Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Pajanan pestisida dan kejadian anemia pada petani holtikultura di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut tahun 2016

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pajanan pestisida dengan kejadian anemia.Metode: Desain cross sectional digunakan pada penelitian ini. Adapun populasi pada penelitian ini adalah petani holtikultura yang berjenis kelamin laki-laki yang berdomisili di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Sebanyak 106 orang petani terpilih sebagai sampel dan dilakukan pengambilan sampel darah untuk mengetahui kadar Hb.Hasil: Analisis sampel darah menunjukkan rata-rata kadar Hb petani adalah 16,65 gr/dL. Sedangkan analisis bivariat menunjukkan tidak adanya hubungan antara pajanan pestisida yang terdiri dari masa kerja (nilai p=0,440, OR=1,944, CI 95%=0,51-7,325), lama penyemprotan (nilai p=1,000), waktu penyemprotan (nilai p=1,000), frekuensi penyemprotan (nilai p=1,000, OR=0,698, CI 95%=0,091-5,334), takaran pestisida (nilai p=1,000, OR=1,244, CI 95%=0,164-9,444), dan pencampuran pestisida (nilai p=1,000, OR=1,337, CI 95%=0,176-10,181) dengan kejadian anemia. Pada analisis multivariat, diketahui bahwasanya masa kerja merupakan faktor dominan yang memengaruhi kejadian anemia pada petani holtikultura.Kesimpulan: Pajanan pestisida tidak berhubungan dengan kejadian anemia. Oleh karena itu, pada penelitian selanjutnya, diharapkan untuk melakukan pengujian biomarker yang sesuai untuk mendeteksi adanya efek konis pajanan pestisida pada kesehatan petani.Pesticide exposure and anemia incidence among horticultural farmers in Cikajang district, Garut in 2016PurposeThis study aimed to determine the relationship of pesticide exposure with anemia.MethodsA cross-sectional design was used in this study. The population in this study were male horticulture farmers domiciled in Cikajang, Garut. A total of 106 farmers were selected as samples and blood samples were taken to determine hemoglobin concentration.ResultsAverage Hb farmer was 16.65 g/dL. Bivariate analysis showed no association between exposure to pesticides which consisted of working period (p = 0.440, OR = 1.944; 95% CI: 0.51 to 7.325), duration of spraying (p = 1.000),  spraying time (p value = 1.000), spraying frequency (p = 1.000, OR = 0.698; 95% CI: 0.091 to 5.334), the dose of pesticides (p = 1.000, OR = 1.244; 95% CI = 0.164 to 9.444), and mixing pesticides (p = 1.000, OR = 1.337; 95% CI: 0.176 to 10.181) with the incidence of anemia. Multivariate analysis showed that working period is the dominant factor affecting the incidence of anemia in horticulture farmers.ConclusionPesticide exposure was not associated with anemia. Therefore, in future studies, it is expected to perform the appropriate biomarker testing to detect the presence of pesticide exposure with the biological effect on the health of farmers

    Analisis Pelaksanaan Trias Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di SLB C di Bantul

