Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Model prediksi kejadian demam berdarah dengue di kota yogyakarta bagian utara (zona musim 138) tahun 2010-2016
Use of a combined surveillance and meteorological data for predicting dengue hemorrhagic fever in YogyakartaPurposeThis study aimed to predict the incidence of dengue hemorrhagic fever using meteorological data such as rainfall, rainy days, air temperature, humidity, and dengue hemorrhagic fever surveillance data month by month in Northern Yogyakarta Municipality (Climatic Zone 138) through 2010-2016.MethodThis research was a descriptive study with a predictive design with temporal approach. This research processed secondary data of DHF incidence from Yogyakarta Municipality Health Office and climate variables from Meteorology Climatology and Geophysics Agency (BMKG) Yogyakarta from 2010 to 2016. Data were analyzed with univariate tests and presented in frequency distribution, bivariate analysis was performed using Pearson/ Spearman correlation tests, and multivariate analysis used Poisson regression, negative binomial regression, and generalized poisson regression tests.ResultsDHF incidence in Northern Yogyakarta Municipality (Climatic Zone 138) was associated with meteorological factors in the same month up to 3 months earlier. Predictors of DHF case were dengue incidence of previous month, rainfall 2 months earlier, current temperature, and relative humidity of the previous month.ConclusionThe best prediction model of DHF incidence in Northern Yogyakarta Municipality (Climatic Zone 138) was a combination of surveillance and meteorological data. It is necessary to develop an awareness system of DHF incidence with meteorological database and surveillance in order to control the incidence of DHF in Yogyakarta Municipality.Latar Belakang: Demam berdarah dengue merupakan salah satu vector borne disease yang penting dan menjadi perhatian di dunia. Insiden demam berdarah dengue meningkat secara pesat beberapa dekade terakhir di seluruh dunia. Salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki jumlah kasus DBD masih tinggi adalah Kota Yogyakarta. Sebagaimana kondisi kejadian DBD di wilayah lain, tingginya kejadian DBD di Kota Yogyakarta terkait dengan variabilitas iklim yang terjadi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi kejadian demam berdarah dengue menggunakan data meteorologis berupa curah hujan, hari hujan, suhu udara, dan kelembapan, serta data surveilans berupa kasus demam berdarah dengue per bulan di Kota Yogyakarta bagian utara tahun 2010-2016.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian prediksi menggunakan pendekatan temporal. Penelitian ini mengolah data sekunder berupa time series kejadian DBD dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan variabel iklim dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mulai tahun 2010-2016. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam distribusi frekuensi, analisis bivariat dilakukan menggunakan korelasi (Pearson/Spearman), dan analisis multivariat untuk mendapatkan model prediksi dilakukan menggunakan regresi Poisson, regresi binomial negatif, dan regresi generalized poisson.Hasil: Kejadian DBD di Kota Yogyakarta bagian utara (Zona Musim 138) berasosiasi dengan faktor meteorologis pada bulan yang sama hingga 3 bulan sebelumnya. Prediktor kejadian DBD adalah kejadian DBD bulan sebelumnya, curah hujan 2 bulan sebelumnya, suhu udara pada bulan yang sama, dan kelembapan bulan sebelumnya.Kesimpulan: Model prediksi terbaik kejadian DBD di Kota Yogyakarta bagian utara (Zona Musim 138) merupakan kombinasi data surveilans dan data meteorologis. Perlu dikembangkan sistem kewaspadaan ini kejadian DBD dengan basis data meteorologis dan surveilans dalam rangka pengendalian kejadian DBD di Kota Yogyakarta.Kata Kunci: Dengue, Prediksi, Data Meteorologis, Zona Musi
Adolescent pregnant women experiences in three primary health care centers of Yogyakarta: the need of friendly and sensitive support care
