Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Metode term frequencies untuk penelitian kesehatan di twitter: studi pada tweet berbahasa Indonesia terkait obesitas
Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi frekuensi penggunaan kata pada tweet berbahasa Indonesia terkait Obesitas di Twitter. Metode: Jenis penelitian adalah Deskriptif dengan menggunakan data Twitter selama 5 tahun (2012-2017) dari hasil webscraping menggunakan keyword “obesitas” OR “gemuk” OR “kegemukan” OR “gendut” OR “kegendutan” yang berjumlah 67.942 tweet. Kemudian dilakukan proses cleaning dan menghasilkan sampel sebanyak 43.436 data untuk fase praproses. Data dianalisis menggunakan Python 3.7.2 dan R. Studio 3.5.2 untuk visualisasi wordcloud. Hasil: Analisis terhadap frekuensi penggunaan kata (term frequencies) menunjukan bahwa terdapat 4.050 jenis kata yang muncul dengan urutan 18 (delapan belas) teratas meliputi kata: “gemuk” (33.851), “gendut” (10.159), “makan” (8.721), “orang” (5.737), “status” (2.806), “obesitas” (2.799), “badan” (2.450), “perempuan” (2.189), “suka” (1.908), “kena” (1.544), “anak” (1.302), “hati” (1.256), “salah” (1.225), “berat” (1.205), “takut” (1.127), “diet” (1.105), “lelaki” (1.014) dan “tidur” (1.004). Hasil klasifikasi term frequencies tersebut berdasarkan kajian ontologi, terbagi kedalam 5 superkelas yaitu: superkelas “Tipe Obesitas” yaitu sebanyak 53.270 kali, diikuti “Faktor Risiko” yaitu 15.633 kali. Selanjutnya diikuti oleh “Konsekuensi Obesitas” sebanyak 7.281 kali lalu ada “Simptom dan Komplikasi” sebanyak 1.127 kali dan yang terakhir adanya kelompok lain yang belum dapat diklasifikasikan yaitu 4.359 kali. Simpulan: Term frequencies pada tweet berbahasa Indonesia terkait obesitas di Twitter lebih didominasi oleh jenis kata yang menggambarkan tipe obesitas, faktor risiko obesitas, konsekuensi obesitas serta simptom dan komplikasi obesitas. Kata maupun superkelas yang muncul dalam penelitian ini dapat digunakan untuk pengembangan keyword penelitian obesitas yang selanjutnya. Penerapan metode term frequencies kedalam penelitian kesehatan di Twitter akan membantu menyediakan pilihan kata kunci (keywords) untuk penelitian-penelitian dimasa akan datang.
Mother’s knowledge of nutrition is a risk factor of malnutrition in children under five years old in coastal areas of Kendari city
Objective: This study aimed to assess the risk of mother’s knowledge about nutrition to the incidence of malnutrition in children under five years old in coastal areas of Kendari City. Method: This study was observational analytic design with case control approach. The study was conducted in the coastal area of Kendari City, Southeast Sulawesi on November to December 2018. Case group was mother of children aged 6-59 months who experienced malnutrition in the working area of Abeli, Mata and Benu-Benua Health Center in October 2018. Control group was mother of children aged 6-59 months who did not experience malnutrition. Malnutrition was determined by measuring body weight and then adjusted to the category and threshold of nutritional status based on the body weight index according to age. There were 64 samples consisted of 16 case and 48 controls. Samples of case group were recruited using total sampling. Samples of control group were recruited using purposive sampling with non-matching method according to the inclusion and exclusion criteria. Mother's knowledge about nutrition was determined using the questionnaire. The Odd Ratio (OR) statistical test was used with a 2x2 contingency table and a 95% confidence level with a significance level of α = 0.05. Results: The majority of respondents were 36-45 years old in the case group (37.5%) and 26-35 years old in the control group (50.0%). The majority of education level was junior high school in the case group (43.7%) and high school in the control group (47.9%). The majority of mother's knowledge about nutrition was less in the case group (81.2%) and good knowledge in the control group (68.7%). The statistical test results were obtained OR = 9.533 (CI=95%) with Lower Limit (2.361) and Upper Limit (38.501). Conclusion: Mother’s knowledge about nutrition is a risk factor for malnutrition in children aged 6-59 months in coastal areas of Kendari City. Mother’s knowledge of nutrition has a 9 times greater risk for malnutrition in children under five years old in coastal areas. Good knowledge of nutrition and malnutrition is needed to improve public health status.
