Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Gambaran serotype virus dengue serta faktor risiko lingkungan dan perilaku di kabupaten Bondowoso tahun 2017

    Get PDF
    Tujuan: Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui jenis serotype virus Dengue di Kabupaten Bondowoso, serta mengetahui indeks kepadatan nyamuk dan faktor risiko perilaku masyarakat terhadap penyakit demam berdarah. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan melalui pemeriksaan laboratorium pada spesimen darah penderita Demam Dengue di RSU Bondowoso dengan metode PCR. Selain itu dilakukan survey jentik dan perilaku penduduk di Kelurahan Tamansari yang merupakan salah satu wilayah endemis di Kabupaten Bondowoso. Hasil: Diperoleh sebanyak 109 spesimen yang kemudian dilakukan pemeriksaan PCR ditemukan dua spesimen positif mengandung tiga jenis serotype virus Dengue yaitu Den-1, Den-2 dan Den-3. Hasil survey jentik pada 101 rumah diperoleh nilai angka bebas jentik (ABJ) sebesar 78,3% Container Index (CI) sebesar 13,2%, House Index (HI) sebesar 21,7% dan Breteau Index (BI) sebesar 26,7 %. Faktor risiko perilaku pada 98 responden menunjukkan kebiasaan menggantung pakaian (63,3%), menutup rapat penampungan air (70,4%) dan menguras kamar mandi secara rutin (50%). Simpulan: Ditemukan tiga jenis serotype virus Dengue yaitu DEN-1, DEN-2 dan DEN-3 di Kabupaten Bondowoso. Angka Bebas Jentik disalah satu wilayah endemis masih rendah sedangkan kepadatan jentik (density figure) dari perhitungan nilai HI, CI, dan BI masuk dalam kepadatan vektor kategori sedang dan menunjukkan adanya risiko transmisi penyakit demam berdarah. Kebiasaan menguras kamar mandi secara rutin yang rendah dapat meningkatkan risiko perkembangbiakan vektor DBD. Sehingga diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian vektor untuk mengurangi resiko penyakit Demam Berdarah

    Acceptability and adoption of health-facility based NCD surveillance in Kulon Progo district, Yogyakarta

    No full text
    Background: Non-communicable diseases (NCD) have been recognized as the new disease pandemic to the developing world in recent years. In 2020, it is estimated that 70% of NCD-related deaths will occur in developing countries. The most prevalent NCD such as coronary heart diseases, cancer, respiratory diseases and diabetes mellitus. Since 2012 Indonesia MOH was established two main surveillance system i.e. health facility- and community-based surveillance systems. MOH report on 2015 showed those reporting from PHC less than 25%. The front-line of health facility-based surveillance is the primary health centers (PHC).  Data should undergo validity and quality check by the District and Provincial Health Office before being sent to the central reporting system.This study aim to evaluate the implementation of health-facility based NCD surveillance and develops recommendations for increasing coverage NCD surveillance in Kulon Progo District. Method: We used RE-AIM (only Reach and Adoption) framework for evaluating the surveillance system. The Reach variables are coverage, knowledge, acceptance, constraint, infrastructure and feasibility. 76 NCD team at PHC and District Health office included doctor, nurse, program manager and laboratory staffs were interviewed and observed using a standardize questionnaire and checked list. Secondary data on NCD surveillance reports were collected and reviewed. Qualitative study were conducted through semi structured interviews and FGDs to evaluate acceptance, constraints and barriers of implementation. Descriptive analysis was used to analyze quantitative data and content analysis was performed on the qualitative data. Result: This study found that most of the health officer involving in the non-communicable program was having fair knowledge on web based NCD surveillance, and only 5% of the respondent has a good understanding on it. There are 19 Puskesmas was assessed on the completeness of the data entry on web based NCD surveillance

    Pengembangan konsep comprehensive life style intervention pada tatanan sekolah melalui program: gerakan jajan sehat (GJS) di SD Negeri 01 Baruga Kota Kendari

