Jurnal Anestesi Perioperatif
Not a member yet
288 research outputs found
Sort by
Korelasi Kadar Limfosit dengan Nilai P/F Rasio Pada Pasien Covid-19 Derajat Berat
Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Limfopenia adalah salah satu kelainan laboratorium utama pada pasien COVID-19 derajat berat yang mengalami ARDS dengan penurunan P/F rasio. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi kadar limfosit dengan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat. Penelitian dilakukan di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan menelusuri rekam medik pada periode Januari hingga Juli 2021. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif menggunakan model pendekatan waktu secara longitudinal atau time period approach. Penilaian dilakukan pada saat subjek dirawat pada hari ke-1, 3, dan ke-7 di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji normalitas data numerik menggunakan uji Shapiro Wilk didapatkan hasil data berdistribusi tidak normal. Selanjutnya, pada penelitian ini dilakukan uji korelasi Spearman. Tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat (p=0,125; R=0,126). Didapatkan sebagian besar pasien COVID-19 derajat berat memiliki kadar limfosit <1.000 uL dan P/F rasio <150 mmHg (p<0,05). Simpulan, tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada COVID-19 derajat berat, walaupun pada sebagian besar kasus COVID-19 derajat berat didapatkan penurunan limfosit dan P/F rasio. Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Limfopenia adalah salah satu kelainan laboratorium utama pada pasien COVID-19 derajat berat yang mengalami ARDS dengan penurunan P/F rasio. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kadar limfosit dengan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat sebagai prediktor terjadinya kerusakan paru atau ARDS. Penelitian dilakukan di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan menelusuri rekam medik pada periode Januari hingga Juli 2021. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif menggunakan model pendekatan waktu secara longitudinal atau time period approach. Penilaian dilakukan pada saat subjek di rawat pada hari ke-1, 3, dan ke-7 di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji normalitas data numerik menggunakan uji Shapiro Wilk didapatkan hasil data berdistribusi tidak normal. Selanjutnya, pada penelitian ini dilakukan uji korelasi Spearman. Tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat (p=0,125 dan R=0,126). Didapatkan sebagian besar pasien COVID-19 derajat berat memiliki kadar limfosit <1000 uL dan P/F rasio <150 mmHg (p<0,05)
Gambaran Skor ANDC sebagai Prediktor Kematian pada Pasien COVID-19 di Ruang Intensif Isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2021 – Juni 2021
Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemi global yang menyebabkan angka mortalitas tinggi. Saat ini belum ada sistem skor yang digunakan untuk memprediksi angka mortalitas pada pasien COVID-19 yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif observasional retrospektif yang bertujuan mengetahui gambaran skor Age, Neutrophil to lymphocyte ratio, D-dimer, C-reactive protein (ANDC) sebagai prediktor kematian pasien COVID-19 yang dirawat di ruang intensif isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung pada periode Januari–Juni 2021. Data ANDC dari 221 pasien COVID-19 derajat sedang dan berat dicatat di hari pertama dan diolah. Hasil penelitian didapatkan pasien COVID-19 derajat sedang memiliki angka mortalitas sebesar 5% untuk skor ANDC risiko rendah, 39,3% untuk skor risiko sedang, dan 50% untuk skor risiko tinggi. Sementara pada pasien COVID-19 derajat berat secara umum memiliki angka mortalitas yang tinggi, untuk skor ANDC risiko rendah sebesar 42,1%, skor risiko sedang sebesar 70,6% dan skor risiko tinggi sebesar 78,5%. Simpulan penelitian ini adalah semakin tinggi nilai skor ANDC maka semakin tinggi pula angka mortalitas pasien COVID-19. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemi global yang menyebabkan tingginya angka mortalitas. Saat ini belum ada sistem skor yang digunakan untuk memprediksi angka mortalitas pada pasien COVID-19 yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif observasional retrospektif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran skor ANDC (Age, Neutrophil to lymphocyte ratio, D-dimer, C-reactive protein) sebagai prediktor kematian pasien COVID-19 yang dirawat di ruang intensif isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode Januari-Juni 2021. Data ANDC dari 221 pasien COVID-19 derajat sedang dan berat dicatat di hari pertama dan diolah. Hasil penelitian didapatkan pasien COVID-19 derajat sedang memiliki angka mortalitas sebesar 5,0% untuk skor ANDC risiko rendah, 39,3% untuk skor risiko sedang, dan 50,0% untuk skor risiko tinggi. Sementara pada pasien COVID-19 derajat berat secara umum memiliki angka mortalitas yang tinggi, untuk skor ANDC risiko rendah sebesar 42,1%, skor risiko sedang sebesar 70,6% dan skor risiko tinggi sebesar 78,5%. Simpulan penelitian ini adalah semakin tinggi nilai skor ANDC maka semakin tinggi pula angka mortalitas pasien COVID-19 yang dirawat di ruang intensif isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
Pengaruh Remifentanil Vs Fentanyl Terhadap Hemodinamik dan Kadar Kortisol Pada Pasien Dengan Ventilasi Mekanis Di Ruang Rawat Intensif
Nyeri pascaventilasi mekanik membutuhkan analgosedasi untuk tata laksana nyeri, namun belum ada rekomendasi pasti penggunaan opioid dan perubahan fisiologis spesifik berdampak langsung pada farmakologi obat yang menyebabkan perbedaan respons antarpasien. Penelitian eksperimental secara double blind randomized control trial (RCT) pada 32 pasien dengan status fisik ASA I–II, usia 18–70 tahun, terventilator dengan durasi 24 jam pascaoperasi tiroid di Intensive Care Unit (ICU) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Juni–Agustus 2023. Pasien dibagi dalam kelompok analgosedasia remifentanil dan kelompok analgosedasia Fentanil. Respons hemodinamik, dan kadar kortisol dicatat dan dilakukan uji statistik dengan student t-test dan chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok remifentanil menunjukkan perubahan tekanan darah sistole, diastole, rerata tekanan arteri serta denyut jantung yang lebih stabil daripada fentanil. Penggunaan fentanil menunjukkan penurunan kadar kortisol dalam 24 jam yang lebih tinggi daripada penggunaan remifentanil (p<0,05), tetapi kadar kortisol serum dalam 24 jam lebih rendah pada kelompok remifentanil dibanding dengan kelompok fentanil. Simpulan, remifentanil lebih mempertahankan stabilitas hemodinamik dan memberikan kadar kortisol serum yang lebih rendah pada pasien yang terventilasi mekanik. Nyeri pasca ventilasi mekanik membutuhkan analgosedasi untuk tatalaksana nyeri, namun belum ada rekomendasi pasti tentang penggunaan opioid dan perubahan fisiologis spesifik berdampak langsung pada farmakologi obat yang menyebabkan perbedaan respons antar pasien. Penelitian eksperimental secara double blind randomized control trial (RCT) pada 32 pasien dengan status fisik ASA I–II, usia 18–70 tahun, terventilator dengan durasi 24 jam post operasi tyroid di Intensive Care Unit (ICU) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Juni sampai Agustus 2023. Pasien dibagi dalam kelompok analgosedasia Remifentanil dan kelompok analgosedasia Fentanyl. Respon hemodinamik, dan kadar kortisol dicatat dan dilakukan uji statistik dengan student t-test dan chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok Remifentanil menunjukkan perubahan tekanan darah sistol, diastol, rerata tekanan arteri, denyut jantung, frekuensi pernapasan dan suhu tubuh yang lebih stabil daripada Fentanyl. Penggunaan Fentanyl menunjukkan penurunan kadar kortisol yang lebih tinggi daripada penggunaan Remifentanil (p < 0,05).. Simpulan bahwa Remifentanil lebih mempertahankan stabilitas hemodinamik dan memberikan kadar kortisol serum yang lebih rendah pada pasien yang terventilasi mekanik
