Jurnal Anestesi Perioperatif
Not a member yet
    288 research outputs found

    Karakteristik Pasien Yang Dilakukan Trakeostomi Di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2021 – Desember 2022

    No full text
    Cedera laring dan pita suara karena ventilasi mekanik jangka panjang menjadi salah satu alasan dilakukannya trakeostomi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif untuk mengetahui karakteristik pasien trakeostomi di ruang rawat intensif RSHS Bandung pada Januari 2021–Desember 2022 Karakterisitk pasien dengan skor APACHE II satu komorbid, 56% trakeostomi dini; 54% trakeostomi surgikal. Angka kejadian VAP 13,3% semuanya meninggal. Simpulan: Kelompok pasien hidup menjalani trakeostomi dini, skor APACHE II satu komorbid, 56% trakeostomi dini, 54% trakeostomi surgikal. Angka kejadian VAP 13,3 %, semuanya meninggal. Simpulan, Kelompok pasien hidup menjalani trakeostomi dini, skor APACHE II <25. Lama hari rawat ruang intensif dan rumah sakit trakeostomi dini lebih singkat dibandingkan trakeostomi lanjut, durasi ventilasi mekanik tidak dapat dibandingkan karena semua pasien trakeostomi lanjut meninggal. Semua pasien VAP meninggal

    Gambaran Mortalitas dan Morbiditas Pasien Bedah Elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Ditinjau Berdasarkan Skor American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS)

    Full text link
    Peningkatan kapasitas tindakan pembedahan tidak terlepas dari risiko mortalitas dan morbiditas yang meningkat. Sistem klasifikasi American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS) merupakan salah satu alat evaluasi pasien sebelum operasi yang dianggap mudah, akurat, dan komprehensif untuk memprediksi luaran pascaoperasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui gambaran mortalitas dan morbiditas pasien bedah yang ditinjau berdasarkan skor ASA-PS. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dari data rekam medis pasien bedah elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode 2019−2022. Jumlah mortalitas dan morbiditas pada periode penelitian ini sebanyak 29 dan 25 kasus dan selanjutnya dikelompokan berdasarkan usia. Departemen obstetri dan ginekologi menjadi departemen tertinggi pada kedua kasus mortalitas dan morbiditas. Mortalitas tertinggi terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II (48,27%), diikuti oleh ASA III (31,03%), dan IV (20,68%), dan umumnya terjadi pascaoperasi. Morbiditas tertinggi juga terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II yaitu sebesar 64%, diikuti ASA-PS III sebesar 28%. Penyebab morbiditas subjek beragam pada berbagai sistem organ. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan mortalitas dan morbiditas didominasi oleh pasien dengan skor ASA-PS II dan umumnya disebabkan oleh henti jantung dan syok, baik intraoperatif maupun pascaoperasi. Peningkatan kapasitas tindakan pembedahan tidak terlepas dari meningkatnya risiko mortalitas dan morbiditas. Sistem klasifikasi American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS) merupakan salah satu alat evaluasi pasien sebelum operasi yang dianggap mudah, akurat, dan komprehensif untuk memprediksi luaran pascaoperasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui gambaran mortalitas dan morbiditas pasien bedah yang ditinjau berdasarkan skor ASA-PS. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dari data rekam medis pasien bedah elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode 2019-2022. Jumlah mortalitas dan morbiditas pada periode penelitian ini sebanyak 29 dan 25 kasus dan selanjutnya dikelompokan berdasarkan usia. Departemen obstetri dan ginekologi menjadi departemen tertinggi pada kedua kasus mortalitas dan morbiditas. Mortalitas tertinggi terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II (48,27%), diikuti oleh ASA III (31,03%), dan IV (20,68%), dan umumnya terjadi pascaoperasi. Morbiditas tertinggi juga terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II yaitu sebesar 64%, diikuti  ASA-PS III sebesar 28%. Penyebab morbiditas subjek beragam pada berbagai sistem organ. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan mortalitas dan morbiditas didominasi oleh pasien dengan skor ASA-PS II dan umumnya disebabkan oleh henti jantung dan syok, baik intra operatif maupun pascaoperasi

