Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Sudah efektifkah kebijakan kawasan tanpa rokok di Indonesia?

    Get PDF
    Tujuan: Era desentralisasi menjadikan pemerintah lokal memiliki wewenang untuk mencegah dampak negatif dari konsumsi tembakau. Sekitar 30% kabupaten/kota di Indonesia memiliki perda KTR, namun efektifitas kebijakan tersebut dalam menurunkan prevalensi merokok perlu diteliti. Isi kebijakan KTR hanya membatasi area merokok dan iklan rokok di wilayah yang sebagian besar sebenarnya ada di perkotaan. Bagaimana dengan kebijakan di perdesaan?. Isi kebijakan tiap daerah berbeda-beda yang dapat menimbulkan kesenjangan peraturan antar daerah. Indonesia belum meratifikasi tembakau dan undang-undang tentang pertembakauan belum disahkan pemerintah. Konten: Tidak ada perbedaan jumlah perokok remaja pada daerah dengan dan tanpa KTR. Contohnya di DKI Jakarta yang memiliki regulasi KTR namun kenyataannya dalam pelaksanaannya tidak selalu dipatuhi. Kebijakan KTR yang ada di daerah tidak memiliki dampak pengurangan merokok pada usia remaja. Kawasan yang telah ditentukan dalam kebijakan KTR merupakan tempat-tempat yang ada di perkotaan misalnya kantor, sekolah, restoran, pasar dan rumah sakit, sedangkan di pedesaan hampir tidak ada tempat pelarangan merokok. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013, orang yang merokok setiap hari sebagian besar (25.5%) tinggal di daerah perdesaan. Simpulan: Kebijakan KTR di Indonesia belum efektif. Pemerintah daerah yang tidak menggantungkan sumber pendapatannya dari tembakau dapat lebih tegas peraturannya. Pada daerah tersebut, kebijakan untuk mengurangi prevalensi perokok selain KTR sebaiknya ditambah pembatasan penjualan rokok di warung-warung dan sales penjual rokok di desa-desa. Larangan merokok di dalam rumah belum ada dalam Perda KTR, ini dapat menjangkau perkotaan maupun perdesaan. Fungsi pengawasan harus dicantumkan dengan jelas dalam perda KTR

    Evaluation of solid waste management system in ‘X’ hospital, Cilegon city, Banten

    Get PDF
    Health service activities by the hospital produce a waste of any activity in the form of medical activities and non-medical activities. The purpose of this research is to analyze the solid waste management system in  'X' Hospital, Cilegon City, Banten. The result showed that the source of solid waste generated were classified into 2 types, namely 2% of medical waste and 98% non medical, where the waste treatment process included sorting, characteristic wastage, transporting garbage to TPS, weighing, temporary storage and transportation. The method of handling solid, B3 and domestic solid waste in 'X' Hospital is done in each unit which is sorting according to its characteristic, but still finding the placement of waste which is not in accordance with its characteristic and solid waste processing process is not done by the hospital but given to a third party. Therefore, it can be concluded that the effort to evaluate the solid waste management of 'X' Hospital must refer to the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 1204 / Menkes/ SK / X / 2004 on Hospital Health Requirements and need to improve supervision and good cooperation with nurses and janitors in the separation of medical and non-medical waste

    National health coverage programs and quality of referral obstetrics and gynaecology clinic in Dr Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta

    Get PDF
    Purpose: Implementation of national health coverage contributes to the increasing number of outpatient visits in Obstetrics and Gynecology Department, Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital. It may be caused by improper referral system or number of government insurance patients called as BPJS patients. Therefore, this study aims to analyse the pattern and quality of referral system in the implementation of national health coverage.Method: The quasi experimental study was conducted using pre and post analysis of the cases pattern and referral quality. It included accuracy of referred case diagnosis, accuracy of referring health facility, and consistency of referred case diagnosis.Results: There was an increasing number of referral visits in the early implementation of  national health program; however, it declined overtime. There was reduction of general obstetrics and gynaecology cases and increase of sub-specialistic cases. It was in appropriate to the role of centre referral hospital in Indonesia. Around 98% referral diagnosis was correct to be referred, 82% cases came from correct health facility, and 98% referral diagnosis was consistent to Dr. Cipto Mangunkusumo hospital.Conclusion: The quality referral cases improves with the implementation of national health coverage program

