Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Hubungan Karakteristik Ibu dengan Pengetahuan Ibu Usia Reproduktif tentang Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di Dusun Kuwungsari Kelurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen

    Get PDF
    TujuanPenelitian ini menganalisa hubungan antara karakteristik ibu (umur, pendidikan, dan paritas) dengan pengetahuan ibu usia reproduktif tentang kontrasepsi IUD di Dusun Kuwungsari, Kelurahan Sragen Kulon, Kecamatan Sragen, Kabupaten SragenMetodePenelitian menggunakan rancangan cross sectional dengan jumlah responden 52 orang dan teknik sampling yang digunakan quota sampling. Penelitian ini akan mengambil 25% dari seluruh ibu usia reproduktif dengan cara memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan.HasilHasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,003 sehingga ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pengetahuan ibu usia reproduktif tentang kontrasepsi IUD. Semakin bertambah umur maka pengetahuan semakin baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000 sehingga ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan pengetahuan ibu usia reproduktif tentang kontrasepsi IUD. Semakin tinggi pendidikan maka pengetahuan semakin baik Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,325 sehingga tidak ada hubungan yang signifikan antara paritas dengan pengetahuan ibu usia reproduktif tentang kontrasepsi IUD.SimpulanAdanya hubungan yang bermakna antara umur dan pendidikan dengan pengetahuan ibu usia reproduktif tentang kontrasepsi IUD. Hubungan Karakteristik Ibu dengan Pengetahuan Ibu Usia Reproduktif tentang Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di Dusun Kuwungsari Kelurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen Winnie Tunggal Mutika1Erni Yusnita Lalusu2 1Universitas Gunadarma2Universitas Tompotika Luwuk Email korespondensi : [email protected] Abstrak  Tujuan Penelitian : Penelitian ini menganalisa hubungan antara karakteristik ibu (umur, pendidikan, dan paritas) dengan pengetahuan ibu usia reproduktif tentang kontrasepsi IUD di Dusun Kuwungsari, Kelurahan Sragen Kulon, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen Metode : Penelitian menggunakan rancangan cross sectional dengan jumlah responden 52 orang dan teknik sampling yang digunakan quota sampling. Penelitian ini akan mengambil 25% dari seluruh ibu usia reproduktif dengan cara memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan. Hasil :  Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,003 sehingga ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pengetahuan ibu usia reproduktif tentang kontrasepsi IUD. Semakin bertambah umur maka pengetahuan semakin baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000 sehingga ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan pengetahuan ibu usia reproduktif tentang kontrasepsi IUD. Semakin tinggi pendidikan maka pengetahuan semakin baik Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,325 sehingga tidak ada hubungan yang signifikan antara paritas dengan pengetahuan ibu usia reproduktif tentang kontrasepsi IUD. Kesimpulan : Adanya hubungan yang bermakna antara umur dan pendidikan dengan pengetahuan ibu usia reproduktif tentang kontrasepsi IUD. Kata Kunci :  karakteristik ibu,, pengetahuan tentang kontrasepsi IUD

    Provider initiative test and counseling (PITC) sebagai upaya perluasan tes HIV pada populasi khusus

    Get PDF
    Latar belakang: Prevalensi HIV di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara terus meningkat dan menyebar hingga di populasi ibu rumah tangga. Dalam 7 tahun terakhir 21.6 % pasien HIV adalah ibu rumah tangga. Meski masih dalam level concentrated epidemic, angka ini telah menunjukkan meluasnya infeksi HIV pada masyarakat umum dan terlambatnya upaya pengendalian. Tes HIV sukarela untuk diagnosa tidak sebanding dengan laju epidemi HIV yang sangat cepat. PITC menjadi pilihan untuk menemukan sebanyak mungkin orang yang telah terinfeksi HIV pada populasi khusus dan memfasilitasi mereka untuk mendapatkan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP). Tujuan: Mengevaluasi input, proses dan output layanan PITC dalam meningkatkan jumlah orang di populasi khusus yang dites HIV dan mengetahui hasilnya. Hasil: Sasaran program adalah populasi khusus yang terdiri dari ibu hamil dan pasien dengan penyakit terkait HIV yang berkunjung ke puskesmas atau berada di wilayah kerja puskesmas yang mendapat pelayanan di posyandu atau kunjungan rumah pada 13 wilayah kerja puskesmas di Kota Kendari. Kegiatan meliputi: pemberian informasi tentang HIV, penawaran tes, tes HIV, penyampaian hasil tes dan konseling serta rujukan ke PDP jika hasil HIV positif. Pelaksana PITC adalah tim yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, laboran dan Petugas RR. Simpulan: Terjadi peningkatan yang signifikan pada jumlah orang yang dites HIV dan mengetahui hasilnya melalui PITC di 15 puskesmas di Kota Kendari