Purpose: Explore the meaning of adolescent’s experience and social support needs from health staff in pregnancy.Method: This research was a qualitative research with phenomenology. The study was conducted in three catchment areas of Puskesmas Jetis, Gedongtengen and Umbulharjo 1 from 6 May to 7 July 2017. The selection of participants using the technique of maximal variation and the number of participants adjusted to the varied place of study and the variation of participants and the number of participants was 6. The research data was collected by using in-depth interview technique with semi-structured interview guide. The data were analyzed with Collaizi technique analysis.Results: There are 5 themes in this study that is, the experience of adolescents at the beginning of their pregnancies, differences in the reasons adolescent maintain their pregnancies, the form of support that adolescent have gained during pregnancy, adolescent perspectives on the behavior of health staff during accompanying pregnancy and social support needs of adolescent pregnancy from health staff .Conclusion: Adolescent acceptance of pregnancy occurs as pregnancy progresses, support from optimal health staff increases teen motivation to maintain and run pregnancy well and informational support from health staff is a key requirement for teenage pregnancy
ANALISIS SPASIAL KEJADIAN DBD DAN UJI KERENTANAN AEDES AEGYPTI TERHADAP MALATHION DI KOTA MAGELANG
Latar Belakang: Penyakit DBD masih merupakan masalah yang sangat penting dan menjadi salah satu tantangan utama bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia, kejadian DBD tidak hanya menyerang kelompok usia, jenis kelamin maupun status sosial tertentu. Penyakit DBD merupakan suatu infeksi arboviral yang ditularkan melalui vektor sehingga mudah menular dari satu orang ke orang lainnya. Kasus DBD di Kota Magelang terjadi di ketiga wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Magelang Selatan yang terdiri dari enam kelurahan, Kecamatan Magelang Tengah terdiri dari enam kelurahan dan Kecamatan Magelang Utara terdiri dari lima kelurahan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran spasial kejadian DBD dan status kerentanan Aedes aegypti terhadap malathion di Kota Magelang.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan spasial temporal untuk melihat distribusi kasus DBD dari tahun 2014-2017 dan keberadaan telur nyamuk dengan menggunakan GPS untuk penentuan waypoint penderita dan lokasi pemasangan ovitrap serta lembar observasi. Status kerentanan dilakukan dengan uji susceptibility test dari nyamuk hasil rearing telur yang dipasang dengan ovitrap pada 195 rumah sampel terhadap malathion.Hasil: Kasus DBD Tahun 2014-2017 terjadi sebanyak 380 kasus dengan kasus tertinggi pada Tahun 2015 yaitu 158 kasus dan terendah Tahun 2017 dengan 66 kasus. Kematian DBD tertinggi Tahun 2016 yaitu 4 kasus kematian dan terendah Tahun 2014 dan 2017 dengan masing-masing 0 kematian. Seluruh kelurahan di Kota Magelang berstatus endemis kecuali Kelurahan Cacaban dan Kelurahan Panjang. Hasil NNA didapatkan Observed Mean Distance 60,380 meter, NNR sebesar 0,474, Z-score sebesar -19,309 dan p-value sebesar 0,000. Kasus DBD mengkluster menjadi kluster primer dan kluster sekunder. Setiap kelurahan terdapat daerah risiko tinggi dan rendah kasus DBD. Terjadi pergerakan kasus DBD sebesar 3,8o ke arah Timur Laut sejalan arah poros utama penghubung antar wilayah di Jawa Tengah dan DIY. Ovitrap Index didapatkan sebesar 61,03% positif telur dari 195 sampel yang dipasang. Uji kerentanan menunjukkan bahwa nyamuk Aedes aegypti telah resisten terhadap malathion di seluruh kelurahan Kota Magelang.Kesimpulan: Gambaran spasial kejadian DBD menunjukkan bahwa kasus DBD terjadi pada semua kelurahan di Kota Magelang, pergerakan kasus cenderung mengikuti arah mobilitas manusia, ketiga kecamatan merupakan daerah berisiko DBD. Insektisida malathion telah resisten di semua kelurahan di Kota Magelang
Anaerob-aerob biofilter evaluation in general hospital of NTB
