempat. Pemilik acara harus mengajukan perizinan menyelenggarakan makanan dalam jumlah massal kepada tokoh masyarakat ataupun kader. Terdapat dua kriteria yang harus dipenuhi untuk memperoleh izin tersebut. Pertama, kelompok masyarakat yang ikut membantu proses pemasakan harus dipastikan sudah mengetahui dasar-dasar higiene dan sanitasi makanan. Kader dapat memberikan edukasi keamanan pangan kepada kelompok masyarakat tersebut. Kriteria kedua adalah kelompok masyarakat tersebut harus dalam keadaan sehat. Hal ini dapat terus dipantau ketika proses pengolahan makanan dilakukan. Penyusunan kebijakan ini merupakan salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan keamanan pangan pada penyelenggaraan makanan massal di masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Dalam implementasinya, diperlukan berbagai pertimbangan sosial dan budaya dari masing-masing daerah. Pelibatan kader dan tokoh masyarakat merupakan salah satu hal penting yang dibutuhkan untuk dapat menjalankan kebijakan ini.Tujuan: Menjaga higiene dan sanitasi pengolahan makanan pada penyelenggaraan makanan massal di masyarakat tentu menjadi sebuah tantangan, karena tidak ada unit jasa boga yang mengikat dan kewajiban akan sertifikasi laik jasa boga. Padahal, meningkatkan keamanan pangan di tingkat masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya KLB keracunan pangan akibat kegiatan makan bersama yang dilakukan di masyarakat. Tulisan ini disusun untuk menjelaskan potensi upaya menjaga keamanan pangan dan mencegah KLB keracunan makanan pada penyelenggaraan makanan massal sukarela di daerah pedesaan.Konten: Upaya yang paling umum dilakukan untuk meningkatkan keamanan pangan di tingkat masyarakat adalah edukasi keamanan pangan kepada masyarakat. Tetapi masih terdapat banyak kesulitan untuk edukasi kepada seluruh masyarakat, mengingat akan selalu ada keterbatasan sumber daya. Melibatkan puskesmas dan kader menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan efektivitas upaya menjaga keamanan pangan di tingkat masyarakat pedesaan. Tenaga kesehatan di puskesmas dapat memberikan edukasi kepada kader mengenai keamanan pangan. Kader yang telah diedukasi akan berperan sebagai agen keamanan pangan setempat. Sebuah kebijakan dapat dibentuk mengenai perizinan untuk setiap kegiatan masyarakat yang memerlukan pengolahan makanan massal oleh masyarakat setempat. Pemilik acara harus mengajukan perizinan menyelenggarakan makanan dalam jumlah massal kepada tokoh masyarakat ataupun kader. Terdapat dua kriteria yang harus dipenuhi untuk memperoleh izin tersebut. Pertama, kelompok masyarakat yang ikut membantu proses pemasakan harus dipastikan sudah mengetahui dasar-dasar higiene dan sanitasi makanan. Kader dapat memberikan edukasi keamanan pangan kepada kelompok masyarakat tersebut. Kriteria kedua adalah kelompok masyarakat tersebut harus dalam keadaan sehat. Hal ini dapat terus dipantau ketika proses pengolahan makanan dilakukan. Penyusunan kebijakan ini merupakan salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan keamanan pangan pada penyelenggaraan makanan massal di masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Dalam implementasinya, diperlukan berbagai pertimbangan sosial dan budaya dari masing-masing daerah. Pelibatan kader dan tokoh masyarakat merupakan salah satu hal penting yang dibutuhkan untuk dapat menjalankan kebijakan ini

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