Jurnal Anestesi Perioperatif
Not a member yet
288 research outputs found
Sort by
PERBANDINGAN AKURASI DAN PRESISI PERHITUNGAN RESTING ENERGY EXPENDITURE (REE) RULE OF THUMB, MODIFIKASI HARRIS – BENEDICT, DAN PENN STATE TERHADAP KALORIMETRI INDIREK PADA PASIEN ICU
Penentuan kebutuhan energi pada pasien kritis sangat penting untuk mencegah underfeeding maupun overfeeding yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi dan presisi tiga rumus prediktif-Harris-Benedict modifikasi (HBE × 1,25), Penn State (PSU), dan Rule of Thumb (ROT)-dengan kalorimetri indirek (IC) sebagai gold standard pada pasien ICU dengan ventilasi mekanik. Desain penelitian ini adalah observasional analitik terhadap 30 pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin dan RSUD Sumedang yang memenuhi kriteria inklusi. REE dihitung menggunakan ketiga rumus prediktif dan dibanding dengan hasil IC. Akurasi tertinggi diperoleh dari PSU (63,33%), diikuti ROT (46,67%) dan HBE×1,25 (30,00%) (p<0,05). Presisi tertinggi juga ditemukan pada PSU (ICC=0,713), diikuti HBE × 1,25 (0,592) dan ROT (0,462). Analisis Bland–Altman menunjukkan bias terkecil pada PSU (-81,56 kkal), dibandingkan HBE × 1,25 (-60,41 kkal) dan ROT (123,72 kkal). Simpulan, rumus PSU memiliki akurasi dan presisi terbaik dalam memperkirakan REE pada pasien kritis. Namun, pemantauan individual tetap diperlukan karena potensi bias. Penghitungan kalori yang optimal merupakan faktor penting yang berhubungan denganpemberian nutrisi pada pasien kritis. Kalorimetri indirek menjadi gold standardpenghitungan kebutuhan nutrisi pada pasien kritis, namun terbatas pada penggunaannya. Beberapa rumus prediktif digunakan untuk menghitung kebutuhan kalori pada pasien kritis,seperti Rule of Thumb, modifikasi Harris-Benedict, dan Penn State dengan Tingkat akurasiyang berbeda. Penelitian ini membandingkan akurasi dan presisi penghitungan RestingEnergy Expenditure (REE) pada pasien kritis antara rumus Rule of Thumb, modifikasiHarris-Benedict, dan Penn State terhadap kalorimetri indirek. Penelitian ini bersifatmerupakan prospektif observasional. Subjek penelitian ini adalah 30 pasien ICU RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung dan RSUD Kabupaten Sumedang yang dirawat dari bulan Juli -November 2024 yang menggunakan ventilator. Nilai akurasi ditentukan berdasarkanproporsi kesalahan estimasi 10%. Nilai presisi ditentukan melalui penghitungan Inter ClassCorrelation (ICC) dan analisis Bland Altman. Pada penelitian ini didapatkan akurasi rumusRule of Thumb, modifikasi Harris-Benedict, dan Penn State sebesar 46,67%, 30%, dan63,33% secara berturutan. Akurasi yang dihitung berdasarkan ICC pada rumus Rule ofThumb, modifikasi Harris-Benedict, dan Penn State yaitu 0,462 (moderate agreement);0,592 (moderate agreement); dan 0,713 (good agreement). Berdasarkan hasil penelitian inidapat disimpulkan bahwa rumus Penn State memiliki akurasi dan presisi yang lebih tinggidibandingkan rumus Rule of Thumb dan modifikasi Harris-Benedict. Hasil peneltian inidiharapkan dapat membantu dalam meningkatkan manajemen pemberian nutrisi di ICU
Faktor Risiko Komorbid pada Mortalitas Sepsis
Sepsis merupakan disfungsi organ yang disebabkan oleh respons berlebihan tubuh terhadap infeksi dan dapat mengancam jiwa. Secara global, insiden sepsis di rumah sakit mencapai 189 kasus per 100.000 orang per tahun dengan tingkat moralitas 26,7%. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi luaran pasien adalah komorbiditas. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang dilakukan untuk menilai faktor risiko komorbid yang berhubungan dengan kematian pasien sepsis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping pada tahun 2022–2023. Berdasarkan data rekam medik diperoleh 55 subjek dengan sepsis, baik yang meninggal maupun hidup, dengan komorbid meliputi gangguan paru, gangguan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, dan diabetes mellitus. Analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa dari lima faktor komorbid yang dianalisis, dua faktor berhubungan signifikan dengan mortalitas, yaitu gangguan paru dan gangguan ginjal (p<0,05).Sepsis adalah kondisi disfungsi organ yang disebabkan oleh reaksi berlebihan tubuh terhadap infeksi dan mengancam jiwa. Secara global, insiden sepsis di rumah sakit mencapai 189 kasus per 100.000 orang per tahun, dengan tingkat kematian 26,7%. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi akhir pasien sepsis adalah komorbiditas. Studi observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan untuk mengetahui faktor risiko komorbid terkait kematian pasien sepsis di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Dari data rekam medik diperoleh 55 subjek sepsis meninggal maupun hidup dengan beberapa komorbid yaitu: gangguan paru, gangguan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, dan diabetes mellitus. Hasil analisis data menggunakan regresi bivariat chi square menunjukkan bahwa dari lima faktor komorbid yang dianalisis, terdapat dua faktor yang secara signifikan terkait dengan mortalitas pasien sepsis, yaitu gangguan paru, dan gangguan ginjal (p< 0,05)
Manajemen Anestesi Perioperatif Operasi Bypass Jantung pada Pasien dengan Fraksi Ejeksi 26 % dan Regurgitasi Aorta Berat
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan kondisi ketika suplai darah ke miokardium tidak optimal akibat pengerasan dan penyempitan arteri koroner, dan menjadi penyebab 26,4% kematian di Indonesia. Regurgitasi aorta adalah aliran balik darah pada fase diastole dari aorta ke ventrikel kiri yang terjadi akibat kegagalan koaptasi katup aorta, baik karena kelainan pada daun katup aorta maupun akar aorta. Kondisi ini menyebabkan beban volume berlebih pada atrium dan ventrikel kiri, meningkatkan tekanan ventrikel kiri, menimbulkan disfungsi ventrikel, serta mengurangi perfusi koroner. Laporan kasus ini membahas manajemen anestesi pada pasien laki-laki berusia 65 tahun dengan PJK dan regurgitasi aorta berat yang menjalani operasi bypass arteri koroner dan penggantian katup aorta di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita pada Maret 2025. Pasien dengan fraksi ejeksi rendah dan regurgitasi aorta memerlukan strategi anestesi yang cermat karena berisiko mengalami penurunan curah jantung, berkurangnya perfusi sistemik, serta perburukan kondisi hemodinamik. Operasi berlangsung selama 5,5 jam, pasien dipindahkan ke unit perawatan intensif, dilakukan ekstubasi 24 jam pascaoperasi, dan dirawat selama 4 hari di ruang intensif. AbstrakPenyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan kondisi di mana suplai darah ke miokardium tidak optimal akibat pengerasan dan penyempitan arteri koroner dan menjadi penyebab 26,4% kematian di Indonesia. Regurgitasi aorta adalah pembalikan aliran darah diastolik dari aorta ke ventrikel kiri. Regurgitasi aorta terjadi akibat kegagalan koaptasi daun katup aorta yang disebabkan oleh penyakit pada daun katup aorta atau akar aorta. Regurgitasi Aorta dapat mengakibatkan kelebihan volume pada atrium dan ventrikel kiri sehingga dapat meningkatkan tekanan ventrikel kiri, menyebabkan disfungsi ventrikel kiri dan kemudian mengakibatkan perfusi koroner yang berkurang. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi pada pasien laki-laki berusia 65 tahun dengan PJK dan Regurgitasi Aorta berat yang menjalani operasi bypass arteri koroner dan penggantian katup aorta. Pasien yang menjalani operasi operasi bypass arteri koroner dengan penyakit Regurgitasi Aorta harus menerapkan rencana anestesi dan pertimbangan khusus yang dibutuhkan pasien pada saat pembedahan. Operasi berlangsung selama 5,5 jam dan pasien dipindakan ke ruang intensif. Pasien dilakukan ekstubasi setelah 24 jam paskaoperasi dangan lama perawatan di ruang intensif selama 4 hari. Kata kunci: Penyakit Jantung Koroner, Regurgitasi Aorta, Ventrikel kir
PERBANDINGAN NILAI PROGNOSTIK OPTICAL NERVE SHEATH DIAMETER, TRANSCRANIAL DOPPLER PULSATILITY INDEX DAN SKOR APACHE II TERHADAP MORTALITAS DI RUANG INTENSIF PADA PASIEN PASCABEDAH OTAK
