Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
DISTRIBUSI PENYAKIT TUBERKULOSIS BERDASARKAN JENIS KELAMIN DAN USIA DI RUMAH SAKIT SRI PAMELA
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besarnya prevalensi penderita TB di Rumah Sakit Sri Pamela berdasarkan kelompok Jenis kelamin dan kelompok umur pada tahun 2017. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif yaitu untuk mengetahui besarnya frekuensi pasien TB. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross sectional. Sampel dari penelitian adalah pasien dengan besar sampel 113 responden yang berusia 2-81 tahun di Rumah Sakit Sri Pamela kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Indonesia. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2018. Pengumpulan data menggunakan data sekunder yaitu sumber data yang peneliti dapatkan diproleh dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan di Rumah Sakit Sri Pamela Kota Tebing Tinggi . Populasi dalam penelitian ini adalah pasien TB di Rumah Sakit Sri Pamela. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputerisasi. Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang lebih beresiko terkena penyakit tuberculosis adalah kelompok laki-laki dengan persentase Perempuan 27,43% dan Laki-laki 72,56%. Kelompok usia paling banyak terkena TB adalah usia 52-61 tahun dengan persentase kelompok usia 2-11 tahun 0,88%, kelompok usia 12-21 tahun 4,42%, kelompok usia 22-31 tahun 8,84%, kelompok usia 32-41 tahun 15,92%, kelompok usia 42-51 tahun 18,58%, kelompok usia 52-61 tahun 34,51%, kelompok usia 62-71 tahun 13,27% dan kelompok usia 72-81 tahun 3,53%. Kesimpulan kelompok paling banyak terkena TB di rumah sakit Sri Pamela adalah kelompok jenis kelamin laki-laki dan kelompok umur 52-61 tahun. Saran kepada masyarakat dengan jenis kelamin laki-laki usia 52-61 tahun untuk lebih waspada dan memeriksakan diri ke Rumah Sakit apabila terdapat gejala awal dari penyakit TB agar angka kejadian penyakit TB dapat diminimalisir guna untuk meningkatkan kesehatan sehingga produktivitas meningkat.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besarnya prevalensi penderita TB di Rumah Sakit Sri Pamela berdasarkan kelompok Jenis kelamin dan kelompok umur pada tahun 2017. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif yaitu untuk mengetahui besarnya frekuensi pasien TB. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross sectional. Sampel dari penelitian adalah pasien dengan besar sampel 113 responden yang berusia 2-81 tahun di Rumah Sakit Sri Pamela kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Indonesia. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2018. Pengumpulan data menggunakan data sekunder yaitu sumber data yang peneliti dapatkan diproleh dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan di Rumah Sakit Sri Pamela Kota Tebing Tinggi . Populasi dalam penelitian ini adalah pasien TB di Rumah Sakit Sri Pamela. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputerisasi. Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang lebih beresiko terkena penyakit tuberculosis adalah kelompok laki-laki dengan persentase Perempuan 27,43% dan Laki-laki 72,56%. Kelompok usia paling banyak terkena TB adalah usia 52-61 tahun dengan persentase kelompok usia 2-11 tahun 0,88%, kelompok usia 12-21 tahun 4,42%, kelompok usia 22-31 tahun 8,84%, kelompok usia 32-41 tahun 15,92%, kelompok usia 42-51 tahun 18,58%, kelompok usia 52-61 tahun 34,51%, kelompok usia 62-71 tahun 13,27% dan kelompok usia 72-81 tahun 3,53%. Kesimpulan kelompok paling banyak terkena TB di rumah sakit Sri Pamela adalah kelompok jenis kelamin laki-laki dan kelompok umur 52-61 tahun. Saran kepada masyarakat dengan jenis kelamin laki-laki usia 52-61 tahun untuk lebih waspada dan memeriksakan diri ke Rumah Sakit apabila terdapat gejala awal dari penyakit TB agar angka kejadian penyakit TB dapat diminimalisir guna untuk meningkatkan kesehatan sehingga produktivitas meningkat
