Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Perilaku minum sopi pada remaja di Kupang
Sopi drinking behavior among adolescents in KupangPurposeThis research aimed to identify sopi drinking behavior among adolescents in Maulfa.MethodsThis research was a qualitative study with an exploratory design and phenomenological approach. The main informants were adolescents who drink sopi and supporter informants were religious leaders or community leaders, parents, sopi sellers, health workers and adolescents who did not drink sopi. Data collection used observations, In-depth interviews, and focus group discussions. The informant sampling was obtained by purposive sampling through convenience sampling strategy.ResultResults showed that adolescents start to drink sopi since junior high school and senior high school. They have known sopi since the age of 13-17 years old. The number of sopi consumed is usually about two-six bottles and they drink it together with their friends. Some factors that encourage teenagers to consume sopi are: 1) to obtain many friends and build friendship; and 2) to know each other well and to make a good communication between them.ConclusionSocial factors such as a culture play an important role to build the sopi drinking behavior in adolescents. The adolescents consider that sopi drinking behavior is an easy thing to do because it is easy to obtain and cheap.Tujuan: Penelitian ini untuk menganalisis perilaku minum sopi pada remaja di Maulafa Kupang.Metode: Penelitian fenomenologi terhadap remaja yang minum sopi dan tokoh agama atau tokoh masyarakat, orang tua, penjual sopi, petugas kesehatan dan remaja yang tidak minum sopi. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan focus group discussion. Hasil: Sopi diminum sejak SMP dan SMA. Mereka mengenal sopi dari umur 13-17 tahun. Minum sopi dilakukan bersama-sama teman mereka. Faktor yang mendorong remaja mengonsumsi sopi di antaranya adalah: 1) agar dapat bergaul dan memiliki banyak teman; 2) mengakrabkan satu dengan yang lain; 3) memperlancar komunikasi diantara mereka.Kesimpulan: Faktor sosial memiliki peranan yang penting dalam membentuk perilaku minum sopi pada remaja. Tradisi dan kemudahan mendapatkan sopi juga berkontribusi secara nyata dalam meningkatkan perilaku minum sopi pada remaja. Remaja menggangap perilaku minum sopi merupakan sebuah hal yang mudah dilakukan karena penjualannya yang banyak dengan harga yang murah
Analisis spasial temporal faktor lingkungan fisik dengan kejadian malaria di kabupaten Banjarnegara
Spatial-temporal distribution of physical environmental factors of malaria cases in Banjarnegara of Central JavaPurposeThe study aimed to describe physical environmental factors (temperature, humidity, wind velocity and rainfall) statistically, using graphs/time trends and spatial analysis and to analyze its effect on malaria incidence.MethodThis study used the design of ecological studies with spatial-temporal approach. The data were time series data of months of malaria incident and physical environment factors in Banjarnegara period 2011-2015. Poisson and binomial negative regression models were used to analyze the influence of physical environmental factors with the incidence of malaria.ResultsStatistical, graph/time trend, and spatial analysis indicate that there were correlations between temperature, humidity, wind velocity and rainfall with malaria incidence. Negative binomial regression model was the best. It showed that the temperature in the same year (lag 0), the temperature in the previous two months (lag 2 ) and rainfall on the previous month (lag 1) affected the incidence of malaria.ConclusionThe local government of Banjarnegara needs to consider the physical environment factors in implementing the prevention program.Tujuan: Untuk menjelaskan gambaran faktor lingkungan fisik meliputi: suhu, kelembaban, kecepatan angin dan curah hujan, dan menganalisis secara spasial dan temporal pengaruhnya terhadap kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara tahun 2011-2015.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan spasial-temporal. Data yang digunakan adalah data time series bulan kejadian malaria dan faktor lingkungan fisik di Kabupaten Banjarnegara tahun 2011-2015. Model regresi poisson dan binomial negatif digunakan untuk menganalisis pengaruh faktor lingkungan fisik dengan kejadian malaria berdasrakan hasil pemilihan model terbaik dengan melihat nilai Akaike’s Information Criteria (AIC) dan Bayesian Information Criteria (BIC).Data faktor lingkungan fisik dilakukan interpolasi menggunakan metode IDW (Inverse Distance Weighting) pada software Sistem Informasi Geografis.Hasil: Rata-rata suhu udara dan kelembaban udara dari tahun 2011-2015 berturut-turut 25,79oC dan 87,37%, sedangkan rata-rata kecepatan angin dan curah hujan berturut-turut 26,07 km/h, 276,02 mm. Analisis statistik, grafik/time trend, dan spasial menunjukkan bahwa ada hubungan antara suhu, kelembaban, kecepatan angin dan curah hujan dengan kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara. Hasil analisis regresi binomial negatif menunjukkan bahwa secara bermakna suhu pada bulan yang sama (P= 0,036), suhu pada dua bulan sebelumnya (P=0,022) berkorelasi negatif berturut-turut dengan Estimate Value (-0,273, -0,319) sedangkan curah hujan pada satu bulan sebelumnya (P=0,0001) berkorelasi positif dengan Estimate value (0,002) terhadap kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2011-2015. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa kasus tertinggi malaria berada di Kecamatan Banjarmangu, Punggelan dan Pagedongan dengan kisaran suhu 25,64oC-26,77oC, kisaran kelembaban 86,07%-88,41%, kisaran kecepatan angin 18,71km/h-28,30km/h, dan kisaran curah hujan 225,25mm-318,24mm.Simpulan: Suhu pada bulan yang sama, dan suhu pada dua bulan sebelumnya memiliki pengaruh yang negatif terhadap kejadian malaria sedangkan curah hujan pada satu bulan sebelumnya memiliki pengaruh yang positif terhadap kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara. Maka, untuk mengatasi masalah kejadian malaria dan melaksanakan program penanggulangannya maka Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara perlu mempertimbangan faktor lingkungan fisik
Pengaruh Karakteristik Organisasi Terhadap Pemanfaatan Posbindu Penyakit Tidak Menular Di Wilayah Puskesmas Helvetia
Effect of organization characteristics to the utilization of posbindu non communicable disease in Helvetia Public Health Center Purpose: The purpose of this research is to explain the influence of organizational characteristic (behavior of health officer, cadre behavior, service facility, Posbindu PTM activity) to the utilization of POSBINDU PTM in Helvetia Public Health Center.Methods: The type of research is survey research with explanatory research type. Sample amounted to 100 people taken with Proportionate Stratified Random Sampling technique. Primary data was obtained through direct interview using questionnaire. Data were analyzed by multiple linear regression test at the level of real test α = 5%.Results: The results showed that health officer behavior, cadre behavior, service facility influence PT Posbindu utilization, while PTM Posbindu activity utilization Posbindu PTM. It is estimated that the behavior of health workers has the greatest contribution (0.636) to the utilization of POSBINDU PTM. Ability of health officer behavior variable, cadre behavior and service facility to explain the utilization of POSBINDU PTM by 91%. In general, the utilization of POSBINDU PTM will increase if health officer behavior, cadre behavior and service facility are improved.Conclusions: Suggested in increasing prevention effort and overcoming PTM to form Posbindu PTM in every village in Helvetia health center area, health officer expected to be more friendly, alert, attention in serving community in Posbindu PTM, giving training to cadre Posbindu PTM, equip facilities and infrastructure to support implementation Posbindu PTM and implement a five-table system for Posbindu PTM activities can run more regularly and efficiently.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh karakteristik organisasi (perilaku petugas kesehatan, perilaku kader, fasilitas pelayanan, kegiatan Posbindu PTM) terhadap pemanfaatan POSBINDU PTM di wilayah Puskesmas Helvetia. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian survai dengan tipe explanatory research. Sampel berjumlah 100 orang yang diambil dengan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji regresi linear berganda pada taraf uji nyata α=5%. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku petugas kesehatan (p value= 0,000), perilaku kader (p value= 0,000), fasilitas pelayanan (p value= 0,000) berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM, sedangkan kegiatan Posbindu PTM (p value= 0,413) tidak berpengaruh terhadap pemanfaatan Posbindu PTM. Diperkirakan perilaku petugas kesehatan mempunyai kontribusi yang paling besar (0,636) terhadap pemanfaatan POSBINDU PTM. Kemampuan variabel perilaku petugas kesehatan, perilaku kader dan fasilitas pelayanan untuk menjelaskan pemanfaatan POSBINDU PTM sebesar 91%. Simpulan: secara umum pemanfaatan POSBINDU PTM akan semakin meningkat apabila perilaku petugas kesehatan, perilaku kader dan fasilitas pelayanan ditingkatkan. Disarankan dalam peningkatan upaya pencegahan dan penanggulangan PTM agar membentuk Posbindu PTM di setiap kelurahan di wilayah puskesmas Helvetia, petugas kesehatan diharapkan lebih ramah, sigap, perhatian dalam melayani masyarakat di Posbindu PTM, memberikan pelatihan terhadap kader Posbindu PTM, melengkapi sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan Posbindu PTM dan menerapkan sistem lima meja agar kegiatan Posbindu PTM dapat berjalan lebih teratur dan efisien.
