Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    Penemuan penderita dan pengawasan pengobatan malaria oleh masyarakat desa di Kabupaten Purbalingga

    No full text
    Pada tahun 2009 sampai dengan 2011 terjadi peningkatan kasus malaria di Desa Tetel Kecaatan Pengadegan Kabupaten Purbalingga. Berdasarkan usulan dari warga desa melalui tokoh masyarakat, dan difasilitasi oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan maka pada tahun 2012 pemerintah desa menyusun dan menetapkan  peraturan desa tentang penemuan kasus malaria dan pengawasan pengobatan berbasis masyarakat. Pada peraturan ini setiap penduduk berhak mendapatkan pelayanan kesehatan terkait malaria dan memiliki kewajiban untuk melaporkan kepada tim pelaksana penemuan kasus dan pengawasan pengobatan apabila mengetahuai ada warga yang menderita gejala malaria serta warga / pendatang yang berasal dari daerah endemis malaria. Tujuan dari penelitian ini adalah mengekplorasi perdes tentang penemuan kasus dan pengawasan pengobatan malaria berbasis mayarakat sebagai salah satu alternatif cara untuk menggerakkan masyarakat dalam rangka program eliminasi malaria. Evaluasi peraturan desa ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, Focus Group Discussion, Observasi dan telaah dokumen. Peraturan Desa ini disahkan oleh pemerintah Desa Tetel pada akhir tahun 2012, pemerintah Desa mulai mensosialisasikan pada Maret  2013 bertepatan dengan musrenbangdes. Sosialisasi selanjutnya dilakukan pada forum-forum pertemuan yang ada di masyarakat. Sosialisasi Perdes ini sekaligus penyuluhan malaria kepada masyarakat. Pemenuhan hak masyarakat untuk terlindungi dari malaria dilakukan melalui  Penemuan kasus malaria aktif di masyarakat dilaksanakan oleh Juru Malaria Desa (JMD) yang direkrut oleh Puskesmas Pengadegan pada tahun 2013. JMD yang direkrut Puskesmas berasal dari warga Desa Tetel. Masyarakat akan menghubungi  JMD melalui pesan singkat atau datang ke rumah JMD apabila ada anggota keluarga / tetangga yang menderita gejala malaria, selanjutnya JMD akan melakukan pengambilan sampel darah untuk diperiksa oleh petugas mikroskopis Puskesmas.  Apabila sampel positif JMD akan mengantarkan obat malaria ke rumah penderita sekaligus memberikan penyuluhan tentang malaria dan pengobatannya kepada penderita dan keluarganya.  Selain penemuan kasus melalui ACD, Puskesmas berkoordinasi dengan klinik kesehatan swasta apabila ada warga desa Tetel yang melakukan pemeriksaan kesehatan dengan gejala malaria untuk dapat diambil sampel darahnya dan dikirim ke Puskesmas. Kegiatan Mass Blood Survei (MBS) untuk menjaring penderita di masyarakat dilakukan pada saat menjelang hari Raya Idul Fitri ketika para perantau dari Kalimantan, Bangka atau daerah endemis malaria lainnya pulang kampung. Untuk melindungi warga dari gigitan nyamuk, Dinas Kesehatan melakukan pencegahan dengan penyemrotan rumah dan pengendalian vektor oleh masyarakat melalui kegiatan kebersihan lingkungan setiap satu minggu sekali. Manfaat  kegiatan tersebut dirasakan oleh masyarakat, dan masyarakat semakin peduli dengan malaria, sejak Perdes disosialisasikan dan diimplementasikan, kasus malaria mengalami penurunan,  sampai penelitian ini dilaksanakan sudah tidak ada kasus malaria di Desa Tetel. Penerapan Peraturan Desa di Desa Tetel dapat dijadikan contoh untuk wilayah lain dalam upaya pengendalian malaria