    Intervensi berbasis sekolah sebagai pengembangan program buku harian anak terhebat

    Get PDF
    Buku Harian Anak “Terhebat” (Terbiasa Hidup Bersih dan Sehat) atau BHAT merupakan buku harian yang harus diisi siswa kelas 4 dan 5 SD tentang PHBS harian di rumah, tabel konsumsi anak harian dan pada akhir buku berisi tentang PHBS mingguan di rumah. Sejak diluncurkan pada bulan Agustus 2016, capaian indikator PHBS di rumah tercapai sebesar 85%. Namun, masih ada sekolah yang menganggap sebagai “kegiatan dinkes” semata, bukan sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan. Hal tersebut menjadi ancaman tidak berlanjutnya program BHAT dan tidak tersampaikannya tujuan program ke sasaran. Penelitian ini bertujuan mempertahankan sustainbilitas program BHAT dan meningkatkan peran sekolah dalam menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat. Studi kasus ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari observasi laporan BHAT dan wawancara pemegang program. Intervensi berbasis sekolah merupakan bentuk tindak lanjut program BHAT dan sekaligus integrasi kegiatan UKS. Data dan informasi dari laporan BHAT setelah dilakukan pemantauan, pelaporan dan analisis, disampaikan kembali pada sekolah dan melibatkan sekolah dalam melakukan upaya kesehatan untuk anak didiknya. Langkah-langkah yang perlu dilakukan Dinkes Kabupaten Lumajang yaitu melobi Bupati dan lintas sektor untuk mendukung integrasi BHAT dan UKS dalam bentuk intervasi berbasis sekolah, melakukan negoisasi dengan Puskesmas dan Sekolah dalam merancang kegiatan dan anggaran serta mendeskripsikan tupoksi masing-masing sektor, memberikan capacity building bagi petugas UKS atau guru serta merumuskan kebijakan terkait implementasi intervensi berbasis sekolah di Kabupaten Lumajang. Intervensi berbasis sekolah merupakan strategi promosi kesehatan yang efektif untuk membentuk perilaku anak dan mempertahankan sustaibilitas program BHAT serta salah satu upaya pencapaian masyarakat yang sehat dan mandiri

    Kurikulum pendidikan kesehatan di sekolah sebagai upaya meningkatkan kesadaran hidup sehat sejak dini