    No full text
    Evaluation of triage programs school health unit and clean and health living behavior in school for children with special educational needs BantulPurposeThis study aimed to get an overview of school health unit and implementation of clean and health living behavior in school for children with special educational needs. MethodsThis research used qualitative methods with a case study approach. Participants of the study included the principal, the teacher, students and public health center staff, the senior managers of the school, and the Yogyakarta provincial youth and sports education department. Qualitative data were obtained through in-depth interviews, observations, and documentation studies. ResultsThe implementation of trias school health unit program was in the good category. Some clean and health living indicators were still in low category. The obstacles of the school health unit and clean and health living behavior program implementation were limited understanding of students, low coverage of teacher and school training, economic conditions and parental attitudes, school readiness, and involvement of relevant agencies. Factors affecting school health unit implementation included curriculum, school organization, and partnership. ConclusionThe implementation of school health unit and clean and health can be enhanced through partnership optimization with community health centers, related offices, non-governmental organizations, and education and health universities.Latar Belakang: Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan usaha kesehatan pokok puskesmas dengan siswa sebagai sasaran utama. Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan derajat kesehatan siswa belum sesuai, terlihat adanya masalah kesehatan siswa berupa diare, cacingan, dan caries gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan UKS dan PHBS di SLB C Bantul.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan case study. Partisipan adalah kepala sekolah, guru pengelola UKS, dan siswa di SLB Dharma Bhakti Piyungan dan SLB Bangun Putra Kasihan, petugas Puskesmas Piyungan dan Kasihan I, pengelola Tim Pembina UKS kecamatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, serta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Yogyakarta. Data kualitatif didapatkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Analisa data dengan model interaktif Huberman and Miles meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan, dengan menggunakan software Open Code versi 3.6.2.0.Hasil Penelitian: Pelaksanaan program Trias UKS di SLB C dalam kategori baik. Di kedua SLB tersebut mayoritas siswa melaksanakan PHBS dengan baik. Adapun indikator PHBS yang masih rendah adalah siswa tidak buang air kecil sembarang tempat (77,5%), siswa melaksanakan piket kelas (10%), pengukuran TB/BB tiap 6 bulan (70%), tidak membuang sampah sembarangan (72,5%), kuku bersih dan tidak panjang (77,5%), serta mulut bersih dan tidak ada karies (75%). Kendala pelaksanaan program UKS dan PHBS adalah keterbatasan pemahaman (fungsi kognitif) siswa, rendahnya cakupan pelatihan guru dan sekolah, kondisi ekonomi dan sikap orang tua, kesiapan sekolah, serta keterlibatan instansi terkait. Faktorfaktor yang mempengaruhi pelaksanaan UKS meliputi kurikulum, organisasi sekolah, serta kemitraan.Kesimpulan: Pelaksanaan UKS dan PHBS di SLB C Bantul dapat ditingkatkan melalui optimalisasi kemitraan dengan puskesmas, dinas terkait, Lembaga Swadaya Masyarakat, serta Perguruan Tinggi pendidikan dan kesehatan.

    Risiko kebakaran dan ledakan di depot bahan bakar minyak yang sudah lama berdiri: implikasi informasi dan komunikasi dengan pekerja dan penduduk sekitar untuk mengantisipasi kedaruratan

    No full text
    Risks of fire and explosion in long-standing fuel oil depots: risk communication implications for workers and local residents to anticipate emergenciesPurpose: Fires and explosions in oil depots remain occur even though large oil companies have set up occupational health and safety system. Negligence of monitoring and no re-evaluation of conditions and situations from the plants are among common explanations. This study evaluates the potential for explosions and fires from a long-standing oil depot, including the potential impact on workers and residents around the site.Method: The study was conducted at the Pertamina Rewulu depot in Kulon Progo. Data were analyzed using the Dow's Fire and Explosion Index method, Point Source Radiation Model, and Gaussian Dispersion. In-depth interviews were conducted with respondents from contract workers and local resident closed to the plant.Result: Calculations from the data indicate that there are potential hazards that were not anticipated before the research was planned. All tanks from the Class A category have a 'medium' danger level. Based on the simulation, if there is a large fire at this depot, CO levels are estimated not to give danger when smoke reaches the neighborhood. The study also found that although the depot has been established for more than 40 years, residents who now live in the vicinity of the depot have not received fire risk information and communication about emergency preparedness from the management.Conclusion: Recurrent evaluations of the risk of explosion and fire in long-standing fuel depots show previously unanticipated findings Regular risk communication to contract workers and surrounding residents who change is needed so that they have preparedness to respond to the dangers of smoke from explosions and fires. Risks of fire and explosion in long-standing fuel oil depots: risk communication implications for workers and local residents to anticipate emergenciesPurpose: Fires and explosions in oil depots remain occur even though large oil companies have set up occupational health and safety system. Negligence of monitoring and no re-evaluation of conditions and situations from the plants are among common explanations. This study evaluates the potential for explosions and fires from a long-standing oil depot, including the potential impact on workers and residents around the site.Method: The study was conducted at the Pertamina Rewulu depot in Kulon Progo. Data were analyzed using the Dow's Fire and Explosion Index method, Point Source Radiation Model, and Gaussian Dispersion. In-depth interviews were conducted with respondents from contract workers and local resident closed to the plant.Result: Calculations from the data indicate that there are potential hazards that were not anticipated before the research was planned. All tanks from the Class A category have a 'medium' danger level. Based on the simulation, if there is a large fire at this depot, CO levels are estimated not to give danger when smoke reaches the neighborhood. The study also found that although the depot has been established for more than 40 years, residents who now live in the vicinity of the depot have not received fire risk information and communication about emergency preparedness from the management.Conclusion: Recurrent evaluations of the risk of explosion and fire in long-standing fuel depots show previously unanticipated findings Regular risk communication to contract workers and surrounding residents who change is needed so that they have preparedness to respond to the dangers of smoke from explosions and fires.

