Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Improving Medical Students’ Safety Injection Behavior In Panembahan Senopati Hospital by Leaflet, Movie, and Intensification
Background: In 2006, Yogyakarta contributes 0.8% Hospital Acquired Infection (HAI's) of total HAI's in Indonesia. In 2010 6-16% HAI's occurred in the Teaching Hospital. Sharps injury is one of the causes of HAI's. Center for Disease Control and Prevention (CDC) stated that there was 385,000 sharps injury/year. Sharps injury can cause a pathogen transmission, such as Hepatitis B Virus, Hepatitis C Virus and Human Immunodeficiency Virus and inflict a financial loss up to 5,000. Data from Colombo, 2012 stated that 95% of 168 medical students experienced sharp injury. In Indonesia from August-October 2008 at Sardjito Hospital occurred 43.3% sharp injury and some of them was medical students. Panembahan Senopati Bantul Hospital accepts 40 medical students every year. The Revised Injection Safety Assessment Tool (Tool C – Revised) was used to assess how well-behaved the health worker provided injections to enhance sharp safety. Objective : To improve medical student’s safety injection behavior in Panembahan Senopati Hospital. Method: This research is an action research (AR) type. The research is done in two cycles, first, the acting component was leaflets and movie; second was intensification. Students’ safety injection behavior was evaluated by using Revised Injection Safety Assessment Tool (Tool C – Revised), before and after the action. Results: Before the research, the medical students’ knowledge on sharp safety was 30% until 80% and the action on safety injection was 33,3% until 70%. After the research the knowledge increased is 80% until 100% and the action is 88,9% until 100%. Conclusion: The improvement of sharp safety knowledge in medical students is 10% until 60% and the action of safety injection in medical students is 30% until 66,7%. The result of this study was reported to The Education and Training Committee of Panembahan Senopati Hospita
Penggunaan Indeks Kesehatan Masyarakat Nusantara Sehat Dalam Mengukur Kinerja Tim Nusantara Sehat
Faktor geografi Indonesia yang berupa daratan, lautan, pegunungan, dan pulau-pulau yang tersebar menyebabkan distribusi tenaga kesehatan dan akses pelayanan kesehatan yang tidak optimal. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan yang telah ditetapkan, pemerintah berupaya mendayagunakan secara khusus SDM kesehatan dalam kurun waktu tertentu dengan jumlah dan jenis tertentu, agar meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan khususnya di wilayah DTPK dan DBK melalui Program Nusantara Sehat (NS). Tahun 2015 telah ditugaskan Tim NS Batch 1 dan 2 pada 120 Puskesmas di DTPK dan DBK selama 2 tahun. Kemudian pada tahun 2017 setelah masa tugas berakhir, diadakan evaluasi program yang bertujuan untuk mengetahui dampak program NS terhadap indeks kesehatan masyarakat dengan menggunakan desain Pre and Post-Test Intervention with Control. Evaluasi dilakukan di 15 provinsi, 27 kabupaten, dan 60 Puskesmas pada bulan Februari - Desember 2017. Hasil evaluasi program menunjukkan bahwa pada tahun 2017 terjadi perubahan rata-rata indeks kesehatan masyarakat dibandingkan dengan tahun 2015, baik pada Puskesmas intervensi maupun kontrol (p=0,000). Kemudian hasil uji independen t-test terhadap delta perubahan indeks menunjukkan bahwa peningkatan indeks kesehatan masyarakat pada Puskesmas intervensi lebih besar dibandingkan dengan Puskesmas kontrol (p=0,046). Artinya, penugasan Tim NS pada Puskesmas telah membawa perbaikan indeks kesehatan masyarakat yang lebih baik. Diperlukan pengamatan lebih jauh terkait sustainabilitas Program NS dan analisis biaya manfaat (cost benefit