Skor Acute Physiology and Chronic Health Evaluation II (APACHE II) merupakan alat yang umum digunakan untuk menilai tingkat keparahan penyakit dan memprediksi mortalitas pasien di unit perawatan intensif (ICU), termasuk pasien bedah saraf. Pemeriksaan optic nerve sheath diameter (ONSD) dan transcranial doppler pulsatility index (TCD-PI) telah dikembangkan sebagai alat pemantauan noninvasif untuk mendeteksi komplikasi dan memperkirakan risiko kematian pada pasien dengan gangguan sistem saraf pusat. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik prospektif yang bertujuan membandingkan nilai prediktif ONSD, TCD-PI, dan skor APACHE II terhadap mortalitas pasien pascabedah otak di ICU. Sebanyak 36 pasien diikutsertakan, dengan pemeriksaan dilakukan 12–24 jam pascabedah. Analisis dilakukan menggunakan area under the receiver operating characteristic curve (AUROC) untuk menilai kemampuan diskriminatif tiap-tiap variabel. Hasil menunjukkan bahwa ONSD memiliki AUROC tertinggi (0,824), dibanding dengan TCD-PI (0,786) dan skor APACHE II (0,808). Uji statistik DeLong menunjukkan bahwa ONSD secara signifikan lebih baik dibanding dengan TCD-PI (p=0,01), namun tidak berbeda bermakna dibanding dengan APACHE II (p=0,12). Simpulan, ONSD menunjukkan nilai prognostik yang lebih baik dalam memprediksi mortalitas pasien pascabedah otak dibandingkan TCD-PI dan setara dengan skor APACHE II. Saat ini sistem skoring acute physiologic and chronic health evaluation (APACHE II) digunakan untuk menilai keparahan penyakit pasien dan prediktor mortalitas pada pasien di ruang intensif (ICU) untuk pasien bedah saraf, namun penilaian ini mengalami overestimated dan underestimated. Pemeriksaan optic nerve sheath diameter (ONSD) dan transcranial doppler pulsatility index (TCD-PI) dapat digunakan sebagai alat pemantauan, prediktor komplikasi dan mortalitas pada pasien kritis dengan gangguan sistem saraf pusat di ICU. Penelitian ini merupakan studi prospektif observasional analitik yang membandingkan pemeriksaan ONSD, TCD-PI dan skor APACHE II sebagai prediktor mortalitas pasien pascabedah otak yang dirawat di ICU dengan jumlah sampel sebanyak 36 pasien. Pemeriksaan ketiga alat ukur dinilai saat 12-24 jam pascaoperasi. Performa prognostik menggunakan uji diskriminasi Area Under Curve dari Receiver Operating Characteristic (AUROC) digunakan untuk menentukan nilai prediksi masing-masing variabel terhadap mortalitas kemudian dibandingkan nilai prognostik diantara ketiga pemeriksaan tersebut. Perbandingan nilai AUROC masing-masing model prognostik menggunakan uji Delong’s didapatkan ONSD (0,824) lebih baik secara statistik dibandingkan TCD-PI (0,786) dan skor APACHE II (0,808) dalam memprediksi mortalitas pasien pascabedah otak di ICU (p = 0,01 dan 0,12). Pemeriksaan ONSD memiliki nilai prognostik mortalitas pada pascabedah otak di ICU yang lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan TCD-PI dan skor APACHE II
PERBANDINGAN PEMBERIAN PROFILAKSIS ANTARA PHENYLEPHRINE DAN EFEDRIN TERHADAP HEMODINAMIK MATERNAL DAN EFEKNYA PADA AGDA DAN APGAR SKOR BAYI
Anestesi spinal pada ibu hamil sering menyebabkan hipotensi yang dapat memengaruhi kondisi ibu dan bayi. Fenilefrin saat ini menjadi pilihan utama karena dianggap lebih aman terhadap janin dibanding dengan efedrin. Kedua agen vasopresor ini diketahui memengaruhi parameter penting seperti tekanan darah maternal, pH darah umbilikal, skor APGAR, dan analisis gas darah, namun efektivitasnya masih menjadi perdebatan, terutama pada kondisi gawat janin. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas fenilefrin dan efedrin sebagai profilaksis dalam mempertahankan hemodinamik maternal serta pengaruhnya terhadap analisis gas darah arteri (AGDA) dan skor APGAR pada seksio sesarea dengan anestesi spinal. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda terhadap 38 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok. Hasil menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada tekanan darah sistol dan MAP (p>0,05), namun terdapat perbedaan signifikan pada tekanan diastol dan denyut jantung (p0,05). Namun, terdapat perbedaan signifikan pada TD diastolik dan denyut jantung antara kedua kelompok (p0,05).Kesimpulan: Phenylephrine dan efedrin sama baiknya dalam mempertahankan hemodinamik maternal, tetapi lebih baik dalam nilai APGAR dan AGDA bila dibandingkan dengan efedrin. Kata Kunci : AGDA, APGAR, efedrin, hemodinamik maternal, phenylephrin