Kualitas Hidup Pedagang Kaki Lima : Perspektif Sosial
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia dari indikator sosial. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Cross-Sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 98 orang pedagang kaki lima di Kota Medan secara acak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2018. Penggambilan data dengan menggunakan kuisioner dari The Bref Version of World Health Organizations’s Quality of Life Questionere dengan indikator sosial untuk mengukur kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indikator dari tingkat kemampuan bergaul pedagang kaki lima berada paling banyak pada kategori baik dengan presentase sebesar 53,1% dan dengan frekuensi sebanyak 52 orang (CI 95% = sebesar 42,9% - 63,3%). Indikator dari tingkat kepuasan hubungan sosial pedagang kaki lima berada paling banyak berada kategori memuaskan dengan presentase sebesar 50% dan dengan frekuensi sebanyak 49 orang (CI 95%= sebesar 40,8% - 60,2%). Indikator dari dukungan teman terhadap pedagang kaki lima berada paling banyak pada kategori memuaskan sebesar 49% dan dengan frekuensi sebanyak 48 orang (CI 95%= sebesar 39.8% - 69,2%). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tingkat kemampuan bergaul pedagang kaki lima berada pada kategori baik, pada tingkat kepuasan hubungan sosial pedagang kaki lima berada pada kategori memuaskan, dan pada tingkat dukungan teman terhadap pedagang kaki lima berada pada kategori memuaskan.Objektif : Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia dari indikator sosial. Metode : Penelitian ini menggunakan desain Cross-Sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 98 orang pedagang kaki lima di Kota Medan secara acak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2018. Penggambilan data dengan menggunakan kuisioner dari The Bref Version of World Health Organizations’s Quality of Life Questionere dengan indikator sosial untuk mengukur kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indikator dari tingkat kemampuan bergaul pedagang kaki lima berada paling banyak pada kategori baik dengan presentase sebesar 53,1% dan dengan frekuensi sebanyak 52 orang (CI 95% = sebesar 42,9% - 63,3%). Indikator dari tingkat kepuasan hubungan sosial pedagang kaki lima berada paling banyak berada kategori memuaskan dengan presentase sebesar 50% dan dengan frekuensi sebanyak 49 orang (CI 95%= sebesar 40,8% - 60,2%). Indikator dari dukungan teman terhadap pedagang kaki lima berada paling banyak pada kategori memuaskan sebesar 49% dan dengan frekuensi sebanyak 48 orang (CI 95%= sebesar 39.8% - 69,2%). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tingkat kemampuan bergaul pedagang kaki lima berada pada kategori baik, pada tingkat kepuasan hubungan sosial pedagang kaki lima berada pada kategori memuaskan, dan pada tingkat dukungan teman terhadap pedagang kaki lima berada pada kategori memuaskan
Insiden gizi kurang di yayasan pendidikan Siti Saleha