    Get PDF
    Intervensi kesehatan terkait PHBS harus semakin berkembang terutama pada anak dan remaja selaku aset bangsa. Permasalahan perilaku tidak sehat terkait personal hygiene, kebiasaan sehat dan asupan gizi belum teratasi secara sempurna. Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang berupaya mengatasi masalah PHBS dan merokok pada anak melalui program Buku Harian Anak Terhebat (BHAT). Namun program ini hanya menjangkau siswa kelas 4 dan 5 SD serta belum menentukan strategi sustainabilitas program dan pencapaian harapan. Sedangkan masalah kesehatan bagi anak dan remaja semakin meluas. Kebiasaan merokok, pesta miras, penyalahgunaan narkoba, perilaku seks bebas, balapan liar hingga penggunaan media sosial yang menyimpang merupakan ancaman bagi anak dan remaja di Kabupaten Lumajang. Pemerintah seharusnya mulai merancang intervensi kesehatan untuk mencegah perilaku menyimpang dan tidak sehat bagi seluruh tingkat pendidikan di Lumajang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk menciptakan kota ramah anak melalui pembentukan kurikulum pendidikan kesehatan. Pemerintah Kabupaten Lumajang dapat memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media penyampaian intervensi kesehatan karena berpotensi tinggi untuk diterima secara berkelanjutan oleh anak dan remaja dari berbagai etnis dan tingkat sosial ekonomi. Intensitas penyampaian intervensi kesehatan di sekolah mempengaruhi efektifitas dari pesan kesehatan, sehingga jika setiap minggu siswa menerima pendidikan kesehatan selama 1 jam pelajaran dan diberikan sejak tingkat SD hingga SMA maka upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini telah tercapai secara sustainabilitas. Pembuatan kurikulum pendidikan kesehatan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dinas Kesehatan berperan sebagai middle manager melakukan lobbying terhadap Bupati untuk menyetujui program tersebut serta meminta dukungan lintas sektor. Dinas Pendidikan dan Kementerian agama sebagai technostructure merancang kurikulum pendidikan kesehatan di SD hingga SMA. Dinas Kesehatan juga memberikan sosialisasi dan capacity building bagi operating core yaitu Puskesmas dan sekolah terkait penyampaian pesan kesehatan yang efektif kepada anak dan remaja

    Associated factors back pain complaints of students Madrasah Ibtidaiyyah Tahfidzul Quran Azhar Center Makassar 2015

    No full text
    Nyeri punggung saat ini merupakan suatu masalah bagi anak sekolah yang dapat membatasi kegiatan sehari-hari mereka. Berdasarkan hasil penelitian ilmiah, penggunaan tas punggung yang tidak sesuai standar, beban tas serta penggunannya yang salah dapat mengakibatkan keluhan nyeri punggung yang berisiko merubah postur tubuh pada anak yang masih dalam masa pertumbuhan tulang. MITQ Azhar Center merupakan sekolah dengan aktifitas cukup tinggi sehingga siswa membawa beban tas yang berlebih (65,2%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan nyeri punggung pada siswa MITQ Azhar Center Makassar tahun 2015. Analisis data diperoleh ada hubungan antara beban beban tas dengan keluhan nyeri punggung (p=0,031). Tidak ada hubungan antara pemilihan tas dengan keluhan nyeri punggung (p=0,122), tidak ada hubungan antara cara membawa tas dengan keluhan nyeri punggung (p=0,719), dan tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan keluhan nyeri punggung (p=0,200). Maka diperlukan adanya regulasi dan edukasi dari sekolah tentang penggunaan tas yang baik sesuai standar yang ditetapkan oleh American Chiropactic Association (ACA), peran orang tua dalam memerhatikan peralatan dan bahan yang dibawa oleh anak di sekolah, serta kerjasama dengan pihak sekolah untuk ikut berkontribusi untuk memantau barang-barang bawaan siswa. Termasuk cara membawa tas termasuk jenis tas yang sesuai dengan standar terhadap pihak sekolah yang kemudian diinformasikan kepada orang tua siswa ketika melakukan pendaftaran. Meskipun pada penelitian ini secara statistik tidak berhubungan secara signifikan tetapi beberapa sumber menyebutkan bahwa cara membawa tas dengan satu bahu dan pemilihan jenis tas yang tidak sesuai standar akan memengaruhi distribusi beban tas terhadap tulang punggung sehingga berkontribusi terhadap keluhan nyeri punggung. sedangkan status IMT yang tidak normal akan lebh rentan terhadap keluhan nyeri punggung. mereka yang gemuk dan obesitas akan mengalami keluhan nyeri punggung karena beban tubuh sehingga lebih rentan, sedangkan mereka yang kurus dan kurus sekali kekurangan nutrisi tulang yang mengakibatkan kemampuan tulang kurang maksimal

    Relationship between Management Commitment; OSH Behavior; Work Shift with Occupational Accident at RSUD Kanjuruhan Kepanjen Malang Regency