    [PHS4] Gerakan Masyarakat Cinta Sehat (Germacis) Sebagai Strategi Mengendalikan Penyakit Tidak Menular: Studi Pada Kampung di Yogyakarta

    No full text
    Latar belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) mendominasi penyebab kematian di Yogyakarta. Kampung Jogokaryan merupakan bagian dari Kota Yogyakarta memiliki Kasus hipertensi dan diabetes melitus cukup tinggi. PTM ini dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok, kurang aktifitas fisik dan kegemaran makan gorengan. Disisi lain, kampung ini memiliki modal sosial seperti kebiasaan gotong royong, posyandu lansia, kelompok arisan ibu-ibu dan bapak-bapak yang aktif. Berdasarkan peluang tersebut telah dilakukan Germacis untuk mengendalikan masalah PTM dan kebiasaan merokok di Kampung Jogokaryan, Yogyakarta. Metode: Intervensi program gerakan masyarakat cinta sehat diawali dengan melakukan need assesment pada tokoh masyarakat melalui wawancara kemudian melakukan pertemuan dengan kelompok PKK atau dasawisma dan sosialisasi program. Kemudian dilakukan perencanaan program bersama masyarakat untuk menentukan program yang akan dijalankan. Terakhir  dilakukan deklarasi gerakan masyarakat cinta sehat dengan kegiatan yang telah disepakati masyarakat.  Hasil & Rekomendasi: Tahapan Program Germacis terdiri dari 5 tahap yaitu : 1) Pengembangan invonasi : bersama tokoh masyarakat merumuskan program (edukasi, deteksi dini PTM, senam, jalan sehat, dan penggunaan media promosi kesehatan, serta deklarasi;  2) Diseminasi Program : soialisasi program pada kelompok arisan ibu-ibu, kelompok arisan bapak-bapak, kelompok lansia, dan kelompok senam kampung;  3)Adopsi Program : sasaran merespon program  dan menerima program; 4)Implementasi Program : program dilaksanakan secara bertahap  melalui edukasi dengan media promosi kesehatan, deteksi dini PTM, dan partnership dengan tokoh masyarakat; 5) keberlangsungan dan pemeliharaan program : dilakukan deklarasi Germacis kemudian disebarkan luaskan oleh stakeholder  pada setiap pertemuan warga. Program Germacis dapat direplikasi pada wilayah lain dengan memperhatikan karakteristik masyarakat setempat agar program berhasilLatar belakang : Penyakit Tidak Menular (PTM) mendominasi penyebab kematian di Yogyakarta. Kampung Jogokaryan merupakan bagian dari Kota Yogyakarta memiliki Kasus hipertensi dan diabetes melitus cukup tinggi. PTM ini dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok, kurang aktifitas fisik dan kegemaran makan gorengan. Disisi lain, kampung ini memiliki modal sosial seperti kebiasaan gotong royong, posyandu lansia, kelompok arisan ibu-ibu dan bapak-bapak yang aktif. Berdasarkan peluang tersebut telah dilakukan Germacis untuk mengendalikan masalah PTM dan kebiasaan merokok di Kampung Jogokaryan, Yogyakarta.Metode Pelaksanaan : Intervensi program gerakan masyarakat cinta sehat diawali dengan melakukan need assesment pada tokoh masyarakat melalui wawancara kemudian melakukan pertemuan dengan kelompok PKK atau dasawisma dan sosialisasi program. Kemudian dilakukan perencanaan program bersama masyarakat untuk menentukan program yang akan dijalankan. Terakhir  dilakukan deklarasi gerakan masyarakat cinta sehat dengan kegiatan yang telah disepakati masyarakat. Hasil & Rekomendasi : Tahapan Program Germacis terdiri dari 5 tahap yaitu : 1) Pengembangan invonasi : bersama tokoh masyarakat merumuskan program (edukasi, deteksi dini PTM, senam, jalan sehat, dan penggunaan media promosi kesehatan, serta deklarasi;  2) Diseminasi Program : soialisasi program pada kelompok arisan ibu-ibu, kelompok arisan bapak-bapak, kelompok lansia, dan kelompok senam kampung;  3)Adopsi Program : sasaran merespon program  dan menerima program; 4)Implementasi Program : program dilaksanakan secara bertahap  melalui edukasi dengan media promosi kesehatan, deteksi dini PTM, dan partnership dengan tokoh masyarakat; 5) keberlangsungan dan pemeliharaan program : dilakukan deklarasi Germacis kemudian disebarkan luaskan oleh stakeholder  pada setiap pertemuan warga. Program Germacis dapat direplikasi pada wilayah lain dengan memperhatikan karakteristik masyarakat setempat agar program berhasil

