Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Kenapa putus berobat? Bagaimana efektifitas monitoring dalam upaya meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien TB : studi kasus di Provinsi Jawa Tengah

    Get PDF
    Succes Rate Provinsi Jawa Tengah empat tahun terakhir ini mengalami trend penurunan dari tahun 2013 sebesar 89,04% dan ditahun 2016 menjadi 68,69%. Intervensi perlu dilakukan untuk mencegah meningkatnya kegagalan pengobatan, epidemi penularan TB dan TB Resisten Obat. Penyebab terbesar dari kegagalan pengobatan adalah putus berobat (DO). Faktor utama penyebab DO yaitu komunikasi antara petugas dengan pasien. System monitoring berfungsi memastikan layanan kesehatan berjalan sesuai prosedur termasuk pengawasan terhadap kepatuhan pengobatan pasien TB. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui faktor penyebab putus berobat pasien TB dari segi petugas kesehatan serta mengetahui efektifitas fungsi monitoring dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan TB.  Kepuasaan pasien terhadap layanan TB yang diterima adalah kunci keberhasilan pengobatan. Kekurangan tenaga dan peningkatan beban kerja dilayanan TB menyebabkan standart kualitas pelayanan belum optimal. Komunikasi antara dokter dan pasien gagal tercipta sehingga tidak ada motivasi penting bagi pasien dalam mematuhi pengobatan. Manager kasus dalam unit klinis berperan penting dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan persepsi antara pasien dengan pemberi layanan. Sepertiga dari pasien DO memutuskan memilih melanjutkan pengobatan non DOTS berisiko berkembang menjadi TB MDR. Buruknya sistem transfer pasien antar faskes menyebabkan pasien TB sulit terlacak pengobatannya. Monitoring dari rekaman medis dan formulir TB untuk memastikan terisi dengan benar dan tepat waktu tidak dilakukan rutin dan berkala. Tidak dilakukan evaluasi monitoring dari pelaksanaan tindak lanjut hasil temuan. Teknologi informasi terbatas pada pelaporan TB ke tingkat pusat sedangkan teknologi reminder belum menjadi pilihan inovasi.  Pemberi layanan TB belum meberikan pelayanan yang bermutu. Monitoring belum berjalan dengan baik karena terbatas sumberdaya. Penggunaan teknologi tinggi untuk monitoring belum menjadi inovasi Pemerintah Jateng dalam mengatasi kepatuhan pengobatan TB. Intervensi yang dilakukan harus komprehensif dan multitarget, antara lain peningkatan konseling dan komunikasi antara dokter dengan pasien, pendidikan dan pelatihan manager kasus, desentralisasi pengobatan, dan monitoring rutin dan berkala terstandart

    Infeksi Escherichia coli melalui konsumsi air gentong pada warga Dusun Kradenan di Kabupaten Kulonprogo yang mengikuti kegiatan ziarah makam

