Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
    1017 research outputs found

    PKBI Yogyakarta untuk ibu hamil di penjara:sebuah perspektif kesehatan masyarakat

    Get PDF
    Latar Belakang : Selama ini di Indonesia, tindak kejahatan yang dilakukan oleh laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang wajar, sedangkan jika dilakukan oleh perempuan justru sebaliknya. Anggapan tersebut menjadi paradigma patriarkal yang terkonstruksi di masyarakat. Akibatnya, kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk mengatur institusi penahanan belum sensitif gender. Kualitas pelayanan kesehatan di institusi penahanan masih belum diketahui dan sangat bervariasi di seluruh Indonesia akibat banyaknya keterbatasan. Keterbatasan data terkait pelayanan kesehatan bagi perempuan yang hamil di institusi penahanan berpotensi menyebabkan pelanggaran bagi hak janin dalam kandungan (yang bukan merupakan subyek penahanan). Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi persoalan pelayanan kesehatan bagi Ibu hamil di penjara, dari sudut pandang public health. Metode : Penulis melakukan Sistematic Review melalui pencarian dengan Google Scholar untuk memperoleh gambaran terkait pelayanan kesehatan yang diterima Ibu hamil di Lapas khusus perempuan kelas IIB Yogyakarta. Penelusuran dilakukan dengan cara memasukkan kata "hamil" "lapas" "yogyakarta". Hasil : Didapatkan hasil sebanyak 271 karya ilmiah (skripsi, thesis, jurnal). Dari total 271 hasil, hanya 6 karya ilmiah yang sesuai dan dapat menggambarkan kondisi pelayanan kesehatan Lapas Khusus Perempuan Kelas IIB Yogyakarta. Kendati demikian, kesemuanya tidak ditulis oleh tenaga kesehatan, masih terbatas pada sudut pandang hukum, sehingga pembahasan terkait pelayanan kesehatan masih kurang mendalam. Pembahasan : Di Yogyakarta, Lapas Perempuan Kelas IIB Yogyakarta belum memiliki poliklinik Lapas sendiri, sehingga ketersediaan tenaga kesehatan dan obat-obatan masih bergabung bersama Klinik Lapas Kelas IIA Wirogunan. Dampaknya, pernah terjadi keguguran pada WBP yang tidak mengetahui bahwa kondisinya sedang hamil, padahal sebelum masuk Lapas para WBP sudah di tes kehamilan terlebih dahulu. Pernah terjadi kasus meninggalnya janin dalam kandungan warga binaan perempuan (WBP) yang hamil 8 bulan. Terdapat pula kasus perempuan hamil dengan epilepsi yang tidak dapat mengkonsumsi pengobatan rutin karena keterbatasan dana membeli obat-obatan. Mengingat keterbatasan Lapas Kelas IIB Yogyakarta terkait fasilitas, ketersediaan tenaga kesehatan dan kemampuan WBP untuk menjangkau fasilitas kesehatan (termasuk obat – obatan), usulan program yang dirasa paling efektif ialah adanya kerjasama dengan pihak ketiga (LSM) PKBI dalam memberikan layanan kesehatan bagi Ibu hamil (UNODC, 2019). Kerjasama ini berpeluang untuk dilaksanakan di Indonesia dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1999 tentang Kerjasama Penyelenggaraan Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan, yang isinya menyatakan mengijinkan  permohonan kerjasama pembinaan dan atau pembimbingan bidang kesehatan.