    Analisis spasial kejadian diare di kabupaten Brebes

    No full text
    Tujuan: Penanganan kasus diare di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2016 hanya 10%, Kabupaten Brebes sebagai wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Provinsi Jawa Tengah hanya menunjukkan 12,5% dalam penanganan kasus Diare. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari apakah ada hubungan antara prevalensi Diare dengan faktor-faktor determinan seperti sanitasi lingkungan, perilaku sehat dan akses populasi. Sehingga dapat menentukan kecamatan mana yang menjadi prioritas utama untuk penanganan Diare di Kabupaten Brebes. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analisis spasial menggunakan perangkat lunak ArcView GIS 3.3 menggunakan data sekunder dari Profil Kesehatan Kabupaten Brebes 2016; analisis akhir ditampilkan dalam peta tematik dengan kategori Baik, Sedang dan Buruk. Hasil: Prioritas utama untuk Intervensi dalam diare adalah Kecamatan Larangan dengan kategori buruk. Prioritas intervensi ketiga adalah Kecamatan Salem dengan kategori Baik. Sedangkan 15 dari 17 Kecamatan di Kabupaten Brebes termasuk dalam kategori sedang sebagai prioritas intervensi kedua. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kecamatan Larangan adalah Akses masyarakat yang rendah (Air Bersih (%) Rumah Sehat (%) STBM (%) Tempat Pengolahan Makanan memenuhi syarat (%) <55) dan Faktor Perilaku dalam kategori sedang PHBS (55,89 - 77,13%). Faktor yang paling signifikan untuk Kecamatan Salem adalah Faktor Sanitas lingkungan dari aspek capaian STBM (30,77%) paling tinggi dibandingkan dengan 16 kecamatan lainnya. Simpulan: Secara spasial ada hubungan yang signifikan antara diare dan sanitasi lingkungan, perilaku sehat dan akses populasi di Kabupaten Brebes pada tahun 2016. Pencegahan peningkatan kasus diare di Kabupaten Brebes, diharapkan pada masa yang akan datang dapat meningkatkan cakupan rumah sehat, penerapan STBM, Keluarga ber-PHBS dan kontrol kesehatan terhadap Penyedia Air Minum

    Sistem pendukung keputusan tindakan pencegahan kejadian luar biasa penyakit di wilayah provinsi kepulauan Bangka Belitung

    No full text
    Undang-undang No. 4 tahun 1984 mengenai Wabah Penyakit Menular serta PP No. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular mengatur agar setiap wabah penyakit menular atau situasi yang dapat mengarah ke wabah penyakit menular (Kejadian luar biasa – KLB) harus ditangani sedini mungkin. KLB penyakit adalah status yang mengklasifikasikan peristiwa meningkatnya jumlah penderita suatu penyakit pada satu wilayah tertentu dalam satu rentang waktu. Keputusan yang diambil dalam penanganan KLB penyakit dilakukan dengan memberikan respon yang lebih cepat untuk menghindari masalah kesehatan yang lebih besar sehingga dapat menekan jumlah penderita serta membatasi penyebaran penyakit pada daerah tersebut. Tahapan preventif dapat dilalui dengan penyusunan rencana kegitan untuk menghadapi kemungkinan KLB. Upaya pencegahan dilakukan melalui perbaikan faktor risiko, penanggulangan penyakit dari sumber penularan, pemutusan mata rantai penularan penyakit, peningkatan kerentanan sekelompok masyarakat berdasar ciri epidemiologi serta memperkuat sistem pelayanan kesehatan. Sistem Pendukung Keputusan dibangun dengan menerapkan metode CBR (Case Based Reasoning) untuk menghasilkan peringatan dan rekomendasi tindakan pencegahan terhadap KLB, dimana metode ini mengkalkulasikan solusi terhadap kasus-kasus yang telah terjadi dengan mengukur tingkat kemiripan dengan kasus yang sedang terjadi. Konsep dari metode cased based reasoning ditemukan dari ide untuk menggunakan pengalaman-pengalaman yang terdokumentasi untuk menemukan solusi terhadap masalah yang sedang terjadi. Dalam pelaksanaannya terdapat empat langkah proses pada metode CBR, antara lain : retrieve, reuse, revise dan retain. Sistem dapat menyediakan peringatan dini pada daerah kabupaten dengan menggambarkan karakteristik KLB penyakit berdasarkan kriteria variabel waktu, tempat dan orang