    Get PDF
    Jajan merupakan perilaku yang seringkali dikakukan oleh siswa sekolah dasar, yang dapat menimbulkan masalah apabila tidak memperhatikan mutu gizi, kebersihan, dan keamanan bahan pangan. Berdasarkan sampling dan uji laboratorium terhadap 10.429 sampel jajanan yang diambil dari 144 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah di 31 provinsi di seluruh Indonesia yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2014 tercatat bahwa 2.484 (23,8%) dari sampel jajanan tersebut tidak memenuhi syarat, disebabkan  karena kandungan bahan tambahan yang berbahaya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengembangkan program : Gerakan Jajan Sehat (GJS) di SD Negeri 01 Baruga Kota Kendari yang diadopsi dari Konsep Comprehensive Life Style Intervention dari Ottawa Charter. Adapun program intervensi yang dikembangkan berdasarkan 5 dimensi Comprehensive Life Style Intervention pada tatanan sekolah yaitu : 1) Penerapan kebijakan kesehatan dengan aturan pelarang penjualan makanan tidak sehat dan menjual makanan yang sehat di sekolah, 2) Reorientasi pelayanan kesehatan yaitu dengan melakukan pengukuran BMI (Body Mass Index) dan pemeriksaan kesehatan, 3) Membangun lingkungan yang dapat mendukung kesehatan yaitu dengan pendidikan kesehatan pada staff sekolah, guru, dan orang tua serta penyediaan makanan yang sehat, 4) Penguatan aksi di komunitas, yaitu dengan mengintegrasikan perilaku sehat di rumah dan di sekolah, serta mengadakan kompetisi jajan sehat pada level individu di dalam kelas, 5) Mengembangkan keterampilan personal yaitu dengan pendidikan kesehatan melalui berbagai metode permainan tentang gerakan jajan sehat

    Senam ergonomis, pengendalian, dan pencegahan hipertensi Wilayah Kerja Puskesmas Rawasari Kota Jambi

    No full text
    Hipertensi merupakan silent killer (pembunuh diam-diam) artinya apabila tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi yang lebih fatal diantaranya stroke, jantung bahkan kematian. Untuk itu, perlu adanya pengontrolan tekanan darah dan diimbangi dengan berperilaku hidup sehat. Salah satunya yaitu dengan melakukan senam ergonomis. Tujuan:  Penelitian ini adalah mengetahui apakah ada pengaruh senam ergonomis terhadap upaya pengendalian dan pencegahan penyakit hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Rawasari Kota Jambi Tahun 2018. Diharapkan hasil penelitian ini menjadi data dan masukan yang berharga dalam upaya penurunan angka kesakitan hipertensi dan menambah informasi dalam pengembangan penelitian dengan topik yang serupa kedepannya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Pra-eksperimental One Group Pretest-postest. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling dengan jumlah sampel 30 responden. Pemberian intervensi selama 2 minggu. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik Paired T-test wilcoxon. Penelitian ini dilakukan di dalam wilayah kerja Puskesmas Rawasari dikarenakan memiliki angka kejadian hipertensi tertinggi untuk wilayah Kota Jambi. Hasil: Hasil penelitian dengan menggunakan uji parametrik Paired T-test  Wilcoxon Sign Rank Test menunjukkan p=0,000 yang berarti senam ergonomic memiliki pengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Kesimpulan: Senam ergonomik berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat umum untuk menjadikan senam ergonomik sebagai program pengendalian hipertensi.Hipertensi merupakan silent killer (pembunuh diam-diam) artinya apabila tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi yang lebih fatal diantaranya stroke, jantung bahkan kematian. Untuk itu, perlu adanya pengontrolan tekanan darah dan diimbangi dengan berperilaku hidup sehat. Salah satunya yaitu dengan melakukan senam ergonomis. Tujuan:  Penelitian ini adalah mengetahui apakah ada pengaruh senam ergonomis terhadap upaya pengendalian dan pencegahan penyakit hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Rawasari Kota Jambi Tahun 2018. Diharapkan hasil penelitian ini menjadi data dan masukan yang berharga dalam upaya penurunan angka kesakitan hipertensi dan menambah informasi dalam pengembangan penelitian dengan topik yang serupa kedepannya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Pra-eksperimental One Group Pretest-postest. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling dengan jumlah sampel 30 responden. Pemberian intervensi selama 2 minggu. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik Paired T-test wilcoxon. Penelitian ini dilakukan di dalam wilayah kerja Puskesmas Rawasari dikarenakan memiliki angka kejadian hipertensi tertinggi untuk wilayah Kota Jambi.Hasil: Hasil penelitian dengan menggunakan uji parametrik Paired T-test  Wilcoxon Sign Rank Test menunjukkan p=0,000 yang berarti senam ergonomic memiliki pengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi.Kesimpulan: Senam ergonomik berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat umum untuk menjadikan senam ergonomik sebagai program pengendalian hipertensi