Perbandingan Bupivacain 0,25 % + Epinefrin 1:10.000 dengan Epinefrin 1:10.000 dalam Mencegah Perdarahan Intranasal Setelah Intubasi Nasotrakeal
Epistaksis dan rasa tidak nyaman pada hidung merupakan komplikasi paling umum dari intubasi nasotrakeal, dengan angka kejadian yang dilaporkan antara 22–77%. Pencegahan komplikasi ini penting untuk meningkatkan kenyamanan pasien serta kelancaran prosedur anestesi dan pembedahan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kombinasi bupivakain dan epinefrin dibanding dengan epinefrin tunggal dalam mengurangi epistaksis dan nyeri intranasal pascaoperasi. Penelitian dilakukan dengan desain uji klinis acak tersamar tunggal di RSUD Dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat, pada Juni–Juli 2023. Sebanyak 72 pasien yang menjalani pembedahan elektif dengan intubasi nasotrakeal diacak ke dalam dua kelompok. Kelompok kombinasi (BE, n=36) menerima 2 mL larutan bupivakain 0,25%+epinefrin 1:10.000 intranasal, sedangkan kelompok epinefrin (E, n=36) menerima 2 mL epinefrin 1:10.000. Parameter yang dievaluasi meliputi status hemodinamik, kejadian epistaksis, dan nyeri intranasal pascaoperasi. Hasil menunjukkan bahwa angka kejadian epistaksis serupa pada kedua kelompok, namun skor nyeri intranasal pascaoperasi secara signifikan lebih rendah pada kelompok BE. Simpulan, kombinasi bupivakain dan epinefrin memberikan efektivitas setara dalam mencegah epistaksis dan memberikan manfaat tambahan berupa penurunan nyeri intranasal pascaoperasi.Intubasi nasotrakeal dapat menyebabkan epistaksis, bakteremia, kerusakan mukosa, dan rasa tidak nyaman pada hidung. Epistaksis adalah komplikasi intubasi nasotrakeal yang paling umum dan kejadiannya telah dilaporkan berkisar antara 22% sampai 77%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efikasi praterapi bupivakain dan epinefrin untuk mengurangi epistaksis dan nyeri hidung dibandingkan dengan praterapi epinefrin. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan pendekatan single blind randomized control trial. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Agoesdjam Ketapang Kalimantan Barat bulan Juni-Juli 2023. Total 72 pasien yang dijadwalkan operasi elektif dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok bupivacaine+epinefrin (n=36) diberikan 2 ml intranasal. Kelompok epinefrin (n=36) diberikan 2 ml intranasal. Pada penelitian ini,hemodinamik, epistaksis dan nyeri intranasal di pantau.Angka kejadian epistaksis sama pada kedua kelompok tapi nyeri hidung paska operasi lebih rendah pada kelompok bupivacaine+epinefrin. Bupivacain 0,25 % + Epinefrin 1:10.000 sama efektifnya dengan Epinefrin 1:10.00 dalam pencegahan epistaksis tetapi lebih baik dalam pencegahan nyeri hidung paska operasi. Kata kunci : Intubasi Nasotrakeal, Epistaksis,Bupivacaine+Epinefri
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemanjangan Lama Rawat Intensif Pasien Atresia Bilier Pediatrik yang Menjalani Operasi Kasai di RSUP Dr Sardjito
Atresia bilier merupakan kelainan pada neonatus yang menyebabkan gagal hepar progresif dan kematian bila tidak ditangani. Operasi Kasai merupakan penanganan atresia bilier melalui pembuatan anastomosis untuk drainase empedu. Pemanjangan lama rawat pascaoperasi Kasai meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor yang memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pascaoperasi Kasai. Penelitian ini merupakan studi observasional kohort retrospektif pada pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai di RSUP Dr. Sardjito dari 1 Januari 2017 hingga 31 Desember 2021. Terdapat 33 dari 52 sampel (64%) mengalami pemanjangan lama rawat intensif. Uji statistik dilakukan dengan uji regresi logistik univariat dan uji regresi logistik multivariat bagi parameter yang signifikan pada uji sebelumnya (p<0,25). Didapatkan sepsis (OR=39,2) dan malnutrisi (OR=7,55) signifikan memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pascaoperasi Kasai. Simpulan, Sepsis dan malnutrisi signifikan memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai masing-masing sebanyak 39 dan 7,5 kali. Atresia bilier merupakan kelainan pada neonatal yang menyebabkan gagal hepar progresif dan