Breastfeeding pattern based on nutritional status in 6-12 months old infants
Background: Malnutrition especially undernutrition is still concern for public health problems.Underweight in children will disrupt the learning process due to interference with the development of intelligence, more susceptible to infection and increase disease severity, to increase mortality. Objective: This study was conducted to asses the difference breastfeeding patterns include the breastmilk only duration and daily breastfeeding frequencies based on nutritional status in 6-12 months old infants. Methods: In this cross-sectional study, mothers (n=60) of infants aged 6-12 months old were recruited. The infant’s nutritional status was determined anthropometrically by 3 indexes ie body weight for age, length for age, and weight for length. Breastfeeding patterns include the breastmilk only duration and daily breastfeeding frequencies is obtained by interview and by 2x24 hour daily breastfeeding form. Kruskal-wallis test were used to evaluate the difference breastfeeding patterns based on nutritional status. Results: The average of brestmilk only duration was 3,21±2,41 months, and the average of daily breastfeeding frequencies was 12,46±3,8 times a day. Most of the respondents were in normal nutritional status (86,67% for W/A, 83,3% for L/A, and 85,0% for W/L). There were no difference in breastfeeding patterns either on breastmilk only durations or on daily breastfeeding frequencies based on nutritional status in 6-12 months old infants (p>0,05).Conclusion: Infant's nutritional status is determined more by the daily energy consumption of all infant foods, not only from breastmilk but also from complementary food
Strategi baru untuk mengurangi defisit badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) kesehatan
Program Jaminan Kesehatan Nasional berhasil meningkatkan akses bagi masyarakat Indonesia untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Tingginya akses tersebut berbanding lurus dengan biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan sebagai purchaser. Defisit BPJS Kesehatan yang tahun ke tahun selalu naik, diproyeksikan besaran defisit pada tahun 2018 mencapai Rp. 9T. Disisi lain, tunggakan iuran peserta BPJS Kesehatan pun sudah mencapai Rp. 3,4 Triliun. Hal ini tentunya akan mengancam sustainability program JKN ini. Pendapatan negara terbatas sementara pengeluaran untuk JKN tidak terbatas. Maka dari itu perlu sumber baru untuk menopang pendanaan sistem pembiayaan kesehatan yang selama ini bersumber dari APBN dan iuran peserta BPJS Kesehatan. Konser Amal bisa menjadi salah satu sumber pendanaan tambahan bagi BPJS Kesehatan dalam menghadapi defisit dana. Konser Amal bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Di Indonesia, Konser Amal tidak hanya dilakukan oleh kalangan musisi, melainkan juga dilakukan lembaga keagamaan, lembaga sosial , akademisi hingga perkumpulan fans klub sepakbola. Hampir semua konser amal yang pernah dilakukan sukses atau berhasil mencapai target yang direncanakan. Setiap konser amal yang dilakukan, semua dana yang terkumpul akan disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan atau sedang dalam kesulitan melalui beberapa yayasan sosial seperti yayasan peduli kanker atau komunitas peduli kemanusiaan. Sama halnya dengan konsep gotong royong yang diterapkan dalam system BPJS kesehatan, penggalangan dana melalui konser amal akan menarik minat mereka yang memiliki dana berlebih dan jiwa solidaritas tinggi untuk berpartisipasi dan memberikan sumbangsih. Solidaritas yang terkandung dalam pengadaan konser amal inilah yang akan mengajak masyarakat untuk ikut serta mempertahankan keberadaan BPJS kesehatan
PPMTKP pada guru TK di TK Melati kecamatan Buduran dan TK Tunas Bangsa kecamatan Candi kabupaten Sidoarjo provinsi Jawa Timur