    [PHS4] KERACUNAN MAKANAN DI KANTOR X KALASAN KABUPATEN SLEMAN PROVINSI DIY – 2018

    No full text
    Latar belakang: Pada tanggal 9 Mei 2018 Puskesmas Kalasan mendapatkan informasi bahwa telah terjadi dugaan keracunan makanan saat pelatihan di Bapelkes Kalasan setelah memakan makanan prasmanan yang disajikan pada hari Selasa 8 Mei 2018. Tujuan dari penyelidikan adalah untuk mengkonfirmasi Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan dan untuk mengetahui faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya keracunan makanan sehingga dapat memberikan rekomendasi kepada pihak terkait sebagai upaya pencegahan. Metode: Desain studi yang digunakan adalah case control dengan perbandingan 1:1. Pencarian kasus dilakukan secara aktif dengan definisi kasus adalah orang yang mengalami satu atau lebih dari gejala mual/ diare/ muntah/ kembung dengan atau tanpa gejala lain seperti pusing/sakit kepala/demam setelah makan makanan coffeebreak pada pukul 10:00 WIB saat pelatihan di Bapelkes Kalasan pada tanggal 8 Mei 2018. Definisi kontrol adalah orang yang tidak mengalami gejala sakit setelah makan makanan coffeebreak pada pukul 10:00 WIB saat pelatihan di Bapelkes Kalasan pada tanggal 8 Mei 2018. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan melalui uji Chi Square dan Binari Logistic. Investigasi lingkungan dan investigasi mikrobiologi juga dilakukan. Hasil: Diketahui bahwa kasus keracunan makanan di dominasi oleh perempuan (58,21%) dengan kelompok umur yang tertinggi adalah 21-30 tahun (70,00%). Gejala yang paling banyak dirasakan oleh responden adalah mual (85%) dan diare (65%). Masa inkubasi kasus adalah 2-44 jam dengan rata-rata 23 jam. Bakteri yang diduga menjadi penyebab terjadinya keracunan makanan adalah Bacillus cereus. Hasil uji statistik menunjukkan tahu bakso (OR 8, 95%, CI 0,392-3,225 ) yang berhubungan dengan kejadian. Namun pada pemeriksaan mikrobiologi tidak menunjukkan hasil positif Bacillus cereus pada tahu bakso. Kesimpulan: Telah terjadi kasus keracunan makanan di Bapelkes pada Rabu 8 Mei 2018 karena mengkonsumsi makanan tahu bakso yang diduga telah terkontaminasi oleh Bacillus cereus. Rekomendasi yang diberikan adalah perlunya edukasi terkait food safety kepada pihak terkait.Latar belakang: Pada tanggal 9 Mei 2018 Puskesmas Kalasan mendapatkan informasi telah terjadi dugaan keracunan makanan saat pelatihan di kantor X Kalasan setelah memakan makanan prasmanan yang disajikan pada hari Selasa 8 Mei 2018. Tujuan dari penyelidikan adalah mengkonfirmasi Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan dan mengetahui faktor resiko penyebab terjadinya keracunan makanan sehingga dapat memberikan rekomendasi kepada pihak terkait sebagai upaya pencegahan. Metode: Desain studi case control 1:1 dan kuesioner Penyelidikan Epidemiologi KLB Keracunan Pangan digunakan untuk pencarian kasus dengan definisi kasus adalah orang yang mengalami satu atau lebih dari gejala mual/ diare/ muntah/ kembung dengan atau tanpa gejala lain seperti pusing/sakit kepala/demam setelah makan makanan coffeebreak pada pukul 10:00 WIB saat pelatihan di Kantor X Kalasan pada tanggal 8 Mei 2018. Definisi kontrol adalah orang yang tidak mengalami gejala sakit setelah makan makanan coffeebreak pada pukul 10:00 WIB saat pelatihan di Kantor X Kalasan pada tanggal 8 Mei 2018. Analisis data dilakukan dengan uji Chi Square. Investigasi lingkungan dilakukan dengan mendatangi dua food handler dan investigasi mikrobiologi dengan melakukan pemeriksaan laboratorium pada sampel makanan. Hasil: Kasus keracunan makanan didominasi perempuan (58,21%) dengan kelompok umur 21-30 tahun (70,00%). Gejala yang banyak dialami adalah mual (85%) dan diare (65%). Masa inkubasi kasus adalah 2-44 jam dengan rata-rata 23 jam. Hasil uji statistik menunjukkan tahu bakso berhubungan dengan kejadian (OR:8). Bakteri yang diduga menjadi penyebab adalah Bacillus cereus karena makanan diletakkan pada suhu ruangan >2 jam. Namun pada pemeriksaan mikrobiologi tidak menunjukkan hasil positif Bacillus cereus pada tahu bakso dikarenakan sampel yang diambil hanya dari satu food handler. Kesimpulan: Telah terjadi kasus keracunan makanan di Kantor X Kalasan pada Rabu 8 Mei 2018 karena mengkonsumsi makanan tahu bakso yang diduga telah terkontaminasi oleh Bacillus cereus. Rekomendasi yang diberikan adalah perlunya edukasi terkait food safety kepada pihak terkait