Evaluating the use of anaerobic-aerobic biofilter to increase the quality of hospital wastewater Purpose: This study aimed to evaluate the anaerobe-aerobic biofilter systems effectiveness to treating parameters that are affected by the existing units. Methods: This study was conducted with quasi-experimental pretest-posttest approach. Sampling was done in peak hour, intermediate, and minimum wastewater discharge The data analysis used a comparison of quality standards and used the effectiveness level of wastewater treatment through the established formula. Results: The results showed that anaerobic-aerobic biofilter was highly effective in treating total coliform at peak discharge (99.9%), intermediate discharge (83.80%), minimum discharge (99.9%) and effective in processing COD parameters 70.13% at intermediate, and 74.60% minimum discharge. The results also showed anaerobic-aerobic biofilter was quite effective in treating BOD (54.59%) and TSS (50%) and less effective phosphate (40.7%). Data analysis showed that the results of wastewater treatment of provincial hospital in West Nusa Tenggara have met the established quality standards. Conclusion: An anaerobic-aerobic biofilter is effective to increase hospital wastewater to reduce environmental pollution. The impact of this processing will reduce environmental pollution.AbstrakTujuan: Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan sistem biofilter anaerob-aerob terkait efektivitas dalam mengolah parameter yang dipengaruhi oleh unit yang ada. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan menggunakan pendekatan pre-test dan post-test. Pengambilan sampel dilakukan pada saat debit puncak, menengah, dan minimum air limbah. Analisis data menggunakan perbandingan baku mutu dan menggunakan tingkat efektivitas IPAL melalui rumus yang telah ditetapkan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan biofilter anaerob-aerob sangat efektif mengolah total koliform pada debit puncak (99,9%), debit menengah (83,80%), debit minimum (99,9%) dan efektif dalam mengolah parameter COD 70,13% pada debit menengah, dan 74,60% debit minimum. Hasil penelitian menunjukkan biofilter anaerob-aerob cukup efektif dalam mengolah BOD (54,59%) dan TSS (50%) dan kurang efektif mengolah fosfat (40,7%). Analisis data menunjukkan bahwa hasil pengolahan air limbah rumah sakit provinsi NTB telah memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan. Simpulan: Biofilter anaerob-aerob efektif meningkatkan kualitas air limbah rumah sakit. Dampak dari proses pengolahan ini akan mengurangi pencemaran lingkungan. Purpose: To evaluate the effectivity using anaerobe-aerobic biofilter systems to treating parameters that are affected by the existing units. Methods: This study was quasi experimental pretest-posttest approach. Sampling is done in peak hour, intermediate, and minimum wastewater discharge The data analysis used a comparison of quality standards and used the effectiveness level of WWTP through the established formula. Results: The results showed that anaerobic-aerobic biofilter was highly effective in treating total coliform at peak discharge (99.9%), intermediate discharge (83.80%), minimum discharge (99.9%) and quite effective in processing COD parameters 59,9% at peak discharge, 70.13% intermediate, and 74.60% minimum discharge. The results also showed anaerobic-aerobic biofilter was quite effective in treating BOD (54.59%) and TSS (50%) and less effective phosphate (40.7%). Data analysis showed that the results of wastewater treatment of general hospital in NTB have met the established quality standards. Conclusion: An anaerobic aerobic biofilter is effective in treating wastewater. The highest effectivity of wastewater treatment takes place in a biofilter unit
Usia saat menarche dan usia pertama kali hubungan seksual pranikah wanita dewasa muda di Indonesia: analisis Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2003-2012
Age of menarche and age of premarital sexual young adults Indonesia (Health Demographic Survey data 2003-2012) Purpose: The aim of this study are knowing and analyzing time at menarche with the time at first sexual intercourse of young adult women in Indonesia.Methods: This is a quantitative study using secondary data from Indonesia Health Demographic Survey Data (SDKI) 2003-2012. The number of samples selected in the SDKI 2003 is 523 people, in 2007 that is 2,627 people, and in 2012 that is 2,663 people. The analysis is a survival analysis.Results: The average menarche of adult women in Indonesia in 2003 was 13.67 years, in 2007 that was 13.64 years, and in 2012 that was 13.64 years. The average time of premarital intercourse is around 19 years from 2003 to 2012. The probability to have premarital sexual intercourse in 2003 is 3%, in 2007 