    No full text
    Tujuan: Kegiatan ziarah makam atau biasa disebut “Nyadranan” merupakan bentuk alkulturasi islam dengan budaya jawa yang biasa dilakukan menjelang bulan puasa Ramadhan. Terdapat ritual minum air gentong yang dianggap berkah dalam kegiatan ziarah tersebut. Padahal higienitas air gentong tidak terjamin karena berupa air mentah yang belum diolah. Tulisan ini disusun untuk menggambarkan potensi resiko KLB pada kegiatan ziarah makam dan upaya pencegahan kejadian serupa di masa akan datang. Konten: Kasus KLB pernah terjadi pada 2 rombongan warga Dusun Kradenan Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo yang melakukan kegiatan ziarah makam ke Gunungpring Magelang tahun 2018. Penyebab KLB adalah konsumsi air gentong yang mengandung mikroba patogen Escherichia coli. Air gentong terkontaminasi diduga karena kontak langsung dari tangan peziarah ke air gentong, tercemarnya peralatan minum dan distribusi air, kondisi gentong berukuran besar yang sulit dibersihkan dan adanya toilet dalam kompleks makam.Resiko KLB pada kegiatan ziarah makam dapat terulang kembali jika pihak terkait tidak memberikan perhatian. Peningkatan resiko ini didukung oleh banyaknya lokasi ziarah makam yang tersebar di berbagai daerah terutama di pulau jawa serta banyaknya jumlah peziarah yang datang dari berbagai daerah ke lokasi ziarah.Upaya pencegahan dapat dilakukan oleh pengelola makam dengan meningkatkan higienitas lingkungan dan air di lokasi ziarah makam, seperti pencucian peralatan minum secara berkala dan ada jadwal tertentu untuk menguras/membersihkan gentong. Pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan atau puskesmas juga dapat melakukan inspeksi/pemeriksaan secara berkala pada sumber air yang digunakan di lokasi ziarah dan bila terbukti mengandung mikroba patogen dapat dilakukan desinfeksi. Selain itu peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi pada warga untuk tidak mengkonsumsi air mentah tanpa pengolahan terlebih dahulu seperti memasak air sampai mendidih dan mencuci tangan pakai sabun setelah buang air besar  merupakan langkah awal untuk pencegahan kejadian serupa. Latar Belakang: Pada tanggal 01 Mei 2018, Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo menerima laporan adanya 4 warga Dusun Kradenan dirawat di Puskesmas Sentolo I dengan gejala sakit perut, diare dan muntah. Diketahui ada acara makan bersama di Musholla X malam sebelumnya. Namun, gejala sakit juga dialami warga yang tidak mengikuti acara tersebut tetapi mengikuti kegiatan bersama lainnya yaitu ziarah makam ke Gunungpring, Magelang. Investigasi kejadian luar biasa (KLB) dilakukan untuk mengetahui besarnya masalah dan penyebab kejadian. Metode: Studi kasus kontrol dilakukan dengan definisi kasus adalah orang yang mengkonsumsi makanan/jajanan dan minuman dari kompleks makam Gunungpring Magelang tanggal 29 April 2018 dan 05 Mei 2018, dan mengalami salah satu gejala yaitu sakit perut, mual, muntah, diare, pusing dan demam. Wawancara dilakukan dari rumah ke rumah. OR diperoleh dengan analisis bivariat. Sampel air sisa warga dan air dari lokasi ziarah makam diperiksa di laboratorium. Hasil: Ditemukan 52 kasus (AR=41,6%; n=125) dan tidak ada kematian. KLB terjadi pada 2 rombongan peziarah yang berangkat di waktu berbeda. Gejala utama berupa sakit perut (86,54%), mual (75%) dan diare (73,08%). Masa inkubasi rata-rata 42 jam 39 menit. Air gentong memiliki AR tertinggi diantara jenis makanan/minuman (85,7%). Analisis bivariat menunjukkan air gentong sebagai sarana penyebab infeksi (OR=27,0; CI95%=8,52-89,80). Mikroba patogen Escherichia coli ditemukan pada sampel air sisa warga yang belum sempat diminum dan air gentong dari lokasi ziarah makam. Kontak langsung dari tangan peziarah ke air gentong, tercemarnya peralatan minum dan distribusi air, kondisi gentong berukuran besar yang sulit dibersihkan dan adanya toilet dalam kompleks makam dapat menjadi sumber kontaminasi air dalam gentong. Simpulan: Terjadi KLB infeksi Escherichia coli di Dusun Kradenan Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo. Peningkatan higienitas lingkungan dan air di lokasi ziarah makam, sosialisasi pada warga untuk memasak air sampai mendidih sebelum dikonsumsi dan mencuci tangan pakai sabun setelah buang air besar  merupakan langkah awal untuk pencegahan kejadian serupa

    Pendekatan politik untuk public health dengan usulan memasangkan jumlah kampung ODF di website pemerintah daerah

    Get PDF
    Latar belakang: tingginya kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) di Indonesia menunjukkan bahwa sanitasi belum baik. Melalui program Open defecation Free (ODF)  kebiasaan BABS dapat dihilangkan dengan cara meningkatkan kualitas sanitasi. Akan tetapi puskesmas tidak mampu mengelola program tersebut karena keterbatasan sumber daya manusia. Tujuan: mengeksplorasi strategi dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan dengan melibatkan stakeholders politik di bidang public health. Argumentasi: 1) kemiskinan merupakan faktor determinan sosial kesehatan sehingga masyarakat tidak mampu memenuhi sarana sanitasi dasar. 2) tingginya angka kesakitan karena BABS disebabkan oleh sistem perumahan yang tidak sehat. Oleh karena itu pemerintah daerah dapat membuat program bedah rumah dengan memanfaatkan CSR perusahaan yang ada di daerah. 3) kebutuhan dasar masyarakat miskin dapat dipenuhi pemerintah daerah seperti menyediakan toilet tiap rumah tangga dengan menggunakan dana desa dan anggaran dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 4) membuat jamban komunal melalui dana desa yang pengerjaannya melibatkan masyarakat. 5) penggalangan komitmen antara dinas kesehatan dengan Bappeda, Dinas Pendapatan dan Keuangan Daerah serta DPRD terkait dukungan dalam keberhasilan program ODF 6) komitmen politik pemerintah daerah dengan membuat kebijakan 100% kampung ODF dalam masa jabatannya dan memasangkan jumlah kampung ODF sebagai program prioritas di website pemerintah daerah. Sanksi sosial akan diterima oleh politisi dan akan menimbulkan rasa malu bila program tersebut tidak tercapai

