Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Health literacy, perilaku bersih sehat, dan kesehatan balita: studi di wilayah tertinggal di Bengkulu, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur
Health literacy, healthy and clean life styles, and under-five child’s health status: a study in remote areas in the provinces of Bengkulu, South Sulawesi, and East Nusa Tenggara Purpose: Health literacy is needed for people to make well-informed health decisions. This study assesses the role of health literacy on the practice of clean and healthy living at home, as well as on under-five children’s health. We focus on those living in left-behind areas, for whom preventive behaviours and staying healthy may be particularly important, as these areas often lack in health facilities.Methods: The survey was based on a sample of 4610 households, taken from 18 catchment areas of community health centers in three provinces of Bengkulu, South Sulawesi, and East Nusa Tenggara.Results: We find that health literacy is positively associated with many indicators of clean and healthy lifestyle, as well as young children’s healthz. Literacy about preventive measures increases the odds of handwashing before eating and preparing food, not spitting and covering nose/mouth when sneezing/coughing in public places, not smoking inside the house, and consuming vegetable-rich diet. Literacy about health insurance and health facilities associates positively with not spitting and covering nose/mouth when coughing/sneezing and good diet. Literacy about mother’s and child’s health in general have a positive association with young children’s outcomes.Conclusions: These results suggest that improving health literacy in rural and remote areas can lead to a sustainable health improvement that begins with the enactment of health-promoting habits at home and young children’s health.Pendahuluan. Keputusan kesehatan yang tepat didasari oleh pengetahuan kesehatan yang cukup. Kajian ini menganalisis kekuatan hubungan antara pengetahuan tentang kesehatan (health literacy) dan perilaku bersih sehat dan pada kesehatan anak Balita di daerah tertinggal. Di daerah-daerah ini, penjagaan kesehatan sangatlah penting karena fasilitas kesehatan seringkali terbatas. Metode. Survey dari 4610 rumah tangga yang diambil dari masing-masing 6 wilayah puskesmas di tiga provinsi Bengkulu, Sulawesi Selatang, dan Nusa Tenggara Timur. Hasil. Health literacy mempunyai asosiasi yang positif pada indikator-indikator Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) serta pada indikator kesehatan anak Dibawah Lima Tahun (Balita). Literacy tentang pencegahan penyakit memiliki asosiasi yang positif dengan perilaku kebiasaan cuci tangan sebelum makan dan menyiapkan makanan, tidak meludah dan menutup mulut/hidung saat batuk/bersin di tempat umum, tidak merokok dalam rumah, dan makan banyak sayuran. Literacy tentang jaminan kesehatan dan ketersediaan fasilitas kesehatan mempunyai asosiasi yang positif dengan perilaku tidak meludah dan menutup mulut/hidung saat batuk/bersin di tempat umum dan kebiasaan makan sayur-sayuran. Literacy tentang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada umumnya berhubungan positif dengan pemberian ASI eksklusif, pencegahan Balita terkena diare, dan pemberian imunisasi dasar lengkap. Simpulan. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan health literacy di daerah tertinggal dapat menyokong pembangunan kesehatan yang berkesinambungan, yang berawal dari perubahan perilaku sehari-hari untuk lebih sehat dan perbaikan kesehatan generasi penerus.Health literacy, healthy and clean life styles, and under-five child’s health status: a study in remote areas in the provinces of Bengkulu, South Sulawesi, and East Nusa TenggaraIntroduction. Health literacy is needed for people to make well-informed health decisions. Purpose. This study assesses the role of health literacy on the practice of clean and healthy living at home, as well as on under-five children’s health. We focus on those living in left-behind areas, for whom preventive behaviours and staying healthy may be particularly important, as these areas often lack in health facilities. Method. The survey was based on a sample of 4610 households, taken from 18 catchment areas of community health centers in three provinces of Bengkulu, South Sulawesi, and East Nusa Tenggara. Result. We find