Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Ketuk pintu lansia dan home visit untuk meningkatkan partisipasi dalam kegiatan Posyandu lansia

    Get PDF
    Tujuan: Hipertensi menjadi masalah kesehatan utama yang ditemukan di Padukuhan Nglaban, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman dan umumnya terjadi pada kelompok lanjut usia. Upaya pencegahan dan deteksi dini PTM melalui kegiatan posyandu lansia belum efektif dan baru dimulai pada Desember 2016. Peningkatan kapasitas kader diperlukan agar mampu mengembangkan kegiatan posyandu lansia. Namun, upaya lain yang langsung menyasar peserta posyandu lansia dibutuhkan agar posyandu lansia dapat menjalankan fungsinya dengan baik, yaitu KPL. KPL dilakukan untuk mensosialisasikan kembali posyandu lansia sekaligus pendataan ulang lansia. Hasil pendataan akan menunjukkan jumlah seluruh lansia dan  lansia yang harus dikunjungi karena tidak dapat langsung datang ke lokasi posyandu, dimana program ini disebut home visit. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan pre-experimental dan semi-kualitatif. Intervensi yang dilakukan berupa Ketuk Pintu Lansia (KPL) dan home visit.  Evaluasi program dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Hasil: Program Ketuk Pintu Lansia (KPL) dan home visit efektif dalam meningkatkan partisipasi lansia dalam kegiatan posyandu lansia. Jumlah lansia yang berpartisipasi pada kegiatan posyandu lansia sebanyak 54 orang, dimana 4 diantaranya dilakukan home visit.Terjadi peningkatan yang signifikan dimana jumlah partisipan pada bulan sebelumnya adalah 20 orang dari total 70 lansia. Simpulan: Program Ketuk Pintu Lansia (KPL) dan home visit dapat meningkatkan kesadaran akan kebutuhan dan kepemilikan posyandu lansia.Kata Kunci: ketuk pintu lansia; home visit; posyandu lansia

    Peningkatan kapasitas kader dalam penerapan pemantauan pertumbuhan balita di Posyandu Padukuhan Sembung

    Get PDF
    Permasalahan yang diteliti yaitu adakah perbedaan pengetahuan dan keterampilan kader terkait pelaksanaan posyandu balita sebelum dan sesudah diberikan pelatihan. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pelatihan terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam menerapkan pemantauan pertumbuhan balita di posyandu sebelum dan sesudah pelatihan di wilayah Padukuhan Sembung, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman. Penelitian ini menggunakan dua metode berupa  eksperimen-semu dengan rancangan one group pre dan post test design dengan subjek berjumlah 11 kader dan semi-wawancara terstruktur pada 5 perwakilan kader. Variabel yang diteliti yaitu pengetahuan dan keterampilan sebelum dan sesudah intervensi serta pendapat kader tentang sikap dan lesson learn yang diperoleh selama mengikuti pelatihan. Skor pengetahuan diukur dua kali yaitu pre-test dan post-test. Dengan uji Wilcoxon didapatkan adanya perbedaan bermakna pada pengetahuan kader tentang pemberian makanan sehat bayi dan balita dengan nilai p=0,01 (p<0,05); perbedaan bermakna pada pengetahuan komunikasi dasar dan teknik penyuluhan dengan nilai p=0,01 (p<0,05); namun tidak ada perbedaan bermakna pada pengetahuan kader terkait prosedur umum posyandu. Untuk peniliaian praktik antropometri menggunakan lembar cheklistdidapatkan hasil bahwa kader menjadi lebih paham tentang prosedur penimbangan berat badan, pengukuran panjang badan dan tinggi badan, pengukuran LiLA dan lingkar kepala pada bayi dan balita. Lima perwakilan kader yang diwawancarai mengungkapkan bahwa mereka senang dengan adanya pelatihan yang diberikan karena membuat mereka lebih memahami  prosedur posyandu yang baik dan tepat, serta berharap kegiatan semacam ini dapat berkesinambungan. Intervensi pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam menerapkan pemantauan pertumbuhan balita

    Tantangan implementasi pengadaan obat dengan e-purchasing melalui katalog elektronik