    Hubungan antara kebiasaan merokok, minum kopi, dan status gizi dengan hipertensi pada karyawan office boy Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta tahun 2018

    No full text
    Hypertension is one of the high incidence diseases in Indonesia. Hypertension is a condition where blood vessels have high blood pressure (systolic blood pressure ≥ 140 mmHg or diastolic blood pressure ≥ 90 mmHg). The prevalence of hypertension in adulthood was 23.3% in Indonesia. The purpose of this study was to determine the relationship of smoking habits, coffee drinking, and nutritional status with hypertension in office boy at Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. The design of this study was cross sectional with 70 respondents sample in total that was taken by random sampling method. Data were analyzed by univariate and bivariate by Chi Square test. The results showed that there was a relationship between smoking habits (p = 0.005), drinking coffee (p value = 0,000), and nutritional status (p value = 0.005) with hypertension. The writer expected that if respondents could quit smoking, drinking coffee, and managed dietary habit it could increase the standard of health and decrease the incidence of hypertension

    [PHS5] Trend membully balik: perlukah regulasi pembatasan konten kekerasan pada anak?

    No full text
    Tujuan: Mengekplorasi kejadian pembullyan balik yang terjadi di jaringan internet. Isi: bullying tidak hanya terjadi dalam keadaan interaksi secara langsung tetapi juga menggunakan media sosial. Media sosial digunakan oleh 130 juta orang Indonesia. Dengan pengguna paling banyak pada kelompok remaja. Kelompok ini merupakan kelompok yang masih rentan dengan beragam informasi yang beredar. Penggunaan media sosial ini memberikan manfaat dalam kecepatan penyebaran informasi. Setiap kalangan dapat  mengakses informasi dengan mudah sehingga kita dapat memberikan informasi terkait pencegahan perundungan bagi anak-anak remaja. Lesson learned: Blow up kasus bullying yang membuat semua orang tahu siapa pembully dan korban yang di bully padahal belum diketahui siapa yang salah. Kedua, kesehatan mental korban bullying akan terganggu. Pada akhirnya, masyarakat tidak berhak untuk memperluaskan kasus pembullyan yang belum diklarifikasi oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Perlu kerjasama dengan KOMINFO untuk memblokir konten kasus bullying

    Studi kasus implementasi program pencegahan dan pengendalian infeksi saluran pernafasan akut pneumonia pada kegiatan penemuan kasus pneumonia balita di puskesmas

    No full text
    Case study of implementation pneumonia prevention and control program: case finding on the children under five years old at puskesmas by IMCI approachPurpose: This study aims to evaluate the Prevention and Control program for ARI Pneumonia through pneumonia case finding activities for toddlers in Kerinci District health centers. Methods: This study is evaluation research used qualitative methods with a case study program implementation plan, located at Sungai Tutung Health Center, Kerinci District, Jambi Province, using a logic model program theory with evaluation steps referring to the program evaluation framework recommended by the Center For Disease Control and Prevention. Interviews were conducted on 15 informants including triangular informants. Key informants are primary health care providers who are associated with ARI pneumonia. Results: The results of the study, the case-findings of pneumonia cases passively was not optimal because it did not meet the standard of cough testing and IMCI approach. Lack of knowledge, low motivation, and weakness, monitoring, and evaluation from the health office are obstacles to ARI pneumonia programs in addition to budget or funding limitations. Conclusions: The recommendation is to allocate a budget for the P2 ISPA program, facilitate the improvement of knowledge and skills for P2 ISPA Primary health care officers, establish cross-program and cross-sector cooperation in expanding the reach of P2 ISPA program in the finding of pneumonia cases in toddlers in health centers.Purpose: To describe the implementation of children under five years old pneumonia case finding activities at the puskesmas, analyze obstacles or constraints in carrying out pneumonia case finding activities among children under five years old and obtain appropriate recommendations for the activity of finding pneumonia cases in children under five years old in health centers. Method: This research was conducted at Sungai Tutung Puskesmas, Kerinci Regency, Jambi Province, using a logic model program theory with evaluation steps referring to the program evaluation framework recommended by the Center For Disease Control and Prevention using qualitative methods with a case study program implementation. Interviews were conducted on 15 informants including triangual informants. Key informants are puskesmas providers who are associated with ARI pneumonia. Results: The results of the study pneumonia cases were not actively carried out because they were not included in the Community Health Center Plans For Implementing Puskesmas Activities prepared based on program priorities set by the health center and health service, the case finding of pneumonia passively was not optimal because it did not meet the standard of cough testing and IMCI approach. Lack of knowledge, low motivation, and poor management of puskesmas are obstacles to ARI pneumonia programs in addition to limited budgets or funds and the quality of health. Conclusion: The recommendation is to allocate a budget for the Pneumonia Prevention And Control Program, facilitate the improvement of knowledge and skills for Pneumonia Prevention And Control Program in Puskesmas providers, establish cross-program and cross-sector cooperation in expanding the reach of Pneumonia Prevention And Control Program in the finding of pneumonia cases in children under five years old in health centers

