Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Efektivitas Pendidikan Kesehatan melalui Media Permainan Ludo terhadap Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Siswa Sekolah Dasar dalam Pencegahan Adiksi Video Game
Effectiveness of video game addiction prevention using ludo game for elementary school studentsPurposeThis study aimed to determine the effectiveness of ‘Ludo game’ for increasing knowledge, attitudes, and behaviors of elementary school students concerning video-game addiction.MethodsThe research was a quasi-experimental study with pre and post tests and a control group design. The subjects were 99 elementary school students who were divided into treatment groups (two groups of intervention) and a control group. The data were collected using a questionnaire of knowledge, attitudes and behavior. Data analysis used paired t-test and analysis of variance (ANOVA) with significance level of 95% (p <0.05). ResultsThe characteristics of the study subjects in all three groups before the intervention were normally distributed. Paired t-test results showed that the ludo game and interactive lectures can improve knowledge, attitudes, and behaviors. However, there was no significant difference of knowledge, attitudes, and behaviors through Ludo compared to health education through interactive lectures in health education delivery. ConclusionLudo game and interactive lectures together can effectively improve the knowledge, attitudes, and behavior of elementary school students. Health education through ludo games was no more effective than the interactive lecture methods in increasing the knowledge, attitudes, and behavior of students on the prevention of video-game addictions. Latar belakang : Adiksi permainan audiovisual elektronik atau video game pada anak dapat dapat menimbulkan masalah kesehatan, seperti masalah kesehatan jiwa dan dan kesehatan fisik. Adanya banyak jenis permainan yang saat ini berkembang pesat, terutama untuk permainan audiovisual elektronik (video game) yang tidak sesuai dengan usia anak, perlu dicegah. Pendidikan kesehatan melalui permainan ludo dan ceramah interaktif merupakan salah satu langkah dalam menyampaikan informasi kesehatan tentang pencegahan adiksi permainan audiovisual elektronik kepada siswa sekolah dasar. Penelitan ini bertujuan untuk membandingkan keefektifan antara pendidikan kesehatan dengan menggunakan media permainan ludo dibandingkan dengan ceramah interaktif terhadap perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa dalam pencegahan adiksi permainan audio visual elektronik.Metode : Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan nonequivalent (pre-test and post-test) control group design. Subjek penelitian ini adalah 99 siswa sekolah dasar yang dibagi menjadi kelompok perlakuan (permainan ludo/ intervensi 1 dan ceramah interaktif/ intervensi 2) dan kelompok kontrol (tanpa intervensi). Data diambil menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap dan perilaku. Analisis statistik menggunakan paired t-test dan analysis of variance (ANOVA) one way dengan level signifikansi 95% (p < 0,05).Hasil : karakteristik subjek penelitian pada ketiga kelompok sebelum intervensi adalah homogen. Hasil paired t-test menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan melalui permainan ludo dan ceramah interaktif dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku antara pendidikan kesehatan melalui permainan ludo dibandingkan pendidikan kesehatan melalui ceramah interaktif.Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan menggunakan media permianan ludo dan ceramah interaktif efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa SD terhadap pencegahan adiksi permainan audiovisual elektronik. Pendidikan kesehatan dengan permainan ludo tidak lebih efektif dibandingkan dengan metode ceramah interaktif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa terhadap pencegahan adiksi permainan audiovisual elektronik
HUBUNGAN TEMU MEDIA DENGAN PROMOSI PEMBERIAN ASI DI MEDIA MASSA