Sistem pendukung keputusan menggunakan data mining sebagai usulan upaya penetapan status stunting pada balita di kabupaten Jember
Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang menjadi isu penting di Indonesia. Berdasarkan data WHO, Indonesia berada pada peringkat tiga dengan prevalensi stunting tertinggi di regional Asia Tenggara. Rata-rata prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2005-2017 adalah 36,4%. Jember merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang prevalensi stuntingnya masih tergolong tinggi yakni sebesar 30%. Variabel yang akan digunakan dalam penentuan status stunting pada balita adalah umur, jenis kelamin dan tinggi badan balita, dimana variabel-variabel tersebut masih diinputkan secara manual oleh kader posyandu pada KMS sehingga orang tua dan kader balita belum dapat mengetahui apakah anaknya mengalami stunting atau tidak. Sehingga untuk memudahkan kader posyandu maka perlu dibuat sistem pendukung keputusan dengan menggunakan data mining dengan algoritma K-Means untuk menentukan status stunting pada balita. Data mining adalah salah satu metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan data yang sudah ada dan mengelompokkan data balita dengan menggunakan algoritma K-Means. Output yang dihasilkan adalah tinggi badan berdasarkan umur yaitu stunting dan normal. Tujuan dari penulisan paper ini adalah pembuatan sistem pendukung keputusan dengan menggunakan data mining guna membantu penentuan status stunting pada balita di Kabupaten Jember. Metode yang digunakan pada paper ini adalah literature review yaitu dengan mengumpulkan referensi terkait stunting, sistem pendukung keputusan, data mining dan K-Means. Diharapkan setelah dibuat sistem pendukung keputusan untuk penetapan status stunting dapat lebih memudahkan kader posyandu untuk mengelompokkan balita berdasarkan kategori stunting atau normal, memberikan rekomendasi pada orang tua balita tindakan apa yang harus segera dilakukan dan dapat digunakan untuk prioritas intervensi oleh petugas kesehatan
Sistem pendukung keputusan berbasis rekam medis elektronik
Latar belakang: Rekam medis yang baik dan bermutu harus memenuhi indikator-indikator kelengkapan, keakuratan, tepat waktu dan memenuhi aspek hukum. Rekam medis juga digunakan sebagai alat komunikasi antar tenaga kesehatan. Penerapan rekam medis elektronik merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu sarana pelayanan kesehatan dalam memberikan informasi untuk kebutuhan pelayanan kesehatan. Tujuan: Mengetahui peran rekam medis elektronik dalam sistem pengambilan keputusan bagi klinisi maupun pihak manajemen. Isi: Rekam medis elektronik merupakan paradigma baru dalam manajemen rekam medis, dari manual ke elektronik (digital) yang dapat merubah pola pikir dan pola tindak tenaga kesehatan maupun pihak manajemen. Rekam medis elektronik mampu membuat output laporan berkualitas dan terstandarisasi, output dalam laporan ini akan membantu para pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan apa yang akan dilakukan guna menunjang proses pelayanan selanjutnya. Bagi klinisi rekam medis elektronik merupakan alat komunikasi terpadu antar tenaga kesehatan guna pengambilan keputusan dalam pemberian tindakan maupun diagnose kepada pasien. Rekam medis elektronik mempunyai fungsi reminder jika terdapat data yang tidak lengkap dalam pengisiannya. Lesson Learnt: sistem pengambilan keputusan berbasis rekam medis elektronik sangat berperan bagi pihak manajemen maupun bagi klinisi. Rekam medis elektronik mempunyai data yang sudah terintegrasi secara elektronik yang sangat penting digunakan sebagai data pendukung pengambilan suatu keputusan baik untuk manajemen maupun klinisi. Pada era digital sekarang ini, implementasi rekam medis elektronik di sarana pelayanan kesehatan sangat dianjurkan ditunjang dengan regulasi pemerintah dalam penerapannya
PISPK berbasis KKN: potensi program integrasi untuk menjangkau masyarakat kelompok rentan