    Get PDF
    Berdasarkan Permenkes No. 63 Tahun 2014, seluruh Satuan Kerja di bidang kesehatan baik Pusat maupun Daerah dan FKTP atau FKRTL Pemerintah melaksanakan pengadaan obat melalui e-Purchasing berdasarkan Katalog Elektronik (e-Catalogue) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Selama 4 tahun berjalan semenjak ditetapkannya Permenkes No. 63 Tahun 2014, masih banyak kendala yang dialami dalam pengadaan obat dengan e-purchasingmelalui e-catalogue. Belum semua satuan kerja di bidang kesehatan melaporkan RKO (Rencana Kebutuhan Obat) kepada Kementerian Kesehatan. Menurut data Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan selama tahun 2017, satuan kerja baik pemerintah dan swasta yang belum melaporkan RKO sebanyak 1387 atau 46,23% dari total seluruh satuan kerja. Belum ada sanksi tertulis untuk satker yang tidak melaporkan RKO. Padahal RKO inilah yang menjadi acuan kementrian kesehatan dalam penentuan jenis obat dan jumlah yang akan dilelangkan.Realisasi belanja obat pada katalog elektronik hingga 2016 menurut KPK  melenceng jauh dari data RKO (hanya mencapai 30-40%). Selain itu data RKO belum terhubung dengan e-catalogue sehingga faskes yang tidak menyampaikan RKO tetap dapat melakukan belanja obat. Hal ini berpotensi menimbulkan kekosongan obat tertentu yang tadinya tidak masuk dalam RKO, kelebihan stok obat tertentu yang tadinya masuk dalam RKO tapi kemudian tidak dibeli sesuai rencana, dan kerugian untuk industri farmasi yang terlanjur memproduksi obat sesuai dengan jumlah yang tertera dalam hasil lelang. Meskipun telah dibuat e-monev tahun 2016 tapi tidak mengatasi ketidakakuratan RKO karena sosialisasi dan penggunaan yang belum optimal. Kementerian Kesehatan juga perlu memperbaiki mekanisme penyusunan RKO dan validasinya sehingga menjadi data yang akurat, mengoptimalkan penggunaan e-monev dan mensosialisasikannya pada pihak yang terkait, dan mengeluarkan aturan yang lebih tegas bahwa akses belanja obat di e-catalogue hanya untuk faskes/satker yang menyampaikan RKO. Integrasi antara e-catalogue dengan e-monev menjadi hal yang penting untuk diperhatikan sebagai dasar evaluasi pengadaan di tahun berikutnya

    Strategi manajemen bencana di kabupaten Magelang

    Get PDF
    Kabupaten Magelang termasuk daerah rawan bencana di Indonesia. Sumber bencana yang ada yaitu letusan Gunung Merapi, banjir lahar dingin, tanah longsor, dan banjir bandang. Pemerintah Kabupaten Magelang membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Magelang melalui Peraturan Daerah Nomer 3 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Kemudian disusun Peraturan Daerah Nomer 3 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana di Kabupaten Magelang yang digunakan sebagai pedoman dalam menjalankan program, kebijakan, penyelenggaraan penanggulangan bencana di wilayah Kabupaten Magelang. Selanjutnya muncul Peraturan Bupati Magelang Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Rincian Kegiatan dalam Tahapan Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang sebagai pedoman dalam penyusunan SOP Penanggulangan Bencana di wilayah Kabupaten Magelang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai fungsi sebagai penanggung jawab dan koordinator dalam penanggulangan bencana dari tahap pra bencana, saat tanggap darurat dan pasca bencana. Dalam pelaksanaannya di Kabupaten Magelang dibentuk relawan dan satuan tugas tanggap bencana yang terdiri dari berbagai elemen dan personil yaitu dari PMI, TNI/Polri, tenaga kesehatan dan lintas sektor terkait. Pada tahun 2018 Kabupaten Magelang mendapat penghargaan BNPB untuk kategori BPBD terbaik peringkat II wilayah satu dalam penanggulangan bencana di wilayah Kabupaten Magelang dengan pertimbangan sistem manajemen, pelaporan dan penanganan yang cepat terhadap wilayah yang terdampak bencana. Hal ini tidak terlepas dari pemetaan wilayah bencana, pelatihan kepada relawan dan satuan tugas yang rutin dilakukan oleh BPBD Kabupaten Magelang dan koordinasi yang terus dilakukan untuk memantau kesiapan seluruh personil satuan tugas tanggap bencana. Saran : perlu dilakukan sosialisasi, latihan tanggap darurat, kesiapsiagaan dan mitigasi bencana kepada masyarakat di lokasi rawan bencana, membuat jalur evakuasi di lokasi rawan bencana, membentuk tim penanggulangan resiko bencana di tiap desa yang rawan bencana, dan mengembangkan Puskesmas Disaster Plan (tim medis reaksi cepat), dan menerapkan strategi penanggulangan bencana yang berbeda di setiap lokasi dengan sumber bencana yang berbeda pula