    Whatsapp grup sebagai media edukasi dan sharing pengalaman terkait ASI dan MP-ASI saat bencana

    No full text
    Tujuan: Mengeksplorasi Whatsapp grup ASI dan MP-ASI saat bencana pasca Gempa Lombok. Lesson Learned: Susu formula, makanan bayi instan, produk botol susu, dot, dan susu UHT menjadi bantuan yang sering diberikan kepada bayi dan anak. Namun, tepatkah bantuan tersebut untuk penyintas? Pemberian susu formula dan susu UHT saat bencana berisiko terjadinya diare pada bayi dan anak di Gempa Yogyakarta dan Gempa Lombok. Sosialisasi mengenai bantuan dalam bencana masih terbatas dan Whatsapp grup menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan. Gema Indonesia Menyusui (GIM) menginisiasi Whatsapp grup yang bernama ASI dan MP-ASI saat bencana dengan mengadakan kuliah Whatsapp gratis mengenai ASI dan MP-ASI saat bencana serta membahas aturan bantuan susu formula yang diikuti oleh 245 peserta berasal dari ibu rumah tangga, PNS, aktivis lembaga kemanusiaan, karyawan perusahaan dan praktisi. Sesi edukasi disampaikan oleh seorang konselor menyusui dan pemberian makan bayi dan anak dari Kidzsmile Foundation. Selain itu, sharing pengalaman terkait dukungan, permasalahan yang dialami penyintas dalam pemberian ASI dan MP-ASI saat bencana hingga berbagai alternatif solusi menjadi topik diskusi dan berlangsung lebih dari 2 bulan sejak grup ini terbentuk. Sharing pengalaman bergulir dari berbagai lembaga kemanusiaan yang terlibat dalam respon terhadap bayi dan anak, komunitas dan juga praktisi ASI dan MP-ASI saat bencana. Whatsapp grup juga menjadi wadah dalam membangun jejaring dan koordinasi kluster gizi Sulteng. Tanggapan positif Whatsapp grup ini berupa informasi yang tepat dan informatif, perubahan cara pandang mengenai bantuan oleh peserta dari perusahaan, materi edukasi yang aktual dan mudah diperoleh sehingga dapat dipraktikkan di Lombok, memberikan gambaran tindakan penanganan bencana, manajemen tanggap bencana serta jejaring organisasi dan lembaga penyalur bantuan untuk bayi dan anak.Tujuan: Mengeksplorasi Whatsapp grup ASI dan MP-ASI saat bencana pasca Gempa LombokLesson Learn: Susu formula, makanan bayi instan, produk botol susu, dot, dan susu UHT menjadi bantuan yang sering diberikan kepada bayi dan anak. Namun, tepatkah bantuan tersebut untuk penyintas? Pemberian susu formula dan susu UHT saat bencana berisiko terjadinya diare pada bayi dan anak di Gempa Yogyakarta dan Gempa Lombok. Sosialisasi mengenai bantuan dalam bencana masih terbatas dan Whatsapp grup menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan. Gema Indonesia Menyusui (GIM) menginisiasi Whatsapp grup yang bernama ASI dan MP-ASI saat bencana dengan mengadakan kuliah Whatsapp gratis mengenai ASI dan MP-ASI saat bencana serta membahas aturan bantuan susu formula yang diikuti oleh 245 peserta berasal dari ibu rumah tangga, PNS, aktivis lembaga kemanusiaan, karyawan perusahaan dan praktisi. Sesi edukasi disampaikan oleh seorang konselor menyusui dan pemberian makan bayi dan anak dari Kidzsmile Foundation. Selain itu, sharing pengalaman terkait dukungan, permasalahan yang dialami penyintas dalam pemberian ASI dan MP-ASI saat bencana hingga berbagai alternatif solusi menjadi topik diskusi dan berlangsung lebih dari 2 bulan sejak grup ini terbentuk. Sharing pengalaman bergulir dari berbagai lembaga kemanusiaan yang terlibat dalam respon terhadap bayi dan anak, komunitas dan juga praktisi ASI dan MP-ASI saat bencana. Whatsapp grup juga menjadi wadah dalam membangun jejaring dan koordinasi kluster gizi Sulteng. Tanggapan positif Whatsapp grup ini berupa informasi yang tepat dan informatif, perubahan cara pandang mengenai bantuan oleh peserta dari perusahaan, materi edukasi yang aktual dan mudah diperoleh sehingga dapat dipraktikkan di Lombok, memberikan gambaran tindakan penanganan bencana, manajemen tanggap bencana serta jejaring organisasi dan lembaga penyalur bantuan untuk bayi dan anak. 

    Hubungan Skor metabolic equivalent task (MET) dengan jumlah CD4 pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Kuningan