    PHS4 Psychological Perspective Quality of Life Street Seller in Medan City

    No full text
    Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran deskriptif kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan dari perspektif psikis. Metode: penelitian ini menggunakan desain Cross-sectional. Sampel penelitian ini sebesar 98 responden yaitu pedagang kaki lima di Kota Medan dengan menggunakan kuesioner The brief Version of World Health Organization’s Quality of Life Questionnaire dengan indikator psikis. Hasil: Tingkat menikmati hidup paling banyak kategori baik (43,9 %, CI 95% = 33,7-54,1%). Tingkat merasa hidup berarti paling banyak kategori baik (39,8 %, CI 95% = 30,6-50%). Tingkat perasaan aman paling banyak kategori baik (64,3%, CI 95% = 55,1-74,5%). Tingkat menerima penampilan tubuh paling banyak kategori puas(46,9%, CI 95% = 36,7-56,1%). Tingkat kecukupan uang paling banyak kategori baik (52 %, CI 95% = 41,8-63,2%). Tingkat kesempatan bersenang-senang paling banyak kategori baik(39,8%, CI 95% = 29,6-49%). Tingkat kepuasaan terhadap kemampuan aktivitas paling banyak kategori baik (55,1 %, CI 95% = 45,9-65,3%). Tingkat Kepuasan bekerja paling banyak kategori baik (45,9%, CI 95% = 35,7-55,1%). Tingkat kepuasaan terhadap diri paling banyak kategori baik(46,9 %, CI 95% = 36,8-57,1%) Tingkat perasaan negatif paling banyak kategori baik (50 %, CI 95% = 40,8 -60,2%). Simpulan: Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat menikmati hidup, tingkat merasa hidup berarti, tingkat perasaan aman, tingkat menerima penampilan tubuh, tingkat kecukupan uang, tingkat kesempatan bersenang-senang, tingkat kepuasan kemampuan aktivitas, tingkat kepuasan bekerja, tingkat kepuasaan diri dan tingkat perasaan negatif paling banyak dalam kategori baik.Objektif: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran deskriptif kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan dari perspektif psikis. Metode: penelitian ini menggunakan desain Cross-sectional. Sampel penelitian ini sebesar 98 responden yaitu pedagang kaki lima di Kota Medan dengan menggunakan kuesioner The brief Version of World Health Organization’s Quality of Life Questionnaire dengan indikator psikis. Hasil: Tingkat menikmati hidup paling banyak kategori baik (43,9 %, CI 95% = 33,7-54,1%). Tingkat merasa hidup berarti paling banyak kategori baik (39,8 %, CI 95% = 30,6-50%). Tingkat perasaan aman paling banyak kategori baik (64,3%, CI 95% = 55,1-74,5%). Tingkat menerima penampilan tubuh paling banyak kategori puas(46,9%, CI 95% = 36,7-56,1%). Tingkat kecukupan uang paling banyak kategori baik (52 %, CI 95% = 41,8-63,2%). Tingkat kesempatan bersenang-senang paling banyak kategori baik(39,8%, CI 95% = 29,6-49%). Tingkat kepuasaan terhadap kemampuan aktivitas paling banyak kategori baik (55,1 %, CI 95% = 45,9-65,3%). Tingkat Kepuasan bekerja paling banyak kategori baik (45,9%, CI 95% = 35,7-55,1%). Tingkat kepuasaan terhadap diri paling banyak kategori baik(46,9 %, CI 95% = 36,8-57,1%) Tingkat perasaan negatif paling banyak kategori baik (50 %, CI 95% = 40,8 -60,2%). Kesimpulan: Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat menikmati hidup, tingkat merasa hidup berarti, tingkat perasaan aman, tingkat menerima penampilan tubuh, tingkat kecukupan uang, tingkat kesempatan bersenang-senang, tingkat kepuasan kemampuan aktivitas, tingkat kepuasan bekerja, tingkat kepuasaan diri dan tingkat perasaan negatif paling banyak dalam kategori bai

