Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Kemampuan Bahasa (Bicara) pada Pasien Stroke dengan Afasia Motorik di Kabupaten Trenggalek : Implikasi Public Health
Latar belakang: Perspektif neurologis menjelaskan afasia merupakan gangguang bahasa yang diperoleh karena lesi otak fokal tanpa adanya gangguan kognitif, motoric, sensorik. Gangguan bahasa terjadi pada semua modalitas bahasa (berbicara, membaca, menulis, tanda). Tujuan: Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk menggambarkan kemampuan bahasa (bicara) pada pasien stroke dengan afasia motorik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik. Sampel adalah 23 responden pasien stroke dengan afasia motorik. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah TADIR untuk kemampuan bahasa (bicara). Hasil dan Kesimpulan: Nilai kemampuan bahasa (bicara) pada pasien stroke dengan afasia motorik yaitu hampir seluruhnya mengalami gangguan (terganggu) dengan 19 responden (82,6%).Pendahuluan : Perspektif neurologis menjelaskan afasia merupakan gangguang bahasa yang diperoleh karena lesi otak fokal tanpa adanya gangguan kognitif , motoric, sensorik. Gangguan bahasa terjadi pada semua modalitas bahasa (berbicara, membaca, menulis, tanda).Tujuan : Penelitian ini mengeksplorasi persoalan public health terkait kebutuhan kemampuan bahasa (bicara) pada pasien stroke dengan afasia motorik.Metode : Survey terhadap 23 responden pasien stroke dengan afasia motorik di kabupaten Trenggalek menggunakan instrumen TADIR (Test Afasia untuk Diagnosis Informasi Rehabilitasi).Hasil : Pertama, karakteristik pasien stroke dengan afasia motorik diketahui sebagian besar jenis kelamin adalah laki laki (60,9 %). Hampir setengah dari responden berpendidikan SD (39,2 %). Sebagian besar responden berada pada fase stroke sub akut (52,2 %). Sebagian besar mendapatkan dukungan keluarga (73,9 %). Sebagian besar responden 56,5 % berusia antara 61 – 70 tahun. Sebagian besar responden (73,9 %) mengalami stroke serangan ke – 1. Kedua, Nilai kemampuan bahasa (bicara) pada pasien stroke dengan afasia motorik yaitu hampir seluruhnya mengalami gangguan (terganggu) (82,6 %). Ketiga, data ini menunjukkan pentingnya adanya peran petugas kesehatan untuk saling berkolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan bahasa (bicara) pasien stroke dengan afasia motorik. Kesimpulan : Pasien stroke dengan afasia motorik memiliki potensi kemampuan bahasa (bicara) yang lebih buruk apabila permasalah tersebut tidak diperbaiki. Peran petugas kesehatan untuk saling berkolaborasi (interprofessional collaboration) dalam ketersediaan data pasien stroke dengan afasia motorik dan terapi, merumuskan dan memaksimalkan peran kelompok lansia (posyandu lansia) dan peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan bahasa (bicara) yang akan menunjang komunikasi sebagai kebutuhan dasar manusi
Healthcare-seeking pattern in Sleman District, Yogyakarta: an observational analysis using secondary data of longitudinal surveillance system HDSS-Sleman cycle 2 (2016)
ABSTRACTObjective Several factors that already persist in the society, namely person´s socioeconomic status (SES), beliefs and illness severity perception might play an important role for healthcare-seeking decision. This paper aims to investigate and describe the care-seeking behaviour pattern upon Sleman District´s population.Methods Secondary data derived from standardised interview and questionnaire were analysed. Each head of the household was asked regarding their family sociodemographic background, health status, and care-seeking behaviour pattern. The interview was belong to the second survey wave, gathered in amount of 19,593 participants, and were taking place between July and September 2015. Cut-off method was used to screen eligible participants, in which 11,516 remain. Bivariate analysis was done using Pearson-chi square method in order to observe the goodness of fit of population’s care-seeking pattern with sociodemographic variables and health status. Multivariate analysis was run through the logistic regression in order to predict and explain the relationship between care-seeking pattern and sociodemographic variables. Results In Sleman District, Yogyakarta, Indonesia –based on HDSS-Sleman second wave´s survey analysis, about four out of ten samples who stated themselves as sick in 2015 did still not practice care-seeking behaviour. Several demographic factors such sex, age, educational backgrounds, family wealth and health insurance ownership are significantly related with the care-seeking decision. But there was no significant care-seeking difference against parental ethnicity, as well as in District’s rural and urban area.Conclusions It has been confirmed that care-seeking behaviour upon Sleman District’s population depends on the person’s socioeconomic status and illness severity. Some important findings were including U-shaped function of care-seeking behaviour against some age groups and educational background.Keywords HDSS-Sleman, healthcare-seeking behaviour, Pearson-chi square, socioeconomic status (SES
