Jurnal Anestesi Perioperatif
Not a member yet
    288 research outputs found

    Pengaruh Blok Peritonsiler Levobupivacaine Isobarik 0,125% Terhadap Intensitas Nyeri Dan Kadar Interleukin 6 Pada Pascabedah Tonsilektomi

    No full text
    Nyeri pascatonsilektomi memengaruhi banyak aspek pada pasien. Intensitas nyeri berhubungan dengan kadar interleukin (IL)-6 yang meningkat pada proses inflamasi. Levobupivakain merupakan anestesi lokal potensi tinggi dengan durasi kerja panjang dan onset kerja relatif lambat. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh blok peritonsiler levobupivakain isobarik terhadap intensitas nyeri dan kadar interleukin 6 pascatonsilektomi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain uji klinis acak tersamar tunggal yang dilakukan di Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin dan Rumah Sakit jejaring pendidikan pada bulan Desember 2023–Januari 2024. Pasien dibagi secara acak dalam dua kelompok yaitu kelompok intervensi (diberikan levobupivakain isobarik pascabedah) dan kontrol. Intensitas nyeri, jumlah opioid, dan efek samping pada 4, 8, 12, 24 jam pascabedah dievaluasi. Pemeriksaan IL-6 dilakukan sebelum pembedahan dan 12 jam pascabedah. Total 30 pasien diikutkan dengan 15 pasien pada tiap kelompok. Intensitas nyeri pascabedah pada kelompok kontrol lebih tinggi secara signifikan dibanding dengan kelompok intervensi pada 2, 4, 6, hingga 8 jam pascabedah (P<0,05). Perubahan kadar IL-6 pascabedah juga berbeda secara signifikan (p=0,033) dengan kelompok kontrol (74,56±33,79) mengalami kenaikan lebih tinggi dibanding dengan kelompok intervensi (44,67±45,44). Simpulan didapatkan bahwa levobupivakain isobarik dapat menurunkan intensitas nyeri dan kadar IL-6 pascatonsilektomi. Nyeri pascatonsilektomi mempengaruhi banyak aspek pada pasien. Dilaporkan ada hubungan antara intensitas nyeri dengan kadar interleukin (IL)-6, yang berhubungan dengan inflamasi. Levobupivacaine merupakan anestesi lokal potensi tinggi, kerja lama dengan onset kerja yang relatif lambat. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh blok peritonsiler levobupivacaine isobarik terhadap intensitas nyeri dan kadar interleukin 6 pasca tonsilektomi.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain uji klinis acak tersamar tunggal yang dilakukan di RSUP Wahidin Sudirohusodo dan RS jejaring pendidikannya pada bulan Desember 2023 – Januari 2024. Pasien dibagi secara acak dalam dua kelompok: intervensi (diberikan levobupivacaine isobarik pascabedah) dan kontrol. Intensitas nyeri, jumlah opioid, dan efek samping pada 4, 8, 12, 24 jam pascabedah dievaluasi. Pemeriksaan IL-6 dilakukan sebelum pembedahan dan 12 jam pascabedah.Total 30 pasien diikutkan dengan 15 pasien pada tiap kelompok. Intensitas nyeri pada kelompok kontrol lebih tinggi secara signifikan pada kelompok intervensi pascabedah tonsilektomi pada 2, 4, 6, hingga 8 jam pasca bedah (P<0,05). Perubahan kadar IL-6 juga berbeda secara signifikan pascabedah (p = 0,033), dimana kelompok kontrol (74,56 ± 33,79) mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibanding kelompok intervensi (44,67 ± 45,44).Didapatkan bahwa levobupivacaine isobarik dapat menurunkan intensitas nyeri dan kadar IL-6 pascatonsilektomi. Kata kunci: Interleukin-6, Levobupivacaine, Nyeri, Tonsilektom

    Perbandingan Antara Kombinasi Ibuprofen dan Parasetamol dengan Ketorolak dan Parasetamol Intravena Terhadap Derajat Nyeri dan Rasio Neutrofil Limfosit Pasca-Functional Endoscopic Sinus Surgery

