Jurnal Anestesi Perioperatif
Not a member yet
288 research outputs found
Sort by
Korelasi Nilai Platelets to Lymphocyte Ratio Dengan Length of Stay ICU Pada Pasien Sepsis
Sepsis merupakan kondisi mengancam jiwa yang ditandai adanya disfungsi organ yang disebabkan oleh disregulasi respons imun terhadap infeksi. Pada sepsis dapat terjadi respons inflamasi yang tidak terkendali atau imunosupresi. Trombosit dan limfosit memainkan peran penting dalam proses imun dan rasionya dapat menggambarkan derajat keparahan pasien sepsis. Perawatan pasien sepsis di ICU seringkali membutuhkan waktu yang lama, tergantung pada keparahan penyakit dan topangan organ yang dibutuhkan pasien. Berdasarkan hal tersebut kami mencoba mengevaluasi korelasi nilai Platelets to Lymphocyte Ratio (PLR) dengan lama rawat ICU pada pasien sepsis di ICU. Penelitian ini merupakan studi observasional kuantitatif retrospekstif pada pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari-Desember 2022. Uji Pearson digunakan untuk menganalisis korelasi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien sepsis di ICU. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mendapatkan persamaan prediksi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien di ICU. Sebanyak 102 data rekam medis pasien sepsis diamati dalam penelitian ini. Dari analisis statistik nilai PLR terhadap lama rawat ICU diperoleh r=0,611 (p≤0,001). Dari regresi linear sederhana didapatkan prediksi lama rawat ICU=(0,11xnilai PLR)–7,96 hari. Berdasarkan penelitian ini, terdapat korelasi positif antara nilai PLR dan lama rawat pasien sepsis di ICU.Sepsis merupakan kondisi mengancam jiwa yang disebabkan oleh disregulasi respons imun terhadap infeksi. Pada sepsis dapat terjadi suatu respons inflamasi yang tidak terkendali ataupun imunosupresi. Trombosit dan limfosit memainkan peran penting dalam proses imun dan rasionya dapat menggambarkan derajat keparahan pasien sepsis. Perawatan pasien sepsis di ICU seringkali membutuhkan waktu yang lama, tergantung pada keparahan penyakit dan topangan organ yang dibutuhkan pasien. Berdasarkan hal tersebut kami mencoba mengevaluasi korelasi nilai PLR dengan lama rawat ICU pada pasien sepsis di ICU. Penelitian ini merupakan studi observasional kuantitatif retrospekstif pada pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari-Desember 2022. Uji Pearson digunakan untuk menganalisis korelasi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien sepsis di ICU. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mendapatkan persamaan prediksi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien di ICU. Sebanyak 102 data rekam medik pasien sepsis diamati pada penelitian ini. Dari analisis statistik nilai PLR terhadap lama rawat ICU didapatkan r = 0,611 (p ≤ 0,001). Dari regresi linear sederhana didapatkan prediksi lama rawat ICU = (0,11 x nilai PLR) – 7,96 hari. Bedasarkan penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat korelasi positif antara nilai PLR dan lama rawat pasien sepsis di ICU.
