Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Pajanan kromium dan kerusakan ginjal pada pekerja pelapisan logam

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui risiko kerusakan ginjal akibat paparan kromium di tempat kerja.Metode: 33 pekerja pelapisan logam dan 33 subyek kontrol yang tidak memiliki riwayat paparan kromium di Makassar dilibatkan. Kadar kromium dalam urin dihitung dengan spektrometri serapan atom.Hasil: Urin dari pekerja yang terpapar mengandung kadar kromium yang lebih tinggi, apabila dibandingkan dengan yang diperoleh pada kelompok kontrol. Selanjutnya, ada hubungan langsung yang didapat antara jumlah kromiun dan kerusakan ginjal. Kerusakan ginjal dikaitkan dengan keberadaan kadar kromium dalam urin. Lingkungan kerja pelapisan logam meningkatkan risiko paparan kromium yang tinggi. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat paparan kromium yang lebih tinggi pada pekerja pelapisan logam dengan kerusakan ginjal. Pekerja yang terpapar dalam jangka waktu lama mengakibatkan tingkat akumulasi paparan lebih besar di dalam tubuh.Kesimpulan: Penelitian ini menyarankan dinas tenaga kerja untuk mengawasi secara ketat kadar emisi kromium di industri yang berisiko tinggi. Sementara, bagi pemilik industri perlu memastikan agar setiap pekerja menggunakan alat pelindung diri untuk mengurangi risiko.Chromium exposure and the kidney damage risk among electroplating workersPurposeThis study was carried out to investigate the kidney damage risk due to chromium exposure at the workplace.Method33 electroplating workers and 33 control subjects with no history of occupational exposure to chromium in Makassar were involved. Chromium levels in urine were measured with atomic absorption spectrometry. ResultsUrine from exposed workers contained higher levels of chromium, when compared with those obtained in the control group. Furthermore, there was a direct relationship was obtained between the amount of chromium and kidney damage. Kidney damage was associated with the existence of chromium level in urine. Electroplating work environments increased the high risk of chromium exposure. Workers exposed for long periods of time result in a higher level of accumulated exposure in the body. The findings of this study indicated that there was higher level of chromium exposure in electroplating workers with kidney damage.ConclusionThis study suggested the labor office to closely monitor chromium emission levels in high risk industries. Meanwhile, industry owners need to ensure that every worker uses personal protective equipment to reduce risk