    Kepesertaan yang rendah pada pekerja bukan penerima upah dan tangangan dalam menuju universal health coverage 2019: analisis data IFLS 5

    No full text
    Latar belakang: Mewujudkan Universal Health Coverage salah satunya seluruh penduduk Indonesia tahun 2019 sekitar 257,5 juta jiwa mendapatkan jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Saat ini baru sekitar 203.3 juta jiwa penduduk yang masuk dalam Jaminan Kesehatan Nasional. Rendahnya kepesertaan  Jaminan Kesehatan Nasional salah satunya terjadi pada rest polling PBPU , dimana   29.9 juta jiwa kelompok PBPU yang baru terdaftar. Tujuan: Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi  rendahnya tingkat kepesertaan  PBPU dalam asuransi kesehatan untuk mencapai UHC 2019. Metode: Penelitian menggunakan jenis rancangan penelitian kuantitatif, metode observasional diskriptif, dengan desain studi cross-sectional. Data dari  Indonesian Family Life Survey 2014 (IFLS 5) dengan responden individu 11.347 dan  dianalisis dengan logistic regression. Responden merupakan individu berumur 15 tahun atau lebih dan bekerja dengan status lapangan pekerjaan PBPU. Hasil: Analisis menunjukan proporsi kelompok PBPU yang tidak memiliki asuransi kesehatan  berdasarkan status ekonomi mencapai 40%  kategori miskin dan 43% ketegori tidak miskin. Model dikontrol dengan variabel usia, Pendidikan, status pernikahan, wilayah, ADL (activities of daily living), status perkejaan, kondisi kesehatan, dan jenis kelamin. PBPU tidak miskin memiliki hubungan positif signifikan pada semua kategori usia, Pendidikan tinggi, wilayah jawa-bali, dan perkotaan. Sedangkan hasil lainnya ketagori miskin memiliki hubungan positif signifikan untuk  kelompok usia 31-45 tahun, wilayah jawa-bali,  dan perkotaan. Sedangkan koefisien negatif dalam model kelompok PBPU cenderung tidak memiliki asuransi kesehatan ditunjukan pada  lapangan usaha bangunan, gangguan ADL, kondisi sehat, dan jenis kelamin. Simpulan dan Saran: Bukti menunjukan bahwa tingkat partisipasi PBPU dalam jaminan kesehatan sangat dipengaruhi berdasarkan; status ekonomi, usia, pendidikan, wilayah, ADL, jenis lapangan pekerjaan,  dan  kondisi kesehatan. Dalam meningkatkan partisipasi kepesertaan kelompok PBPU (kelompok miskin) dalam jaminan kesehatan di perlukan kebijakan pemuktahiran data , sedangkan kelompok tidak miskin perlu dibuatkan setting program yang memperhatikan kelompok umur, wilayah, dan jenis lapangan pekerjaan.Latar Belakang: Mewujudkan Universal Health Coverage salah satunya seluruh penduduk Indonesia tahun 2019 sekitar 257,5 juta jiwa mendapatkan jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Saat ini baru sekitar 203.3 juta jiwa penduduk yang masuk dalam Jaminan Kesehatan Nasional. Rendahnya kepesertaan  Jaminan Kesehatan Nasional salah satunya terjadi pada rest polling PBPU , dimana   29.9 juta jiwa kelompok PBPU yang baru terdaftar.Tujuan: Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi  rendahnya tingkat kepesertaan  PBPU dalam asuransi kesehatan untuk mencapai UHC 2019.Metode: Penelitian menggunakan jenis rancangan penelitian kuantitatif, metode observasional diskriptif, dengan desain studi cross-sectional. Data dari  Indonesian Family Life Survey 2014 (IFLS 5) dengan responden individu 11.347 dan  dianalisis dengan logistic regression. Responden merupakan individu berumur 15 tahun atau lebih dan bekerja dengan status lapangan pekerjaan PBPU.Hasil: Analisis menunjukan proporsi kelompok PBPU yang tidak memiliki asuransi kesehatan  berdasarkan status ekonomi mencapai 40%  kategori miskin dan 43% ketegori tidak miskin. Model dikontrol dengan variabel usia, Pendidikan, status pernikahan, wilayah, ADL (activities of daily living), status perkejaan, kondisi kesehatan, dan jenis kelamin. PBPU tidak miskin memiliki hubungan positif signifikan pada semua kategori usia, Pendidikan tinggi, wilayah jawa-bali, dan perkotaan. Sedangkan hasil lainnya ketagori miskin memiliki hubungan positif signifikan untuk  kelompok usia 31-45 tahun, wilayah jawa-bali,  dan perkotaan. Sedangkan koefisien negatif dalam model kelompok PBPU cenderung tidak memiliki asuransi kesehatan ditunjukan pada  lapangan usaha bangunan, gangguan ADL, kondisi sehat, dan jenis kelamin.Kesimpulan dan Saran: Bukti menunjukan bahwa tingkat partisipasi PBPU dalam jaminan kesehatan sangat dipengaruhi berdasarkan; status ekonomi, usia, pendidikan, wilayah, ADL, jenis lapangan pekerjaan,  dan  kondisi kesehatan. Dalam meningkatkan partisipasi kepesertaan kelompok PBPU (kelompok miskin) dalam jaminan kesehatan di perlukan kebijakan pemuktahiran data , sedangkan kelompok tidak miskin perlu dibuatkan setting program yang memperhatikan kelompok umur, wilayah, dan jenis lapangan pekerjaan.