    Challenges to Implementing and Sustaining Comprehensive Mental Health Program at Primary Health Care (PHC) In Wonogiri District, 2018

    Get PDF
    Objective: Wonogiri District got the highest rank at Central Java Province for Mental Health Problem (MHP) as much as 6.7 per mile. This things become a public health problem/burden  because its provide damage not only to the health sector but also the others. So far, mental health has become the most neglected program. This study aimed to know the achievement and challenges for implementing and sustaining comprehensive mental health programs at PHC in Wonogiri District.Content: The achievement implementation of mental health program in Wonogiri District has not reached the target of minimum service standards. This was related to challenges for implementing the program about funding, there was no special budget allocation for mental health program at PHC. Existing problems were not only funding problems, but also human resources. There was only one psychiatrist in district and no psychologist at PHC. Only 5 of 21 mental health off icer (MHO) that had received training about mental health program and 50% of them were not report MHP regularly for every 6 months. Beside funding and human resources, the other results include the incomplete medicine supply in the district, the lack of attention to mental health in the national health and social sector targets, the lack of support from community and related to stigma, low socio-economic level with uninsured population, and the problem of district level supervision to PHC. Mental health problems will get worse if the program implemented has not been functioning optimally. Challenges in the implementation of mental health program were related to funding, resources, facilities and infrastructure, health surveillance, and self-motivation, health insurance, and supervision. Community support and social prescribing services can lead to improved sustainability

    [PHS4] FAKTOR RISIKO BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) PADA IBU PRIMIPARA REMAJA 15-19 TAHUN DI PUSKESMAS RAWAT INAP KOTA PONTIANAK

    No full text
    Objektif: Prevalensi BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3-28% dan sering terjadi di negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Statistik menunjukan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. Kehamilan pada remaja memiliki risiko yang cukup tinggi karena organ reproduksi belum cukup matang untuk melakukan fungsinya. Age Spesific fertility Rate (ASFR) Kalimantan Barat 15-19 tahun tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 104 per 1000 kelahiran hidup.Tujuan: mengetahui faktor risiko kejadian BBLR pada ibu primipara remaja. Metode :Penelitian bersifat kuantitatif observasional analitik dengan desain case contol. Populasi  rawat inap Kota Pontianak sebanyak 174 responden. Sampel dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 yaitu kasus dan kontrol masing-masing 16 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis statistik menggunakan Chi Square Test. Hasil: penelitian menunjukan bahwa faktor risiko BBLR adalah riwayat frekuensi ANC (p value 0,031; OR=7,222), riwayat anemia (p value 0,034; OR=6,600), riwayat status gizi (p value 0,26; OR=9,000). Variavel yang tidak berhubungan riwayat hyperemesis (p value 0,484; OR=2,143) dan  keterpaparan asap rokok dengan BBLR (p value 0,500; OR=2,143). Kesimpulan: Sosial support group pada remaja yang hamil, pemerintah kota memberikan reward bagi remaja yang hamil tanpa melahirkan BBLR, Gratis uang iuran KUA diluar jam kantor jika pernikahan dilaksanakan di atas 21 tahun bagi wanita dan 25 bagi pria oleh pemerintah kota Pontianak.Objektif: Prevalensi BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3-28% dan sering terjadi di negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Statistik menunjukan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. Kehamilan pada remaja memiliki risiko yang cukup tinggi karena organ reproduksi belum cukup matang untuk melakukan fungsinya. Age Spesific fertility Rate (ASFR) Kalimantan Barat 15-19 tahun tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 104 per 1000 kelahiran hidup.Tujuan: mengetahui faktor risiko kejadian BBLR pada ibu primipara remaja.Metode :Penelitian bersifat kuantitatif observasional analitik dengan desain case contol. Populasi  rawat inap Kota Pontianak sebanyak 174 responden. Sampel dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 yaitu kasus dan kontrol masing-masing 16 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis statistik menggunakan Chi Square Test.Hasil: penelitian menunjukan bahwa faktor risiko BBLR adalah riwayat frekuensi ANC (p value 0,031; OR=7,222), riwayat anemia (p value 0,034; OR=6,600), riwayat status gizi (p value 0,26; OR=9,000). Variavel yang tidak berhubungan riwayat hyperemesis (p value 0,484; OR=2,143) dan  keterpaparan asap rokok dengan BBLR (p value 0,500; OR=2,143)  Kesimpulan: Sosial support group pada remaja yang hamil, pemerintah kota memberikan reward bagi remaja yang hamil tanpa melahirkan BBLR, Gratis uang iuran KUA diluar jam kantor jika pernikahan dilaksanakan di atas 21 tahun bagi wanita dan 25 bagi pria oleh pemerintah kota Pontianak.Kata kunci       : BBLR, hyperemesis, ANC, anemia, rokok, gizi