PERBANDINGAN NEBULISASI PREOPERASI LIDOKAIN DENGAN KOMBINASI LIDOKAIN DAN BUDESONID TERHADAP SKALA NYERI TENGGOROK PASCAOPERASI AKIBAT INTUBASI ENDOTRAKEAL PADA PASIEN YANG DILAKUKAN ANESTESI UMUM
Komplikasi intubasi dengan pipa endotrakeal (ETT) yang paling sering adalah nyeri tenggorok pascaoperasi/postoperative sore throat (POST). Insidensi POST berkisar 14,4%−50%. Penggunaan metode farmakologi terbukti menurunkan angka kejadian POST melalui efek analgesia dan anti-inflamasi. Salah satu obat yang sering digunakan untuk pencegahan POST adalah nebulisasi lidokain. Nebulisasi steroid juga efektif karena dapat mengurangi inflamasi, edema, transudasi cairan, dan juga derajat nyeri. Penelitian ini membandingkan antara nebulisasi preoperasi dengan lidokain dan nebulisasi preoperasi dengan lidokain dengan budesonide. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung antara bulan Oktober–Desember 2023 yang menggunakan analitik komparatif eksperimental, dengan rancangan double blind randomized controlled trial terhadap dua kelompok penelitian. pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan cara consecutive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Mann Whitney dan normalitas data menggunakan Uji Shapiro wilk. Hasil penelitian karakteristik umum subjek penelitian didapatkan data terdistribusi normal. Pada Jam ke-1, 2, 4 didapatkan skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p>0,05 atau tidak signifikan, pada jam ke-6, 12, 24 skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p0,05 data terdistribusi normal. Pada Jam ke 1, 2, 4 didapatkan skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p>0,05 atau tidak signifikan, pada jam ke 6, 12, 24 skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p<0,05 atau signifikan. Kesimpulan yang didapatkan adalah skala nyeri tenggorok pascaoperasi pada pemberian nebulisasi lidokain dan budesonid preoperasi lebih kecil dibandingkan dengan nebulisasi lidokain saja
CORRELATION OF PAIN AND AGITATION IN INTUBATED PATIENTS IN HAJI ADAM MALIK GENERAL HOSPITAL ICU
Agitasi umum terjadi pada pasien ICU dan dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti lingkungan baru, paparan obat, kondisi medis, dan kondisi kesehatan mental. Nyeri juga banyak dialami oleh pasien yang diintubasi di ICU yang menerima perawatan medis seperti suctioning ETT, pemasangan kateter urin, nasogastrik, dan tindakan perawatan pasien rutin sehari-hari dapat memperburuk agitasi. Dalam perawatan ICU, penting mempertimbangkan hubungan antara agitasi, nyeri, delirium, dan faktor-faktor lain untuk mengelola dan mengatasi kondisi pasien secara efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara nyeri menggunakan critical-care pain observation tool (CPOT) dan agitasi menggunakan RASS pada pasien intubasi di ICU Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan studi cross sectional menggunakan skala CPOT dan Richmond agitation sedation scale (RASS) sebagai alat ukur selama periode Oktober 2023. Didapatkan perbedaan yang signifikan antara pengukuran pagi dan malam di semua penilaian hemodinamik. Diketahui ada korelasi positif yang signifikan antara CPOT dan RASS pada pagi hari dengan tingkat korelasi sedang dan arah korelasi positif. Perbedaan nilai CPOT pagi dan RASS pagi dengan sore hari signifikan secara statistik. Simpulan, didapatkan korelasi antara nyeri dan agitasi pada pasien yang diintubasi di ICU RSUP Adam Malik dengan tingkat korelasi sedang. CPOT dianggap memiliki manfaat untuk digunakan di ICU.Agitation is common in ICU patients and can be caused by factors such as the new environment, drug exposure, medical conditions, and mental health conditions. Pain is also widely experienced by patients intubated in the ICU who receive medical care such as ETT suctioning, urinary catheter insertion, nasogastric, and routine daily patient care actions can worsen agitation. In ICU care, it is important to consider the relationship between agitation, pain, delirium, and other factors to effectively manage and cope with the patient's condition. This study aimed to analyze the correlation between pain using CPOT and agitation using RASS in intubated patients in the ICU of Haji Adam Malik General Hospital. The study design was observational analytic with a cross-sectional study using the CPOT and RASS scales as measuring tools during the October 2023 period. There was a statistically significant difference between morning and evening measurements across all hemodynamic assessments. It is known that there is a significant positive correlation between CPOT and RASS in the morning with a moderate degree of correlation and a positive correlation direction. It is known that the difference in morning CPOT and morning and evening RASS values is statistically significant. The conclusion of this study showed a significant correlation between pain and agitation in patients intubated in the ICU of Adam Malik General Hospital with a moderate degree of correlation. CPOT is considered to have benefits for use in the ICU.