analysis) terhadap Program NS.Faktor geografi Indonesia yang berupa daratan, lautan, pegunungan, dan pulau-pulau yang tersebar menyebabkan distribusi tenaga kesehatan dan akses pelayanan kesehatan yang tidak optimal. Berdasarkan Peraturan menteri kesehatan yang telah ditetapkan, pemerintah berupaya mendayagunakan secara khusus SDM kesehatan dalam kurun waktu tertentu dengan jumlah dan jenis tertentu, agar meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan khususnya di wilayah DTPK dan DBK melalui Program Nusantara Sehat (NS). Tahun 2015 telah ditugaskan Tim NS Batch 1 dan 2 pada 120 Puskesmas di DTPK dan DBK selama 2 tahun. Kemudian pada tahun 2017 setelah masa tugas berakhir, diadakan evaluasi program yang bertujuan untuk mengetahui dampak program NS terhadap indeks kesehatan masyarakat dengan menggunakan desain Pre and Post-Test Intervention with Control. Evaluasi dilakukan di 15 provinsi, 27 kabupaten, dan 60 Puskesmas pada bulan Februari - Desember 2017. Hasil evaluasi program menunjukkan bahwa pada tahun 2017 terjadi perubahan rata-rata indeks kesehatan masyarakat dibandingkan dengan tahun 2015, baik pada Puskesmas intervensi maupun kontrol (p=0,000). Kemudian hasil uji independen t-test terhadap delta perubahan indeks menunjukkan bahwa peningkatan indeks kesehatan masyarakat pada Puskesmas intervensi lebih besar dibandingkan dengan Puskesmas kontrol (p=0,046). Artinya, penugasan Tim NS pada Puskesmas telah membawa perbaikan indeks kesehatan masyarakat yang lebih baik. Diperlukan pengamatan lebih jauh terkait sustainabilitas Program NS dan analisis biaya manfaat (cost benefit analysis) terhadap Program NS
Modernisasi Implementasi Public Private Mix pada Populasi Berisiko di Daerah Kumuh Perkotaan Wilayah Kerja Puskesmas
Abstrak PendahuluanInfrastruktur kesehatan yang tidak berkembang didaerah kumuh dan buruknya akses kelayanan kesehatan primer mendorong pemanfaatan penyedia layanan sektor swasta oleh masyarakat miskin. Keberadaaan praktisi swasta melebihi jumlah penyedia layanan publik dan mampu menawarkan kemudahan akses serta lebih menjadi pilihan dibandingkan fasilitas layanan publik.Strategi DOTS mendeteksi kurang dari 30% dari perkiraan kasus TB baru yang ada di masyarakat. Missing case yang mencapai 70% tidak mungkin dapat ditemukan kecuali dengan pendekatan strategi inovasi. Keterlibatan praktisi swasta dilibatkan dalam penerapan DOTS diharapkan dapat meningkatkan jangkauan layanan TB berkualitas pada masyarakat miskin.IsiPelibatan praktisi swasta merupakan strategi dalam pengendalian TB. Manfaat yang diharapkan dalam kemitraan ini dapat meningkatkan manajemen kasus dan akses layanan TB yang bermutu bagi masyarakat yang tinggal didaerah kumuh perkotaan. Keberhasilan strategi ini ditandai dengan makin meningkatnya partisipasi praktisi swasta dalam penemuan, pengobatan dan pelaporan kasus TB.Reformasi kesehatan dalam implementasi PPM dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan agar semua praktisi swasta yang terletak pada garis depan bersedia terlibat dalam kolaborasi. Penekanan dilakukan terhadap perubahan bentuk dari PPM generik menjadi PPM modern agar kemitraan berjalan efektif. Hubungan kontak kerja harus mengakomodir kebutuhan dari sektor swasta dan harapan Program TB dalam mencapai target. Modernisasi PPM dikemas dengan pendekatan model bisnis sosial dengan paket intervensi yang disesuaikan dengan layanan sektor swasta. Kontrak kerja dilakukan dengan organisasi perantara dalam melaksanakan fungsi manajemen. Peningkatan dan pemanfaatan kapasitas dengan pendekatan ganda baik dilayanan publik maupun sektor swasta dengan alternative pendanaan dapat bersumber dari swasta.Lesson LearnPublic Privat Mix dalam pengendalian TB dengan melibatkan sektor swasta merupakan perubahan struktur yang terjadi dalam bidang kesehatan. Efektifitas PPM membutuhkan modernisasi dalam implementasinya. Pilihan strategi dengan mengemas program yang ramah bisnis dan mengontrak organisasi perantara yang tepat untuk melakukan fungsi manajerial baru yang proaktif.Kata Kunci PPM TB, Modernisasi, Kumuh Perkotaan