    Perbedaan Nilai Near Infrared Spectroscopic Terhadap Posisi Head Up 15° Dan Head Up 30° Pada Pasien Yang Dirawat Di Ruang Intensive Care Unit

    Full text link
    Oksigenasi serebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan masuknya oksigen dapat bertambah maupun berkurang. Perubahan postur selama anestesi memiliki efek kompleks pada sirkulasi sistemik dan serebral yang berpotensi menurunkan aliran darah otak dan oksigenasi. Penelitian ini bertujuan meneliti perbandingan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) dengan posisi head up 15o dan 30o. Penelitian ini dilakukan di ICU RSUP H. Adam Malik Medan mulai bulan Agustus sampai Oktober 2022. Desain penelitian eksperimental dengan rancangan single blind randomized controlled trial. Analisis statistik variabel numerik menggunakan uji T-independen pada data berdistribusi normal dan uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik untuk data kategorik dengan uji chi-square atau uji Fisher Exact. Rerata nilai NIRS baik kanan maupun kiri pada kelompok Head Up 15o lebih rendah dibanding dengan kelompok Head Up 30o dengan perbedaan yang signifikan (p<0,05). Kesimpulan, nilai rerata near-infrared spectroscopy (NIRS) pada posisi Head Up 15° lebih rendah dibanding dengan posisi head up 30°.Kata kunci:  Oksigenasi cerebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan masuknya oksigen bisa bertambah maupun berkurang. Perubahan postur selama anestesi memiliki efek kompleks pada sirkulasi sistemik dan cerebral yang berpotensi menurunkan aliran darah otak dan oksigenasi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang perbandingan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) terhadap posisi head up 15o dan 30o pada pasien yang di rawat di ICU RSUP H Adam Malik Medan. Desain penelitian analitik dengan desain eksperimental untuk mengetahui perbedaan nilai NIRS pada berbagai posisi head up pada pasien dirawat di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Pada penelitian ini didapatkan usia rerata sampel sebesar 53,45 ± 14,44 tahun dan rerata indeks massa tubuh sampel sebesar 23,92 ± 2,18 kg/m2. Tekanan darah sistolik dan diastolik sampel penelitian didapati sebesar 122,68 ± 17,76 dan 73,50 ± 10,25secara berurutan. nilai NIRS Head Up 15° dan 30° kiri didapatkan rerata nilai NIRS 56,27 ± 13,32 dan 65,45 ± 15,14 didapatkan nilai P sebesar 0,01 < 0,05, maka didapatkan adanya perbedaan yang signifikan antara Head Up 15° dan 30°. Terdapat perbedaan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) antara Head Up 15° dan 30°.pada pasien yang dirawat di ruang ICU

    Awake Tracheal Intubation sebagai Pendekatan Anestesi pada Pasien dengan Predictive Difficult Airway: Laporan Kasus dari Perspektif Frontliner

    Full text link
    Laporan kasus ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang tantangan risiko dan pengelolaan masalah jalan napas yang sulit di daerah pedesaan dengan kekurangan fasilitas di ruang operasi. Kami melaporkan kasus laki-laki 31 tahun dengan karsinoma sel skuamosa masif di sisi kiri leher yang dikirim untuk eksisi dan drainase tumor. Pasien dinilai dengan status fisik ASA III karena prediksi jalan napas sulit dan suspek septik. Kami mengalami kesulitan untuk meraba sendi temporomandibular dan kekakuan pada leher. Pasien kami intubasi dalam kondisi sadar sepenuhnya dengan beberapa kesulitan karena kekurangan obat dan alat di rumah sakit kami. Pasien diekstubasi dalam kondisi sadar dengan aman setelah proses operasi dan dipindahkan ke ICU.Abstrak: Laporan kasus ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang tantangan risiko dan pengelolaan masalah jalan nafas yang sulit di daerah pedesaan dengan kurangnya fasilitas di ruang operasi. Kami melaporkan kasus laki-laki 31 tahun dengan karsinoma sel skuamosa masif di sisi kiri leher yang dikirim untuk eksisi dan drainase tumor. Pasien dinilai dengan status fisik ASA III karena prediksi jalan napas sulit dan suspek septik. Kami mengalami kesulitan untuk meraba sendi temporomandibular dan kekakuan pada leher. Pasien kami intubasi dalam kondisi sadar sepenuhnya dengan beberapa kesulitan karena kurangnya obat dan alat di rumah sakit kami. Pasien diekstubasi dalam kondisi sadar dengan aman setelah proses operasi dan dipindahkan ke ICU.Kata Kunci: Awake Intubation, sendi temporomandibular tidak teraba, kekakuan leher, manajemen jalan napas sulit.Abstract:  This case report aims to raise awareness about risk challenging and management difficult airway problem in the rural area with lack of facilities on operating room. We report a case of 31-years-old man with large squamous cell carcinoma on the left side of neck who sent for tumor excision and drainage. Patient was assessed with ASA III physical status due to predictive difficult airway and septic suspected. We experienced difficulties to palpable temporomandibular joint and neck stiffness. Patient proceeding with fully awake intubation with some difficulties due to lack of drugs and devices in our hospital. The patient was awake extubated safely after surgery process and transported to the ICU.Keywords: Awake Intubation, unpalpable temporomandibular joint, neck stiffness, difficult airway managemen

