Jurnal Anestesi Perioperatif
Not a member yet
    288 research outputs found

    Komplikasi dan Pemantauan Susunan Saraf Pusat pada Operasi Jantung

    No full text
    TINJAUAN PUSTAKAPerkembangan tekhnologi dan jumlah operasi jantung di Indonesia semakin meningkat, perkembangan tersebut diikuti juga dengan semakin meningkatnya komplikasi pada susunan saraf pusat, seperti cedera otak. Banyak faktor dan kejadian selama pembedahan jantung yang dapat menyebabkan cedera otak. Kebanyakan cedera ini diakibatkan oleh hipoperfusi yang global atau fokal yang disebabkan oleh emboli  mikro ataupun makro. Insidensi cedera otak tinggi dan pencegahan terjadinya insidensi tersebut harus dipertimbangkan pada setiap prosedur. Alat pemantauan untuk susunan saraf pusat semakin berkembang dan membutuhkan keahlian seorang dokter anestesi untuk menguasai alat pemantauan tersebut. Pemahaman yang lebih lanjut terhadap pembedahan dan perfusi, perbaikan teknologi perfusi dan juga anestesi yang lebih teliti, diharapkan dapat menurunkan tingkat kejadian cedera otak setelah operasi jantung terbuka.Kata Kunci: Komplikasi SSP, anestesi, operasi jantung terbuka Complications and Monitoring of Central Nervous System on Cardiac SurgeryThe development of technology and numbers of heart operations in Indonesia has increased, but it is also followed with the ever increasing complications on the central nervous system, such as brain injury. Many factors and events during a heart surgery that cause brain injury. Most of these are due to a global or focal hypoperfusion caused by micro or macro emboli. The incidence rate of brain injury and prevention occurrence of the incident should be considered for each procedure. Tool monitoring for central nervous system has been growing and requires the expertise of an Anaesthesiologist for control these monitoring tools. Further understanding, improvement of the perfusion technology, and also a more meticulous anesthetic, surgical and perfusion is expected to reduce the incidence rate of brain injury after open heart surgery.Keywords : Complications CNS, anesthesia, open  heart surgery DOI: 10.15851/jap.v1n1.16

    Korelasi Antara Kadar Laktat, Base Deficit Dan Saturasi Vena Sentral Dengan Skor Multiple Organ Dysfunction Hari Ke-3 Pada Pasien Pascabedah Dengan Hemodinamik Stabil Di Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