    No full text
    As a community service, hospitals are a means to deal with health, recovery and health care issues. Potential hazards in the hospital may be caused by biological factors, chemical factors, ergonomics factors, physical factors and psychosocial factors. The dangers of the above factors can lead to workplace accidents or PAK which can cause a decrease in physical or mental ability, disability, or even death. To determine the relationship between management commitment and the incidence of work accidents at the Risk Unit in RSUD Kanjuruhan Malang Regency. Quantitative research, with cross sectional study and needed 55 hospital worker from 6 risk units. The result of Pearson correlation analysis of management commitment, OSH behavior and work shift have the significant correlation with work accident. Both of management commitment and OSH behavior have the negative correlation which mean that higher management and behavior can decrease the accidents. The result of multivariate test was obtained by F value of 9.93 with p=0,000 which means that management commitment, OSH behavior and work shift simultaneously have significant effect to work accident. There is a significant correlation between management commitment, OSH behavior and work shift with occupational accident

    Low birth weight and its association with attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) in young children

    Get PDF
    This study was conducted to understand the association between low birth weight and attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) in young children aged 36 – 59 months in Sedayu Subdistrict, Bantul District, Daerah Istimewa Yogyakarta. This study used cross-sectional design with a total of 185 children aged 36 – 59 months were selected by probability proportional to size (PPS) sampling technique. This study was located in Sedayu Subdistrict, Bantul District, Daerah Istimewa Yogyakarta. The study was conducted January 2017. Main variables in this study were low birth weight, prematurity, and attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Maternal and child book was used to confirm the birth weight and gestational age data. Abbreviated Conners Rating Scale form was used to detect ADHD symptoms in young children, followed by a psychologist confirmation. Data were analyzed by using descriptive statistics, chi-square test, and multiple logistic regression at 0.05 level of significance. The proportion of attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) was 29.2% in this study. Meanwhile, the prevalence of low birth weight (<2500 g) was 8.11% and prematurity (<37 weeks gestational age) was 2.16%. Children with birth weight less than 2500 g were more likely to develop ADHD symptoms (OR: 3.2; 95%CI: 1.09-9.48) compared to children with normal birth weight. On the other hand, prematurity was not associated with ADHD (OR: 0.64; 95%CI: 0.06-6.89). This study concluded that low birth weight was associated with attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). However, prematurity was not related significantly with ADHD. Efforts are needed in improving nutrition adequacy for infants and young children, also development stimulation, especially for those born with low birth weight

    Determinan kurang gizi pada balita komunitas adat terpencil di wilayah kecamatan Batin XXIV kabupaten Batang Hari