    Perbandingan derajat nyeri setelah pemberian Gabapentin dan Amitriptilin sebagai adjuvan analgetik pasien nyeri kanker

    Full text link
    Penggunaan opioid tunggal pada nyeri kanker kurang efektif sehingga perlu dikombinasikan dengan analgetik non opioid. Tujuan penelitian adalah membandingkan derajat nyeri pada pemberian gabapentin dengan amitriptilin sebagai adjuvan analgetik pasien nyeri kanker. Desain penelitian ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda, subjek penelitian adalah pasien poli nyeri RSUP H. Adam Malik dengan derajat nyeri berat yang dibagi 3, yaitu kelompok gabapentin, amitriptilin, dan plasebo sebagai adjuvan. Penelitian dilakukan selama periode April–Juni 2022. Sampel dievaluasi derajat nyeri, pain DETECT dan efek samping hari 1 (T1), hari 3 (T2), dan hari 7 (T3). Derajat nyeri berat pengukuran T1 pada grup gabapentin didapatkan 1,8%, amitriptilin 10,5% dan plasebo 7%. Pada T2, T3 tidak didapatkan derajat berat pada semua kelompok. Pemeriksaan pain DETECT dijumpai rerata 29,4±5,3. Pada T1 dan T2 tidak terdapat perbedaan bermakna. Pada T3 terdapat perbedaan bermakna dengan nilai p 0,003 antara penggunaan gabapentin dan plasebo. Pada penelitian ini didapatkan penurunan NRS secara klinis pada penggunaan adjuvan analgetik dibanding dengan plasebo, tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik. Pada pain DETECT ditemukan perbedaan bermakna setelah pemberian adjuvan gabapentin setelah hari ke-7 dibanding dengan plasebo. Simpulan penelitian ini terdapat penurunan derajat nyeri secara klinis penggunaan adjuvan analgetik dibanding dengan plasebo, tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik. Nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang membantu untuk memberikan tanda bahwa sedang terjadi kerusakan jaringan atau akan terjadi kerusakan jaringan. Pada keganasan nyeri yang ditimbulkan oleh gangguan pada sistem saraf disebut nyeri neuropatik, tatalaksana nyeri kanker bisa dengan analgetik dan adjuvan, salah satunya Gabapentin dan Amitriptilin. Desain penelitian  ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda, sampel yang digunakan adalah pasien poli nyeri dengan diagnosis keganasan dengan derajat nyeri NRS berat dengan pemberian MST dan Parasetamol sampel di bagi 3 kelompok yaitu kelompok yang diberikan Gabapentin, Aamitriptilin dan placebo sebagai adjuvan. Kemudian sampel akan di evaluasi derajat nyeri,  hari 1 (T1), hari 3 (T2) dan hari 7 (T3). Didapatkan hasil NRS pada grup Gabapentin  pada T1 derajat berat menjadi  1 orang (1.8%), grup Amitriptilin 3 orang (10,5%) dan plasebo 4 orang (7%). Pada T2 tidak di dapatkan NRS derajat berat pada semua kelompok. Pada grup Gabapentin  pada T2 derajat sedang menjadi 15 orang (26,3%), grup Amitriptilin 15 orang (26,3%) dan plasebo 14 orang (24,6%). Pada T3 tidak di dapatkan NRS derajat berat pada semua kelompok. Pada grup Gabapentin  pada T3 derajat sedang menjadi 14 orang (26,3%), grup Amitriptilin 12 orang (21,1%) dan plasebo 15 orang (26,3%).Pada penelitian ini secara klinis didapatkan penurunan NRS secara klinis pada penggunaan adjuvan analgetik dibandingkan Plasebo tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik. Pada penilaian nyeri neuropatik dengan Pain DETECT ditemukan perbedaan bermakna setelah pemberian adjuvan Gabapentin setelah hari ke-7 dibandingkan dengan Plasebo. Efek samping setelah pemberian obat pada penelitian tidak terdapat perbedaan bermakna