Pendidikan pada anak dimulai sejak usia dini, pendidikan akan terlaksana dengan apabila anak dalam kondisi sehat secara fisik dan psikologis, salah satu indikator anak sehat adalah pertumbuhan dan perkembangannya optimal. Peran mitra (guru TK) sangat penting dalam tumbuh kembang anak karena mitra dalam tugasnya memberikan stimulasi dalam bentuk kegiatan proses belajar mengajar. Mitra (guru TK Melati dan TK Tunas Bangsa) sangat sangat aktif dalam kegiatan disekolah dalam mendidik siswa, baik dalam segi pendidikan formal maupun non formal (pembentukan karakter). Berdasarkan survei yang telah dilakukan oleh tim pengusul pada mitra 1 didapatkan hasil bahwa terdapat siswa yang mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan, pada mitra 2 ditemukan masalah yakni mitra belum pernah mendapatkan pengetahuan tentang deteksi dini masalah tumbuh kembang pada anak. Padahal terdapat beberapa cara untuk menstimulasi siswa tersebut agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan tahapan usianya. Berdasarkan permasalahan tersebut tim pengusul menawarkan solusi untuk membantu mengatasi kurangnya pengetahuan dan keterampilan mitra dalam pemeriksaan dan cara deteksi dini masalah tumbuh kembang pada anak. Salah satu upaya yang ditawarkan oleh tim pengusul adalah memberikan informasi melalui sebuah seminar dan pelatihan/workshop beserta pendampingan pemeriksaan dan cara deteksi dini masalah tumbuh kembang pada anak. Pelaksanaan seminar dan pelatihan (workshop) tentang cara pemeriksaan dan deteksi dini adanya kelainan dan tumbuh kembang di TK Melati Buduran Sidoarjo dilaksanakan pada tanggal 18-19 Januari 2018 yang diikuti oleh kepala sekolah dan 8 guru yang terdiri dari guru PAUD dan guru TK A dan B dan pelaksanaan seminar dan pelatihan (workshop) tentang cara pemeriksaan dan deteksi dini adanya kelainan dan tumbuh kembang di TK Tunas Bangsa Durung Bedug Sidoarjo dilaksanakan pada tanggal 18-19 Februari 2018 yang diikuti oleh kepala sekolah dan 4 guru yang terdiri dari guru PAUD dan guru TK A dan B. Hasil seminar dan workshop didapatkan mitra dapat melaksanakan cara menilai deteksi dini dan kelainan tumbuh kembang pada balita secara mandiri, dan mitra dapat mengaplikasikan hal tersebut pada anak didik seterusnya selama proses belajar berlangsung
Kondisi kesehatan masyarakat kelompok adat terpencil (KAT) di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat
Dalam Keputusan Presiden RI Nomor 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Kelompok Adat Terpencil, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Komunitas Adat Terpencil (KAT) atau yang selama ini lebih dikenal dengan sebutan masyarakat terasing adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi, maupun politik. Ditinjau dari segi habitatnya, tempat tinggal KAT dapat dikelompokkan: komunitas adat yang tinggal di dataran tinggi atau daerah pegunungan; komunitas adat yang tinggal di dataran rendah atau daerah rawa serta daerah aliran sungai; komunitas adat yang tinggal di daerah pedalaman atau daerah perbatasan; komunitas adat yang tinggal di atas perahu atau daerah pinggir pantai serta pulau-pulau terpencil. Di Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatera Barat terdapat sekelompok masyarakat yang tergolong KAT, masyarakat biasanya berbentuk komunitas kecil, bersifat tertutup dan homogen. Kemudian pranata social masyarakat ini bertumpu pada kekerabatan. Dimana proses barter masih menjadi transaksi jual beli mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup.Secara geografis masyarakat di Kabupaten Kepulauan Mentawai sangat jauh tertinggal dari kabupaten/kota lainnya di Sumatera Barat, dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, seperti kondisi geografis, akses bidang pelayanan kesehatan dan juga akses pelayanan sosial ekonomi. Dalam bidang pelayanan kesehatan, terdapat beberapa permasalahan yang timbul seperti tenaga medis dan paramedis yang susah menjangkau lokasi KAT. Dengan kondisi yang seperti ini menjadikan masyarakat sebagai korban kerentanan disintegrasi social dan eksploitasi social ekonomi.Paper ini ingin mengetahui