    Usia menarche sebagai faktor risiko terhadap kejadian preeklamsia dan eklamsia

    No full text
    Age of menarche as a risk factor for preeclampsia and eclampsiaPurposeThe purpose of this study is to determine the effect of menarche age on the incidence of preeclampsia and eclampsia.MethodThe observational study with the case-control design was conducted involving 90 pregnant and postpartum women. The bivariable analysis used T-test and McNemar test, while multivariable analysis using conditional logistic regression. Results The average age of menarche in the preeclampsia group was one year younger than the non-preeclampsia group. Any increase in one year of age of menarche lowers the risk of preeclampsia and eclampsia by 78%. Risk factors for preeclampsia are increased in pregnant women at age> 35 years and have body mass index before pregnancy> 25 kg/m2.ConclusionThere is a significant relationship between age of menarche and the incidence of preeclampsia and eclampsia. Body mass index before pregnancy is a confounding factor of the association between age of menarche and the incidence of preeclampsia and eclampsia.Latar Belakang: Preeklamsia merupakan penyumbang terbesar kedua kematian ibu di Indonesia. Di Amerika Serikat sejak tahun 1998 sampai 2005, Berg (2010) melaporkan bahwa sebesar 12,3% dari 4693 ibu hamil yang meninggal disebabkan karena preeklamsia atau eklampsia. Penyebab preeklamsia masih belum diketahui dengan pasti oleh karena itu preeklampsia disebut sebagai “diseases of theory”. Faktor risiko dari preeklamsia sangat banyak, sebuah penelitian menjelaskan bahwa usia menarche yang dini dapat meningkatkan risiko preeklamsia. Tujuan Penelitian: Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh usia menarche terhadap kejadian preeklamsia dan eklamsia.Metode Penelitian: Jumlah sampel total yang diambil adalah 90 responden dengan masing-masing kasus dan kontrol 45 responden. Jenis penelitian observasional dengan rancangan case control. Instrumen untuk mengukur usia menarche dengan kejadian preeklamsia mengadopsi dari data SKRT dan jurnal BMI as a modifying factor in the relations between age at menarche, menstrual cycle characteristics, and risk of preeclampsia. Analisis data menggunakan analisis univariabel, bivariabel dengan T-test untuk data numerik kategorik dan McNemar untuk data kategorik kategorik sedangkan analisis multivariabel dengan menggunakan conditional logistic regression.Hasil: Rata-rata usia menarche pada kelompok preeklamsia lebih muda satu tahun dibandingkan dengan kelompok non preeklamsia. Berdasarkan data perhitungan multivariabel setiap kenaikan satu tahun usia menarche menurunkan risiko preeklamsia/eklamsia sebesar 78%. Faktor risiko terjadinya preeklamsia meningkat pada ibu yang hamil di usia > 35 tahun dan memiliki indeks massa tubuh sebelum hamil > 25 kg/m2.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia menarche dengan kejadian preeklamsia/eklamsia. Indeks masa tubuh sebelum hamil merupakan variabel perancu hubungan antara usia menarche dengan kejadian preeklamsia/eklamsia

    Gambaran Kualitas Hidup Penderita Tuberkulosis Resistan Obat dan Karakteristiknya di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, Periode Tahun

    No full text
    Quality of life among patients with multi-drug resistant tuberculosis in the district of BanyumasPurposeThis study was conducted to investigate the quality of life among patients with multi-drug resistant tuberculosis and to examine factors associated with them. MethodsData from an in-depth interview, involved 22 patients with multi-drug resistant tuberculosis, were used in this study. ResultsThis study showed 54.5% males, 50.0% adults, 59.1% married, 22.7% divorced, 72.7% lived in rural, 95.5% had basic education, 45.5% as a private employment (before sick), 77.3% as unemployment (after sick), 72.7% low income, 54.5% in continuation phase, 95.5%  re-treatment (45% relapse and 40.9% failure cases), 90.9% had drugs side effects (mild/severe); 36.4% had comorbidity; 45.5% smokers, 31.8% falcoholics; 54.5% lack of social support; 31.8% poor and 36.4% moderate quality of life. ConclusionPatients with multi-drug resistant tuberculosis had a worse quality of life and lack social support. Health worker needs to improve their quality of life and social support through establishing a peer support groups to give counseling, information education, communication, motivation, and skills training for them.Latar Belakang: Insidens TB resistan obat (TB MDR) di Kabupaten Banyumas cenderung meningkat setiap tahunnya dengan CFR 28,6-33,3%. TB MDR mempunyai dampak secara klinis dan mempengaruhi kualitas hidup. Sejauh ini, penelitian tentang kualitas hidup penderita TB MDR masih belum banyak digali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup TB MDR dan karakeristik sosiodemografi, klinik dan dukungan sosial. Manfaat dari penelitian ini dapat digunakan sebagai evaluasi kualitas pelayanan kesehatan, dampak intervensi dan efek samping pengobatan.Metode: Penelitian deskriptif desain studi cross sectional dengan sampel jenuh sebesar 22 penderita yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Variabel bebasnya adalah: sosiodemografi (umur, jenis kelamin, status perkawinan, tempat tinggal, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan tingkat penghasilan), faktor klinik (tahap pengobatan, efek samping obat, riwayat pengobatan TB sebelumnya, penyakit ko-morbid, jenis TB, dan riwayat konsumsi rokok/alkohol/narkoba), dan dukungan sosial (menggunakan kuesioner MOS-SSS), sedangkan variabel terikatnya adalah kualitas hidup penderita TB MDR (menggunakan kuesioner SF-36). Data dianalisis secara desktiptif dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan tabulasi silang.Hasil: Sebesar 54,5% laki-laki; 50,0% kelompok umur dewasa; 59,1% menikah; 22,7% bercerai; 72,7% tinggal di pedesaan; 95,5% berpendidikan dasar&lanjutan; 45,5% karyawan swasta (sebelum sakit); 77,3% tidak bekerja (setelah sakit); 72,7% berpenghasilan rendah; 54,5% menjalani pengobatan tahap lanjutan; 95,5% pengobatan ulang (45% kasus kambuh; 40,9% kasus gagal/tidak konversi); 90,9% mengalami efek samping obat (ringan/berat); 36,4% mempunyai penyakit komorbid; 45,5% mempunyai riwayat merokok, 31,8% mempunyai riwayat konsumsi alkohol; 54,5% dukungan sosial kategori kurang; memiliki kualitas hidup buruk (31,8%) dan sedang (36.4%).Kesimpulan: Kualitas hidup penderita TB MDR cenderung memburuk dengan dukungan sosial yang kurang, terutama dukungan kasih sayang, emosional dan material. Perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup dan dukungan sosial melalui pembentukan peer support group sebagai wadah untuk memberikan konseling, KIE, motivasi, pelatihan keterampilan serta dukungan sosial bagi mereka.