Manajemen Perioperatif Pasien Atrial Septal Defect (ASD) dengan Hipertensi Pulmonal yang Menjalani Operasi Tutup Defek
Atrial septal defect (ASD) kompleks yang tidak didiagnosis dan dikoreksi hingga usia dewasa dapat menyebabkan hipertensi pulmonal. Manajemen perioperatif operasi penutupan defek pasien ASD dewasa dengan hipertensi pulmonal memberikan tantangan tersendiri karena dikaitkan dengan tingginya komplikasi perioperatif serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Kami melaporkan seorang wanita berusia 23 tahun dengan ASD dan hipertensi pulmonal yang menjalani operasi tutup defek. Pemeriksaan ekokardiografi praoperasi menunjukkan ASD sekundum right-to-left shunt dengan diameter 25–30 mm dan kateterisasi jantung kanan yang menunjukkan rerata tekanan arteri pulmonal 58 mmHg dan pulmonary vascular resistance 8,1 WU. Induksi anestesi dilakukan dengan balanced opioid, dosis kecil agen induksi, dan pelumpuh otot. Hemodinamik selama operasi stabil, dan periode penyapihan cardiopulmonary bypass berjalan lancar dengan topangan dobutamin dan norepinefrin. Pascaoperasi, pasien dirawat di Intensive Care Unit dengan keadaan umum baik, hemodinamik stabil, nyeri pascaoperasi terkontrol dan tanpa kejadian komplikasi. Penilaian praoperatif yang tepat, manajemen intraoperatif yang berhasil menjaga stabilitas hemodinamik, dan manajemen pascaoperatif yang dapat mencegah dan mengatasi komplikasi pascaoperasi dapat menghasilkan luaran yang baik pada pasien ini.Atrial septal defect (ASD) jenis berat yang tidak didiagnosis dan dikoreksi sampai usia dewasa dapat menyebabkan hipertensi pulmonal. Manajemen perioperatif pada pasien ASD dengan hipertensi pulmonal merupakan tantangan tersendiri karena dikaitkan dengan tingginya komplikasi perioperatif serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Kami melaporkan seorang wanita berusia 23 tahun dengan ASD dan hipertensi pulmonal yang menjalani operasi tutup defek. Pemeriksaan echocardiography praoperasi menunjukkan ASD sekundum right to left shunt diameter 25-30 mm dan kateterisasi jantung kanan yang menunjukkan tekanan rerata arteri pulmonal 58 mmHg dan Pulmonary Vascular Resistance 8,1 WU. Induksi anestesi dilakukan dengan teknik balans opioid, dosis kecil agen induksi, dan pelumpuh otot. Hemodinamik selama operasi stabil dan periode penyapihan Cardiopulmonary Bypass berjalan lancar dengan topangan dobutamin dan norepinefrin. Pascaoperasi, pasien dirawat di Intensive Care Unit dengan keadaan umum baik, hemodinamik stabil, nyeri pascaoperasi terkontrol dan tanpa kejadian komplikasi. Pasien dipindah ke bangsal biasa pada hari ke-3 pascaoperasi. Penilaian praoperatif yang tepat, manajemen intraoperatif yang berhasil menjaga stabilitas hemodinamik, dan manajemen pascaoperatif yang dapat mencegah dan mengatasi komplikasi pascaoperasi dapat menghasilkan luaran pasien yang baik pada pasien ini
Efektivitas Retrograde Autologous Priming dalam Menurunkan Volume Kebutuhan Transfusi Sel Darah Merah Selama Operasi pada Bedah Jantung Koroner dengan Mesin Pintas Jantung Paru: A Randomized Controlled Trial