    Determinan pemberian MPASI dini pada bayi 0-6 bulan di wilayah pedesaan: studi kasus di kabupaten Tuban Jawa Timur

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui penyebab terjadinya pemberian MP-ASI dini di wilayah pedesaan di Kabupaten Tuban, sehingga dapat disusun kebijakan dan langkah-langkah antisipasi mencegah terjadinya pemberian MP-ASI dini pada bayi usia 0-6 bulan yang diharapkan dapat menurunkan dampak buruk akibat pemberian MP-ASI dini dan angka morbiditas bayi, serta meningkatkan cakupan ASI Eksklusif. Metode: Review dari literatur jurnal dan laporan dari instansi kesehatan pemerintah yang terkait serta berdasarakan hasil pengamatan dijadikan referensi atau acuan pada penulisan abstrak ini. Hasil: Diwilayah pedesaan di kabupaten Tuban pemberian MP-ASI dini pada bayi usia kurang dari 6 bulan masih cukup banyak dilakukan, namun temuan tersebut masih berdasarkan pengamatan. Dan pada daerah yang sama juga ditemukan adanya budaya yang memicu pemberian MP-ASI dini yaitu dikarenakan pengaruh dari orang tua yang masih meyakini bahwa pertumbuhan atau berat bayi tidak bertambah jika bayi tidak di berikan pisang dan bubur diusia < 6 bulan. Dan adanya budaya patriarki dimana keputusan seorang Ibu harus mengikuti suaminya termasuk dalam memberikan perawatan pada bayinya. Dan berdasarkan hasil wawancara saat obersvasi singkat, beberapa ibu bayi menyatakan belum memahami dengan benar terkait pemberian ASI Eksklusif. Rekomendasi: Perlu diadakan penelitian lebih lanjut dan perlu ditingkatkan edukasi oleh tenaga kesehatan setempat secara komprehensif tentang pemberian ASI Eksklusif  tidak hanya pada ibu bayi tetapi untuk seluruh anggota keluarga bayi  dikarenakan pemberian ASI pada bayi tidak hanya tanggung jawab ibu dari bayi itu sendiri, melaikan tanggung jawab ayah beserta keluarganya

    Surveillance data Early Warning Alert and Response System (EWARS) as information for decision making in Wonogiri District, Central Province, 2017

    Get PDF
    EWARS was developed to conduct surveillance in outbreak detection and response. EWARS officers in Wonogiri District collected data but do not process it. Data must be processed to become information in decision making. This study aimed to evaluate the system of data processing and analysis system in EWARS  as information for decision making.The design study used is descriptive. Subjects in this study were 25 of 34 Public Health Center (PHC) EWARS surveillance officers and 1 district surveillance manager. Evaluation conducted at PHC in December 2017-January 2018. Sample size of PHC surveillance officers was calculated using Slovin formula. Primary data were obtained by interview using structured questionnaire and observation. Secondary data were obtained from EWARS data. Data analysis was done descriptively.There were 3 of 25 PHC officers who have done data analysis but not yet appropriate. 1 of them do manual analysis on notebooks, 2 others do the analysis made by others. 25 EWARS surveillance officers have never received any data analysis training. EWARS system cannot detect outbreak. EWARS data has never been used to program design. Dissemination of EWARS data has never been done. EWARS surveillance data cannot be used as information for decision-making at the PHC level because officers have not done the processing and data analysis, and dissemination has never been done. Data analysis training should be conducted and dissemination of data on a regular basic with bulletins or monthly meetings