Peranan Kader dalam Menemukan Kasus TB di Kabupaten Deli Serdang
Indonesia menempati posisi kedua jumlah kasus TB terbesar di dunia dengan insiden dan prevalensi, angka kematian serta TB dan co/infeksinya cukup mengkhawatirkan. Meskipun sudah banyak program yang dijalankan namun kasus tetap tinggi karena permasalahannya TB sangat kompleks. Penelitian pada negara-negara berkembang menunjukkan bahwa peer support merupakan faktor penopang keberlanjutan program berbasis masyarakat. Untuk itu penelitian ini : 1). Diperoleh pengetahuan kader tentang TBC paru 2). Diperolehnya sikap kader mengenai TB Paru 3) Penemuan kasus TBC Paru dan 4) Peranan kader dalam penanggulangan TB Paru. Rancangan penelitian ini cross sectional studi dengan pendekatan kuantitatif di 3 lokasi kabupaten Deli Serdang yakni kecamatan Percut Sei Tuan, kecamatan Tanjung Morawa dan Kecamatan Pancur Batu dipilih secara Purpossive yang mewakili kasus TB Paru tertinggi, sedang dan rendah.Jumlah sampel sebanyak 45 kader TBC Paru. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan kader tentang TBC paru sudah cukup baik (84,4%). Kader masih banyak belum tahu tugas PMOyang berkaitan dengan mendampingi, periksa dahak dan memberikan penyuluhan tentang TB kepada keluarganya. Pada umumnya sikap kader kategori baik (86,7%). Kader tidak setuju kalau penyakit TBC paru penyakit keturunan (95,6%),tidak setuju pencegahan TBC paru hanya tanggung jawab puskesmas (84,4%). Untuk penemuan kasus dalam kategori kurang (64,4%), belum menemukan dan merujuk ke fasilitas kesehatan (93,3%).Peran kader dalam penanggulangan TBC paru kategori kurang (71,1%) kader belum aktif memberikan penyuluhan tentang TBC paru(73,3%). Kader menganjurkan ke pelayanan kesehatan jika sudah batuk lebih 2 minggu (84,4%) , menganjurkan penderita dicurigai TBC paru berobat ke puskesmas sampai sembuh (82,2%). Diperlukan upaya edukasi kader tentang tugas PMO, mendorong kader memberikan penyuluhan tentang TBC paru, mencari orang yang dicurigai sakit TBC paru.Indonesia menempati posisi kedua jumlah kasus TB terbesar di dunia dengan insiden dan prevalensi, angka kematian serta TB dan co/infeksinya cukup mengkhawatirkan. Meskipun sudah banyak program yang dijalankan namun kasus tetap tinggi karena permasalahannya TB sangat kompleks. Penelitian pada negara-negara berkembang menunjukkan bahwa peer support merupakan faktor penopang keberlanjutan program berbasis masyarakat. Untuk itu penelitian ini : 1). Diperoleh pengetahuan kader tentang TBC paru 2). Diperolehnya sikap kader mengenai TB Paru 3) Penemuan kasus TBC Paru dan 4) Peranan kader dalam penanggulangan TB Paru.Rancangan penelitian ini cross sectional studi dengan pendekatan kuantitatif di 3 lokasi kabupaten Deli Serdang yakni kecamatan Percut Sei Tuan, kecamatan Tanjung Morawa dan Kecamatan Pancur Batu dipilih secara Purpossive yang mewakili kasus TB Paru tertinggi, sedang dan rendah.Jumlah sampel sebanyak 45 kader TBC Paru. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan pedoman wawancara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan kader tentang TBC paru sudah cukup baik (84,4%). Kader masih banyak belum tahu tugas PMOyang berkaitan dengan mendampingi, periksa dahak dan memberikan penyuluhan tentang TB kepada keluarganya. Pada umumnya sikap kader kategori baik (86,7%). Kader tidak setuju kalau penyakit TBC paru penyakit keturunan (95,6%),tidak setuju pencegahan TBC paru hanya tanggung jawab puskesmas (84,4%). Untuk penemuan kasus dalam kategori kurang (64,4%), belum menemukan dan merujuk ke fasilitas kesehatan (93,3%).Peran kader dalam penanggulangan TBC paru kategori kurang (71,1%) kader belum aktif memberikan penyuluhan tentang TBC paru(73,3%). Kader menganjurkan ke pelayanan kesehatan jika sudah batuk lebih 2 minggu (84,4%) , menganjurkan penderita dicurigai TBC paru berobat ke puskesmas sampai sembuh (82,2%). Diperlukan upaya edukasi kader tentang tugas PMO, mendorong kader memberikan penyuluhan tentang TBC paru, mencari orang yang dicurigai sakit TBC paru
Alasan untuk memilih kerja di daerah tertinggal: studi kualitatif terhadap dokter lulusan Universitas Cendana Kupang