    No full text
    Hingga kini belum ada indikator yang untuk menilai perfusi global yang adekuat. Pasien dengan hemodinamik stabil masih mungkin terjadi perubahan kadar laktat, base deficit, dan saturasi vena sentral, yang dapat digunakan untuk menilai adanya suatu hipoksia jaringan. Penelitian ini bertujuan mencari korelasi yang paling baik diantara ketiga parameter tersebut terhadap skor MOD hari ke-3 pada pasien pascabedah dengan hemodinamik stabil yang dirawat di Ruang Perawatan Intensif (RPI). Penelitian ini suatu penelitian observasional dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilakukan pada 50 orang pasien risiko tinggi yang dirawat di RPI, laki-laki dan wanita, usia 18 – 65 tahun yang telah menjalani laparotomi eksplorasi dengan anestesi umum. Semua pasien dilakukan pemeriksaan kadar laktat darah, gas darah arterial dan gas darah vena sentral ketika pasien masuk, dan jam  ke-24. Selanjutnya pada hari ke-3 dilakukan skoring MOD yang mencakup fungsi neurologis, kardiovaskular, respirasi, ginjal, hematologis, dan hepar. Pada penelitian ini didapatkan koefisien korelasi rank Spearman antara laktat 1 dan skor MOD hari ke-3 adalah 0,579 dengan p<0,001,  base deficit 1 dengan skor MOD hari ke-3 adalah 0,811 dengan p<0,001,  sedangkan yang tidak bermakna adalah antara saturasi vena sentral 1 dengan skor MOD hari ke-3, dan antara saturasi vena sentral 2 dengan skor MOD hari ke-3, dengan koefisien koreasi rank Spearman masing-masing adalah 0,328 dan 0,260. Koefisien korelasi yang baik terdapat pada laktat dan base deficit dengan skor MOD hari ke-3, sedangkan saturasi vena sentral memiliki koefisien korelasi yang lemah. Laktat dan base deficit dapat digunakan untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan perfusi jaringan pada pasien risiko tinggi pascabedah dengan hemodinamik stabil.Kata kunci: laktat, base deficit, saturasi vena sentral, hipoksia jaringan, disfungsi organ.Correlation Between Lactate Level, Base Deficit, And Central Vein Saturation With Third-Day Multiple Organ Dysfunction Score On Haemodynamically Stable Postoperative Patient In Intensive Care Unit  Dr. Hasan Sadikin Bandung HospitalUntil now, there is no precise indicator to evaluate adequate global perfussion yet. On haemodynamically stable patient is possible to experience change in lactate value, base deficit, and central vein saturation, which can be used to assess tissue hypoxia. The aim of this study is to find the best parameter among those three parameters toward day-third-MOD (Multiple organ dysfunction) score on hemodinamically stable post surgery patients whose been hospitalized in ICU (Intensive care unit).This is a cross-sectional observational study. The subject of this study were 50 high-risk patients whose hospitalized in RPI, male and female between 18 – 65 years old who had been done explorative laparatomy procedures under general anesthesia. Blood lactate, arterial blood gas analysis and central vein blood gas analysis had been analysis on all subjects on admissions and on the 24th hours. On the third day, MOD score that covered neurologic, cardiovascular, respiration, renal, hematologic and liver function had been assessed. This study yielded rank Spearmen coeffisien correlation between blood lactate 1 and day-third-MOD score 0,572 (p<0,001), and base deficit 1 and day-third-MOD score was 0,811 (p<0,001). The value between central vein saturation  1 and day-third-MOD score, and central vein saturation 2 and day-third-MOD score were unsignificant, with rank Spearmen coeffisien correlation were 0,328 and 0,260. Good coeffisien correlation was found between blood lactate and base deficit with MOD score on third day, whilst central vein saturation had  weak coeffisien correlation. Blood lactate level and base deficit can be used to evaluate early tissue perfusion disturbances on hemodinamically stable high risk post surgery patients.Key words: lactate, base deficit, central vein saturation, tissue hypoxia, MOD score. DOI: 10.15851/jap.v1n1.15

    Perbandingan Gabapentin 600 mg dengan 1.200 mg per Oral Preoperatif terhadap Nilai Visual Analogue Scale dan Pengurangan Kebutuhan Petidin Pascaoperasi pada Modifikasi Mastektomi Radikal

    Full text link
    Gabapentin mempunyai efek antihiperalgesia, antialodinia, dan antinosiseptif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek gabapentin 600 mg dan 1.200 mg per oral preoperatif terhadap nilai visual analogue scale (VAS) dan pengurangan kebutuhan petidin pascaoperatif. Penelitian dilakukan secara uji acak terkontrol buta ganda terhadap 38 orang pasien di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Mei–September 2010. Pasien dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok gabapentin 600 mg dan gabapentin 1.200 mg. Penilaian skala nyeri dilakukan dengan menggunakan nilai VAS. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Uji Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% dan dianggap bermakna bila nilai p<0,05. Hasil penelitian didapatkan nilai VAS saat diam dan saat mobilisasi berbeda bermakna (p<0,05). Kelompok gabapentin 1.200 mg lebih sedikit diberikan analgetik petidin tambahan (10,5% vs 15,8%), tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna (p=0,631). Simpulan penelitian ini adalah gabapentin 1.200 mg per oral preoperatif lebih baik bila dibandingkan dengan 600 mg dalam mengurangi nilai VAS pasca operatif pada operasi modifikasi radikal mastektomi, namun tidak mengurangi kebutuhan petidin.Kata kunci: Gabapentin 600 mg, Gabapentin 1.200 mg, visual analogue scale, kebutuhan petidin The Comparison between 600 mg and 1,200 mg Gabapentin per Oral Preoperatively on Visual Analog Scale and Reduction of Postoperative Pethidine Requirement on Modified Radical MastectomyAbstract Gabapentin is a GABA analog which has the effect of anti hyperalgesia, anti allodynia, and anti nociceptive. This research was conducted in order to assess the effect of 600mg and 1,200 mg gabapentin given preoperatively to assess visual analogue scale (VAS) score and reduction of pethidine requirement. The study was done by conducting a double blind randomized controlled trial on 38 patients, aged 18–65 years, with ASA physical status I–II. Patients were divided into two groups: 600 mg gabapentin and 1,200 mg gabapentin group. The quality of pain was assessed using VAS score. The results were statistically analyzed using Mann-Whitney Test with 95% confidence interval and considered significant if p value <0.05. From the results, the VAS values obtained at rest and during mobilization were significantly different (p<0.05). The 1,200 mg gabapentin group received less additional pethidine (10.5% vs 15.8%), although no significant difference was shown (p=0.631). The conclusion of this study is that administration of 1,200 mg gabapentin per oral pre operatively is better when compared to 600 mg in reducing post operative visual analog scale score in modified radical mastectomy. However, it do not reduce the need for analgesic significantly.Key words: 600 mg Gabapentin, 1.200 mg Gabapentin, post operative pethidine requirement, visual analog scale DOI: 10.15851/jap.v1n3.19