    Pendampingan sebagai alternatif penanganan balita kurang energi protein di masyarakat: pengalaman intervensi gizi

    No full text
    Sampai saat ini permasalahan Kurang Energi Protein  (KEP) di  DIY masih diambang batas permasalahan gizi masyarakat (cut of point 10%.).  Data Pemantauan Status Gizi Kabupaten Kulonprogo Tahun 2015-2017, sebesar 10, 96 %, 12,14 %, 12,22 %. Sedangkan KEP  di Puskesmas Temon I tahun 2016 - 2017 sebesar 12,26  % dan  13,07 %. Sehingga dalam perencanan di tingkat puskesmas masih menjadi prioritas untuk ditangani. Permasalahan KEP berkaitan dengan asupan makanan dan penyakit, sedangkan faktor yang menyebabkan kedua  tersebut sangat beragam. Sehingga untuk penanganan  dibutuhkan kegiatan yang melibatkan program lain (lintas program) bahkan sektor lain dengan tidak meninggalkan sentuhan dan pendekatan sosial kemasyarakatan. Selama ini untuk penanganan KEP adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT). PMT diberikan dalam bentuk pemberian makan dan atau bahan makanan tanpa ada pendampingan secara khusus.Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan, sikap dan merubah perilaku serta memberi  tambahan gizi kepada balita KEP.Pada awalnya kegiatan intervensi ini dilakukan pada 10 balita terpilih dengan melibatkan orang tua, kader, dan pemegang program lain di  puskesmas, namun kegiatan berikutnya disesuaikan dengan jumlah kasus KEP yang ada.  Sebelum kegiatan dilaksanakan diawali dengan advokasi dan sosialisasi di masyarakat.  Selanjutnya kegiatan meliputi kegiatan memasak bersama makan bersama, penyuluhan dan konsultasi, cuci tangan, berdoa, evaluasi, pemeriksaan kesehatan, pemberian bahan makanan, pemantaun berat badan, diskusi perencanaan.   Programer yang terlibat antara lain gizi, kia, farmasi, dokter, promkes, surveilan, imunisasi. Kegiatan intervensi ini selanjutnya dinamakan PENDAMPINGAN. Sampai saat ini penulis sudah mengadakan kegiatan PENDAMPINGAN beberapa kali di wilayah Kokap dan Temon, serta konsultan kegiatan di Girimulyo.Hasil yang diperoleh adalah perbaikan status gizi dan perbaikan status pertumbuhan, peningkatan pengetahuan gizi kesehatan , adanya kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat. Kata Kunci : PMT, KEP, Pendampinga

    "Super Youth": program inovasi penyuluhan kesehatan reproduksi berbasis komunitas remaja