Tujuan: Menggambarkan potensi integrasi Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK) dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai upaya penjangkauan masyarakat kelompok rentan.Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK) dilaksanakan oleh Puskesmas dengan mendatangi rumah-rumah penduduk guna memberikan layanan kesehatan di luar gedung. Tenaga kesehatan di Puskesmas merupakan aktor utama dalam pelaksanaan PISPK, namun kuantitas dan kualitas SDM yang ada banyak dilaporkan sebagai salah satu hambatan. Sembari mendapat pekerjaan untuk kunjungan rumah, upaya kesehatan lain yang telah dilakukan sejak awal juga tetap menjadi beban kerja yang perlu diselesaikan, sehingga waktu dan tenaga pelaksana PISPK menjadi terbatas. Selain itu, menjangkau seluruh rumah di wilayah kerja Puskesmas dengan berbagai hambatan geografis dan jumlah tenaga pelaksana yang ada juga sulit dilakukan.Di sisi lain, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan secara berkala di daerah 3T atau daerah yang membutuhkan oleh beberapa perguruan tinggi, memiliki potensi integrasi dengan PISPK. Kedatangan mahasiswa ke daerah dapat berperan sebagai pelaksana PISPK. Dalam melakukan pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa KKN akan banyak berinteraksi langsung dengan warga sekitar. Keterlibatan mahasiswa di masyarakat dapat meningkatkan akses layanan kesehatan primer pada kelompok masyarakat dengan situasi rentan. Persebaran lokasi KKN di seluruh Indonesia menumbuhkan potensi horizontal scaling up. Pelaksanaan KKN di lokasi yang sama untuk beberapa periode mendukung potensi keberlanjutan program. Dengan demikian, PISPK berbasis KKN perlu dipertimbangkan sebagai upaya peningkatan kesehatan dengan pendekatan keluarga, terutama dengan situasi rentan
Sistem pengelolaan sampah padat di ruang IGD RSUP Fatmawati Jakarta tahun 2018
Solid waste management system in the IGD room of Fatmawati Hospital, Jakarta in 2018Purpose: The purpose of the study was to see an overview of the medical solid waste management system in the Emergency Room of Fatmawati Hospital. This research is a qualitative descriptive study.Method: Data collection is done by in-depth interviews, observation and document review. The informants in this study were consisting of the Head of the Sanitation Installation Sub Department Fatmawati Hospital seven people, Solid Waste Management Staff, Cleaning Services, Nurses, and Second Parties (Vendors). This research was conducted in October-November 2018 at Fatmawati General Hospital. The variables examined from the input to the output of the solid waste management process.Results: The results of the study showed that the management of solid waste from facilities and was running normally.Conclusion: The amount of solid waste is 4 tons/day. The waste management in accordance with Minister of Health Regulation No.1204/MENKES/SK/X2004 except in the selection and transportation of medical waste
Sistem informasi geografis untuk pemetaan sebaran kasus tuberkulosis di wilayah kota Manado
Geographic information systems for mapping the distribution of tuberculosis cases in the City of ManadoPurpose: To describe the distribution of TB cases using spatial analysis such as overlay, buffer and cluster in Manado region 2018. Method: This study used survey research with cross sectional approach and Geographic Information System was used in Tuberculosis spreading cases mapping. Spatial clustering by SaTScan 9.6 and mapping by ArcMap 10.4.1.Results: In this study, the number of identifiable TB cases was 475 cases and spread in 10 sub-districts in the Manado region. The area with the highest number of TB cases was Wanea District, which was 112 (23.58%) and the area with few cases was Paal Dua District which was 23 (4.84%). Buffer analysis between the distance of the TB cases and the city center showed that the TB cases mostly had a residence with a distance of 2 km from the city center was 152 (32%). There are 6 clusters of TB cases in the city of Manado. 1st cluster was in Wanea district, 2nd cluster was in Singkil district, 3th cluster was between Malalayang district and Sario district, 4th cluster was located between Tuminting district and Bunaken district, 5th cluster was between Mapanget district and Singkil district, 6th cluster was between Wanea district, Wenang district, Sario district and Paal Dua district. Conclusion: Tuberculosis is a multifactorial disease. Geographical information systems for mapping the distribution of TB cases can be identified in areas that have special characteristics that can support transmission of TB. Mapping of Tuberculosis was expected to help in planning a program to restraint Tuberculosis in the Manado region.Tujuan: mendeskripsikan distribusi kasus TB menggunakan analisis spasial seperti overlay, buffer dan cluster di wilayah Manado 2018. Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian survei dengan pendekatan cross sectional dan Sistem Informasi Geografis digunakan dalam pemetaan kasus penyebaran Tuberkulosis. Pengelompokkan spasial oleh SaTScan 9.6 dan pemetaan oleh ArcMap 10.4.1. Hasil: Dalam penelitian ini, jumlah kasus TB yang dapat diidentifikasi adalah 475 kasus dan tersebar di 10 kecamatan di wilayah Manado. Daerah dengan jumlah kasus TB terbanyak adalah Kabupaten Wanea, yaitu 112 (23,58%) dan daerah dengan sedikit kasus adalah Kabupaten Paal Dua yaitu 23 (4,84%). Analisis buffer antara jarak kasus TB dan pusat kota menunjukkan bahwa kasus TB yang sebagian besar memiliki tempat tinggal dengan jarak 2 km dari pusat kota adalah 152 (32%). Ada 6 kelompok kasus TB di kota Manado. Simpulan: Penyakit TB adalah penyakit multifaktorial. Sistem informasi geografis untuk memetakan distribusi kasus TB dapat diidentifikasi daerah yang memiliki karakteristik khusus yang dapat mendukung penularan TB. Pemetaan Tuberkulosis diharapkan dapat membantu perencanaan program untuk menahan TBC di wilayah Manado
Implementasi Simpusta di kabupaten Tulungagung: mampukah sebagai sistem pendukung keputusan
Bermula dari kebutuhan puskesmas yang memiliki jenis pencatatan dan pelaporan yang sangat bervariasi dan banyak, oleh karenanya diperlukan sebuah sarana pencatatan dan pelaporan digital. Untuk mempersiapkan hal tersebut dibentuklah tim yang akan menjalankan kegiatan. Selanjutanya tim melakukan studi banding, menyiapkan konsep database yang sesuai dengan kondisi. Harapannya aplikasi yang akan dirancang ini mandiri secara internal. Langkah berikutnya melatih tim belajar Microsoft Acces 2003 sebagai pilihan saat itu. Pelatihan ini didesain menghasilkan aplikasi, jadi saat praktek langsung menyiapkan tabel, query dan form baik untuk input maupun output. Proses pelatihan berjalan selama 3 bulan dengan hasil sebuah aplikasi SIMPUSTA. Aplikasi mulai diimplemetasikan pada 5 puskesmas pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2015. Tahun 2016 melakukan perubahan kebijakan memakai SIKDA GENERIK 1.4, namun setelah tahun pertama digunakan masih belum memenuhi harapan dinas kesehatan maupun puskesmas. Dari evaluasi Tim SIK dan Kepala Dinas serta Kepala Bidang terhadap pelaksanaan SIKDA GENERIK 1.4, perlu dilakukan perbaikan system baik konten maupun koneksi dan kesulitan untuk mengakses menu laporan sesuai kebutuhan yang belum tersedia. Karena proses penanganan Pusdatin sangat lambat, kepala dinas kesehatan mengarahkan perlu mendesain ulang Versi Tulungagung seperti pada masa awal SIMPUSTA. Maka tim mulai bekerja dengan berbekal SK Kepala Dinas Kesehatan Nomor 188/4/23/103/2018 tentang TIM Pengelola Sistem Informasi Kesehatan
Masih perlukah program pelayanan kesehatan bergerak pada daerah terpencil, tertinggal dan kepulauan (pengobatan massal) gratis di provinsi Bengkulu?
Latar belakang: Sebagai upaya pemerataan pelayanan kesehatan di wilayah tertinggal Provinsi Bengkulu, Dinas Kesehatan mempunyai program Pelayanan Kesehatan Bergerak di Daerah Terpencil, Tertinggal dan Kepulauan (PKB DTPK). Beberapa kegiatan PKB DTPK yaitu pengobatan massal gratis, penyuluhan kesehatan, transfer ilmu tenaga kesehatan dari dokter, pemeriksaan gula darah dan asam urat serta pemberian bahan kontak berupa sabun mandi, sikat gigi dan pasta gigi kepada masyarakat. Adanya kemudahan biaya pada era BPJS saat ini dan beberapa kegiatan Puskesmas yang sering ke masyarakat sehingga perlu diadakan peninjauan kembali keefektifitasan dari program tersebut. Tujuan: Mengeksplorasi Keefektifan Kegiatan Program PKB DTPK. Metode: Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif. Informan penelitian ini adalah pengelola program sebanyak 2 orang melalui wawancara mendalam serta observasi data dan studi pustaka. Hasil: Program kunjungan PKB DTPK yang oleh Dinas Kesehatan Pada Tahun 2018 dilakukan hanya pada 24 Desa, yaitu 5 Desa dari sumber dana APBN dan 19 Desa dari sumber dana APBD, kunjungan dilakukan hanya satu kali pada satu desa dalam setahun karena keterbatasan anggaran. Penyakit yang banyak ditemui yaitu ISPA, Hipertensi, Chepalgia, Gastritis, dan lain sebagainya. Program PKB DTPK ini belum pernah dilakukan follow up sehingga untuk masyarakat dengan penyakit yang membutuhkan pengobatan secara berkala tidak ada penanganan selanjutnya. Program PKB DTPK seharusnya hanya dikhususkan untuk penyakit tertentu yang tidak bisa ditangani oleh Puskesmas seperti penyakit diabetes, hipertensi, filariasis, operasi katarak dan penyakit lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Simpulan: Program PKB DTPK yang dilakukan oleh Dinkes Provinsi Bengkulu sebaiknya dikhususkan untuk pengobatan pada penyakit yang tidak bisa ditangani oleh puskesmas.