    Pola Bakteri dari Jam Tangan dan Kacamata yang Dibawa ke Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta

    No full text
    Ruang bedah berperan sebagai penyebab infeksi nosokomial terutama akibat luka bedah. Transmisi patogen oleh tenaga kesehatan berperan penting dalam rute infeksi silang. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola bakteri jam tangan dan kacamata tenaga kesehatan yang dibawa ke kamar operasi di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian menggnakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif laboratorik di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada Juni–Juli 2018. Sampel adalah seluruh hardware yang dibawa masuk ke ruang bedah umum dan memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian terhadap 40 hardware, yaitu 19 jam tangan dan 21 kacamata yang dipakai dan dibawa ke kamar operasi Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Hardware yang dibawa dan mengandung bakteri patogen sebanyak 33 hardware (83%). Hardware yang terkontaminasi patogen paling banyak adalah kacamata. Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus hominis sebanyak 16 hardware (40%). Staphylococcus haemolyticus ditemukan pada 7 hardware (17%). Staphylococcus epidermidis ditemukan pada 4 hardware (10%). Simpulan penelitian ini adalah hardware yang diteliti mayoritas terdapat patogen (83%).Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah staphylococcus hominis pada 40% hardware.Ruang bedah berperan sebagai penyebab infeksi nosokomial terutama akibat luka bedah. Transmisi patogen oleh tangan petugas kesehatan berperan penting dalam rute infeksi silang. Beberapa jam tangan mengandung bakteri patogen, namun efeknya sebagaipembawa bakteri belum dapat dijelaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola bakteri jam tangan dan kacamata yang dibawa ke kamar operasi di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif laboratorik di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada Juni - Juli 2018. Sampel adalah seluruh hardware yang dibawa masuk ke ruang bedah umum dan memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel menggunakan metode swab dan dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret untuk diidentifikasi. Data dianalisis dengan Uji Fhiser Exact Test. Hasil penelitian terhadap 40 hardware yaitu 19 jam tangan dan 21 kacamata yang dipakai dan dibawa ke kamar operasi Instalasi Bedah Sentral RS Dr. Moewardi Surakarta. Hardware yang dibawa dan mengandung bakteri patogen sebanyak 33 hardware (82,5%). Hardware yang terkontaminasi patogen paling banyak adalah kacamata, (p= 0,040). Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus            hominis sebanyak 16 hardware (40,0%). Staphylococcus haemolyticus ditemukan pada 7 hardware (17,5%). Staphylococcus epidermidis ditemukan pada 4 hardware (10,0%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah hardware yang diteliti dan terdapat pathogen ada 33 hardware (82,5%).Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus hominis pada 40,0% hardware

    TOTAL INTRAVENOUS ANESTHESIA COMBINED WITH SUB-TENON BLOCK IN VITRECTOMY OPERATION WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE ON REGULAR HEMODIALYSIS