is 4%, and on the year 2012 is 4%. In 2007, only external variables are domicile, education and socioeconomic status that have a significant relationship. In the data of SDKI 2012 there is no data that have significant influence on premarital sexual behavior.Conclusions: Young adult women who live in urban areas have a 1.9 chance of having sex faster than young adult women in rural areas. Young adult women with higher education have a probability of 0.51 times faster sexual intercourse in the lower group. In terms of economic status, adult women with upper middle economic status have a chance of 0.3-0.4 times faster sexual intercourse than low socioeconomic status.Remaja dan dewasa muda saat ini dihadapkan pada masalah kesehatan reproduksi yaitu aktifitas seksual di usia yang semakin dini. Salah satu tahapan dalam perkembangan pubertas adalah menarche. Wanita yang mengalami menarche di usia dini berisiko terhadap perilaku seksual pranikah. Tujuan dari peneltian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis hubungan usia saat menarche dengan usia pertama kali melakukan hubungan seksual seksual pranikah wanita dewasa muda di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dari data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2003-2012. Variabel bebas yaitu usia menarche dan variabel terikat yaitu usia melakukan hubungan seksual pranikah. Jumlah sampel terpilih pada SDKI 2003 yaitu 523 orang, tahun 2007 yaitu 2.627 orang, dan tahun 2012 yaitu 2.663 orang. Analisis yang digunakan adalah analisis survival dari 3 data SDKI. Rata-rata usia menarche wanita dewasa muda di Indonesia pada tahun 2003 yaitu 13,67 tahun, pada tahun 2007 yaitu 13,64 tahun, dan pada tahun 2012 yaitu 13,64 tahun. Rata-rata usia melakukan hubungan seksual pranikah wanita dewasa muda di Indonesia yaitu berkisar pada usia 19 tahun dari tahun 2003 hingga pada tahun 2012. Probabilitas wanita dewasa muda untuk melakukan hubungan seksual pranikah yaitu pada tahun 2003 sebesar 3%, tahun 2007 4%, dan pada tahun 2012 yaitu 4%. Pada SDKI tahun 2007 hanya variabel luar yaitu domisili, pendidikan dan status sosial ekonomi yang memiliki hubungan yang signifikan. Pada data SDKI 2012 tidak terdapat vairabel satupun yang berhubungan signifikan dengan perilaku seksual pranikah.Wanita dewasa muda yang berdomisili di perkotaan memiliki peluang 1,9 kali melakukan hubungan seksual pranikah lebih cepat dibandingkan dengan wanita dewasa muda yang berada di pedesaan. Wanita dewasa muda dengan pendidikan tinggi memiliki peluang sebesar 0,51 kali lebih cepat melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan pada kelompok pendidikan rendah. Dari segi status ekonomi, wanita dewasa muda dengan status ekonomi menengah ke atas memiliki peluang sebesar 0,3-0,4 kali lebih cepat melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan status sosial ekonomi rendah
“Merasa malu” dan “kurang kesadaran berpartisipasi”: tantangan wanita usia subur dalam screening kanker serviks melalui tes inspeksi visual dengan asam asetat
“Embarrassment” and “lack of awareness”: challenges for reproductive women in cervical cancer screening through visual inspection with acetic acid testPurpose: This study aims to explore the challenges for reproductive women in cervical cancer screening through visual inspection with acetic test in Surakarta.Method: A survey was conducted involving distribution of questionnaires to 382 women aged 16-49 years from 5 public health centers.Results: Most respondents were 21-30 years old (40,1%), married (97,1%), as a housewife (59,2%), and had higher school education (60,5%). Had no sex education (OR: 2,00; 95%CI: 1,04-3,86) and low awareness (OR: 3,07; 95%CI: 1,25-7,49) were significantly associated with the low coverage of VIA Test. On the other hand, had no embarrassment (OR: 0,63; 95%CI: 0,41-0,99) was negatively associated with the low coverage of VIA Test.Conclusion: Awareness, sex education, and embarrassment were associated with the VIA Test Coverage at community health center in Surakarta. Specific strategies and programs that addresses these factors are needed to increase the coverage of VIA Test.