Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Peran ibu foundation dalam pemberdayaan dan pendanaan program kesehatan ibu dan anak di Indonesia
Keberhasilan upaya kesehatan ibu, di antaranya dapat dilihat dari indikator Angka Kematian Ibu (AKI). Angka kematian ibu di Indonesia berada di angka 305 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 22,23 per 1.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2015. Ketidak merataan fasilitas dan pelayanan kesehatan Ibu dan anak menjadi masalah utama di Indonesia, Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peran Ibu foundation dalam menggalang dana dan sumber daya lainnya dari masyarakat baik individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau pemerintah dalam membiayai program dan kegiatan operasional program kesehatan ibu dan anak, Sumber data dalam penelitian ini adalah dari hasil studi literatur dan studi dokumentasi. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan deskripstif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibu foundation memiliki peran dan kontribusi dalam penggalangan dana yang akan digunakan untuk pendanaan dan pemberdayaan Ibu dan anak di Indonesia. Kegiatan Ibu Foundation yang diadakan berbentuk kegiatan penggalangan dana melalui media maupun konser amal dan bermitra dengan banyak yayasan-yayasan dan LSM kesehatan lainnya, penggalangan dana melalui media dan konser amal adalah salah satu cara yang efektif dalam menggalang dana dengan menggunakan sistem ritail dana kemanusiaan, Melalui bank: ATM (transfer, phone dan internet banking), layanan donasi lewat sms contac person. Kesimpulan dalam penelitaian ini bahwa Ibu Foundation memiliki peran dan kontribusi yang baik dalam membantu pemerintah dalam mengatasi meningkatkan kesejahteraan Ibu dan anak di Indonesia melalui kegiatan Filantropi seperti penggalangan dana melalui media dan konser amal
Alur pelaporan kasus dalam demam berdarah dengue di kota Magelang
Tujuan: Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes sp. DBD di Indonesia merupakan salah satu penyakit endemis dengan angka kesakitan yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Daerah terjangkit semakin meluas mencapai 400 kabupaten/kota dari 474 kabupaten/kota di Indonesia dan sering menimbulkan KLB. Sistem surveilans DBD dilaksanakan sebagai salah satu upaya pengendalian penyakit DBD di Indonesia, salah satu hal penting dalam sistem surveilans adalah pelaporan kasus DBD. Tujuan evaluasi sistem pelaporan kasus DBD adalah untuk mengetahui hal yang berkaitan dengan sistem pelaporan kasus DBD di Kota Magelang tahun 2016. Metode: Studi evaluasi menggunakan metode deskriptif analitik, pengumpulan data primer dilakukan pada lima puskesmas dan satu RS melalui wawancara menggunakan kuesioner dan observasional pada informan sebanyak tujuh orang. Variabel yang di evaluasi berupa ketepatan dan kelengkapan laporan kasus. Hasil: Laporan DBD dikirimkan RS ke Dinas Kesehatan Kota Magelang, puskesmas mendapatkan informasi kasus DBD dari Dinas Kesehatan dan selanjutnya dilakukan penyelidikan epidemiologi. Kelengkapan laporan DBD dari RS ke Dinas Kesehatan sebesar 100% dengan ketepatan sebesar 51,28%. Keterlambatan pelaporan kasus DBD oleh RS disebabkan keterlambatan informasi diagnosis DBD dari ruang perawatan ke petugas surveilans RS, selain itu dikarenakan keterbatasan petugas surveilans RS. Laporan kasus DBD tidak ditembuskan ke puskesmas disebabkan ketidaktahuan petugas surveilans tentang alur pelaporan kasus DBD. Pelaporan kasus DBD oleh puskesmas tidak dapat dihitung baik kelengkapan maupun ketepatan, karena puskesmas hanya menerima informasi laporan kasus DBD dari RS melalui Dinas Kesehatan. Simpulan: Laporan kasus DBD di wilayah Kota Magelang hanya bersumber dari RS dan dikirimkan ke Dinas Kesehatan, kelengkapan laporan baik sedangkan ketepatan belum optimal, petugas surveilans RS tidak mengetahui alur pelaporan kasus DBD. Studi ini merekomendasikan untuk meningkatkan pengetahuan petugas tentang sistem pelaporan kasus DBD, termasuk ketepatan dan kelengkapan serta alur pelaporan dan kasus DBD
Surveillance system evaluation of non-communicable diseases through integrated community-based intervention called ‘Posbindu PTM’ in Wonosobo district, Central Java province, Indonesia