Media relations with breastfeeding promotion through mass mediaPurposeThis study aimed to evaluate the publication of coverage of media gatherings on promoting breastfeeding in the mass media organized by Wahana Visi Indonesia (WVI).MethodThe experimental study was conducted using primary data from the ongoing event which was the publication data of WVI media coverage.ResultThere was still inappropriate coverage in using the terminology associated with breastfeeding (30%). The main messages on the media gathering agenda have not been widely used as the main theme in liputan (30%). There was a difference in the quality of content coverage between mass media groups that have a target audience of women or families with mass media that have a general target audience in terms of the main theme, but there is no difference statistically from other facets. There was a strong correlation between the content quality of the coverage with the mass media group in terms of the main theme, but there is no difference from another side. ConclusionMedia gathering on breastfeeding topics can attract mass media to publish coverage. Groups of mass media that have a target audience of women or families and mass media that have a common target audience can be involved in breastfeeding promotion.Latar Belakang: Menurut hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, ada kecenderungan peningkatan persentase jumlah anak di bawah umur 2 tahun yang tidak disusui seiring dengan pertambahan umur anak. Upaya meningkatkan pemberian ASI di Indonesia membutuhkan dukungan dari para pemangku kepentingan yang terkait, termasuk para praktisi di bidang media massa. Wahana Visi Indonesia (WVI) menyelenggarakan serangkaian temu media untuk mempromosikan pemberian ASI di Indonesia. Ada 21 media massa cetak, media siber, dan televisi yang mempublikasikan 64 liputan temu media.Tujuan: Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk mengevaluasi publikasi hasil liputan temu media tentang promosi pemberian ASI di media massa yang diselenggarakan oleh WVI pada tanggal 9 Juni 2015, 9 Juli 2015, dan 8 Agustus 2015.Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental, one group, post-test only yang menggunakan data primer dari kejadian yang sudah berlangsung, dan metode analisis isi kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian adalah semua publikasi hasil liputan temu media WVI.Hasil: Sebagian besar liputan mempunyai karakteristik isi liputan yang ditempatkan bukan di bagian liputan utama (94%), panjang liputan termasuk dalam kategori pendek (81%), menggunakan format berita (83%), menyebutkan narasumber dari temu media saja (92%), menampilkan foto/gambar atau adegan (96%), mempunyai fokus utama tentang pemberian ASI (73%), dan bernada positif (84%). Foto/gambar atau adegan yang terkait langsung dengan pemberian ASI lebih banyak ditampilkan dalam liputan (44%). Masih ada liputan yang tidak tepat dalam menggunakan terminologi yang terkait dengan pemberian ASI (30%). Pesan utama yang menjadi agenda temu media belum banyak digunakan sebagai tema utama dalam liputan (30%). Ada perbedaan kualitas isi liputan antara kelompok media massa yang mempunyai khalayak sasaran perempuan atau keluarga dengan media massa yang mempunyai khalayak sasaran umum dari segi tema utama (p0,05). Ada hubungan yang kuat antara kualitas isi liputan dengan kelompok media massa dari segi tema utama liputan (p0,05).Kesimpulan: Temu media dengan topik pemberian ASI dapat menjadi salah satu upaya untuk mendorong promosi pemberian ASI di media massa. Kelompok media massa yang mempunyai khalayak sasaran perempuan atau keluarga dan khalayak sasaran umum dapat dilibatkan dalam promosi pemberian ASI
Pengetahuan, sikap, dan faktor risiko lingkungan pada rumah tangga dengan riwayat leptospirosis di kota Yogyakarta dan kabupaten Bantul
Epidemiology of leptospirosis in Yogyakarta and BantulPurposeThe purpose of this study was to determine the relationship knowledge, attitude, and environmental factors with the incidence of leptospirosis.MethodsA case-control study was conducted in November 2016 in Yogyakarta city and Bantul district on 242 respondents. The case was leptospirosis patients that recorded in the Yogyakarta and Bantul District health offices within the period of June 2014 to June 2016. Controls were households in the same neighborhood as the case and had no history of leptospirosis, with case and control comparisons 1:1. Rat-catching was done inside the house and in the rice fields. ResultsKnowledge (OR: 1, 95% CI: 