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui status gizi yang ada di Yayasan Pendidikan Siti Saleha Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Gizi kurang merupakan keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi protein dari makanan sehari-hari dan dalam waktu yang cukup lama. Asupan gizi pada anak sekolah dasar di beberapa wilayah di indonesia sangat memprihatinkan, padahal asupan gizi yang baik setiap harinya di butuhkan agar mereka memiliki pertumbuhan, kesehatan dan kemampuan intelektual yang lebih baik sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang unggul. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan gizi kurang tersebut terjadi. Masalah penelitian ini adalah tingginya gizi kurang di Yayasan Pendidikan Siti Saleha Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan Metode analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang kami lakukan dalam penelitian ini secara primer yaitu peneliti langsung mengambil data di Yayasan Pendidikan Siti Saleha. Jumlah sampel sebanyak 71 orang. Angka status gizi pada anak sekolah di Yayasan Pendidikan Siti Saleha, yaitu normal (53,5%) , gizi kurang (28,2%), gizi buruk (14,1%), gizi lebih (2,8%), dan obesitas (1,4%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah dari empat permasalahan gizi yang ada di Yayasan Pendidikan Siti Saleha yang paling banyak terjadi adalah gizi kurang, yaitu sebanyak 28,2%. Saran yang dapat kami berikan kepada masyarakat, khususnya orang tua untuk memperhatikan asupan gizi yang cukup untuk perkembangan dan pertumbuhan pada anaknya. Selain itu, pemerintah juga harus berperan dalam menanggulangi masalah gizi kurang yang terjadi
Tantangan Membangun Kemitraan dengan Penyedia Layanan Kesehatan Sektor Swasta dalam Program Pengendalian TB
PendahuluanDokter praktek mandiri, apotek dan laboratorium swasta maupun pekerja informal kesehatan dikenal sebagai penyedia layanan sektor swasta, selama ini diyakini memiliki dimensi kualitas layanan kesehatan yang lebih baik. Hal itu menjadi alasan utama untuk memasukkan keterlibatan mereka dalam pemberian layanan DOTS. Penerapan PPM (Public Private Mix) yang dilaksanakan lebih dari 15 tahun masih menghadapi tantangan bersifat persisten, dimana sebagian besar sektor swasta tidak terlibat dalam kolaborasi kemitraan ini.IsiImplementasi PPM belum berjalan menyeluruh secara nasional dan fragmentasi disektor swasta menyulitkan untuk membentuk komitmen secara merata. Program TB bersifat vertikal dan public sedangkan sektor swasta berorientasikan bisnis jasa menuntut keuntungan dari layanan yang diberikan. Terjadi perbedaan ideologi serta visi yang belum jelas dalam kolaborasi ini.Sektor swasta memiliki kapasitas lemah dalam melakukan tugas “case holding” yang mampu menjangkau kepatuhan pengobatan. Dilain sisi staf layanan public seringkali merasa terbebani dengan tanggungjawab memenuhi target program. Kapasitas merancang dan mengelola kontrak kemitraan dengan organisasi swasta juga belum dimiliki. Kolaborasi lemah sebab peningkatan kapasitas hanya terpaku disektor public. Penegakan aturan dalam notifikasi kasus TB, penggunaan rasional OAT serta pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) juga belum optimal.Pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan dibutuhkan untuk ekspansi PPM. Investasi ini tidak hanya untuk layanan publik tetapi juga untuk sektor swasta tetapi alokasi dana yang tersedia tidak mencukupi untuk upaya peningkatan PPM.Lesson learnTantangan dalam pelaksanaan PPM karena ada perbedaan ideologi, komitmen yang tidak merata, kelemahan kapasitas dalam berkolaborasi serta ketidakpastian pendanaan. Strategi dengan melakukan investasi untuk meningkatkan kapasitas memperkuat layanan TB disektor swasta. Peningkatan kapasitas pada semua penyedia layanan menjamin pemerataan kualitas layanan TB sehingga mampu meningkatkan deteksi kasus, mempercepat diagnosis dan pengobatan serta meminimalkan biaya perawatan akibat TB. Hubungan kemitraan perlu disertai kesepakatan kerjasama, penegakan peraturan dan pedoman operasional PPM TB.Kata Kunci PPM TB, Sektor Swasta, Kemitraan, Kolaboras