kematian bila tidak ditangani. Operasi Kasai merupakan penanganan atresia bilier melalui pembuatan anastomosis untuk drainase empedu. Pemanjangan lama rawat paska operasi Kasai meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini merupakan studi observasional kohort retrospektif pada pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai di RSUP Dr. Sardjito dari 1 Januari 2017 hingga 31 Desember 2021. Pengujian statistik dilakukan dengan Chi-square dan Fischer exact test, dilanjutkan dengan uji regresi logistik multivariabel. Didapatkan 33 dari 52 sampel (63,46%) mengalami pemanjangan lama rawat intensif. Dari hasil uji multivariabel, didapatkan sepsis (OR = 39,2) dan malnutrisi (OR = 7,55) signifikan mempengaruhi pemanjangan lama rawat intensif paska operasi Kasai. Sepsis dan malnutrisi signifikan mempengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai masing-masing sebanyak 39 dan 7,5 kali.
Pengaruh Derajat Keparahan Penyakit (Skor APACHE II) terhadap Utilisasi Sumber Daya (Skor TISS-28) dan Biaya Perawatan Pasien di ICU
ICU merupakan unit perawatan di rumah sakit yang membutuhkan biaya tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi utilisasi sumber daya biaya perawatan pasien ICU. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi utilisasi sumber daya dan biaya perawatan ICU adalah keparahan penyakit. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain kohort prospektif Subjek penelitian ini adalah pasien ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang dirawat pada bulan Maret–Mei 2023. Derajat keparahan penyakit dinilai dengan skor APACHE II, sementara utilisasi sumber daya ICU dinilai dengan skor TISS-28. Uji Pearson Product Moment digunakan untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (r2) skor APACHE II terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien ICU. Sebanyak 113 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Rata-rata skor TISS-28 harian 25,6 dan biaya perawatan harian pasien ICU Rp6.657.925,00. Dari analisis skor APACHE II terhadap skor TISS-28 harian didapatkan nilai r=0,538; r2=0,289; p ≤0,001. Sedangkan dari analisis skor APACHE II dan biaya perawatan harian pasien ICU didapatkan r=0,502;r2=0,253; p≤0,001. Derajat keparahan berdasarkan skor APACHE II berpengaruh terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien di ICU dengan korelasi positif. Hasil studi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan pasien di ICU.ICU merupakan unit perawatan di rumah sakit yang membutuhkan biaya tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi utilisasi sumber daya biaya perawatan pasien ICU. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi utilisasi sumber daya dan biaya perawatan ICU adalah keparahan penyakit. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain kohort prospektif Subjek penelitian ini adalah pasien ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang dirawat pada bulan Maret-Mei 2023. Derajat keparahan penyakit dinilai menggunakan skor APACHE II. Utilisasi sumber daya ICU dinilai menggunakan skor TISS-28. Uji Pearson Product Moment digunakan untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (r2) skor APACHE II terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien ICU. Sebanyak 113 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Rata-rata skor TISS-28 harian 25,6 dan biaya perawatan harian pasien ICU Rp 6.657.925,-. Dari analisis skor APACHE II terhadap skor TISS-28 harian didapatkan nilai r = 0,538; r2 = 0,289; p ≤ 0,001. Sedangkan dari analisis skor APACHE II dan biaya perawatan harian pasien ICU didapatkan r = 0,502 ; r2 = 0,253 ; p ≤ 0,001. Derajat keparahan skor APACHE II berpengaruh terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien di ICU dengan arah korelasi positif. Hasil studi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan pasien di ICU
Perbandingan Nilai rSO2 Pra dan Pasca Pembedahan Bedah Kraniotomi Tumor Removal Di RSUP Haji Adam Malik Medan