    Audit maternal perinatal namun kematian ibu dan anak masih tinggi di kabupaten Sinjai: evaluasi program 2019

    No full text
    Latar belakang: Pelaksanaan Audit maternal perinatal (AMP) sudah lima kali dilakukan sejak tahun 2017. Kematian ibu 46 , neonatal dan bayi sebanyak 535 selama lima tahun terakhir 2014-2018. Namun pelaksanaan  AMP belum memperlihatkan hasil yang maksimal karena kematian tetap saja tinggi sementara cakupan K4 dan persalinan oleh tenaga kesehatan >90%. Metode: Deskriptif, observasi dan wawancara serta penulis juga ikut dalam  pelaksanaan AMP April 2019 sebagai peserta independen. Unit analisisnya  pencatatan pelaporan program AMP di Dinas Kesehatan, Rumah sakit dan Puskesmas. Responden pengelola kesehatan ibu dan anak (KIA). Hasil: Rata-rata umur petugas AMP adalah 44 tahun dan bertugas 21 tahun.  Pendidikan D4 (87,5%) dan 6,6% pernah pelatihan pelaksanaan AMP.  Puskesmas yang mempunyai buku pedoman AMP 50% dan semua memiliki formulir pemberitahuan kematian. Semua puskesmas melakukan otopsi verbal setelah melaporkan kematian kurang dari 24 jam namun tidak memiliki arsip. Tidak ada grafik, peta dan tabel di Puskesmas, data disajikan dalam bentuk narasi saja. Dinas kesehatan mengundang Rumah sakit, dan Puskesmas melakukan AMP melibatkan spesialis anak dan obgyn Provinsi namun hanya melaksanakan fase audit, rekomendasi AMP sebelumnya belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Simpulan: Pelaksanaan AMP di kabupaten Sinjai belum melaksanakan fase persiapan dan fase diseminsasi. Perlu pelaksanaan kegiatan AMP Puskesmas, penyebarluasan  lintas sektor secara rutin, dan pelatihan AMP kepada pengelola program KIA dalam hal teknis maupun program untuk meningkatkan program AMP di Kabupaten Sinjai

    Tradisi dan kebiasaan malam hari dalam penerapan surveilens migrasi di daerah perbatasan bukit Menoreh

    No full text
    Tujuan: Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh tradisi, kebiasaan, dan adat budaya (perilaku sosial) dalam penerapan surveilens migrasi sebagai salah satu pengendalian malaria di Bukit Menoreh. Metode:  Pengumpulan dan pengolahan data dilakukan secara kualitatif, yaitu pendekatan eksplorasi dan pengumpulan data secara Diskusi Kelompok Terarah dan observasi di wilayah Bukit Menoreh. Hasil: 1).  Upaya surveilens migrasi sudah dikenal dan sudah dilakukan di wilayah Bukit Menoreh, baik tertulis (Perdes) maupun tidak tertulis (kesepakatan bersama); 2). Kebiasaan minum kopi di angkringan, hiburan malam, kegiatan malam hari seperti bekerja, pengajian, kenduri, silaturahmi kerabat, hajatan, sudah merupakan tradisi atau kebiasaan dan tidak mengenal batas wilayah administrative; 3). Kesulitan dalam memantau pendatang atau mobilitas warga masyarakat paada malam hari dalam rangka surveilens migrasi di daerah perbatasan. Simpulan: Batasan kasus indigenous dan kasus import perlu diperjelas dalam kaitan pelaksanaan sureveilens migrasi terutama di daerah perbatasan

    Intervensi kampanye isi piringku pada siswa-siswi SD dalam upaya memperbaiki status gizi