    Surveilans Campak : Peran Rumah Sakit dalam Kegiatan Surveilans Aktif Campak di Kota Salatiga Tahun 2017

    Get PDF
    Tujuan: Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka kematian dan mengurangi jumlah kasus maupun wilayah endemis campak yakni dengan melakukan imunisasi campak. Diperlukan kegiatan surveilans untuk memantau program pemberantasan kasus campak di Indonesia. Surveilans campak dilakukan dengan pendekatan berbasis individu dan dilaksanakan di seluruh provinsi di Indonesia sejak tahun 2011. Sumber data kegiatan surveilans campak yang dilakukan ditingkat kabupaten/kota bersumber dari Puskesmas dan Rumah Sakit (RS) di wilayah kabupaten/kota. Di kota Salatiga tahun 2017, hanya Puskemas yang aktif melakukan kegiatan surveilans sedangkan RS belum. Tulisan ini bertujuan untuk mereview hambatan pelaksanaan kegiatan surveilans campak aktif di RS dan upaya perbaikan kegiatan surveilans campak di RS. Konten: Pelaksanaan surveilans aktif campak di RS ditentukan oleh ada tidaknya kontak person yang ditunjuk khusus untuk menemukan dan melaporkan adanya kasus yang ditemukan baik di bangsal maupun di poliklinik anak. Kegiatan surveilans aktif RS seharusnya dilakukan setiap minggu dimana kontak person yang sudah ditunjuk melakukan pencarian kasus campak di bangsal dan di poliklinik anak setiap hari kemudian dilaporkan ke petugas surveilans aktif Dinas Kesehatan setiap minggu. Pelaksanaan surveilans aktif RS di Kota Salatiga belum berjalan karena kurangnya koordinasi antara Dinas Kesehatan dan RS. Rumah Sakit tidak tahu jika ada SOP surveilans campak yang perlu dilakukan. Hal ini juga disebabkan oleh kurang aktifnya petugas surveilans Dinas Kesehatan dalam melaksanakan surveilans aktif mingguan ke RS. Selain itu, setiap ada undangan kegiatan surveilans dari Dinkes, pihak RS selalu mengirimkan orang yang berbeda dalam setiap pertemuan sehingga kemungkinan yang terjadi adalah tidak tersampaikannya informasi kepada pimpinan di RS. Upaya perbaikan kegiatan surveilans campak di Kota Salatiga dengan melakukan penguatan terhadap sistem surveilans campak di RS melalui pertemuan koordinasi untuk membahas pentingnya kegiatan surveilans, menunjuk kontak person yang bertanggung jawab terhadap penemuan dan pelaporan kasus campak serta meningkatkan peran aktif petugas surveilans Dinas Kesehatan.Tujuan : Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka kematian, jumlah kasus dan wilayah endemis campak yakni dengan melakukan imunisasi campak. oleh karena itu diperlukan kegiatan surveilans untuk memantau program pemberantasan kasus campak di Indonesia. Surveilans campak dilakukan dengan pendekatan berbasis individu dan dilaksanakan di seluruh provinsi di Indonesia sejak tahun 2011. Sumber data kegiatan surveilans campak yang dilakukan ditingkat kabupaten/kota bersumber dari Puskesmas dan Rumah Sakit (RS). Di kota Salatiga tahun 2017, hanya Puskemas yang aktif melakukan kegiatan surveilans campak sedangkan RS belum. Tulisan ini bertujuan untuk mereview hambatan pelaksanaan kegiatan surveilans campak dan upaya perbaikan kegiatan surveilans aktif campak di RS.Konten : Pelaksanaan surveilans aktif campak di RS ditentukan oleh ada tidaknya kontak person yang ditunjuk khusus untuk menemukan dan melaporkan kasus yang ditemukan baik di bangsal maupun di poliklinik anak. Kegiatan surveilans aktif campak RS seharusnya dilakukan setiap hari kemudian dilaporkan ke petugas surveilans aktif Dinas Kesehatan setiap minggu sesuai dengan petunjuk teknis pelaksanaan surveilans campak tahun 2012. Pelaksanaan surveilans aktif RS di Kota Salatiga belum berjalan karena kurangnya koordinasi antara Dinas Kesehatan dan RS. Rumah Sakit tidak tahu jika ada SOP surveilans campak yang perlu dilakukan sehingga semua RS di kota Salatiga belum ada kontak person campak (PJ surveilans campak). Setiap ada undangan kegiatan surveilans dari Dinkes, RS selalu mengirimkan orang yang berbeda dalam setiap pertemuan sehingga kemungkinan yang terjadi adalah tidak tersampaikannya informasi kepada pimpinan di RS. Selain itu, disebabkan juga oleh kurang aktifnya petugas surveilans Dinas Kesehatan dalam melakukan surveilans aktif mingguan ke RS.Upaya perbaikan kegiatan surveilans campak di Kota Salatiga dengan melakukan penguatan terhadap sistem surveilans campak di RS melalui pertemuan koordinasi untuk membahas pentingnya kegiatan surveilans aktif, menunjuk kontak person sebagai penanggung jawab surveilans aktif campak serta meningkatkan peran aktif petugas surveilans Dinas Kesehatan