Pengembangan telemedicine dalam mengatasi konektivitas dan aksesibilitas pelayanan kesehatan
Indonesia merupakan suatu negara berkembang dengan banyak masalah dan tantangan dalam bidang kesehatan, baik dari masalah penyakit maupun kesenjangan dan ketidakmerataannya fasilitas dan pelayanan kesehatan di Indonesia. Mengatasi masalah ini dengan pemanfaatan teknologi dalam kesehatan merupakan langkah tepat dalam pemecahan masalah di bidang kesehatan, pengembangan pelayanan kesehatan berbasis telemedicine, salah satu solusi pelayanan kesehatan yang merata di Indonesia, baik dalam pemantaun status gizi, maupun status kesehatan masyarakat, dan bahkan konsultasi jarak jauh dengan petugas-petugas kesehatan yang memiliki kompeten yang cukup baik, tanpa harus memikirkan jarak dan waktu, contoh pemanfaatan telemedicine diantaranya Teleradiology - penggunaan ICT untuk mengirimkan gambar radiologi digital, Telepathology - penggunaan ICT untuk mengirimkan hasil patologis digital, Teledermatology - penggunaan ICT untuk mengirimkan informasi medis mengenai kondisi kulit, dan Telepsychiatry - penggunaan ICT untuk evaluasi psikiatri dan / atau konsultasi melalui video dan telepon. Dalam proses realisasi pengintegrasian pelayanan kesehatan yang merata perlu dilakukan kerjasama multisektoral yang akan saling menunjang dalam pelaksanaanya, yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Pembangunan Umum, Kementerian Sosial dan Kementerian Komunikasi dan Informasi, sehingga masalah kesenjangan dan ketidakmerataan informasi dan pelayanan kesehatan di Indonesia mampu teratasi.Indonesia merupakan suatu negara berkembang dengan banyak masalah dan tantangan dalam bidang kesehatan, salah satunya kesenjangan dan ketidakmerataan fasilitas dan pelayanan kesehatan baik berupa fasilitas penunjang pelayanan kesehatan maupun kurangnya SDM yang tersebar diseluruh Indonesia. Mengatasi masalah ini dengan pemanfaatan teknologi dalam kesehatan merupakan langkah tepat pemecahan masalah di bidang kesehatan, pengembangan pelayanan kesehatan berbasis telemedicine, salah satu solusi pelayanan kesehatan yang merata di Indonesia, baik dalam pemantaun status gizi, maupun status kesehatan masyarakat, dan bahkan konsultasi jarak jauh dengan petugas-petugas kesehatan yang memiliki kompeten yang cukup baik, tanpa harus memikirkan jarak dan waktu. Pemanfaatan telemedicine diantaranya Teleradiology - penggunaan ICT untuk mengirimkan gambar radiologi digital, Telepathology - penggunaan ICT untuk mengirimkan hasil patologis digital, Teledermatology - penggunaan ICT untuk mengirimkan informasi medis mengenai kondisi kulit, dan Telepsychiatry - penggunaan ICT untuk evaluasi psikiatri atau konsultasi melalui video dan telepon. Dalam proses realisasi pengintegrasian pelayanan ini berupa bentuk jaringan kerjasama seluruh rumah sakit di Indonesia, yang bentuk kerjasamanya terpusat di rumah sakit tipe A sebagai pusat rujukan informasi. Proses realisasi program ini perlu kerjasama multisektoral yang akan saling menunjang dalam pelaksanaanya, yaitu Kementerian Kesehatan dalam menyediakan SDM, Kementerian Pembangunan Umum dan Kementerian Sosial bertugas membangun akses pelayanan dan fasilitas penunjang sedangkan Kementerian Komunikasi dan Informasi bertanggung jawab dalam penyediaan jaringan yang menunjang pengembangan Telemedicine. sehingga masalah kesenjangan dan ketidakmerataan informasi dan pelayanan kesehatan di Indonesia mampu teratasi