    Kualitas Hidup pedagang kaki lima : Perspektif Lingkungan

    No full text
    Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas hidup pedagang kaki lima pada indikator lingkungan. Metode:  Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional, pengambilan data dengan menggunakan kuisioner dari The Bref  Version of World Health Organization’s Quality of Life Questionere dengan  indikator lingkungan , Jumlah responden sebanyak 98 orang pedagang kaki lima di kota Medan. Hasil : Tingkat kesehatan lingkungan tempat tinggal pedagang kaki lima berada paling banyak pada katagori memuaskan dengan frequensi sebesar 63 orang atau presentase sebesar 64,3% (CI 95% = 54,1 -73,5).  Tingkat kepuasan pedagang kaki lima dengan kondisi tempat tinggalnya berada paling banyak pada katagori memuaskan dengan frequensi sebesar 56 orang atau presentase sebesar  57,1 % (CI 95% = 48-67,3). Tingkat kepuasan pedagang kaki lima terhadap pelayanan kesehatan yang didapatkan berada paling banyak pada kategori cukup baik dengan frequensi sebesar 49 orang atau presentase sebesar 50% (CI 95%= 39,8 - 60,2). Tingkat kepuasan pedagang kaki lima terhadap transportasi menunjukan paling banyak pada kategori cukup baik dengan frequensi sebesar 39 orang atau presentase sebesar 39,8 % (CI 95% = 29,6 - 49). Tingkat  penerimaan informasi pedagang kaki lima menunjukan paling banyak  pada kategori memuaskan dengan presentase 59 orang atau frequensi sebesar 60,2% (CI 95% = 50 - 70,4). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa gambaran kualitas hidup pedagang kaki lima dengan indikator lingkungan menunjukan kategori memuaskan yaitu pada tingkat kesehatan lingkungan,tingkat kepuasan tempat tinggal dan kondisi tempat tinggalnya serta tingkat penerimaan informasi. Pada kategori cukup baik yaitu pada pelayanan kesehatan dan kepuasan terhadap transportasi.Objektif : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas hidup pedagang kaki lima pada indikator lingkungan. Metode:  Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional, pengambilan data dengan menggunakan kuisioner dari The Bref  Version of World Health Organization’s Quality of Life Questionere dengan  indikator lingkungan , Jumlah responden sebanyak 98 orang pedagang kaki lima di kota Medan. Hasil : Tingkat kesehatan lingkungan tempat tinggal pedagang kaki lima berada paling banyak pada katagori memuaskan dengan frequensi sebesar 63 orang atau presentase sebesar 64,3% (CI 95% = 54,1 -73,5).  Tingkat kepuasan pedagang kaki lima dengan kondisi tempat tinggalnya berada paling banyak pada katagori memuaskan dengan frequensi sebesar 56 orang atau presentase sebesar  57,1 % (CI 95% = 48-67,3). Tingkat kepuasan pedagang kaki lima terhadap pelayanan kesehatan yang didapatkan berada paling banyak pada kategori cukup baik dengan frequensi sebesar 49 orang atau presentase sebesar 50% (CI 95%= 39,8 - 60,2). Tingkat kepuasan pedagang kaki lima terhadap transportasi menunjukan paling banyak pada kategori cukup baik dengan frequensi sebesar 39 orang atau presentase sebesar 39,8 % (CI 95% = 29,6 - 49). Tingkat  penerimaan informasi pedagang kaki lima menunjukan paling banyak  pada kategori memuaskan dengan presentase 59 orang atau frequensi sebesar 60,2% (CI 95% = 50 - 70,4). Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa gambaran kualitas hidup pedagang kaki lima dengan indikator lingkungan menunjukan kategori memuaskan yaitu pada tingkat kesehatan lingkungan,tingkat kepuasan tempat tinggal dan kondisi tempat tinggalnya serta tingkat penerimaan informasi. Pada kategori cukup baik yaitu pada pelayanan kesehatan dan kepuasan terhadap transportasi