    Full text link
    Functional endoscopic sinus surgery (FESS) adalah metode gold-standard pada manajemen rinosinusitis kronik. Prosedur ini tetap menimbulkan rasa nyeri pascaoperasi, walaupun tindakan bersifat minimal invasif. Parasetamol yang dikombinasikan dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) dapat digunakan untuk analgesik pascaoperasi. Hal lain yang perlu diperhatikan sebagai faktor prognostik adalah nilai rasio neutrofil limfosit (RNL). Penelitian ini mengamati penggunaan analgesia multimodal pada nyeri pascaoperasi serta apakah terdapat hubungan dengan RNL yang dilakukan di RSUlP Wahidin Suldirohulsodo dan rumah sakit jejaring antara bulan Agustus 2023 hingga Februari 2024. Desain penelitian adalah uji acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok P1 (pemberian kombinasi parasetamol dan ibuprofen intravena [IV]) dengan kelompok P2 (kombinasi parasetamol dan ketorolak IV) pascaoperasi FESS. RNL dihitung perioperatif, jam ke-6 dan ke-24 pascaoperasi. Penilaian derajat nyeri dilakukan pada 6 jam, 12 jam, 24 jam dan 48 jam pascaoperasi. Total didapatkan 40 pasien yang dibagi ke dua kelompok. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada derajat nyeri antar kelompok (p>0,05) dan juga RNL (p>0,05). Kombinasi parasetamol baik dengan ibuprofen maupun ketorolak dapat menjadi pilihan sebagai multimodal analgesia pascaoperasi.Hingga saat ini, functional endoscopic sinus surgery (FESS) adalah metode gold-standard pada manajemen rinosinusitis kronik. Tindakan FESS, walaupun bersifat invasif minimal, tetap menimbulkan rasa nyeri pada pasien pascaoperasi. Asetaminofen atau parasetamol yang dikombinasikan dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) seperti ibuprofen dan ketorolak dapat digunakan untuk analgesik pascaoperasi. Hal lain yang perlu diperhatikan sebagai faktor prognostik dalam suatu pembedahan adalah nilai rasio neutrofil limfosit (RNL). Studi ini mengamati penggunaan analgesia multimodal pada nyeri pascaoperasi serta apakah terdapat hubungan dengan RNL. Penelitian ini menggunakan desain penelitian uji acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok P1 (pemberian kombinasi parasetamol dan ibuprofen intravena [IV]) dengan kelompok P2 (kombinasi parasetamol dan ketorolak IV) pascaoperasi FESS. Pasien dialokasikan ke masing-masing kelompok secara acak. RNL dihitung perioperatif, jam ke-6 dan ke-24 pascaoperasi. Penilaian derajat nyeri dilakukan pada 6 jam, 12 jam, 24 jam dan 48 jam pascaoperasi. Total didapatkan 40 pasien yang dibagi ke dua kelompok secara rata. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada derajat nyeri antar kelompok (p>0,05) dan juga RNL (p>0,05). Kombinasi parasetamol baik dengan ibuprofen maupun ketorolak dapat menjadi pilihan sebagai multimodal analgesia pascaoperasi

    PERBANDINGAN FLUOKSETIN 20 MG DENGAN AMITRIPTILIN 12,5 MG SEBAGAI ADJUVAN KOMBINASI PARASETAMOL DAN MORFIN DALAM MENGURANGI NYERI PADA PASIEN NYERI KANKER