that, health literacy is positively associated with many indicators of clean and healthy lifestyle, as well as young children’s health. Literacy about preventive measures increases the odds of handwashing before eating and preparing food, not spitting and covering nose/mouth when sneezing/coughing in public places, not smoking inside the house, and consuming vegetable-rich diet. Literacy about health insurance and health facilities associates positively with not spitting and covering nose/mouth when coughing/sneezing and good diet. Literacy about mother’s and child’s health in general have a positive association with young children’s outcomes. Conclusion. These results suggest that improving health literacy in rural and remote areas can lead to a sustainable health improvement that begins with the enactment of health-promoting habits at home and young children’s health
Pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap kenaikan berat badan balita gizi kurang
Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh PMT MP-ASI biskuit terhadap BB balita usia 0-2 tahun di wilayah kerja puskesmas Kota Palembang pada tahun 2017. Penelitian ini berupa kuantitatif analitik dengan studi cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu balita gizi kurang yang berusia 0-2 tahun di Puskesmas Kota Palembang dan mendapat PMT MP-ASI biskuit dan yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah balita usia 0-2 tahun rawat jalan dengan status gizi kurang yang mendapatkan PMT MP-ASI biskuit sebanyak 116 balita dengan usia 0-2 tahun. Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu balita usia 0-2 tahun, diberikan PMT biskuit MP-ASI, dan tidak sedang dalam perawatan TFC (Therapeutuc Feeding Center). Kriteria eksklusi pada penelitian ini yaitu anak penderita penyakit penyerta yang berat seperti TB Paru, jantung bawaan, terjadi gangguan pencernan berat yang berhubungan dengan sistem pencernaan, pindah rumah dan alamat tidak valid. Variabel peneitian ini adalah perubahan berat badan balita (dependent). Instrumen yang digunakan yaitu laporan PMT MP-ASI yang diperoleh dari 23 Puskesmas Kota Palembang. Analisa data menggunakan analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan analisis bivariat untuk mengetahui pengaruh PMT MP-ASI biskuit terhadap perubahan berat badan balita usia 0-2 tahun. Uji statistik yang digunakan yaitu uji Paired T Test. Hasil penelitian diketahui nilai signifikasi sebesar P=0,000 (p velue < 0,05). Pemberian PMT MP-ASI biskuit selama 90 hari memberikan pengaruh terhadap kenaikan BB/U balita gizi kurang pada balita 0-2 tahun. Di sarankan untuk meningkatkan pemberian motivasi dalam meningkatkan pengetahuan serta kesadaran ibu responden terhadap status gizi balita dan meningkatkan konseling gizi atau media KIE dari petugas gizi kepada ibu balita dan juga pengawasan oleh petugas terhadap konsumsi PMT pada balita agar balita mengkonsumsi tepat jumlah dan sasaran.Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh PMT MP-ASI biskuit terhadap BB balita usia 0-2 tahun di wilayah kerja puskesmas Kota Palembang pada tahun 2017. Penelitian ini berupa kuantitatif analitik dengan studi cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu balita gizi kurang yang berusia 0-2 tahun di Puskesmas Kota Palembang dan mendapat PMT MP-ASI biskuit dan yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah balita usia 0-2 tahun rawat jalan dengan status gizi kurang yang mendapatkan PMT MP-ASI biskuit sebanyak 116 balita dengan usia 0-2 tahun. Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu balita usia 0-2 tahun, diberikan PMT biskuit MP-ASI, dan tidak sedang dalam perawatan TFC (Therapeutuc Feeding Center). Kriteria eksklusi pada penelitian ini yaitu anak penderita penyakit penyerta yang berat seperti TB Paru, jantung bawaan, terjadi gangguan pencernan berat yang berhubungan dengan sistem pencernaan, pindah rumah dan alamat tidak valid. Variabel peneitian ini adalah perubahan berat badan balita (dependent). Instrumen yang digunakan yaitu laporan PMT MP-ASI yang diperoleh dari 23 Puskesmas Kota Palembang. Analisa data menggunakan analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan analisis bivariat untuk mengetahui pengaruh PMT MP-ASI biskuit terhadap perubahan berat badan balita usia 0-2 tahun. Uji statistik yang digunakan yaitu uji Paired T Test. Hasil penelitian diketahui nilai signifikasi sebesar P=0,000 (p velue < 0,05). Pemberian PMT MP-ASI biskuit selama 90 hari memberikan pengaruh terhadap kenaikan BB/U balita gizi kurang pada balita 0-2 tahun. Di sarankan untuk meningkatkan pemberian motivasi dalam meningkatkan pengetahuan serta kesadaran ibu responden terhadap status gizi balita dan meningkatkan konseling gizi atau media KIE dari petugas gizi kepada ibu balita dan juga pengawasan oleh petugas terhadap konsumsi PMT pada balita agar balita mengkonsumsi tepat jumlah dan sasaran