    Blok Aksilar dengan Panduan Ultrasonografi pada Operasi Debridement Lengan Bawah Pasien Systemic Lupus Erythematosus, Gagal Ginjal Kronik, Sirosis Hepatis, dan Gagal Jantung

    Full text link
    Blok aksilar sangat menguntungkan dilakukan pada operasi daerah lengan bawah. Pasien wanita berusia 28 tahun dengan diagnosis systemic lupus erithematosus (SLE), gagal ginjal kronik, sirosis hepatis dan gagal jantung, direncanakan operasi nekrotomi debridement di lengan bawah di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Maret 2012. Dilakukan anestesi blok aksilar dengan panduan ultrasound Sonosite M Turbo menggunakan high frequency probe linear, jarum stimulasi 50 mm dan nerve stimulator dengan obat anestesi lokal bupivakain 0,5% dengan adjuvan epinefrin 1:200.000. Keberhasilan blok aksiler dikonfirmasi dengan menstimulasi sensoris dan nervus motorik yang telah diblok. Blok tercapai secara sempurna dalam waktu ±15 menit. Operasi dilakukan setelah blok tercapai dan operasi berlangsung selama 1 jam. Simpulan, blok aksilar dengan panduan ultrasound memberikan hasil yang memuaskan dengan angka keberhasilan yang tinggi. Pada pasien ini sangat menguntungkan dilakukan anestesi regional blok saraf perifer dibandingkan dengan anestesi umum karena komplikasi penyakit yang banyak.Kata kunci: Blok aksilar, systemic lupus eritematosus, ultrasounografiAxillary Block with Ultrasound Guided for Debridement of the Forearm in Patient with Systemic Lupus Erythematous, Chronic Renal Failure, Hepatic Cirrhosis, and Congestive Heart DiseaseAxillary block is beneficial when applied to a forearm operation. A 28-year-old female patient diagnosed with systemic lupus erythematosus, chronic renal failure, hepatic cirrhosis and heart failure, was planned for necrotomy debridement operation of the forearm in Dr. Hasan Sadikin Hospital-Bandung in March 2012. An axillary block anesthesia was done with Sonosite M Turbo ultrasound guidance that used high frequency linear probe, 50 mm stimulating needle, and nerve stimulator containing bupivacaine 0.5% and epinephrine adjuvant 1:200,000. The operation can be initiated after the block was achieved and the duration of operation was 1 hour. In conclusions, axillary block with ultrasound guidance gives satisfying result with higher success rate. Peripheral nerve block (regional anesthesia) is more beneficial to this patient than general anesthesia due to multiple complications.Key words: Axillary block, systemic lupus erythematosus, ultrasound   DOI: 10.15851/jap.v1n2.12

    Pengaruh Penambahan Petidin 0,25 mg/kgBB pada Bupivakain 0,25% untuk Blok Infraorbital terhadap Lama Analgesia Pascabedah pada Operasi Labioplasti Anak