    Get PDF
    HIV terus menjadi isu kesehatan masyarakat global yang utama karena masih tinggi data transmisi infeksi, angka kesakitan dan angka kematian terjadi karena penurunan imunitas. Jumlah CD4 digunakan sebagai indikator imunitas pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), dan peningkatan imunitas dipengaruhi berbagai diantaranya aktivitas fisik yang diukur dengan Metabolic Equivalent Task (MET). Peningkatan aktivitas fisik telah direkomendasikan untuk pasien dengan HIV untuk mempertahankan status kesehatan mereka. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan antara MET dengan jumlah CD4 pada ODHA di Kab. Kuningan. Jenis penelitian analitik observasional dengan desain studi potong lintang dengan sampel sebanyak 85 orang. Teknik pengumpulan data dengan observasi dokumen dan wawancara dengan ODHA, sedangkan analisis yang akan dilakukan yaitu analisis univariat dan bivarat dengan uji korelasi pearson. Hasil analisis univariat menujukan 60% jenis kelamin laki-laki, 50,6% dewasa awal,  45,9% menikah, 34,1% pendidikan SMP dan 28,3% pekerjaan karyawan swasta. Hasil bivariat hubungan skor Metabolik Equivalent Task dengan jumlah CD4 dalam tubuh penderita HIV menunjukan hubungan yang kuat (r=0,435) dan berpola positif positif artinya semakin tinggi skor MET nya, semakin tinggi jumlah CD4. Kesimpulan terdapat hubungan yang signifikan/bermakna antara MET dengan jumlah CD4 pada ODHA engan status imunitas ODHA. Saran bagi ODHA, bahwa perlu melakukan aktivitas fisik secara rutin sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan imunita

    Serosurvei IgG rabies pada responden pasca gigitan hewan pembawa rabies di Kabupaten Badung, Provinsi Bali

    No full text
    Tujuan :Gambaran status immunologi pada populasi penduduk di daerah endemis Rabies  penting untuk diketahui sebagai data dasar upaya pencegahan penularan Rabies. Kajian ini dilakukan di  Kabupaten Badung yang merupakan salah satu daerah endemis Rabies pada tanggal 31 Juli – 2 Agustus 2018 yang bertujuan untuk mengetahui status Immunologi responden pasca vaksinasi VAR atau SAR. Metoda :Kajian dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan teknik imuno-enzimatik melalui metoda ELISA indirect untuk mendeteksi anti rabies anti glikoprotein antibodi. Pemeriksaan dilakukan pada 20 responden yang merupakan kasus post Gigitan Hewan Pembawa Rabies (GHPR) yang memperoleh SAR dan/atau VAR pada tahun 2016 dan 2017 masing-masing 10 orang. Hasil :Pada periode post VAR 1 tahun status imunitas responden