Empowering teenagers as health cadres to prevent non-communicable diseases in dusun Jaten, Sleman, DI Yogyakarta
Objectives: Non-communicable diseases (NCDs) is increasing worldwide. Particularly in Yogyakarta, the prevalence of some NCDs even the highest in Indonesia. Dusun Jaten, as one of practicum field for CFHC-IPE FK-KMK UGM also found the same problem. It was reported that hypertension and diabetes are the most common health problem in community. Actually, in 2009 Indonesian Ministry of Health initiated POSBINDU PTM. However, only some villages has launched POSBINDU PTM and only a few villages raising awareness of NCDs since young age. Thus, in 2017 we initiated a POSBINDU PTM Program in Dusun Jaten together with Puskesmas Mlati 1, RS UGM, and Sleman Health District. This program aimed to build awareness and increase the participation of teenagers in preventing NCDs. Contents: We started the program by conducting a survey among Jaten residents related to POSBINDU PTM. Interestingly, almost 100% of Jaten residents were not familiar with POSBINDU PTM. Following this further, we recruited health cadres as many as 30 new health cadres (male and female) and 40 % of them are teenagers. After that we started a series “Sekolah Kader” program. A semi structure interview was done among teenagers health cadre related to evaluate the knowledge, skills, and willingness to participate in POSBINDU PTM. Many teenager health cadres were satisfied of the program and they also made a good system in managing POSBINDU. POSBINDU PTM Jaten was lauched in February 2018. Since then, more than 75 residents attended POSBINDU program, not only older adult but also young adult. And this number is increasing every month. It can be concluded that involving teenager health cadres could be an important step to prevent NCDs by increasing the awareness of young adult to participate in regular health check up at POSBINDU PTM.
Will climate change become the worst nightmare in public health?
Is it too early for Indonesia to worry about the threats of climate change to the health quality of its people? It is a common knowledge that climate change is the culprit of melting icebergs, dying polar bears, and worsened summer. However, almost no one has any concern about how climate change will increase the prevalence of mental illness, heart attacks, or even stunting. Nowadays, the earth climate has changed so much. The surface temperature and the sea level have increased steadily. the extreme weathers and disasters have occurred more intense and frequent. Then, how do these occurrences affect Indonesians’ health and wellbeing? Two diagrams were drawn to observe the connections of climate change-mental illness and climate change-the incidence of heart attacks. Mental illness and the incidence of heart attack were chosen as representatives of public health challenges in Indonesia. The variables of these diagrams were obtained from evidence-based research and reports. It is assumed that the extracted variables are heavily related to the socioeconomic and health conditions of Indonesians. Based on those diagrams, we cannot deny that climate change causes both direct and indirect damage to Indonesians’ health. Unfortunately, limited data and information about climate change and public health in Indonesia prohibit us to build a stronger argument about this problem. In the future, it is highly recommended that every public health professionals start to consider the effect of climate change into their interventions. A transdisciplinary approach between the Ministry of Health, the Ministry of Environment and Forestry, the Ministry of Social is urgently needed to start a comprehensive and progressive approach for Indonesians health and wellness.