kebijakan operasional untuk meningkatkan pelayanan kesehatan pada KAT di Kabupaten Mentawai; 2) menentukan kendala yang dihadapi pada pola pemberdayaan KAT di bidang kesehatan; dan 3) menentukan pola pelayanan Kesehatan KAT yang diinginkan/direncanakan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Penelitian ini merupakan review dari jurnal tentang pelayanan kesehatan untuk KAT di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pada umumnya kebijakan operasional secara umum sama, Cuma lebih ditekankan ke beberapa daerah yang mana penetapan kebijakan pada awalnya diserahkan ke dinas kesehatan, tetapi dengan kebijakan operasional sekarang ini, penetapan kebijakan sudah diserahkan ke masing-masing puskesmas dan yang menjadi penanggungjawab kegiatan adalah puskesmas masing-masing dengan menjalankan kegiatan sesuai dengan Biaya Operasional Puskesmas (BOP). Kendala yang dihadapi pada pola pemberdayaan KAT di bidang kesehatan seperti : Kejadian gempa; Cuaca buruk; Mahalnya transportasi; Sulit melaksanakan kegiatan yang berbasis masyarakat; Petugas kesehatan tidak semua ada di desa. Pola pelayanan kesehatan jangka panjang: Petugas kesehatan diberi tunjangan daerah; pelayanan khusus untuk daera-daerah terpencil oleh tenaga dari pusat; ada pustu; melengkapi sarana dan peralatan kebutuhan lainnya; masyarakat yang sakit keras dibantu biaya pengobatannya; ada petugas spesialis dibidangnya. Jangka pendek pemenuhan SDM di masing-masing faskes; pembinaan petugas kesehatan mengenai preventif dan kuratif; kelengkapan alat dan pasokan obat dicukupi; peningkatan kegiatan posyandu; imunisasi 1 kali sebulan; listrik dari tenaga surya diaktifkan
The effect of residential ecosystem zone with stunting event in Kupang
Stunting in children was one of malnutrition due to the limitations of overall socioeconomic conditions in the past. As a height, stunting was indexed by the age of less than minus two standard deviations (<-2 SD) or height of children under five was shorter than should be achieved at a certain age (Kemenkes 2010). Based on Riskesdas in 2013, the incidence of stunting in Indonesia tends to increase. The prevalence of under-fives stunting in 2013 was 37.2%. It was higher than in 2010 at 35.6%. The prevalence of stunting in East Nusa Tenggara was the highest nationally by 58.4% in 2010 and 51.7% in 2013 while in Kupang district the stunting incidence was still around 46.3% (Kemenkes 2013). The aims of this study were on determine the effect of residential ecosystem zone on the occurrence of stunting. Based on the results of the study, it conducted on 132 subjects spread in the highlands and low, known that environmental sanitation, intake of energid an infectious disease in fact be the determining factor of stunting events in children. The hilly area of NTT took care of the availability of food and health services. People in upland areas had more difficult access to health services, access to information, and the availability of primary needs than lowland communities. Poor people were faced with the fact that infrastructure does not support so they cannot obtain optimal health services. Communities were very limited with information about health and are further aggravated by cultural practices that do not support a healthy lifestyle. Stunting problems would cause problems in the future, if it was not handled early. It because of stunting not only inhibits physical growth alone, but also affected the mental and intelligence of children who could lead to poverty. Therefore, the stunting problem must get a quick intervention in order to save the nation's grater
Kontak penderita di lingkungan rumah sebagai faktor dalam kejadian luar biasa campak di dua desa di Kecamatan Jiken Blora