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kendala cakupan tes Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) di Puskesmas di kota Surakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi analitik observasional secara cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Pucang Sawit, Setabelan, Jayengan, Gajahan dan Purwosari pada bulan November 2017 dan Desember 2017. Sampel terdiri dari 382 wanita berusia 16-49 tahun sebagai responden. Sampel dipilih secara multistage sampling. Setiap responden diberi kuesioner untuk menilai faktor-faktor yang dapat memengaruhi cakupan tes IVA. Kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi logistik. Hasil: Dengan interval kepercayaan 95%, didapatkan variabel yang signifikan yaitu kesadaran (OR=3,07), rasa malu (OR=2,00) dan pendidikan seksualitas (OR=0,64). Simpulan: terdapat hubungan antara kesadaran, rasa malu dan pendidikan seksualitas dengan cakupan tes IVA di puskesmas di kota Surakarta.“Embarrassment” and “lack of awareness”: challenges for reproductive women in cervical cancer screening through visual inspection with acetic acid testPurpose: This study aims to explore the challenges for reproductive women in cervical cancer screening through visual inspection with acetic test in Surakarta. Method: A survey was conducted involving distribution of questionnaires to 382 women aged 16-49 years from 5 public health centers. Results: Most respondents were 21-30 years old (40,1%), married (97,1%), as a housewife (59,2%), and had higher school education (60,5%). Had no sex education (OR: 2,00; 95%CI: 1,04-3,86) and low awareness (OR: 3,07; 95%CI: 1,25-7,49) were significantly associated with the low coverage of VIA Test. On the other hand, had no embarrassment (OR: 0,63; 95%CI: 0,41-0,99) was negatively associated with the low coverage of VIA Test. Conclusion: Awareness, sex education, and embarrassment were associated with the VIA Test Coverage at community health center in Surakarta. Specific strategies and programs that addresses these factors are needed to increase the coverage of VIA Test
PERILAKU BERESIKO PADA LANSIA “ENDONG-ENDONG” DI PASAR INDUK SAYUR DAN BUAH GIWANGAN YOGYAKARTA : STRATEGI PENGUATAN BURUH GENDONG MELALUI POS UPAYA KESEHATAN KERJA
Tujuan:Untuk mengetahui gambaran kesehatan endong-endong yang berkaitan dengan perilaku kerja yang tidak ergonomis dan upaya penanggulangan risiko PAK (penyakit akibat kerja) dan KAK (kecelakaan akibat kerja ).Konten:Terciptanya kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua usia adalah salah satu fokus SDGs. Namun, hal ini belum terlaksana secara menyeluruh di Indonesia. Endong-endong, atau wanita yang berprofesi mengangkut barang di pasar dengan menggendong menggunakan kain jarik. Sejumlah 60 orang diantaranya merupakan lansia, dimana mereka setiap harinya menggendong buah dan sayur seberat 25-98 kg dalam satu kali angkut dengan frekuensi 15 kali atau lebih. Mereka bekerja tanpa memperhatikan faktor ergonomis seperti berat beban maksimal untuk wanita, frekuensi angkat maksimal dalam sehari kerja, teknik mengangkat beban, waktu kerja, dan tidak memperhatikan jarak tempuh mengangkut beban.Perilaku tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan terutama PAK (penyakit akibat kerja) yaitu nyeri pada sistem muskuloskeletal seperti otot-otot punggung, pinggang, juga nyeri pada tangan, lutut, dan kaki. Masalah yang sering dialami lansia endong-endong adalah keluhan low back pain (nyeri punggung bawah). Selain itu, kelelahan akibat kerja akan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan akibat kerja. Risiko masalah kesehatan ini semakin tinggi terlebih pada lansia mengingat bahwa lansia wanita memiliki daya tahan tubuh yang lebih rentan dibandingkan dengan wanita usia produktif. Dari hasil penggalian data, sebagian besar lansia endong-endong mengalami keluhan nyeri pada punggung bawah dan kaki. Dimana keluhan nyeri punggung bawah ringan sebesar 31,5%, sedang 57,5% dan berat 11%. Hal tersebut terjadi karena semakin berat beban yang dibawa seseorang setiap kali menggendong maka tekanan pada tulang belakang menjadi semakin besar, sehingga kemungkinan terjadinya nyeri juga semakin besar terlebih ini terjadi pada lansia. Lainnya juga mengalami kecelakaan akibat kerja seperti terjatuh dan terpeleset karena kelelahan dan lingkungan kerja yang licin saat mengangkat beban.Sebagai pekerja sektor