dalam kondisi masih optimal. Imunitas Sufficient (S) sebanyak 60% dan High Sufficient (HS) sebanyak 30%, yang menunjukkan bahwa antibody dalam tubuh responden masih dapat melindungi secara optimal. Jika dibandingkan dengan periode post VAR 2  tahun prosentase Sufficient (S) antibody pada post VAR 1 tahun masih lebih tinggi sedangkan High Sufficient Antibody memiliki prosentase yang sama pada post VAR 1 tahun dan post VAR 2 tahun.Respon pembentukan antibody dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah usia. Usia yang memiliki respon antibody yang lemah ditemukan pada bayi dan lanjut usia (Lansia). Pada kajian ini status imunitas yang baik ada pada usia anak dan dewasa, sedangkan pada lansia jumlah responden status High Sufficient Antibody dan Sufficient Antibody lebih sedikit dibandingkan pada usia anak-anak dan dewasa. Jumlah virus yang masuk kedalam tubuh bisa berasal dari vaksin juga dari hewan pembawa yang sudah dinyatakan positif Rabies. Dalam kajian ini ditemukan adanya perbedaan respon antibody pada responden yang digigit oleh HPR positif. Responden GHPR dengan HPR positif ditemukan status imunitas terbanyak High Sufficient dan Sufficient sedangkan pada HPR yang negative prosentase status immunitas Suffucient, Insufficient dan Undetectable memiliki jumlah yang sama. Kesimpulan :Kasus GHPR tertinggi ada di wilayah Puskesmas Kuta Selatan diikuti oleh Puskesmas Abiansemal 1. Luas wilayah dan kepadatan penduduk sangat berpengaruh terhadap populasi HPR, terutama anjing di wilayah Kabupaten Badung. Kasus HPR positif Rabies pada populasi anjing di kabupaten Badung kurun waktu 2008-2017 mengalami penurunan. Jumlah terbanyak di wilayah Badung Selatan yang meliputi Kuta Selatan, Kuta dan Kuta Utara. Jumlah kasus sedikit ada pada wilayah Badung Utara meliputi kecamatan Petang.Status imunitas responden yang masih dapat memberikan perlindungan secara optimal pada post VAR 1 tahun sebanyak 90% sedangkan pada post VAR 2 tahun sebanyak 70%. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian VAR dalam kurun waktu 1 tahun masih berfungsi dengan baik dan tidak perlu diberikan vaksin ulangan/booster jika terjadi gigitan HPR berulang.Faktor risiko penyakit Rabies yang ada di kabupaten Badung antara lain disebabkan oleh mobilisasi HPR (anjing) yang cukup tinggi terutama di kawasan Badung Selatan yang merupakan wilayah pariwisata. Hal ini membuat pelaksanaan vaksinasi missal terhadap HPR yang terdata tidak maksimal sehingga proses penularan Rabies pada HPR masih tetap berlangsung