Tantangan Sistem Surveilans Pencegahan Kejadian Luar Biasa Pasca Bencana Di Puskesmas Batusuya Kecamatan Sindue Tombusabora Kabupaten Donggala Tahun 2018
Tujuan: Bencana alam yang terjadi di Propinsi Sulawesi Tenggah pada tanggal 28 September 2018 yang lalu menimbulkan banyak korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan melumpuhkan sistem pemerintahan. Salah satu daerah yang terkena dampak bencana adalah kecamatan Sindue Tombusabora di Kabupaten Donggala. fasilitas kesehatan yang tersedia di kecamatan Sindue Tombusabora adalah Puskesmas Batusuya. Puskesmas Batusuya merupakan satu-satunya Puskesmas tempat pelayanan kesehatan yang memiliki wilayah kerja meliputi desa Batusuya go, desa Batusuya, desa Kaliburu, desa Kaliburu Kata dan desa Tibo. Sebagai fasilitas kesehatan yang utama di tingkat kecamatan puskesmas Batusuya memiliki peranan yang sangat penting untuk pengobatan dan perawatan pasca bencana. Tulisan ini disusun untuk menjelaskan tantangan dan kendala pengoperasian kembali (pengaktifan kembali) dan pembuatan sistem surveilan penyakit pasca bencana. Konten: Gempa Bumi yang terjadi tanggal 28 September 2018 melumpuhkan sistem surveilans dan pelayanan kesehatan Puskesmas Batusuya. Selama 2 minggu semenjak kejadian gempa bumi puskesmas Batusuya tidak beroperasi sebagaimana mestinya, karena tidak adanya petugas kesehatan dan ruangan rawat inap yang tidak memenuhi kriteria yang aman.. Dari hasil kunjungan lapangan ke petugas kesehatan puskesmas ditemukan bahwa petugas kesehatan trauma untuk pergi bertugas ke puskesmas karena dikhawatirkan akan ada gempa susulan dan letak geografis puskesmas Batusuya yang berada 200 meter dari bibir pantai. Selain kekhawatiran tenaga kesehatan terhadap gempa susulan, juga dipenggaruhi oleh ketidakhadiran kepala Puskesmas sebagai pimpinan puskesmas Batusuya dalam mengelola dan mengarahkan bawahannya untuk bertindak. Untuk bisa menghidupkan sistem surveilans Puskesmas, langkah awal yang dilakukan adalah menghidupkan pelayanan kesehatan di puskesmas terlebih dahulu. Untuk itu dilakukan advokasi kepada kepala Puskesmas dan tenaga kesehatan (perawat, bidan) agar dapat melakukan kembali tugasnya di puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan. Setelah pelayanan kesehatan di puskesmas berjalan diambil laporan surveilan puskesmas dari registrasi pengobatan dan laporan registrasi di bidan desa dari setiap desa di wilayah kerja puskesmas Batusuya. Tujuan : Bencana alam yang terjadi di Propinsi Sulawesi Tenggah pada tanggal 28 September 2018 yang lalu menimbulkan banyak korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan melumpuhkan sistem pemerintahan. Salah satu daerah yang terkena dampak bencana adalah kecamatan Sindue Tombusabora di Kabupaten Donggala. fasilitas kesehatan yang tersedia di kecamatan Sindue Tombusabora adalah Puskesmas Batusuya. Puskesmas Batusuya merupakan satu-satunya Puskesmas tempat pelayanan kesehatan yang memiliki wilayah kerja meliputi desa Batusuya go, desa Batusuya, desa Kaliburu, desa Kaliburu Kata dan desa Tibo. Sebagai fasilitas kesehatan yang utama di tingkat kecamatan puskesmas Batusuya memiliki peranan yang sangat penting untuk pengobatan dan perawatan pasca bencana. Tulisan ini disusun untuk menjelaskan tantangan dan kendala pengoperasian kembali (pengaktifan kembali) dan pembuatan sistem surveilan penyakit pasca bencana.Konten : Gempa Bumi yang terjadi tanggal 28 September 2018 melumpuhkan sistem surveilans dan pelayanan kesehatan Puskesmas Batusuya. Selama 2 minggu semenjak kejadian gempa bumi puskesmas Batusuya tidak beroperasi sebagaimana mestinya, karena tidak adanya petugas kesehatan dan ruangan rawat inap yang tidak memenuhi kriteria yang aman.. Dari hasil kunjungan lapangan ke petugas kesehatan puskesmas ditemukan bahwa petugas kesehatan trauma untuk pergi bertugas ke puskesmas karena dikhawatirkan akan ada gempa susulan dan letak