    Full text link
    Data WHO menunjukkan bahwa 30–40% pasien kanker mengalami nyeri sedang atau berat. Empat kelas obat antidepresan dapat dipakai dalam pengobatan nyeri neuropatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan fluoksetin 20 mg dengan amitriptilin 12,5 mg sebagai adjuvant kombinasi parasetamol 1000 mg dalam mengurangi gejala nyeri pada pasien nyeri kanker. Penelitian dilaksanakan sejak Juli–September 2023 di klinik nyeri Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini adalah uji klinis acak tersamar. Sebanyak 40 subjek dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok A (n=20) mendapat fluoksetin, morfin dan parasetamol, sedangkan kelompok B (n=20) mendapat amitriptilin, morfin dan parasetamol. Skor nyeri pada subjek diukur dengan menggunakan PainDETECT. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Data bivariat dianalisis dengan uji Chi-Square, T-Test Independent, T-Test Paired dan Mann-Whitney. Terdapat penurunan skor numeric rating scale dan PainDETECT yang signifikan antara sebelum dan setelah pemberian fluoksetin maupun amitriptilin dengan nilai p<0,05. Kelompok fluoksetin maupun amitriptilin dapat menurunkan skor numeric rating scale dan PainDETECT secara statistik, akan tetapi tidak bermakna secara klinis.Latar Belakang: Nyeri kanker sering ditemukan pada pasien dengan kanker, yaitu 30-50% dan meningkat 70%-90%. Insiden nyeri kanker meningkat seiring dengan progresifitas penyakit. Menurut WHO, kira kira 30%-40 % pasien kanker mengalami nyeri sedang atau berat. Empat kelas obat antidepresan telah dipelajari dapat dipakai dalam pengobatan nyeri neuropatik, yaitu antidepresan trisiklik (TCA), inhibitor reuptake serotonin dan norepinefrin selektif (SNRI), inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI), dan inhibitor monoamine oksidase (MAOI).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan fluoksetin 20 mg per 24 jam oral dengan amitriptilin 12,5 mg per 24 jam oral sebagai adjuvant kombinasi parasetamol 1000 mg per 8 jam oral dan morfin 10 mg per 12 jam oral dalam mengurangi gejala nyeri pada pasien nyeri kanker di klinik nyeri RSUP Haji Adam Malik Medan.Metode: Penelitian ini uji klinis acak tersamar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-September 2023. Sebanyak 40 subjek penelitian yang menjalani endoskopi gastrointestinal dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok A (n=20) diberikan fluoksetin, morfin dan parasetamol, sedangkan kelompok B (n=20) diberikan amitriptilin, morfin dan parasetamol. Skor nyeri pada subjek diukur dengan menggunakan PainDETECT. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Data bivariat dianalisis dengan uji Chi-Square, T-Test Independent, T-Test Paired dan Mann-Whitney.Hasil: Terdapat penurunan skor NRS maupun PainDETECT yang signifikan antara sebelum dan setelah pemberian fluoksetin maupun amitriptilin dengan nilai p<0,05.Kesimpulan: Kelompok fluoksetin maupun amitriptilin sama-sama dapat menurunkan skor NRS dan PainDETECT secara statistik, akan tetapi tidak bermakna secara klinis karena target penurunan skor yaitu kurang dari 4 pada skala 0-10 atau penurunan 50% nyeri

    Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Bedah Anak pada Persiapan Perioperatif di RSD dr. Soebandi Jember