    Emisi Gas Metana dan Karbon Dioksida pada Proses Pengolahan Limbah Cair Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit PT. Bio Nusantara Teknologi Bengkulu Tengah

    No full text
    Emission of methane and carbon dioxide gas in the process of processing oil palm liquid waste PurposeThe purpose of this study was to know, calculate and evaluate the concentration of methane gas and carbon dioxide produced in each wastewater treatment plant (WWTP) pond.MethodThis research was a qualitative research, using case study design and explanatory approach. The object of this research was the emission of methane gas and carbon dioxide emitted from 12 WWTP ponds.ResultsThe highest COD and BOD decrement occurred in pond 4 of 39% COD and 61.2% BOD. The highest total methane gas emission was 1.49 x 109 kg hours-1 (1.49 x 106 tons hour-1) occurring in the morning, while the highest total carbon dioxide emission was 2.59 x 109 kg per hour (2.59 x 106 ton hour-1). ConclusionThe concentrations of methane and carbon dioxide gas produced by each WWTP pool varied greatly depending on temperature, residence time and the amount of mud. Methane gas emissions and carbon dioxide emissions occurred in each WWTP pool with the highest methane gas emission value occurring in pond 3 in the afternoon at 356,64 x 106 mg m-2minute-1 and the highest carbon dioxide emissions occur in pond 3 in the afternoon at 402.145 x 106 mg m-2minute-1. The decrease of COD value in whole anaerobic pool was 52,1% and the decrease of COD value in aerobic pool was 27,2%.Latar Belakang: Perusahan Terbatas (PT) Bio Nusantara Teknologi merupakan salah satu perusahaan kelapa sawit di wilayah Bengkulu Tengah dengan kapasitas pabrik 30-45 tbs ton/jam. Dalam upaya pengolahan limbah cair PT. Bio Nusantara Teknologi menggunakan IPAL kolam terbuka sebelum dialirkan ke lahan perkebunan (land application). Pengolahan POME dengan kolam terbuka tersebut menghasilkan gas metana dan karbondioksida yang dapat meningkatkan konsentrasi GRK yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global.Tujuan Penelitian: Mengetahui konsentrasi gas metana dan karbon dioksida yang dihasilkan pada setiap kolam IPAL, menghitung emisi gas metana dan karbon dioksida yang dihasilkan pada setiap kolam IPAL dan Mengevaluasi kinerja IPAL terhadap penurunan BOD dan COD terkait emisi gas metana dan karbon dioksida.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, dengan rancangan penelitian studi kasus dan pendekatan eksplanatoris. Objek penelitian ini adalah emisi gas metana dan karbon dioksida yang dipancarkan dari 12 kolam IPAL dan penurunan nilai COD di inlet setiap kolam IPAL.Hasil: Konsentrasi gas metana dan karbon dioksida yang dihasilkan dari setiap kolam IPAL bervariasi, hal ini disebabkan jumlah penurunan nilai COD yang berbeda di setiap kolam IPAL yang dipengaruhi oleh jenis dan fungsi kolam berbeda, ke dalaman dan jumlah lumpur yang ada pada kolam. Emisi gas metana di kolam IPAL tertinggi terjadi pada awal pengolahan (kolam anaerob/kolam 3) pada waktu sore hari dengan nilai 313,43x103mg m-2menit-1 dan nilai emisi terkecil terjadi pada kolam 8 pada sore dengan nilai emisi 0,87x103mg m-2menit-1 , emisi karbon dioksida tertinggi di kolam 3 pada waktu sore hari yakni sebesar 402,145x103 mg m-2menit-1 dan nilai emisi terendah di kolam 7 pada pagi hari dengan nilai emisi 2,28x103 mg m-2 menit-1. Total penurunan nilai COD pada kolam anaerob dan fakultatif adalah 64%.Kesimpulan: Konsentrasi gas metana dan karbon dioksida terbesar terjadi pada saat awal pengolahan (di kolam anaerob/kolam 3) sebesar 25.093,35 ppm CH4 dan 11.916,13 ppm CO2. Emisi gas metana dan karbon dioksida tertinggi terjadi pada saat awal pengolahan (kolam anaerob/kolam 3) sebesar 356,64x106 mg m-2 menit-1 CH4 dan 402,145x106 mg m-2 CO2 . Total emisi gas metana sebesar 1,49x109 kg jam-1CH4 pada pagi hari dan total emisi karbon dioksida sebesar 2,59x109 kg jam-1 CO2 pada siang hari. Setiap penurunan 1 mg COD akan menghasilkan 0,3 l/m-2 gas metan