    No full text
    Beberapa prioritas RPJMN 2014-2019 adalah program pemberdayaan, pemenuhan kebutuhan dasar, aksesibilitas dan pelayanan sosial dasar bagi warga Masyarakat Adat. Kebutuhan dasar yang dimaksud adalah kebutuhan pangan, sandang, perumahan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan/atau pelayanan sosial. Permasalahan kesehatan pada KAT adalah Penyakit kecacingan,penyakit kulit, ISPA, Diare dan rendahnya status gizi pada kelompok risiko yaitu pada anak balita. Penelitian ini penelitian kuantitatif dengan desain Observational melalui pendekatan Cross Sectional untuk mengukur semua variabel dalam waktu yang bersamaan. Populasi seluruh balita usia 24 – 59 bulan di lokasi pemukiman KAT Desa Sungai Terap Kecamatan Batin XXIV Kab. Batang Hari. Sampel adalah total populasi dengan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi. Variabel independen adalah Penghasilan Kepala Keluarga (KK), ketersediaan pangan, pola konsumsi dan pelayanan gizi masyarakat. Sedangkan variabel dependen adalah status gizi (TB/U). Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner dan lembar check list, data sekunder diperoleh dari telaah dokumen dan wawancara. Analisis data univariate, bivariate dan multivariate menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menemukan hubungan yang signifikan antara penghasilan KK dengan stunting ρ=0,000 OR=22,7 dan  pola konsumsi dengan stunting ρ=0,002. Konsumsi beras keluarga masih sangat kecil, rata-rata 500 gram/hr. Tingkat konsumsi tertinggi terjadi saat mendapatkan hasil buruan besar, sekali dalam tiga minggu. Tidak ada hubungan antara ketersediaan pangan dan pelayanan gizi dengan stunting. Uji multivariate menemukan determinan yang paling signifikan terhadap stunting pada balita usia 24 – 59 bulan di KAT Sungai Terap adalah penghasilan KK dengan nilai OR=14,0, penghasilan diperoleh hanya dari hasil kebun karet seluas 0,8 Ha/KK dan penjualan hewan buruan.Objective: Beberapa prioritas RPJMN 2014-2019 adalah program pemberdayaan, pemenuhan kebutuhan dasar, aksesibilitas dan pelayanan sosial dasar bagi warga Masyarakat Adat. Kebutuhan dasar yang dimaksud adalah kebutuhan pangan, sandang, perumahan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan/atau pelayanan sosial. Permasalahan kesehatan pada KAT adalah Penyakit kecacingan,penyakit kulit, ISPA, Diare dan rendahnya status gizi pada kelompok risiko yaitu pada anak balita.Methods: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain Observational melalui pendekatan Cross Sectional untuk mengukur semua variabel dalam waktu yang bersamaan. Populasi adalah seluruh balita usia 24 – 59 bulan di lokasi pemukiman KAT Desa Sungai Terap Kecamatan Batin XXIV Kab. Batang Hari. Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi dengan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi. Variabel independen adalah Penghasilan Kepala Keluarga, ketersediaan pangan, pola konsumsi dan pelayanan gizi masyarakat. Sedangkan variabel dependen adalah status gizi (TB/U). Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner dan lembar check list, data sekunder dari telaah dokumen dan wawancara dengan tokoh masyarakat serta stakeholder. Analisis data univariate, bivariate dan multivariate menggunakan uji chi square.Results; Hasil penelitian menemukan hubungan yang signifikan antara penghasilan kepala keluarga dengan kejadian stunting OR sebesar 22,7, ketersediaan pangan dengan stunting OR 1,75 dan jenis kelamin dengan kejadian stunting OR 1,42. Uji multivariate menemukan determinan yang behubungan signifikan terhadap stunting adalah penghasilan kepala keluarga dengan nilai OR sebesar 14,05.Conclusion:  berarti bahwa faktor penghasilan kepala keluarga berrisiko sebesar 14,0 kali lebih besar menyebabkan kejadian stunting pada balita usia 24 – 59 bulan di KAT Sungai Terap

    University smoke-free policies in Australia: lessons for Indonesia

    Get PDF
    Background: Eliminating exposure to second-hand smoke is one of the best practices to control noncommunicable diseases. Indonesia has been dealing with growing burdens of noncommunicable disease due to the high and persistent prevalence of tobacco smoking in the country. On the other hand, Australia, a neighbouring country of Indonesia, shows an impressive progress in altering its national tobacco epidemic through the establishment of smoke-free policies. In recent years, Australia has extended its smoke-free policies to higher education institutions. Meanwhile, it is assumed that the scope and implementation of university smoke-free policies in Indonesia are still limited. Objectives: This paper aims to present evidence of Australian university smoke-free policies and to find gaps in the implementation of university smoke-free policies in Indonesia. Findings from an unpublished preliminary cross-sectional study on 100% smoke-free policies at The University of Queensland, Australia were synthesised with published literature on smoke-free policies at other Australian universities and higher education institutions. An online search was also conducted on Google Scholar and PubMed to find evidence of university smoke-free policies in Indonesia. Lessons Learnt: One study indicates that all universities in Australia have implemented smoke-free policies to various degrees. The aim of such policies is to promote wellness rather than to restrict smokers. Research is integral to the development and implementation of university smoke-free policies in Australia. Support from university staff and students, policy enforcement, provision of quit service on campus, awareness-raising, and avoiding stigmatisation of smokers are some important considerations in policy development and implementation. Meanwhile, the implementation of campus smoke-free policies in Indonesian universities is inadequate. The existing evidence is also lacking in quantity and quality. Collaborative efforts involving university stakeholders, researchers, staff, and students are prerequisite to successfully adopt smoke-free policies on university campuses in Indonesia