    No full text
    Pasien yang akan menjalani tindakan pembedahan umumnya akan mengalami cemas, khususnya pasien anak. Kecemasan yang dirasakan dapat berhubungan dengan prosedur pembedahan maupun anestesi yang akan dilakukan. Kecemasan yang terjadi akan berdampak pada proses penyembuhan luka pascaoperasi. Beberapa penelitian menemukan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pengalaman operasi dapat memengaruhi tingkat kecemasan pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran tingkat kecemasan pasien yang akan mengalami prosedur pembedahan dan dikaitkan dengan usia pasien. Desain penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional pada bulan September–Oktober 2022 di RSD dr. Soebandi Jember pada pasien anak berusia 1–18 tahun yang akan menjalani operasi. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner Modified Yale Preoperative Anxiety Scale sebagai alat ukur tingkat kecemasan pasien. Selanjutnya, tingkat kecemasan dianalisis berdasarkan data demografi pasien. Pada penelitian ini didapatkan data responden sebanyak 48 pasien. Hasil penelitian terdapat 48% pasien mengalami kecemasan. Tingkat kecemasan pasien ini berhubungan dengan usia (p=0,000). Sebagian besar pasien yang mengalami kecemasan usia kurang dari 10 tahun. Simpulan, tingkat kecemasan berhubungan dengan usia terutama usia <10 tahun. Pasien yang akan menjalani tindakan pembedahan umumnya akan mengalami cemas, khususnya pada pasien anak-anak. Kecemasan yang dirasakan dapat berhubungan dengan prosedur pembedahan maupun anestesi yang akan dilakukan. Kecemasan yang terjadi akan berdampak pada proses penyembuhan luka pasca operasi. Beberapa penelitian menemukan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pengalaman operasi dapat memberikan pengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien yang akan mengalami prosedur pembedahan dan dikaitkan dengan usia pasien. Desain penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional pada bulan September-Oktober 2022 di RSD dr. Soebandi Jember pada pasien anak berusia 1-18 tahun yang akan menjalani operasi. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner Modified Yale Preoperative Anxiety Scale sebagai alat ukur tingkat kecemasan pasien. Selanjutnya tingkat kecemasan dianalisis berdasarkan data demografi pasien. Pada penelitian ini didapatkan data responden sebanyak 48 pasien. Hasil penelitian terdapat 47,92% pasien mengalami kecemasan. Tingkat kecemasan pasien ini berhubungan dengan usia (p-value= 0.000), dimana sebagian besar responden yang mengalami kecemasan  pada usia kurang dari 10 tahun

    Uji Kesesuaian Pengukuran Berat Badan antara Metode Lorenz dan Metode Modifikasi PAWPER-XL MAC dengan Tempat Tidur Bertimbangan Khusus

    Full text link
    Berat badan aktual sangat penting di Intensive Care Unit (ICU). Baku standar penilaian berat badan aktual adalah timbangan khusus, namun timbangan ini tidak banyak tersedia di ICU. Alternatif lain untuk estimasi berat badan aktual dapat menggunakan metode antropometrik. Penelitian ini merupakan uji kesesuaian antara estimasi berat badan aktual menggunakan metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan berat badan aktual menggunakan timbangan khusus baku standar. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan potong lintang pada 83 pasien ICU rumah sakit Hasan Sadikin Bandung antara Agustus hingga November 2023. Uji kesesuaian menggunakan: uji t, P10, P20, mean percentage error (MPE), dan limit of agreement (LOA). Pasien metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan rerata perawatan 2,00±1,704 dan rerata balans kumulatif 126,99±1483,62, didapatkan nilai p adalah 0,646 dan 0,717 secara berurutan, nilai P10 adalah 84,3% dan 71,1% secara berurutan, nilai P20 adalah 98,8% dan 95,2% secara berurutan, nilai MPE adalah 0,361 dan 0,463 secara berurutan, nilai LOA adalah -14,75 s/d 15,53 dan -18,12 s/d 19,04 secara berurutan. Semua berada dalam rentang yang direkomendasikan. Pengukuran estimasi berat badan aktual metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC sesuai dengan pengukuran berat badan aktual dengan tempat tidur bertimbangan khusus pada pasien-pasien ICU.Berat badan aktual sangat penting di Intensive Care Unit (ICU). Baku standar penilaian berat badan aktual adalah timbangan khusus, namun timbangan ini tidak banyak tersedia di ICU. Alternatif lain untuk estimasi berat badan aktual dapat menggunakan metode antropometrik. Penelitian ini merupakan uji kesesuaian antara estimasi berat badan aktual menggunakan metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan berat badan aktual menggunakan timbangan khusus baku standar. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan cross-sectional pada 83 pasien ICU rumah sakit Hasan Sadikin Bandung antara Agustus hingga November 2023. Uji kesesuaian menggunakan: uji t, P10, P20, mean percentage error (MPE), dan limit of agreement(LOA). Pasien metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan rerata perawatan 2,00±1,704 dan rerata balans kumulatif 126,99±1483,62, didapatkan nilai p adalah 0,646 dan 0,717 secara berurutan, nilai P10 adalah 84,3% dan 71,1% secara berurutan, nilai P20 adalah 98,8% dan 95,2% secara berurutan, nilai MPE adalah 0,361 dan 0,463 secara berurutan, nilai LOA adalah -14,75 s/d 15,53 dan -18,12 s/d 19,04 secara berurutan. Semua berada dalam rentang yang direkomendasikan. Pengukuran estimasi berat badan aktual metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC sesuai dengan pengukuran berat badan aktual dengan tempat tidur bertimbangan khusus pada pasien-pasien ICU

