Berita Kedokteran Masyarakat
Not a member yet
1017 research outputs found
Sort by
Pengalaman ODHA Dalam Mengakses Terapi ARV (Studi Kualitativ)
Latar Belakang : Secara global, permasalahan kesehatan yang belum dapat ditemukan obatnya sampai saat ini adalah obat untuk HIV AIDS. Penderita HIV AIDS semakin tahun semakin meningkat. Saat ini terdapat 2,1 juta infeksi baru HIV yang menyebabkan sekitar 36,7 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV dan 1,1 juta kematian akibat HIV AIDS hingga akhir tahun 2015. Indonesia memiliki jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Desember 2017 sebanyak 280.623 dan kumulatif AIDS sebanyak 102.667 orang. Provinsi Bengkulu hingga Desember tahun 2017 melaporkan HIV 625 kasus, AIDS 360 kasus hingga total angka HIV AIDS adalah 985 kasus. Beberapa penelitian telah meneliti hubungan antara HIV, stigma dan akses terapi ARV terhadap kepatuhan terapi antiretroviral dan mengatakan bahwa untuk meningkatkan jumlah ODHA yang mengikuti terapi ARV.Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang pengalaman ODHA dalam mengakses terapi ARV.Metode : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan penelitian fenomonologi. Teknik simpel random sampling digunakan untuk mendapatkan informan, sesuai kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada 10 informan utama dan 4 informan pendukung sebagai significant others. Keabsahan data melalui triangulasi, member checking dan peer debriefing dan dilakukan di klinik CST RSUD Dr M Yunus Bengkulu.Hasil : Memutuskan untuk memulai pengobatan ARV juga bukan merupakan hal yang mudah bagi ODHA. ODHA memahami bahwa HIV AIDS adalah penyakit yang harus diberikan penanganan segera yaitu minum obat ARV. Menerima dengan ikhlas adalah cara ODHA berdamai dengan hatinya. Jarak rumah dengan layanan kesehatan serta waktu tempuh, biaya yang harus dikeluarkan, kemudahan dalam proses pengurusan administrasi dan ketersediaan obat merupakan hal – hal yang sangat berkaitan dengan ODHA dalam mengakses terapi ARV. Layanan petugas kesehatan, dukungan keluarga, waktu tunggu dilayanan kesehatan dan stigma dari masyarakat sangat mempengaruhi ODHA dalam mengakses terapi ARV.Kesimpulan: tidak terjangkaunya akses layanan menjadi masalah utama bagi ODHA, perlunya ada penngembangan program baru dalam mengatasi masalah ini, sehingga ODHA dapat mengakses layanan kesehatan tanpa harus menerima stigma buruk dari masyarakat.
Stigma, depresi, dan kualitas hidup penderita HIV: studi pada komunitas "lelaki seks dengan lelaki" di Pematang Siantar
Stigma, depression, and quality of life of patients with HIV infection: A community-based study on “men who have sex with men” in PematangsiantarPurpose: This study correlates HIV-related stigma and depression level to quality of life of “men who have sex with men” (MSM) living with HIV infection in Pematangsiantar. Method: This is a cross-sectional study using analytical survey method. The population are all MSM living with HIV infection within the MSM community in Pematangsiantar (32 respondents). Data collected through questionnaires, interview, and observation. HIV-related stigma is considered from community’s as well as patients’ point of view, and measured by Explanatory Model Interview Catalogue Community Stigma Scale (EMIC-CSS). Depression level is measured by modified CES-D questionnaire, while quality of life is measured by Indonesian version of WHOQOL-HIV BREF.Results: The results show that HIV-related (considered as negative) stigma from community and depression level are associated with quality of life of people living with HIV infection in MSM community in Pematangsiantar. The most dominant variable is depression with Exp B = 37.653.Conclusion: HIV-related stigma and depression are contributed to the quality of life of MSM with HIV infection in Pematangsiantar, therefore community acceptance as well as reducing depression condition are needed to improve the quality of life of MSM in Pematangsiantar.Kualitashidup penderita HIV pada komunitas LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki) di Kota Pematangsiantar kurang baik.Kualitas hidup yang kurang baik tersebut terkait dengan stigma negatif masyarakat terhadap HIV, depresi dan dukungan keluarga.