    No full text
    Vitrektomi adalah operasi mata untuk mengangkat bagian vitreous body. Hingga saat ini berbagai teknik anestesi tengah dikembangkan untuk mencapai kondisi teknik anestesi ideal. Teknik anestesi kombinasi general anesthesia dengan blok subtenon pada operasi vitrektomi memiliki potensi yang bagus untuk mengurangi nyeri pascaoperasi, mengurangi insiden refleks okulokardiak dan mengurangi jumlah penggunaan analgesia. Pada laporan ini, dilaporkan pasien laki-laki berusia 40 tahun dengan keluhan penglihatan kabur pada mata kanan sejak tiga bulan yang lalu. Pasien memiliki riwayat hipertensi, diabetes melitus tipe II, dan memiliki riwayat penggunaan heparin. Pasien didiagnosis non-closing vitreous hemorrhage. Pasien direncanakan dilakukan vitrektomi dengan general anesthesia yang dikombinasikan dengan blok subtenon. Selama operasi tidak terjadi perubahan hemodinamik yang bermakna. Keberhasilan teknik anestesi kombinasi ini ditunjukkan oleh hemodinamik yang stabil selama operasi. Teknik anestesi kombinasi pada pasien dengan komorbid yang menjalani vitrektomi seperti pada kasus ini dapat dipertimbangkan sebagai pilihan pada pengelolaan kasus sejenis di masa yang akan datang.  ABSTRACTIntroduction: Vitrectomy is eye surgery to remove part of the vitreous body. Until now, various anesthetic techniques are being developed to achieve the ideal anesthetic technique conditions. The combined anesthetic technique, namely general anesthesia with subtenon block in vitrectomy surgery, has great potential to reduce postoperative pain, reduce the incidence of oculocardiac reflexes and reduce the amount of analgesia used.Case Presentation: In this case, we report a male patient aged 40 years with complaints of decreased vision in the right eye since three months ago. The patient had a history of hypertension, type II diabetes mellitus and had a history of heparin use. The patient was diagnosed with non-closing vitreous hemorrhage. The patient was planned for vitrectomy under general anesthesia combined with sub-tenon block. During surgery, there were no significant hemodynamic changes.Conclusion: In this case report, we present the success of the combined anesthetic technique of general anesthesia and subtenon block. The success of this combination anesthetic technique is demonstrated by stable hemodynamics during surgery. To date, case reports of combined anesthetic techniques in patients with chronic renal failure undergoing vitrectomy have not been reported.Keywords: Vitrectomy, General Anesthesia, Subtenon Block, Hemodynami

    Pengaruh Pemberian Aminophylline pada Pasien dengan Difficult Weaning Ventilator Mekanik Paksa Evanterasi Diafragma

    No full text
    Penggunaan ventilasi mekanik dapat mengakibatkan kelemahan diafragma yang didiagnosis sebagai ventilator induced diaphragmatic injury (VIDD) yang dapat terjadi mulai 72 jam pascapenggunaan ventilator mekanik. Aminofilin, derivat teofilin diketahui dapat meningkatkan rangsangan nervus phrenicus dan kontraktilitas diafragma pada kasus kelemahan diafragma akibat penggunaan ventilator mekanik. Laporan kasus ini membahas pemberian terapi aminofilin pada pasien dengan kesulitan penyapihan ventilator mekanik pascaevanterasio diafragma, dengan komorbiditas ventilator associated pneumonia (VAP) selama rawatan. Aminofilin diberikan dengan dosis 6 mg/kgBB selama lima hari. Evaluasi dilakukan dengan menilai tidal volume, pressure support, dan keberhasilan spontaneous breathing trial. Pada pasien didapatkanpeningkatan tidal volume dengan penurunan kebutuhan pressure support (PS) signifikan pada hari pertama dan kedua pemberian terapi. Penurunan PS dari 12 menjadi 9 mmHg pada hari pertama, dan 6 mmHg pada hari kedua. Pasien dapat dilakukan spontaneous breathing trial (SBT) pada hari ketiga, dan penyapihan ventilator mekanik berhasil dilakukan. Kami menyimpulkan bahwa pemberian aminofilin bermanfaat dalam membantu penyapihan ventilator mekanik pada pasien dengan kesulitan penyapihan. Penggunaan ventilasi mekanik dapat mengakibatkan kelemahan diafragma yang didiagnosa sebagai ventilator induced diaphragmatic injury (VIDD). VIDD dapat terjadi mulai 72 jam paska penggunaan ventilator mekanik. Aminophylline, derivat Theophylline diketahui dapat meningkatkan rangsangan nervus phrenicus dan konrtaktilitas diafragma pada kasus kelemahan diafragma akibat penggunaan ventilator mekanik. Laporan kasus ini membahas pemberian terapi aminophylline pada pasien dengan kesulitan penyapihan ventilasi mekanik paskaevanterasi diafragma, dengan komorbiditas ventilator associated pneumonia selama rawatan. Aminophylline diberikan dengan dosis 6 mg/kgBB selama lima hari. Evaluasi dilakukan dengan menilai tidal volume, pressure support, dan keberhasilan spontaneous breathing trial. Pada pasien didapati peningkatan tidal volume dengan penurunan kebutuhan pressure support signifikan pada hari pertama dan kedua pemberian terapi. Penurunan pressure support dari 12 menjadi 9 mmHg pada hari pertama, dan 6 mmHg pada hari kedua. Pasien dapat dilakukan spontaneous breathing trial (SBT) pada hari ke tiga, dan penyapihan ventilator mekanik berhasil dilakukan. Kami menyimpulkan bahwa pemberian aminophylline bermanfaat dalam membantu penyapihan ventilator mekanik pada pasien dengan kesulitan penyapihan