Pengukuran regional oxygen saturation (rSO2) menggunakan near- infrared spectroscopy (NIRS) berkorelasi dengan saturasi vena sentral. Oksigen serebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan oksigen dapat bertambah maupun berkurang. Penelitian ini bertujuan melihat perbandingan nilai rSO2 pre dengan pascabedah kraniotomi tumor removal di RSUP Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian cohort prospective. Penelitian ini dilakukan pada 12 pasien yang menjalani prosedur pembedahan kraniotomi tumor removal selama 14 April–19 Mei 2023 Sampel dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Analisis data menggunakan uji t berpasangan. Sebanyak 12 pasien diteliti rSO2 sebelum operasi kraniotomi didapatkan rerata sebesar 64,50±2,98 pada kanan dan kiri didapatkan rerata sebesar 62,58±3,17. Pada rSO2 setelah operasi kraniotomi didapatkan rerata sebesar 71,58±2,31 pada kanan dan kiri didapatkan rerata sebesar 70,25±3,52. Pada rSO2 kanan rerata sebesar 64,50±1,90 dan rSO2 kanan sesudah penelitian ini didapatkan rerata sebesar 71,58±1,71 dengan nilai p<0,05 secara statistik terdapat perbedaan bermakna antara rSO2 kanan sebelum dan sesudah operasi. Simpulan, terdapat perbedaan antara rSO2 sebelum dan sesudah pembedahan kraniotomi tumor removal di RSUP Haji Adam Malik, Medan. AbstrakLatar Belakang : Pengukuran rSO2 menggunakan NIRS berkorelasi dengan saturasi vena sentral. Oksigen serebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan oksigen bisa bertambah maupun berkurang.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan nilai rSO2 pra dan pasca pembedahan Kraniotomi Tumor Removal di RSUP Haji Adam Malik Medan.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian cohort prospective. Penelitian ini dilakukan pada 12 pasien yang menjalani prosedur pembedahan Kraniotomi Tumor removal. Sampel dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Analisa data menggunakan uji T Berpasangan.Hasil: Sebanyak 12 pasien diteliti rSO2 sebelum operasi kraniotomi didapatkan rerata sebesar 64,50 ± 2,98 pada kanan dan kiri didapati rerata sebesar 62,58 ± 3.17. Pada rSO2 sebelum operasi kraniotomi didapatkan rerata sebesar 71,58 ± 2.31 pada kanan dan kiri didapati rerata sebesar 70,25 ± 3.52. Pada rSO2 kanan rerata sebesar 64,50 ± 1,90 dan rSo2 kanan sesudah penelitian ini didapati rerata sebesar 71,58 ± 1.71 didapatkan nilai < 0,05, secara statistik terdapat perbedaan bermakna antara rSO2 kanan sebelum dan sesudah operasi.Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara rSO2 sebelum dan sesudah pembedahan bedah kraniotomi tumor removal di RSUP Haji Adam Malik MedanKata Kunci: nilai rSO2, kraniotomi, tumor removal
Hubungan Platelet Lymphocyte Ratio (PLR) dengan Status Mortalitas H-28 pada Pasien Sepsis Associated Acute Kidney Injury
Inflamasi merupakan proses yang berperan penting dalam perkembangan Sepsis-associated acute kidney injury (S-AKI). Rasio platelet-limfosit (PLR) merupakan penanda inflamasi baru yang mulai sering digunakan untuk memperkirakan mortalitas. Pada fase inflamasi terjadi peningkatan produksi platelet akibat cedera endotel disertai dengan peningkatan rekrutmen limfosit ke ginjal sehingga dapat tergambar pada nilai PLR. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan PLR dengan mortalitas pada pasien S-AKI di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah case-control secara retrospektif dengan menggunakan rekam medis 136 pasien S-AKI di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin pada tahun 2021–2022 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dan dibagi menjadi kelompok bertahan hidup 68 orang dan kelompok mortal 68 orang. Penelitian dilakukan mulai dari Maret 2022 sampai Februari 2023. Pengambilan sampel dilakukan secara vkonsekutif, kemudian dilakukan analisis statistik chi-square untuk melihat hubungan nilai PLR dengan status mortalitas h-28. Didapatkan rasio odd pada PLR sebesar 165 dan nilai cut-off PLR penelitian ini adalah 120. Terdapat hubungan antara nilai PLR dan mortalitas h-28 pada pasien S-AKI. Pasien dengan nilai PLR≥120 memiliki risiko mortalitas h-28 lebih tinggi. Peningkatan nilai rasio platelet dan limfosit pada pasien cedera ginjal akut akibat sepsis yang mortal terjadi karena peningkatan penggunaan leukosit ke ginjal dan peningkatan produksi platelet akibat inflamasi yang berat