    Perbedaan Berat Badan Bayi dan Hormon Prolaktin Dengan Breast Care Pada Ibu Nifas Normal (Studi di RSU Sarila Husada Kabupaten Sragen)

    No full text
    Effect of breast care among postpartum women on baby weight and prolactin hormones: preliminary studyPurposeThe aim of this study was to assess effectivity of breast care among postpartum women on baby weight and prolactin hormones.MethodThe study used quasi experimental with non equivalent time samples design. The sample was postpartum women in Sarila Husada hospital, Sragen and the sampling was performed by purposive sampling. The analysis was bivariate analysis using a paired t-test.ResultsThe average baby's weight before breast care was 3.1 kg with a standard deviation of 0.3. After breast care the average baby's weight was 3.0 kg with a standard deviation of 0.2. Statistical test obtained a p-value of 0.024, thus there was a significant difference between baby's weight before and after breast care. The average of prolactin hormone before breast care was 66.4 ng/ml with a standard deviation of 15.2. After breast care, the average prolactin hormone was 112.1 ng/ml with a standard deviation of 21.0. Statistical test obtained a p-value of 0.000, thus there was a significant difference between prolactin hormone before and after breast care.ConclusionThere were significant differences in baby weight with a decrease of 2.2% and prolactin hormone with an increase of 72.1% before and after breast care in postpartum women. In the breast care group, baby’s weight decreased by 2.2% but the baby’s weight loss did not exceed the maximum baby’s weight loss in the first week at 7%.  Purpose: The purpose of this study was to analyze the difference of milk production (infant BB and prolactin hormone) in normal postpartum before and after breast care.Methods: Quasi-Experimental with non-equivalent time samples design. The sample is normal postpartum women in Sarila Husada hospital Sragen Regency by purposive sampling. The bivariate analysis uses a paired t – test.Results: The average baby's weight before breast care was 3.0909 kg with the standard deviation of 0.27278. After breast care, the average baby's weight is 3.02 kg with the standard deviation of 0.19. Statistical test results obtained p-value = 0.024, there is a significant difference between the baby's weight before and after done breast care. The average of prolactin hormone before breast care was 66.38855 ng / ml with the standard deviation of 15.24 After breast care, the average prolactin hormone was 112.11 ng / ml with the standard deviation of 21.03. Statistical test results obtained p-value = 0.000, there is a significant difference between prolactin hormone before and after breast care.Conclusion: Significant differences in weight baby with a decrease of 2.165% and prolactin hormone with an increase of 72.06% before and after breast care in normal postpartum women in Sarila Husada Hospital, Sragen. Breast-weight group decreased body weight by 2.165% but baby’s weight loss did not exceed the maximum baby’s weight loss in the first week at 7%