    Efektivitas Pendidikan Kesehatan Media Video Terhadap Pengetahuan dan Sikap Tentang Anemia pada Remaja Putri

    No full text
    Background: Anemia in adolescent girls reduces motoric development, mentality, and intelligence and affects adolescent girl health in the future. Lack of hemoglobin may cause some complications in pregnancy and childbirth. Thereby, health education is needed to prevent anemia. Retention of information through video is 30%. Purpose: This study investigates the effectiveness of health education using video in improving knowledge and attitude regarding anemia among adolescent girls. Method:  This study used quasi-experimental with one group pretest-posttest design. Fifty-three adolescent girls studying at SMAN 1 Tasikmalaya were recruited in this study as selected through Proportionate Stratified Random Sampling. Data analysis used the Wilcoxon Signed Rank Test for knowledge data and the Paired Sample T-Test for attitude data. Pearson's Correlation Coefficient R Formula calculated the effect size. Results:  The results showed improved knowledge and attitude scores after giving health education using video (p-value, < 0.05 ). The effect size of the knowledge variable was 0.87, and the attitude variable was 0.74. Conclusion:  health education using video has a large effect in improving knowledge and attitude regarding anemia among adolescent girls.Keywords: Anemia, Attitude, Adolescent Girls, Health Education, KnowledgeLatar Belakang: Anemia pada remaja putri dapat berdampak pada penurunan perkembangan motorik, mental dan kecerdasan. Anemia berdampak negative pada kesehatan remaja putri di masa mendatang. Kekurangan hemoglobin dapat menimbulkan komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Dengan demikian, pendidikan kesehatan dibutuhkan untuk mencegah anemia. Retensi penyerapan informasi melalui media video sebesar 30%.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan media video terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri tentang anemia. Metode:  Desain penelitian menggunakan quasi experimental one group pretest-posttest design. Total sampel sebanyak 53 remaja putri yang bersekolah di SMAN 1 Tasikmalaya. Sampel dipilih dengan teknik proportionate stratified random sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk data pengetahuan dan Paired Sample T Test untuk data sikap. Besaran efek dihitung dengan rumus Pearson’s Correlation Coefficient R. Hasil:  Hasil penelitian menunjukan terdapat peningkatan skor pada pengetahuan dan sikap setelah dberikan pendidikan kesehatan media video (p value <0,05). Besaran efek yang diberikan pada variabel pengetahuan yaitu 0,87 dan pada variabel sikap yaitu 0,74. Simpulan:  pendidikan kesehatan media video memberikan efek yang besar terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap remaja putri tentang anemia.AbstrakLatar Belakang: Anemia pada remaja putri dapat berdampak pada penurunan perkembangan motorik, mental dan kecerdasan. Anemia berdampak negative pada kesehatan remaja putri di masa mendatang. Kekurangan hemoglobin dapat menimbulkan komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Dengan demikian, pendidikan kesehatan dibutuhkan untuk mencegah anemia. Retensi penyerapan informasi melalui media video sebesar 30%.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan media video terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri tentang anemia. Metode:  Desain penelitian menggunakan quasi experimental one group pretest-posttest design. Total sampel sebanyak 53 remaja putri yang bersekolah di SMAN 1 Tasikmalaya. Sampel dipilih dengan teknik proportionate stratified random sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk data pengetahuan dan Paired Sample T Test untuk data sikap. Besaran efek dihitung dengan rumus Pearson’s Correlation Coefficient R. Hasil:  Hasil penelitian menunjukan terdapat peningkatan skor pada pengetahuan dan sikap setelah dberikan pendidikan kesehatan media video (p value <0,05). Besaran efek yang diberikan pada variabel pengetahuan yaitu 0,87 dan pada variabel sikap yaitu 0,74. Simpulan:  pendidikan kesehatan media video memberikan efek yang besar terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap remaja putri tentang anemia.Kata Kunci: Anemia, Pendidikan Kesehatan, Pengetahuan, Remaja Putri, Sikap.