    Full text link
    Nyeri pascabedah labioplasti dapat dicegah dengan regional blok infraorbital bilateral. Bupivakain 0,25% biasa digunakan untuk blok infraorbital dan penambahan petidin akan memperpanjang lama kerjanya. Penelitian telah dilakukan dengan uji klinis acak terkontrol tersamar tunggal terhadap 40 pasien ASA II usia 3 bulan–1 tahun yang menjalani operasi labioplasti di ruang operasi bedah sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Maret–Mei 2012. Setelah randomisasi secara blok permutasi, subjek dikelompokkan >menjadi dua, yaitu 20 subjek menggunakan bupivakain 0,25% 1 mL pada tiap sisi (kelompok B) dan 20 subjek menggunakan kombinasi bupivakain 0,25% dan petidin 0,25 mg/kgBB 1 mL pada tiap sisi (kelompok >BP) yang diberikan setelah induksi anestesi. Data tentang lama analgesi diuji dengan Mann-Whitney. Analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan lama analgesia antara kedua kelompok sangat bermakna (p<0,0001). Simpulan, peningkatan lama analgesia kombinasi bupivakain 0,25% dan petidin 0,25 mg/kg BB menghasilkan masa bebas nyeri sampai 36 jam, sedangkan pada bupivakain 0,25% lebih singkat sekitar 18 jam. Tidak dijumpai efek samping dalam penelitian ini.Kata kunci: Blok infraorbital, bupivakain, labioplasti, petidinComparison Between the Addition of Pethidine 0.25 mg/kgBW in Bupivacain 0.25% with Bupivacain 0.25% for Infraorbital Blockade in Labioplasty Surgery in Children to the Length of Post Operative AnalgesiaLabioplasty postoperative pain can be prevented by bilateral infraorbital regional block. Bupivacaine 0.25% is usually used in infraorbital block and pethidine as an adjuvant can prolong the postoperative analgesic. The research was a single-blind randomized clinical trial included 40 children ASA II aged 3 months–1 year underwent labioplasty surgery in central operating theatre Dr. Hasan Sadikin Hospital-Bandung during March–May 2012. After block of permutation randomization, the subjects were grouped into two, 20 subjects (group B) using bupivacaine 0.25% 1 mL on each side and 20 subjects (group of BP) using combination of pethidine bupivacaine 0.25% and 0.25 mg/kgBW 1 mL on each side after the induction of anesthesia. Measurement data of length of analgesia were tested with the Mann-Whitney Test. Statistical analysis showed that the difference of the length of analgesia between two groups analgesia was highly significant (p<0.0001). The conclusion of this study is that the increase of the length of analgesia in combination of bupivacaine 0.25% and pethidine 0.25 mg/kgBW produce pain-free period to 36 hours, whereas bupivacaine 0.25% is shorter, about 18 hours. The incidence of adverse effect was not found in this study.Key words: Bupivacaine, infraorbital block, labioplasty, pethidine DOI: http://dx.doi.org/10.15851/jap.v1n2.12

    Perbandingan antara Kombinasi Bupivakain 0,125% dan Dexmedetomidin 1 µg/Kgbb dengan Bupivakain 0,125% Melalui Blok Kaudal Terhadap Lama Analgesi Pascaoperasi Hipospadia