Tujuan: Pada hari Selasa, tanggal 19 Mei 2017, Dinas Kesehatan Kabupaten Blora menyampaikan bahwa di Desa Janjang dan Desa Nglebur terdapat 7 orang terdiagnosa sebagai kasus campak klinis . Pada tahun 2016, kejadian campak sebesar 44 kasus, tahun 2015 tidak ada kasus campak, tahun 2014 sebesar 43 kasus. Penyelidikan dilakukan dengan tujuan memastikan adanya kejadian luar biasa (KLB) campak, menentukan faktor risiko terjadinya KLB dan melakukan tindakan pencegahan. Metode: Penyelidikan dilakukan dengan menggunakan pencarian kasus aktif untuk menemukan kasus baru. Penelitian kasus kontrol 1:2 dilakukan untuk menentukan faktor risiko. Kasus adalah seseorang menderita penyakit dengan gejala klinis berupa panas dan rash disertai salah satu gejala batuk, pilek atau mata merah dan diare. Kontrol adalah orang yang tidak memiliki gejala pada kasus dan mempunyai riwayat kontak dengan kasus. Faktor risiko yang diamati adalah Status imunisasi, riwayat sakit campak dan bepergian 2 minggu sebelum KLB campak. Pengumpulan data identitas penderita, riwayat sakit campak dan bepergian dalam 2 minggu sebelum sakit dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Pengumpulan data mengenai status imunisasi menggunakan data sekunder puskesmas atau buku imunisasi. Analisis dilakukan menggunakan chi square dan regresi logistik untuk mendapatkan nilai odds ratio (OR). Hasil: Total terdapat 19 kasus dengan 27,69% umur <9 tahun dan 0,66% dari desa Janjang. KLB campak berlangsung selama 6 minggu (10 April 2017 – 29 Mei 2017) dengan puncak kasus pada minggu ke tiga bulan Mei 2017. Riwayat tidak pernah sakit campak merupakan faktor risiko yang berpengaruh pada KLB ini (OR = 5.56; 95% CI = 2.93 - 71.43) sedangkan status imunisasi dan riwayat bepergian bukan merupakan faktor risiko. Simpulan: Telah terjadi KLB campak di Desa Janjang dan Desa Nglebur Kecamatan Jiken pada 10 April 2017 sampai dengan 29 Mei 2017 dengan index case sdr. Da. Cara penularan melalui kontak dengan penderita di lingkungan rumah. Selektif imunisasi dilakukan untuk memutus rantai penularan
Pengaruh pelatihan orientasi keluarga sehat untuk mendukung program Indonesia sehat di kabupaten Lumajang tahun 2018
Program Indonesia Sehat merupakan program utama pembangunan kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Untuk mensukseskan program Indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga, maka puskesmas memiliki tanggung jawab untuk melakukan pendekatan keluarga di wilayah kerjanya melalui kunjungan rumah. Dalam pelaksanaaan Program Indonesia Sehat telah disepakati adanya dua belas indikator utama sebagai penanda status kesehatan sebuah keluarga. Oleh sebab itu, menjadi penting bagi petugas puskesmas untuk mengetahui prinsip-prinsip dalam program Keluarga Sehat agar data yang diperoleh untuk kebutuhan program tidak bias. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pelatihan Orientasi Keluarga Sehat di Kabupaten Lumajang pada tahun 2018. Responden dalam penelitian ini adalah administrator, surveyor dan supervisor program Keluarga Sehat di 25 puskesmas. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 76 orang. Tipe penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan one group pre-test post-test design menggunakan satu kelompok sampel yang diberi perlakuan atau intervensi. Teknik pengumpulan data dengan mengunakan kuesioner pre-test dan post-test. Pelatihan dilakukan selama 3 hari dari 21 hingga 23 Februari 2018. Data hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan uji t (t-test) paired simple test untuk melihat ada tidaknya perbedaan antara pre-test dan post-test. Hasil uji normalitas data menggunakan kolmogorov smirnov, diperoleh hasil ρ (0.091) > α (0.05), dengan kata lain data dalam penelitian ini terdistribusi normal. Berdasarkan hasil penelitian, adanya pelatihan memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan pengetahuan responden dibuktikan dengan nilai rata-rata pre-test 65.6250 sedangkan nilai rata-rata post-test 76.6776. Hasil analisis paired t-test adalah nilai Sig. (0.000) < α (0.05) sehingga disimpulkan terdapat pengaruh signifikan dalam pemberian pelatihan Orientasi Keluarga Sehat di Kabupaten Lumajang tahun 2018