Perilaku Seks Aman pada Wanita Pekerja Seksual di Kota Padang
Safe sex practices in female sex workers in PadangPurpose: The purpose of this study was to analyze in-depth the behavior of FSW in the HIV/ AIDS prevention in Padang.Methods: This study used a qualitative approach with in-depth interviews with 10 informants consisting of female sex workers, pimps, and related officers. The technique of determining informants using purposive sampling method.Results: The results showed that condoms were available at FSW hotspot locations, both obtained free of charge from KPA in Padang and purchased by FSW. However, not all customers want to use condoms during sexual intercourse. This proves the weak bargaining position or negotiation of FSW to customers in the use of condoms. FSW received strong support from related officers such as KPA and the health office in the HIV/ AIDS prevention, but support from FSW friend’s and pimps was still lacking.Background: Female Sex Workers (FSW) is at high risk of contracting and transmitting HIV/AIDS while working, but not all workers are free to use condoms for protection from unsafe sexual behavior.Objectives: The purpose of this study was to analyze in-depth the behavior of FSW in the HIV/AIDS prevention in Padang and this study explores the reasons that prevent FSW from accessing and using condoms.Methods: This study used a qualitative approach with in-depth interviews with 10 informants consisting of female sex workers, pimps, and related officers. The technique of determining informants using purposive sampling method.Results: The results showed that condoms were available at FSW hotspot locations, both obtained free of charge from KPA in Padang and purchased by FSW. However, not all customers want to use condoms during sexual intercourse. This proves the weak bargaining position or negotiation of FSW to customers in the use of condoms. FSW received strong support from related officers such as KPA and the health office in the HIV/AIDS prevention, but support from FSW friend’s and pimps was still lacking. Keywords:HIV/AIDS, female sex workers, customers, condoms, preventive behavio
“Orang desa tidak takut mati”: studi kualitatif koping masyarakat terhadap peringatan bergambar pada kemasan rokok dengan pendekatan grounded theory
PurposeThe purpose of this study was to explore community's coping againts pictorial health warning on cigarettes packaging.MethodA quaitative study was conducted involving in-depth interviews and focus group discussions (FGD) on the subject who were selected purposively with a maximum variation technique in the rural of Sambirejo, Prambanan sub- district, Sleman, YogyakartaResultsThis study found perceptions, beliefs, coping, adaptation period, and smoking behavior after seeing pictorial warnings on cigarette packaging. Perception of the community consists of knowledge, feelings (disgust, horror, fear, sad and ordinary), and comments on pictorial warnings on cigarette packs. Beliefs include sure, hesitant and unsure. Beliefs are influenced by perception and could determine the coping. Coping appears that the attempt to avoid a pictorial warnings on cigarette packs. The feeling and coping were influenced by the length of exposure to pictorial warnings (period of adaptation). Pictorial health warning made non-smokers did not want to smoke, and brought up the intention to quit smoking in smokers.ConclusionCoping influenced by perceptions, beliefs, period of adaptation to pictorial health warnings; the period of adaptation changed feelings and coping previously to the pictorial health warning; pictorial health warning on cigarette packs made non-smokers increasingly want to smoke. Images have a visual power in health hazard warnings. Use of more varied images needs to be done periodically.“Villagers are not afraid to die”: a qualitative study of community cohesion on pictorial warning on cigarette packaging with grounded theory approach in YogyakartaPurposeThe purpose of this study was to explore community's coping with a pictorial health warning on cigarette packaging. MethodsA qualitative study was conducted using grounded theory design. The study was conducted in the rural area of Sambirejo, Prambanan sub-district, Sleman, Yogyakarta. Data were collected by in-depth interviews and focus group discussions (FGD). Subjects were selected purposively with a maximum variation technique. ResultsThe perceptions, beliefs, coping, adaptation period, and smoking behavior remained mostly unchanged after seeing pictorial warnings on cigarette packaging. ConclusionsCoping was influenced by perceptions, beliefs, and the period of adaptation to pictorial health warnings. The period of adaptation changed some feelings and coping prior to the pictorial health warning, while pictorial health warning on cigarette packs appeared to make non-smokers increasingly want to smoke