    No full text
    Blokade kaudal merupakan tehnik anestesi regional yang paling banyak dilakukan pada operasi anak . Berbagai obat anestetik lokal telah digunakan untuk tehnik ini. Bupivakain adalah salah satu obat anestetik lokal yang paling banyak digunakan karena memiliki lama kerja yang panjang. Dexmedetomidin adalah suatu α2 agonis yang dipergunakan sebagai adjuvant untuk memperpanjang durasi bupivakain bila diberikan melalui blokade kaudal. Untuk meningkatkan efektifitasnya maka kombinasi bupivakain dengan dexmedetomidin dalam konsentrasi dan dosis yang rendah dapat diberikan. Penelitian ini dilakukan untuk menilai lama analgesia pascaoperasi dengan  blokade kaudal antara kombinasi  bupivakain  0,125 % ditambah  dexmedetomidin 1 µg/KgBB dan  bupivakain  0,125 % pada pasien pediatrik yang menjalani operasi hipospadia. Penelitian dilakukan terhadap 30 pasien anak , status  fisik  ASA I dan II,  dan berusia 1-6 tahun yang menjalani operasi hipospadia dengan anestesi umum, yang dilakukan blokade kaudal pascaoperasi. Pasien dibagi dalam dua kelompok. Kelompok BD menggunakan kombinasi Bupivakain 0,125% dan Dexmedetomidin 1µg/KgBB ( 0,5 cc/KgBB ), dan kelompok B menggunakan Bupivakain 0,125 % ( 0,5 cc/KgBB ) sebagai kontrol. Dicatat lama analgesia pascaoperasi. Data hasil penelitian diuji dengan uji Mann-Whitney . Pada hasil penghitungan statistik, didapatkan lama analgesi pascaoperasi pada kelompok BD lebih panjang dibandingkan kelompok B dengan hasil yang sangat bermakana ( p < 0,001 ). Pada kelompok blokade kaudal yang menggunakan kombinasi bupivakain 0,125% dan dexmedetomidin 1 µg/KgBB ( BD ), menunjukkan lama analgesia yang lebih panjang dibandingkan dengan kelompok bupivakain 0,125% ( B ) yaitu [ 863,0 (36,34) menit ] terhadap  [ 378,08 (37,87) menit ]. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi Bupivakain 0,125% dan dexmedetomidin 1 µg/KgBB untuk blokade kaudal sebagai analgetik pascaoperasi hipospadia, menghasilkan lama analgesi yang lebih panjang dibandingkan dengan bupivakain  0,125% .Kata Kunci: Blokade kaudal, Hipospadia, Bupivakain, Dexmedetomidin Comparison Of A Combined 0.125% Bupivacaine 1µg/Kgbw Dexmedetomidin And A 0.125% Bupivacaine In CaudalBlockage To Analgesia Duration After  Hypospadic SurgeryCaudal  blockage is the most  frequently used regional anestesia technique in pediatric surgery.  Various local anesthetic agents have been frequently used in this technique. Bupivacaine is one of the most used local anesthetics due to its long duration of action. Dexmedetomidin is an α2agonist  that is used as adjuvant  in lengthening bupivacaine  duration when it is administered via caudal blockage. In increasing its effectiveness, the combination of bupivacaine with dexmedetomidin  in low concentrationd and low dose can be given. This study was performed to assess the postoperative analgesia duration using caudal blockage between the combined 0.125% bupivacaine-1µg/Kg BW dexmedetomidin and 0.125% bupivacaine solely in pediatric patients having hypospadic surgery. The study was applied to 30 pediatric patients with ASA I and II physical status, and  aged 1-6 years that received hypospadic surgery with general anesthesia, to whom caudal blockage applied postoperatively. The patients were divided into  two groups. One group (BD group) was treated using the combined 0.125% bupivacaine-1 µg/Kg BW dexmedetomidin (0.5 cc/kg BW), the other group (B group) was treated with 0.125% bupivacaine (0.5 cc/kb BW) as control group. Postoperative analgesia duration  was recorded. The data of the study results were assessed using Mann-Whitney test. Postoperative  analgesia duration of BD group (863.0 [36.34] minutes)  was very significantly (p<0.001) longer than that in B group (378.08 [37.87] minutes). The conclusion of this study indicated that the use of combined 0.125% bupivacaine-1 µg/Kg BW dexmedetomidin for caudal blockage as analgetic agent   after hypospadic surgery resulted longer analgesia duration than that of 0.125% bupivacaine solely.  Keywords : caudal blockage, hypospadia, bupivacaine, dexmedetomidin.DOI:  10.15851/jap.v1n1.16

    Pemberian Bolus 7,5 mL Poligelin pada Ruang Epidural untuk Menurunkan Kejadian Postdural Puncture Headache pada Anestesi Spinal