Komplikasi Berat Pemasangan Central Venous Catheter: Serial Kasus
Kateter vena sentral/central venous catheter (CVC) diindikasikan untuk melakukan pemantauan terhadap tekanan vena sentral/central venous pressure (CVP), pemberian cairan untuk menangani hipovolemia dan syok, nutrisi parenteral dan untuk mendapatkan akses vena bagi pasien yang akses vena perifernya sulit didapatkan. Salah satu komplikasi pemasangan CVC yang paling umum adalah penusukan arteri yang dapat menyebabkan kondisi yang membahayakan jiwa. Laporan kasus ini menunjukkan keberhasilan penanganan syok hemoragik pascapemasangan CVC melalui resusitasi yang adekuat dan pembedahan endovaskular. Kateter vena sentral (central venous catheter [CVC]) diindikasikan untuk melakukan pemantauan terhadap tekanan vena sentral (central venous pressure [CVP]), pemberian cairan untuk menangani hipovolemia dan syok, nutrisi parenteral dan untuk mendapatkan akses vena bagi pasien yang akses vena perifernya sulit untuk didapatkan. Salah satu komplikasi pemasangan CVC yang paling umum adalah penusukan arteri yang dapat menyebabkan kondisi yang membahayakan jiwa. Laporan kasus ini menunjukkan keberhasilan penanganan syok hemoragik pasca pemasangan CVC melalui resusitasi yang adekuat dan pembedahan endovaskular
Perbandingan Mula Kerja Ropivacaine 0,75% dengan Levobupivacaine 0,5% untuk Blokade Peribulbar pada Pasien yang Menjalani Operasi Vitrektomi
Blokade peribulbar merupakan salah satu teknik anestesi regional yang dapat digunakan untuk operasi vitrektomi. Ropivakain dan levobupivakain merupakan anestetik lokal yang memiliki keunggulan durasi kerja yang lama dan tingkat komplikasi lebih rendah dibanding dengan bupivakain. Penelitian ini bertujuan membandingkan mula kerja antara ropivakain dan levobupivakain pada blokade peribulbar. Jenis penelitian ini berupa eksperimental prospektif yang menggunakan desain double blind randomized controlled trial dengan analisis statistik menggunakan uji Mann Whitney. Subjek terdiri dari 34 orang yang menjalani operasi vitrektomi dengan blokade peribulbar. Penelitian dilakukan bulan Maret–April 2022 di di Netra Klinik Spesialis Mata Bandung. Enam belas subjek dilakukan blokade peribulbar dengan ropivakain 0,75% dan 18 subjek mendapatkan levobupivakain 0,5%. Mula kerja rerata pada grup ropivakain 0,75% didapatkan 11,3 menit, sedangkan grup levobupivakain 0,5% rerata 7,78 menit dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Volume rerata grup ropivakain 0,75% adalah 8,06±1,44 mL, sedangkan grup levobupivakain 0,5% mendapatkan volume rerata 7,00±1,79 mL. Mula kerja levobupivakain 0,5% lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%, hal tersebut kemungkinan berhubungan dengan perbedaan lipid solubilitas, ropivakain 10 kali lebih rendah lipid solubilitasnya dibanding dengan levobupivakain. Simpulan penelitian ini adalah mula kerja levobupivakain 0,5% pada blokade peribulbar lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%. Pendahuluan. Blokade peribulbar merupakan salah satu teknik anestesi regional yang dapat digunakan untuk operasi vitrektomi. Ropivakain dan levobupivakain merupakan anestetik lokal yang memiliki keunggulan durasi kerja yang lama, dan tingkat komplikasi lebih rendah dibanding dengan bupivakain. Penelitian ini bertujuan mencari mula kerja dari ropivakain dan levobupivakain. Metode. Sebanyak 34 subjek dilakukan vitrektomi di Netra Klinik Spesialis Mata Bandung dengan blokade peribulbar. Enam belas subjek mendapatkan ropivakain 0,75% dan delapan belas subjek mendapatkan levobupivakain 0,5% untuk blokade peribulbar. Setelah penyuntikan dilakukan penilaian gerak bola mata untuk menilai akinesia, dinilai Cicendo Akinesia Score (CAS) setiap menit selama 10 menit, blokade tercapai bila skor CAS 2 atau 3. Hasil. Grup ropivakain 0,75% didapatkan mula kerja rerata 11,3 menit, sedangkan grup levobupivakain 0,5% rerata 7,78 menit setelah penyuntikan. Hasil statistik