    Gambaran Mortalitas Pasien Sepsis Berdsarkan Fluid Accumulation di ICU RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022

    No full text
    Manajemen cairan pasien sakit kritis memiliki risiko terjadinya akumulasi cairan. Resusitasi cairan merupakan bagian penting dalam menstabilkan status hemodinamik dan meningkatkan oksigenasi jaringan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa balans cairan kumulatif positif merupakan faktor prognostik yang kuat untuk mortalitas pasien sepsis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran mortalitas pada pasien sepsis yang mengalami akumulasi cairan selama dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling secara retrospektif melalui rekam medis pasien sepsis yang mengalami akumulasi cairan di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode 1 Januari 2021–31 Desember 2022 dengan jumlah sampel adalah 107 orang subjek penelitian. Analisis menunjukkan bahwa karakteristik pasien relatif sama antara kelompok yang mengalami mortalitas dan yang bertahan hidup. Pada kategori akumulasi cairan >10%, semua pasien (100%) mengalami mortalitas, sedangkan pada kategori akumulasi cairan 10% terdapat 55 pasien dimana semua pasien (100%) mengalami mortalitas. Tidak ada pasien (0%) dalam kategori ini yang bertahan hidup. Sedangkan kategori Fluid Accumulation 10% memiliki peluang mengalami mortalitas 1.93 kali lebih tinggi daripada pasien dengan Fluid Accumulation <10%. Interval Kepercayaan (Confidence Interval, CI) 95% untuk PR adalah antara 1.48 dan 2.50

    Perbandingan Vasopressin dan Norephinephrine sebagai Vasopressor pada Pasien Syok Sepsis

    Full text link
    Sepsis menyebabkan kematian terbesar, tingkat mortalitas sepsis tinggi dan dapat mencapai 50% pada syok sepsis. Tatalaksana resusitasi pada syok sepsis menggunakan vasopresor. norepinephrine saat ini adalah rekomendasi utama pada syok sepsis, vasopressin digunakan sebagai obat lini kedua untuk mengurangi efek samping yang disebabkan oleh obat seperti norephinephrine, dan juga membantu pada keadaan syok resisten-katekolamin. Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis dengan metode acak tersamar ganda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan vasopressin dan norephinephrine sebagai vasopresor pada pasien syok sepsis di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Pencatatan hasil dilakukan setelah diberikan intervensi (T0), 6 jam (T1), dan 24 jam (T2). Sampel yang diperoleh pada penelitian ini berjumlah 36 pasien dengan 13 pasien dalam kelompok vasopressin dan 13 pasien dalam kelompok norepinephrine. Rerata TDS, TDD dan Mean Arterial Pressure (MAP) T0, T1, dan T2 kelompok norepinephrine lebih tinggi bila dibanding dengan dengan kelompok vasopressin. pH pada kelompok norepinephrine lebih rendah bila dibanding dengan dengan kelompok vasopressin. Simpulan, terdapat perbedaan yang signifikan antara norepinephrine dengan vasopressin sebagai vasopressor, dimana MAP dan kadar laktat, pada kelompok Norepinephrine lebih tinggi bila dibanding dengan dengan vasopressin. Sedangkan pH didapatkan lebih rendah pada kelompok norepinpehrine pada jam ke-24 dibanding dengan kelompok vasopressin