informal, kelompok ini tidak secara khusus mendapatkan perlindungan jaminan kesehatan. Sehingga upaya penanggulangan yang dapat diterapkan adalah Pos UKK yang menyelenggarakan upaya pemberian pelayanan kesehatan bagi pekerja informal dengan pendekatan utamanya promotif dan preventif didukung dengan upaya kuratif dan rehabilitatif sederhana bersumberdaya masyarakat (UKBM). Didalam Pos UKK, terdapat upaya-upaya pencegahan penyakit dan kecelakaan kerja serta upaya pengobatan dan terapi pemulihan sederhana untuk buruh gendong yang beroperasi di Pasar Giwangan Anggota paguyuban sebelumnya diberikan pelatihan upaya pencegahan, pengobatan, dan terapi sebagai kader kemudian keahlian yang didapat tersebut diterapkan pada anggota kelompok Pos UKK Buruh Gendong.Objective : Untuk mengetahui gambaran kesehatan endong-endong yang berkaitan dengan perilaku kerja yang tidak ergonomis dan upaya penanggulangan risiko PAK (penyakit akibat kerja) dan KAK (kecelakaan akibat kerja ). Contents: Terciptanya kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua usia adalah salah satu fokus SDGs. Namun, hal ini belum terlaksana secara menyeluruh di Indonesia. Endong-endong, atau wanita yang berprofesi mengangkut barang di pasar dengan menggendong menggunakan kain jarik. Sejumlah 60 orang diantaranya merupakan lansia, dimana mereka setiap harinya menggendong buah dan sayur seberat 25-98 kg dalam satu kali angkut dengan frekuensi 15 kali atau lebih. Mereka bekerja tanpa memperhatikan faktor ergonomis seperti berat beban maksimal untuk wanita, frekuensi angkat maksimal dalam sehari kerja, teknik mengangkat beban, waktu kerja, dan tidak memperhatikan jarak tempuh mengangkut beban.Perilaku tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan terutama PAK (penyakit akibat kerja) yaitu nyeri pada sistem muskuloskeletal seperti otot-otot punggung, pinggang, juga nyeri pada tangan, lutut, dan kaki. Masalah yang sering dialami lansia endong-endong adalah keluhan low back pain (nyeri punggung bawah). Selain itu, kelelahan akibat kerja akan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan akibat kerja. Risiko masalah kesehatan ini semakin tinggi terlebih pada lansia mengingat bahwa lansia wanita memiliki daya tahan tubuh yang lebih rentan dibandingkan dengan wanita usia produktif. Dari hasil penggalian data, sebagian besar lansia endong-endong mengalami keluhan nyeri pada punggung bawah dan kaki. Dimana keluhan nyeri punggung bawah ringan sebesar 31,5%, sedang 57,5% dan berat 11%. Hal tersebut terjadi karena semakin berat beban yang dibawa seseorang setiap kali menggendong maka tekanan pada tulang belakang menjadi semakin besar, sehingga kemungkinan terjadinya nyeri juga semakin besar terlebih ini terjadi pada lansia. Lainnya juga mengalami kecelakaan akibat kerja seperti terjatuh dan terpeleset karena kelelahan dan lingkungan kerja yang licin saat mengangkat beban.Sebagai pekerja sektor informal, kelompok ini tidak secara khusus mendapatkan perlindungan jaminan kesehatan. Sehingga upaya penanggulangan yang dapat diterapkan adalah Pos UKK yang menyelenggarakan upaya pemberian pelayanan kesehatan bagi pekerja informal dengan pendekatan utamanya promotif dan preventif didukung dengan upaya kuratif dan rehabilitatif sederhana bersumberdaya masyarakat (UKBM). Didalam Pos UKK, terdapat upaya-upaya pencegahan penyakit dan kecelakaan kerja serta upaya pengobatan dan terapi pemulihan sederhana untuk buruh gendong yang beroperasi di Pasar Giwangan Anggota paguyuban sebelumnya diberikan pelatihan upaya pencegahan, pengobatan, dan terapi sebagai kader kemudian keahlian yang didapat tersebut diterapkan pada anggota kelompok Pos UKK Buruh Gendong
Neglected tropical diseases: less known subjects amongst health care professionals
Wilson Karoke expressed concern about the low priority the governments in developing countries paid to common tropical diseases. They have limited funding for research and for programs to address the problem. Even more sadly, health workers get less exposure to information on research and discussion on diseases considered as which can further make the problem neglected
The trend of consumption pattern among college students in Malang city