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan yang memengaruhi kualitas hidup penderita HIV pada komunitas LSLdi Kota Pematangsiantar. Jenis penelitian ini adalah survei yang bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita HIV pada komunitas LSL di Kota Pematangsiantarsebanyak 32 orang. Data diperoleh dengan wawancara kuesioner dan observasi, dianalisis dengan uji statistik Regresi Logistik Berganda pada α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor stigma negatif masyarakat dan depresi berpengaruh terhadap kualitas hidup penderita HIV pada komunitas LSL di Kota Pematangsiantar, sedangkan faktor dukungan keluarga tidak berpengaruh terhadap kualitas hidup penderita HIV pada komunitas LSL di Kota Pematangsiantar,serta variabel yang paling dominan memengaruhi kualitas hidup penderita HIV pada komunitas LSL di Kota Pematangsiantar adalah variabel depresi dengan RP = 37.653, artinya bahwa penderita HIV yang semakin depresi kemungkinan 37,653 kali kualitas hidupnya semakin buruk dibandingkan dengan yang tidak depresi. Disarankan kepada masyarakat sebaiknya menerima keberadaan penderita HIV pada komunitas LSL sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup penderita HIV tersebut, dan kepadapetugaskesehatan Kota Pematangsiantar untuk melakukan pendekatan ke komunitas LSL melalui pendekatan ke group atau kelompok komunitas LSL tersebut, sehingga dapat dilakukan penyuluhan kesehatan dan konseling yang dapat mengurangi depresi pada komunitas LSL tersebut, serta kepada keluarga LSL hendaknya lebih meningkatkan dukungan moral kepada LSL dengan menerima keadaan anggota keluarga yang mengalami HIV dan lebih terbuka tentang masalah yang dihadapi, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup penderita HIV.To approve a single suggestion, mouse over it and click "✔"Click the bubble to approve all of its suggestions
Pengembangan metode baru dalam deteksi plasmodium knowlesi pada manusia
Tujuan: Penelitian ini bertujuan meriview perkembangan metode baru dalam deteksi Plasmodium knowlesi pada manusia. Metode: Metode pada penelitian ini, yaitu (1)Skrining Data.Telaah ini dilakukan pengkajian menggunakan panduan preffered reporting items for systematic review and meta analysis (PRISMA) terhadap artikel-artikel pada junal, buku , laporan dan tesis berupa data nyamuk, lokasi daerah, jenis plasmodium dan jenis uji serologis. Kata kunci yang digunakan dalam pemilihan artikel adalah Plasmodium knowlesi pada manusia. Springer database digunakan dalam penjelajahan di internet. (2) Seleksi Artikel. Kriteria inklusi adalah (1) artikel yang berisi uraian RDT dan PCR tentang Plasmodium knowlesi; (2) artikel yang berisi artikel Plasmodium knowlesi pada manusia. Kriteria eksklusi adalah (1) artikel yang ditulis selain menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa inggris; (2) artikel berupa review, laporan singkat dan laporan hasil thesis atau disertasi. Hasil: (1)Poimerase Chain Reaction. PCR merupakan alat serologis yang digunakan mendeteksi P.knowlesi pada manusia. Di Brasil Pemeriksaan pada fisik manusia ditemukan pasien mengalami demam tinggi dengan suhu 40˚C, jaundice, mengalami anemia, abnormalitas nilai leukosit, trombositopenia, Serum GPT tinggi dan plasma laktat mengalami peningkatan. Pada test Rapid Diagnose Test (RDT) negatif. Uji mikroskopis positif dan PCR ditemukan pada pita ke 65. Pengembangan baru metode pengambilan sampel pada Macaca melalui urine