    Community’s perception of measles immunization in Sleman

    Get PDF
    Community perception of measles immunization in SlemanPurposeThis study conducted to explore the community’s perception of measles immunization in Sleman.MethodsA phenomenological study was conducted involving interviews of the head of neighborhood’s ladies who were highly respected by their citizens, mothers with toddlers but refused immunizations, immunized toddler mothers, health workers who did not immunize their children based on information from FGDs of mothers who refused immunization, a toddler father who does not allow his child to be immunized, community leaders and religious leaders, in the village of Sukoharjo whose area has been infected with measles outbreaks. ResultsThe study found that first, people perceived that immunization has no benefit and even causes side effects for children’s under-five health. Second, the community perceives that immunization of measles is not mandatory because of the lack of the government's role in enforcing regulations related to measles immunization. Third, the perception of people against measles immunization is influenced by the behavior of health workers and religious leaders. ConclusionsThe side effects of measles immunization, the influence of health workers' behavior and religious figures related to non-immunization against measles, and the lack of government's role in enforcing regulations related to the appeal of measles immunization are the factors that influence community's perception and a decision of not doing measles immunization. Government appeals related to immunization need to be improved, and in addition, education related to measles hazard should be done to the community, religious leaders and health workers to increase awareness and awareness of the dangers of measles.PurposeThe purpose of this study was to explore the community’s perception of measles immunization in Sleman.MethodA phenomenological study was conducted involving interviews of the head of neighborhood’s lady who were highly respected by their citizens, mothers with toddlers but refused immunizations, immunized toddler mothers, health workers who did not immunize their children based on information from FGDs of mothers who refused immunization , a toddler father who does not allow his child to be immunized, community leaders and religious leaders, in the village of Sukoharjo whose area has been infected with measles outbreaks.ResultsThe study found that first, people perceived that immunization has no benefit and even provide side effects for underfive health. Second, the community perceives that immunization of measles is not mandatory because of the lack of government's role in enforcing regulations related to measles immunization. Third, the perception of people against measles immunization is influenced by the behavior of health workers and religious leaders.ConclusionThe side effects of measles immunization, the influence of health workers' behavior and religious figures related to non-immunization against measles, and the lack of government's role in enforcing regulations related to the appeal of measles immunization are the factors that influence community's perception of not doing measles immunization. Government appeals related to immunization need to be improved, in addition, education related to measles hazard should be done to the community, religious leaders and health workers to increase awareness and awareness of the dangers of measles