    Faktor yang Mempengaruhi Perawat tentang Safe Handling Precaution di Pelayanan Kemoterapi RSUD Saiful Anwar

    No full text
    Tujuan: Mengeksplorasi persepsi faktor yang mempengaruhi safe handling precaution dengan menggunakan teori Health Belief Model (HBM). Metode: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus observasional danlandasan teori health belief model. informan utama 12 perawat di instalasi rawat inap (6 perawat di instalasi penyakit dalam dan 6 di pusat rawat inap pelayanan kemoterapi). Keabsahan data menggunakan triangulasi, observasi ketersediaan alat pelindung diri, peer debriefing dan debriefer. Analisa data menggunakan model colaizzi.Hasil: Persepsi penghambat dari faktor internal dan eksternal. Persepsi faktor pendukung berupa iklim keselamatan kerja dan budaya kerja..Kesimpulan: Kurangnya ketersediaan APD, beban kerja tinggi, tindakan tergesa-gesa, kurangnya pengetahuan bahaya paparan kemoterapi merupakan faktor yang dapat mempengaruhi safe handling precaution. Diperlukan peran institusi kesehatan untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja pada perawat di pelayanan kemoterapi

    Sistem surveilans gizi buruk Kabupaten Temanggung (Studi tahun 2017)

    No full text
    Pada tahun 2014 dan sebelumnya kasus gizi buruk di Kabupaten Temanggung masih tinggi, tetapi mulai tahun 2015 kasus gizi buruk di Kabupaten Temanggung menunjukan penurunan signifikan. Tahun 2014 jumlah kasus gizi buruk mencapai 220 kasus, turun menjadi 25 kasus pada tahun 2015 dan 17 kasus pada tahun 2016. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan sistem surveilans gizi buruk yang ada di Kabupaten Temanggung, perlu diadakan evaluasi sistem surveilans gizi buruk. Penelitian menggunakan metode descriptive research. Pengambilan sampel menggunakan total sampel yaitu terdapat 26 responden yang terdiri dari 25 puskesmas dan dinas kesehatan (25 responden petugas gizi puskesmas dan 1 responden petugas gizi dinas kesehatan). Penilaian pada kualitas sistem surveilans untuk mendeteksi gizi buruk secara cepat. Poin utama yang menjadi penilaian adalah Sensitivity (sensitif), Timeliness (tepat waktu), dan Completeness (kelengkapan). Pelaporan keseluruhan (100%) menggunakan sistem online dengan aplikasi Sistem Informasi Pelaporan Terpadu (SIPT) yang di kembangkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung. Sistem SIPT tersebut mempermudah dinas kesehatan untuk mengingatkan saat mendekati deadline pengumpulan laporan, sehingga mayoritas (88%) laporan dapat dikumpulkan tepat waktu (timeliness). Setiap pelaporan mendapat feedback berupa kroscek ulang terkait data dari dinas kesehatan, sehingga seluruh (100%) laporan lengkapan. Keseluruhan (100%) penentuan kasus gizi buruk menggunakan standar berat badan per umur (BB/U). Sistem surveilans gizi buruk yang ada di Kabupaten Temanggung sudah tepat waktu, lengkap dan sensitif dalam menemukan kasus gizi buruk. Beberapa hal yang dapat dijadikan pelajaran bagi kabupaten lain dalam pengelolaan sistem surveilans gizi buruk adalah motivasi petugas dan upaya mempermudah pelaporan sistem surveilans

    Spot survey leptospirosis dan reservoar yang berpotensi menularkan di kecamatan Kuwarasan kabupaten Kebumen tahun 2017