    Subjective usability review of “Sehat Jiwa” Apps

    Get PDF
    Background: The prevalence of mental health problems in the Indonesian population increased significantly. The latest Riskesdas (Health Basic Survey 2018) reported that 9.8% of the population have an emotional mental disorder,  increased from 6.1% in the 2013 Riskesdas. In line with the growing number of mobile phone users (including those with a smartphone), Indonesian Ministry of Health has developed "Sehat Jiwa", a dedicated app for communication, information, and education related to mental health. Although this app that has been available in public since October 2015 and has been downloaded by around 1000 users, unfortunately, no usability review has been reported.Objective: To review “Sehat Jiwa” apps using assessment framework by Zelmer J et al (2018) that proposed 15 criteria in assessing e-mental health apps.Method: This subjective review was conducted from 29 October to 4 November 2018. Sehat Jiwa was downloaded from Google Play Store and installed in a mobile phone with an Android version. Installed apps occupied 18.93 MB storage. All features and functions of Sehat Jiwa were tested and evaluated.Result: The purpose of the app is to increase user’s awareness of mental health. Compared to the Zhelmer criteria, 8 out of 15 criteria are available which are effectiveness, functionality, usability, developer transparency, user desirability, audience, supported platforms, app price. Information about the remaining criteria including transparency of information security, information security, clinical criteria, funding transparency, user inclusion, meaningful inclusion, and interoperability are not available. “Sehat Jiwa” have a unique function on one of its feature, namely Deteksi Dini, when using this feature we will be able to see the score of our mental health condition through answering a few questions. There are three categories of questions, namely CAGE (Alcohol Addiction Detection), Self Reporting Questionnaire (SRQ) 20, and Geriatric Depression Scale (GDS) 15 for depression testing in the elderly. The app is free of charge and only compatible with an Android version of the mobile phone. The information given by this app is trusted because of Indonesian Ministry of Health is the Developer.Conclusion: “Sehat Jiwa” app contains 8 out of 15 criteria. It is recommended that Sehat Jiwa provide more information related with transparency information security, information security, clinical criteria, funding transparency, user inclusion, meaningful inclusion, interoperability. In general, this apps is user-friendly, informative and suitable for adolescences and adults user.  Given to this subjective nature of the assessment, more rigorous evaluation is needed for generalization.   Keywords: m-health, mental health, evaluation, usabilit