dan feses, ditemukan dengan adanya peningkatan uinary hemoglobine level sebesar pada hari ke 11 pasca infeksi. (2) RDT. RDT merupakan alat serologis yang digunakan mendeteksi P.knowlesi pada manusia. Di Vietnam dilaporkan pemeriksaan pada anak usia kurang dari 5 tahun dan usia remaja positif mendeteksi P.knowlesi pada manusia. Pemeriksaan RDT menggunakan OptiMAL-IT, BinaxNOW® Malaria, and Paramax-3. Dari 28 sampel pasien malaria yang diuji 71% positif memakai RDT OptiMAL-IT dan Binax-Now yang paling rendah sensitifitasnya sebesar 29%. Hasil test RDT pada kadar parasetemia antara 1000-5000 pada ketiga jenis RDT , positif ditemukan P.knowlesi. (3) Pan lamp kit. merupakan alat deteksi baru yang dapat mengenali asam nukleat masing masing genus Plasmodium yang merupakan harapan baru untuk mendeteksi P.knowlesi. Kesimpulan: Penggunaan alat pendeteksi serologis P.knowlesi yaitu RDT, PCR dan Pan Lamp dapat digunakan untuk mendeteksi adanya P.knowlesi. Pan lamp merupakan alat terbaru yang terbaik dibandikan dengan RDT dan PCR.Tujuan: Penelitian ini bertujuan meriview perkembangan metode baru dalam deteksi Plasmodium knowlesi pada manusia. Metode: Metode pada penelitian ini, yaitu (1)Skrining Data: Telaah ini dilakukan pengkajian menggunakan panduan preffered reporting items for systematic review and meta analysis (PRISMA) terhadap artikel-artikel pada junal, buku , laporan dan tesis berupa data nyamuk, lokasi daerah, jenis plasmodium dan jenis uji serologis. Kata kunci yang digunakan dalam pemilihan artikel adalah Plasmodium knowlesi pada manusia. Springer database digunakan dalam penjelajahan di internet. (2)Seleksi Artikel: Kriteria inklusi adalah (1) artikel yang berisi uraian RDT dan PCR tentang Plasmodium knowlesi; (2) artikel yang berisi artikel Plasmodium knowlesi pada manusia. Kriteria eksklusi adalah (1) artikel yang ditulis selain menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa inggris; (2) artikel berupa review, laporan singkat dan laporan hasil thesis atau disertasi. Hasil: (1) Poimerase Chain Reaction. PCR merupakan alat serologis yang digunakan mendeteksi P.knowlesi pada manusia. Di Brasil Pemeriksaan pada fisik manusia ditemukan pasien mengalami demam tinggi dengan suhu 40˚C, jaundice, mengalami anemia, abnormalitas nilai leukosit, trombositopenia, Serum GPT tinggi dan plasma laktat mengalami peningkatan. Pada test Rapid Diagnose Test (RDT) negatif. Uji mikroskopis positif dan PCR ditemukan pada pita ke 65. Pengembangan baru metode pengambilan sampel pada Macaca melalui urine dan feses, ditemukan dengan adanya peningkatan uinary hemoglobine level sebesar pada hari ke 11 pasca infeksi. (2) RDT. RDT merupakan alat serologis yang digunakan mendeteksi P.knowlesi pada manusia. Di Vietnam dilaporkan pemeriksaan pada anak usia kurang dari 5 tahun dan usia remaja positif mendeteksi P.knowlesi pada manusia. Pemeriksaan RDT menggunakan OptiMAL-IT, BinaxNOW® Malaria, and Paramax-3. Dari 28 sampel pasien malaria yang diuji 71% positif memakai RDT OptiMAL-IT dan Binax-Now yang paling rendah sensitifitasnya sebesar 29%. Hasil test RDT pada kadar parasetemia antara 1000-5000 pada ketiga jenis RDT , positif ditemukan P.knowlesi. (3)Pan lamp kit. merupakan alat deteksi baru yang dapat mengenali asam nukleat masing masing genus Plasmodium yang merupakan harapan baru untuk mendeteksi P.knowlesi. Kesimpulan: Penggunaan alat pendeteksi serologis P.knowlesi yaitu RDT, PCR dan Pan Lamp dapat digunakan untuk mendeteksi adanya P.knowlesi. Pan lamp merupakan alat terbaru yang terbaik dibandikan dengan RDT dan PCR
Edukasi cuci tangan terhadap pengetahuan dan perilaku kebersihan pada ibu balita di kota Tangerang