    Full text link
    Post dural puncture headache (PDPH) mengakibatkan morbiditas pada ibu yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal. PDPH disebabkan karena penurunan tekanan intratekal akibat kebocoran cairan serebrospinalis. Bolus poligelin pada ruang epidural diharapkan secara sementara meningkatkan tekanan ruang epidural dan mengurangi kebocoran cairan serebrospinalis sehingga dapat menurunkan kejadian PDPH. Penelitian dilakukan dengan uji klinis single blind randomized controled trial pada 90 wanita hamil yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal pada Oktober sampai Desember 2011 Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sampel dikelompokkan secara random menjadi kelompok bolus 7,5 mL poligelin dan kelompok kontrol, selanjutnya dilakukan penilaian PDPH sampai hari kelima pascaanestesi spinal. Analisis statistik berdasarkan Uji Eksak Fisher, memperlihatkan bahwa angka kejadian PDPH pada kedua kelompok perlakuan menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik (p<0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah bolus poligelin pada ruang epidural dapat menurunkan angka kejadian PDPH pada pasien yang menjalani operasi seksio sesarea dengan anestesi spinal.Kata kunci: Anestesi spinal, poligelin, post dural puncture headache, ruang epidural  Bolus 7.5 mL Polygeline into the Epidural Space in Reducing the Incidence of Postdural Puncture Headache on Spinal AnesthesiaAbstractPost dural puncture headache (PDPH) may cause morbidity in women undergoing caesarean section with spinal anesthesia. PDPH is caused by a reduction of intrathecal pressure due to leakage of cerebrospinal fluid. Polygeline bolus into the epidural space is expected to temporarily increase the pressure of the epidural space therefore reduces cerebrospinal fluid leakage so that it may reduce the incidence of PDPH. The study conducted was a single-blind randomized clinical trial on 90 pregnant women undergoing caesarean section with spinal anesthesia from October until December 2011 in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Samples were randomly divided into the bolus of 7.5 mL polygeline group and the control group. Evaluation of PDPH was performed until 5th day post-spinal anesthesia. Statistical analysis using Fisher's Exact Test, showed that the incidence of PDPH in both treatment groups showed a statistically significant difference (p<0.05). The conclusion of this study is polygeline bolus into the epidural space may decrease the incidence of PDPH in patients undergoing caesarean section with spinal anesthesia.Key words: Epidural space, polygeline, post dural puncture headache, spinal anesthesia DOI: 10.15851/jap.v1n3.19

    Patofisiologi Pintasan Jantung Paru

    Full text link
    Perubahan fisiologi yang disebabkan oleh pintasan jantung paru (PJP) adalah perubahan pulsatilitas, pola aliran darah, pengaruh paparan darah terhadap permukaan nonfisiologis, kerusakan darah akibat tekanan (shear stress), hemodilusi, dan respons stres yang berlebihan. Peningkatan keamanan penggunaan PJP bergatung pada pengetahuan dan pemahaman yang baik terhadap perubahan homeostatis sirkulasi normal. Kontrol sirkulasi selama PJP dilakukan dengan memerhatikan aliran darah sistemik, tekanan arteri, tekanan vena, dan distribusi aliran darah. Perubahan sirkulasi selama PJP dapat terjadi saat PJP dimulai, pada periode hipotemia, pada fase pemulihan temperatur (rewarming), saat PJP dengan temperatur hangat (warm CPB) dan PJP juga akan mengakibatkan perubahan pada mikrosirkulasi, serta keadekuatan perfusi jaringan.Kata kunci: Efek pintasan jantung paru, patofisiologi, pintasan jantung paru Patophysiology of Cardiopulmonary Bypassphysiologic changes introduced by cardiopulmonary bypass include an alteration in pulsatile, blood flow >pattern, exposure of blood to nonphysiologic surface, blood damage due to shear stress, hemodilution, and overload stress response. The increase of cardiopulmonary bypass safety depends on good knowledge and understanding on normal circulatory hemostatis changes. Circulation control during cardiopulmonary bypass was done by observing systemic blood flow, arterial pressure, venous pressure, and blood< flow distribution. Circulatory changes during cardiopulmonary bypass can happen on set of action, hipotermia periode, rewarming phase, during cardiopulmonary bypass with warm temperature, and also cardiopulmonary bypass can cause changes in microsirculation and adequacy of tissue perfusion.Key words: Effect of cardiopulmonary bypass, pathophysiology, cardiopulmonary bypass DOI: 10.15851/jap.v1n2.12

    221

    full texts

    288

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Anestesi Perioperatif
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