Determinan gangguan hipertensi kehamilan di Indonesia
Latar Belakang: Hipertensi dalam kehamilan (HDK) merupakan kelainan vaskular yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada masa nifas. Lebih dari 30% kematian maternal di Indonesia disebabkan oleh HDK. HDK merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal, fetal dan neonatal. Gambaran etiologi HDK masih belum jelas, sehingga kelainan ini sering dikenal the diseases of theory. Upaya dini untuk mengidentifikasi hipertensi dalam kehamilan dapat dilakukan dengan mengetahui faktor risiko hipertensi baik yang dapat diubah (modifiable) yaitu perilaku sehat & yang tidak bisa diubah (nonmodifiable) seperti faktor risiko yang melekat pada ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor risiko gangguan hipertensi dalam kehamilan di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan menggunakan rancangan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling dan berasal dari 447 kabupaten dan 33 propinsi di Indonesia. Subjek penelitian adalah seluruh ibu hamil yang menjadi sampel Riskesdas tahun 2013 yang berusia 15-54 tahun dengan jumlah 9.024 ibu hamil. Chi-square dan binomial regression digunakan untuk menghitung pengaruh faktor risiko HDK dengan melihat nilai rasio prevalensi (RP). Hasil: Prevalensi hipertensi ibu hamil sebesar 6,18% (558 orang) setelah disesuaikan dengan variabel luar yang berpotensi sebagai confounder. Jumlah hipertensi paling banyak di Propinsi Jawa Barat yaitu 59 ibu hamil (10,57%). Overweight dan hipertensi kronik berhubungan terhadap gangguan hipertensi dalam kehamilan dengan RP: 2,13 (95%CI 1,80-2,51) pada overweight dan RP: 4,36 (95%CI 3,61-5,26) pada hipertensi kronik. Penggunaan alat kontrasepsi bukan merupakan faktor risikoterhadap gangguan hipertensi di Indonesia RP 0,92 (95%CI 0,76-1,10). Kesimpulan: Overweight dan hipertensi kronik merupakan faktor risiko kejadian gangguan hipertensi dalam kehamilan di Indonesia. Ibu hamil diharapkan dapat menjaga berat badan ideal yang dianjurkan pada masa gestasi dan lebih mewaspadai risiko yang dapat meningkatkan kejadian hipertensi dalam kehamilan seperti riwayat hipertensi kronik. Determinants of pregnancy hypertensive disorders in Indonesia PurposeThis study aimed to assess the determinant factors of gestational hypertension (HDP) in Indonesia.MethodsThis research was an observational analytic study using a cross-sectional design. Sampling was calculated using consecutive sampling technique. The subjects were all pregnant women aged 15-54 years old in 33 provinces in Indonesia and 9024 women were selected as subjects. Chi-square and binomial regression tests were used to analyze the determinants of HDP to see the value of the Ratio Prevalence (RP). ResultsThe prevalence of hypertension among pregnant women was 6.18% (558 people) after being adjusted with external variables which were potentially confounders. The highest of hypertension was found in West Java with 59 pregnant women (10.57%). Overweight and chronic hypertension were related to hypertensive disorders in pregnancy with RP: 2.13 (95% CI: 1.80-2.51); and in overweight with RP: 4.36 (95% CI: 3.6-5.26) in hypertension assessments. The use of contraceptives was not a risk factor for hypertensive disorders in Indonesia with RP 0.92 (95% CI: 0.76-1.10). ConclusionOverweight and chronic hypertension are risk factors for the incidence of hypertensive disorders in pregnancy in Indonesia
Persepsi kultural dan bahaya langsung dari tradisi perawatan pasca melahirkan "Mararang": studi di Toba Samosir Indonesia