    Get PDF
    Jawa Tengah merupakan provinsi endemis leptospirosis, bahkan pada tahun 2015 menduduki peringkat pertama kasus terbanyak di Indonesia. Sebanyak 20 kota/kabupaten di Jawa Tengah rutin melaporkan adanya kasus leptospirosis. Kabupaten Kebumen merupakan salah satu daerah baru yang melaporkan kasus leptospirosis pada tahun 2017. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko penularan serta keberadaan reservoar yang tertangkap dan berpotensi menularkan leptospirosis. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain potong lintang. Lokasi penelitian di Kabupaten Kebumen sedangkan penangkapan reservoar dilakukan di Desa Mangli Kecamatan Kuwarasan berdasarkan pada laporan kasus terakhir. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret 2017 dengan wawancara kasus probable serta penangkapan reservoar menggunakan perangkap hidup (single live trap) sebanyak 150 buah selama 2 malam berturut-turut di lingkungan permukiman dan sekitarnya. Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kasus leptospirosis yang diwawancara sebanyak 9 orang. Sebagian besar kasus leptospirosis (78%) adalah petani/buruh tani dan terkena di sawah pada saat panen. Selain pekerjaan, faktor risiko utama yang berkontribusi yaitu adanya luka terbuka pada kaki, tidak memakai APD pada saat bekerja dan adanya kontak dengan genangan air dalam waktu yang cukup lama. Reservoar yang tertangkap dalam penelitian ini adalah tikus dan cecurut sebanyak 26 ekor dengan species Bandicota indica, Rattus tanezumi, Mus musculus dan Suncus murinus. Hasil pemeriksaan PCR menunjukkan 1 ekor tikus positif bakteri leptosira patogen dan ditemukan pada jarak < 100 meter dengan titik kasus. Hal ini menunjukkan potensi risiko penularan leptospirosis di lokasi tersebut. Perlunya sosialisasi peningkatan kewaspadaan leptospirosis dan tindakan pengendalian reservoar khususnya tikus dan cecurut baik di dalam rumah, sawah maupun lingkungan sekitarnya

    Hubungan gaya hidup dengan anemia pada siswa-siswi kelas VIII SMPN 01 Wates Kulon Progo

    No full text
    Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang secara global banyak ditemukan di berbagai negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Prevalensi anemia gizi besi pada remaja putri tahun 2012 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) umur 12-19 tahun yaitu 36,00%. Gambaran grafis memperlihatkan bahwa di kabupaten Sleman (18,4%), Gunung Kidul (18,4%), Kota Yogyakarta (35,2%), Bantul (54,8%), Kulonprogo (73,8%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup dengan kejadian anemia pada siswa-siswi Kelas VIII di SMP Negeri 01 Wates Kulon Progo tahun 2018. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan Cross Sectional. Alat pengumpul data pada penelitian ini menggunakan kuisioner. Selain itu dilakukan pemeriksaan hemoglobin menggunakan hemoglobin digital, dan data pada penelitian ini di analisis statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil dari analisis statistic di dapatkan nilai p-value 0,000 dan lebih kecil dari α = 0,05. Berdasarkan hasil analisis statistik menggunakan Chi Square menunjukan hasil yang signifikan dan dapat kita simpulkan ada hubungan antara gaya hidup dengan kejadian anemia pada siswa-siswi kelas VIII di SMP Negeri 01 Wates Kulon Progo. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah pemberian konseling dan promosi kesehatan tentang gaya hidup yang sehat sehingga siswa dapat menerapkan dan memodifikasi gaya hidup yang tidak sehat menjadi lebih sehat

    Smoke free policy in vocational engineering department of Gadjah Mada University: an implementation research