Medical graduate career choice in the underserved area: a qualitative study in Nusa Tenggara TimurPurpose: Although many government policies have been directed toward rural workforce shortage, little attention was given to meet medical graduates’ needs other than financial. This study explored the internal reasons why medical graduates chose the rural area as a place to work.Methods: Three focussed group discussion (FGD) with phenomenology approach followed by a total of 24 medical graduates recruited purposively and work in three islands and six districts in Nusa Tenggara Timur Province. Interview transcripts were analyzed thematically by two researchers.Results: First, interventions which have been done and proven to support the recruitment of medical graduates to underserved area were: contract bound scholarship; incentives and work load calculation; improvement of facilities, security, and accessibility of underserved areas; and promotion of underserved areas as tourism sites. Second, the process of medical graduates recruitment in Indonesia (internship, PTT, and Nusantara Sehat) has considered several important things: rural origin and has friends/colleagues in destination area (proven by submitting local authority recommendation). Third, new issues added by this study are locations supporting autonomy and providing opportunities and supervisors for further learning, including conducting research, will be given priorities. Half of the respondents (12 out of 24) explicitly stated that they chose a place where they can learn more about the medical specialty of interest. Even four out of those 12 respondents stated further that they chose a place where they can conduct research under specialist supervision for the medical specialty of interest.Conclusions: This study adds that the graduates’ choice of workplace which provides opportunities for further learning and conducting research under specialist supervision needs further attention. Local authorities are suggested to invest in IT facilities to support tele-supervision and collaborate with local medical school to adapt the concept of rural clinical school which has been widely established throughout Australia. Second, the placement areas for Specialist Compulsory Work (Wajib Kerja Dokter Spesialis) Program and other similar programs can be expanded and prioritized for underserved rural hospitals to provide clinical supervisors and support the recruitment of medical graduates to those underserved areas.Tujuan: Penelitian ini mengeksplorasi alasan lulusan dokter memilih daerah tertinggal sebagai lokasi kerja. Metode: Focussed group discussion dengan pendekatan fenomenologi terhadap 24 orang lulusan dokter yang direkrut secara purposive dan bekerja di tiga pulau dan enam kabupaten yang berbeda di Nusa Tenggara Timur. Transkripsi hasil wawancara dianalisis secara tematik oleh dua orang peneliti. Hasil: Pertama, upaya intervensi yang telah dilakukan dan terbukti mendukung rekrutmen lulusan dokter ke daerah tertinggal, yaitu: beasiswa dengan ikatan kerja; insentif dan perhitungan beban kerja; peningkatan fasilitas, keamanan, dan aksesibilitas daerah tertinggal; serta promosi daerah tertinggal sebagai lokasi wisata. Kedua, proses rekrutmen tenaga medis ke daerah tertinggal (internship, PTT, dan Nusantara Sehat) telah mempertimbangkan beberapa hal penting, yaitu: rural origin (asal daerah dan adanya keluarga di daerah) dan adanya teman/kolega di daerah (rekomendasi otoritas setempat). Ketiga, hal baru yang ditambahkan oleh penelitian ini adalah lokasi yang menghargai otonomi dan kemandirian serta memberikan kesempatan dan pendamping untuk belajar lebih lanjut, termasuk melakukan penelitian, mendapatkan prioritas. Dua belas dari 24 responden (50%) secara eksplisit menyatakan memilih lokasi dimana mereka bisa belajar lebih banyak untuk bidang yang mereka minati. Bahkan empat dari 12 responden (30%) tersebut menyatakan memilih lokasi dimana dapat melakukan penelitian di bawah supervisi dokter spesialis untuk bidang spesialisasi yang diminati. Simpulan: Keputusan lulusan dokter untuk memilih lokasi kerja yang mampu menyediakan kesempatan belajar dan penelitian di bawah supervisi dokter spesialis perlu mendapatkan perhatian. Pertama, pemda perlu berinvestasi pada pengembangan fasilitas IT yang memungkinkan dilakukannya supervisi jarak jauh dan bekerja sama dengan fakultas kedokteran setempat untuk mengadaptasi konsep rural clinical school yang banyak dikembangkan di rural Australia. Kedua, wilayah penempatan Program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) dapat diperluas dan diprioritaskan untuk RSUD di daerah tertinggal untuk menyediakan supervisor klinik dan mendukung rekrutmen lulusan dokter umum ke daerah tersebut