    PERBANDINGAN EFIKASI MGSO4 DENGAN KETAMIN SEBAGAI ADJUVAN MULTIMODAL ANALGESIA PASKA OPERASI SEKSIO SESARIA

    Full text link
    Nyeri perut pascaseksio sesaria tampaknya menjadi masalah yang signifikan, namun cukup bervariasi, berbagai modalitas analgesia diketahui dapat digunakan sebagai analgesia pascaoperasi. Salah satunya adalah ketamin dan magnesium sulfat yang sering digunakan sebagai tambahan untuk analgesik pascaoperasi. Penelitian ini merupakan studi randomized control trial (RCT) dilakukan selama Agustus–September 2023. Sampel merupakan pasien hamil yang akan menjalani pembedahan seksio sesaria dalam anetesi spinal. Penelitian dibagi menjadi 3 kelompok, MgSO4, ketamin, dan kontrol. Pada periode pascaoperasi, kelompok MgSO4 diberikan infus MgSO4 20 mg/kg/jam, kelompok ketamin menerima infus ketamine 0,2 mg/kg/jam selama 12 jam. Lalu, dilakukan penilaian skala nyeri pascaoperasi Penelitian terdiri dari 30 sampel, yaitu 10 sampel setiap kelompok. Berdasarkan skala nyeri istirahat dan aktivitas didapatkan perbedaan bermakna secara statistik pada pemantauan jam ke-12 dan jam ke-24, p0,05. Didapatkan 2 kejadian sedasi pada perlakuan ketamin dan 8 sampel memerlukan rescue opioid. Terdapat perbedaan efikasi ketamin dibanding dengan magnesium sulfat sebagai adjuvan analgesia pascaoperasi. Ketamin memberikan efek analgesia yang lebih baik dibanding dengan magnesium sulfat. Pendahuluan : Nyeri perut paska seksio sesaria tampaknya menjadi masalah yang signifikan namun cukup bervariasi, berbagai modalitas analgesia diketahui dapat digunakan sebagai analgesia postoperatif. Salah satunya adalah ketamin dan magnesium sulfatyang sering digunakan sebagai tambahan untuk analgesik paska operasi.Metode : Penelitian ini merupakan studi Randomized Control Trial (RCT) dilaksanakan yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dan Rumah Sakit Haji Medan pada bulan Agustus-September 2023. Sampel merupakan pasien hamil yang akan menjalani pembedahan seksio sesaria dalam anetesi spinal. Penelitian dibagi menjadi 3 kelompok, MgSO4, ketamin, dan kontrol. Seluruh kelompok menerima perlakuan preoperasi dan intraoperasi yang sama. Pada periode postoperatif, kelompok MGSO4 diberikan infus MgSO4 20 mg/kg/jam, kelompok ketamin menerima infus ketamine 0,2 mg/kg/jam selama 12 jam. Lalu, dilakukan penilaian skala nyeri postoperatif dan efek samping perlakuan pada jam ke-0 (T0), ke-6 (T1), Ke-12 (T2), dan ke-24 (T3).Hasil : Penelitian terdiri dari 30 sampel, yaitu 10 sampel setiap kelompok. Berdasarkan skala nyeri istirahat dan aktivitas didapatkan perbedaan bermakna secara statistik pada pemantauan jam ke-12 dan jam ke-24, p0,05. Didapatkan 2 kejadian sedasi pada perlakuan ketamin, dan 8 sampel memerlukan rescue opioid.Simpulan : Terdapat perbedaan efikasi ketamin dibandingkan dengan magnesium sulfat sebagai ajuvan analgesia paska operasi. Ketamin memberikan efek analgesia yang lebih baik dibandingkan magnesium sulfa