    Bias Provider Dan Peluang Terjadinya Unmet Need KB Pada Pasangan Usia Subur di Kecamatan Kraton Kota Yogyakarta

    No full text
    Family planning for unmet needs among childbearing aged couples in an urban community in YogyakartaPurposeThis study aimed to determine the relationship of provider bias with unmet needs for family planning in couples of childbearing age in the Kraton area of the city of Yogyakarta.MethodThis cross-sectional study involved 121 respondents of childbearing age couples in Kraton sub-district of Yogyakarta city. Data retrieval technique used multistage random sampling. Data analysis used univariable, and bivariable analysis with chi square tests with significance level (p <0.05) and 95% confidence interval. Multivariable analysis used logistic regression statistic tests. This research was conducted in May-June 2017.ResultsThis study showed that there was a significant relationship both statistically and practically between provider bias and unmet needs for family planning in couples of childbearing age. The results of the provider's bias analysis after considering the support of husbands, occupations and the number of children were affected by 15% in the opportunities for unmet needs KB.ConclusionQuality of service to provide understanding of contraception needs to be improved. Family planning providers need to acquire communication skills to provide family planning services through capacity building activities for providers in a sustainable manner.Latar Belakang: Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia. Jika laju pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan maka dimungkinkan akan terjadi ledakan penduduk. Salah satu program untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia yaitu dengan program Keluarga Berencana (KB). Salah satu masalah dalam pengelolaan program KB yaitu masih tingginya angka unmetneed KB pada pasangan usia subur. Salah satu faktor penyebab unmet need karena takut efek samping KB, hal tersebut dimungkinkan karena masih rendahnya kualitas interaksi provider KB dalam memberikan informasi tentang alat dan obat kontrasepsi yang mengacu pada Method Information Index (MII) dan juga standar elemen pelayanan keluarga berencana lainnya, sehingga banyak pelayanan dan informasi KB dilakukan bias oleh provider (penyedia dan pemberi layanan) KB.Tujuan: Mengetahui hubungan bias provider dengan kejadian unmetneed KB pada pasangan usia subur di Kecamatan Kraton Kota Yogyakarta.Metode: Rancangan penelitian cross sectional, dengan responden pasangan usia subur di Kecamatan Kraton Kota Yogyakarta dan memenuhi kriteria inklusi, dengan subjek penelitian sebanyak 121 orang. Teknik pengambilan data dengan multi stage random sampling. Analisis data dengan univariabel, bivariabel menggunakan uji statistik chi-square dengan tingkat kemaknaan (p<0,05) dan  tingkat kepercayaan 95% CI. Analisis multivariabel menggunakan uji statistik regresi logistic. Penelitian ini  dilakukan pada bulan Mei-Juni 2017.Hasil: Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna baik secara statistik maupun praktis antara bias provider dengan kejadian unmetneed KB pada pasangan usia subur di Kec.Kraton dengan nilai p<0,05 (p=0,00) OR 3,2 (95%; 1,71-2,63). Hasil analisis bias provider setelah mempertimbangkan dukungan suami, pekerjaan dan jumlah anak berpengaruh sebesar 15% didalam peluang terjadinya unmetneed KB.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara bias provider dengan peluang terjadinya unmetneed KB pada pasangan usia subur. Kata Kunci: Bias Provider, Unmet need KB, Pasangan Usia Subur