Determinan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Indonesia
Determinants of skilled birth attendance in IndonesiaPurposeThis study aimed to find the relationship between health worker ratio with skilled birth attendants (SBA). MethodsThis research was a cross-sectional study using data from Rifaskes 2011 (a nationwide survey of healthcare facilities), SP 2010 (population census), and Riskesdas 2013 (a nationwide survey based on community for basic health). The sample was total population of the district/city as many as 497 districts/cities. The unit of analysis of this study was the district/city in Indonesia. Statistical analysis used univariate analysis, bivariate analysis and generalized linear model (GLM).ResultsThere was no correlation between the ratio of health workers with SBA coverage. But, the GLM analyses showed positive correlation of midwives ratio in the population and SBA when regressed with physicians, nurses, accessibility to community health center (puskesmas) with OR 1.07 (95% CI: 1-1.14), status of region (remote, borderland or islands area) 1.07 (95% CI: 1.01-1.15), and administrative status (district/city) with OR 1.11 (95% CI: 1.03-1.19).ConclusionThe midwives ratio has a strong correlation with SBA after improving accessibility to primary health centers.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara rasio tenaga kesehatan terhadap pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih.Metode: Penelitian ini menggunakan data Rifaskes tahun 2011 dan Riskesdas tahun 2013 yang mencakup 497 kabupaten/kota di Indonesia. Analisis data menggunakan model linier tergeneralisir.Hasil: Rasio tenaga kesehatan tidak berhubungan dengan persalinan oleh tenaga kesehatan. Ketersediaan bidan sangat penting karena sebagian besar persalinan ibu hamil ditolong oleh bidan. Faktor lain yang mempengaruhi persalinan oleh tenaga kesehatan meliputi status sosial ekonomi, tingkat pendidikan wanita usia subur, dan aksesibilitas terhadap fasilitas pelayanan kesehatan.Kesimpulan: Tenaga kesehatan sangat berperan dalam persalinan yang aman. Perbaikan akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan perlu dilakukan untuk mendukung persalinan.
Intensi fertilitas wanita usia subur Dan kehamilan tidak diinginkan di Indonesia: analisis performance monitoring and accountability 2020
Fertility intention of reproductive age women and unique unintended pregnancy in Indonesia: an analysis of performance monitoring and accountability 2020Purpose: This research aimed to study the connection of fertility intention with unintended pregnancy of reproductive women in Indonesia. Methods: This cross-sectional study used performance monitoring and accountability data 2020 phase I of 2015. Subjects were 5,581 reproductive women of age 15-49, married, sexually active, ever pregnant and fecund. Analysis techniques used univariable (descriptive), bivariable (chi-square), while multilevel (general linear model) was used as last analysis technique for hierarchical data such as performance monitoring and accountability data. All tests used confidence interval (CI) 95% and significance rate p<0.05%. Results: Reproductive women with fertility intention who do not want any more children had 1.53 times greater probability to have unintended pregnancy, compared to those undecided about their fertility intention. The majority of low educated reproductive women in province level had risk probability to unintended pregnancy. However, the proportion of poor and poorest residents of province level had protective probability to unintended pregnancy. Relation variation between reproductive women’s fertility intention and unintended pregnancy in community level was statistically significant. Conclusion: Providers should target community groups to be given interventions on the prevention of unwanted pregnancies based on results of the target fertility intent analysis.AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan intensi fertilitas dengan kehamilan ibu reproduktif yang tidak diinginkan di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan data PMA 2020 tahap I tahun 2015. Subjek penelitian adalah 5.581 wanita usia subur usia 15-49 tahun, menikah, aktif secara seksual, hamil dan berkepanjangan. Teknik analisis yang digunakan univariable (deskriptif), bivariabel (chi-square), sedangkan multilevel (model linier umum) digunakan sebagai teknik analisis terakhir untuk data hirarkis seperti data