Purpose: Non-communicable diseases are leading cause of the global death, especially from cardiovascular disease, cancers, chronic obstructive pulmonary disease, and diabetes. Prevention and primary detection of non-communicable disease in Indonesia were done through integrated community-based intervention called ‘Posbindu PTM’. Implementation of ‘Posbindu PTM’ needed to be evaluated to determine each component in the non-communicable disease surveillance systems. Methods: This study was descriptive. Respondent were programmer in district health office and programmer in 24 primary health care in Wonosobo. Surveillance system evaluation that used was programs evaluation based on WHO (structure, main function, support function and quality of surveillance system). Results: The weakness of ‘Posbindu PTM’ in Wonosobo were lack of knowledge in the regulation, networking, collaborating, risk factor detecting and reporting; not availability of technical guidebook; low training participant; low monitoring and evaluation activity; also complex reporting system. There was 84% ‘Posbindu PTM’ that had not reported on time and 87,50 % programmer had not done the analysis, interpretation, and dissemination. This was related to the completeness of the report caused too many data that needed to be collected and affect the timeliness of the report. Conclusion: Strengthening ‘Posbindu PTM’ should be done in the reporting system aspect, especially in the timeliness and analysis of the report. Monthly reminder and refreshing in reporting system were done to improve the reporting system aspect
Minuman beralkohol dan kesehatan masyarakat
Tujuan: Menurut WHO, penggunaan global alkohol yang berakibat buruk menghasilkan lebih dari 3,3 juta per tahun yang berhubungan dengan konsumsi minuman beralkohol. Kebiasaan mengkonsusmsi minuman beralkohol merupakan hal yang paling sulit bagi kesehatan masyarakat, menggunakan minuman beralkohol secara berkepanjangan dapat menimbulkan berbagai masalah yang terkait dengan kesehatan. Karena masalah-masalah yang terjadi di Indonesia, kemajuan substansial terjadi dalam pemahaman kita tentang masalah-masalah teknis, atau istilah teknisnya “pecandu alkohol” yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dan perilaku dari pihak-pihak yang terkait dan melakukan pengkajian terhadap minuman beralkohol. Metode: Penelitian studi kasus, yaitu studi pada masa kini atau dinamika yang sedang berlangsung dalam menetapkan setting tertentu dengan konteks kehidupan nyata. Hasil: Kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan seperti preventif dan promotif yang dilakukan untuk mencegah negatif yang diakibatkan oleh minuman beralkohol antara lain dengan sosialisasi, pemajangan spanduk atau pamflet yang berisi ajakan untuk tidak menggunakan minuman beralkohol atau kegiatan yang bersifat menghambat lainnya. Namun hal ini tidak terlalu berdampak pada masyarakat untuk tidak lagi mengingat minuman beralkohol perlunya pesan tambahan yang mungkin lebih bermafaat bagi masyarakat. Serta tidak ada ketegasan dari Pemerintah daerah atau dalam manajemen peredaran minuman beralkohol. Simpulan: Membuat berbagai macam media (misalnya, televisi, radio, papan reklame) dan media sosial seperti facebook dan lain-lain dapat menjadi media untuk membuat pengetahuan tentang bahayanya minuman beralkohol terhadap kesehatan untuk diri sendiri dan orang lain. Maka hal ini perlu dilakukan untuk semua pihak untuk melakukan pengawasan pada peredaran minuman beralkohol
Peran ergonomi partisipatif dalam mencegah keluhan muskuloskeletal
Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai pendekatan yang telah dilakukan pada penerapan ergonomi partisipatif di berbagai industri dan mengambil pembelajaran dari implementasi ergonomi partisipatif tersebut.Keluhan Muskuloskeletal sering terjadi pada pekerja terutama dengan beban pekerjaan yang tinggi dan bekerja dengan postur yang jangal seperti perawat, pekerja di jasa konstruksi hingga manufaktur. Ergonomi partisipatif yang bertujuan mengurangi keluhan Muskuloskeletal melalui identifikasi berbagai faktor risiko pekerjaan dan merumuskan solusi untuk mengurangi risiko dengan melibatkan pekerja secara langsung. Efektivitas penyelenggaran ergonomi partisipatif bervariasi di berbagai tempat kerja. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti karakteristik pekerja, metode ergonomi yang digunakan, hingga dukungan dari organisasi atau perusahaan.Ergonomi partisipatif berpengaruh pada perbaikan posisi kerja, postur janggal dan kekakuan pada leher dikalangan perawat. Implementasi dibidang manufaktur juga mampu meningkatkan produktivitas hingga 46% dengan adanya pengurangan beban kerja yang tidak perlu, waktu tunggu transportasi barang, dan pengurangan waktu atau lama produksi. Hasil evaluasi partisipatif ergonomi pada 12 penelitian membuktikan bahwa ergonomi partisipatif memberikan dampak positif pada keluhan muskuloskeletal, pengurangan kecelakaan pada pekerja, klaim kompensasi terhadap kecelakaan kerja, serta mengurangi ketidakhadiran pekerja karena sakit. Jumlah fasilitator dan potensi adanya hambatan dapat menentukan kesuksesan program. Organisasi yang biasanya berhasil mendapatkan manfaat dari program ini adalah organisasi yang antar pekerjanya memiliki hubungan yang baik, komunikasi yang baik, adanya kebiasaan berkonsultasi dan adanya koordinasi dalam berbagai proses pekerjaan.Ergonomi partisipatif berhasil memberikan perubahan pada lingkungan kerja, terutama dalam mengurangi faktor risiko lingkungan kerja fisik yang berdampak pada gangguan muskuloskeletal. Implementasi ergonomi partisipatif membutuhkan komitmen manajemen pada semua unit di tempat kerja atau perusahaan. Pelatihan ergonomi, kerjasama tim dan solusi penyelesaian masalah adalah aspek yang dibutuhkan dalam pelaksanaan ergonomi partisipati
Perilaku beresiko pada lansia “endong-endong” di pasar induk sayur dan buah giwangan Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui gambaran kesehatan endong-endong yang berkaitan dengan perilaku kerja yang tidak ergonomis dan upaya penanggulangan risiko PAK (penyakit akibat kerja) dan KAK (kecelakaan akibat kerja). Terciptanya kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua usia adalah salah satu fokus SDGs. Namun, hal ini belum terlaksana secara menyeluruh di Indonesia. Endong-endong, atau wanita yang berprofesi mengangkut barang di pasar dengan menggendong menggunakan kain jarik. Sejumlah 60 orang diantaranya merupakan lansia, dimana mereka setiap harinya menggendong buah dan sayur seberat 25-98 kg dalam satu kali angkut dengan frekuensi 15 kali atau lebih. Mereka bekerja tanpa memperhatikan faktor ergonomis seperti berat beban maksimal untuk wanita, frekuensi angkat maksimal dalam sehari kerja, teknik mengangkat beban, waktu kerja, dan tidak memperhatikan jarak tempuh mengangkut beban. Perilaku tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan terutama PAK (penyakit akibat kerja) yaitu nyeri pada sistem muskuloskeletal seperti otot-otot punggung, pinggang, juga nyeri pada tangan, lutut, dan kaki. Masalah yang sering dialami lansia endong-endong adalah keluhan low back pain (nyeri punggung bawah).Selain itu, kelelahan akibat kerja akan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan akibat kerja. Risiko masalah kesehatan ini semakin tinggi terlebih pada lansia mengingat bahwa lansia wanita memiliki daya tahan tubuh yang lebih rentan dibandingkan dengan wanita usia produktif. Dari hasil penggalian data, sebagian besar lansia endong-endong mengalami keluhan nyeri pada punggung bawah dan kaki. Dimana keluhan nyeri punggung bawah ringan sebesar 31,5%, sedang 57,5% dan berat 11%. Hal tersebut terjadi karena semakin berat beban yang dibawa seseorang setiap kali menggendong maka tekanan pada tulang belakang menjadi semakin besar, sehingga kemungkinan terjadinya nyeri juga semakin besar terlebih ini terjadi pada lansia. Lainnya juga mengalami kecelakaan akibat kerja seperti terjatuh dan terpeleset karena kelelahan dan lingkungan kerja yang licin saat mengangkat beban. Sebagai pekerja sektor informal, kelompok ini tidak secara khusus mendapatkan perlindungan jaminan kesehatan. Sehingga upaya penanggulangan yang dapat diterapkan adalah Pos UKK yang menyelenggarakan upaya pemberian pelayanan kesehatan bagi pekerja informal dengan pendekatan utamanya promotif dan preventif didukung dengan upaya kuratif dan rehabilitatif sederhanabersumberdaya masyarakat (UKBM)
Berat lahir bayi beserta determinannya sebagai faktor risiko kematian bayi di Indonesia: analisis lanjut SDKI 2012