    Kegiatan Menulis Surat “Curhat” untuk Deteksi Bullying pada Siswa Sekolah Dasar

    Get PDF
    Siswa sekolah dasar yang menjadi korban bullying cenderung takut melapor kepada guru dan orang dewasa. Sementara, guru kurang menyadari adanya kejadian bullying di antara peserta didik. Kasus bullying diharapkan segera terdeteksi agar tidak menekan kondisi mental siswa secara berkepanjangan. Paper ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan surat “curhat” dalam mendorong siswa untuk menyampaikan pengalaman tindakan bullying di sekolah. Paper ini menekankan tiga manfaat penting dari kegiatan menulis surat “curhat” bagi siswa. Pertama, strategi menulis membuat siswa tidak merasa terintimidasi dibandingkan jika melaporkan secara tatap muka. Kedua, ada jaminan kerahasiaan identitas korban dan pelaku bullying sehingga mengurangi kecemasan jika diketahui siswa lainnya di sekolah. Ketiga, siswa lebih fleksibel menceritakan pengalaman bullying karena tidak terikat tempat dan waktu pelaporan. Kegiatan menulis surat “curhat” memberi kemudahan dan keeksklusifan menyampaikan keluhan pada siswa. Guru sebaiknya mempertimbangkan pendekatan secara private agar berhasil menemukan kasus bullying yang dialami siswa.Siswa sekolah dasar yang menjadi korban bullying cenderung takut melapor kepada guru dan orang dewasa. Sementara, guru kurang menyadari adanya kejadian bullying di antara peserta didik. Kasus bullying diharapkan segera terdeteksi agar tidak menekan kondisi mental siswa secara berkepanjangan. Paper ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan surat “curhat” dalam mendorong siswa untuk menyampaikan pengalaman tindakan bullying di sekolah. Paper ini menekankan tiga manfaat penting dari kegiatan menulis surat “curhat” bagi siswa. Pertama, strategi menulis membuat siswa tidak merasa terintimidasi dibandingkan jika melaporkan secara tatap muka. Kedua, ada jaminan kerahasiaan identitas korban dan pelaku bullying sehingga mengurangi kecemasan jika diketahui siswa lainnya di sekolah. Ketiga, siswa lebih fleksibel menceritakan pengalaman bullying karena tidak terikat tempat dan waktu pelaporan. Kegiatan menulis surat “curhat” memberi kemudahan dan keeksklusifan menyampaikan keluhan pada siswa. Guru sebaiknya mempertimbangkan pendekatan secara private agar berhasil menemukan kasus bullying yang dialami siswa, seperti melalui media surat “curhat” ini. 

    “SALAM Sehat”: Upaya Health Promoting University melalui Media Komunikasi Kesehatan berbasis Organisasi Mahasiswa di FKKMK UGM

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengembangan media komunikasi kesehatan “SALAM Sehat” berbasis organisasi mahasiswa di FKKMK UGM. Metode: Pengembangan media dilakukan melalui survei online, literature review, wawancara dan observasi sebagai bentuk analisis kebutuhan civitas akademika FKKMK UGM dan dalam prosesnya dilakukan dengan pemberdayaan mahasiswa melalui organisasi mahasiswa FKKMK UGM. Media yang telah dikembangkan berupa penyebaran media online poster dan video filler melalui akun dan grup organisasi mahasiswa. Metode evaluasi dilakukan secara kualitatif dengan desain studi kasus melalui Focus Group Discussion dengan anggota Organisasi Mahasiswa FKKMK UGM. Hasil: Program pengembangan media kesehatan dinilai telah mendukung Health Promoting University dan sesuai untuk meningkatkan kesadaran terhadap perilaku sehat. Media kesehatan yang telah dibuat mudah dipahami dan informatif, namun dalam prosesnya memiliki hambatan pada pengembangan media seperti kebingungan dalam mendesain konsep poster, dan menyesuaikan jadwal anggota tim. Pengembangan media ini didukung oleh adanya proses pembagian tugas di tim, terdapat SOP yang disepakati, dan adanya kerjasama antar organisasi. Pengembangan media diharapkan terus berlanjut denganadanya regenerasi tim untuk keberlanjutan program. Simpulan: Pengembangan media komunikasi kesehatan membutuhkan pengembangan media yang konsisten, terintegrasi dengan kebijakan, didukung dengan pengadaan fasilitas yang memadai, serta perlu kerjasama yang lebih luas agar media komunikasi dapat menjangkau seluruh civitas akademika FKKMK UGM.Objective: “SALAM Sehat” merupakan kampanye kesehatan SAntap buah dan sayur setiap hari, LAkukan aktivitas fisik secara rutin dan Menjaga kesehatan mental yang dilakukan sejak bulan Juni hingga Oktober 2018 di FKKMK UGM. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengembangan media komunikasi kesehatan “SALAM Sehat” yang berbasis organisasi mahasiswa di FKKMK UGM. Method: Pengembangan media beserta konten media dilakukan dengan pemberdayaan mahasiswa melalui organisasi mahasiswa FKKMK UGM. Media yang telah dikembangkan berupa poster online dan video filler melalui akun dan grup organisasi mahasiswa. Metode evaluasi dilakukan secara kualitatif dengan desain studi kasus melalui Focus Group Discussion dengan anggota Organisasi Mahasiswa FKKMK UGM. Result: Program pengembangan media “SALAM Sehat” dinilai telah mendukung Health Promoting University dan sesuai untuk promosi hidup sehat. Media kesehatan yang telah dibuat mudah dipahami dan informatif, namun dalam prosesnya memiliki hambatan pada pengembangan media seperti kebingungan dalam mendesain konsep poster, dan menyesuaikan jadwal anggota tim. Pengembangan media ini didukung oleh adanya proses pembagian tugas di tim, terdapat SOP yang disepakati, dan adanya kerjasama antar organisasi. Pengembangan media diharapkan terus berlanjut dengan adanya regenerasi tim untuk keberlanjutan program. Conclusion: Pengembangan media komunikasi kesehatan membutuhkan pengembangan media yang konsisten, terintegrasi dengan kebijakan, didukung dengan pengadaan fasilitas yang memadai, serta perlu kerjasama yang lebih luas agar media komunikasi dapat menjangkau seluruh civitas akademika FKKMK UGM