PMA. Semua tes menggunakan confidence interval (CI) 95% dan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Analisis multilevel menunjukkan bahwa wanita reproduktif dengan intensi fertilitas yang tidak menginginkan anak lagi berisiko 1,53 kali lebih besar mengalami kehamilan yang tidak diinginkan dibandingkan dengan mereka yang belum memutuskan tentang niat kesuburan. Mayoritas wanita usia subur yang berpendidikan rendah di tingkat provinsi memiliki probabilitas risiko untuk kehamilan yang tidak diinginkan (OR = 1,07; 95% CI: 1,04-1,09). Namun, proporsi penduduk miskin dan termiskin di tingkat provinsi memiliki probabilitas protektif untuk kehamilan yang tidak diinginkan (OR = 0,96; 95% CI: 0,95-0,98). Variasi hubungan antara niat kesuburan wanita reproduksi dan kehamilan yang tidak diinginkan di tingkat komunitas adalah signifikan secara statistik. Simpulan: Provider sebaiknya menargetkan kelompok masyarakat yang akan diberikan intervensi terhadap pencegahan kehamilan tidak diinginkan berdasarkan hasil analisis intensi fertilitas.Latar Belakang: Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2012. Salah satu penyebab AKI di Indonesia adalah aborsi yang memberikan kontribusi 11-30%. Aborsi merupakan konsekuensi dari kehamilan tidak diinginkan (KTD). KTD di Indonesia tahun 2015 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan angka di tahun 2012. KTD pada tahun 2015 mencapai 16%, sedangkan tahun 2012 mencapai 13,6%. KTD terjadi karena kegagalan alat kontrasepsi, tidak menggunakan alat kontrasepsinya dengan benar dan konsisten atau tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun. Faktor lain yang mempengaruhi KTD adalah inkonsistensi intensi fertilitas, dimana terdapat beberapa wanita dengan intensi fertilitas tidak ingin anak lagi mengalami KTD.Tujuan: Mengkaji hubungan intensi fertilitas dengan KTD pada wanita usia subur di Indonesia.Metode: Penelitian dengan rancangan cross sectional menggunakan data PMA 2020 Gelombang I tahun 2015. Subjek penelitian adalah 5.581 wanita usia subur 15-49 tahun, telah menikah, seksual aktif, pernah hamil dan subur. Teknik analisis yang digunakan adalah univariabel (deskriptif), bivariabel (chi-square), multilevel (general linier model) digunakan sebagai teknik analisis akhir untuk data hierarki seperti data PMA. Seluruh tes menggunakan confidence interval (CI) 95% dan tingkat kemaknaan p 0,05.Hasil: Analisis Multilevel menunjukan bahwa WUS dengan intensi fertilitas tidak ingin anak lagi memiliki peluang 1,53 kali lebih besar mengalami KTD dibandingkan dengan WUS yang belum memutuskan intensi fertilitasnya (P<0,05). Proporsi WUS berpendidikan rendah pada level provinsi memiliki peluang resiko terhadap KTD (OR=1,07; 95% CI=1,04-1,09), sedangkan proporsi penduduk miskin dan termiskin level provinsi memiliki peluang yang cenderung protektif terhadap terjadinya KTD (OR=0,96; 95% CI= 0,95-0,98). 11 % variasi KTD pada level komunitas dijelaskan oleh variabel yang tidak teramati dalam penelitian. Variasi hubungan antara intensi fertilitas WUS dan KTD pada level komunitas bermakna secara statistik.Kesimpulan: Intensi fertilitas wanita usia subur berhubungan dengan kehamilan tidak diinginkan di Indonesia
PENGALAMAN IBU DALAM MENGHADAPI ANAK REMAJA DENGAN GEJALA PREMENSTRUAL DYSPHORIC DISORDER
Mothers experience dealing an adolescent with premenstrual dysphoric disorder symptomsPurposeThe purpose of this study is to explore mothers experience dealing an adolescent with symptoms of the premenstrual dysphoric disorder (PMDD). MethodsThe research used quantitative and qualitative methods. In the quantitative method used with a cross-sectional design using the PMDD symptom questionnaire according to DSM-IV in adolescents, while in a qualitative method using in-depth interview technique on the mother of the adolescent. Data analysis on a quantitative method using descriptive analysis while on qualitative using method of data analysis Colaizi (1973). ResultsThis study showed that 23% or 52 of 226 adolescents had PMDD symptoms and found five themes: 1) the mother knew and felt the symptoms of PMDD experienced by the child, 2) The attitude and the limited time of mother and child affected the delivery of PMDD symptoms of the child to the mother, 3 ) Diversity of the mother's response when the child is facing symptoms of PMDD, 4) The handling that the mother gives to the child when the child has PMDD symptoms is sourced from the past, 5) Mother seeks information about the handling that can be done when experiencing PMDD symptoms. ConclusionMothers play an important role in helping adolescent deal