    Karakter enumerator yang diinginkan responden untuk penelitian yang bersifat longitudinal: kasus HDSS Sleman

    No full text
    Respondent preferred enumerator characteristics for longitudinal study:  the case of Sleman health demographic surveillance systemPurposeThe purpose of this study was to explore the enumerator characteristics preferred by respondent for longitudinal study in the case of Sleman Health Demographic Surveillance System (HDSS Sleman).MethodsA case study was conducted using primary and secondary data. Secondary data was in the form of transcript of research interview "Design of Reward System for HDSS Sleman Research Respondent", from respondents attrition sample category on the data collection cycle II. Equipped with primary data in the form of observation when taking HDSS data Sleman cycle III.ResultsResearch respondents preferred an enumerator who conveyed the research identity, including explanation of research objectives, research procedures and benefits, and agency of the enumerator. The clarity of research objectives is the main respondents reason to stay motivated to participate in research Sleman HDSS.ConclusionSleman HDSS respondents preferred enumerators who communicate the research identity in the form of research objectives, research procedures and benefits, as well as agencies, and enumerators.Tujuan: Mengetahui karakter enumerator yang diinginkan responden penelitian longitudinal (HDSS Sleman).Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan case study dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data sekunder berupa transkrip wawancara penelitian “Desain Sistem Reward bagi Responden Penelitian HDSS Sleman” dari kategori responden attrition sample pada pengambilan data siklus II. Dilengkapi dengan data primer berupa hasil observasi saat pengambilan data HDSS Sleman siklus III.Hasil: Responden penelitian menginginkan enumerator yang menyampaikan identitas penelitian, mencakup penjelasan tujuan penelitian, prosedur dan manfaat penelitian, serta instansi, dan enumerator. Kejelasan tujuan penelitian merupakan alasan utama responden untuk tetap termotivasi berpartisipasi dalam penelitian HDSS Sleman.Simpulan: Responden penelitian HDSS Sleman menginginkan enumerator yang mengkomunikasikan identitas penelitian berupa tujuan penelitian, prosedur dan manfaat penelitian, serta instansi, dan enumerator