Latar belakang: Status gizi bayi dan balita merupakan salah satu indikator gizi masyarakat, dan bahkan telah dikembangkan menjadi salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa sebesar 18,0% balita menderita status gizi sangat pendek dan 19,2% pendek. Target gizi kurang berdasarkan MDGs 15,5%. Penelitian ini mempunyai tujuan tujuan umum adalah menganalisis edukasi cuci tangan terhadap pengetahuan dan perilaku kebersihan pada ibu-ibu balita. Sedangkan tujuan khusus adalah: 1)Mengidentifikasi karakteristik balita meliputi umur dan jenis kelamin balta, 2) Mengidentifikasi karakteristik orang tua meliputi pendidikan, pekerjaan,3) Menganalisis pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi.pada ibu-ibu balita, 4) Menganalisis pengetahuan sesudah edukasi antara kelompok perlakuan dan kasus dan kontrol. Metode: Rancangan penelitian ini adalah quasi ekperimen pada dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yang dilakukan di wilayah Kecamatan Neglasari Kota Tangerang pada bulan September 2018. Jumlah sampel ibu balita sebanyak 40 orang ibu balita yang mendapat perlakuan edukasi cuci tangan dan 40 orang ibu balita yang tidak mendapatkan perlakuan edukasi cuci tangan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Hasil: Dari hasil analisis data penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa besarnya masalah stunting pada batita sebesar 28,0% dan 20,9% terjadi pada batita usia 0-23 bulan. Sebanyak 31,1% batita menderita Diare pada 1 bulan yang lalu dan 31,4% dan menderita ISPA. Kebiasaan pengasuh tidak mencuci tangan dengan sabun 23,9%, kebiasaan ibu/pengasuh tidak mencuci tangan setelah BAB sebesar 4,9%. Bila dilihat berdasarkan kelompok umur balita menunjukkan bahwa sampel balita yang berusia 0-23 bulan sebanyak 46,2% dan yang berusia di atas 23 bulan sebesar 58,3%. Berdasarkan pekerjaan Orang tua, ditemukan sebanyak 81,2% ibu yang tidak mempunyai pekerjaan atau sebagai ibu rumah tangga. Demikian juga ayah sebagian besar mempunyai pekerjaan sebagai sebagai home industri. Proporsi balita yang stunting cukup tinggi sebesar 22,6% lebih rendah dari hasil Pemantauan Status Gizi tahun 2016 sebesar 27,5%. Bila status gizi berdasarkan indeks TB/U dikaitkan dengan kelompok umur maka masalah stunting terjadi pada semua kelompok umur yaitu sebesar 24,3% pada usia di bawah 23 bulan dan sebesar 20,9% pada usia 23 bulan ke atas. Dari 33,1% balita pendek, sebanyak 16,2% balita mempunyai berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) normal yang berpotensi mengalami kegemukan. Sebanyak 57,5% pengetahuan ibu tentang cuci tangan dalam kategori kurang dan 42,5% dalam kategori baik. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi (p<0,05) dan ada perbedaan skor pengetahuan pada kelompok edukasi dan tidak edukasi (p<0,05). Simpulan: Rekomendasi yang disampaikan bahwa nampaknya edukasi cuci tangan dapat meningkatkan pengetahuan ibu balita sehingga diharapkan ibu balita mempunyai kebiasaan perilaku cuci tangan. Untuk itu materi cuci tangan hendaknya disisipkan pada setiap penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas.Latar belakang: Status gizi bayi dan balita merupakan salah satu indikator gizi masyarakat, dan bahkan telah dikembangkan menjadi salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa sebesar 18,0% balita menderita status gizi sangat pendek dan 19,2% pendek. Target gizi kurang berdasarkan MDGs 15,5%. Penelitian ini mempunyai tujuan tujuan umum adalah menganalisis edukasi cuci tangan terhadap pengetahuan dan perilaku kebersihan pada ibu-ibu balita. Sedangkan tujuan khusus adalah: 1)Mengidentifikasi karakteristik balita meliputi umur dan jenis kelamin balta, 2) Mengidentifikasi karakteristik orang tua meliputi pendidikan, pekerjaan,3) Menganalisis pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi.pada ibu-ibu balita, 4) Menganalisis pengetahuan sesudah edukasi antara kelompok perlakuan dan kasus dan kontrol. Metode: Rancangan penelitian ini adalah quasi ekperimen pada dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yang