    Get PDF
    Latar Belakang: Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013, secara nasional prevalensi kurus (menurut IMT/U) pada anak usia 5-12 tahun adalah 11,2 %. Prevalensi anak usia 5-12 tahun dengan status sangat kurus paling tinggi berada di wilayah Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 7,8%. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan mengkampanyekan Isi Piringku.Isi: Melalui kegiatan Ekspedisi Nusantara Jaya 2018 yang dinaungi oleh Kementerian Koordinator Kemaritiman Republik Indonesia, penulis tergabung dalam Tim UGM Divisi Kesehatan untuk melaksanakan pengabdian masyarakat di Kecamatan Hawu Mehara Kabupaten Sabu Raijua Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan diawali dengan assesment tinggi badan dan berat badan siswa-siswi kelas 4 sampai 6 SD yang ada di 4 Sekolah Dasar. Hasil assesment menunjukkan bahwa rata-rata tinggi badan siswa-siswi yaitu 126 cm dengan rata-rata berat badan 23,42 kg. Berdasarkan hasil assesment, maka penulis bersama tim memutuskan untuk melakukan kampanye Isi Piringku ke sekolah-sekolah tersebut. Kegiatan dilakukan sesuai dengan kondisi yang ada dengan memperhatikan sasaran seperti sosialisasi gizi seimbang dengan contoh sumber makanan yang tersedia di wilayah tersebut, menyanyikan lagu edukatif, bermain permainan edukatif dan membagikan stiker, sehingga siswa-siswi mudah memahami dengan baik.Lesson Learned: Selama pelaksanaan kegiatan, tim mengalami beberapa kendala seperti terbatasnya transportasi, komunikasi/bahasa dan media kampanye. Namun demikian, kendala tersebut dapat diatasi dengan adanya dukungan dari pihak sekolah maupun masyarakat setempat. Hal ini membuktikan bahwa partisipasi masyarakat dan pihak-pihak terkait sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu kegiatan maupun program

    [PHSS] MENINGKATKAN PROMOSI KESEHATAN GIGI DI PUSKESMAS

    No full text
    Purpose : adanya perubahan perilaku dari masyarakat kearah perilaku sehat sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal.Isi : Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat merupakan sarana kesehatan yang sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Untuk itu peranan puskesmas hendaknya tidak lagi menjadi sarana pelayanan pengobatan dan rehabilitatif saja tetapi juga lebih ditingkatkan pada upaya promotif dan preventif. Oleh karena itu promosi kesehatan gigi menjadi salah satu upaya wajib di puskesmas. Salah satu promosi kesehatan gigi di puskesmas adalah menyelenggarakan penyuluhan. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut adalah usaha terencana dan terarah untuk menciptakan suasana agar seseorang atau kelompok masyarakat mau mengubah perilaku lama yang kurang menguntungkan untuk kesehatan gigi, menjadi lebih menguntungkan untuk kesehatan giginya. Lesson Learned : Hasil yang diharapkan dari penyuluhan kesehatan gigi dalam jangka pendek adalah tercapainya perubahan pengetahuan dari masyarakat. Dalam tujuan jangka menengah, hasil yang diharapkan adalah adanya peningkatan pengertian, sikap, dan keterampilan yang akan mengubah perilaku masyarakat kearah perilaku sehat. Tujuan jangka panjang adalah masyarakat dapat menjalankan perilaku sehat dalm kehidupan sehari-harinya

    Implementasi Penerapan WHO Code Dalam Pembatasan Produk Penganti ASI Susu Formula Studi Kasus PT. Tigaraksa Satria, Tbk Cabang Yogyakarta

    Get PDF
    Abstrak: Judul Implementasi Penerapan WHO Code Dalam Pembatasan Produk Penganti ASI Susu Formula Studi Kasus PT. Tigaraksa Satria, Tbk Cabang Yogyakarta  Tujuan Untuk melihat implementasi penerapan WHO Code Pemasaran produk Pengganti ASI susu formula oleh PT. Tigaraksa Satria Cabang Kota Yogyakarta terhadap channel-channelnyaMetode Peneletian Kualitatif dengan studi kasus mengenai implementasi penerapan WHO Code Pemasaran Produk Pengganti ASI susu formula oleh PT. Tigaraksa Satria Cabang Kota Yogyakarta. Deep interview dengan aktor-aktor implementator kebijkan.Hasil Implementasi penerapan WHO Code Code Pemasaran Produk Pengganti ASI susu formula oleh PT. Tigaraksa Satria Cabang Kota Yogyakarta sudah dilaksanakan dengan baik kepada channel-channelnya ini dibuktikan dengan tanda terima surat pemberitahuan WHO Code dan wawancara dengan buyer dan userKesimpulan Implementasi penerapan WHO Code Pemasaran Produk Pengganti ASI susu formula oleh PT. Tigaraksa Satria Cabang Kota Yogyakarta agar lebih maksimal dengan perlu adanya dukungan dari aktor-aktor yang bertanggung jawab pada produksi (principal), distributor, petugas kesehatan dan masyarakat userKeywords Implementasi, WHO Code, Susu Formul