Pemakaian mesin pintas jantung paru (PJP) dalam operasi coronary artery bypass graft (CABG) dapat meningkatkan kebutuhan transfusi darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas retrograde autologous priming (RAP) dalam menurunkan volume transfusi sel darah merah/packed red cell (PRC) pada pasien bedah jantung koroner dengan mesin PJP. Penelitian ini melibatkan 52 pasien yang dijadwalkan menjalani operasi coronary artery bypass graft (CABG). RAP dimulai selama bypass dalam satu kelompok dengan mengalirkan larutan kristaloid dari jalur arteri dan vena ke dalam kantong penampung dengan volume penarikan RAP yang dimaksudkan dan disesuaikan untuk setiap pasien. Non-RAP menggunakan teknik konvensional PJP. 52 pasien (RAP = 26; kontrol = 26) dilibatkan dalam analisis. Pasien dalam kelompok RAP menerima volume transfusi PRC intraoperatif yang jauh lebih rendah dibanding dengan pasien pada kelompok non-RAP (median, 0 mL vs 205 mL, p=0,014). Analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa prosedur RAP mempengaruhi secara signifikan (p<0,05) volume PRC yang dibutuhkan dalam transfusi intraoperatif. RAP selama operasi bedah jantung koroner dengan mesin PJP adalah prosedur yang aman dan efektif yang secara signifikan mengurangi kebutuhan transfusi volume PRC. Pemakaian mesin pintas jantung paru (PJP) dalam operasi coronary artery bypass graft (CABG) dapat meningkatkan kebutuhan transfusi darah.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas retrograde autologous priming (RAP) dalam menurunkan volume transfusi sel darah merah/packed red cell (PRC) pada pasien bedah jantung koroner dengan mesin PJP. Penelitian ini melibatkan 52 pasien yang dijadwalkan menjalani operasi coronary artery bypass graft (CABG). RAP dimulai selama bypass dalam satu kelompok dengan mengalirkan larutan kristaloid dari jalur arteri dan vena ke dalam kantong penampung dengan volume penarikan RAP yang dimaksudkan dan disesuaikan untuk setiap pasien. Non-RAP menggunakan teknik konvensional PJP. 52 pasien (RAP = 26; kontrol = 26) dilibatkan dalam analisis. Pasien dalam kelompok RAP menerima volume transfusi PRC intraoperatif yang jauh lebih rendah dibandingkan pasien pada kelompok non-RAP (median, 0 mL vs 205 mL, p=0,014). Analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa prosedur RAP mempengaruhi secara signifikan (p <0,05) volume PRC yang dibutuhkan dalam transfusi intraoperatif.RAP selama operasi bedah jantung koroner dengan mesin PJP adalah prosedur yang aman dan efektif yang secara signifikan mengurangi kebutuhan transfusi volume PRC
HUBUNGAN ANTARA SKOR APACHE II, SOFA, EWS TERHADAP KEJADIAN PROLONGED MECHANICAL VENTILATOR DI ICU RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
Pasien yang dirawat di ICU sekitar 30−60% membutuhkan ventilasi mekanik. Penelitian sebelumnya memperkirakan bahwa 3−7% pasien dengan ventilasi mekanis memerlukan prolonged mechanical ventilator (PMV). Prevalensi individu yang membutuhkan ventilator assisted individuals (VAI) berkisar 6,6 hingga 23 per 100.000 pasien. Individu dengan VAI meningkat mengindikasikan peningkatan kebutuhan ventilasi mekanik yang lama/prolonged mechanical ventilation (PMV) dan prognosis yang lebih buruk. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis apakah penilaian skor APACHE II, SOFA, dan NEWS memiliki hubungan dengan penggunaan ventilator mekanik yang memanjang selama Januari–Desember 2022 di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Desain penelitian ini menggunakan uji analitik retrospektif dengan rancangan cohort. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi dipilih dengan metode total sampling. Jumlah sampel 96 pasien yang dinilai skor APACHE, SOFA, NEWS, dan apakah pasien mengalami PMV. Hasil penelitian ini pasien dengan PMV didapatkan skor APACHE dengan nilai median 18, pada skor SOFA 7 dan pada skor NEWS 12, dengan nilai p=0,001 pada ketiga penilaian ditemukan hubungan yang signifikan. Simpulan penelitian ini didapatkan hubungan skor APACHE II, SOFA, dan NEWS dengan kejadian PMV.Di antara pasien yang dirawat di ICU, 30 - 60% membutuhkan Ventilasi Mekanik. Penelitian sebelumnya memperkirakan bahwa 3-7% pasien dengan ventilasi mekanis memerlukan PMV (Prolonged Mechanical Ventilator). Prevalensi individu yang membutuhkan ventilator (ventilator assisted individuals/ VAI) berkisar antara 6,6 hingga 23 per 100.000 pasien. Meningkatnya individu dengan VAI mengindikasikan peningkatkan kebutuhan ventilasi mekanis yang lama (prolonged mechanical ventilation/ PMV) dan prognosis yang lebih buruk. Desain penelitian ini menggunakan uji analitik retrospektif dengan rancangan cohort. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih dengan metode total sampling. Dengan total sampel 96, yang dinilai skor APACHE, SOFA, NEWS, dan apakah pasien mengalami PMV. Dari hasil penelitian ini, pasien dengan PMV didapatkan skor APACHE dengan nilai median 18, pada skor SOFA 7, dan pada skor NEWS 12, dengan nilai P pada ketiga penilaian 0,001 yang ditemukan adanya hubungan yang signifikan. Kesimpulan dari penelitian ini didapatkan hubungan yang signifikan pada skor APACHE II, SOFA, dan NEWS dengan kejadian PMV
KORELASI ANTARA DOPPLER-BASED RENAL RESISTIVE INDEX DAN NILAI KREATININ PADA PASIEN SAKIT KRITIS
Indeks resistriksi renal/renal resistive index (RRI) merupakan pemeriksaan ultrasonografi non invasif untuk menilai renovascular dan dapat dilakukan dengan prinsip point-of-care testing (POCT) RRI merefleksikan perubahan aliran darah arteri intrarenalis, yang dapat terganggu pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, yang tercermin dalam peningkatan nilai kreatinin serum. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain potong lintang, bertujuan untuk mengetahui hubungan antara RRI dan nilai kreatinin serum pada pasien sakit kritis di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, dari Mei hingga Agustus 2023. Sebanyak 51 pasien berusia 18–65 tahun menjalani pemeriksaan RRI dan kreatinin serum pada 24 jam pertama dan kedua setelah masuk ICU. Analisis korelasi menunjukkan nilai R sebesar 0,538, koefisien determinasi (r²) sebesar 0,298, dan nilai p<0,001. Hasil ini menunjukkan korelasi positif moderat antara RRI dan nilai kreatinin serum.Pemeriksaan indeks resistriksi renal / Renal Resistive Index (RRI) merupakan bagian dari pemeriksaan ultrasonografi non invasif terhadap renovaskular serta dapat dilakukan dengan prinsip POCT ( Point-of-Care Testing ) , dan RRI merefleksikan perubahan profil aliran darah arteri arkuata intrarenalis atau arteri interlobaris renalis. Gangguan fungsi ginjal akan mengakibatkan peningkatan nilai kreatinin serum. Perubahan profil aliran darah pembuluh arteri intra renal juga ditemukan pada gangguan fungsi ginjal. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan cross-sectional dan analisis korelasi untuk mengetahui hubungan antara nilai parameter RRI dengan peningkatan nilai kreatinin serum yang diakibatkan oleh kerusakan sel ginjal yang terjadi pada pasien sakit kritis yang dirawat dalam kurun waktu Mei hingga Agustus 2023 di ICU RSUP. dr. Hasan Sadikin, Bandung. 51 pasien dengan rentang usia 18 – 65 tahun dilakukan pemeriksaan RRI dan nilai kreatinin serum dalam kurun waktu 24 jam pertama dan 24 jam kedua sejak pasien diterima rawat di ICU.Nilai R untuk nilai korelasi RRI dengan nilai kreatinin serum sebesar 0.538 ; koefisien determinasi r2 = 0,298 ; nilai p < 0.001. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa RRI memiliki korelasi positif dengan nilai kreatinin serum dengan kekuatan korelasi moderate.