    No full text
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi program advokasi peraturan Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTR) di Sekolah Vokasi Departemen Teknik Mesin UGM dengan melihat proses, penerimaan (acceptable) dan adopsi (adoption) terhadap program. Method: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara terhadap informan yang meliputi stakeholder, dosen, karyawan dan mahasiswa. Results: Proses penyusunan peraturan dalam program advokasi peraturan Kawasan Tanpa Rokok dapat dikatakan berjalan cukup baik dengan melihat aspek penilaian seperti tanggapan positif dari stakeholder, dosen, karyawan dan mahasiswa selama proses sosialisasi awal dan penyusunan peraturan. Hal tersebut yang memudahkan terbentuknya peraturan KTR dan pemberlakuan peraturan setelahnya. Kemudian setelah peraturan diterapkan, terjadi perubahan pada perilaku merokok mahasiswa yakni bahwa mahasiswa mengurangi perilaku merokok di kampus pada jam aktif meskipun beberapa masi terlihat merokok di pojok kantin tetapi di luar jam aktif kampus yaitu mulai pukul 16.00 WIB keatas. Hasil penelitian ini juga menunjukkan penerimaan dan dukungan yang positif dan  terhadap keberadaan peraturan KTR. Sebagai bentuk tindak lanjut, stakeholder selaku pengelola akan memasang tanda KTR dilingkungan kampus dan inisiatif untuk menegur apabila ditemui mahasiswa yang merokok dilingkungan kampus pada jam perkuliahan. Kemudian hambatan yang mungkin muncul dalam pemberlakuan peraturan penerapan KTR yang baru adalah lekatnya budaya merokok sebagai perilaku yang sudah ada dan menjadi hal yang biasa, serta keberadaan dosen-dosen perokok yang menjadi alasan mahasiswa untuk tetap dapat merokok di kampus.  Disamping itu, dengan adanya dukungan dan penerimaan positif terhadap peraturan Kawasan Tanpa Asap Rokok yang diberikan oleh stakeholder diharapkan dapat menjadi modal sosial yang penting terhadap adanya peningkatan sikap positif terhadap perilaku merokok dan keberlanjutan peraturan KTR di waktu mendatang. Conclusion: Tercapainya penerimaan (acceptable) dan adopsi (adoption) terhadap program advokasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok dengan diterbitkannya Peraturan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok secara khusus di Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM.Objective :Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi program advokasi peraturan Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTR) di Sekolah Vokasi Departemen Teknik Mesin UGM dengan melihat proses, penerimaan (acceptable) dan adopsi (adoption) terhadap program.Method :Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara terhadap informan yang meliputi stakeholder, dosen, karyawan dan mahasiswa.Result :Proses penyusunan peraturan dalam program advokasi peraturan Kawasan Tanpa Rokok dapat dikatakan berjalan cukup baik dengan melihat aspek penilaian seperti tanggapan positif dari stakeholder, dosen, karyawan dan mahasiswa selama proses sosialisasi awal dan penyusunan peraturan. Hal tersebut yang memudahkan terbentuknya peraturan KTR dan pemberlakuan peraturan setelahnya. Kemudian setelah peraturan diterapkan, terjadi perubahan pada perilaku merokok mahasiswa yakni bahwa mahasiswa mengurangi perilaku merokok di kampus pada jam aktif meskipun beberapa masi terlihat merokok di pojok kantin tetapi di luar jam aktif kampus yaitu mulai pukul 16.00 WIB keatas. Hasil penelitian ini juga menunjukkan penerimaan dan dukungan yang positif dan  terhadap keberadaan peraturan KTR. Sebagai bentuk tindak lanjut, stakeholder selaku pengelola akan memasang tanda KTR dilingkungan kampus dan inisiatif untuk menegur apabila ditemui mahasiswa yang merokok dilingkungan kampus pada jam perkuliahan. Kemudian hambatan yang mungkin muncul dalam pemberlakuan peraturan penerapan KTR yang baru adalah lekatnya budaya merokok sebagai perilaku yang sudah ada dan menjadi hal yang biasa, serta keberadaan dosen-dosen perokok yang menjadi alasan mahasiswa untuk tetap dapat merokok di kampus.  Disamping itu, dengan adanya dukungan dan penerimaan positif terhadap peraturan Kawasan Tanpa Asap Rokok yang diberikan oleh stakeholder diharapkan dapat menjadi modal sosial yang penting terhadap adanya peningkatan sikap positif terhadap perilaku merokok dan keberlanjutan peraturan KTR di waktu mendatang.Conclution:Tercapainya penerimaan (acceptable) dan adopsi (adoption) terhadap program advokasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok dengan diterbitkannya Peraturan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok secara khusus di Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