0.58-1.71, p-value: 1) and attitude (OR: 0.8, 95% CI: 0.47-1.40, p-value: 0 .44) had no significant association with leptospirosis incidence. The presence of rats in the home has no significant relationship with leptospirosis incidence (OR: 0.7, 95% CI: 0.15-3.78, p-value: 0.73). The multivariate analysis found that the distance of house to open sewer (OR: 2.96, 95% CI: 1.22-7.14) and the presence of in-house waste (OR: 2.03, 95% CI: 1.14-3.62) had a significant association with leptospirosis incidence.ConclusionThere was no statistically significant relationship between knowledge and attitude with leptospirosis incidence. Environmental factors such as the distance of house to open sewer and the presence of in-house waste have a statistically significant relationship with the incidence of leptospirosis. Two of the 4 serum mice examined with a positive MAT method contained Leptospira sp. with Benjamin serovar Benjamini strain.Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan faktor lingkungan dengan kejadian leptospirosis.Metode: Rancangan penelitian ini adalah observasional dengan studi case control dan studi lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2016 di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pada 242 responden. Kasus ialah penderita leptospirosis yang tercatat di dinas kesehatan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pada rentang waktu bulan Juni 2014 sampai bulan Juni 2016. Kontrol ialah rumah tangga yang berada di lingkungan yang sama dengan kasus dan tidak memiliki riwayat leptospirosis dengan perbandingan kasus dan kontrol adalah 1:1. Penangkapan tikus dilakukan di dalam rumah dan di sawah.Hasil: Pengetahuan (OR: 1,95% CI: 0,58-1,71:p-value 1) dan sikap (OR:0,8, 95% CI: 0,47-1,40:p-value 0,44) tidak memiliki hubungan signifikan dengan kejadian leptospirosis. Keberadaan tikus didalam rumah tidak memiliki hubungan signifikan dengan (OR : 0,7, 95% CI: 0,15-3,78:p-value 0,73). Hasil perhitungan multivariat menemukan bahwa variabel jarak rumah dengan saluran terbuka( OR:2.96, 95% CI:1,22-7,14) dan keberadaan sampah di dalam rumah (OR: 2.03, 95%CI:1,14-3,62) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian leptospirosis.Simpulan: Tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan dan sikap dengan kejadian leptospirosis. Faktor lingkungan seperti jarak rumah dengan saluran terbuka dan keberadaan sampah di dalam rumah memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian leptospirosis. Dua dari 4 serum tikus yang diperiksa dengan metode MAT positif mengandung Leptospira dengan strain Benjamin serovar Benjamini
Peningkatan Pengetahuan Tentang Jumantik Mandiri pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat
Improving women’s knowledge on dengue eradication programs: a result of university-community group partnership one-day training in Central JakartaPurpose: The purpose of the activity is to provide counseling the housewife in Serdang, Kemayoran sub-district, about independent larva monitoring officer as an effort to improve the knowledge of the community and the next is expected to be the independent larva monitoring officer in their households. Methods: The number of target activities is 28 housewives in Serdang, Kemayoran sub-district. After the counseling, participants' knowledge is expected to increase above 70%. Presentation materials are delivered in the form of drawings. Extension activities interspersed with ice breaking to refresh the atmosphere of counseling. Activities of socialization, advocacy, and counseling. Results: The result of the activity shows that the correct value for the answer about post-test extension below 70% there are five questions from total 16 questions. The result of paired T-test to pre and post test value obtained p-value = 0,087 (> 0,05) meaning there is no significant difference between value before and after counseling. Conclusion: This activity showed the story of university collaboration with local residents in the prevention of dengue fever. This one-day training program, supported by neighborhood and hamlet administration, served as good momentum to encourage community participation in public health. This activity is expected to continue to cover wider community groups.AbstrakTujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan pada ibu rumah tangga di Serdang, Kemayoran tentang jumantik mandiri sebagai upaya meningkatkan pengetahuan warga dan berikutnya diharapkan menjadi jumantik mandiri minimal di rumah tangga masing-masing. Metode: Jumlah sasaran kegiatan sebanyak 28 orang ibu rumah tangga di kelurahan Serdang, Kemayoran. Target kegiatan setelah penyuluhan adalah pengetahuan peserta meningkat di atas 70%. Bahan materi dipresentasikan dalam bentuk gambar. Kegiatan penyuluhan diselingi dengan ice breaking untuk menyegarkan suasana penyuluhan. Kegiatan berupa sosialisasi, advokasi dan penyuluhan. Hasil: Kegiatan menunjukkan bahwa nilai benar untuk jawaban soal posttest penyuluhan yang di bawah 70% ada lima soal dari total 16 soal. Hasil analisis statistik nilai pre dan posttest didapatkan nilai p=0,087 artinya tidak terdapat perbedaan signifikan antara nilai sebelum dan sesudah penyuluhan. Simpulan: Kegiatan ini menunjukkan cerita tentang keterlibatan perguruan tinggi yang bekerja sama dengan penduduk lokal dalam pencegahan demam berdarah. Penyuluhan sehari yang didukung oleh rukun tetangga/rukun warga serta perangkat kelurahan dapat menjadi momentum menggalakan partisipasi masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat berlanjut mencakup masyarakat yang lebih luas.Strategi global pemberantasan vektor DBD salah satunya adalah pengendalian nyamuk secara selektif dan terpadu yang melibatkan partisipasi masyarakat. Laporan cakupan Angka Bebas Jentik (ABJ) yang menjadi indikator pengendalian DBD merupakan output peran serta aktif kader jumantik. Tujuan kegiatan adalah penyuluhan pada ibu-ibu rumah tangga di Serdang daerah Kemayoran tentang jumantik mandiri sebagai upaya meningkatkan pengetahuan warga dan berikutnya diharapkan dapat menjadi jumantik mandiri minimal di rumah tangganya masing-masing.Jumlah sasaran kegiatan sebanyak 28 orang ibu rumah tangga di kelurahan Serdang, Kemayoran. Target kegiatan setelah penyuluhan adalah pengetahuan peserta meningkat di atas 70%. Bahan presentasi disusun menyesuaikan sasaran kegiatan penyuluhan yaitu Ibu Rumah Tangga. Lebih banyak materi disampaikan dalam bentuk gambar. Kegiatan penyuluhan diselingi dengan ice breaking untuk menyegarkan suasana penyuluhan. Sosialisasi dan advokasi dilaksanakan pada tanggal 12 Januari 2018 pelaksanaan penyuluhan pada hari Rabu, 17 Januari 2018 di Sekretariat RPTRA RW 1 kelurahan Serdang. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa nilai benar untuk jawaban soal post test penyuluhan yang dibawah 70% ada lima soal dari total 16 soal. Hasil uji T berpasangan terhadap nilai pre dan post tes didapatkan nilai p = 0,087 (> 0,05) artinya tidak terdapat perbendaan signifikan antara nilai sebelum dan sesudah penyuluhan. Saran yang bisa diberikan untuk soal post test masih dibawah 70% yaitu perlu dilakukan evaluasi materi, soal pre post test dan cara menyampaikan materinya
Analisis regresi linier perilaku dan pelayanan kesehatan dengan sub indeks penyakit tidak menular (Analisis lanjut IPKM 2014)
PHDI (Public Health Development Index) is a picture of progress in the health sector and a further elaboration of the health component of the Human Development Index (HDI) in Indonesia. PHDI 2014 consists of seven component sub-indices which are sub-index of Non Communicable Diseases (NCD). The analytical method used is multiple linear regression, while data from data Basic Health Research (Riskesdas) 2013 and the Potential of Village (PODES) 2011 which are consisted of 497 districts / cities throughout Indonesia. The purpose of analysis is to find the relationship of NCD sub index with behavioral and health services as well as making a prediction value of NCD index variable through independent variables which include the proportion of tobacco consumption, the proportion of properly brushing teeth, the proportion of adequately physical activity, the proportion of the number of doctors in sub-district and the proportion of Health Care Assurance ownership. The analysis showed that the variables such as brushing teeth, physical activity and smoking absence have a significant relationship with the sub-index of NCD (p-value = 0.000) with influence of 10.7%. Variables that have the most impact on the sub-index of NCD is adequately physical activity with a coefficient of 0.002