dilakukan di wilayah Kecamatan Neglasari Kota Tangerang pada bulan September 2018. Jumlah sampel ibu balita sebanyak 40 orang ibu balita yang mendapat perlakuan edukasi cuci tangan dan 40 orang ibu balita yang tidak mendapatkan perlakuan edukasi cuci tangan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Hasil: Dari hasil analisis data penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa besarnya masalah stunting pada batita sebesar 28,0% dan 20,9% terjadi pada batita usia 0-23 bulan. Sebanyak 31,1% batita menderita Diare pada 1 bulan yang lalu dan 31,4% dan menderita ISPA. Kebiasaan pengasuh tidak mencuci tangan dengan sabun 23,9%, kebiasaan ibu/pengasuh tidak mencuci tangan setelah BAB sebesar 4,9%. Bila dilihat berdasarkan kelompok umur balita menunjukkan bahwa sampel balita yang berusia 0-23 bulan sebanyak 46,2% dan yang berusia di atas 23 bulan sebesar 58,3%. Berdasarkan pekerjaan Orang tua, ditemukan sebanyak 81,2% ibu yang tidak mempunyai pekerjaan atau sebagai ibu rumah tangga. Demikian juga ayah sebagian besar mempunyai pekerjaan sebagai sebagai home industri. Proporsi balita yang stunting cukup tinggi sebesar 22,6% lebih rendah dari hasil Pemantauan Status Gizi tahun 2016 sebesar 27,5%. Bila status gizi berdasarkan indeks TB/U dikaitkan dengan kelompok umur maka masalah stunting terjadi pada semua kelompok umur yaitu sebesar 24,3% pada usia di bawah 23 bulan dan sebesar 20,9% pada usia 23 bulan ke atas. Dari 33,1% balita pendek, sebanyak 16,2% balita mempunyai berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) normal yang berpotensi mengalami kegemukan. Sebanyak 57,5% pengetahuan ibu tentang cuci tangan dalam kategori kurang dan 42,5% dalam kategori baik. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi (p<0,05) dan ada perbedaan skor pengetahuan pada kelompok edukasi dan tidak edukasi (p<0,05). Simpulan: Rekomendasi yang disampaikan bahwa nampaknya edukasi cuci tangan dapat meningkatkan pengetahuan ibu balita sehingga diharapkan ibu balita mempunyai kebiasaan perilaku cuci tangan. Untuk itu materi cuci tangan hendaknya disisipkan pada setiap penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas.
Penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak di pusat pelayanan terpadu kekerasan berbasis gender dan anak kabupaten Banyumas
Tujuan: Menggambarkan penanganan kasus KTA pencabulan oleh PPT-PKBGA Kabupaten Banyumas dan memberikan alternatif solusi berdasarkan tinjauan literature. Metode: Menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus yang bersifat descriptive observational. Cara pengambilan data dilakukan dengan observasi, analisis data sekunder dan dokumentasi. Hasil: Berdasarkan data penanganan kasus di PPT-PKBGA Kabupaten Banyumas diketahui bahwa KTA merupakan kasus yang tinggi baik di tahun 2018 sebesar 44,7%. Kasus KTA yang paling sering terjadi adalah pencabulan sebanyak 57,1% dari jumlah kasus KTA yang terjadi di tahun 2018. Banyumas telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2015 tentang penyelenggaraan perlindungan korban kekerasan berbasis gender dan anak yang dilaksanakan oleh PPT-PKBGA dibawah Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan dan Anak (DPPKBP3A). Dalam melakukan pelayanan kasus KTA pencabulan dilakukan pendampingan psikis dan pendampingan hukum. Namun biaya perjalanan konseling tidak dilayani oleh pemerintah, tanpa memperhatikan kondisi ekonomi dan domisili korban. Tingginya kasus KTA pencabulan di Kabupaten Banyumas, namun belum terlihat aksi pencegahan yang serius. Simpulan: Pola kasus kekerasan berbasis gender dan anak di PPT-PKBGA Kabupaten Banyumas terus meningkat, dan yang paling banyak terjadi adalah KTA pencabulan. Solusi alternatif untuk menangani kasus KTA pencabulan adalah pencegahan yang berfokus terhadap peran orang tua, pendidikan dan sosialisasi kesehatan seksual berbasis sekolah, sounding out tentang efek dan hukuman dari KTA pencabulan