Test and Treat HIV di puskesmas
Latar belakang: Prevalensi HIV di Sulawesi Tenggara terus meningkat. Sementara pasien HIV yang tetap menjalani terapi antiretroviral tidak sebanding dengan laju epidemi HIV. Hingga akhir 2017 pasien HIV positif baru ditemukan berjumlah 998 orang, sementara yang sedang menjalani terapi antiretroviral hanya 306 orang (30,7%). Perluasan layanan tes HIV di puskesmas berdampak pada meningkatnya pasien HIV baru yang ditemukan. Merujuk setiap pasien untuk menjalani terapi antiretroviral di rumah sakit sering menimbulkan masalah, terutama terkait pembiayaan, jarak yang jauh dan risiko pasien lost to follow-up. Tujuan: Mengevaluasi pelaksanaan layanan test and treat HIV di puskesmas. Hasil: Sasaran layanan adalah populasi berisiko HIV yang mendapatkan tes HIV dengan pendekatan VCT (voluntary counseling test) atau PITC (provider initiative test and counseling) di puskesmas atau mobile klinik pada 2 wilayah kerja puskesmas (Puskesmas Lepo-Lepo Kota Kendari dan Puskesmas Wajo Kota Baubau). Kegiatan layanan meliputi: konseling HIV, penawaran tes, tes HIV, penyampaian hasil tes, terapi antiretroviral, konseling kepatuhan terapi, rujukan ke kelompok dukungan sebaya, konseling pasangan, rujukan pemeriksaan CD4 ke rumah sakit, dan penjangkauan pasien HIV yang lost to follow-up. Pelaksana layanan adalah tim yang terdiri dari konselor, dokter, perawat, bidan, laboran, apoteker dan petugas admin. Simpulan: Layanan test and treat HIV di puskesmas dapat meningkatkan jumlah orang yang dites HIV, menemukan pasien HIV dalam stadium awal, menyediakan layanan terapi antiretroviral bagi pasien HIV tanpa komplikasi, dan mempertahankan kepatuhan terapi antiretroviral. AbstrakLatar Belakang: Prevalensi HIV di Sulawesi Tenggara terus meningkat. Sementara pasien HIV yang tetap menjalani terapi antiretroviral tidak sebanding dengan laju epidemi HIV. Hingga akhir 2017 pasien HIV positif baru ditemukan berjumlah 998 orang, sementara yang sedang menjalani terapi antiretroviral hanya 306 orang (30,7%). Perluasan layanan tes HIV di puskesmas berdampak pada meningkatnya pasien HIV baru yang ditemukan. Merujuk setiap pasien untuk menjalani terapi antiretroviral di rumah sakit sering menimbulkan masalah, terutama terkait pembiayaan, jarak yang jauh dan risiko pasien lost to follow-up.Tujuan: Mengevaluasi pelaksanaan layanan test and treat HIV di puskesmas.Hasil: Sasaran layanan adalah populasi berisiko HIV yang mendapatkan tes HIV dengan pendekatan VCT (voluntary counseling test) atau PITC (provider initiative test and counseling) di puskesmas atau mobile klinik pada 2 wilayah kerja puskesmas (Puskesmas Lepo-Lepo Kota Kendari dan Puskesmas Wajo Kota Baubau). Kegiatan layanan meliputi: konseling HIV, penawaran tes, tes HIV, penyampaian hasil tes, terapi antiretroviral, konseling kepatuhan terapi, rujukan ke kelompok dukungan sebaya, konseling pasangan, rujukan pemeriksaan CD4 ke rumah sakit, dan penjangkauan pasien HIV yang lost to follow-up. Pelaksana layanan adalah tim yang terdiri dari konselor, dokter, perawat, bidan, laboran, apoteker dan petugas admin.Kesimpulan: Layanan test and treat HIV di puskesmas dapat meningkatkan jumlah orang yang dites HIV, menemukan pasien HIV dalam stadium awal, menyediakan layanan terapi antiretroviral bagi pasien HIV tanpa komplikasi, dan mempertahankan kepatuhan terapi antiretroviral
Perlukah Sekolah Memiliki lulusan SKM Sebagai Manajer Kesehatan Di Sekolah?