    Kebun gizi sebagai upaya pemenuhan gizi berbasis masyarakat

    No full text
    Food garden as a community-based strategy to meet consumption needsPurposeThis study aims to assess the Kebun Gizi program which has been running for two years.MethodsThis descriptive study involved 80 heads of family. Sampling method was simple random sampling. This study was conducted in December 2014 in Kebun Gizi, Jebres Surakarta. Instruments used were in the form of questionnaire. The data were analysed using descriptive method to find out the benefit of Kebun Gizi felt by the community, especially which was related to the eating behaviour of vegetables/fruits, planting behaviour and motivation and cost saving aspect.ResultsThe results showed all respondents were participants of Kebun Gizi. Among the respondents, 96% had willingness to invite others. Another impact was that it could be a joint movement to plant vegetables in the yard, as was mentioned by 88% of the respondents. There were 68% of respondents argued that Kebun Gizi could be one form of food security and 67.5% already felt that following the program could save the cost of household expenses. The average saving of household expenses on 67 families was Rp. 3.350.000,- per month and Rp. 40.200.000,- per year.ConclusionKebun Gizi has a positive impact, especially which is related to the participation in nutrition fulfillment efforts in the community.Kebun gizi merupakan salah satu program berbasis masyarakat sebagai upaya dalam memenuhi kebutuhan makan buah dan sayur di masyarakat dengan cara pemanfaatan lahan pekarangan maupun media lain. Saat ini kebun gizi telah diimplementasikan di wilayah Jebres Surakarta. Metode Penelitian merupakan penelitian deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 80 Kepala Keluarga dengan teknik pengambilan sampel dengan simple random sampling. Penelitian ini dilaksanakan bulan Desember 2014 di lokasi implementasi kebun gizi di Jebres Surakarta. Instrument yang digunakan berupa kuesioner. Data dianalisis menggunakan deskriptif untuk mengetahui sejauh mana kemanfaatan yang dirasakan masyarakat mengenai kebun gizi terutama berkaitan dengan perilaku makan sayur/buah, perilaku menanam dan motivasi serta aspek penghematan biaya.Hasil penelitian memperlihatkan seluruh responden sebagai partisipan kebun gizi 100%.  Sebesar 96% responden memiliki kemauan mengajak orang lain. Dampak lain mampu menjadi gerakan bersama untuk menanam sayur di pekarangan rumah sebesar 88% responden. Sedangkan 68% responden berpendapat bahwa kebun gizi mampu menjadi salah satu bentuk ketahanan pangan. Sebanyak 67.5% diantaranya sudah merasakan dengan mengikuti program kebun gizi mampu menghemat biaya pengeluaran rumah tangga.  Rata-rata setiap rumah tangga yang telah merasakan penghematan ada Rp. 3.350.000,- per bulan yang berhasil dihemat oleh sebanyak 67 KK yang telah mengikuti program kebun gizi dan dalam setahun mampu menghemat Rp. 40.200.000,-Kebun Gizi mampu memberikan dampak positif khususnya berkaitan dengan partisipasi dalam upaya pemenuhan gizi di masyarakat

    Waktu yang dihabiskan oleh kepala puskesmas keluar kantor untuk kegiatan administrasi versus program lapangan: analisis data fasilitas komunitas dari IFLS East 2012

    Get PDF
    Health center manager time spending for outside administrative versus field work in East Indonesian region: an analysis of community facility of 2012 IFLS East PurposeThis study evaluates time spent on administrative and field public health program of physician or non-physician community health center managers in East Indonesian region.  MethodThe study used 85 community health center managers from 7 provinces of East Nusa Tenggara, East Kalimantan, Southeast Sulawesi, Maluku, North Maluku, West Papua, and Papua from which the data was available in the community facility section of Indonesian Family Life Survey East (IFLS East) 2012.ResultsPhysician managers spent more hours than non-physician managers for administrative matters. In addition, non-physician managers had more hours per week for field program activities as compared to physician managers.ConclusionResearch shows that physician managers have potential lost of their time in performing their medical service functions, which they are trained for. Policy should be directed to improve the management skills of non physician health workers so that physicians can maximize their time to solve medical problems in health centers.

    Kebutuhan dan perawatan anak penyandang cerebral palsy yang mengalami drooling: studi eksplorasi

    Get PDF
    Needs and care for cerebral palsy children with drooling: an exploratory study Purpose: To explore the needs and care and expectations of parents of children with disabilities that improve saliva.Methods: A qualitative research with a phenomenology conducted at YPAC Semarang in September 2016. Data were collected using in-depth interviews with 6 maternal participants who were selected through purposive sampling and 1 doctor improving medical and 1 teacher as a triangulation participant. Data analysis was performed according to Collaizi's steps.Results: This study produced ten themes, namely: the need to deal with saliva; overcoming feelings of sadness, shame, brokenness, low self-esteem, hurt, sensitive, offended when the child is humiliated, can not bear, feelings of rejection, not accept, afraid and violate themselves; Overcoming the shame of children; Budget for pediatric therapy; strength, enthusiasm, gratitude, patience and endeavor; accepted by the community and considered by the government; Environmental modification; efforts to overcome saliva; poor understanding of mothers; expectation of the mother towards the foundation and the government regarding health services, education, and children's independence.Conclusions: Optimizing the fulfillment of needs and care for CP children who increase the saliva of class IV and V by overcoming saliva using a saliva absorber and prolonging treatment