[PHS5] Dampak Volume Berita Figur Publik dan Peringatan Hari Kanker terhadap Volume Pencarian Kanker di Indonesia: Studi Analisis Google Trend
Purpose: Indonesia has grown huge number of internet users thus becomes novel health promotion target in digital era. As Google Trends allows observing public health seeking information rapidly along with our concern towards public cancer interest which is affected by public figure news and cancer campaign, we studied cancer search oscillations in Indonesia in relation to both factors.Methods: Search queries comprised of cancer topics (Kanker; Kanker Darah; Leukemia; Kanker Paru; Kanker Getah Bening; Kanker Nasofaring), public figures news (Ani Yudhoyono; Arifin Ilham; Adira Taista; Anak Denada; Istri Indro; Sutopo; Valentino Nahak), and cancer awareness days (Hari Kanker Sedunia; Hari Kanker Anak; Hari Kanker Payudara) were generated to get their search volumes from 2018 to first trimester of 2019 subsequently grouped them into 3 main topics (cancer, public figure news, and cancer awareness day). Trend-to-trend analysis among main topics is evaluated using Pearson’s correlation, multiple linear regression, and cross-correlation.Result: Strong correlation is evidenced between cancer and public figure search (r = 0,752; p= <0,001) but lower in cancer awareness day (r=0,296; p = 0,017). Multivariate analysis shows significant impact of public figure, secular trend, and cancer awareness day on cancer search volume in Indonesia (R2 = 0,646; p < 0,001).Discussion: This study demonstrates strong influence of public figures on cancer-seeking despite temporary for about 4 weeks with public figure search leads 1 week before evidenced cancer search. Positive yet lower effect of cancer campaign requires some improvement towards this intervention.Conclusion: Compared with cancer campaign, public figure news would ‘blow-up’ most Indonesian internet users towards cancer searching significantly but temporarily, which demands health promoter to maximize this ‘golden period’ to give informative and reliable cancer content in conjunction to fight cancer hoax, or possibly cooperate with cancer survivor public figures for promoting public awareness towards cancer.Tujuan: Jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini cukup gemuk yang berpotensi menjadi target promosi kesehatan baru di era digital. Aplikasi Google Trend memungkinkan untuk mendapatkan data lebih cepat untuk mempelajari tren pencarian informasi kesehatan oleh masyarakat. Sebagai bentuk ketertarikan kami terhadap kesadaran publik mengenai kanker, kami mempelajari fluktuasi minat publik tentang pencarian kanker dan seberapa kuat pengaruh dari berita figur publik serta kampanye hari kesadaran kanker di Indonesia.Metode: Volume pencarian kanker, berita kanker yang dialami figur publik, dan hari kesadaran kanker dilacak dari tahun 2018 hingga trimester pertama tahun 2019 melalui Google trend. Tren dianalisis menggunakan korelasi, regresi berganda, dan korelasi silang.Hasil: Dilaporkan peningkatan tren volume pencarian kanker secara linier di Indonesia (R = 0,379; p <0,002) dengan korelasi kuat terhadap pencarian figur publik (r = 0,752; p = <0,001) namun korelasi lebih rendah terhadap hari kesadaran kanker (r = 0,296; p = 0,017). Terjadi beberapa lonjakan yang relatif bersamaan baik pada tren pencarian kanker dan figur publik. Analisis multivariat menunjukkan dampak signifikan dari figur publik, tren sekuler, dan hari kesadaran kanker terhadap pencarian kanker di Indonesia (R2 = 0,646; p <0,001). Penelitian ini membuktikan pengaruh kuat dari berita figur publik terhadap minat pengguna internet mengenai kanker meskipun terjadi sementara dan mendadak. Dampak tersebut berlangsung sekitar 4 minggu dengan pencarian tokoh masyarakat mendahului 1 minggu dari kuatnya pencarian kanker. Efek lebih lemah namun positif dari hari kesadaran kanker menunjukkan perlunya perbaikan terhadap intervensi ini.Kesimpulan: Dibandingkan dengan kampanye kanker, berita tokoh masyarakat akan lebih 'meledakkan' pencarian informasi kanker secara signifikan namun berlangsung sementara, sehingga disarankan pemangku kepentingan dapat memaksimalkan 'periode emas' ini untuk menyuguhkan dan memasifkan konten kanker yang informatif dan terpercaya sekaligus sebagai upaya melawan hoax mengenai kanker