    Pengaruh Aplikasi "Remaja Cerdik Mobile" Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Efikasi Diri Remaja Tentang Pencegahan Prediabetes

    Get PDF
    The influence of the application of "Clever Teen Mobile" on the knowledge, attitudes and self-efficacy of adolescents about the prevention of prediabetesPurpose: The current lifestyle of adolescents is believed to be the most dominant factor in the increasing incidence of prediabetes. This situation is at high risk of developing Diabetes Mellitus if no lifestyle changes are made. Raising health promotion by utilizing technological sophistication in the form of an android-based application can be a media for health promotion for teenagers. This study aims to determine the effect of android-based applications "Remaja Cerdik Mobile" on adolescent knowledge, attitudes and self-efficacy about prevention of Prediabetes. Method: This study uses a quasi-experimental method with a non equivalent control group design with pretest-posttest design. The number of respondents is 100 high school students in the city of Semarang. Data analysis used the One Way repeated measures ANOVA test.Results: The results of the development of application media obtained material about the knowledge and prevention of prediabetes which includes articles, images, quizzes, videos and tracker updates. Quantitative research shows that there is the influence of android-based applications "Remaja Cerdik Mobile" in increasing adolescents' knowledge, attitude and self-efficacy about prevention of prediabetes. Conclusion: This android-based applications "Remaja Cerdik Mobile" can be an alternative in the use of health promotion media as a means of educational information communication for adolescents in prediabetes prevention.Background: The current lifestyle of adolescents is believed to be the most dominant factor in the increasing incidence of prediabetes. This situation is at high risk of developing Diabetes Mellitus if no lifestyle changes are made. Raising health promotion by utilizing technological sophistication in the form of an android-based application can be a media for health promotion for teenagers.Objective: This study aims to determine the effect of android-based applications "Remaja Cerdik Mobile" on adolescent knowledge, attitudes and self-efficacy about prevention of Prediabetes.Method: This study uses a quasi-experimental method with a non equivalent contol group design with pretest-posttest design. The number of respondents is 100 high school students in the city of Semarang. Data analysis used the One Way repeated measures ANOVA test.Results: The results of the development of application media obtained material about the knowledge and prevention of prediabetes which includes articles, images, quizzes, videos and tracker updates. Quantitative research shows that there is the influence of android-based applications "Remaja Cerdik Mobile" in increasing adolescents' knowledge, attitude and self-efficacy about prevention of prediabetes. This android-based applications "Remaja Cerdik Mobile"  can be an alternative in the use of health promotion media as a means of Educational Information Communication for adolescents in Prediabetes prevention