    Analisis laik sehat dan kualitas mikrobiologis air minum isi ulang di Kecamatan Ligung, Majalengka

    No full text
    Tujuan: Penelitian untuk mengetahui hubungan laik sehat dengan kualitas mikrobiologi air minum isi ulang.Metode: Jenis penelitian  adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel terikat adalah kualitas mikrobiologi air minum isi ulang. Variabel bebas adalah laik sehat dan sub variabel-variabelnya yaitu kualitas air baku, peralatan dan proses pengolahan, perilaku operator, dan sanitasi bangunan depot air minum isi ulang.Hasil: Terdapat 29 DAMIU (50,88%) kategori LS, 28 DAMIU (49,12%) kategori TLS. Kualitas air baku, terdapat 1 DAMIU (1,75%) kategori MS, 56 DAMIU (98,25%) kategori TLS. Peralatan dan proses pengolahan, terdapat 29 DAMIU  (50,88%) kategori MS, 28 DAMIU (49,12%) kategori TMS. Perilaku operator, terdapat 3 DAMIU (5,26%) kategori MS, 54 DAMIU (94,74%) kategori TMS. Sanitasi bangunan terdapat 10 DAMIU (17,54%) kategori MS, 47 DAMIU (82,46%) kategori TMS. Kualitas mikrobiologi Coliform air minum isi ulang terdapat 26 DAMIU (45,61%) kategori MS, 31 DAMIU (54,39%) kategori TMS. Kualitas mikrobiologi Escerichia coli air minum isi ulang terdapat 29 DAMIU (50,88%) kategori MS, 28 DAMIU (49,12%) kategori TMS.Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan (p=0,000), antara Laik sehat dengan kualitas mikrobiologi Coliform dan Escherichia coli air minum isi ulang. Tidak ada hubungan yang signifikan (1,000) antara kualitas air baku dengan kualitas mikrobiologi Coliform (p=1,000) dan Escherichia coli (p=0,491). Ada hubungan yang signifikan (p=0,000) antara peralatan dan proses pengolahan dengan kualitas mikrobiologi Coliform dan Escherichia coli. Tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku operator dengan kualitas mikrobiologi Coliform (p=0,587) dan Escherichia coli  (p=0,611). Tidak ada hubungan yang signifikan antara sanitasi bangunan dengan kualitas mikrobiologi Coliform (p=1,000) dan Escherichia coli (p=0,504).Feasibility analysis of health and quality of microbiology refill drinking water in Ligung District, MajalengkaPurposeThe purpose of this study was to explore the relationship of feasibility analysis of health indicators with the microbiological quality of refill drinking water.MethodThe study used a descriptive design with a cross-sectional analytic approach. The dependent variable was the microbiological quality of refill drinking water. The independent variables were the following health indicators: raw water quality, equipment and processing method, operator behavior, and sanitation of depot building. ResultsThere were significant correlations between variables of health indicator, equipment and processing method with E.coli microbiological quality. There was no significant correlation between quality of raw water, behavior of the operator, and sanitation buildings with microbiological quality.ConclusionAlmost fifty percent of DAMIU refill drinking water is not qualified for microbiological quality of coliform and microbiological quality of Escheria coli. The most dominant factors affecting microbiological quality of drinking water refills are equipment and processing

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