    Konselor kesehatan peduli remaja sekolah di Gondomanan Yogyakarta

    No full text
    Objective Studi evaluasi terhadap pelaksanaan program pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) di salah satu Puskesmas di Kota Yogyakarta pada bulan Mei 2017 menunjukkan bahwa pelaksanaan program tersebut belum berjalan optimal dan belum dirasakan keberadaannya dan kemanfaatannya oleh siswa-siswi remaja di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan penguatan program PKPR melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bersama dua mitra terpilih yaitu SMA N 10 Yogyakarta dan SMA Santa Maria Yogyakarta yang merupakan target dari program PKPR yang berada di wilayah kerja Puskesmas Gondomanan.  ContentLesson learntKendala pelaksanaan program PKPR adalah ketidaksiapan kader/konselor kesehatan remaja yang telah dibentuk dari sisi pengetahuan, persepsi, dan motivasi terhadap tugas dan fungsi kader/konselor remaja dan belum terdapat modul yang terstandarisasi. Sehingga kegiatan ini terfokus kepada pemberian pelatihan dan pembuatan modul kesehatan remaja.ActivitiesKegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan meliputi (1) Penggalian masalah kesehatan remaja di sekolah melalui focus group discussion (2) Perumusan dan pengembangan modul kurikulum pelatihan kader/konselor kesehatan remaja sebaya melalui metode focus group discussion bersama puskesmas, guru UKS, siswa dan orang tua siswa (3) Sosialisasi program PKPR di dua sekolah mitra terpilih. (4) Pelatihan konselor kesehatan remaja di dua mitra sekolah (5) Pelantikan konselor kesehatan remaja (6) Pengukuran status gizi siswa oleh konselor kesehatan remajaRencana Tindak LanjutKegiatan monitoring status kesehatan akan dilakukan secara berkala dan berkelanjutan oleh konselor kesehatan remaja dan dikoordinasikan dengan pihak Puskesmas Gondomanan.RekomendasiKegiatan ini dapat memicu sekolah menengah atas lainnya untuk mengimplementasikan program Konselor Kesehatan Remaja

    Social Media Campaign to Improve Knowledge and Attitude towards Healthy Eating on Technical Engeneering Department Gadjah mada University

    No full text
    Fase menjadi mahasiswa merupakan awal seseorang untuk menentukan pilihan dan menyiapkan makanan secara mandiri. Penelitian mendapatkan bahwa konsumsi sayur dan buah rendah, aktivitas fisik yang dilakukan oleh mahasiswa rendah, konsumsi rokok yang tinggi dan perilaku tidur yang buruk juga terjadi pada mahasiswa. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan pemilihan makanan yang dilakukan mahasiswa Sekolah Vokasi Teknik Mesin UGM. Internet merupakan media yang efektif untuk memberikan informasi kesehatan dan pencegahan penyakit pada usia dewasa muda, sehingga intervensi melalui media sosial perlu untuk dilakukan.Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perubahan pengetahuan dan sikap tentang pola makan sehat pada mahasiswa Departemen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada setelah dilakukan program social media campaign tentang makanan sehat.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan metode kuantitatif pre-post tes survei terhadap 52 mahasiswa. Pemilihan sample penelitian dengan purposif sampling. Analisis dilakukan dengan stata versi 13. Intervensi dilakukan selama 2 bulan dari bulan Juni sampai dengan bulan September 2018 melaui aku media sosial line dan instagram resmi organisasi keluarga mahasiswa Departemen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada. Hasil: Jumlah mahasiswa yang memiliki pengetahuan pola makan sehat kategori kurang mengalami penurunan setelah dilakukan intervensi, sebaliknya jumlah mahasiswa dengan pengetahuan pola makan sehat kategori cukup dan baik mengalami peningkatan setelah intervensi. Pada skor sikap terhadap pola makan sehat, terdapat 56% mahasiswa yang memiliki skor post test lebih besar dibandingkan skor pretest. Terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap sebelum dan setelah intervensi ( p < 0.05). Kesimpulan: Program social media campaign efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap terhadap pola makan sehat terutama pada kelompok mahasiswa khususnya mahasiswa Departemen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.Fase menjadi mahasiswa merupakan awal seseorang untuk menentukan pilihan dan menyiapkan makanan secara mandiri. Penelitian mendapatkan bahwa konsumsi sayur dan buah rendah, aktivitas fisik yang dilakukan oleh mahasiswa rendah, konsumsi rokok yang tinggi dan perilaku tidur yang buruk juga terjadi pada mahasiswa. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan pemilihan makanan yang dilakukan mahasiswa Sekolah Vokasi Teknik Mesin UGM. Internet merupakan media yang efektif untuk memberikan informasi kesehatan dan pencegahan penyakit pada usia dewasa muda, sehingga intervensi melalui media sosial perlu untuk dilakukan. TujuanPenelitian ini bertujuan untuk mengukur perubahan pengetahuan dan sikap tentang pola makan sehat pada mahasiswa Departemen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada setelah dilakukan program social media campaign tentang makanan sehat MetodePenelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan metode kuantitatif pre-post tes survei terhadap 52 mahasiswa. Pemilihan sample penelitian dengan purposif sampling. Analisis dilakukan dengan stata versi 13. Intervensi dilakukan selama 2 bulan dari bulan Juni sampai dengan bulan September 2018 melaui aku media sosial line dan instagram resmi organisasi keluarga mahasiswa Departemen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada. HasilJumlah mahasiswa yang memiliki pengetahuan pola makan sehat kategori kurang mengalami penurunan setelah dilakukan intervensi, sebaliknya jumlah mahasiswa dengan pengetahuan pola makan sehat kategori cukup dan baik mengalami peningkatan setelah intervensi. Pada skor sikap terhadap pola makan sehat, terdapat 56% mahasiswa yang memiliki skor post test lebih besar dibandingkan skor pretest. Terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap sebelum dan setelah intervensi ( p < 0.05). KesimpulanProgram social media campaign efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap terhadap pola makan sehat terutama pada kelompok mahasiswa khususnya mahasiswa Departemen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada

    [PHS4] < PROTECTOR JATEN (PROgram deTEksi dini dan Cegah penyakiT Oleh Remaja Jaten) Sebagai Upaya Peningkatan Partisipasi Remaja dalam Kegiatan Posbindu PTM Di Dusun Jaten, Sendangadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta>

    No full text
    Latar Belakang: Penyakit tidak menular (PTM) merupakan permasalahan global yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Remaja menjadi kelompok yang rentan karena berada dalam masa perkembangan dan  masa pencarian jati diri serta cenderung melakukan perilaku beresiko. Salah satu upaya penanggulangan PTM adalah dengan pelaksanaan Posbindu PTM. Partisipasi remaja sebagai salah satu kelompok sasaran posbindu masih sangat rendah. Hasil kunjungan pelaksanaan Posbindu PTM di dusun jaten menunjukkan dari 38 peserta hanya ada 5 remaja yang mengikuti kegiatan Posbindu PTM. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta remaja dalam kegiatan Posbindu PTM serta untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan bagi remaja. Metode : Metode yang digunakan dalam kegiatan ini diantaranya adalah 1) Melakukan koordinasi dengan para stakeholder yang ada di Dusun Jaten 2) Melakukan koordinasi dengan pihak Puskesmas 3) Melakukan koordinasi dengan ketua pemuda Dusun Jaten 4) Melakukan diskusi baik secara langsung maupun melalui sosial media (grup whatsApp) dengan para remaja 5) Melakukan sosialisasi permasalahan kesehatan kepada para remaja 6) Pembentukan Posbindu remaja 7) Perekrutan kader posbindu remaja 7) Pelaksanaan sekolah kader sebagai bentuk pelatihan bagi para kader Hasil : Pertama, terbentuknya grup whatsApp  sebagai sarana diskusi bagi para kader remaja. Kedua, terbentuknya kesepakatan untuk melaksanakan kegiatan Posbindu PTM setiap satu bulan sekali pada pertemuan rutin remaja. Ketiga, terbentuknya kader remaja posbindu sebanyak 14 orang. Keempat, setelah kegiatan Sekolah Kader terdapat peningkatan pengetahuan kader remaja mengenai PTM dan pelaksanaan Posbindu PTM serta peningkatan keterampilan kader remaja dalam melaksanakan pemeriksaan dalam pelaksanaan Posbindu PTM. Kelima, terbentuknya media edukasi berupa filler yang di rancang, dibuat dan dikembangkan oleh para kader remaja. Kesimpulan :Melibatkan remaja secara aktif serta menjalin kerjasama dengan berbagai pihak efektif dalam meningkatkan partisipasi remaja dalam pelaksanaan posbindu PTM di Dusun Jaten. Para kader remaja perlu terus mendapat pendampingan agar terus mendapatkan tambahan pengetahuan dan keterampilan serta agar tetap melaksanaan Posbindu Remaja secara rutin.Latar Belakang: Penyakit tidak menular (PTM) merupakan permasalahan global yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Remaja menjadi kelompok yang rentan karena berada dalam masa perkembangan dan  masa pencarian jati diri serta cenderung melakukan perilaku beresiko. Salah satu upaya penanggulangan PTM adalah dengan pelaksanaan Posbindu PTM. Partisipasi remaja sebagai salah satu kelompok sasaran posbindu masih sangat rendah. Hasil kunjungan pelaksanaan Posbindu PTM di dusun jaten menunjukkan dari 38 peserta hanya ada 5 remaja yang mengikuti kegiatan Posbindu PTM.Tujuan:Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta remaja dalam kegiatan Posbindu PTM serta untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan bagi remaja.Metode :Metode yang digunakan dalam kegiatan ini diantaranya adalah 1) Melakukan koordinasi dengan para stakeholder yang ada di Dusun Jaten 2) Melakukan koordinasi dengan pihak Puskesmas 3) Melakukan koordinasi dengan ketua pemuda Dusun Jaten 4) Melakukan diskusi baik secara langsung maupun melalui sosial media (grup whatsApp) dengan para remaja 5) Melakukan sosialisasi permasalahan kesehatan kepada para remaja 6) Pembentukan Posbindu remaja 7) Perekrutan kader posbindu remaja 7) Pelaksanaan sekolah kader sebagai bentuk pelatihan bagi para kaderHasil :Pertama, terbentuknya grup whatsApp  sebagai sarana diskusi bagi para kader remajaKedua, terbentuknya kesepakatan untuk melaksanakan kegiatan Posbindu PTM setiap satu bulan sekali pada pertemuan rutin remajaKetiga, terbentuknya kader remaja posbindu sebanyak 14 orangKeempat, setelah kegiatan Sekolah Kader terdapat peningkatan pengetahuan kader remaja mengenai PTM dan pelaksanaan Posbindu PTM serta peningkatan keterampilan kader remaja dalam melaksanakan pemeriksaan dalam pelaksanaan Posbindu PTMKelima, terbentuknya media edukasi berupa filler yang di rancang, dibuat dan dikembangkan oleh para kader remaja Kesimpulan :Melibatkan remaja secara aktif serta menjalin kerjasama dengan berbagai pihak efektif dalam meningkatkan partisipasi remaja dalam pelaksanaan posbindu PTM di Dusun Jaten. Para kader remaja perlu terus mendapat pendampingan agar terus mendapatkan tambahan pengetahuan dan keterampilan serta agar tetap melaksanaan Posbindu Remaja secara rutin.