geografis puskesmas Batusuya yang berada 200 meter dari bibir pantai. Selain kekhawatiran tenaga kesehatan terhadap gempa susulan, juga dipenggaruhi oleh ketidakhadiran kepala Puskesmas sebagai pimpinan puskesmas Batusuya dalam mengelola dan mengarahkan bawahannya untuk bertindak. Untuk bisa menghidupkan sistem surveilans Puskesmas, langkah awal yang dilakukan adalah menghidupkan pelayanan kesehatan di puskesmas terlebih dahulu. Untuk itu dilakukan advokasi kepada kepala Puskesmas dan tenaga kesehatan (perawat, bidan) agar dapat melakukan kembali tugasnya di puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan. Setelah pelayanan kesehatan di puskesmas berjalan diambil laporan surveilan puskesmas dari registrasi pengobatan dan laporan registrasi di bidan desa dari setiap desa di wilayah kerja puskesmas Batusuya
Penderita TB Paru di Kota Kediri: Analisa Mixed Method Keteraturan Berobat dan Kecepatan Konversi BTA Pengobatan Tahap Intensif
Tujuan: Konversi BTA merupakan perubahan dari BTA positif menjadi BTA negatif. Semakin cepat waktu konversi maka akan semakin rendah penularan penyakit TB Paru. Penelitian ini menganalisis keteraturan berobat dan kecepatan konversi BTA pada penderita TB Paru. Metode: Penelitian ini menggunakan mixed methods designs dengan melakukan survey dan wawancara mendalam terhadap informan utama (2 orang penderita TB paru) dan informan kunci (PMO, petugas P2TB dan wakil supervisor TB masing-masing 1 orang). Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dan disajikan dengan metode triangulasi sumber. Hasil: Pertama, BTA penderita sudah mengalami konversi setelah 2 minggu mengkonsumsi OAT. Kedua, penderita teratur mengkonsumsi OAT selama menjalani pengobatan tahap intensif. Ketiga, penderita tidak pernah lupa mengkonsumsi obatnya. Obat yang diberikan oleh petugas selalu habis tepat waktu. Simpulan: Keteraturan berobat dapat mempercepat waktu konversi BTA penderita TB paru. Perlunya penggunaan alarm dan peran aktif keluarga untuk menjaga keteraturan berobat penderita TB paru.Latar belakang: Penyakit tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global. Konversi BTA merupakan prediktor awal keberhasilan pengobatan TB. Semakin cepat waktu konversi maka akan semakin rendah penularan penyakit TB Paru. Tujuan: Penelitian ini menganalisis keteraturan berobat dan kecepatan konversi BTA pada penderita TB Paru. Metode: Penelitian ini menggunakan mixed methods designs dengan melakukan survey dan wawancara mendalam terhadap informan utama (2 orang penderita TB paru yang sesuai kriteria inklusi dan ekslusi) dan informan kunci (PMO, petugas P2TB dan wakil supervisor TB masing-masing 1 orang). Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dan disajikan dengan metode triangulasi sumber. Hasil: Pertama, BTA penderita sudah mengalami konversi setelah 2 minggu mengkonsumsi OAT. Kedua, penderita teratur mengkonsumsi OAT selama menjalani pengobatan tahap intensif. Ketiga, penderita tidak pernah lupa mengkonsumsi obatnya. Obat yang diberikan oleh petugas selalu habis tepat waktu. Kesimpulan: Penderita yang teratur mengkonsumsi OAT dapat mengalami konversi BTA dalam waktu 2 minggu pengobatan. Semakin cepat waktu konversi BTA, maka akan mempercepat proses penyembuhan penyakit dan meminimalkan risiko penularan. Perlunya penggunaan alarm dan peran aktif keluarga untuk menjaga keteraturan berobat penderita TB paru.Kata kunci: Konversi BTA, Keteraturan berobat, OAT, Fase Intensif, TB Par
Tantangan pengelolaan program gizi bagi penduduk desa terpencil di Sumatera Utara
Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan yang belum mampu diatasi oleh negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Prevalensi masalah gizi kurang pada balita di Indonesia masih mengalami peningkatan, yaitu 36,8% (tahun 2007) menjadi 37,2 % (tahun 2013) untuk kasus stunting dari 18,4% (tahun 2007) menjadi 19,6% (tahun 2013). Status gizi pada bayi atau balita, salah satunya pola asuh makanan. Selain pola asuh makan, karakteristik individu yang melakukan asuh makan dalam hal ini adalah ibu, juga mempengaruhi pertumbuhan bayi atau balitA. Kekurangan gizi secara garis besar disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor langsung dan tidak langsung yang mempengaruhi status gizi adalah asupan makanan (energi dan protein) dan penyakit penyerta. Faktor tidak langsung adalah tingkat pengetahuan, tingkat pendidikan, pola