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi disebabkan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) yang tinggi. Bayi merupakan tahap awal perjalanan hidup manusia penerus bangsa. Bayi merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) untuk masa yang akan datang. Kualitas kehidupan bayi secara tidak langsung akan menjadi estimasi kualitas kehidupan bangsa di masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berat lahir terhadap kelangsungan hidup bayi. Penelitian dengan desain studi kohort retrospektif ini menggunakan sumber data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dengan menggunakan model probit untuk analisis. Hasil : Penelitian ini menemukan bahwa yang berpengaruh signifikan secara positif dalam penentuan BBLR adalah jarak kelahiran, umur ibu ketika melahirkan, komplikasi kehamilan, paritas (banyak kelahiran), kualitas dan kuantitas antenatal care (ANC), sosial ekonomi keluarga dan daerah tempat tinggal dengan penjelasan pengaruh dari masing-masing variabel tersebut terhadap presentase probabilitas bayi lahir dengan tidak BBLR sebagai berikut : jarak kelahiran lebih dari dua tahun memiliki sebesar 6,21% usia melahirkan ideal sebesar 2,98% tidak adanya komplikasi selama kehamilan sebesar 6,46% jumlah anak kurang dari tiga sebesar 5,1% kualitas ANC ketika hamil sebesar 13,63% tingkat sosial ekonominya lebih baik sebesar 13,25% tempat tinggal di kota sebesar 9,04%Sedangkan yang tidak signifikan dalam mempengaruhi adalah jenis kelamin bayi. Kesimpulan: Kelangsungan hidup bayi dapat ditentukan melalui berat bayi ketika dilahirkan. Terdapat beberapa karakteristik yang mempengaruhi hasil dari berat bayi lahir tersebut. Karakteristik tersebut antara lain adalah karakteristik bayi, ibu, pelayanan kesehatan dan karakteristik lingkungan. Karakteristik ibu menjadi faktor yang paling signifikan dalam menentukan berat bayi lahir tersebut, dimana intervensi dapat dilakukan lebih utama kepada ibu yang dapat secara siginifikan menurunkan angka AKB
Ancaman kesehatan pada komunitas anak-anak yang hidup disekitar pertambang emas tanpa izin di Provinsi Jambi
Provinsi Jambi memiliki sumberdaya alam melimpah sehingga sector pertanian, perkebunan, kehutanan dan pertambangan berkembang cukup baik, terdapat empat Kabupaten yang menjadi tempat Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Pada tahun 2016 Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jambi memperkirakan peningkatan kerusakan wilayah karena PETI meningkat 100% tertinggi di Sarolangun dan Merangin, hal ini mengakibatkan tercemarnya lebih 30 sungai dan anak sungai oleh limbah tambang emas berupa lumpur, besi, arsenik, hingga merkuri, juga merusak 7 lubuk larangan (sumber ikan) dan area persawahan lebih dari separonya tidak dapat ditumbuhi tanaman. Penemuan lainnya adalah sungai Batanghari yang merupakan muara dari beberapa sungai di Jambi tercemar berat hal ini diduga akibat air buangan PETI (1,2,3,4). PETI terus berlangsung di provinsi Jamabi dikarenakan masyarakat merasa ini cara cepat untuk menghasilkan uang dan ditampung oleh pengusaha emas besar karena merasa diuntungkan serta oknum aparat keamanan yang dibayar memberikan pengamanan dan oknum pemerintah yang memberlakukan peraturan secara longgar (5,6). Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk membuat langkah-langkah antisipasi mencegah terjadinya gangguan kesehatan karena efek mercury, besi, dan arsenic serta zat kimia lainnya pada manusia khususnya anak-anak yang hidup di area tambang illegal diantaranya; Membuat surat atau nota keberatan atas proses penambanagan emas yang terjadi kepada pemerintah kabupaten dan provinsi agar tegas menindak oknum dibalik penambangan emas illegal, melakukan advokasi kepada pihak pengambil kebijakan agar membuat kebijakan yang melindungi kesehatan warga dan kelestarian lingkungan, dan sebagai pemicu bagi Dinas Kesehatan kabupaten dan provinsi untuk mengambil tindakan segera mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan karena keracunan mercuri dan zat berbahaya lainnya. Karena kemiskinan dan kurangnya lapangan pekerjaan serta kemudahan untuk mengakses area penambangan membuat masyarakat ingin terus melakukan penambangan walaupun tidak memiliki izin dari pemerintah hal ini membuat kehilangan kontrol atas penggunaan bahan-bahan kimia yang berbahaya selama proses penambangan yang berdampak pada gangguan masalah kesehatan dan pencemaran lingkungan dalam jangka waktu yang panjang.