didapatkan nilai p <0,05 yang berarti bermakna dari mulai kerja kedua obat. Volume rerata grup ropivakain 0,75% 8,06±1,44 ml, sedangkan grup levobupivakain 0,5% mendapatkan volume rerata 7,00±1,79 ml. Diskusi. Mula kerja levobupivakain 0,5% lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%, hal tersebut kemungkinan berhubungan dengan perbedaan lipid solubilitas, ropivakain 10 kali lebih rendah lipid solubilitasnya dibanding levobupivakain. Anatomi bola mata diselubungi oleh jaringan lemak, kemungkinan penetrasi ropivakain lebih lambat dibanding dengan levobupvakain. Simpulan. Mula kerja levobupivakain 0,5% lebih cepat dibandingkan dengan ropivakain 0,75% pada blokade peribulbar. Kata Kunci: blokade peribulbar, levobupivakain, ropivakain, vitrektom
Anestesi Dosis Rendah pada Pasien Asma dan Suspek Hipertiroid yang Menjalani Seksio Sesarea: Sebuah Laporan Kasus
Kehamilan dengan penyakit sistemik merupakan kasus yang menjadi perhatian khusus. Asma sebagai penyakit penyerta berisiko tinggi pada jalan napas ibu, sedangkan hipertiroid merupakan salah satu penyakit sistemik pada kehamilan yang dapat menimbulkan kegawatan pada ibu dan janin. Terdapat beberapa laporan kasus terkait manajemen anestesi pada ibu hamil dengan asma maupun hipertiroid, namun masih jarang yang membahas keduanya secara bersamaan. Kami melaporkan wanita 25 tahun dengan G2P1A0 yang menjalani seksio sesarea atas indikasi ketuban pecah dini, hipertiroid, asma intermiten, dan riwayat seksio sesarea. Tekanan darah 143/93 mmHg, laju nadi 111 kali per menit, saturasi 98–100% udara ruang. Pemeriksaan preoperasi didapatkan eksoftalmus, tremor, dan benjolan di leher. Pemeriksaan jantung didapatkan bunyi jantung I–II reguler tanpa murmur, suara paru vesikular dengan mengi minimal di kedua lapang paru. Pemeriksaan leopold didapatkan janin tunggal dengan presentasi kepala, denyut jantung janin 141 kali per menit. Pasien stabil selama operasi dengan anestesi spinal menggunakan bupivakain 7,5 mg adjuvan fentanil 25 mcg. Manajemen anestesi dengan multikomorbid memerlukan tata laksana yang cermat untuk memperoleh luaran yang baik. Kehamilan dengan penyakit sistemik merupakan kasus yang menjadi perhatian khusus. Asma sebagai penyakit penyerta berisiko tinggi pada jalan napas ibu. Sedangkan hipertiroid merupakan salah satu penyakit sistemik pada kehamilan yang dapat menimbulkan kegawatan pada ibu dan janin. Terdapat beberapa laporan kasus terkait manajemen anestesi pada ibu hamil dengan asma maupun hipertiroid, namun masih jarang yang membahas keduanya secara bersamaan. Kami melaporkan wanita 25 tahun dengan G2P1A0 yang menjalani seksio sesarea atas indikasi ketuban pecah dini, hipertiroid, asma intermiten, dan riwayat seksio sesarea. Tekanan darah 143/93 mmHg, laju nadi 111 kali per menit, saturasi 98-100% udara ruang. Pemeriksaan preoperasi didapatkan eksoftalmus, tremor, dan benjolan di leher. Pemeriksaan jantung didapatkan bunyi jantung I-II reguler tanpa murmur, suara paru vesikuler dengan mengi minimal di kedua lapang paru. Pemeriksaan leopold didapatkan janin tunggal dengan presentasi kepala, denyut jantung janin 141 kali per menit. Pasien stabil selama operasi dengan anestesi spinal menggunakan bupivacaine 7,5 mg ajuvan fentanil 25 mcg. Manajemen anestesi dengan multikomorbid memerlukan tatalaksana yang cermat untuk memperoleh luaran yang bai
Perbandingan Terapi Albumin dari Ekstrak Channa Micropeltes Dan Channa Striata Terhadap Peningkatan Kadar Albumin pada Pasien Hipoalbuminemia