Cultural perception of mararang tradition and its impact on mother and infant health in Toba Samosir districtPurpose: Toba Samosir residents consider the mararang tradition as a postpartum care that can accelerate time recovery of postpartum condition, strengthen the back spine, make the body warm and sweating, and facilitate the blood flow after postpartum. However, the airing in mararang tradition is dangerous for the respiratory of both postpartum mother and baby. This study explores the perceptions of postpartum mothers about the tradition of mararang and potential hazards to maternal and infant health in Toba Samosir regency. Methods: This qualitative study adopted ethnography approach. Number of sample size is determined by using purposive sampling. The selection of informants was based on inclusion criteria in accordance with the research topic. In total, there are eleven informants which consisted of four postpartum mothers, three husbands/families of postpartum mothers, three midwives and one head of maternal and child health services at the Toba Samosir district health office and focus group discussion for six midwives from public health center. The data were collected through in-depth interviews and observations.Results: Three important points from this study are, (1) postpartum mothers are convinced in practicing mararang due to the strong influence from the elderly who still believe in traditions, since it has been passed down from ancestors,(2) despite the uncomfortable condition and its impact on breathing, people still argue to keep the mararang tradition as they believe that children who are treated mararang will be stronger in the future, (3) the response from health care officer in assessing the dangers of this tradition is still lack, for instance they never carry out specific counseling to avoid the hazards, in facts some of them are still practicing mararang tradition.Conclusions: It was difficult to leave mararang tradition since they believe in its benefit on health. Mararang tradition was not consider as something that can endanger the health of the postpartum mother and baby. Both the wife and husband in this area still strongly support the mararang tradition. Health workers have not provided information and knowledge about the risks and impacts of the mararang tradition on maternal and infant health.Tujuan: Penduduk Toba Samosir menganggap tradisi mararang sebagai perawatan pasca melahirkan yang dapat mempercepat pulih dari sakit pasca melahirkan, membuat tulang punggung kembali kuat, badan hangat dan berkeringat dan memperlancar pengeluaran darah nifas. Meski demikian, pengasapan dalam tradisi mararang pada ibu yang sedang nifas berbahaya untuk pernafasan ibu maupun bayi. Penelitian ini mengeksplorasi persepsi ibu nifas tentang tradisi mararang dan potensi bahaya terhadap kesehatan ibu dan bayi di Kabupaten Toba Samosir. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif, dengan pendekatan focus ethnografi. Penentuan besar sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling. Pemilihan informan dilakukan berdasarkan kriteria inklusi sesuai dengan topik penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi pada 11 informan terdiri atas 4 orang ibu nifas, 3 orang suami/keluarga ibu nifas, 3 orang bidan serta 1 orang kepala bidang pelayan kesehatan Ibu dan Anak di Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir, serta Focus Group Disscussion pada 6 orang bidan Puskesmas. Hasil: Tiga poin penting dari penelitian ini. Pertama, ibu-ibu yang sedang nifas merasa yakin mempraktikan mararang karena pengaruh yang kuat dari orang-orang tua yang masih percaya pada tradisi yang sudah turun-temurun dari nenek moyang. Kedua, meskipun dirasakan tidak nyaman dan membawa dampak pada pernafasan ibu, mararang tetap berjalan dengan argumen jangka panjang. Anak yang mendapat perlakuan mararang akan lebih kuat di masa yang akan datang. Ketiga, respon dari dinas kesehatan untuk mempelajari bahaya langsung dari mararang sangat minimal. Upaya penyuluhan spesifik agar bahaya dapat dikurangi tidak pernah dilakukan. Bahkan masih ada tenaga kesehatan yang ikut melakukan tradisi mararang. Simpulan: Tradisi mararang masih sulit ditinggalkan karena masih dipercaya bermanfaat bagi kesehatan. Tradisi mararang tidak dipahami sebagai sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan ibu dan bayi. Baik istri maupun suami di daerah ini masih sangat mendukung tradisi mararang. Tenaga kesehatan belum memberikan informasi dan pengetahuan tentang resiko dan dampak tradisi mararang terhadap kesehatan ibu dan bayi