Hubungan Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dengan Peningkatan Cakupan Kunjungan Antenatal K4 di Puskesmas Kota Serang Tahun 2014-2016
Health Operational Aid Fund (BOK) realization at Serang City Community Health Centers (CHC) through 2014-2016 has always reached 100% mark which more than 30% of the fund was allocated for maternal and children health each year. However the achievement from maternal and children health scope especially on K4 antenatal visit was not proportional with the budget, instead each year a decreasing trend from proposed target (75%) was observed thus the need of evaluation. This study was conducted at regional health agency and four CHCs (Banten Girang, Curug, Sawah Luhur and Serang Kota) with retrospective study case design and considering fund variables and scopes. The result shows lack of human and other resources in managing maternal and children health program; the lack of operational fund for preventive and promotive activities from regional government budget (APBD) and only rely on health operational fund; the lack of supervision in midwife records and reports, also the contract ending of trained cadres as the result of village chief replacement
Pemetaan daerah kerawanan penyakit leptospirosis melalui metode geographically weighted zero inflated poisson regression
Mapping leptospirosis vulnerable areas through a geographically weighted zero-inflated poisson regressionPurpose: Gunung Kidul Health Office reported an increase of leptospirosis cases in 2017. There are many zero values in the data count, so the mean and variance values must not be met. Zero-Inflated Poisson regression is used for modeling data counts that are mostly zero. The study aims to map leptospirosis vulnerable areas.Method: A total of 144 villages were analyzed. The independent variables were percentages in paddy fields, residential land, settlement distance to rivers, population density, soil texture, altitude, and rainfall. The dependent variable was the number of leptospirosis cases in each village from 2011 to 2017.Results: The average of leptospirosis cases was 0.6 and the variance was 3.4. Observation data with value of zero was 81%. The Geographically Weighted Zero-Inflated Poisson Regression test was better than Zero-Inflated Poisson multivariate regression in mapping of leptospirosis vulnerable areas. The model brought up local variables in the percentage of paddy fields, percentage of residential land, percentage of settlement distance to river, place height, and rainfall and global variables in the form of population density and soil texture (R-Square = 55.9%). This vulnerability modeling was appropriate based on disease distribution and level of vulnerability. Only 5.5% of leptospirosis cases in the area were not vulnerable.Conclusion: The sentinel leptospirosis surveillance system should be applied in areas prone to early detection of leptospirosis cases.Purpose: Gunung Kidul Health Office reported an increase of leptospirosis cases in 2017. There are many zero values in the data count, so the mean and variance values must not be met. Zero-Inflated Poisson regression is used for modeling data counts that are mostly zero. The study aims to map leptospirosis vulnerable areas.Method: A total of 144 villages were analyzed. The independent variables were percentages in paddy fields, residential land, settlement distance to rivers, population density, soil texture, altitude, and rainfall. The dependent variable was the number of leptospirosis cases in each village from 2011 to 2017.Results: The average of leptospirosis cases was 0.6 and the variance was 3.4. Observation data with value of zero was 81%. The Geographically Weighted Zero-Inflated Poisson Regression test was better than Zero-Inflated Poisson multivariate regression in mapping of leptospirosis vulnerable areas. The model brought up local variables in the percentage of paddy fields, percentage of residential land, percentage of settlement distance to river, place height, and rainfall and global variables in the form of population density and soil texture (R-Square = 55.9%). This vulnerability modeling was appropriate based on disease distribution and level of vulnerability. Only 5.5% of leptospirosis cases in the area were not vulnerable.Conclusion: The sentinel leptospirosis surveillance system should be applied in areas prone to early detection of leptospirosis cases