Latar belakang: Mempromosikan kesehatan anak-anak dan remaja melalui kebijakan di lingkungan sekolah adalah tanggung jawab yang sering dibagi oleh sektor kesehatan dan pendidikan. Sekolah adalah institusi fundamental dalam membangun kesejahteraan dan kesehatan negara, dan pendidikan telah terbukti menjadi faktor kunci dalam mempersempit perbedaan antara kaya dan miskin. Proses pengembangan karakteristik siswa sekolah adalah kursus instruksional manajemen oleh sekolah. Platform dari kata "kesehatan di sekolah", yaitu 1) siswa sehat, 2) sekolah sehat, 3) lingkungan sehat, dan 4) Komunitas sosial yang sehat. Selain mendapatkan tentang ajaran pendidikan, sekolah dapat dijadikan sebagai basis promosi kesehatan pada usia dini. Dimanakah peran kesehatan dapat berperan? Apakah perlu memasukkan kurikulum kesehatan sekolah sebagai basis pengajaran?. Metode: Metode yang digunakan dalam penulisan studi kasus ini adalah metode penelusuran pustaka (literature review). Bahan pustaka yang terkumpul selanjutnya dianalisis dan disintesis untuk membangun suatu alternatif solusi dalam meningkatkan keamanan pangan jajanan anak sekolah. Hasil: Seorang koordinator kesehatan sekolah, dalam hal ini manajer kesehatan, juga bisa menjadi sumber yang berharga karena dia dapat memikul tanggung jawab dalam hal promosi kesehatan sekolah. Sarjana SKM diperlukan untuk menjadi manajer kesehatan di sekolah yang akan mengemban tanggung jawab di bidang promosi kesehatan sekolah. Simpulan: Upaya kolaborasi antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan untuk mendukung promosi kesehatan sekolah dapat ditingkatkan melalui peningkatan pemangku kepentingan. Keterlibatan pemangku kepentingan tampaknya menjadi penting di seluruh proses kebijakan, mulai dari identifikasi kebutuhan akan kebijakan, hingga menganalisis opsi dan mengembangkan kebijakan, hingga adopsi kebijakan, implementasi dan evaluasi dan dukungan. Disinilah pentingnya ada sarjana lulusan Kesehatan, khususnya sarjana SKM sebagai manajer kesehatan. Sehingga, status kesehatan siswa terpantau dan promosi kesehatan sekolah dapat berjalan dengan baik. Pendidikan dan kesehatan dapat berkolaborasi untuk mencapai hasil kesehatan masyarakat dan tingkat keterampilan dan pengetahuan yang tinggi pada siswa.Latar belakangMempromosikan kesehatan anak-anak dan remaja melalui kebijakan di lingkungan sekolah adalah tanggung jawab yang sering dibagi oleh sektor kesehatan dan pendidikan. Sekolah adalah institusi fundamental dalam membangun kesejahteraan dan kesehatan negara, dan pendidikan telah terbukti menjadi faktor kunci dalam mempersempit perbedaan antara kaya dan miskin. Proses pengembangan karakteristik siswa sekolah adalah kursus instruksional manajemen oleh sekolah. Platform dari kata "kesehatan di sekolah", yaitu 1) siswa sehat, 2) sekolah sehat, 3) lingkungan sehat, dan 4) Komunitas sosial yang sehat. Selain mendapatkan tentang ajaran pendidikan, sekolah dapat dijadikan sebagai basis promosi kesehatan pada usia dini. Dimanakah peran kesehatan dapat berperan? Apakah perlu memasukkan kurikulum kesehatan sekolah sebagai basis pengajaran? Metode Metode yang digunakan dalam penulisan studi kasus ini adalah metode penelusuran pustaka (literature review). Bahan pustaka yang terkumpul selanjutnya dianalisis dan disintesis untuk membangun suatu alternatif solusi dalam meningkatkan keamanan pangan jajanan anak sekolah. HasilSeorang koordinator kesehatan sekolah, dalam hal ini manajer kesehatan, juga bisa menjadi sumber yang berharga karena dia dapat memikul tanggung jawab dalam hal promosi kesehatan sekolah. Sarjana SKM diperlukan untuk menjadi manajer kesehatan di sekolah yang akan mengemban tanggung jawab di bidang promosi kesehatan sekolah. KesimpulanUpaya kolaborasi antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan untuk mendukung promosi kesehatan sekolah dapat ditingkatkan melalui peningkatan pemangku kepentingan. Keterlibatan pemangku kepentingan tampaknya menjadi penting di seluruh proses kebijakan, mulai dari identifikasi kebutuhan akan kebijakan, hingga menganalisis opsi dan mengembangkan kebijakan, hingga adopsi kebijakan, implementasi dan evaluasi dan dukungan. Disinilah pentingnya ada sarjana lulusan Kesehatan, khususnya sarjana SKM sebagai manajer kesehatan. Sehingga, status kesehatan siswa terpantau dan promosi kesehatan sekolah dapat berjalan dengan baik. Pendidikan dan kesehatan dapat berkolaborasi untuk mencapai hasil kesehatan masyarakat dan tingkat keterampilan dan pengetahuan yang tinggi pada siswa. Kata Kunci: manajer kesehatan di sekolah; lulusan SK