    Penggunaan Delta C-Reactive Protein dan SOFA Score Sebagai Prediktor Kematian Pasien Sepsis

    Full text link
    Penelitian ini berfokus pada penggunaan skor DELTA CRP dan SOFA dalam memprediksi prognosis pada pasien ICU. Penelitian observasional kohort digunakan sebagai desain. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Sardjito periode Februari–Juli 2019. Sampel dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel berturut-turut. Para peneliti mengumpulkan 32 responden dengan sepsis dan syok sepsis yang dirawat di ICU berdasarkan kondisi ini. Skor area under curve (AUC) delta CRP menunjukkan >0,7 (0,780;CI 95%: 0,58–0,97) dengan cut-off 3 (sensitivitas=53,8%, spesifisitas=91%), menyiratkan bahwa CRP delta dapat menunjukkan keadaan pasien sepsis dan syok septik yang memburuk, tetapi kurang sensitif untuk memprediksi kematian. Sementara itu, skor AUC of SOFA >0,7 (0,787; 95% CI: 0,58–0,98) pada hari ke-0 dengan cut-off 8,5 (sensitivitas=76,9%, spesifisitas=81,8%), dan 0,836 (CI 95%: 0,67–0,99) pada hari ke-2 dengan cut-off 6 (sensitivitas=84,6%, spesifisitas=72,7%). Hal ini menunjukkan bahwa skor SOFA dapat memprediksi tingkat kematian prognostik pada pasien yang didiagnosis sepsis dan syok septik di ICU. Baik skor delta CRP dan SOFA memiliki nilai AUC lebih besar dari 0,7, tetapi hanya delta CRP yang memiliki sensitivitas rendah sebagai prognostik kematian.Penelitian ini berfokus pada penggunaan skor DELTA CRP dan SOFA dalam memprediksi prognosis pada pasien ICU. Penelitian observasional kohort digunakan sebagai desain. Sampel dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel berturut-turut. Para peneliti mengumpulkan 32 responden dengan sepsis dan syok septik yang dirawat di ICU berdasarkan kondisi ini. Skor AUC delta CRP menunjukkan > 0,7 (0,780) (CI 95%: 0,58-0,97) dengan cut off 3 (sensitivitas= 53,8%, spesifisitas= 91%), menyiratkan bahwa CRP delta dapat menunjukkan keadaan pasien sepsis dan syok septik yang memburuk, tetapi kurang sensitif untuk memprediksi kematian. Sementara itu, skor AUC of SOFA > 0,7 (0,787) (95% CI: 0,58-0,98) pada hari ke-0 dengan cut off 8,5 (sensitivitas=76,9%, spesifisitas= 81,8%), dan 0,836 (CI 95%: 0,67-0,99) pada hari ke-2 dengan cut off 6 (sensitivity=84,6%, spesifisitas=72,7%). Hal ini menunjukkan bahwa skor SOFA dapat memprediksi tingkat kematian prognostik pada pasien yang didiagnosis sepsis dan syok septik di ICU. Baik skor delta CRP dan SOFA memiliki nilai AUC lebih besar dari 0,7, tetapi hanya delta CRP yang memiliki sensitivitas rendah sebagai prognostik kematian.

    221

    full texts

    288

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Anestesi Perioperatif
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