    HUBUNGAN STATUS KESEHATAN DENGAN KEMATIAN JEMAAH HAJI EMBARKASI SOLO ANALISIS DATA SISKOHATKES TAHUN 2016 – 2018

    No full text
    Health status with the death of jemaah hajj embarkation Solo: siskohatkes data analysis in 2016-2018Purpose: This study aims to determine the relationship of health status, relationship between sex factors, level of education, occupation and distance of accommodation in Saudi Arabia with the death of HOC pilgrims for 2016-2018 Method: A case-control study without matching (unmatching) using secondary data from the Health Hajj Computerized Integrated Health Sector (Siskohatkes) Ministry of Health of the Republic of Indonesia. The population in this study was the HOC Embarkation pilgrims, when organizing Hajj in 2016-2018. The case group is the hajj pilgrims who died during the 2016-2018 pilgrimage that met the inclusion criteria. The control group is pilgrims who live until the end of the pilgrimage with a case-control ratio of 1: 1. Samples were taken by stratified random sampling method. Bivariable analysis using chi-square test, multivariable analysis using logistic regression test (logistic regression). Results: The health status of haj pilgrims is the most significant variable related to the death of HOC pilgrims Embarkation SOC in 2016-2018, in multivariable analysis, high-risk health status has a value of OR = 7.83 (p-value = 0.001, 95% CI = 2, 99 - 20.49). Other variables also related to the death of the pilgrims are gender (OR = 1.87, p-value = 0.003, 95% CI = 1.24 -2.84), education level (OR = 1.86, p-value = 0.004, 95 % CI = 1.22 - 2.84). Employment variables show protective results against the deaths of pilgrims (OR = 0.63, p-value = 0.039, 95% CI = 0.41 - 0.98). Conclusion: Death of Haj pilgrims Embarkation of SOC in 2016-2018 is related to health status, gender, education level and employment of pilgrims. The development of the health of pilgrims in the waiting period before departure needs to be increased in order to reduce the number of morbidity and mortality of pilgrims during the implementation of the pilgrimage.Latar belakang: Ibadah haji merupakan salah satu ibadah wajib bagi umat Islam yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Tingginya minat berhaji, membuat panjang masa tunggu keberangkatan, yang mungkin saja dapat mengubah status kesehatan jemaah calon haji menjadi jemaah haji dengan status kesehatan risiko tinggi. Embarkasi Solo (SOC) melayani pemberangkatan jemaah haji dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah dengan masa tunggu keberangkatan lebih dari 20 tahun. Kematian jemaah haji Embarkasi SOC masih tinggi yaitu > 2 kematian /1000 jemaah haji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status kesehatan dengan kematian jemaah haji Embarkasi SOC tahun 2016-2018 yang dikontrol dengan variabel jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan  dan  jarak pemondokan di Saudi ArabiaMetode Penelitian: case-control study menggunakan data sekunder dari Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang Kesehatan (Siskohatkes) Kementerian Kesehatan RI. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh  jemaah haji Embarkasi SOC, saat penyelenggaraan haji  tahun 2016-2018. Kelompok kasus adalah jemaah haji wafat yang memenuhi kriteria inklusi. Kelompok kontrol adalah jemaah haji yang hidup hingga selesai masa pelaksanaan haji dengan perbandingan kasus – kontrol 1:1. Sampel  diambil dengan metode stratified random sampling.  Analisis bivariabel menggunakan uji chi square, analisis  multivariabel menggunakan uji logistic regression.Hasil: Secara statistik variabel status kesehatan berhubungan   signifikan dengan variabel kematian jemaah haji Embarkasi SOC tahun 2016-2018. Hasil  analisis multivariabel, status kesehatan dikontrol oleh variabel demografi memiliki  nilai OR =7,83 ( p value = 0,001, 95% CI = 2,99 – 20,49). Variabel jenis kelamin  sebagai variabel confounding antara hubungan status kesehatan dengan kematian jemaah haji. Variabel pendidikan sebagai faktor risiko kematian jemaah haji.  Analisis mutivariabel status kesehatan dikontrol jarak pemondokan dengan tempat ibadah di Saudi Arabia menunjukan bahwa variabel jarak pemondokan secara statistik tidak berpengaruh pada hubungan antara status kesehatan dengan kematian jemaah haji.Kesimpulan: Kematian jemaah haji Embarkasi SOC  tahun 2016-2018 berhubungan dengan status kesehatan, jenis kelamin dan  tingkat pendidikan dari jemaah haji. Pembinaan kesehatan jemaah haji dalam masa tunggu sebelum  keberangkatan perlu ditingkatkan agar dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian jemaah haji saat pelaksanaan ibadah haji.