Suplemen albumin yang selama ini sering digunakan adalah ekstrak ikan gabus (Channa striata). Ikan toman (channa micropeltes) diduga memiliki protein yang lebih tinggi dari pada ikan gabus. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan peningkatan kadar albumin dari ekstrak ikan toman dan ikan gabus dengan peningkatan kadar albumin darah pada pasien hipoalbuminemia. Penelitian ini dilakukan di ICU RSUD Dr. Muwardi Surakarta pada bulan November 2019–Januari 2020. Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 30 pasien yang menjalani perawatan intensif dengan hipoalbuminemia yang telah memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok dengan pemberian albumin ekstrak ikan toman (A) dan kelompok pemberian albumin ekstrak ikan gabus (B). Kedua kelompok diberikan albumin dengan dosis 5 gram tiap 12 jam selama tiga hari berturut-turut. Dilakukan pencatatan kadar albumin darah sebelum perlakuan dan tiga hari berturut-turut sejak pemberian ekstrak albumin. Penelitian menunjukan hasil bahwa selisih perubahan kadar albumin hari ke 1-baseline kelompok A mengalami peningkatan rerata 0,17+0,12, sedangkan kelompok B 0,11+0,08 (p=0,163). Pada hari ke-2 baseline kelompok A mengalami peningkatan rerata 0,41+0,15, sedangkan kelompok B 0,39+0,21 (p=0,785); pada hari ke-3 baseline kelompok A mengalami peningkatan rerata 0,74+0,35, sedangkan kelompok B 0,55+0,23 (p=0,785). Simpulan, ekstrak ikan toman memberikan peningkatan albumin yang lebih baik dibanding dengan ikan gabus, meskipun tidak berbeda secara statistik. Hipoalbuminemia adalah kadar albumin darah kurang dari 3,5 g/dL. Pemberian suplemen peroral albumin selama ini menggunakan ekstrak dari ikan gabus (Channa striata). Ikan Toman (Channa micropeltes) diduga memiliki protein yang lebih tinggi dari ikan gabus. Tujuan ini adalah membandingkan peningkatan kadar albumin pada pemberian albumin teknologi nano dari ekstrak ikan toman dengan ekstrak ikan gabus pada penderita hypoalbuminemia. Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 30 pasien yang menjalani perawatan intensif dengan hipoalbuminemia yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing 15 pasien, yaitu kelompok dengan pemberian albumin ekstrak Ikan Toman dan kelompok pemberian albumin ekstrak Ikan Gabus. Kedua kelompok diberikan albumin dengan dosis 5 gram tiap 12 jam selama tiga hari berturut-turut. Dilakukan pencatatan kadar albumin darah sebelum perlakuan dan tiga hari berturut-turut, serta efek samping dari pemberian ekstrak albumin. Penelitian menunjukan hasil bahwa selisih perubahan kadar albumin hari ke 1-Baseline kelompok A mengalami peningkatan rata-rata 0,17 +0,12, sedangkan kelompok B 0,11 +0,08 (p=0,163); pada hari ke 2 - Baseline kelompok A mengalami peningkatan rata-rata 0,41 +0,15, sedangkan kelompok B 0,39 +0,21 (p=0,785); pada hari ke 3 - Baseline kelompok A mengalami peningkatan rata-rata 0,74 +0,35, sedangkan kelompok B 0,55 +0,23 (p=0,785). Efek samping albumin hanya ditemukan keluhan mual muntah pada Kelompok A (2 pasien) dan Kelompok B (3 pasien). Simpulan, Albumin teknologi Nano Ekstrak Ikan Toman memberikan hasil peningkatan albumin yang lebih baik dibanding Ikan Gabus meskipun tidak berbeda signifikan secara statisti
PERBANDINGAN NILAI NUMERIC RATING SCALE (NRS) POSTOPERATIF PADA PEMBERIAN MULTIMODAL ANALGESIA PARECOXIB DAN ACETAMINOPHEN DENGAN KETOROLAC DAN ACETAMINOPHEN INTRAVENA
Nyeri pascaoperasi adalah reaksi fisiologis yang kompleks terhadap kerusakan jaringan yang terjadi akibat pembedahan. Penggunaan NSAID baik ketorolak maupun parecoxib telah terbukti memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit pascaoperasi yang diberikan sebelum atau sesudah operasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan NRS pada pasien pascaoperasi laparotomi dengan multimodal analgesia antara parecoxib dan asetaminofen serta ketorolak dan asetaminofen intravena. Penelitian ini bersifat analitik dengan metode penelitian double blind randomized clinical trial. Seluruh pasien elektif yang menjalani bedah laparotomi dengan teknik anestesi general anesthesia di RSUP H. Adam Malik Medan Januari–Maret 2023. Sampel merupakan pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi dikumpulkan dengan metode total sampling. Pada penilaian nyeri menggunakan skala NRS (T1) 30 menit dan (T4) 24 jam didapatkan perbedaan bermakna secara statistik menggunakan uji T tidak berpasangan (p<0,05) pada nilai NRS antara parecoxib+asetaminofen dan