    PERILAKU BALAP LIAR MOTOR KALANGAN REMAJA (Studi Fenomenologi : di kawasan Stadion Maguwoharjo Kabupaten Sleman)

    Get PDF
    Latar Belakang : Balapan liar adalah salah satu perilaku remaja yang sangat berisiko, disebut balapan liar karena kegiatan ini saling beradu kecepatan dilintasan jalan raya dan bahkan tidak memiliki aturan dan yang jelas bahwa kegiatan balap liar diizinkan oleh pihak yang berwajib. Berdasarkan data kecelakaan lalu lintas selama tahun 2012 dari Divisi Humas Mabes Polri atas rekap Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) menyebutkan bahwa, ada 117.949 kecelakaan.Tujuan Penelitian : Mengetahui gambaran perilaku balap liar motor di kalangan remaja di kawasan Stadion Maguwoharjo Kabupaten Sleman. Metode: Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan studi deksritif fenomenologi.Teknik pengambilan informan menggunakan snowball sampling, dimana informan berjumlah 12 orang. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan data.Hasil : Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengikuti balap liar adalah anak-anak yang dari berbagai kalangan, SMA, Mahasiswa, bahkan yang sudah berumah tanggapun ada yang mengikuti balap, waktu yang digunakan untuk balapan tidak menentu, karena disesuaikan dengan kondisi lawan main, cuaca bahkan ada tidaknya pantauan dari polisi setempat. Berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi remaja mengikuti balap liar adanya hobi tersendiri, ketersediaan motor, sarana untuk mendapatkan uang, teman sebaya, ajang coba-coba, tidak ada yang rekrut ke balap resmi, bahkan untuk mengisi waktu luang semata. Kesimpulan : Hasil penelitian menyatakan bahwa motif peserta dari balap liar adalah semacam berjudi, hobi dan mengikuti tren.Latar Belakang : Balapan liar adalah salah satu perilaku remaja yang sangat berisiko, disebut balapan liar karena kegiatan ini saling beradu kecepatan dilintasan jalan raya dan bahkan tidak memiliki aturan dan yang jelas bahwa kegiatan balap liar diizinkan oleh pihak yang berwajib. Berdasarkan data kecelakaan lalu lintas selama tahun 2012 dari Divisi Humas Mabes Polri atas rekap Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) menyebutkan bahwa, ada 117.949 kecelakaan.Tujuan Penelitian : Mengetahui gambaran perilaku balap liar motor di kalangan remaja di kawasan Stadion Maguwoharjo Kabupaten Sleman.Metode: Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan studi deksritif fenomenologi.Teknik pengambilan informan menggunakan snowball sampling, dimana informan berjumlah 12 orang. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan data.Hasil : Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengikuti balap liar adalah anak-anak yang dari berbagai kalangan, SMA, Mahasiswa, bahkan yang sudah berumah tanggapun ada yang mengikuti balap, waktu yang digunakan untuk balapan tidak menentu, karena disesuaikan dengan kondisi lawan main, cuaca bahkan ada tidaknya pantauan dari polisi setempat. Berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi remaja mengikuti balap liar adanya hobi tersendiri, ketersediaan motor, sarana untuk mendapatkan uang, teman sebaya, ajang coba-coba, tidak ada yang rekrut ke balap resmi, bahkan untuk mengisi waktu luang semata.Kesimpulan : Hasil penelitian menyatakan bahwa motif peserta dari balap liar adalah semacam berjudi, hobi dan mengikuti trend1

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