    Dukungan keluarga dan komunitas sesama penderita: studi pada pasien dengan hemodialisis di rumah sakit

    Get PDF
    Support from spouse and hospital-based self help group members for hemodialysis patients in public hospitalPurpose: This study aims to document examples of social support given by hemodialysis friends and self-help group to people undergoing hemodialysis in the hospital.Method: This is a qualitative research with phenomenology research design. Subject was selected using purposive sampling based on criteria inclusion and maximum variation. Data were collected by in-depth interview, consisted of 11 informants (6 male and 5 female) with length of hemodialysis experience between 6 months to 2 years. In addition, family were also invited for in-depth interview. The validity of data were assessed through triangulation and peer debriefing.Results: This study documented examples of friendliness among people who undergoing hemodialysis in the hospital. Occasionally they schedule community meetings or just a joint meal between patients and families after the hemodialysis therapy schedule takes place. At such meetings, they can exchange experiences and transfer the information from the old members to the new one. The group involved activities outside the hospital, the group involved new members to work together at local and national events in support of chronic kidney diseases patients.Conclusion: Our findings show that depressed patient who undergoing the hemodialysis gained new perception of their diseases and got a support to continue their treatment through self-help group. This research emphasize the role of hospitals as entry points for sufferers to find groups of fellow sufferers whose social support programs.Pendahuluan: pasien memerlukan strategi coping untuk beradaptasi dan mengendalikan stress dan depresi karena kondisi gagal ginjal dan menggunakan hemodialisis. Dukungan sosial mempengaruhi keberhasilan coping pasien. Meskipun mendapat dukungan dari keluarga, teman, dan tetangga, masih sangat sedikit dilaporkan tentang dukungan dari komunitas sesama penderita yang mereka temui di rumah sakit. Tujuan: Penelitian ini mendokumentasikan contoh dukungan sosial yang diberikan sesama pasien hemodialisis dan komunitas di rumah sakit pemerintah. Metode: Penelitian kualitatif dengan rancangan fenomenologi. Pemilihan subyek penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada 11 orang (6 laki-laki dan 5 perempuan) dengan lama hemodialisis yang dijalani antara 6 – 24 bulan. Selain itu, keluarga juga diikutsertakan untuk mendukung hasil wawancara. Keabsahan data melalui triangulasi dan peer debriefing. Hasil: Penelitian ini mendokumentasi bentuk keakraban dari kelompok sesama pasien di rumah sakit dan komunitas di luar rumah sakit. Sekali waktu mereka mengagendakan pertemuan komunitas atau sekedar makan bersama antar pasien serta keluarga setelah jadwal terapi hemodialisis berlangsung. Pada pertemuan seperti itu, mereka dapat bertukar pengalaman antar penyandang GGK yang sudah lebih lama kepada yang baru. Kegiatan di luar rumah sakit mencakup kegiatan penggalangan dukungan untuk komunitas sesama pasien hemodialisis yang bersifat lokal maupun nasional. Kesimpulan: Kehadiran kelompok sesama pasien hemodialisis di rumah sakit mengubah stress menjadi semangat yang positif dalam memaknai kondisi penyakit dan dalam menjalani pengobatan. Penelitian ini menekankan peran rumah sakit bertindak sebagai entry point bagi penderita menemukan kelompok dukungan sesama penderita dengan program dukungan sosial mereka

    Bagaimana Motivasi Berhenti Merokok Mahasiswa Di Kampus Kesehatan Yogyakarta?