ketorolak+asetaminofen , yaitu dengan nilai p pada T1 0,010; pada T2 0,023; pada T3 0,001; dan pada T4 0,034. Pemberian multimodal analgesia parecoxib dan asetaminofen memberikan hasil analgesia yang baik pada pasien yang menjalani laparotomi dengan general anesthesia dibanding dengan ketorolak dan asetaminofen. Pendahuluan: Nyeri paska operasi adalah suatu reaksi fisiologis yang kompleks terhadap kerusakan jaringan yang terjadi akibat pembedahan. Penggunaan NSAID baik ketorolac maupun Parecoxib telah terbukti memiliki kemampuan untuk mengurangi rasa sakit paska operasi yang diberikan sebelum atau sesudah operasi.Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan NRS pada pasien post operatif laparotomi dengan general anestesi dengan multimodal analgesia parecoxib dan acetaminfen dan ketorolac dan asetaminofen intravena.Metode: Penelitian ini bersifat analitik dengan metode Penelitian ini adalah double blind randomized clinical trial. Seluruh pasien elektif yang menjalani bedah laparotomi dengan teknik anestesi general anesthesia Sampel merupakan pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dikumpulkan dengan metode total sampling. Hasil: Pada Penilaian nyeri menggunakan skala NRS T1-T4 didapatkan perbedaan yang bermakna secara statistic menggunakan uji T tidak berpasangan (P<0,05) pada nilai NRS antara Parecoxib + Acetaminophen dengan Ketorolac + Acetaminophen yaitu dengan nilai P pada T1 0,010, Pada T2 0,023, Pada T3 0,001 dan pada T4 0,034.Kesimpulan: Pemberian multimodal analgesia parecoxib dan acetaminophen memberikan hasil analgesia yang baik pada pasien yang menjalani laparotomi dengan general anesthesia dibandingkan Ketorolac dan Acetaminophen
Perbandingan Morfin Dosis 0,05 Mg dengan 0,1 Mg Sebagai Adjuvan Bupivakain 0,5% 10 Mg Intratekal Terhadap Skala Nyeri dan Durasi Analgesia Pascaseksio Sesarea
Masalah pascaoperasi yang paling dikeluhkan oleh pasien yang menjalani seksio sesarea adalah nyeri akut pascaoperasi. Salah satu metode yang direkomendasikan dalam protokol Enhanced Recovery After Cesarean Section (ERACS) untuk mencegah nyeri akut pascaoperasi adalah penggunaan opioid long-acting intratekal dengan morfin intratekal sebagai baku standar. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin selama bulan Juli–Oktober 2022 Penelitian ini bertujuan menilai perbandingan intensitas nyeri dan durasi analgesia antara pemberian morfin 0,05 mg dan 0,1 mg sebagai adjuvan bupivakain 0,5% 10 mg intratekal pada pasien yang menjalani prosedur seksio sesarea. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial. Penilaian intensitas nyeri dan durasi analgesia pada pasien dihitung setiap 1 jam sejak operasi selesai (T0) hingga jam ke-24 (T24) pascaoperasi. Analisis statistik data numerik menggunakan uji t tidak berpasangan pada data berdistribusi normal serta uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik data kategorik menggunakan uji chi-square dan alternatif uji Eksak Fisher. Intensitas nyeri NRS jam ke-2, -3, -4, -5, - 6, dan -7 pada kelompok morfin 0,1 mg lebih rendah dibanding dengan kelompok morfin 0,05 mg dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p<0,05). Simpulan. durasi analgesia pascaseksio sesarea pada pemberian morfin secara intratekal dosis 0,1 mg lebih lama dibanding dengan dosis 0,05 mg. Masalah pascaoperasi yang paling dikeluhkan dan ditakuti oleh pasien yang menjalani seksio sesarea adalah nyeri akut pascaoperasi. Salah satu metode yang direkomendasikan dalam protokol Enhanced Recovery After Cesarean Section (ERACS) untuk mencegah nyeri akut pascaoperasi adalah penggunaan opioid long-acting intratekal, dengan morfin intratekal sebagai baku standar. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbandingan skala nyeri dan durasi analgesia antara pemberian morfin dosis 0,05 mg dengan 0,1 mg sebagai adjuvan bupivakain 0,5% 10 mg intratekal pada pasien yang menjalani prosedur seksio sesarea. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial terhadap kedua kelompok penelitian. Penilaian skala nyeri dan durasi analgesia pada pasien dihitung setiap 1 jam sejak operasi selesai (T0) hingga jam ke-24 (T24) pascaoperasi. Analisis statistik data numerik menggunakan uji t tidak berpasangan pada data berdistribusi normal serta uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik data kategorik menggunakan Uji Chi-Square dan alternatif Uji Exact Fisher. Terdapat perbedaan skala nyeri NRS jam ke-2, 3, 4, 5, 6, dan 7 yang bermakna secara statistik (p<0,05), dan perbedaan durasi analgesia yang bermakna (p<0,05) pada kedua kelompok. Skala nyeri pascaseksio sesarea pada pemberian morfin secara intratekal dosis 0,1 mg lebih rendah dibandingkan dengan dosis 0,05 mg. Durasi analgesia pascaseksio sesarea pada pemberian morfin secara intratekal dosis 0,1 mg lebih lama dibandingkan dengan dosis 0,05 mg
Profil Morbiditas dan Mortalitas Layanan Anestesi dan Pembedahan Pasien Geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Februari sampai April Tahun 2021
Pasien geriatri dapat meningkatkan angka kejadian morbiditas dan mortalitas saat mendapat tindakan anestesi dan pembedahan. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode Februari–April tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional secara retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mendapat tindakan anestesi di kamar operasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari–April tahun 2021. Hasil penelitian didapatkan karakteristik pasien dengan rerata usia 66 tahun, jenis kelamin laki-laki 51,0 %, IMT normal sebanyak 51,7%, status non covid 100%, komorbiditas hipertensi 30,2%, operasi elektif sebanyak 86,5%. Jenis tindakan operasi terbanyak dari bagian bedah digestif sebanyak 28,9%, status ASA 2 sebanyak 79,2%, dan tindakan anestesi umum sebanyak 69,8%. Simpulan, angka kejadian morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin bulan Februari sampai April 2021 didapatkan morbiditas sebanyak 105 pasien (70,4%) dan mortalitas sebanyak 10 pasien (6,7%). Morbiditas dan mortalitas terbanyak ditemukan pada wanita, 18,5–24,9 kg/m2 komorbid hipertensi, operasi emergensi, ASA ≥3, dan anestesi umum. Peningkatan angka keberhasilan kesehatan ditandai dengan adanya peningkatan presentasi populasi geriatri. Konsekuensinya peningkatan angka ini akan diikuti oleh peningkatan angka operasi dan tindakan anestesi. Pasien geriatri diketahui dapat meningkatkan angka kejadian morbiditas dan mortalitas dengan mendapat tindakan anestesi dan pembedahan. Kombinasi beberapa faktor yaitu status kesehatan, status nutrisi, komorbiditas, tipe pembedahan, status fisik ASA dan tipe anetesi akan berpengaruh. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Periode Februari sampai April Tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional secara retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mendapat tindakan anestesi di kamar operasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari sampai April tahun 2021. Data berdasarkan kondisi pasien, tindakan operasi, status ASA, tindakan anestesi, kejadian intraoperasi, komplikasi di ruang pemulihan dan ruang rawat biasa serta ruang semiintensif/intensif serta mortalitas, data tersebut dicatat dan diolah. Hasil penelitian didapatkan karakteristik pasien dengan rata-rata usia 66 tahun, jenis kelamin laki-laki 51,0 %, IMT normal sebanyak 51,7%, status non covid 100%, komorbiditas hipertensi 30,2%, operasi elektif sebanyak 86,5%. Jenis tindakan operasi terbanyak dari bagian bedah digestif sebanyak 28,9%, status ASA 2 sebanyak 79,2% dan tindakan anestesi umum sebanyak 69,8%. Simpulan pada penelitian ini angka kejadian morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin bulan Februari sampai April 2021 didapatkan morbiditas sebanyak 105 pasien (70,4%) dan mortalitas sebanyak 10 pasien (6,7%). Morbiditas dan mortalitas terbanyak ditemukan pada golongan jenis kelamin wanita, IMT 25,0 – 29,9, komorbid hipertensi, operasi emergensi, ASA ≥ 3 dan anestesi umum