Lama Penggunaan Ventilator, ICU-LOS dan Mortalitas Pasien Ventilated Hospital Acquired Pneumonia dan Ventilated Community Acquired Pneumonia di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Periode Januari–Desember 2021
Ventilated hospital-acquired pneumonia (V-HAP) dan ventilated community-acquired pneumonia (V-CAP) merupakan subtipe klinis penyakit hospital-acquired pneumonia dan community-acquired pneumonia yang ditatalaksana dengan ventilasi mekanik di ICU. Penelitian yang mengeksplorasi karakteristik umum dan luaran kedua kategori pasien tersebut masih sangat terbatas. Penelitian observasional retrospektif ini menganalisis rekam medis pasien V-HAP dan V-CAP berusia 18 tahun ke atas yang dirawat di GICU Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin, Bandung antara Januari–Desember 2021. Terdapat 23 pasien V-HAP dan 21 pasien V-CAP. Ditemukan bahwa pasien V-HAP lebih lama menggunakan ventilator (rerata: 16,33±9,88 hari) dibanding dengan V-CAP (rerata: 8,25±4,92 hari). Pasien V-HAP juga lebih lama dirawat di ICU (rerata ICU-LOS: 19,33±13,42 hari) dibanding dengan V-CAP (rerata ICU LOS: 9±4,74 hari). Mortalitas yang tinggi pada kelompok V-HAP (87%) dan V-CAP (81%) dipengaruhi oleh komorbiditas dan kondisi dasar pasien. Pada biakan sputum juga ditemukan lebih banyak kuman gram negatif yang didominasi multi drug resistant organism (MDRO), yaitu sebanyak 93% pada V-HAP dan 78% pada V-CAP. Pasien V-HAP di ICU memiliki durasi penggunaan ventilator dan perawatan ICU yang lebih lama serta tingkat mortalitas yang tinggi dibanding dengan pasien V-CAP dan dengan prevalensi kuman gram negatif resisten obat yang lebih dominan.Ventilated hospital-acquired pneumonia (V-HAP) and ventilated community-acquired pneumonia (V-CAP) represent clinical subtypes of hospital-acquired pneumonia and community-acquired pneumonia treated with mechanical ventilators in the ICU. Despite their high prevalence, research on the common characteristics and outcomes of these patients is limited in Indonesia. This retrospective observational study analyzed medical records of V-HAP and V-CAP patients aged 18 and above in the GICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from January to December 2021. Out of 44 records (23 V-HAP, 21 V-CAP), primary outcomes examined included mechanical ventilator duration (MVD), ICU length of stay (ICU-LOS) and mortality. V-HAP patients had a longer MVD (average: 16.33±9.88 days) than V-CAP patients (average: 8.25±4.92 days). V-HAP patients also had extended ICU stays (average ICU-LOS: 19.33±13.42 days) compared to V-CAP patients (average ICU-LOS: 9±4.74 days. The high mortality rates in both V-HAP (87%) and V-CAP (81%) groups were influenced by patient comorbidities and underlying conditions. Sputum cultures also revealed a higher presence of gram-negative bacteria dominated by multi drug resistant organisms (MDRO), with 93% in V-HAP and 78% in V-CAP. In conclusion, patients with V-HAP in the ICU have longer durations of ventilator use and ICU stay, higher mortality rates, and a higher prevalence of drug-resistant gram-negative bacteria compared to V-CAP patients
Diagnosis dan Tatalaksana Ensefalitis Autoimun Antibodi Negatif