    Determinan kejadian tuberkulosis paru BTA (+) di kabupaten Bandung Barat

    Get PDF
    Latar belakang : Penyakit menular Tuberkulosis masih menjadi perhatian didunia dan belum ada satu negara pun yang bebas TB, termasuk Indonesia. Menurut Global Tuberculosis Control Report tahun 2009, Insiden kasus baru TB BTA (+) di Indonesia tahun 2007 sebesar 102 per 100.000 penduduk dan prevalensi sebesar 244 per 100.000 penduduk. Capaian prevalensi Kabupaten Bandung Barat (KBB)tahun 2011 yaitu 517 per 100.000 penduduk dan capaian Case Detection Rate yang masih rendah yaitu 49,64%. Kondisi sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan determinan sumber penularan penyakit termasuk tuberkulosis paru.Tujuan dan metode penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinasi kejadian TB Paru BTA (+) di Kabupaten Bandung Barat. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan desain kasus kontrol. Subjek penelitian adalah masyarakat 15 tahun keatas datang berobat ke puskesmas dan diagnosis pasien TB BTA (+) sebagai kelompok kasus, serta pasien yang diagnosis bukan penderita TB oleh dokter pemeriksa di puskesmas sebagai kelompok kontrol. Sampel yang diambil sebanyak 140 orang. Analisis data dilakukan dengan analisis univariabel, bivariabel dan multivariabel.Hasil Penelitian. Karakteristikindividupendapatan dan pendidikan berhubungan signifikan dengan kejadian TB Paru BTA (+) (p-value 0,040 dan 0,037 0,05) dan riwayat imunisasi BCG (p-value 0,611 >0,05)tidak berhubungan signifikan dengan kejadian TB Paru BTA (+)Kesimpulan.Ventilasidan bahan bakar untuk memasak berhubungan signifikan dengan kejadian TB Paru BTA (+) (p-value, 0,002, dan 0,004 0.05) and a history of BCG immunization (p-value 0.611> 0.05) were not significantly associated with the incidence of TB BTA (+). Conclusion Physical factors in the environment such as ventilation and fuel for cooking were significantly associated with the incidence of TB BTA (+). Appropriate efforts are recommended to avoid risks

    Pengaruh konseling keluarga berencana menggunakan alat bantu pengambilan keputusan pada ibu hamil terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan: randomized controlled trials

    No full text
    Latar belakang: Lebih dari 95% ibu pasca persalinan ingin menunda kehamilan berikutnya atau tidak ingin hamil lagi namun tidak menggunakan kontasepsi sehingga terjadi unintended pregnancy yang berakhir pada kehamilan berisiko maupun unsafe abortion. Konseling tentang KB pada masa kehamilan dapat memenuhi kebutuhan kontrasepsi ibu pasca persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis pengaruh konseling KB menggunakan ABPK terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan.Metode: Jenis penelitian eksperimen dengan desain randomized controlled trials. Populasi penelitian adalah ibu hamil yang memeriksakan kehamilan di Puskesmas Kota Yogyakarta. Sampel diperoleh secara acak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel bebas berupa intervensi konseling KB menggunakan ABPK. Variabel terikat berupa penggunaan kontrasepsi pasca persalinan. Analisis bivariabel menggunakan uji chi square dengan signifikansi p-value < 0.05 dan analisis multivariabel menggunakan regresi logistik. Hasil: Proporsi penggunaan kontrasepsi pasca persalinan pada kelompok intervensi lebih besar daripada kelompok kontrol dengan perbedaan prosentase 61%. Konseling menggunakan ABPK pada ibu hamil memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan (p<0.05) sedangkan umur, paritas, pendidikan, komunikasi suami-istri dan paparan informasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan.Kesimpulan: Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) Ber-KB efektif memberikan pengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan.  Influence of family planning counseling using decision-making tool in pregnant women on postpartum contraception use: randomized controlled trialsPurpose: Analyzed the influence of family planning counseling using the Decision-Making Tool (DMT) on postpartum contraceptive use. Methods: An experimental study with randomized controlled trials design. The study population was pregnant women during their pregnancy at public health center in Yogyakarta. Samples were obtained randomly which meet the inclusion and exclusion criteria. The independent variable was the family planning counseling interventions using DMT. The dependent variable was the postpartum contraceptive use. Bivariable analysis used chi-square test with significance of p-value of <0.05 and multivariable analysis used logistic regression. Results: The proportion of postpartum contraceptive use was greater in the intervention group than the control group with a percentage difference of 61%. Counseling used DMT in pregnant women had a significant influence on postpartum contraceptive use (p <0.05) whereas age, parity, education, spousal communication and information exposure showed no significant effect on postpartum contraceptive use. Conclusions: Decision-Making Tool of family planning was effective giving influence on postpartum contraceptive use

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