asuh, sosial budaya, ketersediaan pangan, pelayanan kesehatan dan faktor lingkungan. Sepanjang tahun 2013 Dinkes Sumatera Utara mencatat ada 1.269 kasus gizi buruk di Provinsi Sumatera Utara.Puskesmas sebagai Pemberi pelayanan yang dekat dengan masyarakat harus membuat sistem pendataan dan perencanaan,mencatat, mengelompokkan status gizi, status pendidikan dan status ekonomi dengan menggunakan sistem informasi lokal berbasis posyandu. Technical assistance (support system) bisa dilakukan dengan melibatkan ahli pendidikan khususnya gizi untuk membuat media belajar khusus untuk simulasi langsung tentang cara dan makanan apa yang seharusnya dikonsumsi untuk pemenuhan asupan gizi. Dengan kegiatan tersebut masyarakat diharapkan mampu untuk membuat menu makanan sendiri serta pemahaman masyarakat setempat tentang gizi tidak simpang siur. Untuk menyikapi keseriusan kegiatan tersebut, puskesmas bisa membuat strategi dengan melibatkan kader desa yang dianggap berpengaruh terhadap masyarakat setempat. Kegiatan tersebut merupakan UKM yang mempunyai banyak fungsi, diantaranya : (1)efektifitas waktu dan biaya, (2)penyerapan informasi oleh masyarakat merata dan tidak simpang siur, (3)sasaran kegiatan jelas, (4)masyarakat merasa diperhatikan, (5)kepedulian antar warga terjalin dengan baik dan (6)pembentukan kader antar tetangga sangat dimungkinkan. Untuk penyaluran Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari puskesmas ke desa sangat terpencil bisa menggunakan jasa pihak ketiga sebagai operating core, contohnya tukang penjual sayur yang sekali seminggu berjualan ke daerah tersebut bisa dititipkan PMT untuk disampaikan ke kader desa dan selanjutnya didistribusikan ke masyarakat dengan tepat waktu dan tepat sasaran
Literasi kesehatan pasien kanker tentang traditional complementary and alternative medicine (TCAM)
Latar belakang: Prevalensi nasional kanker semakin meningkat yaitu pada tahun 2018 sebesar 1,8% berdasarkan data Riskesdas. Sebagian besar pasien kanker tertangani pada saat stadium tinggi sehingga mempengaruhi hasil pengobatan. Keberhasilan penanggulangan penyakit kanker dipengaruhi oleh keterlambatan pengobatan medis serta penggunaan Traditional Complementary And Alternative Medicine (TCAM). Penggunaan TCAM terbukti secara signifikan mempengaruhi penundaan pengobatan medis pada pasien kanker. Perilaku pengambilan keputusan pasien untuk berobat dipengaruhi oleh literasi kesehatan pasien.Tujuan: Studi literatur ini bertujuan untuk memahami pentingnya peningkatan literasi kesehatan dalam pengambilan keputusan pasien kanker.Konten: Beberapa penelitian menunjukkan banyak pasien yang menggunakan TCAM baik sebelum ataupun selama menjalani pengobatan medis. Praktik penggunaan TCAM pada pasien kanker sebelum pengobatan medis akan berdampak pada penundaan pengobatan medis serta memperparah kondisi penyakit. Sedangkan penggunaan TCAM yang bersamaan dengan pengobatan medis dapat memengaruhi keberhasilan pengobatan medis. Literasi kesehatan adalah kemampuan individu untuk memperoleh akses, memroses, memahami, serta menggunakan informasi untuk meningkatkan status kesehatan, menentukan keputusan kesehatan dan berperilaku sesuai informasi yang didapatkan. Beberapa penelitian menunjukkan belum terpenuhinya kebutuhan informasi pasien kanker mengenai TCAM. Sumber informasi mengenai TCAM paling banyak berasal dari teman pasien dan internet. Selain itu pengguna TCAM tidak pernah mendiskusikan penggunaan TCAM ataupun mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan meskipun menurut informan tenaga kesehatan merupakan sumber informasi yang paling dipercaya. Peningkatan literasi kesehatan dapat dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan informasi pasien terkait TCAM. Hal tersebut dapat dilakukan melalui: edukasi kesehatan melalui peer group; edukasi kesehatan berbasis internet; media alat bantu pengambilan keputusan pasien kanker; serta edukasi kesehatan melalui tenaga kesehatan/fasilitas pelayanan kesehatan. Diperlukan studi lebih lanjut mengenai peningkatan literasi kesehatan dan pemenuhan informasi kesehatan mengenai TCAM pada pasien kanker untuk mendukung upaya promosi kesehatan dalam pencegahan dan rehabilitasi penyakit kanker
PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM MENURUNKAN RESIKO HIPERTENSI PADA REMAJA DUSUN PUNDONG II DESA TIRTOADI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA
Penyakit tidak menular merupakan penyakit kronis pembunuh pertama di dunia dan tidak ditularkan melalui orang ke orang. Menurut WHO, hampir tiga perempat jumlah kematian diakibatkan oleh PTM. Salah satu PTM dengan prevalensi tinggi Indonesia yaitu hipertensi. Laporan Puskesmas Mlati II (2017) menyatakan penyakit hipertensi merupakan salah satu penyakit dengan penderita tertinggi yaitu 1032 kasus. Berdasarkan data, faktor risiko hipertensi di Pundong II diakibatkan gaya hidup seperti perilaku merokok, kurang konsumsi sayur buah, dan kurang aktivitas fisik. Oleh karena itu, diperlukan intervensi dalam menurunkan risiko Hipertensi khususnya pada remaja yang merupakan usia rentan terhadap hipertensi melalui pendidikan kesehatan penyuluhan dan whats app grup. Tujuan penelitian meningkatkan pengetahuan, sikap, dan intensi remaja untuk memiliki pola hidup sehat seperti tidak merokok dalam rumah, konsumsi buah dan sayur, dan melakukan aktivitas fisik. Metode penelitian, mix method Sekuensial Eksplanatori dan rancangan quasi experiment dengan desain one group pre test dan post test. Hasil penelitian terjadi peningkatan pengetahuan, sikap, dan intensi remaja setelah dilakukan pendidikan kesehatan terhadap pola hidup sehat seperti tidak merokok dalam rumah, konsumsi buah dan sayur, dan melakukan aktivitas fisik. Kesimpulan, pendidikan kesehatan melalui penyuluhan dan whats app grup pada remaja dapat menurunkan risiko hipertensi.Suhartin Haringi, Muhammad Cahyo Wicaksono, Rifqi Utari, Raehal AkalAbstrak Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah penderita terbanyak di dunia bahkan di Indonesia. Di Yogyakarta prevalensi hipertensi cukup tinggi seperti di Pundong II. Dari laporan Puskesmas Mlati II bahwa hipertensi menjadi salah satu penyakit dengan penderita tertinggi yaitu sebanyak 1032 kasus dan banyak diakibatkan oleh perilaku hidup tidak sehat. Penelitian bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan intensi remaja untuk memiliki pola hidup sehat seperti tidak merokok dalam rumah, konsumsi buah dan sayur, dan melakukan aktivitas fisik. Penelitian menggunakan mix method Sekuensial Eksplanatori dan rancangan quasi experiment dengan desain one group pre test dan post test. Penelitian dilakukan pada akhir bulan Mei hingga Juni dari penyuluhan tatap muka dan diskusi online (grup whatsapp). Subjek penelitian yaitu 50 remaja dusun Pundong II. Berdasarkan hasil kuantitatif terdapat peningkatan pengetahuan (5,38%) mengenai perilaku rokok dan terjadi peningkatan sikap terhadap bahaya merokok bagi kesehatan (6,52%) dan bahaya merokok di dekat wanita hamil dan anak-anak (3,7%). Namun, terjadi penurunan sikap terhadap Rumah Bebas Asap Rokok (RBAR) (6,54%) dan merokok merugikan ekonomi keluarga (13%). Hasil kualitatif bahwa terdapat peningkatan pengetahuan, sikap positif dan terbentuk intensi (niat dan keinginan) terhadap perilaku rokok, meningkatkan konsumsi buah dan sayur, dan dalam aktivitas fisik. Kesimpulan, pendidikan kesehatan melalui penyuluhan dan diskusi online melalui grup whatsapp dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan intensi remaja terhadap faktor resiko dari kejadian hipertensi yang banyak terjadi di dusun Pundong II
Geospatial analysis pada prevalensi stunting di kabupaten Manggarai
Latar Belakang: Berdasarkan hasil Pantauan Status Gizi (PSG) 2017, prevalensi stunting bayi berusia di bawah lima tahun (Balita) di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 40,3%. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibanding provinsi lainnya dan juga di atas prevalensi stunting nasional sebesar 29,6%. Khususnya di Kabupaten Manggarai, separuh anak (50,3%) usia balita mengalami stunting (Kementerian Kesehatan, 2017). Selain karakteristik ibu dan pola asuh anak, masalah stunting juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kondisi geografis (kepadatan penduduk, kondisi iklim dan sanitasi yang tidak memadai) sehingga analisa spasial penting untuk dilakukan dalam mengatasi masalah ini hingga tingkat perdesaan.Tujuan: Mengidentifikasi sebaran penderita stunting di Kabupaten Manggarai dan hubungannya dengan kondisi geografis (kepadatan penduduk dan wilayah tempat tinggal). Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan cross-sectional dengan subjek penelitian berjumlah 2.484 anak usia di bawah 5 tahun. Data merupakan data sekunder yang diperoleh dari laporan kasus stunting di Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai. Pengumpulan data dilaksanakan pada Bulan Mei-Juni 2018.Analisis bivariat (Chi-square) dilakukan untuk melihat hubungan kejadian stunting dan kepadatan penduduk. Sementara analisa spasial empirical bayes dengan software Geoda dilakukan untuk mengidentifikasi sebaran kasus berdasarkan wilayah desa dan kondisi geografis. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara kejadian stunting dengan kondisi geografis di wilayah desa Kabupaten Manggarai yang ditunjukkan pada hasil analisis bivariat dengan uji Chi-square (p-value<0.05). Serta dapat diketahui dengan analisis spasial bahwa prevalensi kasus stunting semakin meningkat seiring dengan kepadatan penduduk dan tipe wilayah tempat tinggal di perdesaan. Kesimpulan: Kasus stunting meningkat di wilayah pedesaan dan padat penduduk. Diharapkan pada pemerintah tingkat Kabupaten hingga perangkat desa agar dapat lebih meningkatkan koordinasi lintas sektor dengan kesehatan maupun pendidikan dalam upaya penanggulangan masalah stunting di desa-desa yang menjadi prioritas utama karena prevalensi stunting yang tinggi
Kesuksesan Program Vaksin Rubella Di Sekolah Menurut Perspektif Stakeholder (Studi Kasus Implementasi Program Rubella di Kabupaten Nias) _PHS4
Latar belakang: Pemerintah merilis sekitar 60 ribuan kasus pada kelompok usia dibawah 15 tahun. Sehingga, salah satu fokus sasaran pemerintah dalam pelaksanaan program introduksi vaksin rubella adalah sekolah (PAUD, TK, SD hingga SMP/sederajat). Dalam program ini, sekolah merupakan pos pelayanan imunisasi yang dilaksanakan Puskesmas. Khusus di Kabupaten Nias, program vaksin di Sekolah masih berlangsung hingga saat ini dan telah ditetapkan sebagai daerah yang melebihi target cakupan imunisasi 95%. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor kesuksesan program nasional ini berdasarkan pandangan dari stakeholder atau pelaku dilapangan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpukan melalui wawancara mendalam kepada beberapa informan seperti petugas kesehatan puskesmas, pihak sekolah. Pada kasus ini, informan kunci adalah konsultan program yang bertuga melakukan pendampingan dan monitoring program selama 6 bulan. Analisis data menggunakan content analysis untuk mengeksplorasi pikiran dan perspektif informan terhadap masalah. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor yang memiliki peran penting terhadap keberhasilan program imunisasi di sekolah. Faktor institusi, sekolah dan puskesmas memiliki koordinasi yang baik selama pelaksanaan program. Sebagai contoh, pada waktu introduksi vaksin di salah satu sekolah dasar bulan agustus hanya 5 yang berhasil dari 133 siswa, kemudian setelah petugas puskesmas melakukan kunjungan ulang, diproleh 127 siswa melakukan imunisasi. Kejadian seperti ini juga ditemukan di beberapa sekolah di Kabupaten Nias. Adapun faktor lain adalah figur seperti tenaga konsultan dan tenaga kesehatan yang memiliki wawasan/keahlian terkait program ini. Kehadiran figur sangat efektif memberikan pemahaman terhadap sekolah yang awalnya menolak melaksanakan program. Petugas puskesmas juga mengakui kehadiran konsultan saat di lapangan mendorong kepercayaan diri mereka ketika mengalami hambatan dengan pihak sekolah, karena kecenderungan sekolah dan masyarakat lebih percaya jika ada figur luar yang dilibatkan. Kesimpulan: Hal penting yang perlu diperhatikan untuk menjamin keberhasilan dan kelanjutan program imunisasi rubella adalah koordinasi antara puskesmas dan sekolah, mulai dari sosialisasi hingga pelibatan sekolah, pelatihan guru dalam program ini.Latar belakangPemerintah merilis sekitar 60 ribuan kasus pada kelompok usia dibawah 15 tahun. Sehingga, salah satu fokus sasaran pemerintah dalam pelaksanaan program introduksi vaksin rubella adalah sekolah (PAUD, TK, SD hingga SMP/sederajat). Dalam program ini, sekolah merupakan pos pelayanan imunisasi yang dilaksanakan Puskesmas. Khusus di Kabupaten Nias, program vaksin di Sekolah masih berlangsung hingga saat ini dan telah ditetapkan sebagai daerah yang melebihi target cakupan imunisasi 95%. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor kesuksesan program nasional ini berdasarkan pandangan dari stakeholder atau pelaku dilapangan.MetodePenelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpukan melalui wawancara mendalam kepada beberapa informan seperti petugas kesehatan puskesmas, pihak sekolah. Pada kasus ini, informan kunci adalah konsultan program yang bertuga melakukan pendampingan dan monitoring program selama 6 bulan. Analisis data menggunakan content analysis untuk mengeksplorasi pikiran dan perspektif informan terhadap masalah.HasilHasil penelitian menunjukkan beberapa faktor yang memiliki peran penting terhadap keberhasilan program imunisasi di sekolah. Faktor institusi, sekolah dan puskesmas memiliki koordinasi yang baik selama pelaksanaan program. Sebagai contoh, pada waktu introduksi vaksin di salah satu sekolah dasar bulan agustus hanya 5 yang berhasil dari 133 siswa, kemudian setelah petugas puskesmas melakukan kunjungan ulang, diproleh 127 siswa melakukan imunisasi. Kejadian seperti ini juga ditemukan di beberapa sekolah di Kabupaten Nias. Adapun faktor lain adalah figur seperti tenaga konsultan dan tenaga kesehatan yang memiliki wawasan/keahlian terkait program ini. Kehadiran figur sangat efektif memberikan pemahaman terhadap sekolah yang awalnya menolak melaksanakan program. Petugas puskesmas juga mengakui kehadiran konsultan saat di lapangan mendorong kepercayaan diri mereka ketika mengalami hambatan dengan pihak sekolah, karena kecenderungan sekolah dan masyarakat lebih percaya jika ada figur luar yang dilibatkan.KesimpulanHal penting yang perlu diperhatikan untuk menjamin keberhasilan dan kelanjutan program imunisasi rubella adalah koordinasi antara puskesmas dan sekolah, mulai dari sosialisasi hingga pelibatan sekolah, pelatihan guru dalam program in
Pencarian Pelayanan Persalinan Ibu Hamil Risiko Tinggi di Puskesmas Waruroyom Kabupaten Cirebon
Efforts of high-risk pregnant women to search service for childbirth in public health center ofWaruroyom Purpose The study explored the behavior of women with a high-risk pregnancy to search service for childbirth in public health center of Waruroyom Cirebon.MethodA case study involved pregnant and maternal mothers with a high-risk pregnancy, parents, husbands, and midwives. The informants were chosen by purposive sampling, data collection through observation, in-depth interview and focus group discussion. ResultsWomen with high-risk pregnancy searched service for childbirth from midwives, public health center, and hospital. Pregnant women prefer midwives due to familiarity, close location, past experience, attitudes and quality of services. Women with high-risk pregnancy went to the public health center or hospital, did not because of the intentions of themselves but midwives' advice. ConclusionPregnant women did not know if they have a high-risk pregnancy. Midwives provide information about high-risk pregnancy at the end of pregnancy.Latar Belakang: Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi yaitu 359/100.000 kelahiran hidup. AKI Jawa Barat tertinggi di Indonesia. Kematian ibu di Kabupaten Cirebon tertinggi ke-3 di Jawa Barat yaitu 56 kasus. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menurunkan AKI, di antaranya pembentukan puskesmas pelayanan obstetri neonatal emergensi dasar (PONED), salah satunya di Puskesmas Waruroyom, Cirebon. Namun, dalam 2 tahun terakhir di Puskesmas Waruroyom, masih terjadi kematian ibu. Penelitian kualitatif perlu dilakukan untuk memahami pencarian pelayanan persalinan ibu hamil risiko tinggi di Puskesmas Waruroyom.Tujuan : Memahami perilaku pencarian pelayanan persalinan ibu hamil risiko tinggi di Puskesmas Waruroyom Kabupaten Cirebon.Metode: Penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan adalah ibu hamil dan ibu bersalin risiko tinggi, orangtua, suami serta bidan. Informan dipilih dengan purposive sampling, pengumpulan data menggunakan triangulasi cara yaitu observasi, wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus. Hasil Penelitian: Pencarian pelayanan persalinan ibu hamil risko tinggi di Puskesmas Waruroyom dimulai dari pelayanan bidan, puskesmas dan rumah sakit. Alasan ibu hamil mencari bidan diantaranya: sudah kenal, jarak tidak jauh, pengalaman melahirkan sebelumnya, dan sikap dan pelayanan yang diberikan oleh bidan. Ibu hamil risiko tinggi yang berangkat ke puskesmas atau ke rumah sakit bukan niat ibu hamil sendiri tetapi karena nasihat dan bujukan bidan.Kesimpulan: Ibu hamil di puskesmas waruroyom tidak mengetahui bahwa kehamilannya adalah kehamilan risiko tinggi. Hal tersebut karena bidan memberitahukan tentang kehamilan risiko tinggi di akhir kehamilan.