with PMDD symptoms. mothers can provide support, be it instrumental support, assessment, emotional and informational. Mothers should have adequate knowledge of PMDD symptoms so that the support provided can be maximized.Latar Belakang : Premenstrual dysphoric disorder merupakan salah satu gangguan menstruasi yang dialami oleh wanita. Gejala PMDD apabila dialami oleh remaja, maka dapat menurunkan kualitas hidup keluarga khususnya ibu memiliki peran penting dalam memberikan dukungan bagi remaja selama mengalami gejala PMDD.Metode : Penelitian menggunakan metode kuantitaif dan kualitatif. Pada metode kuantitaif digunakan dengan rancangan cross sectional dengan menggunakan kuesioner gejala PMDD sesuai DSM-IV pada remaja, sedangkan pada metode kualitatif menggunakan teknik wawancara mendalam pada ibu dari remaja. Analisa data pada metode kuantitatif menggunakan analisa deskriptif sedangkan pada kualitatif menggunakan metode analisa data Colaizi (1973)Hasil : Hasil menunjukkan terdapat 23 % atau 52 dari 226 remaja mengalami gejala PMDD dan ditemukan lima tema yaitu: 1) ibu mengetahui dan merasakan gejala PMDD yang dialami oleh anak, 2) Sikap dan keterbatasan waktu ibu dan anak memengaruhi tersampaikannya gejala PMDD anak kepada ibu, 3) Keberagaman respon ibu saat anak menghadapi gejala PMDD, 4) Penanganan yang ibu berikan kepada anak saat anak mengalami gejala PMDD bersumber dari masa lalu, 5) Ibu berusaha mencari informasi tentang penanganan yang dapat dilakukan saat mengalami gejala PMDDKesimpulan: Ibu berperan penting dalam membantu anak menghadapi gejala PMDD. ibu dapat memberikan dukungan, baik itu dukungan instrumental, penilaian, emosional dan informasional. Ibu harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang gejala PMDD sehingga dukungan yang diberikan dapat maksimal
Usia pubertas dan citra tubuh terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja putri di Yogyakarta
Age of puberty and body image to premarital sexual behavior in female adolescent In Yogyakarta PurposeThe purpose of this study was to identify the relationship between age of puberty and body image with premarital sexual behavior in young women in Yogyakarta.MethodObservational research with cross-sectional design using quantitative and qualitative approach was conducted involving 206 students in Vocational High School Yogyakarta with sampling technique purposive sampling.ResultsAs many as 28.16% of respondents are at risk of sexual pre-marriage. The age of puberty and body image has no significant relationship with premarital sexual behavior in adolescents p>0.05. Media information and peers gives the most influence to age of puberty relationship with premarital sexual behavior. Media information gives the most influence on the relationship of body image with premarital sexual behavior.ConclusionThere is no significant relationship between age of puberty and premarital sexual behavior in adolescents. There is a no significant relationship between body image and premarital sexual behavior in adolescents
Risiko kematian pada kasus-kasus leptospirosis: data dari Kabupaten Bantul 2012-2017
Purpose: Leptospirosis is a major public health problem in tropical countries with potentially fatal systemic complications and multi-organ dysfunction. Leptospirosis is endemic in Bantul area. This study aimed to identify the major risk of the factors which contribute to the mortality of leptospirosis patient in Bantul area during 2012-May 2017. Methods: This study using case-control study design with ratio 1:3, 32 cases and 96 controls. The collected data were the manifestation of clinic and laboratory findings from the medical records of leptospirosis patient during 2012-May 2017 in Bantul District Hospital. The inclusion criteria in this study was based on pertinent clinical and epidemiological data and positive serology, patient who domiciled and living in Bantul District Area. The data were analyzed using Fisher test, Chi-square, and multiple logistic regression. The data processed using STATA Software version 13.1. Results: A total of 128 patients were included, with mean age 50.9±12.5 years; 75% (n=96) were male. The mean length from onset symptoms to admission was 4.5±2.27 days. Multivariate logistic regression demonstrated that four dominant factors were significantly independent associated with mortality, icteric, myalgia, dyspnea and thrombocytopenia. Conclusion: The presence of dyspnea, myalgia, icterus, and thrombocytopenia (<100.000/µL) on admission in patients with leptospirosis indicated high risk of death.AbstrakTujuan: Leptospirosis adalah masalah utama kesehatan masyarakat yang dapat mengakibatkan komplikasi dan disfungsi multi organ yang berpotensi fatal. Bantul merupakan wilayah endemik leptospirosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan mengidentifikasi besarnya risiko dari faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kematian pada pasien leptospirosis di Kabupaten Bantul pada periode 2012-Mei 2017. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan desain kasus kontrol dengan perbandingan 1:3 yaitu 32 kasus dan 96 kontrol. Data yang dikumpulkan adalah manifestasi klinik dan hasil pemeriksaan laboratorium menggunakan rekam medis pasien leptospirosis pada periode 2012-Mei 2017 di rumah sakit Kabupaten Bantul. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah ada riwayat terpapar lingkungan yang terkontaminasi leptospirosis, hasil positif pemeriksaan serologi, dan pasien berdomisili dan menetap di wilayah Kabupaten Bantul. Analisis data menggunakan uji fisher test, Chi square dan multivariate logistik regresi. Pengolahan data menggunakan software STATA versi 13.1. Hasil: Total sampel adalah 128 pasien leptospirosis, 96 (75%) adalah laki-laki, rata-rata umur pasien leptospirosis adalah 50.9±12.5 tahun. Rata-rata lama demam sebelum masuk rumah sakit yaitu 4.5±2.27 hari. Analisis multivariat dengan logistik regresi menunjukkan terdapat 4 variabel dominan yang berhubungan dengan kematian pada pasien leptospirosis di Kabupaten Bantul yaitu ikterik (p-value=0.006; OR=7.78; 95%CI=1.786-33.925), myalgia (p-value=0.005; OR=5.20; 95%CI=1.659-16.317), sesak (p-value=0.028; OR=3.176; 95%CI=1.130-8.920) dan trombositopenia (p-value=0.019; OR=3.99; 95%CI=1.261-12.639). Simpulan: Keberadaan sesak, myalgia, ikterik, dan trombositopenia (<100.000/µL) merupakan faktor risiko prognosis buruk (meninggal) pada pasien leptospirosis di Kabupaten Bantul.Risks of death among leptospirosis cases: data from a Bantul District 2012-2017Purpose: Leptospirosis is a major public health problem in tropical countries with potentially fatal systemic complications and multi-organ dysfunction. Leptospirosis is endemic in Bantul area. This study aimed to identify the major risk of the factors which contribute to the mortality of leptospirosis patient in Bantul area during 2012-May 2017. Methods: This study using case-control study design with ratio 1:3, 32 cases and 96 controls. The collected data were the manifestation of clinic and laboratory findings from the medical records of leptospirosis patient during 2012-May 2017 in Bantul District Hospital. The inclusion criteria in this study was based on pertinent clinical and epidemiological data and positive serology, patient who domiciled and living in Bantul District Area. The data were analyzed using Fisher test, Chi-square, and multiple logistic regression. The data processed using STATA Software version 13.1. Result: A total of 128 patients were included, with mean age 50.9±12.5 years; 75% (n=96) were male. The mean length from onset symptoms to admission was 4.5±2.27 days. Multivariate logistic regression demonstrated that four dominant factors were independently associated with mortality, icteric (p-value=0.006; OR=7.78; 95%CI=1.786-33.925), myalgia (p-value=0.005; OR=5.20; 95%CI=1.659-16.317), dyspnea (p-value=0.028; OR=3.176; 95%CI=1.130-8.920) dan thrombocytopenia (p-value=0.019; OR=3.99; 95%CI=1.261-12.639). Conclusion: the presence of dyspnea, myalgia, icterus, and thrombocytopenia (<100.000/µL) on admission in patients with leptospirosis indicated high risk of death. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan mengidentifikasi besarnya risiko dari faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kematian pada pasien leptospirosis di Kabupaten Bantul. Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan desain kasus kontrol dengan perbandingan 1:3 yaitu 32 kasus dan 96 kontrol. Data yang dikumpulkan adalah manifestasi klinik dan hasil pemeriksaan laboratorium menggunakan rekam medis pasien leptospirosis pada periode 2012-Mei 2017 di rumah sakit Kabupaten Bantul. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah ada riwayat terpapar lingkungan yang terkontaminasi leptospirosis, hasil positif pemeriksaan serology, dan pasien berdomisili dan menetap di wilayah Kabupaten Bantul. Analisis data menggunakan uji fisher test, Chi square dan multivariate logistik regresi. Pengolahan data menggunakan software STATA versi 13.1. Hasil : Total sampel adalah 128 pasien leptospirosis, 96 (75%) adalah laki-laki, rata-rata umur pasien leptospirosis adalah 50.9±12.5 tahun. Rata-rata lama demam sebelum masuk rumah sakit yaitu 4.5±2.27 hari. Analisis multivariat dengan logistik regresi menunjukkan terdapat 4 variabel dominan yang berhubungan dengan kematian pada pasien leptospirosis di Kabupaten Bantul yaitu ikterik (p-value=0.006; OR=7.78; 95%CI=1.786-33.925), myalgia (p-value=0.005; OR=5.20; 95%CI=1.659-16.317), sesak (p-value=0.028; OR=3.176; 95%CI=1.130-8.920) dan trombositopenia (p-value=0.019; OR=3.99; 95%CI=1.261-12.639). Simpulan: Keberadaan sesak, myalgia, ikterik, dan trombositopenia (<100.000/µL) merupakan faktor risiko prognosis buruk (meninggal) pada pasien leptospirosis di Kabupaten Bantul