    ANALISIS SPASIAL DAN FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KECAMATAN LIMBOTO KABUPATEN GORONTALO

    No full text
    Spatial analysis of environmental factors associated with dengue hemorrhagic fever (DHF) in Limboto, GorontaloPurpose: Identifying spatial distribution of DHF Incidence and analyzing environment against incidence of DHF in Limboto, Gorontalo. Method: Type of study was observational and used cross sectional study design supported by Geographic information System (GIS) to collect spatial information. Results: Main result by poisson regression test showed association between physical environment variable such as precipitation (in same, previous, and previous two months), temperature (in same, previous, and previous two months), humidity (in same, previous, and previous two months), wind velocity (in same, previous, and previous two months). Variables of precipitation, humidity, and wind velocity in the previous two months showed weak coefficient correlation and negative. Conclusion: Pattern of Dengue hemorrhagic fever (DHF) incidence following fluctuation of physical environment. Precipitation in the previous two mounts, humidity, and wind velocity in the same months. The results show that the District Health Office Gorontalo may consider physical environment factors in DHF's prevention program.Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is diseases caused by dengue virus. DHF transmitted by mosquito bites from Aedes genus Aedes, mainly Aedes aegypti or Aedes albopictus. DHF is emerging over the year and attacking all of age groups.  It related to environmental condition and community behaviour. Incidence Rate (IR) of DHF from 1968 till now tend to showed improvement. Incidence rate of it showed extremely reduction from 2010 to 2011 and rising from 2012 to 2013 (41,25 per 100.000 person). DHF in Gorontalo has been endemic diseases every years and reported deaths of patient in this cases. Based on data of Districts Health Office Gorontalo, showed incidence of DHF has raised during last six years on 2010-2015. The extreme improvement DHF incidence on 2010 amounts 167 cases (3 person died) and the lowest reduction of DHF incidence on 2011 amounts 4 cases (1 person died). Objective: Identifying spatial distribution of DHF Incidence ana analyzing environment againts incidence of DHF in Limboto, Gorontalo.Method: Type of study was observational used cross sectional study design supported by Geographic information System (GIS) to collected spatial information.Result: Main result by poisson regression test showed association between physical environment variable such as precipitation (in same, previous, and previous two months), temperature (in same, previous, and previous two months), humidity (in same, previous, and previous two months), wind velocity (in same, previous, and previous two months). Variable of precipitation, humidity, and wind velocity in previous two months showed weak coefficient correlation and negative.Conclusion: Pattern of Dengue hemorrhagic fever (DHF) incidence following fluctuation of physical environment. Precipitation in previous two mounts, humidity, and wind velocity in same monts. The results show that the need for the District Health Office Gorontalo may considered physical environment factors on DHF’s prevention program.

    Hospital safety performance (case study of Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta)

    No full text
    Performansi K3 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta termasuk yang terbaik beberapa tahun terahkir. Permasalahannya adalah pengukuran performansi K3 masih menggunakan pendekatan jumlah kejadian. Seharusnya sudah mulai menggunakan pendekatan pengukuran perilaku pencegahan kejadian. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan secara statistik hasil pengukuran performansi kerja berdasarkan perilaku mengikuti prosedur untuk mencegah kejadian. Penelitian menggunakan metode expost facto dengan 360 perawat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sebagai responden  sampel dari 1024 populasi di tahun 2016 yang berasal dari semua bagian yang berpotensi risiko cedera tertusuk dan tersayat (CTS).Hasil penilitian menunjukkan adanya Kecenderungan performansi dengan persentase 52,24 % masuk kategori sangat tinggi, 35,24 % tinggi, 10,02% sedang, 1,97% rendah, dan hanya 0,54% masuk dalam kategori kecenderungan sangat rendah. Hal tersebut mengindikasikan responden masuk dalam kategori performansi yang sudah sangat tinggi.Kesimpulannya adalah Performansi K3 yang bersifat positif menjadi tolok ukur utama dalam penerapan sistem manajemen K3 di rumah sakit, untuk menekan angka kejadian CTS yang bersifat reaktif. Sangat direkomendasikan bagi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta untuk meningkatkan pengelolaan iklim K3 dan memperkuat budaya K3, yang ditandai dengan performansi positif berupa perilaku pencegahan cedera dan atau kecelakaan  di setiap lingkungan unit kerja

    498

    full texts

    1,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berita Kedokteran Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