    Get PDF
    Remaja dalam masa transisi kehidupan menuju kedewasaan cenderung untuk mencari tahu dan mencoba banyak hal baru. Fenomena pergeseran perilaku dapat dilihat dari laporan sebanyak 62, 7 % pelajar pernah melakukan hubungan seksual, 21,2 % pelajar pernah melakukan aborsi, 93,7 % pernah berciuman, melakukan genital stimulation, dan oral sex. 97 % pernah menonton film porno Kuncoro . Oleh karenanya perlu dibuatkan suatu wadah diskusi dan konseling bagi remaja agar mereka dapat belajar dan berkonsultasi tentang kesehatan reproduksi. Tujuan program ini adalah memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi kepada remaja menggunakan metode Focus Group Disscusion. Gereja dalam tugasnya melayani jemaat harus mampu melihat kebutuhan krusial yang paling dibutuhkan. Program ini dilaksanakan pada kelompok remaja yang dikomandani oleh Komisi GSC (Gejayan Students Club) bekerjasama dengan tim konselor Gereja, Universitas dan Dinas Kesehatan Daerah. Pemberian Pendidikan seksual yang dilakukan tidak seolah mengintimidasi gaya hidup remaja namun harus mampu mengarahkan  dengan cara yang menarik. Setiap kelompok terdiri dari empat orang yaitu Tiga orang remaja dan satu orang konselor sebagai pemimpin. Semua kelompok dibekali dengan buku panduan Kesehatan Reproduksi dan Buku Panduan Kemajuan Konseling. Sebelumnya dilakukan Seminar Kesehatan Reproduksi terlebih dahulu agar para konselor juga dibekali pengetahuan Kespro dan Teknik konseling. Program ini diharapkan menjadi solusi masalah pergaulan remaja, dimana mereka dapat menemukan wadah untuk saling berbagi pengalaman seksual dan diarahkan untuk mendapatkan informasi yang benar.

    Upaya pemeliharaan kesehatan lansia melalui peningkatan kapasitas kader Posyandu lansia padukuhan Nglaban, desa Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta

    Get PDF
    Latar belakang: Hipertensi merupakan kasus penyakit tertinggi kedua di Ngaglik. Berdasarkan data Posyandu Lansia Padukuhan Nglaban, kasus hipertensi pada lansia juga menjadi permasalahan utama. Posyandu Lansia di Nglaban dibentuk mulai 2016 dengan sistem tiga meja. Pelaksanaan posyandu lansia sudah berjalan rutin namun belum optimal karena belum ada pemanfaatan KMS lansia, oleh karena itu diperlukan peningkatan kapasitas kader dalam pengelolaan posyandu lansia.Tujuan: Meningkatkan upaya pemeliharaan kesehatan lansia melalui peningkatan kapasitas kader posyandu lansiaMetode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental one-group pre-test post-test dan one shot case study dengan mixmethode. Bentuk peningkatan kapasitas kader melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan kader dalam pengisian KMS lansia. Penelitian dilakukan sejak bulan April-September 2018 dengan responden penelitian sebanyak 11 orang kader posyandu lansia Padukuhan Nglaban. Data kuantitatif didapatkan melalui kuesioner pre test dan post test, lembar ceklis observasi kader pada pengisian KMS lansia, serta tinjauan dokumen untuk melihat kelengkapan pengisian pencatatan posyandu lansia. Data kualitatif didapatkan melalui observasi untuk melihat respon dan keaktifan responden selama pelatihan, sedangkan wawancara tidak terstruktur untuk mengetahui tanggapan dan kebermanfaatan pelatihan terhadap kinerja kader posyandu lansia.Hasil: Terdapat peningkatan pengetahuan kader yang signifikan setelah dilakukan pelatihan kader yaitu tentang PTM: 37% (p=0,0059) dan Posyandu lansia: 17,5% (p=0,015). Terdapat peningkatan keterampilan kader dalam pengisian KMS lansia yaitu  3 orang berketerampilan baik (33,3%), 4 orang cukup baik (44,4%), dan 2 orang kurang baik (22,2%). Terdapat peningkatan kunjungan posyandu lansia (April-September 2018).Kesimpulan: Program pelatihan kader dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kader; Pelatihan serta pendampingan teknis dalam pengisian KMS lansia dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pemanfaatan KMS lansia sehingga dapat berdampak pada peningkatan kunjungan lansia ke posyandu lansia

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