    PERBANDINGAN TEKNIK PEMASANGAN PIPA NASOGASTRIK ANTARA MANUVER REVERSE SELLICK DENGAN MANUVER FLEKSI LEHER TERHADAP ANGKA KEBERHASILAN DAN DURASI WAKTU PEMASANGAN PADA PASIEN TERINTUBASI DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG

    No full text
    Pemasangan pipa nasogastrik (NGT) penting dilakukan pada beberapa pembedahan dan pada pasien di ruang rawat intensif (ICU). Pemasangan NGT menjadi sulit pada pasien terintubasi dan paling sering tertahan pada sinus priformis, kartilago aritenoid, dan esofagus yang tertekan oleh balon ETT. Manuver reverse Sellick merupakan teknik yang dilakukan dengan cara menggenggam kartilago krikoid lalu diangkat ke arah anterior dan manuver fleksi leher merupakan suatu cara menekukkan leher pasien semaksimal mungkin pada saat memasang NGT. Penelitian ini menggunakan metode prospektif analitik komparatif eksperimental dengan rancangan randomized clinical trial single blind study. Penelitian telah dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) terhadap 94 subjek. Analisis statistik data kategorik menggunakan Uji Chi Square dan uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov smirnov. Hasil uji statistik perbandingan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse Sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 85,1% dan 74,5% dengan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Durasi pemasangan NGT pada kelompok manuver reverse Sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 13,499±1,571 detik dan 20,5,06±3,051 detik dengan perbedaan signifikan (p0,05) dan Durasi pemasangan NGT pada kelompok manuver reverse sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 13,499 ± 1,571 detik dan 20,5,06 ± 3,051 detik dengan perbedaan signifikan (p<0,05; Tabel 4.2). Simpulan dari penelitian ini yaitu Manuver reverse sellick memiliki tingkat keberhasilan pada pemasangan pertama lebih tinggi dan durasi pemasangan yang lebih singkat daripada teknik fleksi leher. Kata kunci: Angka keberhasilan; durasi waktu pemasangan; manuver fleksi leher; manuver reverse sellick; pemasangan NG

    Laporan Kasus: Manajemen Anestesi Operasi Caesar pada Wanita Usia 30 Tahun dengan Preeklampsia Berat dengan Hipertensi Pulmonal Probabilitas Tinggi

    No full text
    Ibu hamil dengan hipertensi pulmonal (HP) memiliki peningkatan risiko yang signifikan untuk dapat mengalami ketidakstabilan hemodinamik, gagal jantung, sepsis pascaoperasi, dan gagal napas. Kehamilan pada ibu dengan hipertensi pulmonal merupakan kehamilan risiko tinggi sehingga diperlukan perencanaan yang baik dan pendekatan tim multidisiplin. Kehamilan dengan hipertensi pulmonal memerlukan manajemen anestesi yang tepat untuk mencapai hasil klinis ibu dan janin yang optimal. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi yang telah dilakukan pada wanita multigravida berusia 30 tahun dengan preeklampsia berat dan kemungkinan besar menderita HP. Teknik yang digunakan dengan anestesi epidural total. Operasi berlangsung selama 2 jam dan pendarahan sebanyak 250 m. Setelah operasi, pasien dirawat di ICU. Di ICU, keadaan pasien memburuk sehingga dilakukan intubasi dan ventilasi terkontrol. Pasien mengalami serangan jantung dan diresusitasi. Pasien meninggal 3 jam setelah masuk ICU. Hal yang perlu diwaspadai dalam penanganan pasien hipertensi pulmonal adalah pemantauan intensif pascaoperasi untuk memantau dan mengantisipasi terjadinya krisis hipertensi pulmonal yang dapat menyebabkan kematian. Ibu hamil dengan hipertensi pulmonal memiliki peningkatan risikoyang signifikan untuk dapat mengalami ketidakstabilanhemodinamik, gagal jantung, sepsis pasca operasi, dan gagal napas. Kehamilan pada ibu dengan hipertensi pulmonal merupakankehamilan risiko tinggi sehingga diperlukan perencanaan yang baikdan pendekatan tim multidisiplin. Kehamilan dengan hipertensipulmonal memerlukan manajemen anestesi yang tepat untukmencapai hasil klinis ibu dan janin yang optimal. Laporan kasus inimenggambarkan manajemen anestesi yang telah dilakukan pada wanita multigravida berusia 30 tahun dengan preeklampsia beratdan kemungkinan besar menderita PH. Teknik yang digunakandengan anestesi epidural total. Operasi berlangsung selama 2 jam dan pendarahan sebanyak 250 cc. Setelah operasi, pasien dirawat di ICU. Di ICU, keadaan pasien memburuk sehingga dilakukanintubasi dan ventilasi terkontrol. Pasien mengalami seranganjantung dan diresusitasi. Pasien meninggal 3 jam setelah masukICU. Hal yang perlu diwaspadai dalam penanganan pasienhipertensi pulmonal adalah pemantauan intensif pasca operasi untukmemantau dan mengantisipasi terjadinya krisis hipertensi pulmonal yang dapat menyebabkan kematian. 