Pendidikan infeksi menular seksual untuk remaja laki-laki Yogyakarta
Adolescent boys' knowledge and health education needs about sexually transmitted infections (STIs) Purpose: To determine the knowledge of adolescent boys and the need for health education about STIs in Yogyakarta Special Region.Methods: This research is a descriptive study with cross sectional design, with a total sample of 418 male students of class XII high school. This research was conducted in the Yogyakarta Special Region High School in September-November 2017. This study used univariate, bivariate and multivariate analysis. Results: The results showed that the average age of respondents 17 years as much as 61.5%, the most sources of information were lessons at school by 67.2%, 90.7% of students living with parents and the results of knowledge of adolescent boys in DIY bad by 52.4% and good by 47.6%. External variables related to knowledge are sources of information with p = 0.001 (p <0.05), the material that young boys want to know about health education about STIs is prevention done by 81.8% and 54.8% choosing media video as the desired method.Conclusions: The role of the world of education has a very big influence in providing information about STI to boys, the collaboration between the government and related parties will increase the knowledge of boys. One effort that can be done is by educating schools, especially on preventing STIs and using audiovisual media, besides that the role of the community and family, especially parents, will greatly influence the knowledge of adolescent boys.ABSTRAKLatar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) yang terjadi pada remaja terutama remaja laki-laki memiliki kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Indonesia merupakan salah satu Negara di Asia yang memiliki tingkat kejadian IMS cukup tinggi yakni sebesar 7,4%-50% pada tahun 2007. Salah satu penyebab tingginya angka kejadian IMS pada remaja laki-laki di Indonesia adalah karena kurangnya pengetahuan remaja tentang IMS, yang nantinya akan berpengaruh terhadap kebutuhan pendidikan kesehatan dari remaja terutama remaja laki-laki. Tujuan: Mengetahui pengetahuan remaja laki-laki dan kebutuhan pendidikan kesehatan tentang IMS di Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional, dengan total sampel sebanyak 418 siswa laki-laki kelas XII SMA. Penelitian ini dilakukan di SMA wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan September-November 2017. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang disusun oleh peneliti untuk mengukur pengetahuan remaja laki-laki dan kebutuhan pendidikan kesehatan tentang IMS yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian ini menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia responden 17 tahun sebanyak 61,5%, sumber informasi terbanyak adalah pelajaran di sekolah sebesar 67,2%, 90,7% siswa tinggal bersama orang tua dan hasil pengetahuan remaja laki-laki di DIY buruk sebesar 52,4% dan baik sebesar 47,6%. Variabel luar yang berhubungan dengan pengetahuan adalah sumber informasi dengan p=0,001 (p<0,05), materi yang ingin diketahui remaja laki-laki dalam pendidikan kesehatan tentang IMS adalah pencegahan yang dilakukan sebesar 81,8% dan 54,8% memilih media video sebagai metode yang diinginkan. Kesimpulan: Peran dari dunia pendidikan memiliki pengaruh sangat besar dalam memberikan informasi tentang IMS kepada remaja laki-laki, adanya kerjasama antara pemerintah dengan pihak-pihak terkait akan meningkatkan pengetahuan remaja laki-laki. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan penyuluhan kesekolah-sekolah terutama tentang pencegahan IMS dan menggunakan media audiovisual, selain itu peran dari masyarakat dan keluarga terutama orang tua akan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan remaja laki-laki.Kata Kunci: Pengetahuan, Remaja laki-laki, Kebutuhan Pendidikan Kesehatan, Infeksi Menular Seksual
Evaluation of the completeness and timeliness nutrition surveillance data reporting in Wonogiri district, Central Java province, 2017