Membudayakan patient safety sebagai bentuk dari organisasi reform dalam mencegah human err
Objective: Patient safety merupakan komponen kritis dari mutu pelayanan kesehatan. Isu terkait patient safety diantaranya medical errors dan diagnostic errors. Berbagai studi melaporkan bahwa kasus diagnostic errors dan medical errors di fasilitas pelayanan kesehatan terjadi di seluruh negara, tidak terkecuali di negera berkembang seperti Indonesia. Rumah sakit sebagai organisasi pelayanan kesehatan, seharusnya menumbuhkan budaya patient safety untuk mencegah terjadinya human err yang berdampak pada medical errors dan diagnostic errors. Namun pada kenyataannya penerapan budaya patient safety masih sangat sulit diterapkan di beberapa rumah sakit, contohnya di salah satu rumah sakit di Kota Jambi, berdasarkan studi yang dilakukan, diketahui bahwa masih terjadi human err berupa diagnostic errors yaitu kesalahan penegakan diagnosis dan medical errors yang berupa kesalahan dalam penjahitan luka. Hal ini disebabkan karena belum optimalnya penerapan budaya patient safety di rumah sakit tersebut. Medical errors seperti Kejadian yang Tidak Diinginkan (KTD) menjadi salah satu kasus yang sering terjadi. Fenomena ini seperti gunung es, dimana kasus – kasus yang serius dan mengancam jiwa secara mudah tampak di permukaan, sedangkan kasus - kasus yang sifatnya ringan sampai sedang umumnya tidak terdeteksi, tidak dicatat, ataupun tidak dilaporkan. Tujuan dari argumentatif review ini untuk mendeskripsikan pentingnya budaya patient safety dalam organisasi pelayanan kesehatan sebagai bentuk dari organisasi reform dalam mencegah human err. Lesson learned: Budaya patient safety merupakan pilar gerakan keselamatan pasien di pelayanan kesehatan. Melalui penerapan budaya patient safety diharapkan terjadi penurunan kasus medical errors dan diagnostic errors. Rumah sakit sebagai organisasi pelayanan kesehatan harus melakukan upaya reformasi atau perbaruan organisasi (organizational reform) untuk mencegah terjadinya human err. Organizational reform merupakan salah satu wujud perubahan dengan cara menata kembali organisasi, baik struktur maupun manajemen agar efektif dalam upaya mencegah terjadinya human err. Hasil yang diharapkan dari reformasi organisasi ini berupa budaya patient safety. Membudayakan keselamatan pasien (patient safety) sangat penting, karena budaya mengandung dua komponen yaitu nilai dan keyakinan, dimana nilai mengacu pada sesuatu yang diyakini oleh anggota organisasi untuk mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, sedangkan keyakinan mengacu pada sikap tentang cara bagaimana seharusnya bekerja. Sehingga dengan adanya nilai dan keyakinan yang berkaitan dengan patient safety yang ditanamkan pada setiap anggota organisasi, maka setiap anggota akan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dalam penerapan keselamatan pasien, yang pada akhirnya perilaku tersebut menjadi suatu budaya yang tertanam dalam setiap anggota organisasi berupa perilaku budaya keselamatan pasien (patient safety). Ciri – ciri organisasi pelayanan kesehatan yang mampu menerapkan patient safety diantaranya ; komunikasi terbuka dan saling percaya, alur dan proses informasi yang baik, persepsi terhadap pentingnya keselamatan, memiliki kesadaran bahwa kesalahan tidak bisa sepenuhnya dihindari, mampu mengindentifikasi ancaman laten terhadap keselamata secara proaktif, melakukan pembelajaran organisasi, memiliki pemimpin yang kompeten, bertanggungjawab dan mampu untuk merancang, mengembangkan, dan memelihara budaya keselamatan dan menghilangkan budaya menyalahkan salah satu pihak serta tidak memberikan hukuman pada insiden yang dilaporkan. Conclusion: Sebuah organisasi pelayanan kesehatan harus terus melakukan perubahan atau pembaruan yang mendukung patient safety dalam rangka menghindari terjadinya kesalahan penanganan dan perawatan yang disebabkan oleh human err. Keberhasilan pembaruan organisasi akan tercermin dari terbentuknya budaya patient safety. Sedangkan keberhasilan penerapan patient safety akan mampu mencegah atau mengurangi terjadinya human err yang berakibat pada diagnostic errors dan medical errors
Merokok dan anemia: studi pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta
Smoking and anemia: study in hospitalized patients at Respira Lung Hospital, YogyakartaPurpose: This study aimed to explore anemia in hospitalized patients at Respira Lung Hospital in Yogyakarta which includes tuberculosis, nutritional status, age, sex, education, and smoking habits.Methods: A cross-sectional design using secondary data from medical records at Respira Lung Hospital was used in this study. Of all medical records, 90 inpatients in 2017 were taken with consecutive sampling techniques. The Chi-square test was conducted to analyze this study.Results: Patients who had anaemia were 52,2%. The proportion of people who had anaemia in thin people was 1,613 greater than those who are not thin (RP=1,613; 95%CI=1,078-2,414; p=0,031). Disease, age, sex, education, and smoking habits were not significantly related to anaemia. However, pulmonary tuberculosis (TB) (RP=1,395; 95%CI=0,951-2,047); no education (RP=1,257; 95%CI=0,765-2,066); and smoking habits (RP=1,142; 95%CI=0,730-1,785) were risk factors for anaemia in hospitalized patients at Respira Lung Hospital.Conclusions: Nutritional status was significantly associated with anemia, while pulmonary TB, age, gender, education, and smoking habits were not significantly related to anemia. Furthermore, increasing awareness of pulmonary tuberculosis sufferers with poor nutritional status, smoker, and low education was concerned by the health department because it raised the risk of anemia and complication of the disease.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tentang kejadian anemia pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Paru Respira, Yogyakarta yang dikaitkan dengan penyakit tuberkulosis, status nutrisi, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan kebiasaan merokok. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional. Sampel penelitian adalah 90 pasien rawat inap pada tahun 2017 di Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta. Data diambil dari rekam medis pasien dengan teknik sampling consecutive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square.Hasil: Responden yang mengalami anemia sebesar 52,2%. Proporsi orang yang mengalami anemia pada orang yang bertubuh kurus 1,613 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak kurus (RP=1,613; 95%CI=1,078-2,414; p=0,031). Penyakit, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan perilaku merokok tidak memiliki hubungan signifikan dengan status anemia. Namun, penyakit TB paru (RP=1,395; 95%CI=0,951-2,047), tidak bersekolah (RP=1,257; 95%CI=0,765-2,066), dan perilaku merokok (RP=1,142; 95%CI=0,730-1,785) merupakan faktor risiko terhadap kejadian anemia. Kesimpulan: Status nutrisi berhubungan signifikan dengan kejadian anemia, sedangkan penyakit TB paru, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan kebiasaan merokok tidak berhubungan signifikan dengan kejadian anemia. Penyakit TB paru, IMT yang kurus, tidak bersekolah, dan merokok merupakan faktor risiko terhadap kejadian anemia pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Paru Respira, Yogyakarta.Smoking and anemia: a study in Lung Diseases Hospital in Yogyakarta Purpose: The aim of this study was to explore anemia in hospitalized patients at Respira Lung Hospital in Yogyakarta which include tuberculosis, nutritional status, age, sex, education, and smoking habits.Methods: A cross-sectional design using secondary data from medical records at Respira Lung Hospital was used in this study. Of all medical records, 90 inpatients in 2017 were taken with consecutive sampling technique. The Chi-square test was conducted to analyze this study.Results: Patients who had anemia were 52,2%. The proportion of people who had anemia in thin people was 1,613 greater than those who are not thin (RP=1,613; 95%CI=1,078-2,414; p=0,031). Disease, age, sex, education, and smoking habits were not significantly related to anemia. However, pulmonary tuberculosis (TB) (RP=1,395; 95%CI=0,951-2,047); no education (RP=1,257; 95%CI=0,765-2,066); and smoking habits (RP=1,142; 95%CI=0,730-1,785) were risk factors for anemia in hospitalized patients at Respira Lung Hospital.Conclusion: Nutritional status was significantly associated with anemia, while pulmonary TB, age, gender, education, and smoking habits were not significantly related to anemia. Pulmonary TB, thin BMI, no schooling, and smoking were risk factors for anemia in hospitalized patients at Respira Lung Hospital.