    Tenaga kesehatan sebagai contoh perilaku hidup sehat di masyarakat: penelitian kualitatif

    Get PDF
    Objective : Kode etik profesi dokter, ahli gizi dan perawat secara jelas menyatakan kewajibannya untuk menjadi contoh dalam menjalankan perilaku hidup yang sehat di masyarakat, yang diartikan dengan menerapkan aktivitas fisik dan mengkonsumsi makanan yang seimbang. Akan tetapi, berdasarkan empat penelitian di Indonesia ditemukan bahwa kebiasaan olahraga dan konsumsi sayur dan buah pada tenaga kesehatan masih rendah, hal ini dianggap akan berakibat pada pelayanan kesehatan yang diberikan. Penelitian ini mendeskripsikan pandangan tenaga kesehatan dan masyarakat terhadap peran tenaga kesehatan sebagai contoh perilaku hidup sehat.   Methods: Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2016 dengan pendekatan kualitatif fenomenologi. Wawancara mendalam pada 5 informan dari profesi dokter, perawat dan ahli gizi, dan 1 kali diskusi kelompok terarah pada masyarakat yang diwakili oleh 5 orang Kader Posbindu di daerah Sayegan.Results            : Peran sebagai contoh dianggap sebagai sebuah pilihan bukan merupakan kewajiban, walaupun mereka menyadari bahwa tenaga kesehatan adalah lini terdepan dalam memberikan contoh perilaku hidup sehat dan perilaku mereka akan ditiru oleh masyarakat. Pendapat tenaga kesehatan ini disetujui oleh masyarakat dan diperkuat bahwa kebiasaan hidup sehat seharusnya dipraktikkan terlebih dahulu dan dilakukan bukan karena pencitraan maupun paksaan, akan tetapi karena rasa tanggungjawab dan komitmen. Berdasarkan hasil pengamatan seluruh informan, perilaku tenaga kesehatan saat ini masih belum sehat dinilai dari pemilihan jenis makanan, olahraga, merokok dan membersihkan rumah. Tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas juga dirasakan lebih memiliki pengaruh yang kuat sebagai contoh perilaku hidup sehat di masyarakat daripada yang bekerja di rumah sakit.Conclusion : Menerapkan perilaku hidup sehat seharusnya dilakukan terlebih dahulu oleh tenaga kesehatan, sebagai seorang profesional di bidang kesehatan yang dicontoh dan ditiru oleh masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan penguatan dan strategi peningkatan peran tenaga kesehatan yang tepat sebagai contoh perilaku hidup sehat di masyarakat.