ObjectivesSome of the nutrition problems still found in Wonogiri district. To solve that problems, completeness, and timeliness of the nutrition surveillance data reporting are needed so the data can be used as the basis for making policy appropriately. Evaluation of nutrition surveillance system was conducted to find out completeness and timeliness of the nutrition surveillance data reporting.MethodThis was an evaluative study using quantitative descriptive analysis which conducted from December 2017 to January 2018. Subjects of this study were nutritionists in District Health Office and 25 Primary Health Care (PHC) which selected randomly using Slovin samples size. Data collected by interviews and observation on surveillance data reporting form.ResultsPHC that reported complete data were 6 PHC (24%). One PHC (4%) did not report malnutrition data due to poor of time management. Ten Puskesmas (40%) did not report Hb data because they assumed that it was the duty of the laboratory officer or midwife. Three PHC (12%) did not report exclusive breastfeeding data every month, because they consider that the data should be collected only once every six months. Nine PHC (36%) did not report goiter data because they considered that it was no need to report if no cases. Most PHC (52%), never report the data timely. Most nutritionists (84%) had another duty that inhibits them to finish the surveillance data timely. Only two PHC (2%) whom the nutritionists had another duty but always report the data timely.ConclusionCompleteness and timeliness of the nutrition surveillance data reporting were still unsatisfying. PHC should be encouraged to collect data completely and timely. The data collection procedure should be fixed on the indicator collected and the time period in the data collection
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINDAKAN KRIOTERAPI PADA INDIVIDU IVA POSITIF DI KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2018
Latar Belakang: Penyakit kanker adalah penyakit yang timbul akibat pertumbuhan tidak normal sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Berdasarkan WHO, Setiap tahun 12 juta orang di dunia menderita kanker dan 7,6 juta meninggal dunia. Diperkirakan pada 2030 mencapai 26 juta orang dan 17 juta meninggal. Indonesia, tahun 2013 prevalensi tertinggi sebesar 0,8‰. Rumah sakit kanker Dharmais tahun 2010, kanker serviks 296 kasus, tahun 2011, kanker serviks 300 kasus, tahun 2012 kanker serviks 343 kasus, tahun 2013, kanker serviks 356 kasus, tahun 2014 kanker serviks 383 kasus. Kabupaten Temanggung sejak akhir tahun 2015 sampai Mei tahun 2017, pemeriksaan leher rahim sebanyak 5.323 orang terdiri dari IVA positif sebanyak 2.013 orang dan yang dilakukan krioterapi sebanyak 238 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan krioterapi pada individu IVA positif di Kabupaten Temanggung tahun 2017.Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel diambil secara simpel random sampling. Terdiri dari 356 sampel. Analisis dilakukan dengan univariat, bivariat dan multivariatHasil: Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Temanggung terhadap individu IVA positif. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 356 orang responden umur ≥ 35 tahun sebanyak 198 (55,62%. Pendidikan sekolah dasar dengan tindakan krioterapi di peroleh p value 0,000; PR = 1,83 (CI 95% = 1,131-2,414). Pengetahuan dengan tindakan krioterapi di peroleh p value 0,003; PR = 0,78 (CI 95% = 0,660-0,913). Pekerjaan bertani dengan tindakan krioterapi diperoleh p value 0,005; PR = 1,34 (CI 95% = 1,120-1,567). Keterjangkauan jarak dengan tindakan krioterapi di peroleh p value 0,016; PR = 1,26 (CI 95% = 1,029-1,538). Dukungan suami tidak memberikan ijin untuk melakukan krioterapi di peroleh p value 0,018; PR = 1.48 (CI 95% = 1,219-1,799). Dukungan suami tidak mau mengantar ke puskesmas untuk melakukan krioterapi di peroleh p value 0,026; PR = 1,21 (CI 95% = 1,031-1,428).Kesimpulan: Pendidikan ada pengaruh, pengetahuan kurang ada pengaruh risikonya 0,78 kali lebih besar dibandingkan dengan pengetahuan baik, pekerjaan, keterjangkauan jarak, dukungan suami tidak memberikan ijin ada pengaruh risikonya 1,45 kali lebih besar dibandingkan dengan dukungan suami memberikan ijin melakukan tindakan krioterapi pada individu IVA positif di Kabupaten Temanggung