[PHS4] PROGRAM “KERATIN” (KERAMAS RUTIN) : PENERAPAN KONSEP EKONOMI TOKEN DALAM PENINGKATAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (CUCI RAMBUT/KERAMAS) PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI WILAYAH PESISIR
Pedikulosis Kapitis (PK) merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi parasit Pediculus humanus capitis yang tumbuh dan berkembang di lapisan kulit kepala manusia. PK dapat menyebabkan Salah satu kelompok usia yang paling sering terinfeksi PK adalah anak sekolah. Prevalensi PK pada anak usia sekolah di negara maju seperti Belgia adalah sebesar 8,9 %. Sedangkan di negara berkembang seperti India adalah sebesar 16,59%. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan di salah satu sekolah dasar di wilayah pesisir Indonesia yaitu di Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara, didapatkan hasil bahwa 85,7% siswa positif terinfeksi penyakit tersebut. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya karena frekuensi keramas yang jarang. Karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengatasi permasalahan penyakit PK, salah satunya dengan pengembangan program perubahan perilaku. Tujuan dari program tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran terhadap perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa sekolah dasar di wilayah pesisir dengan melatih kebiasaan cuci rambut/keramas secara rutin 3x semiggu melalui pendekatan ekonomi token. Pengembangan program ini dilakukan dengan assessment berupa pengumpulan data sekunder, observasi, wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan kajian hasil penelitian. Adapun rancangan intervensi program yaitu sosialisasi kepada guru dan orangtua terkait program yang akan dilakukan, sosialisasi kepada siswa, pelaksanaan pengumpulan token, penukaran hadiah, evaluasi proses, dan evaluasi hasil. Sehingga diharapkan Program Keratin ini dapat menjadi salah satu solusi untuk menurunkan angka PK pada siswa sekolah dasar di wilayah pesisir.Pedikulosis Kapitis (PK) merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi parasit Pediculus humanus capitis yang tumbuh dan berkembang di lapisan kulit kepala manusia. PK dapat menyebabkan Salah satu kelompok usia yang paling sering terinfeksi PK adalah anak sekolah. Prevalensi PK pada anak usia sekolah di negara maju seperti Belgia adalah sebesar 8,9 %. Sedangkan di negara berkembang seperti India adalah sebesar 16,59%. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan di salah satu sekolah dasar di wilayah pesisir Indonesia yaitu di Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara, didapatkan hasil bahwa 85,7% siswa positif terinfeksi penyakit tersebut. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya karena frekuensi keramas yang jarang. Karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengatasi permasalahan penyakit PK, salah satunya dengan pengembangan program perubahan perilaku. Tujuan dari program tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran terhadap perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa sekolah dasar di wilayah pesisir dengan melatih kebiasaan cuci rambut/keramas secara rutin 3x semiggu melalui pendekatan ekonomi token. Pengembangan program ini dilakukan dengan assessment berupa pengumpulan data sekunder, observasi, wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan kajian hasil penelitian. Adapun rancangan intervensi program yaitu sosialisasi kepada guru dan orangtua terkait program yang akan dilakukan, sosialisasi kepada siswa, pelaksanaan pengumpulan token, penukaran hadiah, evaluasi proses, dan evaluasi hasil. Sehingga diharapkan Program Keratin ini dapat menjadi salah satu solusi untuk menurunkan angka PK pada siswa sekolah dasar di wilayah pesisir
Aktivitas fisik dan konsumsi camilan pada remaja obesitas di pedesaan dan perkotaan Kabupaten Bantul
Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui adanya perbedaan aktivitas fisik dan konsumsi camilan pada remaja obesitas di desa dan kota di Bantul.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian case control, dengan populasi remaja sekolah menengah atas (SMA) negeri di Kabupaten Bantul. Kasus adalah remaja yang didiagnosis obesitas pada tahap skrining, sedangkan kontrol adalah remaja dengan berat badan normal. Analisis data meliputi univariabel yang menyajikan distribusi frekuensi, bivariabel dengan uji chi-square dan uji-t dan mulitivariabel dengan uji regresi logistik.Hasil: Remaja dengan aktivitas fisik ringan memiliki peluang hampir 5 kali lebih besar mengalami obesitas dibandingkan remaja dengan aktivitas fisik sedang (OR 4,96 (CI 95%:2.14 -11.63). Hubungan antara jenis camilan dan obesitas juga memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dan praktis, yaitu obesitas banyak di temukan sebanyak 2 kali lebih besar pada remaja dengan konsumsi camilan goreng dibandingkan dengan remaja yang mengkonsumsi camilan non goreng.Kesimpulan: Terdapat perbedaan rerata berat dan asupan camilan pada remaja obesitas dan non obesitas. Aktivitas fisik ringan, frekuensi camilan tinggi, jenis camilan gorengan, berat camilan dan asupan camilan tinggi berpeluang lebih besar meningkatkan obesitas remaja.Physical activities and snack consumption of rural and urban obese adolescents in Bantul PurposeThis study to determine the difference of physical activity and snack consumption in adolescent obesity in urban and rural areas in the district of Bantul.MethodThis study used a case control study design, with a population of high school teenagers in Bantul. Cases are obese adolescents who were diagnosed at screening, while the control is not obese adolescents. Data analysis included univariable consist of frequency distribution, bivariable consist of chi-square and t-test and also logistic regression test for mulitivariabel analysis.ResultsAdolescents who do light physical activities are more likely have obesity almost 5 times than those who do physical activity in normal. Kind of snack and obesity have correlation in statistic and practical, which is many research prove that obesity found 2 times than adolescents who consume fried foods.ConclusionThere are differences of mean in snack weight and snack intake in obese adolescents. The low physical activity, high snack frequency, type of fried foods, snack weight, and snack intake are most likely to increase the incidence of obesity
Determinan sosial kejadian dengue shock syndrome di Semarang
Social determinants of dengue shock syndrome in SemarangPurpose This study aimed to know the social determinants related to dengue shock syndrome.Methods This study used a case control design in Semarang. Cases were dengue patients with shock syndrome diagnosed by a clinician in the hospital, and controls were dengue patients without shock syndrome. Participants were recruited using purposive sampling, and completed written informed consent to be interviewed using a questionnaire.ResultsResults showed that children aged <18 years have the highest risk of having DSS compared to other age groups. Referral system was also correlated to dengue shock syndrome.Conclusion This study recommends the clinicians to undertake appropriate diagnosis and prompt decision making to reduce the risk of more severe DHF events. The community should improve the awareness of shock syndrome by taking their children immediately to health services for examination if they have dengue symptoms in order to get the adequate treatment.Latar belakang: Infeksi virus dengue masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, khususnya Kota Semarang sebagai daerah endemis. Pada tahun 2014, insidensi DBD masih tinggi yaitu 92,43 per 100.000 penduduk dengan angka kematian 1,66. Sebagian besar kasus yang meninggal mengalami syok sindrom. Perbedaan tingkat keparahan DBD dan risiko kematian berhubungan dengan ketidakadilan sosial yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan sosial yang berhubungan dengan dengue shock syndrome (DSS).Metode: Studi case control dilakukan pada bulan Februari - Maret 2016. Kasus yaitu penderita DBD yang mengalami syok sindrom berdasarkan diagnosis dokter rumah sakit, dan kontrol adalah penderita DBD yang tidak mengalami syok sindrom. Pengambilan sampel dengan purposive sampling, berdasarkan rekam