WAJIB SKRINING TES HIV PRA-NIKAH SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN HIV DALAM KELUARGA
Latar BelakangHIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang atau menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh. Salah satu faktor risko penularan HIV adalah penularan dari suami pengidap HIV kepada istri atau sebaliknya. Penularan lain juga bisa ditularkan dari ibu pengidap HIV kepada anak, baik selama kehamilan, persalinan maupun selama menyusui. Kejadian HIV tertinggi berdasarkan pekerjaan masih didominasi oleh ibu rumah tangga. Salah satu faktor penyebabnya yaitu ketidaktahuan pasangan bahwa dalam dirinya sudah terinfeksi HIV sebelumnya. Inilah yang menjadi masalah utama kenapa sampai saat ini kasus HIV pada ibu rumah tangga semakin meningkat tiap tahun. Mengingat banyaknya kasus HIV yang terjadi pada ibu rumah tangga, maka pemerintah perlu merubah arah kebijakan untuk mencegah penularan HIV dalam lingkup keluarga dengan mewajibkan tes HIV pra-nikah. Mewajibkan test HIV pra-nikah adalah salah satu upaya yang paling efektif untuk mencegah terjadi penularan HIV dalam lingkup keluarga karena dengan mengetahui status HIV lebih awal maka banyak upaya yang dilakukan untuk menghindari penularan HIV dalam keluarga, seperti resiko penularan kepada pasangan melalui hubungan seksual dapat dicegah dengan penggunaan kondom dan pasangan yang telah terinfeksi HIV bahkan tetap dapat memiliki keturunan dengan aman melalui program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA/PMTCT). Calon orang tua dapat menekan risiko penularan HIV pada anak dengan mengetahui status HIV sejak dini. Diagnosis dini HIV memiliki potensi untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas serta tingkat penularan HIV. Oleh karena itu mewajibkan test HIV pra-nikah adalah salah satu upaya yang efektif dan sangat bermanfaat untuk melindungi keluarga dari infeksi HIV.TujuanPenulisan artikel ini bertujuan untuk menunjukan metode yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penularan HIV dalam lingkup keluargaLatar Belakang: HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang atau menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh. Salah satu faktor risko penularan HIV adalah penularan dari suami pengidap HIV kepada istri atau sebaliknya. Penularan lain juga bisa ditularkan dari ibu pengidap HIV kepada anak, baik selama kehamilan, persalinan maupun selama menyusui. Kejadian HIV tertinggi berdasarkan pekerjaan masih didominasi oleh ibu rumah tangga. Salah satu faktor penyebabnya yaitu ketidaktahuan pasangan bahwa dalam dirinya sudah terinfeksi HIV sebelumnya. Inilah yang menjadi masalah utama kenapa sampai saat ini kasus HIV pada ibu rumah tangga semakin meningkat tiap tahun. Mengingat banyaknya kasus HIV yang terjadi pada ibu rumah tangga, maka pemerintah perlu merubah arah kebijakan untuk mencegah penularan HIV dalam lingkup keluarga dengan mewajibkan tes HIV pra-nikah. Mewajibkan test HIV pra-nikah adalah salah satu upaya yang paling efektif untuk mencegah terjadi penularan HIV dalam lingkup keluarga karena dengan mengetahui status HIV lebih awal maka banyak upaya yang dilakukan untuk menghindari penularan HIV dalam keluarga, seperti resiko penularan kepada pasangan melalui hubungan seksual dapat dicegah dengan penggunaan kondom dan pasangan yang telah terinfeksi HIV bahkan tetap dapat memiliki keturunan dengan aman melalui program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA/PMTCT). Calon orang tua dapat menekan risiko penularan HIV pada anak dengan mengetahui status HIV sejak dini. Diagnosis dini HIV memiliki potensi untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas serta tingkat penularan HIV. Oleh karena itu mewajibkan test HIV pra-nikah adalah salah satu upaya yang efektif dan sangat bermanfaat untuk melindungi keluarga dari infeksi HIV.Tujuan: Penulisan artikel ini bertujuan untuk menunjukan metode yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penularan HIV dalam lingkup keluarg