Hubungan karakteristik dokter dengan kelengkapan catatan laporan operasi di rumah sakit umum Yogyakarta
Latar belakang: Rekam medis yang baik dan bermutu harus memenuhi indikator-indikator kelengkapan, keakuratan, tepat waktu dan memenuhi aspek hukum. Kelengkapan rekam medis juga memperngaruhi kecepatan dalam pengklaiman BPJS. Tujuan: Mengetahui Hubungan Karakteristik Dokter berdasarkan Jenis Kelamin, Umur dan Masa Kerja dengan Kelengkapan Catatan Laporan. Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah semua berkas laporan operasi tahun 2015. Sampel penelitian ini adalah 166 berkas rekam medis dengan menggunakan metode purpossive sampling. Uji Statistik menggunakan Uji Chi Square (X2). Hasil: Penelitian menunjukan bahwa ada hubungan karakteriktik dokter berdasarkan Jenis Kelamin (nilai p 0,02) umur (nilai p 0,02) dan masa kerja (nilai p 0,00) dengan kelengkapan laporan operasi. Ada hubungan antara karakteristik dokter dengan kelengkapan laporan operasi dengan nilai p (0,00). Jumlah laporan operasi yang pengisiannya lengkap oleh dokter yang berkarakteristik jenis kelamin perempuan, umur 25-45 dan memiliki masa kerja > 3 tahun lebih banyak dibanding dokter yang berkarakteristik laki-laki, umur 46-65 tahun dan masa kerja 1-3 tahun. Simpulan: Kedisiplinan dan ketaatan dokter untuk kelengkapan pengisian rekam medis menunjang penyelenggaraan rekam medis yang baik serta tertib administrasi
Prevalensi dan determinan diabetes mellitus tipe 2 dan pra diabetes mellitus pada pria di dusun Getasan, kecamatan Getasan, kabupaten Semarang
Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi dan determinan yang mempengaruhi kejadian Diabetes Mellitus tipe 2 dan pra Diabetes Mellitus di Dusun Getasan. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan secara langsung dengan wawancara, observasi dan pengisian kuisioner. Kriteria responden adalah laki-laki berusia >40 tahun, terdata sebagai penduduk di Dusun Getasan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, serta bersedia menjadi responden penelitian. Penelitian dilakukan pada bulan September-November 2018. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner data diri, pemeriksaan gula darah perifer, SQ-FFQ, GPAQ, Form Etika Penelitian. Hasil: Dari 63 responden, sebanyak 4 responden (6,35%) merupakan penderita DM. Satu dari keempat orang tersebut memiliki riwayat keluarga DM. Sebanyak 22,22% responden masuk kategori pra-DM. Prevalensi responden DM sebanyak 0,6% dan responden pra-DM sebanyak 2,2%. Responden DM dan pra-DM tersebar pada rentang usia dari 40–75 tahun. Berdasarkan penghitungan IMT, sebagian besar responden DM memiliki IMT kelebihan berat badan tingkat berat (4,76%), namun responden pra-DM sebagian besar memiliki IMT normal (19,04%). Responden DM dan pra-DM cenderung memiliki pola konsumsi yang kurang baik (tinggi gula) yaitu konsumsi gula mencapai 7 – 8 sendok makan perhari dan nasi mencapai 6 – 9 centong perhari, namun kurang mengkonsumsi makanan berserat seperti buah dan sayur. Semua responden DM memiliki aktivitas fisik dengan kategori rendah (6,3%). Simpulan: Dari hasil penelitian ini prevalensi responden yang menderita DM sebanyak 0,6% dan responden pra-DM menunjukan prevalensi sebanyak 2,2%. Penderita DM dan pra-DM cenderung memiliki pola makan yang kurang baik dan kurang melakukan aktivitas fisik. Bagi masyarakat yang teridentifikasi pra-DM, diharapkan mampu mengurangi konsumsi makanan manis dan memperbanyak aktifitas fisik sehari-sehari. Layanan kesehatan setempat dapat melakukan upaya penyuluhan pencegahan penyakit DM