    Edukasi makan sehat anak dalam program sekolah sehat SDN Jatisari Sleman

    No full text
    Latar Belakang : Riskesdas tahun 2013 menunjukkan kurang gizi pada anak usia 5-12 tahun sebesar 11,2 % yang disebabkan karena berbagai hal diantaranya tidak sarapan pagi dan lebih suka makanan yang tidak/kurang bergizi. Sebagai kelompok umur yang rentan, masalah gizi pada anak usia sekolah seperti kurus dan stunting akan berdampak pada performa belajar di sekolah, yang pada gilirannya akan mempengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia. Tujuan : Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang makan sehat kepada anak usia sekolah serta membantu anak-anak untuk membiasakan diri berperilaku makan seah satunya dengan membawa bekal makanan sehat dari rumah.  Konten:  Kegiatan edukasi gizi dilakukan pada seluruh siswa. Mereka diajarkan tentang makanan bergizi, apa yang mereka makan dan apa manfaat bagi tubuh. Anak-anak diberikan kesempatan untuk bercerita tentang makanan kesukaan, tanpa ada judment apakah makanan tersebut sehat atau tidak. Materi diberikan secara sederhana dan interaktif melalui metode games. Siswa-siswi mampu menyebutkan apa saja yang termasuk jajanan sehat dan apa saja yang tergolong jajanan kurang sehat sehat. Sebagian besar siswa mampu menyelesaikan games “Kelompok Bahan Makanan” dengan baik, Di akhir sesi, dibuatlah kesepakatan bersama para siswa untuk membawa bekal dan makan bersama pada hari yang ditentukan. Pembelajaran: Pemberian edukasi yang interaktif tidak hanya menarik, tetapi juga mudah diikuti dan dipahami oleh siswa.  Kegiatan makan bersama setiap hari Sabtu membuat minat mereka untuk membawa bekal makanan dari rumah semakin meningkat. Program ini dapat berjalan dengan dukungan dari berbagai pihak khususnya orang tua dan guru.ABSTRAKLatar Belakang : Riskesdas tahun 2013 menunjukkan kurang gizi pada anak usia 5-12 tahun sebesar 11,2 % yang disebabkan karena berbagai hal diantaranya tidak sarapan pagi dan lebih suka makanan yang tidak/kurang bergizi. Sebagai kelompok umur yang rentan, masalah gizi pada anak usia sekolah seperti kurus dan stunting akan berdampak pada performa belajar di sekolah, yang pada gilirannya akan mempengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia. Tujuan : Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang makan sehat kepada anak usia sekolah serta membantu anak-anak untuk membiasakan diri berperilaku makan seah satunya dengan membawa bekal makanan sehat dari rumah.   Konten: Program Sekolah Sehat membantu anak-anak dalam mengadopsi perilaku sehat dimana salah satu kegiatannya adalah edukasi gizi. Kegiatan edukasi gizi dilakukan pada seluruh siswa. Mereka diajarkan tentang makanan bergizi, apa yang mereka makan dan apa manfaat bagi tubuh. Anak-anak diberikan kesempatan untuk bercerita tentang makanan kesukaan, tanpa ada judment apakah makanan tersebut sehat atau tidak. Materi diberikan secara sederhana dan interaktif melalui metode games. Siswa-siswi mampu menyebutkan apa saja yang termasuk jajanan sehat dan apa saja yang tergolong jajanan kurang sehat sehat. Sebagian besar siswa mampu menyelesaikan games “Kelompok Bahan Makanan” dengan baik, Di akhir sesi, dibuatlah kesepakatan bersama para siswa untuk membawa bekal dan makan bersama setiap hari Sabtu pada kegiatan Sekolah Sehat. Pembelajaran: Pemberian edukasi yang interaktif tidak hanya menarik, tetapi juga mudah diikuti dan dipahami oleh siswa.  Kegiatan makan bersama setiap hari Sabtu membuat minat mereka untuk membawa bekal makanan dari rumah semakin meningkat. Program ini dapat berjalan dengan dukungan dari berbagai pihak khususnya orang tua dan guru

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