    Hubungan Kecemasan Pra-Operasi dan Karakteristik Individu terhadap Intensitas Nyeri Pasca-Operasi Pasien Bedah Non Emergensi dengan Teknik Anestesi Spinal di Soerojo Hospital

    No full text
    Nyeri pascaoperasi dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, mengganggu proses penyembuhan luka, pemulihan yang buruk, dan durasi perawatan lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kecemasan praoperasi dan karakteristik individu dengan intensitas nyeri pascaoperasi. Penelitian ini merupakan studi analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan terhadap 40 pasien bedah non emergensi dengan teknik anestesi spinal. Penelitian dilakukan di Soerojo Hospital Magelang periode September 2022–Februari 2023. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara kecemasan praoperasi dan intensitas nyeri pascaoperasi (ρ=0,000) dengan arah hubungan positif. Usia (ρ=0,003) dan jenis kelamin (ρ=0,017) juga memiliki hubungan yang signifikan dengan intensitas nyeri pascaoperasi, meskipun arah hubungannya negatif, sedangkan tingkat pendidikan (ρ=0,845) dan pengalaman operasi sebelumnya (ρ=0,069) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap intensitas nyeri pascaoperasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kecemasan sebelum operasi, semakin tinggi intensitas nyeri setelah operasi; perempuan dan usia muda cenderung mengalami respons nyeri yang berat setelah operasi dibanding dengan laki-laki dan orang dewasa. Angka kejadian nyeri pasca operasi dan intensitas nyeri yang cukup tinggi dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, gangguan proses penyembuhan luka, pemulihan yang buruk, dan durasi perawatan yang lebih lama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kecemasan pra-operasi dan karakteristik individu terhadap intensitas nyeri pasca-operasi. Penelitian ini merupakan studi analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan terhadap 40 pasien bedah non emergensi dengan teknik anestesi spinal di Soerojo Hospital. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi ditentukan menggunakan metode total sampling periode September 2022 - Februari 2023. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner APAIS dan skala NRS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara  kecemasan pra-operasi dengan intensitas nyeri pasca-operasi (ρ=0,000), dengan arah hubungan positif. Usia (ρ=0,003) dan jenis kelamin  (ρ=0,017) juga memiliki hubungan yang signifikan terhadap intensitas nyeri pasca operasi dengan arah hubungan negatif. Sedangkan, tingkat pendidikan (ρ=0,845) dan pengalaman operasi sebelumnya (ρ=0,069) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap intensitas nyeri pasca operasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kecemasan sebelum operasi, semakin tinggi intensitas nyeri setelah operasi; perempuan dan usia muda cenderung mengalami respon nyeri yang berat setelah operasi dibandingkan laki-laki dan orang dewasa.  

    221

    full texts

    288

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Anestesi Perioperatif
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