    Get PDF
    Latar belakangMasalah rokok sudah menjadi masalah nasional bahkan menjadi masalah internasional. Lebih dari 60 juta penduduk Indonesia mengalami ketidakberdayaan akibat dari adiksi nikotin rokok, dan kematian akibat mengkonsumsi rokok tercatat lebih dari 400 ribu orang per-tahun. Sebagai salah satu upaya membantu perokok untuk berhenti merokok diperlukan informasi mengenai gambaran motivasi berhenti merokok.TujuanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi perokok pada responden penelitian dan untuk mengetahui motivasi berhenti merokok pada mahasiswa di kampus kesehatan Yogyakarta.MetodePenelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendektan cross sectional. Jumlah Populasi penelitian 274 orang sementara sample diambil dengan menggunakan accidental sampling sebanyak 163 orang. Data tentang karakteristik dan gambaran motivasi berhenti merokok mahasiswa diperoleh dari kuesioner kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan sistem komputer.HasilJumlah mahasiswa yang merokok sebanyak 20 orang (12.3%) sementara proporsi perokok laki-laki 4 kali lebih besar dibanding perokok wanita dan semua perokok mempunyai keinginan berhenti merokok. Pada kelompok laki-laki, terdapat 15 orang (32.6%) yang merokok sementara pada kelompok perempuan ada 5 orang (4.3%) yang merokok. Gambaran motivasi berhenti merokok sebagai berikut : mahasiswa yang sangat tertarik untuk berhenti merokok sebanyak 12 orang (60%); Jumlah mahasiswa yang akan berhenti merokok 7 orang (35%) sementara ada 9 orang (45%) kemungkinan akan menjadi non perokok.SimpulanSemua responden yang merokok memiliki motivasi untuk berhenti merokok. Hal ini memberi peluang bagi promotor kesehatan dan penggiat tobacco control untuk membantu perokok berhenti merokok dalam bentuk edukasi atau layanan berhenti merokok.Latar Belakang :  Masalah rokok sudah menjadi masalah nasional bahkan menjadi masalah internasional. Lebih dari 60 juta penduduk Indonesia mengalami ketidakberdayaan akibat dari adiksi nikotin rokok, dan kematian akibat mengkonsumsi rokok tercatat lebih dari 400 ribu orang per-tahun. Sebagai salah satu upaya membantu perokok untuk berhenti merokok diperlukan informasi mengenai gambaran motivasi berhenti merokok. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi perokok pada responden penelitian dan untuk mengetahui motivasi berhenti merokok pada mahasiswa di kampus kesehatan Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendektan cross sectional. Jumlah  Populasi penelitian 274 orang sementara sample diambil dengan menggunakan accidental sampling sebanyak 163 orang. Data tentang karakteristik dan gambaran motivasi berhenti merokok mahasiswa diperoleh dari kuesioner Richmount Test kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan sistem komputer  Hasil: Jumlah mahasiswa yang merokok sebanyak 20 orang (12.3%) sementara proporsi perokok laki-laki 4 kali lebih besar dibanding perokok wanita dan semua perokok mempunyai keinginan berhenti merokok. Pada kelompok laki-laki, terdapat 15 orang (32.6%) yang merokok sementara pada kelompok perempuan ada 5 orang (4.3%) yang merokok. Gambaran motivasi berhenti merokok sebagai berikut : mahasiswa yang sangat tertarik untuk berhenti merokok sebanyak 12 orang (60%); Jumlah mahasiswa yang akan berhenti merokok 7 orang (35%) sementara ada 9 orang (45%) kemungkinan akan menjadi non perokok. Kesimpulan: Semua responden yang merokok memiliki motivasi untuk berhenti merokok. Hal ini memberi peluang bagi promotor kesehatan dan penggiat tobacco control untuk membantu perokok berhenti merokok dalam bentuk edukasi atau layanan berhenti merokok.  

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