    KERACUNAN MAKANAN PADA PERTEMUAN KADER PKK DI KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2018

    No full text
    Latar belakang:  Tanggal 25 April 2018, Puskesmas Danurejan II melaporkan adanya dugaan kejadian luar biasa keracunan makanan yang terjadi pada undangan pertemuan kader PKK di Kecamatan Danurejan sehari sebelumnya. Undangan yang hadir, kemudian dilaporkan mengalami diare, sakit perut, muntah dan lemas. Penyidikan dilakukan oleh puskesmas Danurejan II bersama Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan karyasiswa FETP-UGM untuk mengidentifikasi sumber, cara penularan dan upaya pengendalian. Metode: Deskriptif observasional dengan rancangan studi Cohort retrospektif. Batasan kasus adalah orang yang mengkonsumsi makanan yang disajikan pada pertemuan kader PKK di kantor kecamatan Danurejan tanggal 24 April 2018 dan mengalami  satu atau lebih gejala diare, sakit perut, mual, muntah dan lemas. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur,  disajikan secara deskriptif dan dianalisis dengan analisa statistik. Hasil: Jumlah  yang sakit 20 orang ( AR : 25,9% , n = 77) ,  gejala utama:  diare (90%), sakit perut (85%). Masa inkubasi 2,5 – 11 jam, penularan terjadi secara common source, KLB < 24 jam. Attack rate tertinggi pada usia 11- 20 tahun (AR : 55,5%). Jenis makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan adalah ayam kecap ( RR = 1,488, p = < 0,01, CI 95% 1,249 – 1,773 ). Penyebab keracunan berdasarkan gejala klinis dan masa inkubasi diduga  bakteri Bacillus cereus diagnosa banding Clostridium perfringens. Simpulan: Ayam kecap diduga adalah menu penyebab keracunan yang kemungkinan terkontaminasi bakteri Bacillus cereus atau Clostridium perfringens. Sosialisasi dan pengawasan tentang keamanan pangan pada pelaku usaha jasa boga harus terus dilakukan untuk mencegah kejadian serupa tidak terulang kembali.Latar Belakang :  Tanggal 25 April 2018, Puskesmas Danurejan II melaporkan adanya dugaan kejadian luar biasa keracunan makanan pada pertemuan kader PKK di Kecamatan Danurejan sehari sebelumnya. Undangan yang hadir,  dilaporkan mengalami diare, sakit perut, muntah dan lemas. Penyelidikan epidemiologi dilakukan oleh puskesmas Danurejan II, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan karyasiswa FETP-UGM untuk mengidentifikasi sumber, cara penularan dan upaya pengendalian.Metode :Cohort retrospektif. Kasus adalah orang yang mengkonsumsi makanan pada pertemuan kader PKK di kantor kecamatan Danurejan tanggal 24 April 2018 dan mengalami  satu atau lebih gejala keracunan makanan. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur,  dan dianalisis dengan analisa statistik.Hasil : Jumlah  yang sakit 20 orang ,  gejala utama:  diare (90%) dan sakit perut (85%). Masa inkubasi 2,5 – 11 jam, penularan terjadi secara common source, KLB < 24 jam. Attack rate tertinggi pada usia 11- 20 tahun (AR : 55,5%). Jenis makanan diduga penyebab keracunan adalah ayam kecap ( RR = 1,488) Penyebab keracunan berdasarkan gejala klinis dan masa inkubasi diduga  bakteri Bacillus cereus dd Clostridium perfringens.Kesimpulan : Terjadi KLB keracunan makanan di kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta  tanggal 24-25 April 2018. Puskesmas melakukan pengawasan periodik pengelola jasa boga dan pemeriksaan rutin penjamah makanan, peralatan dan bahan pangan dengan melibatkan petugas surveilans kelurahan

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