Ensefalitis autoimun merupakan penyebab utama ensefalitis non-infeksi. Kasus ensefalitis autoimun antibodi-negatif yang dicurigai secara klinis sulit dikonfirmasi. Pada kasus ini dihadapkan pasien laki-laki 27 tahun dirawat dengan demam, penurunan kesadaran, kejang. dan perubahan perilaku sejak 1 bulan yang lalu. Gambaran EEG menunjukkan gelombang epileptiform. Pemeriksaan LCS tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Pencitraan CT-Scan tidak menunjukkan gambaran khas ensefalitis. Pemeriksaan imunologis IgG dan IgM HSV non-reaktif. Pemeriksaan anti-NMDAR didapatkan hasil negatif. Pasien dirawat di ICU dengan ventilasi mekanik, disertai pemberian midazolam dan levitiracetam sebagai sedasi dan pengontrol kejang. Acyclovir diberikan sesuai pedoman tatalaksana ensefalitis selama 10 hari namun tidak menunjukkan perbaikan klinis. Setelah pemberian kortikosteroid, pasien tidak menunjukkan perbaikan neurologis. Pengobatan dilanjutkan dengan rituximab setiap minggu selama 2 minggu. Pada pemberian minggu pertama pasien menunjukkan perbaikan status neurologis dengan pemulihan derajat kesadaran. Laporan kasus ini mempertimbangkan penegakan diagnosis ensefalitis autoimun antibodi-negatif berdasarkan tanda klinis dan setelah menyingkirkan kemungkinan etiologi lain. Rituximab memainkan peran penting dalam mengendalikan efek merugikan dari ensefalitis autoimun. Di samping itu, ensefalitis autoimun mungkin memerlukan tindak lanjut rutin untuk mengevaluasi adanya gejala atau penyakit lain yang dapat mengubah strategi tatalaksana.Ensefalitis autoimun merupakan penyebab utama ensefalitis non-infeksi. Sulit untuk mendiagnosis ensefalit autoimun hanya dengan presentasi klinis. Selain itu, kasus ensefalit autoimun antibodi negatif yang dicurigai secara klinis sulit dikonfirmasi. Pada kasus ini dihadapkan pada pasien laki-laki 27 tahun dirawat dengan demam, penurunan kesadaran dan kejang. Terdapat perubahan perilaku sejak 1 bulan sebelum dirawat. Gambaran EEG menunjukan gelombang epilepticform. Pemeriksaan LCS tidak mengarah pada adanya infeksi. Pencitraan CT- Scan tidak menjukkan gambaran khas adanya suatu ensefalitis. Pemeriksaan imonologis IgG dan IgM HSV non-reaktif. Pemeriksaan anti-NMDAR didapatkan hasil negatif. Pasien di rawat di ICU dengan ventilasi mekanik dengan pemberian midazolam dan levitiracetam sebagai sedasi dan pengontrol kejang. Acyclovir diberikan sesuai pedoman tatalaksana ensefalitis selama 10 hari namun tidak menunjukkan perbaikan klinis. Methylprednisolon 1g/ 24 jam selama 3 hari dilanjutkan Prednison 6 x 50 mg sebagai imunosupresan lini pertama. Setelah pemberian kortikosteroid pasien tidak menunjukkan perbaikan neurologis. Pengobatan dilanjutkan dengan rituximab setiap miggu selama 2 minggu. Pada pemberian minggu pertama pasien menunjukkan perbaikan status neurologis dengan pemulihan derajat kesadaran. Laporan kasus ini mempertimbangkan penegakan diagnosis ensefalitis autoimun antibodi negatif berdasarkan tanda klinis dan setelah menyingkirkan kemungkinan etiologi lain. Rituximab memainkan peran penting dalam mengendalikan efek merugikan dari ensefalitis autoimun. Disamping itu, ensefalitis autoimun mungkin memerlukan tindak lanjut rutin untuk mengevaluasi adanya gejala atau penyakit lain yang dapat mengubah strategi tatalaksana