This study was conducted to know the trend of consumption pattern of the college student in Malang city. This case-case study with 397 participants was recruited voluntarily. Participants were given the FFQ (Food Frequency Questionnaire) questionnaire containing 10 categories including staple foods, vegetables, fruits, meat, fast food, fish, beans, dairy products, drinks, and supplements. There were six frequencies assessed in this study such as' more than 1 times a day ',' 1 times a day ',' 4-6 times a week ',' 1-3 times a week ',' 1-3 times a month ',' never '. Statistical analysis was used in the form of descriptive frequency. This study found that the staple food category showed the highest consumption of white rice more than 1 times a day (80.4%). Fast food category showed the most consumption in instant noodles 1-3 times a week (35.9%). The meat category showed s the highest consumption in chickens 4-6 times a week (27.2%). Category of fish showed the most consumption in fresh fish 1-3 times a week (28%). Nuts category showed the highest consumption of 4-6 times a week in Tempe (34.3%) and tofu (33%). Vegetable category showed the most consumption for 1-3 times a week in spinach and watercress respectively by 35%. The category of fruits showed the highest consumption of oranges (34.8%) 1-3 times a month. Dairy product category showed the highest consumption for 1-3 times a month on ice cream (40.1%). Drink category showed the most consumption of fruit juice 1-3 times a week (32.2%). Finally, as many as 78.3% never consume supplements, but the most consumption of honey (19.9%) for 1-3 times a month. This study concludes that instant noodle consumption is relatively high while vegetables and fruits are not consumed daily. Then, chicken is more often consumed than fresh fish by college students in Malang city
Peran filantropi dalam pendanaan program kesehatan ibu dan anak dalam mengatasi AKI dan AKB di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran filantropi dalam menggalang dana dan sumber daya lainnya dari masyarakat baik individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau pemerintah dalam membiayai program dan kegiatan operasional program kesehatan ibu dan anak. Sumber data dalam penelitian ini adalah dari hasil wawancara, studi literatur dan studi dokumentasi. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan deskripstif kualitatif. Filantropi memiliki peran dan kontribusi dalam penggalangan dana yang akan digunakan untuk pendanaan sektor kesehatan di Indonesia, khusunya program kesehatan ibu dan anak. Kegiatan filantropi yang diadakan bisa berbentuk kegiatan penggalangan dana melalui media maupun konser amal, penggalangan dana melalui media dan konser amal adalah salah satu cara yang efektif dalam menggalang dana dengan menggunakan sistem ritail dana kemanusiaan, melalui bank: ATM (transfer, phone dan internet banking), layanan donasi lewat sms contact person. Filantropi memiliki peran dan kontribusi yang baik dalam membantu pemerintah dalam mengatasi masalah AKI dan AKB di Indonesia melalui kegiatan filantropi seperti penggalangan dana melalui media dan konser amal.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran filantropi dalam menggalang dana dan sumber daya lainnya dari masyarakat baik individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau pemerintah dalam membiayai program dan kegiatan operasional program kesehatan ibu dan anak. Sumber data dalam penelitian ini adalah dari hasil wawancara, studi literatur dan studi dokumentasi. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan deskripstif kualitatif. Filantropi memiliki peran dan kontribusi dalam penggalangan dana yang akan digunakan untuk pendanaan sektor kesehatan di Indonesia, khusunya program kesehatan ibu dan anak. Kegiatan filantropi yang diadakan bisa berbentuk kegiatan penggalangan dana melalui media maupun konser amal, penggalangan dana melalui media dan konser amal adalah salah satu cara yang efektif dalam menggalang dana dengan menggunakan sistem ritail dana kemanusiaan, melalui bank: ATM (transfer, phone dan internet banking), layanan donasi lewat sms contact person. Filantropi memiliki peran dan kontribusi yang baik dalam membantu pemerintah dalam mengatasi masalah AKI dan AKB di Indonesia melalui kegiatan filantropi seperti penggalangan dana melalui media dan konser amal