Tantangan dalam upaya peningkatan kesehatan kerja pada perawat pelayanan khusus dalam era industri 4.0
Tujuan: Era industri 4.0 timbul akibat tuntutan produktifitas serta efisiensi. Perawat di pelayanan khusus berisiko mengalami burnout akibat penerapan industri 4.0. Pelayanan khusus merupakan gabungan dari uni-unit perawatan intensif diamana kondisi kekritisan pasien yang tinggi serta penggunaan teknologi maju serta rumit, sehingga memerlukan kemampuan dalam mengembangkan sebuah sistem yang tepat Upaya dalam mengembangkan formula dibidang keperawatan di sektor kesehatan kerja merupakan kondisi yang wajib di penuhi supaya sukses menghadapi era industri 4.0 dibidang kesehatan. Metode: Penelitian dilakukan pada bulan desember 2018 – januari 2019 di RSUP Dr. Sardjito. Pelayanan khusus terdiri dari 6 unit dengan responden 111. Maternal Perinatal 31(27,93%), Luka Bakar 5(4,50%) PICU 12(10,81%) ICU 27(24,32%), ICCU 24(21,62%), Stroke 12(10,81%). Desain penelitian diskriptif dengan alat ukur MBI dan data demografi. Hasil: 95(85,59%) perawat wanita, 73(65,77%) pendidikan diploma 3, 59(53,13%) lama bekerja 11-15 tahun, 63(71,17%) status PNS, 48(43,24%) bekerja >40 jam/minggu, 95(85,59%) burnout rendah dan 4(3,60%) level burnout tinggi. Faktor terwujudnya kesehatan kerja bidang keperawatan yang sudah dilakukan di RSUP Dr Sardjito yakni reward, community dan value. Perlu optimalisasi manajemen pada sektor workload dan fairness. Perbaikan manajemen waktu kerja dan pelatihan atau pendidikan perawat menjadi poin dalam peningkatan kualitas individu menghadapi lingkungan kerja yang penuh tekanan. Simpulan: Surveilans kesehatan kerja bagi perawat pelayanan khusus mesti dilakukan secara periodik bertujuan menyusun formula terbaik dalam terciptanya kesehatan kerja yang baik, lingkungan kerja aman dan terwujudnya keselamatan pasien.
Nyeri punggung bawah pada pembatik home based worker: durasi kerja dan tinggi kursi
Latar belakang: Rendahnya upah pada pembatik menyebabkan mereka bekerja lebih dari 6 jam per hari dan menerima pesanan batik dari juragan manapun. Penggunaan kursi kerja yang tidak sesuai ukuran standar serta durasi kerja yang panjang dengan posisi duduk yang statis dan gerakan repetitif berriisiko terhadap kejadian musculoskeletal disoder’s, salah satunya yaitu nyeri punggung bawah. Adanya keluhan yang dirasakan para pembatik pada bagian punggung ke bawah jika duduk membatik lebih dari 2 jam. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap durasi kerja dan tinggi kursi dengan kejadian nyeri punggung bawah pada pembatik home based worker. Metode: penelitian cross sectional, dengan jumlah sampel 85 orang (total sampel) pembatik home based worker di sentra batik Giriloyo Imogiri Bantul. Kriteria inklusi dan ekslusi. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan, mulai Juli 2018 – Oktober 2018. Nyeri punggung bawah ditentukan berdasarkan kuesioner dan pemeriksaan oleh fisioterapis untuk mengkonfirmasinya. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan panduan pemeriksaan gerak dasar dan pemeriksaan spesifik. Analisis statistic bivariat dengan uji chi square, analisis multivariat dengan uji regresi logistic. Hasil: berdasarkan uji statistic diketahui bahwa terdapat hubungan antara durasi kerja > 6 jam dengan kejadian nyeri punggung bawah pada pembatik home based worker (p: 0.032). Rata rata tinggi kursi yang digunakan oleh para pembatik adalah 19.3 cm, masih dibawah rentang standar (32.5- 49 cm). Tidak terdapat hubungan antara tinggi kursi dengan kejadian nyeri punggung bawah (p: 0.173).