Terapi Substitusi Ginjal pada Sindrom HELLP ( Hemolysis, Elevated Liver Enzymes and Low Platelets) dan Cedera Ginjal Akut
Renal replacement therapy (RRT)/terapi substitusi ginjal untuk pasien cedera ginjal akut di unit perawatan intensif menghadirkan masalah unik dalam menyediakan pembuangan biokimia dan cairan pada pasien dengan instabilitas sirkulasi, inotropik, dan peningkatan permeabilitas kapiler. Pasien pre-eklamsia dengan insufisiensi ginjal dapat ditegakkan diagnosisnya jika kadar kreatinin serum lebih atau sama dengan 1,1 mg/dL. Pasien hamil dengan pre-eklamsia berat (PEB) dan sindrom hemolysis, elevated liver enzymes levels and low platelet levels (HELLP) merupakan salah satu faktor risiko cedera ginjal akut pada kehamilan. Peningkatan kreatinin juga dilaporkan meningkatkan progresivitas terjadi strok iskemik Seorang perempuan berusia 21 tahun dengan pascaoperasi sectio caesaria dengan indikasi gawat janin pada pre-eklamsia berat disertai cerebrovascular disease infarct, acute kidney injury dd/acute on chronic kidney disease, asidosis metabolik, elektrolit imbalans, masuk di rawat di ruang rawat intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Pascaoperasi pasien masih dalam keadaan tersedasi dan terintubasi, untuk kemudian dikontrol pernapasannya. Karena terjadi peningkatan kadar kreatinin dan terjadi hiperkalemia refrakter maka pada pasien dilakukan continuous renal replacement therapy. (CRRT). Tujuan CRRT pada pasien ini adalah menekan progresivitas cedera ginjal akut serta hiperkalemia, menghindari fluktuasi hemodinamika, serta menghindari progresivitas cerebrovascular disease (CVD) iskemik.Terapi substitusi ginjal (RRT) untuk pasien cedera ginjal akut (AKI) di unit perawatan intensif (ICU) menghadirkan masalah unik dalam menyediakan pembuangan biokimia dan cairan pada pasien dengan instabilitas sirkulasi, inotropik, dan peningkatan permeabilitas kapiler. Pasien pre eklampsia dengan insufisiensi ginjal dapat ditegakkan diagnosisnya jika kadar kreatinin serum lebih atau sama dengan 1,1 mg/dl. Pasien hamil dengan preeklampsia dan sindroma HELLP merupakan salah satu faktor resiko untuk terjadinya cedera ginjal akut pada kehamilan. Peningkatan kreatinin juga dilaporkan meningkatkan progresifitas terjadinya stroke iskemik 1,2,3Seorang perempuan berusia 21 tahun dengan post operasi SC dengan indikasi gawat janin pada pre eclampsia berat disertai CVD infarct, AKI dd/ acute on CKD, asidosis metabolic, elektrolit imbalans, masuk di rawat di ruang rawat intensif RSU. Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Paska operasi pasien masih dalam keadaan tersedasi dan terintubasi, untuk kemudian dikontrol pernapasannya. Karena terjadi peningkatan nilai creatinine dan terjadinya hiperkalemia refrakter, maka pada pasien dilakukan CRRT. Tujuan dilakukan CRRT pada pasien ini adalah untuk menekan progresifitas cedera ginjal akut serta hiperkalemia, menghindari fluktuasi hemodinamika serta menghindari progresifitas CVD iskemik.Penggunaan modalitas terapi substitusi ginjal pada pasien preeklampsia dengan cedera ginjal akut, pneumonia dan CVD iskemik berguna untuk menekan progresifitas penurunan fungsi ginjal dan evolusi CVD iskemik