medik rumah sakit dan register kasus DBD tahun 2015 di Dinas Kesehatan Kota Semarang, kemudian subjek diminta persetujuan tertulis untuk diwawancarai. Analisis data dengan uji chi square dan regresi logistik.Hasil: Sebanyak 73 kasus dan 73 kontrol dilibatkan dalam penelitian ini. Determinan sosial yang berhubungan dengan kejadian DSS di Kota Semarang yaitu umur < 5 tahun (balita) dengan aOR sebesar 4,022 (95% CI=1,275-12,680, p=0,018), dan umur 5-18 tahun (anak-anak) dengan aOR sebesar 4,140 (95% CI=1,476-11,606, p=0,007), serta status rujukan dengan aOR sebesar 3,217 (95% CI=1,285-8,053, p=0,013).Kesimpulan: Masyarakat harus mewaspadai risiko terjadinya syok sindrom dengan memeriksakan balita dan anak dengan gejala DBD ke fasilitas kesehatan agar segera mendapatkan pengobatan. Diagnosis yang tepat dan pengambilan keputusan yang cepat oleh tenaga kesehatan untuk merujuk pasien ke rumah sakit perlu dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit DBD yang lebih parah
Prediktor faktor kekambuhan tuberkulosis di kabupaten Bantul
Latarbelakang: Program DOTS berhasil meningkatkan penemuan kasus TB paru BTA positif, namun tingkat kekambuhan TB paru masih ditemukan sebesar 3-5% hingga tahun 2014. Kekambuhan merupakan indikator penting keberhasilan jangka panjang pengobatan TB paru dan merupakan suspek MDR (multi drug resistence). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor yang berhubungan dengan kekambuhan TB.Metode: Desain penelitian adalah kohort retrospektif. Data yang digunakan adalah register TB kabupaten Bantul tahun 2003-2014 terdaftar ada 3418 pasien. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode non random dengan purposive sampling berdasarkan kritera inklusi tedapat 904 sampel. Variable yang diukur adalah usia, jenis kelamin, pengawas menelan obat, fasilitas pelayanan kesehatan, social ekonomi dan konversi dahak. Analisis data menggunakan cox proportion hazard model untuk menentukan kejadian serta kapan terjadinya suatu event. Hasil penelitian: Jenis kelamin laki-laki (HR=0,91 p-value=0,17) usia >40 tahun (HR=1,03 p-value=0,59), penghasilan rendah (HR=0,89 p-value=0,11) bukan prediktor kekambuhan TB, sedangkan pengobatan di rumah sakit (HR=0,81 p-value=0,00), tidak konversi dahak (HR=0,58 p-value=0,00), kegagalan pengobatan (HR=0,49 95%CI 0,37-0,64), dan pengobatan kurang/lebih dari 6 bulan (HR=0,008 95%CI 0,00-0,07) merupakan prediktor kekambuhan TB. Terdapat 56 (6,18%) dari 904 pasien yang mengalami kekambuhan setelah sembuh atau gagal dalam pengobatan. Rata-rata pasien kambuh setelah 17 bulan selesai pengobatan pertamnaya.Kesimpulan: Fasiltas kesehatan, konversi dahak, status akhir pengobatan dan lama pengobatan merupakan faktor kekambuhan Tb paru, sehingga tepat untuk memprediksi kekambuhan TB di Kabupaten Bantul.Predictors of tuberculosis recurrence in the district of Bantul PurposeThe purpose of this research was to identify associated factors of TB recurrence. MethodsThe study design was a retrospective cohort. We used TB cases registered in Bantul regency data in 2003-2014 that consisted of 3418 patients. Sampling was conducted by non-random methods with purposive sampling based on inclusion criteria of 904 samples. The variables measured were: age, sex, drug swallowing supervisor, health service facility, socioeconomic and sputum conversion. We used the Cox proportional hazard model for data analysis to determine the rate of occurrence and timing of the occurrence of an event. ResultsMale sex (HR = 0.91; p-value = 0.17) age> 40 years (HR = 1.03; p-value = 0.59), low income (HR = 0.89; p-value = 0.11) were not predictors of TB recurrence, while hospital treatment (HR = 0.81; p-value = 0.00), no sputum conversion (HR = 0.58; p-value = 0.00), treatment failure (HR = 0.49; 95% CI: 0.37-0.64), and treatment of less than 6 months (HR = 0.008; 95% CI: 0.00-0.07) were predictors of TB recurrence. There were 56 (6.18%) of 904 patients who experienced relapse after cured or failed treatment. The average patient relapsed after 17 months of completion of the first treatment. ConclusionHealth facilities, sputum conversion, end-of-treatment status and duration of treatment are pulmonary TB recurrence factors, and as a result can be used to predict TB recurrence in the district of Bantul